bab ii tinjauan pustaka a. penggunaan obat rasional 1

Click here to load reader

Post on 01-Nov-2021

1 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

kriteria:
Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk diagnosis yang
tepat. Jika diagnosis tidak ditegakkan dengan benar, maka pemilihan obat akan
terpaksa mengacu pada diagnosis yang keliru tersebut. Akibatnya obat yang
diberikan juga tidak akan sesuai dengan indikasi yang seharusnya.
b. Tepat Indikasi Penyakit
hanya dianjurkan untuk pasien yang memberi gejala adanya infeksi bakteri.
c. Tepat Pemilihan Obat
ditegakkan dengan benar. Dengan demikian, obat yang dipilih harus yang
memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit.
d. Tepat Dosis
Dosis, cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh terhadap efek
terapi obat. Pemberian dosis yang berlebihan, khususnya untuk obat yang
dengan rentang terapi yang sempit, akan sangat beresiko timbulnya efek
samping. Sebaliknya dosis yang terlalu kecil tidak akan menjamin tercapainya
kadar terapi yang diharapkan.
Obat Antasida seharusnya dikunyah dulu baru ditelan. Demikian pula
antibiotik tidak boleh dicampur dengan susu, karena akan membentuk ikatan,
sehingga menjadi tidak dapat diabsorpsi dan menurunkan efektivtasnya.
6
Pemberian Cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin
dan praktis, agar mudah ditaati oleh pasien. Makin sering frekuensi pemberian
obat per hari (misalnya 4 kali sehari), semakin rendah tingkat ketaatan minum
obat. Obat yang harus diminum 3 x sehari harus diartikan bahwa obat tersebut
harus diminum dengan interval setiap 8 jam.
g. Tepat lama pemberian
Lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masing masing
pengobatan. Untuk Tuberkulosis dan Kusta, lama pemberian paling singkat
adalah 6 bulan. Lama pemberian kloramfenikol pada demam tifoid adalah 10-
14 hari. Pemberian obat yang terlalu singkat atau terlalu lama dari yang
seharusnya akan berpengaruh terhadap hasil pengobatan.
h. Waspada terhadap efek samping
Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak
diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi, karena itu
muka merah setelah pemberian atropin bukan alergi, tetapi efek samping
sehubungan vasodilatasi pembuluh darah di wajah. Pemberian tetrasiklin tidak
boleh dilakukan pada anak kurang dari 12 tahun, karena menimbulkan kelainan
pada gigi dan tulang yang sedang tumbuh.
i. Tepat penilaian kondisi pasien
Respon individu terhadap efek obat sangat beragam. Hal ini lebih jelas
terlihat pada beberapa jenis obat seperti teofi lin dan aminoglikosida. Pada
penderita dengan kelainan ginjal, pemberian aminoglikosida sebaiknya
dihindarkan, karena resiko terjadinya nefrotoksisitas pada kelompok ini
meningkat secara bermakna.
j. Obat yang diberikan harus efektif dan aman dengan mutu terjamin, serta
tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau.
Untuk efektif dan aman serta terjangkau, digunakan obat-obat dalam daftar
obat esensial. Pemilihan obat dalam daftar obat esensial didahulukan dengan
mempertimbangkan efektivitas, keamanan dan harganya oleh para pakar di
bidang pengobatan dan klinis.
Informasi yang tepat dan benar dalam penggunaan obat sangat penting
dalam menunjang keberhasilan terapi.
Pada saat memutuskan pemberian terapi, harus sudah dipertimbangkan
upaya tindak lanjut yang diperlukan, misalnya jika pasien tidak sembuh atau
mengalami efek samping.
Penggunaan obat rasional melibatkan juga dispenser sebagai penyerah
obat dan pasien sendiri sebagai konsumen. Pada saat resep dibawa ke apotek
atau tempat penyerahan obat di Puskesmas, apoteker/asisten apoteker
menyiapkan obat yang dituliskan peresep pada lembar resep untuk kemudian
diberikan kepada pasien. Proses penyiapan dan penyerahan harus dilakukan
secara tepat, agar pasien mendapatkan obat sebagaimana harusnya.
n. Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang dibutuhkan. (Kemenkes RI
2011: 3-9)
a. Peresepan berlebih (overprescribing) Yaitu jika memberikan obat yang
sebenarnya tidak diperlukan untuk penyakit yang bersangkutan. Contoh:
1) Pemberian antibiotik pada ISPA non pneumonia (umumnya disebabkan oleh
virus)
2) Pemberian obat dengan dosis yang lebih besar daripada yang dianjurkan.
3) Jumlah obat yang diberikan lebih dari yang diperlukan untuk pengobatan
penyakit tersebut.
4) Pemberian obat berlebihan memberi resiko lebih besar untuk timbulnya efek
yang tidak diinginkan seperti:Interaksi, Efek Samping, Intoksikasi.
b. Peresepan kurang (under prescribing), Yaitu jika pemberian obat kurang dari
yang seharusnya diperlukan, baik dalam hal dosis, jumlah maupun lama
pemberian. Tidak diresepkannya obat yang diperlukan untuk penyakit yang
diderita juga termasuk dalam kategori ini. Contoh :
8
2) Tidak memberikan oralit pada anak yang jelas menderita diare.
3) Tidak memberikan tablet Zn selama 10 hari pada balita yang diare.
c. Peresepan majemuk (multiple prescribing) Yaitu jika memberikan beberapa
obat untuk satu indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga
termasuk pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat
disembuhkan dengan satu jenis obat. Contoh:
Pemberian puyer pada anak dengan batuk pilek berisi:
1) Amoksisilin,
2) Parasetamol,
besar, pemberian informasi yang keliru mengenai obat yang diberikan kepada
pasien, dan sebagainya.
oksasin) untuk anak.
aman (Kemenkes RI 2011: 9-11)
3. Dampak Ketidakrasionalan Penggunaan Obat
a. Dampak pada mutu pengobatan dan pelayanan
Salah satu dampak penggunaan obat yang tidak rasional adalah
peningkatan angka morbiditas dan mortalitas penyakit. Sebagai contoh,
penderita diare akut non spesifik umumnya mendapatkan antibiotika dan
injeksi, sementara pemberian oralit (yang lebih dianjurkan) umumnya kurang
9
banyak dilakukan. Padahal diketahui bahwa resiko terjadinya dehidrasi pada
anak yang diare dapat membahayakan keselamatan jiwa anak yang
bersangkutan. Hal yang sama juga terjadi pada penderita ISPA non pneumonia
pada anak yang umumnya mendapatkan antibiotika yang sebenarnya tidak
diperlukan. Sebaliknya pada anak yang jelas menderita pneumonia justru tidak
mendapatkan terapi yang adekuat. Dengan demikian tidaklah mengherankan
apabila hingga saat ini angka kematian bayi dan balita akibat ISPA dan diare
masih cukup tinggi di Indonesia.
b. Dampak terhadap biaya pengobatan
Penggunaan obat tanpa indikasi yang jelas, atau pemberian obat untuk
keadaan yang sama sekali tidak memerlukan terapi obat, jelas merupakan
pemborosan dan sangat membebani pasien. Di sini termasuk pula peresepan
obat yang mahal, padahal alternatif obat yang lain dengan manfaat dan
keamanan sama dengan harga lebih terjangkau telah tersedia. Peresepan
antibiotika bukannya keliru, tetapi memprioritaskan pemberiannya untuk
penyakit-penyakit yang memang memerlukannya (yang jelas terbukti sebagai
infeksi bakteri) akan sangat berarti dalam menurunkan morbiditas dan
mortalitas penyakit infeksi. Oleh sebab itu jika pemberiannya sangat selektif,
maka pemborosan anggaran dapat dicegah dan dapat direalokasikan untuk
penyakit atau intervensi lain yang lebih prioritas. Dengan demikian mutu
pelayanan kesehatan dapat dijamin.
c. Dampak terhadap kemungkinan efek samping dan efek lain yang
tidakdiharapkan
meningkatkan resiko terjadinya efek samping serta efek lain yang tidak
diharapkan, baik untuk pasien maupun masyarakat. Beberapa data berikut
mewakili dampak negatif yang terjadi akibat penggunaan obat yang tidak
rasional:
1) Resiko terjadinya penularan penyakit (misalnya hepatitis & HIV) meningkat
pada penggunaan injeksi yang tidak lege artis, (misalnya 1 jarum suntik
digunakan untuk lebih dari satu pasien).
10
2) Kebiasaan memberikan obat dalam bentuk injeksi akan meningkatkan resiko
terjadinya syok anafi laksis.
3) Resiko terjadinya efek samping obat meningkat secara konsisten dengan
makin banyaknya jenis obat yang diberikan kepada pasien. Keadaan ini
semakin nyata pada usia lanjut. Pada kelompok umur ini kejadian efek
samping dialami oleh 1 di antara 6 penderita usia lanjut yang dirawat di
rumah sakit.
4) Terjadinya resistensi kuman terhadap antibiotika merupakan salah satu akibat
dari pemakaian antibiotika yang berlebih (overprescribing), kurang
(underprescribing), maupun pemberian pada kondisi yang bukan merupakan
indikasi (misalnya infeksi yang disebabkan oleh virus)
d. Dampak terhadap mutu ketersediaan obat
Sebagian besar dokter masih cenderung meresepkan antibiotika untuk
keluhan batuk dan pilek. Akibatnya kebutuhan antibiotika menjadi sangat
tinggi, padahal diketahui bahwa sebagian besar batuk pilek disebabkan oleh
virus dan antibiotika tidak diperlukan. Dari praktek pengobatan tersebut
tidaklah mengherankan apabila yang umumnya dikeluhkan oleh Puskesmas
adalah tidak cukupnya ketersediaan antibiotik. Akibatnya jika suatu saat
ditemukan pasien yang benar-benar menderita infeksi bakteri, antibiotik yang
dibutuhkan sudah tidak tersedia lagi. Yang terjadi selanjutnya adalah pasien
terpaksa diberikan antibiotik lain yang bukan pilihan utama obat pilihan (drug
of choice) dari infeksi tersebut.
e. Dampak Injeksi
penanganan diare di rumah tangga, petugas kesehatan seolah dihinggapi
keengganan (keraguan) untuk tetap memberikan Oralit tanpa disertai obat lain
pada pasien dengan diare akut non spesifik. Oleh sebab itu tidak
mengherankan apabila sebagian besar penderita diare akut non spesifi k
masih saja mendapat injeksi maupun antibiotik, yang sebenarnya tidak
diperlukan. Sementara Oralit yang menjadi terapi utama justru sering tidak
diberikan.
11
2) Memberikan roboransia pada anak dengan dalih untuk merangsang nafsu
makan sangatlah keliru apabila tidak disertai upaya untuk memotivasi orang
tua agar memberikan makanan yang bergizi, apalagi pada saat anak sakit.
(kemenkes RI 2011: 17-2)
Dalam melakukan identifikasi masalah maupun melakukan monitoring dan
evaluasi Penggunaan Obat Rasional, WHO menyusun indikator, yang dibagi
menjadi indikator inti dan indikator tambahan.
Indikator Inti:
2) Persentase peresepan dengan nama generik.
3) Persentase peresepan dengan antibiotik.
4) Persentase peresepan dengan suntikan.
5) Persentase peresepan yang sesuai dengan Daftar Obat Esensial.
b. Indikator Pelayanan:
3) Persentase obat yang sesungguhnya diserahkan.
4) Persentase obat yang dilabel secara adekuat.
c. Indikator Fasilitas:
2) Ketersediaan Daftar Obat Esensial.
3) Ketersediaan key drugs.
Indikator ini tidak kurang pentingnya dibandingk indikator inti, namun sering
data yang dipergunakan sulit diperoleh atau interpretasi terhadap data tersebut
mungkin sarat muatan lokal.
b. Rerata biaya obat tiap peresepan.
c. Persentase biaya untuk antibiotik.
d. Persentase biaya untuk suntikan.
e. Peresepan yang sesuai dengan pedoman pengobatan.
f. Persentase pasien yang puas dengan pelayanan yang diberikan.
g. Persentase fasilitas kesehatan yang mempunyai akses kepada informasi yang
obyektif.(World Health Organisation 1993: 13-22)
B. Pengunaan Obat Rasional di Indonesia
Panduan pengobatan menurut WHO diare akut dapat dilaksanakan secara
sederhana yaitu dengan terapi cairan dan elektrolit per-oral dan melanjutkan
pemberian makanan, sedangkan terapi non spesifik dengan anti diare tidak
direkomendasikan dan terapi antibiotika hanya diberikan bila ada indikasi.
Pemberian cairan dan elektrolit secara parenteral hanya untuk kasus dehidrasi
berat. Pemberian antibiotik secara rutin tidak diperlukan. Tetapi antibiotic
diberikan sesuai dengan tatalaksana diare akut atau apabila ada infeksi non
intestinal seperti pneunomia, infeksi saluran kencing atau sepsis. Terapi Zinc
digunakan untuk mengobati diare persisten. Terapi zinc pada kasus diare akut
tertentu ternyata dapat menurunkan kejadian berlanjutnya diare akut menjadi
diare persisten. Indikasi yang dianjurkan adalah berat badan untuk umur saat
diperiksa kurang dari 70%, diare telah berlangsung lebih dari lima hari, dan
jika terdapat tanda-tanda defisiensi zinc, yaitu satu atau lebih gejala.
Pemberian antibiotika hanya terbatas karena pada umumnya diare dapat
sembuh dengan sendirinya (self-limiting disease), yang perlu diperhatikan
adalah penanganan dehidrasi yang terjadi. (Septin Handayani:10-16)
Pada tahun 1993 peresepan di Indonesia masih dikategorikan tidak
rasional karena masih tingginya poli-farmasi (3,5 obat per pasien),
spenggunaan antibiotik yang berlebihan (43,0%), serta penggunaan injeksi
yang berlebihan (10- 80%). 5 Penggunaan obat rasional dapat diperbaiki
mutunya antara lain melalui upaya pengelolaan obat (managerial strategies)
13
yang mencakup perbaikan sistem suplai (proses seleksi dan pengadaan obat),
kemudian sistem peresepan dan dispensing obat. Kementerian Kesehatan RI
belum memiliki standar dalam penggunaan obat rasional di puskesmas, tetapi
hanya memiliki target berdasarkan indikator peresepan WHO, yaitu:
a. Rerata jumlah obat tiap pasien: 2,6.
b. Persentase obat generik yang diresepkan: 100%.
c. Persentase peresepan antibiotik pada ISPA non pneumonia: 20%.
d. Persentase peresepan antibiotik pada diare non spesifik: 8%.
e. Persentase injeksi pada myalgia: 1%.
f. Persentase obat yang diresepkan dari DOEN: 100%. (Kemenkes RI, 2017)
Ketidaktepatan penggunaan obat di puskesmas dapat merugikan
masyarakat. Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota wajib menyediakan obat
esensisal dengan nama generik untuk kebutuhan puskesmas dan unit
pelaksana teknis lainnya sesuai kebutuhan. Salah satu UPT (unit pelaksana
Teknis) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota adalah instalasi farmasi (dulu
bernama gudang farmasi Kabupaten/Kota) yang berfungsi sebagai pengelola
obat di Kabupaten/ Kota. puskesmas sebagai salah satu lini terdepan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia sudah seharusnya
menerapkan penggunaan obat yang rasional sesuai standar yang ada.
Ketidaktepatan penggunaan obat pada tingkat puskesmas dapat berakibat
merugikan bagi kalangan luas masyarakat. Hal tersebut karena banyak
masyarakat kalangan menengah ke bawah yang merupakan mayoritas
penduduk Indonesia yang memilih pelayanan kesehatan di puskesmas.
(Widya kardella, dkk 2014: 93)
C. (ISPA) Infeksi Saluran Pernapasan Akut Non Pneunomia
Makin cepat virus dan bakteri seringkali menginfeksi saluran pernafasan
bagian atas anak, tapi biasanya memberi gejala yang biasanya tidak serius
hanya diindikasikan dengan batuk. Infeksi saluran pernafasan bagian bawah
jarang terjadi tetapi mempunyai dampak berbhaya kepada kematian. Virus
menginfeksi mukosa hidung trakea, dan bronkus. Infeksi pertama adalah
14
timbulnya akan menyebabkan aliran udara dalam saluran nafas. Batuk adalah
tanda paru-paru sedang berusaha mendorong lender keluar dan
membersihkan saluran pernafasan.
Pilek merupakan penyakit Yang umum pada anak-anak, beberapa mungkin
terserang penyakit ini 5 atau 6 kali setahun. Tanda-tanda yang muncul
dengan keluarnya cairan dari hidung sakit tenggorokan, demam, sakit kepala.
Penyakit ini akan sembuh 2 sampai 7 hari tergantung berat ringannya infeksi.
2. Influenza
Influenza adalah salah satu dari penyakit ISPA disebabkan oleh virus.
Penyakit ini sering kali terjadi secara epidemic. Demam, malaise, mual,
muntah, sakit kepala, sakit tenggorokan, nyeri otot dan ingus encer
merupalan tanda-tanda terjadinya influenza. Influenza dapat berlangsung
4-10 hari. Bahkan meningkat ada kemungkinan akan menyebabkan terjadinya
pneumonia.
Tonsilisitis merupakan infeksi tonsil yang di sebabkan oleh berbagai jenis
bakteri dan virus. Seringkali streptokokus menyebabkan tonsilisitis.
Tonsilisitis juga merupakan penyakit ISPA yang dapat menyebabkan demam,
sakit tenggorokan, tonsil membengkak bahkan barnanah.
4. Adenitis Sefvikal
seringkali terjadi bersamaan dengan tonsilisitis atau otitis media. Demam
panas, pembengkakan kelenjar dan merasa sakit merupakan gejalanya.
D. Diare Non Spesifik
Diare non spesifik merujuk pada penyebab diare. Bila diare disebabkan
oleh adanya infeksi baik bakteri, parasite maupun virus, maka disebut diare
spesifik.
Diare non spesifik dapat terjadi akibat salah makan (makanan terlalu pedas
sehingga mempercepat peristalice usus), ketidak mampuan lambung dan usus
15
intolerance, ketidakmampuan metabolisme sayuran atau buah tertentu (kubis,
kembang kol, sawi, nangka, durian), juga infeksi virus-virus noninvasive
yang terjadi pada anak umur di bawah 2 tahun karena rotavirus.
1. Tanda diare non spesifik adalah:
a. Tidak terjadi kenaikan suhu tubuh penderita,
b. Tidak ditemukan lender kenaikan suhu tubuh penderita.
2. Terapi Non farmalogi
Jelas pertama kali upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menghindaru
pemicu diare. Contohnya bila tidak mampu memetabolisme laktosa, maka
dapat minum susu nabati (berasal dari kedelai, beras merah). Namun upaya
yang paling penting dalam penanganan diare adalah mengoreksi kehilangan
cairan dan elektrolut tubuh (dehidrasi) dengan penggantian ciran dan
elektrolit secepat mungkin (rehidrasi). Bila masih memungkinkan secara oral,
maka larutan gula garam atau oralit buatan pabrik telah mencukupi asalkan
diberikan sesuai patokan (sesuai umur penderita dan berat ringannya
dehidrasi). Penyebab kematian terbesar pada kasus diare adalah terjadinya
dehidrasi, bukan karena bakteri atau penyebab lainnya.
3. Berikut tanda-tanda dehidrasi
a. Dehidrasi ringan: mulut kering/bibir kering, kehausan. Cairan yang keluar
jumlahnya sekitar 5% dari berat badan penderita.
b. Dehidrasi sedang: selain mulut kering kehausan, juga terjadi penurunan
tonus kulit (bila dicubit, kulit akan kembali secara lambat). Cairan yang
keluar berkisar 10% dari berat badan penderita. Urun mulai sedikit dan
warnanya mulai lebih tua dari keadaan normal.
c. Dehidrasi berat: mata cekung, kulit pucat, bila dicubit sangat lambat
kembali, ujung ujung jari dingin, kesadaran menurun. Urin sudah tidak
keluar atau kalaupun keluar sangat sedikit dan berwarna sangat pekat.
Cairan yang keluar lebih dari 50% berat badan penderita.
Menjaga agar dehidrasi segera terkoreksi, oralit harus diberikan dalam 3 jam
pertama dari saat terjadinya diare. Bila penderita muntah, tunggulah sampai
16
sepuluh menit, segera berikan oralit. Pada anak-anak, bila sulit diberikan
langsung dapat diberikan sesendok the tiap 1-2 menit.
E. Myalgia
Myalgia adalah bahasa medis dari nyeri otot, berasal dari bahasa Yunani,
yaitu myo yang berarti otot dan algos yang berarti nyeri. Oleh karena itu,
myalgia berarti nyeri pada otot atau dalam bahasa masyarakat disebut
dengan pegal-pegal. Seluruh tubuh kita dilingkupi otot, maka nyeri otot juga
dapat terjadi dimana saja. Myalgia merupakan keluhan yang sangat sering
terjadi dan hamper semua orang pernah mengalami myalgia, walaupun
lokasi nyeri ototnya berbeda-beda tergantung dari aktivitas dan
penyebabnya.
Gejala lain yang dapat menyertai myalgia antara lain:
a. Demam
c. Kemerahan
d. Lemas
e. Nyeri pada sendi-sendi
Gejala di atas, tidak selalu muncul semua hal ini sesuai dengan hal apa
yang menyebabkan myalgia, sebagai contoh ketika penyebabnya adalah
infeksi umum seperti sakit flu atau DBD, maka keluhan demam akan
menyertai. Sedangkan ketika hanya kelelahan, maka gejala yang muncul
hanya nyeri otot dan mungkin lemas.
2. Cara Mengobati Myalgia
Nyeri otot biasanya memberikan hasil yang baik dengan pengobatan yang
dapat di lakukan sendiri dirumah. Beberapa hal yang dapat dilakukan sendiri
untuk meredakan ketegangan otot, dilakukan sendiri untuk meredakan
ketegangan otot, baik itu karena trauma atau terlalu banyak aktivitas
diantaranya:
17
a. Mengistirahatkan area tubuh yang diresepkan nyeri
b. Menggunakan obat penghilang nyeri yang dijual bebas, seperti ibu profen
atau parasetamol
c. Menggunakan krim oles untuk meredakan ketegangan otot
d. Kompres dingin (atau menggunakan air es) pada daerah yang nyeri untuk
mengurangi proses inflamasi.
e. Melakukan Olahraga yang dapat menghilangkan stress seperti meditasi atau
yoga. (Suryo Nugroho, 2017 hal: 22-27)
F. Resep
Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada
apoteker, baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk menyediakan
dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku (Permenkes
No 58 Tahun 2014:3).
peresepan untuk mengukur kinerja penyedia layanan kesehatan terkait dengan
penggunaan obat yang tepat atau tidak tepat. Dalam Indikator peresepan obat
dapat menimbulkan masalah-masalah obat seperti polifarmasi, penggunaan
obat yang tidak tepat biaya, penggunaan antibiotik dan sediaan injeksi yang
berlebihan, serta penggunaan obat yang tidak tepat indikasi.Peresepan yang
tidak dapat mengakibatkan masalah seperti tidak tercapainya tujuan terapi,
meningkatnya kejadian efek samping obat, meningkatnya resistensi
antibiotik, penyebaran infeksi melalui injeksi yang tidak steril, dan
pemborosan sumber daya kesehatan yang langka (Rini hamsidi:14).
Indikator Peresepan Menurut WHO meliputi:
a. Rata-rata jumlah item perlembar resep
Rata-rata jumlah item perlembar resep bertujuan untuk mengukur tingkat
polifarmasi obat, dimana pasien diresepkan rata-rata 3.3 item obat per lembar
resep. Untuk mengetahui rata rata jumlah item perlembar resep dapat dihitung
dengan cara Total jumlah Obat dibagi dengan jumlah resep (WHO, 1993).
18
Polifarmasi adalah pemberian obat untuk satu diagnosis lebih dari dua
item obat. (Pujaningsih pebrianan, dkk:25) Akibat dari polifarmasi obat ini
adalah pada pasien lebih sering terjadi efek samping, interaksi, toksisitas
obat, dan lebih sering terjadi peresepan obat yang tidak sesuai dengan
diagnosis penyakit dan berlebihan, serta ketidak patuhan menggunakan obat
sesuai dengan aturan pakainya (Anisa Farida muti, Nurul oktavia
2018:26).Masalah polifarmasi terjadi kemungkinan disebabkan oleh dokter
yang berfokus memberikan terapi untuk gejala yang timbul bukan diagnosis
penyakit, danTekanan dari pasien yang menginginkan cepat hilangnya gejala
penyakit juga mendorong dokter meresepkan banyak obat seperti analgesik
dan antibiotika (Kartika Citra Dewi Permatasari, 2011: 33)
b. Persentase peresepan obat dengan nama generik
Persentase peresepan obat dengan nama generik bertujuan untuk
mengukur kecenderungan peresepan tersebut dengan obat generik. Untuk
mengetahui persentase peresepan obat dengan nama generik dapat dihitung
dengan cara membagi jumlah resep obat nama generik dengan jumlah total
resep obat dikali 100 (WHO, 1993).
Dokter meresepkan obat generik ketika ada permintaan dari pasien itu
sendiri untuk mengganti resepnya dengan obat generik tanpa merk karena
harganya relatif jauh lebih terjangkau (lebih murah) dibandingkan dengan
obat paten. Jika dihadapkan pada kondisi obat generik tanpa merk mengalami
kelangkaan, maka dokter baru akan beralih pada obat generik bermerek atau
paten (Anisa Farida muti, Nurul oktavia 2018:27).
c. Persentase peresepan obat antibiotik
Persentase peresepan obat antibiotik bertujuan untuk mengukur
penggunaan antibiotika pada resep tersebut, karena antibiotik sering
digunakan secara berlebihan sehingga dapat menyebabkan resistensi dan
pemborosan biaya terapi. Untuk mengetahui persentase obat antibiotik dapat
dihitung dengan cara membagi jumlah resep yang diberi antibiotik dengan
jumlah obat yang di resep dikali 100 (WHO, 1993).
19
penyakit infeksi. Peresepan antibiotik hendaknya dilakukan secara nasional
memberikan manfaat secara ekonomi (Menurunkan biaya terapi) maupun
klinis (Mencegah resistensi antibiotika). Penggunaan antibiotika bijak yaitu
dengan menggunakan antibiotika dengan spektrum sempit, pada indikasi
yang ketat dengan dosis yang adekuat, interval dan lama pemberian yang
tepat. Penggunaan antibiotika harus dibatasi dan mengutamakan penggunaan
antibiotik lini pertama (Kemenkes RI, 2011).
d. Persentase obat dengan sediaan injeksi
Persentase obat sediaan injeksi bertujuan untuk mengukur penggunaan
obat yang berlebihan dan pemborosan biaya. Untuk mengetahui persentase
obat dengan sediaan injeksi ini dapat dihitung dengan cara membagi jumlah
resep yang diberi suntikan dan jumlah seluruh resep dikali 100 (WHO, 1993).
Obat akan diresepkan secara injeksi ketika hasil pemeriksaan klinis dokter
menyatakan pasien membutuhkan obat yang diberikan dengan cepat, pasien
memiliki keterbatasan tidak dapat meminum obat oral dan mendapatkan
reaksi obat yang cepat diabsorbsi. Sediaan injeksi diberikan kepada pasien
yang tidak kooperatif, misalnya pasien tidak bisa menelan obat, namun
diperlukan efek cepat, untuk pasien yang tidak sadar (Annisa Farida Muti
,Nurul Oktavia, 2018:27).
Penggunaan sediaan injeksi ini memiliki beberapa kerugian dalam
penggunaanya, seperti dapat menyebabkan sepsis akibat pemberian langsung
ke sirkulasi darah dan tidak…