Euthanasia 1

Download Euthanasia 1

Post on 10-Sep-2015

214 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

g

TRANSCRIPT

<ul><li><p>EUTHANASIADerby Tombokan</p></li><li><p>DEFINISI</p><p>Yunani ; EU : baik, Thanatos : mati.= good death = easy death= mercy killingS. Dahlan : tindakan mengakhiri hidup seseorang atas dasar kasihan karena menderita penyakit, kecederaan atau ketidakberdayaan yang tidak mempunyai harapan lagi untuk sembuh. (the nercy killing of hopelessly ill, injured or incapacitated)</p></li><li><p>DEFINISI</p><p>Peter de Cruz in Nutshell : deliberate ending of life a person from painfull illness or ; mean of inducing or bringing about a gentle and easy death ; death without sufferingThe Netherlands Rule : the termination of life by a doctor at the patients request, with the aim an end to unberable suffering with no prospect or improvement (includes : suicide with assistance of a doctor)</p></li><li><p>BATASANTindakan tersebut baik positive act maupun negative act mengakibatkan kematian.Dilakukan pada saat yang bersangkutan masih hidup.Penyakit sudah tidak ada harapan untuk sembuh dan sudah terminal.Motifnya karena yang melakukan kasihan melihat penderitaannya yang berkepanjangan.Tujuannya untuk mengakhiri penderitaan.S. Dahlan </p></li><li><p>BATASAN</p><p>A quite, painless death</p><p>The intentional putting to death of persons with incurable or painful disease or</p><p>The act of killing someone painlessly</p><p>Davies in his Textbook on Medical Law (1998) </p></li><li><p>JENISCara melakukan :1. Euthanasia aktif , positif act mis : injeksi obat dengan dosis lethal.2. Euthanasia pasif, negative act, dokter tidak melakukan apa-apa scr tdk langsung menyebabkan kematian.mis : tdk berikan obat/cabut alat penunjang kehidupan.Orang yang membuat keputusan1. Voluntary Euthanasia2. Involuntary Euthanasia</p></li><li><p>HUKUMHak untuk Hidup (Art. 2 European Convention on Human Right) dan (Art.3 Universal Declaration of Human Right)Hak untuk Mati ada sejak 4thBC pada sebagian kecil masyarakat YunaniHipocratic oath The right to die is not really a clear-out as it could mean the right to reject medical treatment or the right to commit suicide alone or with someones help.Netherlands, The Termination of Life on Requested and Assisted Suicide Act 10 April 2001 : dokter yang melakukan euthanasia dilindungi oleh UU jika memenuhi prosedur yang berlaku.</p></li><li><p>HUKUM di INDONESIAPasal 344 KUHP barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.</p></li><li><p>MATI Apakah tindakan menghentikan / melepaskan alat penunjang kehidupan Euthanasia Pasive ? Harus ditegakan D/ kematian dahulu </p><p>Mati (hukum) keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernafasan dan atau denyut jantung seseorang telah berhenti (PP no 18 Th 1981 ttg Bedah mayat klinis...)</p></li><li><p>MATI (Etik Kedokteran Indonesia) :1.Fungsi Spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti (irreversibel) atau.2.Terbukti telah terjadi kematian batang otak ( S.K. IDI No 335/PB/A.4/88)</p><p>MATI KLINIS : Nafas + Jantung + neurologis tidak berfungsi, bersifat reversibel.</p><p>MATI BIOLOGIS : Kematian organ, mengikuti mati klinis tanpa dilakukan RJP</p></li><li><p>MATI SEREBERAL (CORTEX) : Kerusakan irreversibel (nekrosis) serebrum terutama neokorteks</p><p>MATI OTAK : Mati sereberal + nekrosis sisa otak lain, termasuk serebelum, otak tengah, batang otak </p><p>MATI SOSIAL (vegetatif stage, sindroma apalika) : kerusakan otak berat ireversibel pasien tetap tidak sadar dan tidak responsif tetapi EEG aktif dan beberapa refleks utuh </p></li><li><p>MATI BATANG OTAK (MBO)DIAGNOSAPrasyarat :- Pasien koma dengan ventilator- Diagnosa + kerusakan otak yang me nyebabkan koma.Ekslusi :obat-obatan, hipotermi, gangguan metabolikTes :Reflek batang otak negatif</p></li><li><p>PEMERIKSAAN REFLEKS UNTUK PEMERIKSAAN M.B.OTak ada respon terhadap cahayaTak ada refleks cornea.Tak ada refleks vestibulo-okulerTak ada respon motor terhadap rangsang adekuat.Tak ada refleks muntah (gang..reflek) atau reflek batuk thd rangsang atau kateter isap yang dimasukan dalam trakea.Paling pokok : Tes Henti Nafas</p><p>Bila dokter ragu-ragu, sarana kelengkapan tes klinis kurangJANGAN buat KEPUTUSAN M.B.O.</p></li><li><p>ASPEK MEDIKOLEGAL MATIPernyataan bahwa seseorang telah kehilangan hak dan kewajibannya sebagai subyek hukum, kecuali bidang kebendaan yang dapat diwariskan kepada ahli warisnya.Berlaku hukum waris.Berlaku hukumcerai / mati.Berlaku santunan kematian, asuransi kematian dan lain-lain.</p><p>B. Sampurna</p></li><li><p>MORAL ETIK EUTHANASIALIFE SUPPORT :Life sustaining treatment is any treatment that serves to prolong life without reserving the underlying medical condition.Life sustaining treatment may include, but is not limited to, mechanical ventilation, renal dialysis, chemotherapy, antibiotics, and artificial nutrition and hydrationTIDAK ADA PERBEDAAN ANTARA WITHDRAWING DENGAN WITHHOLDING.</p><p>AMA POLICY, 1994B Sampurna in Aspek Medikolegal Mati </p></li><li><p>PANDANGAN A.M.AHormati hak Otonomi pasien untuk menentukan apa yang akan / boleh dilakukan terhadap dirinya.</p><p>Advance Directive :Pesan untuk tidak memulai terapi tertentu atau menghentikannya.Pasien untuk menunjuk Surrogate Descision Maker</p><p>AMA POLICY, 1994B Sampurna in Aspek Medikolegal Mati </p></li><li><p>Keputusan Surrogate Decision Maker harus mempertimbangkan :Advance Directive</p><p>Nilai yang dianut pasien tentang hidup dan mati</p><p>Sikap psien terhadap sakit, penderitaan, tindak medik dan mati.</p><p>The best interest of the patient</p><p>AMA POLICY, 1994B Sampurna in Aspek Medikolegal Mati </p></li><li><p>SITUASI SULITTidak ada anggota keluarga yang mau menjadi Surrogate Decision Maker.</p><p>Sulit ditentukan siapa yang menjadi Surrogate Decision Maker.</p><p>Bila keputusan tidak sesuai dengan kepentingan pasiennya.</p><p>Keputusan tidak berdasarkan the best interest of the patient.</p><p>AMA POLICY, 1994B Sampurna in Aspek Medikolegal Mati </p></li><li><p>PANDANGAN ETIK KEDOKTERAN INDONESIAPada pasien belum meninggal, namun tindakan terapeutik atau paliatif tidak ada gunannya lagi, sehingga bertentangan dengan ilmu kedokteran, maka tindakan - tindakan tersebut dapat dihentikan.Penghentian sebaiknya dikonsultasikan dengan minimal satu dokter.</p><p>FATWA IDI No 231/PB/4/07.1990B Sampurna in Aspek Medikolegal Mati </p></li><li><p>ALASANPenghormatan atas integritas dan hak otonomi pasienWithholding atau Withdrawing sama sekali tidak merubah prognosis as vitam.Tindakan kedokteran yang futile (sia-sia) adalah bukan tujuan kedokteran.Tindakan tersebut dikenal sebagai let him / her die naturally.Bukan Actve Euthanasia.Supanich And Brody, 1998B Sampurna in Aspek Medikolegal Mati</p></li><li><p>PENENTANGOtonomi pasien memang harus diakui, tetapi bukan justifikasi untuk menghentikan kehidupan seseorang.</p><p>Tidak berbeda antara withdrawing / withholding dengan Assisted suicide</p><p>Rachels, 1986B Sampurna in Aspek Medikolegal Mati</p></li><li><p>PANDANGAN ISLAMSurah al Mulk (67) ayat 1 2 ditegaskan... Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih amalnya...</p><p>Ensiklopedi Hukum Islam ,Edisi 1 ,1997</p></li><li><p>PANDANGAN ISLAMGod gives life and he makes to die (QS 3;156, Al Imron)</p><p>A person dies when it is written(Qadar, 11)</p><p>Suicide = Homicide</p><p>Dr Abdulaziz Sechedine University of Virginia, tanpa tahunB Sampurna in Aspek Medikolegal Mati</p></li><li><p>PENUTUP</p><p>Indonesia tidak mengenal active euthanasia, dimana diancam secara hukum</p><p>Passive euthanasia = withdrawing/withholding of life support/life sustaining treatment tidak bertentangan dengan etik dan hukum</p></li></ul>