aspirasi gabungan

Download aspirasi gabungan

Post on 25-Oct-2015

64 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • KEMITRAAN adalah komitmen dan upaya bersama bangsa Indonesia

    untuk memperbarui tata pemerintahan (governance reform) yang didukung

    oleh masyarakat internasional dan lembaga-lembaga multilateral seperti

    UNDP, ADB dengan tetap menghormati kedaulatan Indonesia.

    Kemitraan memfasilitasi dan membiayai proyek-proyek dan

    kegiatan-kegiatan dalam upaya pembaruan tata pemerintahan yang demokratis di tingkat nasional yang

    melibatkan semua pihak terkait dengan tujuan menegakkan supremasi

    hukum dan hak asasi manusia.

    YAYASAN FIELD INDONESIA adalah sebuah organisasi yang memfokuskan

    pada pengembangan pertanian ekologis, penguatan masyarakat

    pedesaan, dan organisasi-organisasi petani, yang dilaksanakan melalui

    pendekatan-pendekatan seperti: Sekolah Lapangan, Pelatihan Petani

    ke Petani, dan Riset Aksi Petani. Aktivitas ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1990 ketika timnya memberikan

    bantuan teknis pada Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang dilaksanakan oleh pemerintah,

    LSM-LSM, organisasi petani, maupun swadaya masyarakat desa.

    Bangkitnya Peran Masyarakat Sipil Pedesaan

    Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI)

    merupakan sebuah organisasi petani yang beranggotakan para petani

    alumni Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT)

    yang tersebar di seluruh Indonesia. Organisasi ini terbentuk melalui

    Musyawarah Petani PHT Indonesia, 20 Agustus 1999 di Yogyakarta. IPPHTI

    lahir karena desakan kepentingan dan kesadaran petani PHT untuk membuat

    jaringan dalam upayanya memberdayakan peran petani PHT,

    mewujudkan keseimbangan ekologi, dan memperjuangkan hak-hak petani.

    ST

    UD

    I K

    AS

    US

    PR

    OG

    RA

    M P

    EN

    GU

    ATA

    N P

    ER

    AN

    MA

    SY

    AR

    AK

    AT

    SIP

    IL D

    AL

    AM

    PE

    RW

    UJU

    DA

    N T

    ATA

    PE

    ME

    RIN

    TAH

    AN

    YA

    NG

    BA

    IK

    D I T E R B I T K A N A T A S K E R J A S A M A

    Bangkitnya Peran Masyarakat Sipil Pedesaan

    ujuan umum Program Rural EPICS dimaksudkan untuk mewujudkan perencanaan program pengembangan secara partisipatif. Kegiatan ini dilakukan oleh perwakilan dari kelompok masyarakat secara langsung dari berbagai sektor penghidupan. Khususnya dalam pengelolaan perencanaan dan monitoring terhadap anggaran Pemerintah Daerah

    Kabupaten. Secara khusus progam ini berusaha meningkatkan bentuk partisipasi disesuaikan dengan permasalahan anggota masyarakat. Dengan tujuan tersebut, program ini juga berusaha meningkatkan kemampuan anggota masyarakat untuk melaksanakan perencanaan partisipatif, riset aksi dan advokasi terhadap pengembangan program di wilayahnya. Selain itu program ini juga diharapkan mampu membantu masyarakat mendapatkan akses terhadap sumber-sumber dana lokal, khususnya dari pemerintah daerah setempat untuk mendukung pelaksanaan program-program pengembangan daerah.

    Tentunya, latar belakang yang telah disebutkan sebelumnya, menyebabkan perlu adanya upaya yang mendukung inisiatif masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya. Selama ini aspirasi hanya dipahami sebentuk suara pada pemilihan umum. Suara tersebut hanyalah komoditas politik untuk menghantarkan wakil-wakil rakyat menuju posisi elit. Aspirasi dalam bentuk penyuaraan kepentingan masyarakat sendiri, lebih sering hanya berupa janji-janji dan harapan. Banyak hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, masyarakat tidak mengetahui saluran penyampaian aspirasi tersebut. Kedua, masyarakat tidak paham akan peran negara. Ketiga, masyarakat tidak tidak memahami keterkaitan permasalahan yang dihadapinya. Keempat, negara tidak menjalankan fungsinya secara benar.

    Muara dari penyebab terjadinya permasalah tersebut, adalah tidak berjalannya sistem kenegaraan dengan baik. Jika merujuk pada keberadaan negara/pemerintah, maka pada dasarnya merekalah yang bertanggung-jawab atas permasalahan-permasalahan tersebut. Pemilihan wilayah kabupaten sebagai lokasi kegiatan

    ini, adalah untuk menyahuti berlakunya otonomi daerah. Sedang desa sendiri sebagai basis kegiatan, karena mayoritas wilayah di Indonesia adalah pedesaan.

  • STUDI KASUS PROGRAM PENGUATAN PERAN MASYARAKAT SIPIL DALAM PERWUJUDAN TATA PEMERINTAHAN YANG BAIK

    Bangkitnya Peran Masyarakat Sipil Pedesaan

  • D I T E R B I T K A N A T A S K E R J A S A M A

    2003

    STUDI KASUS PROGRAM PENGUATAN PERAN MASYARAKAT SIPIL DALAM PERWUJUDAN TATA PEMERINTAHAN YANG BAIK

    Bangkitnya Peran Masyarakat Sipil Pedesaan

  • ASPIRASI, Bangkitnya Peran Masyarakat Sipil Pedesaan, Studi Kasus Program Penguatan Peran Masyarakat Sipil dalam Perwujudan Tata Pemerintahan yang Baik

    Penulis:Dwi Munthaha

    Penyelaras Akhir:Tim Yayasan FIELD Indonesia

    Foto-foto:Tim Yayasan FIELD Indonesia

    Desain Cover/Tata Letak/Gambar:Triyanto PA

    Cetakan Pertama: Oktober 2003

    Yayasan FIELD IndonesiaPerumahan Tanjung Mas RayaJln. Tanjung Mas Utama B8/8Tanjung Barat, JagakarsaJakarta Selatan 12530Tel./Fax.: (021) 7811145Email: fieldind@indosat.net.id

    KEMITRAANGedung Surya Lt. 10Jln. MH. Thamrin Kav. 9Jakarta 10350Tel.: (021) 3902543, 323062, 336915Fax.: (021) 2302933

    IPPHTIPerumahan Tanjung Mas RayaJln. Tanjung Mas Utama B8/8Tanjung Barat, JagakarsaJakarta Selatan 12530Tel./Fax.: (021) 7811145Email: petaniphtindo@indo.net.id

  • tudi kasus ini ditulis dengan harapan akan dapat memberi gam-baran, bagaimana masyarakat mampu berbuat untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya. Kemampuan dimaksud-kan bukan dilihat dari hasil yang mereka capai, tetapi pada proses yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Bisa jadi permasalahan yang sedang mereka hadapi, bukan isu yang dianggap penting oleh

    kelompok masyarakat lain. Permasalahan mereka, jauh dari sensasi politik elit atau peristiwa dahsyat yang dapat menarik perhatian banyak orang. Di sela-sela publikasi pertikaian antar elit, ledakan bom, gerakan separatis, dan lain-lain banyak permasalahan lain yang luput dari perhatian. Perma-salahan ini cenderung masif karena dialami oleh sebagian besar masyara-kat di negeri ini. Mereka adalah masyarakat kecil yang posisinya lemah un-tuk memperjuangkan perikehidupannya. Ya, memang mereka hidup, tetapi kehidupan yang mereka jalani bukanlah cita-cita ideal dari harapan kese-jahteraan.

    Kehidupan mereka terusik ketika alat penopang hidup berupa pekerja-an tidak lagi maksimal untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka hidup di daerah pedesaan yang secara sistematis dibuat sulit untuk berkembang. Pekerjaan mereka adalah petani dan peternak kecil, pedagang kecil, penarik becak, dan pengrajin dengan modal pas-pasan. Sebagian besar dari mereka berusaha untuk mendapatkan mimpi-mimpi hidup layak dan tenang. Sela-ma ini, di dalam mengejar mimpi-mimpi itu, seringkali mereka berhadapan dengan banyak masalah. Dirasakan, tapi tak mampu berbuat untuk keluar dari masalah itu.

    Dalam program Rural EPICS (Educational Program for Improving Civil So-ciety/Program Penguatan Peran Masyarakat Sipil dalam Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Baik), masyarakat diberi kesempatan untuk belajar me-mahami permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Tidak hanya itu, mereka juga mencoba berkelompok untuk bersama-sama mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Penekanan, bahwa permasalahan harus dihadapi bersa-ma-sama adalah strategi yang digunakan agar secara psikologis mampu meningkatkan rasa percaya diri masyarakat. Sebelumnya, mereka berang-gapan bahwa permasalahan tersebut adalah permasalahan pribadi. Mereka pasrah tidak tahu harus berbuat apa.

    Kata Pengantar

    Bangkitnya Peran Masyarakat Sipil Pedesaan i

  • Ketidakberdayaan masyarakat tumbuh bukan karena kemampuan masyarakat yang rendah untuk menemukannya solusinya. Seringkali keti-dakmampuan itu disebabkan minimnya kesempatan yang diperoleh, hing-ga masyarakat terlihat lemah. Anggapan bahwa hidup di desa identik de-ngan ketenangan akan sulit ditemui lagi, karena ternyata kehidupan di de-sa pun berangsur ruyam. Desa dapat disebut sebagai marginalisasi dari ke-bijakan pemerintah. Oleh karenanya, sarana pendukung bagi kemajuan masyarakat desa yang minim dapat menjadi permakluman. Masyarakat de-sa dianggap bodoh karena sistem yang memaksakan dan merekapun de-ngan sadar menerima keadaan itu. Coba dengar apa yang sering dikatakan orang kota, Dasar orang desa!, atau orang desa sendiri, Maklum kami kan orang desa!. Stigma itu berakibat pada kurangnya rasa percaya diri orang desa untuk menunjukkan kemampuannya.

    Situasi yang tidak sehat semacam inilah yang coba diubah. Program Ru-ral EPICS yang dilakukan oleh Yayasan FIELD Indonesia bekerjasama de-ngan organisasi Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IP-PHTI) dengan dukungan dana dari Kemitraan bagi Pembaruan Tata Peme-rintahan di Indonesia mencoba memfasilitasi masyarakat pedesaan di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah dan Lumajang, Ja-wa Timur, untuk dapat memahami permasalahan yang menyangkut perike-hidupannya. Dari pemahaman itu, kemudian mereka melakukan riset aksi yang hasilnya didialogkan kepada lembaga legislatif dan eksekutif di dae-rahnya. Hasil riset aksi masyarakat itu adalah aspirasi yang bukan sekadar tuntutan, namun juga alternatif solusi untuk mempermudah lembaga-lem-baga pemerintah mengambil keputusan dan tindakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

    Apa yang dilakukan, apa yang dirasakan dan apa yang dihasilkan oleh perwakilan masyarakat, serta apa yang terjadi selama program Rural EPICS, menjadi sumber utama dalam penulisan studi kasus ini. Hingga sulit untuk menemui teori-teori tentang partisipasi, karena yang ditulis adalah penga-laman aksi masyar