epistaksis baru.docx

of 31/31
Case Report Session EPISTAKSIS OLEH :  Ferihartind a Adila 1110313038  Novita Elv istia 1210311001 PESEPTO: dr! "an Ed#ard$ S%!THT&KL'K( dr! )oll* Ir+and*$ S%! THT&KL ,A-IAN TELIN-A HI).N- TEN--OOK ,E)AH KEPALA / LEHE FA K.LT AS KE)OKTEAN .NIESITAS AN)ALAS S.P ))AIL PA)AN- 201

Post on 05-Jul-2018

227 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

,A-IAN TELIN-A HI).N- TEN--OOK 
,E)AH KEPALA / LEHE 
S.P ) )AIL
hidung dan nasofaring, yang bukan merupakan suatu penyakit melainkan gejala suatu
kelainan atau penyakit lain. Epistaksis dapat terjadi akibat penyebab lokal, sistemik, atau
idiopatik. Seringkali epistaksis timbul spontan tanpa dapat diketahui penyebabnya. Penyebab
lokal dapat berupa: trauma, kelainan anatomi, infeksi hidung dan sinus paranasal, tumor,
lingkungan, benda asing atau rinolit, atau terdapatnya pelebaran pembuluh darah
(telangiektasis) pada hidung. Penyebab sistemik yaitu: penyakit kardiovaskular, kelainan
darah, infeksi sistemik, gangguan endokrin, dan kelainan kongenital, seperti penyakit Osler 
(hereditary hemorrhagic telangiectasia).
Sehari!hari epistaksis sering ditemukan baik pada anak maupun pada usia lanjut dan
"#$ epistaksis dapat berhenti sendiri (spontan) atau dengan tindakan sederhana yang
dilakukan oleh pasien sendiri dengan %ara menekan hidungnya tanpa memerlukan bantuan
medis. ,&
'erdapat dua sumber perdarahan pada epistaksis terdapat yaitu dari bagian anterior 
dan bagian posterior. Epistaksis anterior dapat berasal dari Pleksus iesselba%h atau dari
arteri ethmoidalis anterior. Sedangkan epistaksis poterior dapat berasal dari arteri
sphenopalatina dan arteri ethmoid posterior.
Pasien yang mengalami perdarahan berulang atau sekret yang berdarah dari hidung
yang bersifat kronik memerlukan fokus diagnostik yang berbeda dengan pasien perdarahan
hidung aktif yang prioritas utamanya adalah menghentikan perdarahannya.
8/16/2019 epistaksis baru.docx
Epistaksis biasanya terjadi tiba!tiba. Perdarahan mungkin banyak dan bisa juga sedikit.
Penderita biasanya %emas sehingga merasa perlu untuk memanggil dokter. Epistaksis yang
 berat , *alaupun jarang dijumpai, dapat mengan%am keselamatan ji*a pasien. +ahkan dapat
 berakibat fatal bila tidak segera ditolong.,&,
1!2 ,atasan asalah
1!3 T676an Pen6lisan
Penulisan Case Report Session  ini bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan
serta memahami pengetahuan tentang Epistaksis.
1! etode Pen6lisan
Penulisan Case Report Session ini menggunakan berbagai literature sebagai sumber 
kepustakaan.
a! Hid6n5 l6ar
idung luar berbentuk piramid dengan pun%ak di bagian atas dan dasar di ba*ah.
+agian!bagiannya yaitu:
• 0ubang hidung (nares anterior)
1ambar . /natomi hidung luar &
idung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan kartilago yang dilapisi kulit, jaringan
ikat, dan otot!otot ke%il yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.
8/16/2019 epistaksis baru.docx
http://slidepdf.com/reader/full/epistaksis-barudocx 5/31
+agian 2 atas hidung luar merupakan kerangka tulang yang terdiri dari dua tulang hidung
(os. nasal) yang bertemu di bagian tengah dan bertumpu pada prosesus nasalis dari tulang
frontalis yang juga bertumpu pada prosesus frontalis dari tulang maksila.,& 
+agian &2 ba*ah merupakan kerangka kartilago yang terdiri dari kartilago lateralis
atas dan ba*ah.(kartilago alar), kartilago lesser alar (sesamoid), dan kartilago septum.
artilago lateralis atas membentang dari batas ba*ah kerangka tulang hingga kartilago alar di
 bagian ba*ah. eduanya berfusi dengan batas atas kartilago septum di bagian tengah.
3asing!masing kartilago alar berbentuk 4, dengan krus lateral yang membentuk ala nasi, dan
krus medial yang berjalan sepanjang kolumela. 'erdapat &!5 kartilago lesser alar yang
masing!masing dihubungkan oleh peri%hondrium dan periosteum, dan terletak di lateral dari
kartilago alar. artilago septum terbentang dari batas ba*ah kerangka tulang hingga ke
 pun%ak hidung (tip). 6a berfungsi sebagai penyangga kerangka kartilago dari dorsum nasi.& 
1ambar &. erangka tulang dan kartilago hidung&
! Hid6n5 dala9
idung dalam dibagi menjadi & kavum oleh septum nasal. 3asing!masing kavum
 berhubungan dengan lingkungan melalui nares di bagian anterior dan berhubungan dengan
nasofaring melalui koana di bagian posterior.&  'epat di belakang nares, terdapat area
 berlapiskan kulit yang dinamai vestibulum yang mengandung banyak kelenjar sebaseus dan
 bulu hidung atau vibrise. +ersambung ke belakang, area berlapiskan mukosa yaitu kavum
nasi. ,&
http://slidepdf.com/reader/full/epistaksis-barudocx 6/31
'iap kavum nasi memiliki 5 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior, dan
superior. Pada dinding lateral terdapat buah konkha atau turbinatum yaitu proyeksi tulang
 berbentuk gulungan ke arah medial dilapisi oleh membran mukosa. 7uang diba*ah setiap
konkha dinamakan meatus.
i. onkha 6nferior  
onka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os. 3aksila
dan labirin etmoid. -i bagian ba*ahnya terdapat meatus inferior yang merupakan
muara dari saluran nasolakrimalis yang dijaga pada ujungnya oleh katup mukosa,
katup asner.,&
ii. onkha 3edia
onka media merupakan bagian dari tulang etmoid, dan menempel ke dinding
lateral hidung oleh lamella tulang dinamakan lamella basal.& -i bagian ba*ah terdapat
meatus media, yang merupakan muara dari sinus frontal, sinus maksila, dan sinus
etmoid anterior.
iii. onkha Superior 
onka superior juga masi merupakan bagian dari tulang etmoid, dan terletak 
di posterosuperior dari konka media.& -i bagian ba*ah terdapat meatus superior yang
merupakan muara dari sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.
8/16/2019 epistaksis baru.docx
;! Perdarahan hid6n5
edua sistem arteri karotis eksterna dan interna mendarahi hidung, baik septum dan
dinding lateral.&  /rteri karotis interna ber%abang menjadi arteri oftalmika yang kemudian
 ber%abang lagi menjadi arteri etmoidalis anterior dan posterior. 8abang etmoidalis anterior dan
 posterior menyuplai sinus palatina mayor menyuplai sinus frontalis dan etmoidalis serta atap
hidung. Sedangkan arteri sfenopalatina dan arteri palatina mayor merupakan %abang terminal dari
arteri karotis eksterna yang menyuplai darah pada konka, meatus dan septum nasalis.
Pada bagian depan septum, terdapat anastomosis dari %abang!%abang a. sfenopalatina, a.
etmoid anterior, a. labialis superior, dan a. palatina mayor yang disebut pleksus iesselba%h
( Little’s area). Pleksus iesselba%h terletak superfisial sehingga mudah %edera oleh trauma,
sehingga sering menjadi sumber epistaksis pada anak.
'abel . Perdarahan pada septum dan dinding lateral kavum nasi&
Siste9 arteri 4arotis Se%t69 )indin5 lateral
Interna 8abang dari a.
ke vestibulum nasal
8/16/2019 epistaksis baru.docx
8/16/2019 epistaksis baru.docx
2!2 E%ista4sis
2!2!1 )e+inisi
Epistaksis adalah keluarnya darah dari hidung yang merupakan gejala atau
manifestasi penyakit lain, penyebabnya bisa lokal atau sistemik. Perdarahan bisa ringan
sampai serius dan bila tidak segera ditolong dapat berakibat fatal. Sumber perdarahan
 biasanya berasal dari bagian depan atau bagian belakang hidung.&,
2!2!2 E%ide9iolo5i
8/16/2019 epistaksis baru.docx
  Epistaksis diperkirakan terjadi pada ; 5$ populasi umum tiap tahun. Prevalensi
sebenarnya tidak diketahui disebabkan kebanyakan kasus dapat sembuh sendiri dan tidak 
dilaporkan. /ngka kejadian epistaksis meningkat pada anak!anak umur diba*ah # tahun,
dan de*asa di atas 9# tahun. 0aki!laki lebih sering mengalami epistaksis dibanding *anita.9
Epistaksis anterior lebih sering terjadi pada anak!anak dan de*asa muda, sedangkan
epistaksis posterior lebih sering terjadi pada usia yang lebih tua, terutama pada laki!laki
dekade 9# dengan penyakit hipertensi dan arteriosklerosis. Epistaksis lebih sering terjadi pada
musim dingin. al ini mungkin disebabkan peningkatan kejadian infeksi pernafasan atas dan
udara yang lebih kering akibat pemakaian pemanas. Epistaksis juga sering terjadi pada iklim
yang panas dengan kelembaban yang rendah. Pasien yang menderita alergi, inflamasi hidung,
dan penyakit sinus lebih rentan terjadi epistaksis karena mukosanya lebih mudah kering dan
hiperemis disebabkan reaksi inflamasi.
• Epistaksis /nterior 
ebanyakan berasal dari Pleksus iesselba%h di septum bagian anterior dan
merupakan sumber perdarahan paling sering dijumpai pada anak!anak. +isa juga
 berasal dari a. etmoidalis anterior. Perdarahan ini disebabkan karena keadaan mukosa
yang hiperemis atau kebiasaan mengorek hidung. Perdarahan ini biasanya ringan tapi
sering berulang dan dapat berhenti sendiri (spontan) atau dikendalikan dengan
tindakan sederhana seperti memen%et hidung.
• Epistaksis Posterior 
Perdarahan %enderung lebih hebat dan jarang berhenti sendiri, sehingga dapat
menyebabkan anemia, hipovolemi dan syok. Sering ditemukan pada pasien dengan
kelainan kardiovaskuler seperti hipertensi, atau arteriosklerosis.
2!2! Etio%ato5enesis
kadang!kadang jelas disebabkan oleh trauma. Perdarahan hidung dia*ali dengan pe%ahnya
 pembuluh darah di selaput mukosa hidung. Sebanyak =#$ kasus perdarahan berasal dari
 pembuluh darah pleksus iesselba%h. 
Se%ara umum epistaksis dapat disebabkan oleh sebab!sebab lokal seperti trauma,
infeksi, neoplasma, kelainan kongenital dan bisa juga disebabkan oleh keadaan umum atau
kelainan sistemik seperti penyakit kardiovaskuler, kelainan darah, infeksi, perubahan tekanan
atmosfir dan gangguan endokrin .,&,5
1! Lo4al
a. 'rauma
+iasanya karena usaha mengeluarkan sekret dengan menghembus kuat, bersin
terlalu sering, mengorek hidung, atau trauma seperti terpukul, operasi intranasal,
fraktur pada 2 *ajah dan dasar tengkorak. Selain itu iritasi oleh gas yang
merangsang dan trauma pada pembedahan bisa juga menyebabkan epistaksis.&
 b. 6nfeksi
6nfeksi hidung dan sinus paranasal, seperti rhinitis, sinusitis, serta granuloma
spesifik seperti tuberkulosis, sifilis, lepra, dan lupus dapat menyebabkan epistaksis. ,&
%. <eoplasma
kadang!kadang disertai mukus yang bernoda darah. emangioma, karsinoma,dan
angiofibroma dapat menyebabkan epistaksis berat.
d. elainan kongenital
elainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis adalah teleangiektasis
hemoragik herediter (hereditary hemorrhagic teleangiectasis Osler’s Disease). Pasien
ini juga menderita teleangiektasis di tangan, *ajah, atau bahkan di traktus
gastrointestinal atau di pembuluh darah paru.
e. +enda asing dan perforasi septum
Perforasi septum dan benda asing hidung dapat menjadi predisposisi perdarahan
hidung. +agian anterior septum nasi, bila mengalami deviasi atau perforasi akan
terpapar aliran udara pernafasan yang %enderung mengeringkan aliran sekresi hidung.
Pembentukan krusta yang keras dan usaha pelepasan krusta dengan jari dapat
menimbulkan trauma. Pengeluaran krusta berulang menyebabkan erosi membran
mukosa septum yang menyebabkan perdarahan.,&
f. >aktor lingkungan
3isalnya tinggal di daerah tinggi, tekanan udara rendah atau lingkungan udaranya
sangat kering.&
2! Siste9i4 
mempredisposisi epistaksis berulang.,&
 b. Penyakit kardiovaskular 
8/16/2019 epistaksis baru.docx
akibat hipertensi biasanya hebat, sering kambuh dan prognosinya kurang baik.,&
%. 6nfeksi sistemik 
Paling sering menyebabkan epistaksis adalah demam berdarah dengue, selain itu juga
morbili, demam tifoid dan influensa dapat juga disertai adanya epistaksis.  
d. 1angguan endokrin
@anita hamil, menar%he dan menopause sering juga dapat menimbulkan epistaksis.
e. Perubahan udara dan tekanan atmosfir 
Epistaksis ringan sering terjadi bila seseorang berada di tempat yang %ua%anya sangat
dingi atau kering. al serupa juga bisa disebabkan adanya ?at!?at kimia di tempat
industri yang menyebabkan keringnya mukosa, juga karena perubahan tekanan
atmosfir seperti pada Caisson Disease pada penyelam.,&
2!2!< -a9aran Klinis
Epistaksis biasanya unilateral akan tetapi dapat juga bilateral, biasanya bila
 perdarahan %ukup banyak maka darah akan keluar juga dari sisi sebelahnya dan akan terlihat
 bilateral. +ila perdarahan %ukup masif maka pasien akan terlihat gelisah bila begitu hebat
mungkin dapat menimbulkan risiko pada jalan napas, biasanya disebabkan oleh epistaksis
 posterior, pada umumnya kelainan ini mun%ul sebagai akibat terdapatnya perdarahan dari
%abang arteri sphenopalatina.
Epistaksis posterior biasanya sering ditemukan pada pasien yang berusia lanjut
denganri*ayat komorbid yang jelas. Epistaksis pada pasien tertentu membutuhkan
 pertimbangan khusus,termasuk didalamnya adalah mereka yang memiliki ri*ayat hemoragik 
telangiektasia,neoplasma sinonasal, dan pasien pas%aoperasi hidung atau pas%a trauma hidung
atau muka. 9
8/16/2019 epistaksis baru.docx
/namnesis yang lengkap sangat membantu dalam menentukan sebab!sebab
 perdarahan. eadaan umum, tensi dan nadi perlu diperiksa. -an untuk pemeriksaan alat!alat
yang diperlukan adalah lampu kepala, spekulum hidung dan alat penghisap. adang!kadang
diperlukan pemeriksaan penunjang laboratorium yaitu pemeriksaan darah lengkap dan fungsi
hemostatis.
ebanyakan kasus epistaksis timbul sekunder trauma yang disebabkan oleh mengorek 
hidung menahun atau mengorek krusta yang telah terbentuk akibat pengeringan mukosa
hidung berlebihan. Penting mendapatkan ri*ayat trauma terperin%i.
7i*ayat pengobatan atau penyalahgunaan alkohol terperin%i harus di%ari. +anyak 
 pasien minum aspirin se%ara teratur untuk banyak alasan. /spirin merupakan penghambat
fungsi trombosit dan dapat menyebabkan pemanjangan atau perdarahan. Penting mengenal
 bah*a efek ini berlangsung beberapa *aktu dan bah*a aspirin ditemukan sebagai komponen
dalam sangat banyak produk. /lkohol merupakan senya*a lain yang banyak digunakan, yang
mengubah fungsi pembekuan se%ara bermakna.
/spek anamnesis yang mungkin penting dalam melokalisasi tempat perdarahan bisa
didapat dengan menanyakan :
. Se*aktu anda membungkuk apakah ada darah yang keluar dari hidungA (menggambarkan
sumber perdarahan anterior)
8/16/2019 epistaksis baru.docx
%avitas nasalis)
b. Pemeriksaan Fisik
Pertama hidung harus dibersihkan dari bekuan darah atau debris dengan alat
 penghisap. edua harus dioleskan senya*a vasokonstriktif seperti efedrin atau kokain 9$
yang akan mengerutkan mukosa hidung sehingga memberikan evaluasi yang lebih baik dan
 bahkan menghentikan perdarahan sementara *aktu.
Pemeriksaan harus dilakukan dalam %ara teratur dari anterior ke posterior.
Bestibulum, mukosa hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung dan konka inferior harus
diperiksa %ermat. Pemeriksaan hidung tidak lengkap jika tidak dilakukan nasofaringoskopi
tak langsung. Pemeriksaan rinoskopi posterior kadang!kadang akan memperlihatkan sumber 
epistaksis posterior.
Cika tempat perdarahan dikenali, ia harus didokumentasi dalam rekam medis dengan
gambar sederhana. +ila mungkin, kemudian dokter seharusnya men%oba mengendalikan
 perdarahan dengan tindakan lo%al: yaitu kauterisasi atau penempatan senya*a hemostatik 
atau tampon hidung anterior.  
diagnostik seharusnya men%akup sel darah lengkap untuk memantau derajat perdarahan dan
apakah pasien anemia. Cika ada kemungkinan koagulopati sistematik, maka harus dilakukan
 pemeriksaan pembekuan darah. Cika pemeriksaan ini abnormal, maka harus dilakukan
8/16/2019 epistaksis baru.docx
http://slidepdf.com/reader/full/epistaksis-barudocx 17/31
kosultasi yang tepat. 'erakhir jika massa terlihat pada pemeriksaan, maka harus dilakukan
 politomografi dan2atau 8' s%an untuk menggambarkan luas lesi ini.
Pemeriksaan yang diperlukan berupa:
Pemeriksaan harus dilakukan dengan %ara teratur dari anterior ke posterior.
Bestibulum, mukosa hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung dan konka inferior harus
diperiksa dengan %ermat.,
 b) 7inoskopi posterior 
2!2!= Penatala4sanaan
komplikasi dan men%egah berulangnya epistaksis. Pasien diperiksa dalam posisi duduk,
sedangkan kalau sudah terlalu lemah dibaringkan dengan meletakkan bantal di belakang
 punggung, ke%uali bila sudah dalam keadaan syok. Sumber perdarahan di%ari dengan bantuan
alat penghisap untuk menyingkirkan bekuan darah. emudian diberikan tampon kapas yang
telah dibasahi dengan adrenalin : #.### dan lidokain atau pantokain & $. 4ntuk 
menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa sakit pada saat tindakan selanjutnya kapas
dimasukkan ke dalam rongga hidung. 'ampon ini dibiarkan selama ; 9 menit. -engan %ara
ini dapat ditentukan apakah sumber perdarahan letaknya di bagian anterior atau posterior.
a! Perdarahan anterior
Perdarahan anterior seringkali berasal dari septum bagian depan. /pabila tidak 
 berhenti dengan sendirinya, perdarahan anterior terutama pada anak dapat di%oba dihentikan
dengan menekan hidung dari luar selama #!9 menit dan seringkali berhasil. Semprotan
dekongestif dan aplikasi topikal gulungan kapas yang dibasahi kokain biasanya akan %ukup
menimbulkan efek anestesi dan vasokonstriksi. Sekarang bekuan darah dapat di aspirasi.
+ila sumbernya terlihat tempat asal perdarahan dikaustik dengan larutan <itras /rgenti &#!
#$ atau dengan /sam 'rikolasetat #$ atau dapat juga dengan elektrokauter. =
Cika
 pembuluh menonjol pada kedua sisi septum diusahakan agar tidak mengkauter daerah yang
sama pada kedua sisi. Sekalipun menggunakan ?at kauterisasi dengan penetrasi rendah,
namun daerah yang di%akup kauterisasi harus dibatasi. Sebaliknya, dengan rusaknya silia dan
 pembentukkan epitel gepeng diatas jaringan parut sebagai jaringan pengganti mukosa saluran
nafas normal, akan terbentuk titik!titik akumulasi dalam aliran lapisan mu%us. -engan
melambatnya atau terhentinya aliran mukus pada daerah!daerah yang sebelumnya mengalami
kauterisasi, akan terbentuk krusta pada septum. Pasien kemudian akan mengorek hidungnya
8/16/2019 epistaksis baru.docx
 baru.
3enentukan lokasi perdarahan mungkin semakin sulit pada pasien dengan deviasi
septum yang nyata dan perforasi septum.=  Cika lokasi perdarahan telah ditemukan,
vasokonstriktor harus diberkan bersamaan dengan obat!obat topikal seperti larutan kokain 5$
atau oDymeta?olin atau phenylephrine. Perdarahan yang lebih aktif perlu diberikan anestesi
topikal yang adekuat. Obat!obat intravena bisa diberikan pada kasus yang sulit atau pada
 penderita yang %emas.
+ila dengan %ara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka diperlukan
 pemasangan tampon anterior, dengan kapas atau kain kasa yang diberi vaselin atau salap
antibiotika.   'ampon mudah dibuat dari lembaran kasa steril bervaselin, berukuran & D #,9
in%hi disusun dari dasar hingga atap hidung meluas hingga keseluruh panjang rongga
hidung. &
Pemakaian vaselin atau salep pada tampon berguna agar tampon tidak melekat,
untuk menghindari berulangnya perdarahan ketika tampon di%abut.=  Suatu tampon hidung
anterior harus memenuhi seluruh rongga hidung.
1ambar . Pemasangan tampon anterior 
'ampon dimasukkan sebanyak &!5 buah, disusun dengan teratur dan harus dapat
menekan asal perdarahan. 'ampon dipertahankan selama &D&5 jam, harus dikeluarkan untuk 
men%egah infeksi hidung.& 
Perdarahan posterior diatasi dengan pemasangan tampon posterior atau tampon
+ello%, dibuat dari kasa dengan usuran D&D& %m dengan mempunyai buah benang, & buah
 pada satu sisi dan sebuah lagi pada sisi yang lainnya. 'ampon harus menutup koana(nares
 posterior).9
4ntuk memasang tampon +ello% dimasukkan kateter karet melalui nares anterior sampai
tampak di orofaring dan kemudian ditarik ke luar melalui mulut. 4jung kateter kemudian
diikat pada dua buah benang yang terdapat pada satu sisi tampon +ello% dan kemudian
kateter ditarik keluar hidung. +enang yang telah keluar melalui hidung kemudian ditarik,
sedang jari telunjuk tangan yang lain membantu mendorong tampon ini kearah nasofaring.
Cika masih terjadi perdarahan dapat dibantu dengan pemasangan tampon anterior, kemudian
diikat pada sebuah kain kasa yang diletakkan didepan lubang hidung, supaya tampon yang
terletak di nasofaring tidak bergerak. +enang yang terdapat pada rongga mulut terikat pada
8/16/2019 epistaksis baru.docx
http://slidepdf.com/reader/full/epistaksis-barudocx 21/31
sisi lain dari tampon +ello%, diletakkan pada pipi pasien.1unanya untuk menarik tampon
keluar melalui mulut estela &! hari.
Pada epistaksis yang berat dan berulang yang tidak dapat diatasi dengan pemasangan
tampon anterior maupun posterior, dilakukan ligasi arteri. 0igasi arteri etmoid anterior dan
 posterior dapat dilakukan dengan membuat sayatan didekat kantus medialis dan kemudian
men%ari kedua pembuluh darah tersebut didinding medial orbita. 0igasi arteri maksila interna
yang tetap difosa pterigomaksila dapat dilakukan melalui operasi 8ald*ell!0u% dan
kemudian mengangkat dinding posterior sinus maksila.,9
2!2!8 Ko9%li4asi
-apat terjadi langsung akibat epistaksis sendiri atau akibat usaha penanggulangannya.
Sebagai akibat perdarahan hebat dapat terjadi syok dan anemia. ,= 'ekanan darah yang turun
mendadak dapat menimbulkan iskemia otak, insufisiensi koroner dan infark miokard dan
akhirnya kematian. arus segera dilakukan pemberian infus atau transfusi darah.   omplikasi
lain terjadi aspirasi yaitu darah tersedak masuk ke dalam paru!paru.
Pemasangan tampon dapat menimbulkan sinustis, otitis media, bahkan septikemia.
Oleh karena itu pada setiap pemasangan tampon harus selalu diberikan antibiotik dan setelah
&! hari harus di%abut meskipun akan dipasang tampon baru bila masih berdarah. ,= Selain itu
dapat juga terjadi hemotimpanum sebagai akibat mengalirnya darah retrograd melalui tuba
Eusta%hius dan air mata yang berdarah (bloody tears) sebagai akibat mengalirnya darah
se%ara retrograd melalui duktus nasolakrimalis.  Pada *aktu pemasangan tampon  elloc!
dapat terjadi laserasi palatum mole dan sudut bibir karena benang terlalu ken%ang
dilekatkan. ,=
2!2!> Pro5nosis
4mumnya prognosisnya baik, namun bisa mengan%am nya*a terutama pada pasien
tua dan terdapat penyakit penyerta. "
8/16/2019 epistaksis baru.docx
I)ENTITAS PASIEN
 <ama : <n.8
4mur : & tahun
/lamat : padang
ANANESIS
Seorang pasien perempuan usia & datang ke Poliklinik '' 7S. -7. 3 -jamil
Padang pada tanggal 3ei &# dengan :
Kel6han .ta9a :
eluar darah dari lubang hidung kanan 5 hari yang lalu.
i#a*at Pen*a4it Se4aran5 :
• eluar darah dari lubang hidung kanan 5 hari yang lalu, kurang lebih sebanyak &
sendok makan, ber*arna merah segar. -arah keluar ketika pasien sujud. -arah
 berhenti sendiri setelah kurang lebih # menit kemudian.
• +atuk pilek sejak 5 hari yang lalu, demam disangkal.
• idung tersumbat tidak.
• 3ata merah dan gatal ada
• 7asa penuh di telinga tidak ada, telinga berdenging tidak ada.
8/16/2019 epistaksis baru.docx
• 7i*ayat mengkonsumsi obat anti perdarahan tidak ada.
• 3emar!memar pada kulit tidak ada
• 7i*ayat darah sukar berhenti tidak ada
i#a*at Pen*a4it )ah6l6 :
Pernah keluar darah dari hidung 5 tahun yang lalu dan berhenti sendiri
'onsilektomi kanan dan kiri saat kelas 5F sd
i#a*at Pen*a4it Kel6ar5a :
'idak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini
i#a*at Pe4er7aan$ Sosial$ E4ono9i$ dan Keiasaan!
Pasien seorang mahasis*a
PEEIKSAAN FISIK
>rekuensi nadi : =& D2menit
>rekuensi nafas : " D2menit
Pe9eri4saan Siste9i4 
epala : tidak ada kelainan 3ata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik 
Paru :
6nspeksi : simetris kiri dan kanan dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi : fremitus kiri G kanan
Perkusi : sonor kiri G kanan
/uskultasi: suara nafas vesikuler normal, rhonki !2!, *hee?ing !2!
Cantung
6nspeksi : i%tus tidak terlihat
Palpasi : i%tus teraba jari medial 038S 768 B, tidak kuat angkat
Perkusi : batas jantung normal
/bdomen
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : timpani
EDtremitas: edem !2!
Stat6s Lo4alis THT
'rauma 'idak ada 'idak ada
7adang 'idak ada 'idak ada
el. 3etabolik 'idak ada 'idak ada
 <yeri tarik 'idak ada 'idak ada
 <yeri tekan tragus 'idak ada 'idak ada
0iang I dinding
Sempit
Sekret2serumen
Cumlah Sedikit Sedikit
7eflek %ahaya (H), arah jam 9 (H), arah jam
+ulging 'idak ada 'idak ada
7etraksi 'idak ada 'idak ada
/trofi 'idakada 'idak ada
Cenis 'idak ada 'idak ada
*adran 'idak ada 'idak ada
Pinggir 'idak ada 'idak ada
1ambar 
3astoid
>istel 'idak ada 'idak ada
Sikatrik 'idak ada 'idak ada <yeri tekan 'idak ada 'idak ada
8/16/2019 epistaksis baru.docx
'es garpu tala
7inne (H) (H)
 pemeriksa
idung luar 
-eformitas 'idak ada 'idak adaelainan kongenital 'idak ada 'idak ada
'rauma 'idak ada 'idak ada
7adang 'idak ada 'idak ada
3assa 'idak ada 'idak ada
Sin6s %aranasal
Pemeriksaan -ekstra Sinistra
 <yeri tekan 'idak ada 'idak ada  <yeri ketok 'idak ada 'idak ada
inos4o%i Anterior
8avum nasi
8ukup lapang (<)
8/16/2019 epistaksis baru.docx
onka media 4kuran
Permukaan Edema
3assa
Edem ! !
/denoid /da2tidak /da ada
3uara tuba eusta%hius
8/16/2019 epistaksis baru.docx
Post <asal -rip /da2tidak 'idak ada 'idak ada
Cenis 'idak ada 'idak ada
1ambar 
Edem 'idak 'idak  
-inding faring @arna 3erah muda 3erah muda
Permukaan 7ata 7ata
@arna 3erah muda 3erah muda
Permukaan 0i%in 0i%in 3uara kripti 'idak ada 'idak ada
-etritus 'idak melebar 'idak melebar  
Eksudat 'idak ada 'idak ada
Perlengketan
Peritonsil
'umor 
+entuk 'idak ada 'idak ada4kuran 'idak ada 'idak ada
Permukaan 'idak ada 'idak ada
onsistensi 'idak ada 'idak ada
1igi aries27adiks 'idak ada 'idak ada
esan igiene mulut %ukup baik  
0idah
Pinggir rata2tidak  7ata 7ata
/riteniod
1erakan Simetris Simetris
Pli%a vokalis
1erakan Simetris Simetris
3assa 'idak ada 'idak ada
Subglotis2trakea 3assa 'idak ada 'idak ada
Sekret 'idak ada 'idak ada
Sinus piriformis 3assa 'idak ada 'idak ada
Sekret 'idak ada 'idak ada
Balekula 3assa 'idak ada 'idak ada
Sekret ( jenisnya ) 'idak ada 'idak ada
1ambar 
8/16/2019 epistaksis baru.docx
submental, submandibula, dan regio %olli.
Palpasi : tidak teraba adanya pembesaran kelenjar getah bening.
Pe9eri4saan laoratori69 :'idak dilakukan
)ia5nosis : Post Epistaksis et %ausa trauma mekanik 
)ia5nosis Ta9ahan: rinitis alergi intermiten ringan
Pe9eri4saanPen6n7an5 : &nasoendoskopi
  !indari buang ingus dan besrsin kuat
Pro5nosis :
)ISK.SI
Seorang pasien *anita berumur & tahun datang ke poli '' 7S4P -r. 3. -jamil
Padang pada tanggal 3ei &# dengan keluhan keluar darah dari lubang hidung kanan 5
hari yang lalu.
-ari alloanamnesis didapatkan keluar darah dari hidung kanan 5 hari yang lalu,
kurang lebih sebanyak & sendok makan, dan berhenti setelah kurang lebih # menit setelah
dimasukan tissue oleh pasien sendiri. Pasien sebelumnya mengorek!ngorek hidungnya.
 pasien punya ri*ayat keluar darah dari hidung sebelumnya saat S3/. Pasien mengaku sering
8/16/2019 epistaksis baru.docx
http://slidepdf.com/reader/full/epistaksis-barudocx 30/31
 bersinK9D pada pagi hari , L5D2minggu, dengan hidung gatal, mata merah, dan terdapat
ri*ayat alergi makanan.
+erdasarkan anamnesis, keluhan pasien merupakan gejala epistaksis Pada pasien
terdapat darah yang mengalir keluar dari hidung. -idukung oleh ri*ayat pasien yang sering
mengorek!ngorek hidung karena gejala alergi yang bisa menjadi penyebab trauma dari
 pembuluh darah di hidung yang menjadi penyebab keluarnya darah. al ini juga didukung
hasil pemeriksaan fisik dimana terdapat pembesaran konka inferior dan ber*arna pu%at.
Sedangkan untuk tanda trauma karena epistaksis sudah tidak ditemukan lagi, karena darah
sudah berhenti sejak hari yang lalu.
Pasien didiagnosa dengan post epistaksis et %ausa trauma mekanik dengan diagnosis
tambahan rhinitis alergi intermiten ringan. Pemeriksaan penunjang yang di anjurkan berupa
nasoendoskopi untuk melihat sumber perdarahan dan skin pri%k test untuk mengetahui
 pen%etus alergi. 'erapi yang diberikan berupa %etiri?ine untuk mengurangi gejala alergi,
sedangkan untuk post epistaksis lebih berupa edukasi seperti tidak mengorek!ngorek hidung,
tidak bersin se%ara kuat, dan untuk menghindari gejala alergi kambuh maka pasien harus
menghindari faktor pen%etus
E/, 6skandar < editors. +uku /jar 6lmu esehatan 'elinga idung 'enggorok 
epala 0eher. th ed. Cakarta : +alai Penerbit >!46
&. -hingra P.0., dan -hingra S. -iseases of Ear, <ose, and 'hroat, ead and <e%k 
Surgery. Edisi . <e* -elhi: Elsevier, &#5
8/16/2019 epistaksis baru.docx
dari:http:22***.kalbe.%o.id2files29 Penatalaksanaan Epistaksis.pdf29
Penatalaksanaan Epistaksis.html. 'anggal akses mei &#
5. /nto, &##. EpistaDis. 78 8P1. -iakses dari : http:22
***.r%h.org.au2%lini%alguide2%pg.%mfAdo%MidG" 5". 'anggal akses : 3ei &#.
9. Purnama , Penatalaksanaan Epistaksis. diakses melalui  idikabbekasi.org2*p!
%ontent2uploads2&#52&25.!materi!dr.!ari.pdf epistaksis pdf 
. Pope 0.E.7., obbs 8.1.0., &##9. EpistaDis un update on %urrent management.
-epartment of Otolaryngology and ead and <e%k Surgery. ###.epista$is
management.com%ent%topic &'(.html
. Bie*hug, 'ate 0, dan Chon + 7oberson. )pista$is * Diagnosis and +reatment . 4S/:
/meri%an /sso%iation of Oral and 3aDillofa%ial Surgeons. &##N9!=.
=. u%ik 8orry, &##9. http:22***.aafp.org2afp2&##9#92#9.html. 
". <guyen et all. &#. EpistaDis. http:22emedi%ine.meds%ape.%om2arti%le2=&&#!
overvie*sho*all