country programme seascape strategy (comdeks)

Download Country Programme Seascape Strategy (COMDEKS)

Post on 16-Jan-2017

216 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Country Programme Seascape Strategy For Community Development and Knowledge

    Management

    (COMDEKS) Indonesia

    Disusun Oleh: P. Raja Siregar, Ery Damayanti, Pantoro Tri Kuswardono,

    Sofyan, Ina Nisrina

  • DAFTAR ISI

    Executive .................................................................................................................................................... 1

    1. Wilayah Prioritas........................................................................................................................ 3

    2. Analisis Situasi ............................................................................................................................ 8

    2.1. Penilaian Ketahanan Masyarakat ........................................................................... 8

    2.2. Masalah dan Anacaman di Pulau Semau........................................................... 10

    2.3. Kondisi Sosial Ekonomi ....................................................................................... 10

    2.4.Analisis Parapihak ............................................................................................................ 11

    3. Strategy Seascape ........................................................ 13

    3.1. CPLS Indonesia .................................................... 13

    3.2. Strategi Proses Perencanaan dan Pelaksanaan CPLS

    Indonesia................................................................................................................. 15

    4. Tipologi Potensi Proyek berbasis masyarakat dan Kriteria Seleksi

    Proyek................................................................................................................................... 16

    5. Rencana Monitoring dan Evaluasi....................................................................................... 20

    6. Rencana Pengelolaan Pengetahuan................................................................................... 22

    7. Referensi................................................................................................................................... 23

    Lampiran

  • Ringkasan

    Proyek COMDEKS (Community Development and Knowledge Management for the Satoyama

    Initiative) diluncurkan pada tahun 2011 sebagai program andalan Kemitraan Internasional untuk

    Satoyama Initiative1, dan dilaksanakan oleh UNDP bermitra dengan Kementerian Lingkungan

    Hidup Jepang, Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), dan United Nations University

    Institute of Advanced Studies (UNU-IAS). Proyek ini didanai oleh Japan Biodiversity Fund dan

    dirancang untuk mendukung kegiatan masyarakat lokal memelihara dan membangun kembali

    bentang darat dan laut produksi secara sosial dan ekologis (SEPLS), dan untuk mengumpulkan

    dan menyebarkan pengetahuan dan pengalaman dari kegiatan yang berhasil untuk direplikasi dan

    untuk menaikkan skala proyek di tempat-tempat lainnya di dunia. Proyek ini bertujuan untuk

    membangun pengelolaan keanekaragaman hayati yang kuat dan kegiatan penghidupan yang

    berkelanjutan dengan masyarakat lokal dengan menyediakan pendanaan skala kecil bagi

    organisasi masyarakat lokal. Proyek ini disalurkan melalui Global Environment Facility Small

    Grants Programme (GEF SGP) dikenal dengan SGP, dan saat ini tengah dilaksanakan di 20 negara,

    termasuk Indonesia.

    Di Indonesia, Pulau Semau di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa tenggara Timur telah dipilih

    target bentang laut untuk kegiatan-kegiatan COMDEKS Country Programme.Nusa Tenggara Timur

    berada pada bioregion Wallacea dengan keanekaragaman hayati laut yang kaya. Sebagian besar

    Pulau Semau berada di bawah pengelolaan Taman Wisata Laut dan sebagian kecil lainnya berada

    dibawah pengelolaan Taman Nasional Laut.Pulau Semau dipilih dengan pertimbangan sebagai

    sebuah contoh pulau yang terpisah dari pulau utama, potensi dampak perubahan iklim dan cuaca

    ekstrim, lingkungan pertanian dengan keterbatasan air tawar dan lapisan tanah tipis didominasi

    batuan karst namun memiliki keanekaragaman hayati darat, pesisir dan laut yang beragam.

    Masyarakat di pulau ini berjuang dari generasi ke generasi memenuhi kebutuhan pangan

    seluruhnya dari sumberdaya pertanian dan perikanan yang ada di pulau kecil tersebut.

    Yayasan Bingkai Indonesia melakukan baseline survey tersebut untuk GEF-SGP Indonesia.

    Pemetaan dasar dilakukan pada periode waktu 14-20 November 2013 dan 14-17 Desember

    1Satoyama Initiative adalah upaya global untuk membangun kesadaran masyarakat berdampingan dengan alam secara harmonis. Satoyama adalah sebuah istilah Jepang yang berasal dari kata Yama gunung, padang rumput, hutan, dan Sato desa-desa di sekelilingnya.

    1

  • 2013. Baseline survey dilakukan melalui kajian literatur, pengamatan lapangan, wawancara

    dengan masyarakat dan penilaian ketahanan masyarakat secara partisipatif. Penilaian ketahanan

    masyarakat menggunakan indikator socio-ecological production landscapes (SEPLS) yang

    dikembangkan UNU-IAS dan Biodiversity Internasional untuk membantu pengukuran dan

    pemahaman ketahanan bentang darat dan laut terpilih. Ada indikator yang ditambahkan untuk

    menggarisbawahi isu yang berhubungan dengan perubahan iklim di wilayah pesisir/pulau-pulau

    kecil di Indonesia.Istilah SEPLS dibuat merujuk pada mosaik bentang darat produksi yang

    dibentuk melalui interaksi harmonis dalam kurun waktu yang lama antara manusia dan alamnya

    dalam suatu prinsip yaitu meningkatkan kesejahteraan dan memelihara keanekargaman hayati

    dan jasa-jasa ekosistem dalam waktu bersamaan (Gu dan Subramanian 2012 in UNU 2013).

    Baseline survey menjadi bahan untuk penyusunan strategi peningkatan ketahanan masyarakat di

    pulau tersebut. Dari penilaian ketahanan masyarakat dengan score-card secara umum peserta

    sepakat memberi nilai yang tinggi untuk indikator Perlindungan Ekosistem dan Pemeliharaan

    Keanekaragaman Hayati dan Keanekargaman Hayati Pertanian dan Budidaya Laut. Peserta

    cenderung sepakat dengan hasil penilaian ini berdasarkan indikasi rendahnya deviasi pada setiap

    indikator. Bentang darat pulau ini didominasi oleh hutan marga, hutan negara, semak dan lahan

    pertanian. Wilayah pesisir tidak terlalu mengalami perubahan. Lahan pertanian ditanami berbagai

    tanaman pokok, sayuran dan buah-buahan. Pada umumnya produksi makanan pokok, beras dan

    jagung, disimpan untuk kebutuhan keluarga selama setahun. Pendapatan masyarakat terutama

    berasal dari tanaman berumur pendek (sayuran dan buah-buahan), rumput laut dan perikanan.

    Meskipun penilaian yang relatif tinggi diberikan bagi kedua kategori ini, peserta cendurung

    sepakat mengatakan bahwa perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati secara perlahan

    menurun dan mereka mulai merasakan adanya ancaman di masa datang bagi keanekaragaman

    hayati pulau.

    Berdasarkan pemetaan awal dan konsultasi dengan masyarakat disimpulkan bahwa keterbatasan

    sumber air, keterbatasan pengetahuan dan terobosan dalam budidaya darat dan laut, peningkatan

    penggunaan bahan kimia untuk pertanian serta ancaman berkurangnya hutan marga menjadi

    masalah menonjol untuk ditangani dalam program COMDEKS di pulau ini untuk 2 tahun

    mendatang. Konsultasi dilakukan dengan masyarakat setempat, pemerintah kabupaten dan para

    pihak berkepentingan di tingkat nasional untuk mendapatkan masukan terhadap strategi, pilihan

    kegiatan dan potensi untuk kerjasama program.

    2

  • Wilayah Prioritas

    Pulau Semau berbatasan langsung dengan Laut Sawu di bagian selatan, barat dan utara, sementara di bagian timur berbatasan dengan Selat Semau yang merupakan perlintasan laut internasional. Di bagian selatan, Pulau Semau berhadapan dengan Pulau Rote (Kabupaten Rote Ndao) yang dibatasi oleh Selat Pukuafu (lihat peta di bawah ini)

    Secara administratif Pulau Semau merupakan bagian dari Kabupaten Kupang dan dibagi menjadi dua wilayah administratif Kecamatan Semau di bagian utara, dan Kecamatan Semau Selatan di selatan. Kecamatan Semau terdiri dari 8 desa, sementara Kecamatan Semau Selatan terdiri dari 6 desa.

    Secara keseluruhan Pulau Semau adalah pulau berketinggian rendah, dengan titik tertinggi di daratan rata-rata adalah 50 m di atas permukaan laut. Pulau Semau merupakan pulau yang tersusun dari batuan karang dan gamping dengan lapisan tanah tipis di permukaan. Sebagian besar tanah di Pulau Semau merupakan jenis tanah mediteran, latosaol, dan aluvial dengan kejenuhan basa dengan kandungan liatnya terbatas terutama liat kaolinit. Kemampuan jenis tanah

    ini yang rendah dalam mengikat hara membuat unsur hara kurang tersedia pada jenis tanah ini (Sutedjo: 2009). Laut Sawu, dimana Pulau Semau menjadi bagiannya, memiliki sebaran tutupan terumbu karang dengan keragaman hayati spesies yang sangat tinggi di dunia. Laut Sawu juga merupakan habitat kritis sebagai wilayah perlintasan 18 jenis mamalia laut, termasuk 2 spesies paus langka seperti paus biru dan paus sperma. Laut Sawu juga merupakan habitat yang penting bagi lumba

Recommended

View more >