gaya baru komunisme - kemenag .kan materi bahaya komunisme dalam khotbah tiap kali memasuki bulan

Download Gaya Baru Komunisme - Kemenag .kan materi bahaya komunisme dalam khotbah tiap kali memasuki bulan

Post on 03-Mar-2019

215 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

6 MPA 324 / September 2013

Gerakan komunisme tidak per-nah mati. Terbukti, hingga kini kajiansosialisme yang tak lain adalah ko-munisme tak pernah surut. Bahkancenderung kian gencar. Tapi sayang-nya, gerakan anti komunis sendiri kianhari kian melemah. Gerakan anti ko-munis laksana anjing menggong-gong tapi kafilah tetap berlalu, tan-das Prof. Dr. H. Aminuddin Kasdi,MS. Artinya, gerakan ini dianggapsebagai bualan kosong semata,ucapnya bernada sesal.

Menurut lelaki kelahiran Nga-njuk 9 Januari 1948 ini, hal tersebutlantaran ada anggapan bahwa komu-nisme telah mati seiring dikeluarkan-nya TAP MPRS No. 25 tahun 1966.Padahal pada masa awal ordebaru, meski secara organisa-toris Partai Komunis Indonesia(PKI) telah dibekukan, ternyatakajian tentang komunisme tetaptumbuh.

Fakta sejarah menunjuk-kan, pada awal pemerintahanorba muncul gerakan PKI ma-lam dan gerakan Mbah Suro diBlora pada tahun 1967. Lalusetahun berikutnya yakni ta-hun 1968, muncul gerakan PKIBlitar Selatan. Di tahun-tahunselanjutnya, gerakan orang-or-ang PKI justru kian intensif danmassif, kata Guru Besar Seja-rah Unesa ini memaparkan.

Apalagi pasca peristiwa G30S/PKI, banyak Comite Central (CC Pimpinan Pusat) PKI yang melarikandiri ke luar negeri. Mereka lalumembentuk CC PKI di Luar negeri.Mereka berkonsentrasi untuk mela-kukan gerakan self correction (korek-si diri) terhadap kegagalan kudeta pa-da akhir September 1965. Dari sinitampak jelas, bahwa upaya mem-bangkitkan kembali PKI itu terusada, tukasnya.

Di dalam negeri sendiri, pada ta-hun 1979 selang sepuluh tahun pas-ca para narapidana politik (napol) dantahanan politik (tapol) dibebaskan,mereka lalu menyebar ke berbagaidaerah untuk mengkonsolidasi diri.

Disinyalir diantara mereka adalahPramoedya Ananta Toer, Rewang(Solo), Sulami (Sekjen PP Gerwani),dan Mutmainnah (mantan PimpinanGerwani Blitar yang saat ini menjadianggota DPRD Blitar). Mereka ini lalumenyusun setrategi dan berusahabergerak kembali untuk kebangkitanPKI.

Selanjutnya pada tahun 1980-anpara intelektual PKI lain yang selamatmendirikan grup-grup diskusi; di-antaranya adalah Kelompok StudiSosial Palagan (KSSP) Yogyakarta.Kegiatan kelompok diskusi ini cukupintens mengkaji sosialisme dan ko-munisme. Bahkan banyak dari alumniKKSP ini yang kini menduduki posisi

penting di pemerintahan baik legis-latif maupun eksekutif. Ini adalahbuah dari kaderisasi era tahun 80-anitu, ungkap penulis banyak bukusejarah ini menyimpulkan.

Maka tak heran jika dengan me-numpang nama demokrasi dan HAM,para anak ideologis maupun anakbiologis PKI menuntut pencabutanTAP MPRS No. XXV/MPRS/ 1966.Itu pun setali tiga uang dengan reko-mendasi dari Komnas HAM; bahwatelah terjadi pelanggaran HAM beratpada peristiwa tahun 1965. Tidak itusaja, pada tahun 2005 silam para ekstapol/napol PKI pun dengan percayadiri mengajukan gugatan ganti rugikepada lima Presiden RI melalui PN

Jakarta Pusat.Bahkan pada pertengahan 2012

lalu juga muncul wacana permintaanmaaf dari Presiden yang disampaikananggota Wantimpres Albert Hasibu-an. Tapi ternyata hal itu diurungkanPresiden, yang rencananya dilaku-kan pada peringatan Hari Kemerde-kaan RI 17 Agustus 2012. Itu tak le-pas dari protes dari pegiat anti ko-munis selama ini, tegasnya.

Dari sini bisa dipahami, bahwaupaya membangkitkan kembali PKIitu sudah di depan mata. Jadi upayauntuk membendung bangkitnya neoPKI pun harus terus dikonsolidasi-kan. Sebenarnya, pada masa ordelama pasca peristiwa Madiun tahun

1948, telah muncul gerakan antikomunisme. Diantaranya ada-lah Front Anti Komunisme(FAK). Bahkan Muktamar AlimUlama Indonesia pada tahun1957 pun telah mengeluarkanfatwa, bahwa komunisme me-rupakan atheis. Dan atheis ti-dak ada tempatnya di bumi In-donesia, tandasnya.

Lalu pada masa orde baru,gerakan anti komunisme relatifdikendalikan oleh negara. Nah,pasca reformasi, kendali negaraterhadap gerakan perlawananterhadap bahaya komunismetersebut kian kedodoran. Apa-lagi negara dihadapkan per-

soalan untuk memerangi terorisme.Sementara itu, di tingkat masyarakatsendiri, mereka relatif tidak begitumenghiraukan bahaya laten komunis-me. Jadi situasi saat ini jauh lebihsulit ketimbang upaya perlawana PKIpada tahun 1965 silam, ungkap Prof.Aminuddin sambil menghela nafasberat.

Partai Komunis Indonesia (PKI)memang telah dibubarkan. Tapi se-bagai ideologi, tutur Drs. H. EndroSiswantoro, M.Si, komunisme diya-kini tak pernah mati. PKI adalah anakzaman. Komunisme adalah sebuahaliran berfikir berlandaskan kepadaatheisme yang tak percaya kepadaTuhan. Karenanya, komunisme

Gaya Baru KomunismeAnjing Menggonggong Komunisme Tetap Berlalu

Prof. Dr. H. Aminuddin Kasdi, MS

01 LAYOUT A - HAL 1 - 19 - SEPT 2013.pmd 8/29/2013, 9:59 PM6

7MPA 324 / September 2013

akan selalu meracuni agama, te-gasnya.

Itulah pasalnya, perjuangan ka-um komunis selalu menghalalkan se-gala cara. Ajaran komunisme menja-dikan materi sebagai asas segala-ga-lanya yang sering disebut sebagaimaterialisme. Ditafsirkannya sejarahberdasarkan pertarungan kelas danfaktor ekonomi. Maka orang komunisakan selalu mempertentangkan ke-lompok atas dan bawah, mampu-tidakmampu, kaya-miskin. Komunismemengajarkan teori pertentangan kelas.Misalnya proletariat melawan tuantanah dan kapitalis, paparnya.

Komunisme memang menca-nangkan program tercapainya ma-syarakat yang makmur, masyarakatkomunis tanpa kelas, semua orangsama, sama rata sama rasa. Namununtuk menuju ke sana, harus melaluifase diktator proletariat yang ber-tentangan dengan demokrasi. Salahsatu pekerjaan diktator proletariat,adalah membersihkan kelas-kelaslawan komunisme. Khususnya tuan-tuan tanah dan kapitalis. Komunis-me menghilangkan hak individual.Jadi bohong jika komunisme itu men-junjung tinggi HAM, ujarnya.

Memasuki era reformasi seiringruntuhnya rezim orde baru, sambungKetua FKUB Prov. Jawa Timur ini,tanda kebangkitan komunisme di In-donesia kian tampak. Hal itu ditandaimunculnya beragam perkumpulananak-anak PKI; antara lain PAKOR-BA (Paguyuban Korban Orde Baru),LPKP 65 (Lembaga Penelitian Kor-ban Peristiwa 1965), juga LPR KROB(Lembaga Perjuangan RehabilitasiKorban Orde Baru).

Terbitnya Buku Aku BanggaJadi Anak PKI, disebutnya sebagaiindikator akan bangkitnya kem-bali PKI di Indonesia. Hal itudiperkuat dengan munculnyakelompok yang berusaha kuatuntuk mencabut TAP MPRSNo. 25 Tahun 1966. Jargon me-reka selalu sama: pembela kaumtertindas, demokrasi, ambil alihsemua perusahaan asing, ataubebas hutang luar negeri, katapria kelahiran Lamongan 4 April1947 ini menerangkan.

Misi untuk menghidupkankembali PKI di panggung poli-tik mulai terbuka, setelah mun-cul berbagai kelompok organi-sasi dan LSM yang secara eks-plisit memperjuangkan come-

backnya partai tersebut dengan dalihpelurusan sejarah, diskriminasi,HAM, dan lain-lain. Krisis multi di-mensi yang berkepanjangan terutamakrisis ekonomi, politik sosial danpertahanan serta tidak terwujudnyaClean Goverment and Good Gover-ment, merupakan lahan subur bagitumbuh dan berkembangnya neo-PKI, katanya mengingatkan.

Tuntutan global penegakkanHAM dan demokratisasi, lanjut su-ami Hj. Artini yang dikaruniai 5 anakini, juga memberikan pintu terbukabagi semua orang untuk bisa menda-patkan hak-haknya secara demokratisberdasarkan ketentuan hukum yangberlaku. Eks tapol/napol PKI dan ke-luarganya memanfaatkan tuntutanglobal tersebut, sehingga mereka be-rani secara terbuka memperjuangkannasibnya. Karenanya, kita harusmewaspadai tujuh radikalisasi yangbisa ditumpangi oleh kaum komunis;yakni radikalisasi kebebasan, radi-kalisasi HAM, radikalisasi ekonomi,radikalisasi politik, radikalisasi ideo-logi, radikalisasi demokrasi dan ra-dikalisasi agama, ujarnya. Saat ini,kebebasan untuk tidak beragama dantidak bertuhan telah dilindungi olehHAM, tambahnya prihatin.

Direktur Utama Masjid NasionalAl-Akbar Surabaya inipun menghim-bau kepada Majelis Agama yang ter-diri dari MUI (Majelis Ulama Indone-sia), PGI (Persekutuan Gereja-Gerejadi Indonesia) Organisasi Gereja Kris-ten Protestan, KWI (Konferensi Wali-gereja Indonesia), Organisasi GerejaKatholik, PHDI (Parisada Hindu Dhar-ma Indonesia), WALUBI (PerwakilanUmat Budha Indonesia), MATAKIN(Konghucu) untuk melakukan pe-nguatan ajaran agama mempertebal

keimanan umat. Majelis Agama di-harapkan tidak tergiur dengan kebe-basan yang dikehendaki oleh HAM.Aliran kepercayaan jangan sampaikehilangan agama induknya, tegas-nya.

Mantan Asisten Sekdaprov Ja-tim Bidang Kesejahteraan Masyara-kat ini mengingatkan, agar kita me-waspadai beberapa permasalahanyang berpotensi menimbulkan adudomba yang bisa ditumpangi oleh ke-pentingan Komunis. Seperti penyi-aran agama, bantuan keagamaan luarnegeri, perkawinan antar pemelukagama yang berbeda, pengangkatananak, pendidikan agama, perayaanhari besar keagamaan, perawatan danpemakaman jenazah, penodaan aga-ma, kegiatan kelompok sempalan,transparansi informasi keagamaan,dan pendirian rumah ibadat. Karenaitulah, FKUB setuju adanya PP yangmengatur kerukunan umat beragama,yang kemudian ditingkatkan menjadiUU tentang kehidupan antar umatberagama. Sebab saat ini KUB hanyadiatur lewat PBM (Peraturan BersamaMenteri), jelasnya.

Untuk menghindari konflik ter-sebut, ujar Wakil Ketua DewanMusytasar DMI Jatim ini, kita jugaperlu mendorong birokrasi pemerin-tah untuk bersifat adil, bersih dan ju-jur. Pemerintah diharapkan memper-cepat hasil-hasil pembangunan se-hingga tidak ada lagi kesenjangan.Yang tak kalah penting, adalah pe-ningkatan kesejahteraan umat lewatlembaga keagamaan. Mari jadikanmasjid sebagai pusat peradaban,fungsi kesejahteraan umat, pendi-dikan, ekonomi dan kebudayaan,tambahnya.

Yang perlu diwaspadai, tuturDrs. H. A. Rachman Aziz, MSi,adalah bangkitnya komunisgaya baru. Sebab meski secaraorganisatoris PKI telah dibe-kukan dengan lahirnya TAPMPRS No. 25 tahun 1966, tetapikomunisme akan selalu me-manfa