Indofood Riset Nugraha

Download Indofood Riset Nugraha

Post on 05-Sep-2015

9 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Penelitian Pisang punya Rahmat

TRANSCRIPT

<ul><li><p>URAIAN UMUM </p><p>Pisang talas (Musa paradisiaca var. sapientum L.) adalah salah satu jenis </p><p>pisang khas Kalimantan Selatan yang memiliki prospek cerah ke depan. Pisang Talas </p><p>memiliki tekstur lembut, manis sedikit sepat, beraroma wangi, berserat halus, </p><p>berwarna kemerahan dan mampu bertahan lama karena kulit luarnya yang keras. </p><p>(Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan, 2014). </p><p>Pisang talas dalam setiap rumpunnya menghasilkan anakan sekitar 5-7 anakan pada </p><p>tahun pertama (Aspariah, 2007). Salah satu upaya yang dilakukan untuk memperoleh </p><p>bibit pisang yang sehat dan dalam jumlah banyak dapat dilakukan dengan teknik </p><p>kultur jaringan. </p><p>Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari </p><p>tanaman (sel, kelompok sel, jaringan, organ, protoplasma) dan menumbuhkannya </p><p>dalam kondisi aseptik sehingga bagian-bagian tersebut berkembang menjadi tanaman </p><p>lengkap. Pada umumnya teknik kultur jaringan dapat dibagi menjadi empat tahapan, </p><p>yaitu : tahap pertama induksi (penanaman awal), untuk menumbuhkan jaringan </p><p>tanaman baik berupa tunas maupun kultur kalus dengan tujuan untuk membentuk </p><p>kultur masal sel/tunas yang belum/tidak terdiferensi. Tahap kedua multiplikasi </p><p>(perbanyakan), untuk memperbanyak tunas/kalus dari hasil tahap pertama dimana </p><p>tunas yang sudah terbentuk dipotong-potong dengan tujuan untuk memproduksi </p><p>tunas majemuk. Tahap ketiga rooting (pembentukan akar), yaitu pemindahan tunas-</p><p>tunas terbaik hasil multiplikasi ke media perakaran dengan tujuan untuk merangsang </p><p>pertumbuhan dan pembentukan akar sehingga menjadi planlet yang sempurna. Tahap </p><p>keempat adalah aklimatisasi, yaitu penyesuaian kondisi tempat tumbuh dari </p><p>lingkungan in vitro ke tempat tumbuh di rumah kaca dan atau lapangan agar tanaman </p><p>mampu beradaptasi terhadap iklim dan lingkungan yang baru (Hardjowigeno, 2003). </p><p>Aklimatisasi merupakan langkah penting dalam perbanyakan tanaman secara </p><p>in vitro. Selama pertumbuhan in vitro, tanaman berkembang di bawah kondisi yang </p><p>terkendali, termasuk lingkungan tertutup, tanpa pertukaran gas, dengan kelembaban </p><p>tinggi di udara, intensitas cahaya rendah, dan penggunaan gula dari media sebagai </p><p>sumber karbon dan energi. Aklimatisasi adalah proses pengandaptasian tanaman dari </p><p>media hara in vitro ke media tanah in vivo. Tanaman yang tumbuh secara in vivo </p><p>bebeda dengan keadaan tanaman yang tumbuh secara in vitro, oleh sebab itu </p></li><li><p>2 </p><p>pemindahannya memerlukan teknik khusus agar derajat kematian dapat ditekan </p><p>seminimal mungkin (Wardiyarti, 1998). </p><p>ABSTRAK </p><p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: </p><p>1. Interaksi antara dosis pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis pupuk NPK </p><p>mutiara terhadap pertumbuhan pisang talas hasil aklimatisasi pada lahan </p><p>gambut. </p><p>2. Pengaruh dosis pupuk NPK mutiara terhadap pertumbuhan pisang talas hasil </p><p>aklimatisasi pada lahan gambut. </p><p>3. Pengaruh dosis pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan pisang talas </p><p>hasil aklimatisasi pada lahan gambut. Percobaan perbanyakan pisang talas hasil </p><p>aklimatisasi dilaksanakan pada lahan gambut di Desa Simpang Nungki RT.1, </p><p>Kecamatan Cerbon Kabupaten Barito Kuala. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan </p><p>selama 5 (lima) bulan, yaitu mulai bulan April sampai Agustus 2015. Metode </p><p>penelitian yang digunakan adalah Faktorial dua faktor, menggunakan Rancangan </p><p>Acak Kelompok (RAK), dimana yang dijadikan kelompok adalah tinggi tanaman </p><p>dengan 3 pengelompokan (4-14 cm, 14-24 cm, dan 24-34 cm). Faktor yang </p><p>digunakan meliputi : Faktor pertama adalah pupuk NPK Mutiara (N) terdiri dari 3 </p><p>taraf perlakuan, yaitu : n1 : 200 kg ha-1</p><p> = 200 g/lubang tanam, n2 : 250 kg ha-1</p><p> = 250 </p><p>g/lubang tanam, dan n3 : 300 kg ha-1</p><p> = 300 g/lubang tanam. Faktor kedua adalah </p><p>pupuk kandang kotoran ayam (K) terdiri dari 4 taraf, yaitu : k1 : 5 t ha-1</p><p> = 5 kg/lubang </p><p>tanam, k2 : 10 t ha-1</p><p> = 10 kg/lubang tanam, k3 : 15 t ha-1</p><p> = 15 kg/lubang tanam, dan k4 </p><p>: 20 t ha-1</p><p> = 20 kg/lubang tanam. </p><p>PENDAHULUAN </p><p>Pisang merupakan salah satu produk buah unggulan nasional. Buah ini sangat </p><p>memasyarakat karena dapat dikonsumsi kapan saja dan di segala tingkatan usia dari </p><p>bayi hingga manula. Pisang memiliki beberapa keunggulan yang dibutuhkan seperti : </p><p>kandungan nutrisi yang lengkap, bahan pelengkap berbagai olahan pangan, </p><p>produktivitas dan kemampuan untuk mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk </p><p>bertahan hidup. Tingkat produktivitas pisang juga sangat tinggi dibandingkan </p></li><li><p>3 </p><p>tanaman sumber karbohidrat lainnya, sehingga dapat digunakan sebagai bahan </p><p>pangan alternatif pengganti beras khususnya di daerah rawan pangan Daerah </p><p>penyebaran pisang cukup luas, umumnya pisang ditanam di pekarangan maupun </p><p>ladang dan sebagian sudah ada dalam bentuk perkebunan (Kuntarsih, 2012). </p><p>Secara umum produksi komoditas pisang di Kalimantan Selatan mengalami </p><p>peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011 sebesar 65,073 ton, pada tahun </p><p>2012 sebesar 69,670 ton, dan pada tahun 2013 sebesar 71,383 ton (Dinas Pertanian </p><p>Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan, 2014). </p><p>Pisang talas (Musa paradisiaca var. sapientum L.) adalah salah satu jenis </p><p>pisang khas Kalimantan Selatan yang memiliki prospek cerah ke depan. Pisang talas </p><p>sangat laku di pasaran menyebabkan harganya mahal namun sulit dicari. Pisang talas </p><p>memiliki tekstur lembut, manis sedikit sepat, beraroma wangi, berserat halus, </p><p>berwarna kemerahan dan mampu bertahan lama karena kulit luarnya yang keras. </p><p>(Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan, 2014). </p><p>Untuk mengatasi faktor pembatas tersebut diperlukan pengelolaan tanah, </p><p>salah satunya dengan ameliorasi tanah misalnya pemupukan baik pemberian pupuk </p><p>organik maupun pupuk anorganik. Pemupukan merupakan upaya untuk mencapai </p><p>kebutuhan unsur hara bagi tanaman yang dapat meningkatkan produktivitas tanah </p><p>dan produksi tanaman. Alternatif yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas </p><p>tanah gambut yang diketahui mempunyai sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang </p><p>kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, dalam penelitian ini adalah </p><p>melakukan pemupukan NPK Mutiara dan pupuk kandang kotoran ayam (Sutedjo et </p><p>al, 1991). </p><p>PERUMUSAN MASALAH </p><p>Usaha meningkatkan produksi buah pisang talas di beberapa daerah di </p><p>Kalimantan Selatan mendapat hambatan, yaitu dengan adanya serangan beberapa </p><p>penyakit dan perkembangbiakan tanaman dari anakan atau secara konvensional yang </p><p>lambat dibanding jenis pisang lain,. Pisang talas dalam setiap rumpunnya </p><p>menghasilkan anakan sekitar 5-7 anakan pada tahun pertama (Aspariah, 2007). Salah </p><p>satu upaya yang dilakukan untuk memperoleh bibit pisang yang sehat dan dalam </p><p>jumlah banyak dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan. Menurut Wardiyarti </p></li><li><p>4 </p><p>(1998), kultur jaringan adalah pemeliharaan in vitro semua bagian tanaman, baik </p><p>yang berupa sel tunggal, jaringan atau organ dalam kondisi bebas hama dan penyakit </p><p>serta pengaruh mikroorganisme. </p><p>Kultur jaringan tanaman atau sering di sebut juga perbanyakan tanaman </p><p>secara in vitro adalah suatu teknik pengisolasian dan pemeliharaan sel atau potongan </p><p>jaringan tanaman yang dipindahkan dari lingkungan alaminya, kemudian </p><p>ditumbuhkan pada media buatan yang sesuai dan kondisinya aseptik. Bagianbagian </p><p>tersebut kemudian memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap </p><p>kembali (Gunawan, 1995). </p><p>Berbeda dengan teknik perbanyakan vegetatif konvensional, kultur jaringan </p><p>melibatkan pemisahan komponen-komponen biologis dan tingkat pengendalian yang </p><p>tinggi dalam memacu proses regenerasi dan perkembangan jaringan. Setiap urutan </p><p>proses dapat dimanipulasi melalui seleksi bahan tanaman, medium kultur dan faktor-</p><p>faktor lingkungan, termasuk eliminasi mikroorganisme seperti jamur dan bakteri. </p><p>Semua itu dimaksudkan untuk memaksimalkan produk akhir dalam bentuk kuantitas </p><p>dan kualitas propagula berdasarkan prinsip totipotensi sel (Zulkarnain, 2009). </p><p>Perbanyakan pisang secara in vitro diharapkan memiliki tingkat keberhasilan </p><p>yang tinggi. Kultur in vitro selesai pada saat terbentuk planlet (tanaman kecil) yang </p><p>mempunyai pucuk pada ujung yang satu dan akar yang berfungsi pada ujung lainnya. </p><p>Selanjutnya adalah pemindahan planlet ke tanah. Masa ini merupakan masa yang </p><p>kritis dalam rangkaian perbanyakan tanaman. planlet harus menyesuaikan diri dari </p><p>kondisi heterotrop menjadi autotrop. Masa ini disebut aklimatisasi (Gunawan, 1995). </p><p>Keadaan in vivo yang harus dihadapi planlet adalah : (1) kelembapan yang </p><p>berkurang, (2) temperatur yang tinggi, (3) intensitas cahaya yang lebih tinggi, (4) </p><p>perlu mengadakan proses fotosintesis, dan (5) adanya serangan hama dan penyakit </p><p>(Gunawan, 1995). </p><p>Potensi tanah gambut di Kabupaten Barito Kuala terutama untuk lahan </p><p>pertanian produktif belum dimanfaatkan secara maksimal. Hasil yang rendah tersebut </p><p>erat kaitannya dengan kendala fisika dan kimia lahan, seperti dinamika air, </p><p>kemasaman tanah, kesuburan kandungan NPK yang rendah. Unsur K, Ca dan Mg </p></li><li><p>5 </p><p>merupakan faktor pembatas utama pertumbuhan dan produksi tanaman di lahan </p><p>gambut (Alwi, 2007). </p><p>TUJUAN PENELITIAN </p><p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: </p><p>1. Interaksi antara dosis pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis pupuk NPK </p><p>mutiara terhadap pertumbuhan pisang talas hasil aklimatisasi pada lahan </p><p>gambut. </p><p>2. Pengaruh dosis pupuk NPK mutiara terhadap pertumbuhan pisang talas hasil </p><p>aklimatisasi pada lahan gambut. </p><p>3. Pengaruh dosis pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan pisang talas </p><p>hasil aklimatisasi pada lahan gambut. </p><p>MANFAAT PENELITIAN </p><p> Dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk </p><p>budidaya pisang talas hasil aklimatisasi dengan pemberian pupuk NPK mutiara dan </p><p>pupuk kandang kotoran ayam pada lahan gambut. </p><p>TINJAUAN PUSTAKA </p><p>Botani Tanaman Pisang </p><p>Tanaman pisang termasuk tumbuh-tumbuhan herba dan berbiji tunggal </p><p>(monokotil). Tanaman pisang adalah suatu tumbuhan yang dari akar hingga daunnya </p><p>dapat dimanfaatkan untk kepentingan manusia. Tanaman pisang berasal dari </p><p>kawasan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar luas </p><p>ke kawasan Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan, dan Amerika Tengah. </p><p>Penyebaran tanaman ini selanjutnya hampir merata ke seluruh dunia, yakni meliputi </p><p>daerah tropik dan subtropik, dimulai dari Asia Tenggara ke timur melalui Lautan </p><p>Teduh sampai ke Hawai. Selain itu, tanaman pisang tersebar di barat melalui </p><p>Samudra Atlantik, Kepulauan Kanari, sampai Benua Amerika (Suyanti, 2008). </p><p>Tanaman pisang talas dapat diklasifikasikan sebagai berikut : </p><p>Kingdom : Plantae (tumbuhan) </p><p>Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) </p><p>Sub Divisi : Angiospermae (berbiji tertutup) </p><p>Kelas : Monocotyledonae </p></li><li><p>6 </p><p>Ordo : Scitamineae </p><p>Famili : Musaceae </p><p>Genus : Musa </p><p>Spesies : Musa paradisiaca var. sapientum (L.) </p><p>(Sumber : www.plantamor.com) </p><p> Tanaman pisang pada umumnya adalah tumbuhan berumpun. Setiap batang </p><p>pisang biasanya akan tumbuh tunas dalam waktu 1sampai 11/2 bulan sekali. Kalau </p><p>menghendaki tanaman pisang menjadi produktif, maka pertumbuhan pisang dalam </p><p>setiap rumpun dibatasi hanya 3sampai 4 batang saja. Tunas-tunas pisang yang </p><p>selebihnya kita basmi atau kita pindahkan ke lahan lain (Kuswanto, 2007). </p><p>Akar </p><p> Tanaman pisang tidak berakar tunggang. Pada umumnya akar tanaman itu </p><p>mempunyai akar-akar rambut yang halus dan sangat banyak. Akar yang tumbuh di </p><p>bonggol pisang bagian bawah panjangnya kurang lebih 0.75-1.5 m, dan sebagian </p><p>besar dari akar akar tanaman pisang itu tumbuh ke samping bonggol yang </p><p>panjangnya antara 4 sampai 5 meter (Kuswanto, 2007). </p><p>Umbi (bonggol) </p><p>Umbi pisang itu dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: umbi bagian dalam </p><p>dan umbi bagian luar. Pada umbi bagian dalam, terdapat juga titik tumbuh dan </p><p>kambium. Di atas umbi bagian dalam itu terdapat sebagian kecil umbi bagian umbi </p><p>luar dan tempat tumbuhnya akar dan tunas-tunas pisang baru. Letak duduk umbi </p><p>pisang sebaiknya jangan sampai kurang dari 10 cm di bawah permukaan tanah. Umbi </p><p>pisang yang sebagian besar berada di atas permukaan tanah disebut pisang nyandi. </p><p>Pisang yang demikian itu sangat mudah sekali roboh bila tertiup angin. (Kuswanto, </p><p>2007). </p><p>Batang </p><p> Batang pisang sesungguhnya bukanlah batang yang asli tetapi merupakan </p><p>batang semu. Di bagian dalam batang pisang terdapat hati pisang dan hati pisang itu </p><p>ditutup gedobok-gedobok yang tersusun saling tutup menutupi. Gedebok pisang </p><p>selain mengandung air juga mengandung serat-serat pisang yang panjang dan kuat. </p><p>Di bagian atas dari gedebok-gedebok pisang itu tumbuh pelepah pisang lengkap </p></li><li><p>7 </p><p>dengan daunnya. Pelepah pisang itu panjangnya lebih dari panjang daunnya </p><p>(Kuswanto, 2007). </p><p>Daun </p><p>Daun pisang bentuknya meruncing dan disebelah ujungnya merata. Bentuk </p><p>daunnya semakin ke ujung semakin kecil dan menyempit. Daun pisang di bagian luar </p><p>licin seperti lilin. Pada bagian tepi daun pisang itu hanya berbingkai tipis dan lemah, </p><p>sehingga pada umumnya mudah robek bila tertiup angin (Kuswanto, 2007). </p><p>Bunga dan buah </p><p>Setiap tanaman pisang memiliki bunga yang sangat banyak, bunganya </p><p>majemukdan tangkainya panjang, kuat dan bulat. Daun pelindungnya biasanya </p><p>disebut seludung bunga yang warnanya kecoklatan dan agak merah. Letak seludung </p><p>bunganya saling tutup-menutupi antara satu dengan yang lainnya. Bunga-bunga </p><p>pisang itu terkumpul menjadi satu kesatuan yang disebut ontong pisang. Biasanya </p><p>50% dari ontong pisang akan menjadi buah yang sempurna, dan selebihnya akan </p><p>gagal menjadi buah ontong yang tidak bisa diharapkan menjadi buah sebaiknya </p><p>segera dipotong (Kuswanto, 2007). </p><p>Pada umumnya tanaman pisang akan berbuah setelah tanaman berumur 12 </p><p>sampai 18 bulan. Buah pisang akan tua setelah berumur 3 sampai 4 bulan. Sisiran </p><p>buah pisang yang paling atas biasanya besar-besa, tetapi semakin ke ujung akan </p><p>semakin kecil. Selain itu sisiran buah pisang yang teratas biasanya lebih cepat tua </p><p>atau lebih cepat masakdaripada sisiran buah pisang di bawahnya (Kuswanto, 2007). </p><p>Syarat Tumbuh Pisang </p><p>Pisang dapat ditanam di dataran rendah dengan suhu 21-320 </p><p>C dan beriklim </p><p>lembab. Walaupun demikian pisang masih dapat berkembang baik sampai pada </p><p>ketinggian tempat 1300 m dpl. Di dataran tinggi, umur berbuah pisang menjadi lebih </p><p>panjang dan kulit buahnya pun cenderung lebih tebal. Topografi yang dikehendaki </p><p>tanaman pisang berupa lahan datar dengan kemiringan 80. Lahan itu terletak di </p><p>daerah tropis antara 160 LU-12</p><p>0 LS (Tim Redaksi Trubus, 2002). </p><p>Pertumbuhan optimal pisang dicapai di daerah yang bercurah hujan lebih dari </p><p>2000 mm yang merata sepanjang tahun. Di daerah yang mempunyai musim kering 4-</p><p>5 bulan, pisang masih bisa tumbuh baik asalkan air tanahnya maksimal 150 cm di </p></li><li><p>8 </p><p>bawah permukaan tanah. Pisang juga dapat tumbuh bagus dilahan berpasir atau </p><p>berbatu kerikil, asalkan subur. Keasaman tanah (pH) yang dikehendaki pisang adalah </p><p>5,5-7,5. Berdasarkan syarat tumbuh pisang tersebut, hampir semua wilayah di </p><p>Indonesia dapat ditanami pisang (Tim Redaksi Trubus, 2002). </p><p>Perbanyakan Tanaman </p><p>Teknik perbanyakan tanaman yang baik dibutuhkan untuk mening...</p></li></ul>