jambu mete ( anacardium occidentale l.) dengan variasi .../formulas... · perpustakaan.uns.ac.id...

of 55 /55
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user i FORMULASI DAN UJI DAYA ANTIBAKTERI SALEP EKSTRAK DAUN JAMBU METE ( Anacardium occidentale L.) DENGAN VARIASI TIPE BASIS TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Ahli Madya D3 Farmasi Oleh: DESNARIA ISNAINI M 3509016 DIPLOMA 3 FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

Author: duongkhuong

Post on 03-Jul-2018

213 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    i

    FORMULASI DAN UJI DAYA ANTIBAKTERI SALEP EKSTRAK DAUN

    JAMBU METE ( Anacardium occidentale L.) DENGAN VARIASI TIPE

    BASIS

    TUGAS AKHIR

    Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan

    memperoleh gelar Ahli Madya D3 Farmasi

    O l e h :

    DESNARIA ISNAINI

    M 3509016

    DIPLOMA 3 FARMASI

    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2012

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    ii

    PENGESAHAN

    TUGAS AKHIR

    FORMULASI DAN UJI DAYA ANTIBAKTERI SALEP EKSTRAK DAUN

    JAMBU METE (Anacardium occidentale L.) DENGAN VARIASI TIPE

    BASIS

    Oleh:

    DESNARIA ISNAINI

    M3509016

    Telah dipertahankan di depan Tim Penguji

    pada tanggal 31 Juli 2012

    dan dinyatakan telah memenuhi syarat

    Surakarta, 31 Juli 2012

    Pembimbing

    Nestri Handayani, M.Si., Apt

    NIP 19701112 200501 2 001

    Penguji I

    Anang Kuncoro R. S., S.Si., Apt.

    NIP. 19760909 200312 1 002

    Penguji II

    Heru Sasongko, S. Farm.,Apt.

    Mengesahkan

    Dekan FMIPA UNS

    Prof. Ir. Ari Handono Ramelan., M.Sc.(Hons), Ph.D

    NIP. 19610223 198601 1 001

    Ketua Program D3 Farmasi

    Ahmad Ainurofiq, M.Si., Apt

    NIP. 19780319 200501 1 003

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    iii

    PERNYATAAN

    Dengan ini saya menyatakan bahwa tugas akhir saya yang berjudul

    FORMULASI DAN UJI DAYA ANTIBAKTERI SALEP EKSTRAK DAUN

    JAMBU METE (Anacardium occidentale L.) DENGAN VARIASI TIPE BASIS

    adalah hasil penelitian saya sendiri dan tidak terdapat karya yang pernah diajukan

    untuk memperoleh gelar apapun di suatu perguruan tinggi, serta tidak terdapat

    karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali

    secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

    Apabila di kemudian hari dapat ditemukan adanya unsur penjiplakan maka gelar

    yang telah diperoleh dapat ditinjau dan/ dicabut.

    Surakarta, 31 Juli 2012

    Desnaria Isnaini

    M3509016

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    iv

    FORMULASI DAN UJI DAYA ANTIBAKTERI SALEP EKSTRAK DAUN

    JAMBU METE ( Anacardium occidentale L.) DENGAN VARIASI TIPE

    BASIS

    DESNARIA ISNAINI

    Jurusan D3 Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret

    INTISARI

    Jambu mete ( Anacardium occidentale L) dikenal masyarakat dengan

    banyak manfaat, mulai dari akar, batang, daun dan buahnya. Berdasarkan

    penelitian terdahulu, diketahui bahwa ekstrak metanol daun jambu mete memiliki

    aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada dosis 32 mg/ml.

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan basis

    salep ektrak daun jambu mete terhadap sifat fisik dan kimia salep serta

    mengetahui tipe basis salep yang mempunyai zona hambat paling besar pada uji

    antibakteri terhadap bakteri S. aureus. Basis salep yang digunakan adalah basis

    salep hidrokarbon, serap dan larut air.

    Pembuatan ekstrak daun jambu mete dilakukan dengan metode soxletasi

    menggunakan pelarut metanol. Hasil rendemen ekstrak yang didapatkan pada

    proses ekstraksi adalah 26,43%. Ekstrak yang didapatkan kemudian dibuat salep

    dengan variasi tipe basis dan diuji sifat fisik dan kimianya meliputi uji

    homogenitas, organoleptis, viskositas, kelengketan, daya sebar, pH dan uji iritasi

    serta uji daya antibakteri terhadap S. aureus dengan menggunakan metode difusi.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna

    pada uji sifat fisik dan kimia antara masing-masing formula salep. Uji daya

    antibakteri salep menghasilkan zona hambat sebesar 4.480mm pada FI, 3.387mm

    pada FII, dan 6.970mm pada FIII sehingga disimpulkan FIII memiliki daya

    antibakteri paling kuat.

    Kata kunci : Anacardium occidentale L., antibakteri, basis salep, sifat fisik dan

    kimia

    .

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    v

    FORMULATION AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST OF

    EXTRACT LEAF CASHEW ( Anacardium occidentale L.) OINTMENTS

    WITH VARIATIONS OF THE BASE TYPE

    DESNARIA ISNAINI

    Department of Pharmacy, Faculty of Mathematic and Science

    Sebelas Maret University

    ABSTRACT

    Cashew (Anacardium occidentale L.) is known with many benefits,

    starting from the roots, stems, leaves and fruit. Based on previous research, it is

    known that methanol extract of cashew leaves have antibacterial activity against

    Staphylococcus aureus bacteria at a dose of 32mg/ml. The purpose of this study

    was to determine the effect of differences in leaf extract cashew ointment base

    against physical and chemical properties, as well as to knew which the type of

    ointment base has the greatest inhibitory zone on the antibacterial test against

    Staphylococcus aureus bacteria. Ointment base used is a hydrocarbon, absorptive,

    and water soluble ointment base.

    Manufacture of cashew leaf extracts used the soxlet extraction method

    with methanol solvent. The results yield a condensed extract obtained in the

    process of extraction is 26,43%. After that is formulation the ointment by

    variation the type of ointments base and tested the physical and chemical

    properties of an ointment that includes a test of homogeneity, organoleptic, the

    viscosity, adhesiveness, dispersive power, pH and irritation test and antibacterial

    test against S. aureus by used a diffusion method.

    The results showed that there were significant differences in test results

    between the physical and chemical properties of each formula ointment. The

    results antibacterial test yield the zone of inhibition is 4.480mm by FI, 3.387mm

    by FII, and 6.970 by FIII, it can be concluded that FIII had strongest antibacterial activity.

    Keywords : Anacardium occidentale L, antibacterial, ointment base, the physical

    and chemical properties

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vi

    MOTTO

    Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

    Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S. Al Insyirah :

    5-6)

    Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena

    mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka

    lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk

    menunggu inspirasi. (Ernest Newman)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vii

    PERSEMBAHAN

    Tugas Akhir ini Kupersembahkan untuk :

    Abi dan umi tercinta, Udo Riza, Adek Afif

    dan Dek Tiara

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    viii

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

    melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

    penulisan Laporan Tugas Akhir dengan judul FORMULASI DAN UJI DAYA

    ANTIBAKTERI SALEP EKSTRAK DAUN JAMBU METE (Anacardium

    occidentale L.) DENGAN VARIASI TIPE BASIS dengan baik.

    Penyusunan laporan Tugas Akhir ini merupakan salah satu syarat untuk

    dapat memperoleh gelar Ahli Madya Farmasi pada jurusan D3 Farmasi di

    Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret

    Surakarta. Dalam penulisan laporan Tugas Akhir ini penulis telah berusaha

    semaksimal mungkin untuk memberikan hasil yang terbaik. Dan tak mungkin

    terwujud tanpa adanya dorongan, bimbingan, semangat, motivasi serta bantuan

    baik moril maupun materiil, dan doa dari berbagai pihak. Karena itu penulis pada

    kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada:

    1. Prof. Ir. Ari Handono Ramelan, M.Sc.(Hons), Ph.D, selaku Dekan Fakultas

    Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

    2. Ahmad Ainurofiq, M.Si., Apt, selaku ketua program studi D3 Farmasi

    Universitas Sebelas Maret Surakarta.

    3. Nestri Handayani, M.Si., Apt, selaku pembimbing tugas akhir atas segala

    ketulusan, kesabaran dan keikhlasannya dalam memberikan arahan,

    pengertian, saran, dan ilmunya yang tiada tara nilainya.

    4. Estu Retnaningtyas N.,S.PT, M.Si., selaku pembimbing akademik atas segala

    ketulusan dalam memberikan saran dan motivasi.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    ix

    5. Segenap dosen pengajar dan staff jurusan D3 Farmasi yang telah banyak

    memberikan ilmu dan pelajaran berharga.

    6. Ayahanda dan ibunda serta kakak dan adik-adik tercinta yang selalu

    memberikan doa, dukungan, motivasi dan kasih sayangnya.

    7. Sahabat dan Teman-teman seperjuangan D3 Farmasi, atas kerjasamanya

    selama masa-masa kuliah.

    8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu

    dalam Tugas Akhir ini.

    Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan

    Tugas Akhir ini. Untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang

    membangun dari semua pihak untuk perbaikan sehingga akan menjadi bahan

    pertimbangan dan masukan untuk penyusunan tugas-tugas selanjutnya. Penulis

    berharap semoga laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada

    umumnya dan dapat menjadi bekal bagi penulis dalam pengabdian Ahli Madya

    Farmasi di masyarakat pada khususnya.

    Surakarta, Agustus 2012

    Penulis

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    x

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL...........................................................................................

    HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................

    HALAMAN PERNYATAAN............................................................................

    INTISARI............................................................................................................

    ABSTRACT..........................................................................................................

    HALAMAN MOTTO.........................................................................................

    HALAMAN PERSEMBAHAN.........................................................................

    KATA PENGANTAR........................................................................................

    DAFTAR ISI.......................................................................................................

    DAFTAR GAMBAR..........................................................................................

    DAFTAR TABEL...............................................................................................

    DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................

    BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................

    A. Latar Belakang Masalah.......................................................................

    B. Perumusan Masalah..............................................................................

    C. Tujuan Penelitian..................................................................................

    D. Manfaat Penelitian................................................................................

    BAB II LANDASAN TEORI.............................................................................

    A. Tinjauan Pustaka...................................................................................

    1. Daun Jambu Mete............................................................................

    2. Ekstraksi...........................................................................................

    Halaman

    i

    ii

    iii

    iv

    v

    vi

    vii

    viii

    x

    xiv

    xv

    xvi

    1

    1

    2

    3

    3

    4

    4

    4

    6

    6

    .

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xi

    3. Metode Ekstraksi..............................................................................

    4. Sokhletasi.........................................................................................

    5. Cairan Penyari..................................................................................

    6. Staphylococcus aureus.....................................................................

    7. Salep.............................................

    8. Basis salep........................................................................................

    9. Antibakteri dan Uji Antibakteri.......................................................

    B. Kerangka Pemikiran..............................

    C. Hipotesis...........................................................................

    BAB III METODE PENELITIAN......................................................................

    A. Metode Penelitian................

    B. Tempat Waktu Penelitian..........

    C. Alat dan Bahan......................

    1. Alat yang digunakan........................................................................

    2. Bahan yang digunakan.....................................................................

    D. Prosedur Penelitian...............................

    1. Formula Salep..................................................................................

    2. Pembuatan Ekstrak Daun Jambu Mete........................

    3. Pembuatan Salep Ekstrak Daun Jambu mete...

    4. Pemeriksaan Kestabilan Salep.....................

    a. Uji Organoleptis..........................................

    b. Uji Homogenitas......................

    c. Uji Daya Sebar Salep...................

    7

    7

    7

    8

    9

    10

    14

    15

    16

    17

    17

    17

    17

    17

    18

    18

    18

    19

    20

    21

    21

    21

    22

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xii

    d. Uji Daya Lekat Salep...........

    e. Uji Viskositas..............................................................................

    f. Pemeriksaan pH...........................................................................

    g. Uji Iritasi......................................................................................

    h. Uji Aktivitas Antibakteri.............................................................

    E. Analisa Hasil ....................................

    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................

    A. Determinasi Tanaman...................................................

    B. Ekstraksi Daun Jambu Mete.....................................

    C. Hasil Uji Sifat Fisik Ekstrak.................................................................

    1. Uji Organoleptis...................................................................

    2. Uji Daya Lekat.........................................

    D. Hasil Uji Sifat Fisik dan Kimia Salep.......................................

    1. Homogenitas Salep.......................................

    2. Uji Organoleptis...........................

    3. Uji pH.......................................

    4. Uji Viskositas...............................

    5. Uji Daya Lekat.................................................................................

    6. Uji Daya Sebar.................................................................................

    7. Uji Iritasi.........................................................................................

    E. Hasil Uji Daya Antibakteri Salep.........................................................

    F. Hasil Analisa Statistik Salep.................................................................

    1. Analisa Statistik Uji pH...................................................................

    22

    22

    23

    23

    24

    25

    26

    26

    26

    26

    26

    27

    27

    27

    28

    28

    30

    31

    33

    34

    35

    36

    36

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xiii

    2. Analisa Statistik Uji Viskositas........................................................

    3. Analisa Statistik Uji Daya Lekat Salep............................................

    4. Analisa Statistik Uji Daya Sebar Salep............................................

    5. Analisa Statistik Uji Daya Antibakteri.............................................

    BAB V. PENUTUP.............................................................................................

    A. Kesimpulan.......................................

    B. Saran.........................................................................

    DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................

    LAMPIRAN........................................................................................................

    37

    37

    37

    38

    39

    39

    39

    40

    42

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xiv

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 1. Daun Jambu Mete ( Anacardium occidentale L.).............................

    Gambar 2. Bakteri Staphylococcus aureus.........................................................

    Gambar 3. Hasil Uji pH Salep Selama 4 Minggu...............................................

    Gambar 4. Hasil Uji Viskositas Selama 4 Minggu.............................................

    Gambar 5. Hasil Uji Daya Lekat Selama 4 Minggu...........................................

    Gambar 6. Hasil Uji Daya Sebar Selama 4 Minggu...........................................

    Gambar 7. Hasil Uji Daya Antibakteri Salep......................................................

    Halaman

    4

    8

    29

    30

    32

    33

    35

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xv

    DAFTAR TABEL

    Tabel I. Tabel Formula..................................................................................

    Tabel II. Hasil Uji Organoleptis Ekstrak daun Jambu Mete...........................

    Tabel III. Homogenitas salep selama empat minggu.......

    Tabel IV. Hasil Uji Organoleptis Salep............................................................

    Tabel V. Hasil Pengamatan Uji Iritasi............................................................

    Halaman

    18

    27

    27

    28

    34

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xvi

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1. Hasil Determinasi Tanaman...........................................................

    Lampiran 2. Perhitungan Randemen Ekstrak......................................................

    Lampiran 3. Diagram Alir Cara Kerja................................................................

    Lampiran 4. Gambar Salep Ekstrak Daun Jambu Mete......................................

    Lampiran 5. Gambar Zona Hambat Salep...........................................................

    Lampiran 6. Gambar Hasil Uji Iritasi.................................................................

    Lampiran 7. Hasil Uji Homogenitas Salep.........................................................

    Lampiran 8. Hasil Uji Organoleptis Salep..........................................................

    Lampiran 9. Hasil Uji pH....................................................................................

    Lampiran 10. Hasil Uji Viskositas Salep............................................................

    Lampiran 11. Hasil Uji Daya Lekat Salep..........................................................

    Lampiran 12. Hasil Uji Daya Sebar Salep..........................................................

    Lampiran 13. Hasil Pengamatan Uji Iritasi.........................................................

    Lampiran 14. Hasil Uji Antibakteri Salep...........................................................

    Lampiran 15. Analisa Statistik Uji pH................................................................

    Lampiran 16. Analisa Statistik Uji Viskositas....................................................

    Lampiran 17. Analisa Statistik Uji Daya Lekat..................................................

    Lampiran 18. Analisa Statistik Uji Daya Sebar..................................................

    Lampiran 19. Analisa Statistik Uji Daya Antibakteri.........................................

    Halaman

    42

    43

    44

    45

    46

    47

    48

    49

    50

    51

    52

    53

    54

    55

    56

    59

    62

    65

    68

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan di masyarakat yang tidak

    pernah dapat diatasi secara tuntas dan masih menjadi penyakit utama penyebab

    kematian di dunia termasuk Indonesia (Priyanto, 2009). Penyakit ini dapat

    disebabkan oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, dan

    jamur (Jawetz et al., 2005).

    Bakteri yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia salah satunya

    adalah Staphylococcus aureus (S. aureus) yang tergolong dalam bakteri gram

    positif. Bakteri S. aureus dapat menyebabkan penyakit seperti infeksi pada folikel

    rambut, kelenjar keringat, bisul, infeksi pada luka, meningitis, endokarditis,

    pneumonia, pyelonephritis, dan osteomyelitis (Entjang, 2003).

    Pengobatan infeksi dengan obat-obatan dari zat kimia tidak selalu efektif,

    misalnya pengobatan infeksi dengan menggunakan antibiotik. Beberapa antibiotik

    tidak lagi efektif untuk terapi infeksi karena terjadinya resistensi kuman, selain itu

    juga dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, diperlukan suatu

    terobosan baru untuk mengatasi masalah infeksi tanpa antibiotik.

    Indonesia kaya akan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dibidang

    kesehatan, terutama tanaman berkhasiat obat yang dapat digunakan sebagai

    pengobatan tradisional. Salah satu contohnya adalah jambu mete ( Anacardium

    occidentale L).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    2

    Berdasarkan penelitian yang dilakuan Ayepola dan Ishola, 2009, diketahui

    bahwa daun jambu mete memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri

    Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakteri ekstrak metanol daun jambu mete

    mempunyai daya hambat 16mm dengan dosis 32mg/ml. Berdasarkan penelitian

    adanya aktivitas tersebut maka daun jambu mete dapat digunakan sebagai

    alternatif pengobatan infeksi yang disebabkan bakteri S. aureus. Sediaan yang

    akan digunakan dalam penelitian untuk mengatasi infeksi oleh bakteri S. aureus

    adalah sediaan topikal.

    Salep ekstrak daun jambu mete diharapkan dapat digunakan masyarakat

    sebagai alternatif pengobatan untuk mengatasi infeksi dengan terapi lokal. Karena

    itu pemilihan basis salep yang tepat perlu diperhatikan untuk mengetahui basis

    salep yang cocok dan aman digunakan sebagai basis untuk ekstrak daun jambu

    mete dan memiliki daya hambat paling besar terhadap bakteri S. aureus.

    B. Perumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan suatu permasalahan

    yaitu:

    1. Apakah perbedaan tipe basis berpengaruh terhadap sifat fisik dan kimia salep

    ekstrak daun jambu mete ?

    2. Bagaimana kemampuan daya antibakteri dari ketiga formula salep ekstrak

    daun jambu mete terhadap bakteri Staphylococcus aureus ?

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    3

    C. Tujuan Penelitian

    Tujuan dari penelitian ini antara lain:

    1. Mengetahui pengaruh perbedaan tipe basis terhadap sifat fisik dan kimia

    salep ekstrak daun jambu mete.

    2. Mengetahui kemampuan daya antibakteri ketiga formula salep ekstrak

    daun jambu mete terhadap bakteri Staphylococcus aureus ?

    D. Manfaat Penelitiaan

    Manfaat dari penelitian ini antara lain :

    1. Salep dari ekstrak daun jambu mete sebagai antibakteri yang memenuhi syarat

    uji sifat fisik dan kimia.

    2. Meningkatkan daya guna daun jambu mete dalam bentuk sediaan farmasi

    sehingga meningkatkan nilai ekonominya.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    4

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Tinjauan Pustaka

    1. Daun Jambu Mete

    Gambar 1. Daun Jambu Mete ( Anacardium occidentale L. )

    Klasifikasi Jambu mete ( Anacardium occidentale L. )

    Kingdom : Plantae

    Divisi : Magnoliophyta

    Kelas : Magnoliopsida

    Ordo : Sapindales

    Family : Anacardiaceae

    Genus : Anacardium

    Spesies : Anacardium occidentale L.( Duke,2001)

    Jambu mete, Anacardium occidentale L. (Keluarga Anacardiaceae), adalah

    pohon multiguna dari daerah tropis. yang mencapai ketinggian sekitar 15m.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    5

    Mereka tumbuh di tanah yang relatif kering di alam tetapi dalam budidaya tumbuh

    baik di hutan hujan tropis. Daun bertangkai pendek dan berbentuk lonjong (bulat

    telur) sungsang sampai bundar telur sungsang-jorong dengan tepian berlekuk-

    lekuk, dan guratan rangka daunnya terlihat jelas bulat telur terbalik, kebanyakan

    dengan pangkal runcing dan ujung membulat, melekuk ke dalam, helaian daun

    tunggal,warna hijau kekuningan sampai hijau tua kecoklatan, panjang 4 cm

    sampai 22 cm, lebar 2 cm sampai 15 cm, ujung daun membundar (rotundatus)

    seperti pada ujung yang tumpul tapi tidak terbentuk sudut sama sekali hingga

    ujung daun merupakan suatu busur, tumpul dengan lekukan kecil di tengah,

    pangkal daun runcing (acutus) yakni jika kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang

    sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemuannya pada puncak daun

    membentuk suatu sudut lancip (kurang dari 90), pinggir daun rata (truncatus),

    panjang tangkai daun sampai 3 cm, tulang daun menyirip (penninervis)

    mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan

    terusan dari tangkai daun, permukaan atas dan bawah daun licin (laevis),tidak

    berambut. Daun sederhana, bergantian, tebal dan kaku, panjang 6-24 cm, lebar 4-

    15 cm, hijau mengkilap (Sampath,2009).

    Menurut Duke (2001), kulit kayu dan daun A. occidentale digunakan untuk

    pengobatan; minyak biji atau getah digunakan untuk aplikasi industri dalam

    industri plastik dan kadar fenol digunakan sebagai resin; kacang memiliki daya

    tarik internasional dan nilai pasar sebagai sumber makanan, terutama dalam

    industri minuman (Agedah dkk,2010).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    6

    Ekstrak dari daun dan kulit batang Anacardium occidentale disaring untuk

    phytochemically dan mengetahui keberadaan metabolit sekunder untuk aktivitas in

    vitro antibakteri. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan adanya alkaloid dan

    tanin (Mustapha dan Hafsat,2007). Ekstrak metanol daun dan ekstrak metanol

    kulit batang diuji terhadap Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus,

    Bacillus subtilis, Salmonella typhi, Candida albicans dan Escherichia coli dengan

    metode pengenceran agar. Ekstrak metanol daun memiliki aktivitas yang lebih

    tinggi dari ekstrak air. Ekstrak daun menunjukkan aktivitas lebih besar dari

    ekstrak kulit batang (Ayepola dan Ishola, 2009).

    2. Ekstraksi

    Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari

    simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya

    matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk( Anonim,

    1979).

    Ekstraksi yaitu penarikan zat yang diinginkan dari bahan obat dengan

    menggunakan pelarut yang dipilih disesuaikan dengan zat yang akan dilarutkan.

    Bahan mentah obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan tidak perlu

    diproses lebih lanjut kecuali dikumpulkan dan dikeringkan, karena tiap bahan

    mentah obat berisi sejumlah unsur yang dapat larut dalam pelarut tertentu. Proses

    ekstraksi adalah dengan mengumpulkan zat aktif dari bahan mentah obat dan

    mengeluarkannya dari bahan-bahan sampingan yang tidak diperlukan(Ansel, 1989

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    7

    3. Metode ekstraksi

    Ada beberapa metode yang dipakai untuk ekstraksi yaitu metode maserasi,

    perkolasi, dan soxhletasi untuk mengekstraksi atau penyari bahan. Metode

    ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat,

    daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam

    memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati sempurna dari obat

    (Ansel,1989).

    4. Sokletasi

    Tekhnik ekstraksi ini dilakukan dengan menggunakan alat sokhlet ( soxhlet

    extractor) dan merupakan metode ektraksi panas, Penggunaan alat ini dapat

    mengekstrak secara kontinu sehingga dapat menghemat pelarut yang digunakan

    dan dapat melarutkan senyawa yang lebih banyak. Cara kerja alat ini yaitu dengan

    menggunakan pelarut, lalu uap pelarut yang naik kebagian atas sokhlet yang akan

    didinginkan oleh pendingin sehingga pelarut akan mengembun kembali dan

    mengalir kebawah membasahi baan. Setelah pelarut mencapai ketinggian tertentu,

    maka pelarut yang telah mengandung zat terlarut( senyawa-senyawa kimia dari

    bahan) akan turun kembali kelabu awal. Proses ini berlangsung secara terus

    menerus sehingga bahan akan terendam secara kontinu.

    5. Cairan penyari

    Sistem pelarut yang digunakan harus dipilih berdasarkan kemampuannya

    dalam melarutkan jumlah yang maksimum dari zat aktif dan seminimum mungkin

    bagi unsur yang tidak diinginkan. Pemilihan cairan penyari harus

    mempertimbangkan banyak faktor lain : murah dan mudah diperoleh, stabil secara

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    8

    fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar,

    selektif, tidak mempengaruhi zat yang berkhasiat, diperbolehkan oleh peraturan.

    Pelarut yangdigunakan sebagai cairan penyari antara lain : air, eter atau campuran

    etanol-air ( Anonim, 1979).

    6. Staphylococcus aureus

    Gambar 2. Bakteri Staphylococcus aureus

    Menurut breed(1957), kedudukan bakteri Staphylococcus aureus adalah

    sebagai berikut :

    Divisio : Protophyta

    Classis : Schzomycetes

    Ordo : Eubakteriales

    Familia : Micrococcaceae

    Genus : Staphylococcus

    Spesies : Staphylococcus aureus

    Staphylococcus merupakan bakteri gram positif yang berbentuk bulat,

    diameter 0,5-1,5 , dan tersusun dalam kelompok tidak teratur. Dinding selnya

    mengandung dua komponen utama yaitu peptidoglikan dan asam telkoat. Bakteri

    ini mengalami metabolisme aerob dan anaerob. Staphylococcus biasanya peka

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    9

    terhadap antibiotik beta-laktam dan makrolida. Bakteri ini ditemukan terutama

    pada kulit, kelenjar kulit, dan selaput lendir ( Bonang dan Koeswardono,1982)

    Infeksi oleh Staphylococcus dapat menimbulkan penyakit pada manusia.

    Setiap jaringan tubuh dapat terinfeksi dan menyebabkan timbulnya penyakit

    dengan tanda-tanda yaitu peradangan, nekrosis, dan pembentukan abses (Warsa,

    1994).

    Bakteri ini masuk ke tubuh dapat melalui folikel rambut, muara kelenjar

    keringat dan luka-luka kecil. Staphylococcus mempunyai sifat menghemolisa sel

    darah merah, menghasilkan koagulasi dan membentuk pigmen. Infeksi yang

    ditimbulkan bakteri ini dapat meluas kejaringan sekitarnya melalui kelenjar limfe

    dan darah ( Suryono, 1995).

    7. Salep

    Salep adalah sediaan setengah padat yang ditujukan untuk pemakaian

    topikal pada kulit atau selaput lendir ( Anonim, 1995). Menurut ansel (1989),

    secara farmasetik, salep adalah sediaan setengah padat yang obatnya terdapat

    dalam dasar salep yang berbentuk setengah padat, baik yang bersifat hidrofil

    maupun hidrofob.

    Salep pada umumnya berlaku untuk terapi lokal dan diharapkan dapat

    berpenetrasi kedalam lapisan kulit paling atas untuk memberikan efek

    penyembuhan. Salep tidak boleh berbau tengik dan harus mudah dioleskan

    sebagai obat luar ( Anief,1987).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    10

    8. Basis

    Pemilihan basis salep tergantung pada khasiat yang diinginkan, sifat bahan

    yang dicampurkan, stabilitas dan ketahanan sediaan serta beberapa hal harus

    menggunakan basis salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang

    diinginkan, sebagai contoh obat yang cepar terhidrolisis, lebih stabil dalam basis

    salep hidrokarbon daripada basis salep yang mengandung air ( Anonim, 1995).

    Basis salep harus mempunyai sifat-sifat, antara lain secara terapi netral dan

    tidak toksik, secara fisiologis tidak meragukan atau dapat dicernakan, tidak ada

    mikroorganisme, stabil secara fisika, kimia dan mikrobiologi, serta pengaruhnya

    terhadap obat harus diketahui ( Voigt,1994).

    Menurut Ansel (1989) basis salep dapat digolongkan sebagai berikut :

    a. Basis salep hidrokarbon.

    Basis salep ini dikenal sebagai basis salep berlemak antara lain vaselin,

    minyak mineral dan parafin. Basis salep hidrokarbon dipakai terutama untuk efek

    emolien (Voigt, 1994). Sebagai bahan asing untuk tubuh, basis ini dapat

    menimbulkan rangsangan pada kulit yang sensitif, sehingga pemakaiannya pada

    penyakit kulit akut dihindari. Lapisan tipis bahan hidrokarbon yang terbentuk

    tidak permeable dan tidak menutupi kulit serta menyebabkan terjadinya

    penyumbatan pori-pori. Sebagai basis lipofil pemakaiannya pada rambut kurang

    begitu cocok. Kerugian yang paling besar adalah tidak adanya pelepasan bahan

    obat atau hanya sedikit. Basis hidrokarbon baik jika digunakan untuk salep

    pelindung, sebagai sistem pembawa bahan obat dan sebagai basis untuk sistem

    yang mengandung emulgator serta berdaya serap tinggi terhadap air( Ansel,1989).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    11

    Basis salep hidrokarbon yang digunakan pada penelitian ini adalah :

    1) Vaselinum Album ( Vaselin putih)

    Vaselin putih adalah campuran hidrokarbon setengah padat yang

    telah diputihkan, diperoleh dari minyak mineral. Pemerian: massa

    lunak, lengket, bening, putih. Kelarutan: praktis tidak larut dalam air

    dan dalam etanol (95%) P. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik.

    Khasiat dan penggunaan sebagai zat tambahan(Anonim, 1979)

    2) Paraffinum Liquidum (Parafin Cair)

    Parafin cair adalah campuran hidrokarbon yang diperoleh dari

    minyak mineral, sebagai zat pemantap dapat ditambahkan tokoferol

    atau butilhidroksitoluen tidak lebih dari 10 bpi. Pemerian: cairan

    kental, transparan, tidak berfluoresensi, tidak berwarna, hampir tidak

    berbau, ampir tidak mempunyai rasa. Kelarutan: praktis tidak larut

    dalam air dan etanol (95%) P (Anonim,1979).

    b. Basis salep absorbsi

    Basis salep ini dapat dibagi dalam dua kelompok, pertama basis salep yang

    dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak yang dapat

    bercampur dengan air ( Anonim, 1995). Basis salep ini bermanfaat sebagai

    emolien dan dalam farmasi digunakan untuk pencampuran fase air kedalam fase

    minyak ( Ansel,1989 ). Basis salep absorpsi dapat sebagai lapisan penutup dan

    melunakkan kulit. Basis ini dapat menjadi alergi, mudah menjadi tengik dan

    baunya kurang menyenangkan. Basis salep absorbsi juga tidak mudah dihilangkan

    dari kulit dengan pencucian air( Ansel,1989).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    12

    Basis serap(adsorpsi) yang digunakan pada penelitian ini adalah :

    1) Lanolin

    a) 75% Adeps Lanae (Lemak bulu domba)

    Lemak bulu domba adalah zat serupa lemak yang dimurnikan,

    diperoleh dari bulu domba Ovis aries L. mengandung air tidak lebih

    dari 0,25%. Pemerian: zat serupa lemak, liat, lekat; kuning muda atau

    kuning pucat, agak tembus cahaya, bau lemah dan khas. Kelarutan

    praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%) P

    (Anonim, 1979).

    b) 25% Aqua Destilata (Air suling)

    Air suling dibuat dengan menyuling air yang dapat diminum.

    Pemerian: cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai

    rasa(Anonim, 1979).

    2) Unguentum simplex

    a) 30% Cera Flava (Malam kuning)

    Malam kuning adalah malam yang diperoleh dari sarang Apis

    mellifera L atau spesies Apis lainnya. Mengandung lebih kurang 70%

    ester terutama miristil palmitat. Disamping itu mengandung juga asam

    bebas, hidrokarbon, ester kolesterol dan zat warna. Pemerian : Zat

    padat, coklat kekuningan, bau enak seperti madu, agak rapuh jika

    dingin, menjadi elastik jika angat (Anonim, 1979).

    b) 70% Oleum sesami (Minyak wijen)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    13

    Minyak wijen adalah minyak lemak yang diperoleh dengan

    pemerasan biji Sesamun indicum L. Pemerian: cairan, kuning pucat, bau

    lemah, rasa tawar(Anonim, 1979).

    d. Basis salep larut dalam air

    Basis salep ini dibuat dari campuran polietilen glikol dengan bobot molekul

    tinggi dan polietilen glikol dengan bobot molekul rendah ( Lachman et al, 1994)

    Basis larut air mudah dibersihkan, karena hanya mengandung komponen yang

    larut dalam air. Basis ini sangat mudah melunak dengan penambahan air,

    sehingga lebih cocok dicampurkan dengan bahan padat ( Ansel, 1989 ).

    Keuntungan dari basis salep tipe ini antara lain tidak merangsang kulit berambut.

    Basis salep larut air mempunyai daya hisap osmotik yang tinggi dan dapat

    menyebabkan iritasi pada jaringan yang trauma ( Voigt,1994 ).

    1) PEG 400

    Pemerian cairan kental jernih, tidak berwarna atau praktis tidak

    berwarna, bau khas lemah, agak higroskopis. Kelarutan: larut dalam air,

    dalam etanol (95%), dalam aseton P, praktis tidak larut dalam eter p.

    2) PEG 4000

    Pemerian serbuk licin putih, potongan putih kuning gading, praktis

    tidak berbau: tidak beras. Kelarutan: Mudah larut dalam etanol (95%) p dan

    dalam kloroform P, praktis tidak larut dalam eter P.

    9. Antibakteri dan Uji Antibakteri

    Antibakteri adalah obat pembasmi bakteri khususnya bakteri yang

    merugikan manusia. Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada bakteri yang bersifat

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    14

    menghambat pertumbuan bakteri dan ada yang bersifat membunuh bakteri. Kadar

    minimal yang diperlukan untuk menghambat atau membunuh pertumbuhan

    bakteri masing-masing dikenal sebagai kadar hambat minimal (KBM).

    Antibakteri tertentu aktivitasnya dapat menjadi bakterisida bila kadar

    antibakterinya melebihi KHM ( Setyabudi dan Gani, 1995).

    a. Uji Aktivitas Antibakteri Secara In vitro

    Aktivitas antibakteri diukur in vitro untuk menentukan potensi zat

    antibakteri dalam larutan, konsentrasi dalam cairan tubuh dan jaringan, dan

    kepekaan mikroorganisme terhadap obat pada konsentrasi tertentu. Faktor-faktor

    yang mempengaruhi aktivitas antibakteri in vitro, yang berikut harus diperhatikan

    karena secara nyata mempengaruhi hasil-hasil tes yaitu pH lingkungan,

    komponen-komponen pembenihan, stabilitas obat, besarnya inokulum, masa

    pengeraman dan aktivitas metabolik mikroorganisme ( Jawetz et al, 2005)

    b. Difusi

    Metode difusi digunakan untuk menentukan apakah suatu bakteri uji bersifat

    peka, resisten atau intermediet terhadap suatu agen antibakteri. Agen antibakteri

    yang diujikan akan berdifusi melalui media agar ( Murray et al, 1995). Pada

    metode ini dikenal beberapa cara, yaitu cara Kirby bauer (disk diffusion), cara

    sumuran, dan cara pour plate.

    Dalam pembacaan hasil pengukuran daya antibakteri dengan metode difusi

    dikenal dua macam zona, yaitu :

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    15

    a. Zona radikal adalah suatu daera disekitar disk dimana sama sekali tidak

    ditemukan pertumbuhan bakteri. Potensi antibakteri tersebut diukur

    dengan mengukur diameter dari zona radikal tersebut.

    b. Zona irradikal adalah suatu daerah disekitar disk dimana pertumbuhan

    bakteri dihambat oleh antibakteri tetapi tidak dimatikan dan dalam zona

    ini akan terlihat pertumbuhan yang kurang subur dibandingkan dengan

    daerah diluar pengaruh antibakteri tersebut ( Jawetz et al, 2001).

    B. Kerangka Pemikiran

    Infeksi adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur, virus dan

    parasit. Untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri dibutuhkan suatu

    antibakteri. Daun jambu mete telah terbukti menghambat bakteri Staphylococcus

    aureus dan dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengobati infeksi pada kulit.

    Berdasarkan penelitian tersebut dilakukan pengembangan terhadap ekstrak

    metanol daun jambu mete yang memiliki aktivitas antibakteri menjadi sediaan

    topikal. Untuk memudahkan penggunaan ekstrak daun jambu mete sebagai

    alternatif dalam pengobatan infeksi maka diperlukan suatu sediaan yang dapat

    memudahkan penggunaan ekstrak daun jambu mete secara topikal. Sediaan salep

    merupakan salah satu sediaan yang cocok untuk mengatasi infeksi secara topikal.

    Dibuat salep dengan tipe variasi basis salep yang berbeda. Dengan

    memvariasikan tipe basis diharapkan akan didapatkan tipe basis salep yang cocok

    dan dapat membantu memperbaiki sifat fisik dan kimia salep ekstrak daun jambu

    mete sehingga dapat memenuhi standar persyaratan salep yang baik. Untuk

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    16

    mengetahui daya antibakteri dari ketiga tipe basis salep dilakukan uji daya

    antibakteri sehingga dapat diketahui basis salep yang mempunyai zona hambat

    paling besar terhadap bakteri S. aureus. Variasi tipe basis akan memberikan

    perbedaan pada hasil uji daya antibakteri, hal ini disebabkan FI dan FII

    merupakan basis yang tidak larut air karena mengandung bahan minyak dan

    lemak, sedangkan basis pada FIII merupakan basis yang larut air. Sedangkan

    media yang digunakan pada uji daya antibakteri merupakan media NA (Nutrient

    Agar) yang menggunakan pelarut air sehingga dimungkinkan FIII memberikan

    zona hambat paling besar karena lebih mudah mendistribusikan zat aktif ke media

    uji.

    C. Hipotesis

    1. Perbedaan tipe basis pada salep ekstrak daun jambu mete diduga

    mempengaruhi sifat fisik dan kimia salep.

    2. Terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil uji daya antibakteri ketiga

    formula salep ekstrak daun jambu mete terhadap bakteri Staphylococcus

    aureus.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    17

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Metode Penelitian

    Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimental laboratorium

    untuk memperoleh data hasil. Penelitian dilakukan dalam 3 tahap, yaitu tahap

    pertama pembuatan salep ekstrak daun jambu mete (Anacardium occidentale L.)

    dengan basis salep hidrokarbon, tahap kedua adalah pembuatan salep ekstrak daun

    jambu mete (Anacardium occidentale L.) dengan basis salep serap, dan tahap

    ketiga pembuatan salep ekstrak daun jambu mete (Anacardium occidentale L.)

    dengan basis salep larut air. Selanjutnya dilakukan uji sifat fisik dan kimia salep

    yang meliputi Uji homogenitas, uji organoleptis, uji pH, Uji viskositas, uji

    kelengketan, uji iritasi, dan uji daya sebar. Selain itu juga dilakukan uji antibakteri

    terhadap ketiga formula salep ekstrak daun jambu mete dengan menggunakan

    metode difusi dengan media NA ( Nutrient Agar).

    B. Waktu dan Tempat Penelitian

    Waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada Mei 2012 Juli 2012 di

    Laboratorium Farmasetika dan Laboratorium Teknologi Farmasi D3 Farmasi

    Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret.

    C. Alat dan Bahan

    1. Alat yang digunakan

    Alat yang digunakan adalah Soxhlet, Evaporator, Tabung reaksi (pyrex), gelas

    ukur 10ml (pyrex) , Beaker glass 250ml (Pyrex), Oven, cawan porselen,

    waterbath, mortir dan stemper, viskometer Rion VT-04, timbangan digital, kaca

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    18

    arloji, alat uji daya sebar, anak timbang, pH meter(Cyberscan pH 110), cawan

    petri, tabung reaksi, autoklaf, gelas ukur, erlenmeyer, inkubator, dan alat

    pendukung lain.

    2. Bahan yang digunakan

    Bahan yang digunakan adalah daun jambu mete yang diperoleh dari Natar

    (Lampung Selatan), aquadest, metanol, vaseline album, parafin liq, adeps lanae,

    cera flava, minyak wijen, PEG 400, PEG 4000, biakan bakteri S. aureus, Nipagin,

    media Nutrient Agar, Nutrient Broth.

    D. Prosedur Penelitian

    1. Formula Salep

    Formula salep ekstrak daun jambu mete ( Anacardium occidentale L.)

    yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel I.

    Tabel I. Tabel Formula No. Bahan Formula 1 Formula 2 Formula 3

    1. Ekstrak daun jambu mete 3,2 gram 3,2 gram 3,2 gram

    2. Vaselin Album 86,98 gram - -

    3. Parafin Liq. 9,67 gram - -

    4. Adeps lanae - 36,25 gram -

    5. Aquadest - 12,08 gram -

    6. Cera Flava - 14,49 gram -

    7. Minyak wijen - 33,83 gram -

    8. PEG 400 - - 57,99 gram

    9. PEG 4000 - - 38,66 gram

    10. Nipagin 0,15 0,15 0,15

    Jumlah 100 gram 100 gram 100gram

    Keterangan :

    Formula 1 : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis salep hidrokarbon

    Formula 2 : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis salep serap

    Formula 3 : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis salep larut air

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    19

    2. Pembuatan ekstrak daun jambu mete

    Daun jambu mete yang telah dikeringkan dengan sinar matahari tak

    langsung( ditutup kain hitam) diekstraksi dengan menggunakan metode

    sokhletasi. Pelarut yang digunakan untuk mengekstraksi adalah metanol.

    Setelah disokhletasi selanjutnya ekstrak daun jambu mete yang didapatkan,

    dikeringkan dengan menggunakan rotaryevaporator hingga didapatkan ekstrak

    kental daun jambu mete.

    a) Perhitungan Rendemen Ekstrak

    Perhitungan randemen ekstrak daun jambu mete :

    Berat serbuk daun jambu mete = a gram

    Berat ekstrak daun jambu mete = b gram

    % Kadar ekstrak daun jambu mete = b x 100 %

    a

    b) Standarisasi ekstrak

    Standarisasi ekstrak daun jambu mete meliputi:

    (1) Pemeriksaan organoleptis

    Pemeriksaan organoleptis dilakukan dengan cara

    mendiskripsikan bentuk, warna, bau, dan rasa ekstrak.

    (2) Uji daya lekat

    Object glass ditandai seluas 2,5 cm x 2,5 cm, kemudian dicari

    titik tengahnya. Kurang lebih 0,5 g ekstrak diletakkan ditengah luasan

    tersebut, ditutup dengan object glass lain kemudian diberi beban 500 g

    selam 5 menit. Kedua objek glass yang telah melekat satu sama lain

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    20

    dipasang pada alat uji dengan beban 80 g. Waktu yang diperoleh

    dicatat sampai terpisahnya kedua object glass tersebut (Anonim,

    2000).

    3. Pembuatan salep ekstrak daun jambu mete

    (1) Formula 1 ( Basis salep hidrokarbon )

    Vaselin album ditambahkan dengan parafin liquid yang sebelumnya

    ditambahkan nipagin dan diaduk hingga nipagin larut, kemudian

    dipanaskan diwaterbath. Campuran tersebut diaduk di mortir hangat hingga

    campuran homogen dan terbentuk konsistensi salep, ditunggu hingga

    campuran dingin kemudian ditambahkan ekstrak daun jambu mete dan

    diaduk hingga keseluruhan bahan homogen. Setelah itu dimasukkan

    kedalam pot salep. Salep dilakukan uji sifat fisik dan kimia tiap minggu

    selama empat minggu.

    (2) Formula 2 ( Basis Serap)

    Pembuatan lanolin dengan mencampurkan 75 bagian adeps lanae

    dengan ditambahkan air 25 bagian yang sebelumnya digunakan untuk

    melarutkan nipagin dan diaduk hingga homogen. Pembuatan unguentum

    simplex dibuat dengan mencampurkan cera flava 30 bagian dengan minyak

    wijen 70 bagian kemudian dilebur diatas waterbath. Unguentum simplex

    yang telah dibuat dicampurkan dengan lanolin didalam mortir dan diaduk

    sampai homogen hingga terbentuk massa salep. Setelah dingin,

    ditambahkan ekstrak daun jambu mete dan diaduk hingga semua campuran

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    21

    homogen. Salep dimasukkan kedalam pot salep dan dilakukan uji sifat fisik

    dan kimia salep tiap minggu selama empat minggu.

    (3) Formula 3 ( Basis larut air )

    PEG 400 dan PEG 4000 dilelehkan diatas waterbath ditambahkan

    nipagin diaduk hingga larut, setelah leleh dan tercampur homogen

    campuran PEG dimasukkan dalam mortir hangat diaduk hingga mortir

    dingin dan terbentuk massa salep. Ditambahkan ekstrak daun jambu mete

    dan diaduk hingga homogen, kemudian dimasukkan kedalam pot salep.

    Salep dilakukan uji sifat fisik dan kimia yang dilakukan tiap minggu selama

    empat minggu

    4. Pemeriksaan kestabilan sediaan salep

    Sediaan salep diamati secara organoleptis untuk mengetahui homogenitas,

    warna dan bau setiap minggu selama empat minggu pada suhu kamar.

    (1) Uji Organoleptis

    Pemeriksaan organoleptis dilakukan dengan cara mendiskripsikan

    bentuk, warna, bau, dan bentuk salep. Uji organoleptis dilakukan setiap

    minggu selama empat minggu ( Anonim, 1979).

    (2) Uji homogenitas

    Sediaan salep diuji homogenitasnya dengan mengoleskan salep

    pada sekeping kaca ataupun bahan transparan yang cocok. Diamati

    sediaan salep menunjukkan susunan yang homogen. Cara diaatas diulangi

    3 kali ( Anonim, 1974).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    22

    (3) Uji daya sebar salep

    Sediaan salep ditimbang 0,5 gram dan diletakkan ditengah alat

    (kaca bulat ). Kemudian ditimbang kaca yang lain, setelah itu diletakkan

    diatas massa salep dan dibiarkan selama 1 menit. Kemudian diukur

    berapa diameter salep yang menyebar ( dengan mengambil panjang

    diameter dari beberapa sisi ). Ditambahkan 5 gram beban tambahan,

    diamkan selama 1 menit dan dicatat diameter salep yang menyebar

    seperti sebelumnya. Diteruskan dengan penambahan beban tiap kali 5

    gram hingga salep tidak menyebar dan dicatat diameter salep. Uji ini

    diulang masing-masing 3 kali untuk salep yang diperiksa ( Voight, 1994).

    (4) Uji daya lekat salep

    0,5 gram salep diletakkan diatas gelas objek. Diletakkan, gelas

    objek lain diatas salep tersebut Kemudian ditekan dengan beban 500

    gram selama 5 menit. Kemudian dilepaskan beban seberat 80 gram dan

    dicatat waktunya hingga kedua gelas objek terlepas. Dilakukan tes untuk

    formula salep masing-masing 3 kali percobaan ( Anonim, 2000).

    (5) Uji viskositas

    Uji viskositas dilakukan dengan menggunakan alat viskotester.

    Viskotester dipasang pada klemnya dengan arah horizontal atau tegak

    lurus dengan arah klem. Rotor kemudian dipasang viskotester dengan

    menguncinya berlawanan arah dengan jarum jam. Mangkuk diisi sampel

    salep yang akan diuji, rotor ditempatkan tepat berada ditengah-tengah

    yang berisi salep, kemudian alat dihidupkan dan ketika rotor mulai

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    23

    berputar jarum penunjuk viskositas secara otomatis akan bergerak menuju

    kekanan kemudian setelah stabil, viskositas dibaca pada skala dari rotor

    yang digunakan. Cara diaatas diulangi 3 x percobaan tiap formula (Martin

    et all, 1993).

    (6) Pemeriksaan pH

    Sebanyak 0,5 gram sediaan salep dilarutkan dalam 10 ml akuades.

    Diukur nilai pH-nya menggunakan pH meter sampai menunjukkan nilai

    pH yang konstan. Pemeriksaan pH dilakukan setiap minggu selama empat

    minggu pada suhu kamar ( Anonim, 2004).

    (7) Uji iritasi

    Uji iritasi dilakukan dengan mengoleskan salep kekulit tangan

    sukarelawan. Dibiarkan selama 12 jam. Pengujian keamanan sediaan

    salep yang dibuat dilakukan terhadap 20 orang sukarelawan dengan uji

    tempel terbuka( patch test ), yakni : sejumlah sediaan uji dioleskan pada

    punggung tangan kanan sukarelawan dan dibiarkan terbuka selama 12

    jam. Punggung tangan kiri diolesi basis salep. Selanjutnya perubahan

    warna yang terjadi pada punggung tangan kanan masing-masing

    sukarelawan diamati. Jika tidak terjadi reaksi ( tidak merah dan tidak

    bengkak ) diberi tanda (-), jika terjadi reaksi (kulit memerah) diberi

    tanda(+), selanjutnya jika terjadi pembengkakan diberi tanda (++). Pada

    punggung tangan dilihat apakah tampak adanya iritasi ( kemerahan) pada

    kulit yang dioleskan salep tersebut dibandingkan dengan kontrol yaitu

    punggung tangan kiri( Susanti, 2007).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    24

    (8) Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun jambu mete

    I. Pembuatan suspensi bakteri S. Aureus

    Media NB ( Nutrient Broth) sebanyak 0,4 gram didihkan

    kedalam 50 ml air. Setelah itu NB dan alat-alat gelas yang akan

    digunakan distrelisasi dengan autoklaf. Setelah disterilisasi ditunggu

    hingga media NB dingin. Setelah media dingin, dimasukkan satu ose

    bakteri biakan kedalam media NB sebanyak 20 ml. Agar

    pertumbuhan bakteri merata suspensi bakteri difortex terlebih dahulu

    selama 24 jam. Suspensi bakteri pada media distandarisasi dan

    diamati absorbansinya hingga 0.5 pada panjang gelombang 580nm.

    II. Pembuatan media agar (NA)

    Nutrient Agar ( NA) ditimbang sebanyak 2 gram kemudian

    dilarutkan dalam 100 ml air aquades, dipanaskan, distirer diatas

    hotplate sampai mendidih sehingga terbentuk larutan agar yang

    berwarna kuning bening. NA yang telah dididihkan, cawan petri

    yang telah dibungkus kertas dan alat-alat yang akan digunakan

    dalam uji antibakteri disterilisasi pada suhu 1210

    C selama 15 menit.

    Setelah itu 20 ml NA steril dan 100l suspensi bakteri dituang

    dalam cawan petri dan diputar membentuk angka delapan agar media

    dan bakteri tercampur rata, ditunggu hingga padat. Untuk uji

    antibakteri, bakteri yang telah ditumbuhkan dicetak dengan bor

    gabus ukuran diameter 6 mm, dibuat sebanyak 3 sumuran. Kemudian

    dimasukkan ketiga formula salep daun jambu mete kedalam masing-

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    25

    masing sumuran. Cawan kemudian diinkubasi didalam incubator

    dengan suhu 370C selama 18-24 jam. Kemudian dilakukan

    pengamatan zona hambat sampel terhadap pertumbuhan bakteri uji

    dilakukan dengan mengukur diameter zona bening disekitar sumuran

    yang merupakan diameter zona penghambat (Ayepola dan Ishola,

    2009)

    E. Analisa Hasil

    Penelitian yang berjudul Formulasi dan Uji Daya Antibakteri Salep

    Ekstrak Daun Jambu Mete ( Anacardium occidentale L.) Dengan Variasi Tipe

    Basis Salep menggunakan dua jenis analisa data, yaitu :

    a) Data yang diperoleh dari pengujian dibandingkan terhadap parameter

    dari Farmakope Indonesia dan pustaka lain.

    b) Pendekatan statistik

    Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Kolmogorov-Smirnov

    untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Untuk

    data yang terdistribusi normal dianalisis menggunakan oneway

    ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan uji t-LSD

    (Least Significant Difference) jika terdapat perbedaan yang bermakna

    antar variable.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    26

    BAB IV

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    A. Determinasi Tanaman

    Determinasi daun jambu mete (Anacardium occidentale L.) dilakukan di

    Laboratorium Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hasil dari

    determinasi menunjukkan bahwa bahan yang digunakan merupakan daun jambu

    mete (Anacardium occidentale L.) Hasil determinasi dapat dilihat pada lampiran

    1.

    B. Ekstraksi Daun Jambu Mete

    Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode Sokletasi dengan pelarut

    metanol. Sebanyak 60 gram serbuk kering daun jambu mete diekstraksi dengan

    menggunakan metanol 500 ml. Hasil ekstraksi kemudian dikeringkan dengan

    menggunakan rotaryevaporator dan didapatkan sebanyak 15,86 g ekstrak kental

    daun jambu mete. Perhitungan rendemen hasil ekstrak yang didapatkan yaitu

    26,43%. Perhitungan rendemen ekstrak daun jambu mete dapat dilihat pada

    lampiran 2.

    C. Hasil Uji Sifat Fisik Ekstrak

    1. Uji Organoleptis

    Pengujian organoleptis ekstrak daun jambu mete meliputi uji warna, rasa

    dan bau. Hasil uji organoleptis ekstrak dapat dilihat pada Tabel II.

    Tabel II. Hasil uji organoleptis ekstrak daun jambu mete No. Uji Hasil Uji

    1 Warna Hijau kehitaman

    2 Bau Khas daun jambu mete

    3 Rasa Pahit

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    27

    2. Uji daya lekat ekstrak

    Pengujian daya lekat ekstrak dilakukan untuk mengetahui kemampuan

    ekstrak pada saat menempel dikulit bersama dengan basis salep. Hasil uji daya

    lekat rata-rata 3 x percobaan pada ekstrak daun jambu mete adalah 4.4770.674

    (menit).

    D. Hasil Uji Sifat Fisik Dan Kimia Salep

    1. Homogenitas salep

    Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui homogenitas dari ketiga formula

    salep ekstrak daun jambu mete. Hasil uji homogenitas dari ketiga formula salep

    dapat dilihat pada Tabel III.

    Tabel III. Homogenitas salep ekstrak daun jambu mete selama 4 minggu No. Formula Hasil Uji

    1 Formula I Homogen

    2 Formula II Homogen

    3 Formula III Homogen

    Keterangan :

    Formula I : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis hidrokarbon

    Formula II : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis serap

    Formula III: Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis larut air

    Hasil pengujian menunjukkan masing-masing formula salep menunjukkan

    hasil salep yang homogen. Homogenitas ketiga formula dilihat selama masa

    penyimpanan empat minggu dan dilakukan pengujian setiap minggunya. Hasil

    pengujian homogenitas ketiga formula telah sesuai dengan persyaratan pada

    Famakope Indonesia tahun 1979 yaitu apabila salep dioleskan pada sekeping kaca

    atau bahan transparan lain yang cocok harus menunjukkan susunan yang homogen

    dilihat dengan tidak adanya partikel yang bergerombol dan salep menyebar secara

    merata. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa perbedaan tipe basis tidak

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    28

    mempengaruhi homogenitas salep ekstrak daun jambu mete. Hasil pengamatan uji

    homogenitas salep selama empat minggu dapat dilihat pada lampiran 7.

    2. Uji organoleptis salep

    Pengujian organoleptis salep ekstrak daun jambu mete meliputi uji

    warna,bau dan bentuk salep. Hasil uji organoleptis dapat dilihat pada Tabel IV.

    Tabel IV. Hasil uji organoleptis salep ekstrak daun jambu mete selama 4 minggu Uji Formula I Formula II Formula III

    Warna Hijau muda Hijau kekuningan Hijau tua

    Bau Khas daun jambu mete Khas daun jambu mete Khas daun jambu mete

    Bentuk Konsistensi lunak Konsistensi Lunak Konsistensi kental

    Keterangan :

    Formula I : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis hidrokarbon

    Formula II : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis serap

    Formula III : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis larut air

    Hasil pengujian menunjukkan adanya kestabilan warna, bau dan bentuk

    salep selama masa penyimpanan empat minggu pengujian. Dari hasil didapatkan,

    sediaan salep dengan basis hidrokarbon, basis serap dan larut air memiliki

    kestabilan yang baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan selama empat

    minggu ketiga formula tidak mengalami perubahan warna, bau serta bentuk salep.

    Dari pengujian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa perbedaan tipe basis

    salep yang digunakan pada formula salep ekstrak daun jambu mete tidak

    berpengaruh terhadap hasil uji organoleptis salep. Hasil pengamatan uji

    organoleptis selama empat minggu dapat dilihat pada lampiran 8.

    3. Uji pH

    Uji pH dilakukan untuk mengetahui apakah pH salep yang akan digunakan

    telah sesuai dengan pH kulit yaitu berada pada rentang pH 5,5 7 ( Troy et all,

    2005) sehingga tidak menyebabkan iritasi pada kulit. Hasil uji pH pada salep

    ekstrak daun jambu mete dapat dilihat pada Gambar 3.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    29

    Gambar 3. Hasil uji pH salep selama 4 minggu

    Keterangan :

    Formula I : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis hidrokarbon

    Formula II : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis serap

    Formula III : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis larut air

    Dari Gambar 3 dapat terlihat bahwa hasil pengamatan pH setiap formula

    sediaan salep mengalami perubahan selama masa penyimpanan empat minggu.

    Hal ini disebabkan karena perbedaan suhu dan kondisi penyimpanan pada waktu

    pengamatan. Akan tetapi nilai pH pada ketiga formula telah memenuhi syarat pH

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    30

    yang ditentukan yaitu berada pada rentang pH 5,5 7 sehingga dapat diambil

    kesimpulan ketiga formula salep ekstrak daun jambu mete memenuhi nilai pH

    yang aman untuk pemakaian dikulit dan tidak menimbulkan iritasi. Hasil uji pH

    selama empat minggu dapat dilihat pada lampiran 9.

    4. Uji viskositas salep

    Viskositas merupakan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir. Semakin

    besar viskositas maka akan semakin besar tahanan dari suatu senyawa obat untuk

    berdifusi keluar dari basisnya, sehingga pelepasan obat dari basisnya menjadi

    lambat dan sebaliknya.. Hasil pengamatan viskositas ketiga formula selama 4

    minggu pengujian dapat dilihat pada Gambar 4.

    Gambar 4. Hasil uji viskositas salep selam 4 minggu

    Hasil pengujian menunjukkan bahwa formula III mempunyai viskositas

    yang paling besar dibandingkan dengan Formula I dan II. Urutan viskositas dari

    yang paling besar adalah Formula III>Formula I>Formula II. Selain itu dapat

    dilihat nilai viskositas salep masing-masing formula mengalami penurunan setiap

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    31

    minggunya, hal ini dapat disebabkan suhu dan kondisi yang berbeda pada saat

    penyimpanan dan pengujian. Viskositas berhubungan erat dengan daya sebar atau

    kemampuan menyebar salep pada saat pemakaian dikulit. Semakin besar

    viskositas suatu salep maka kemampuan menyebar salep semakin kecil. Salep

    yang memiliki viskositas yang rendah akan mempermudah dalam pemakaian serta

    pengambilan dari wadah karena konsistensi salep lebih lunak.

    Pada basis salep serap memiliki nilai viskositas paling kecil, hal ini

    disebabkan karena basis yang digunakan adalah campuran lanolin dengan

    unguentum simplex yang memiliki konsistensi yang lebih lunak dibandingkan

    formula dengan basis hidrokarbon maupun basis larut air. Sedangkan hasil

    viskositas pada basis salep larut air memiliki nilai paling besar dikarenakan

    kombinasi PEG 4000 dan PEG 400 memiliki konsistensi yang besar sehingga

    membentuk massa yang lebih keras. Dari analisa pengujian data hasil penelitian

    dapat diambil kesimpulan yaitu perbedaan tipe basis salep yang digunakan dalam

    pembuatan salep ekstrak daun jambu mete mempengaruhi nilai uji viskositas.

    Hasil uji viskositas selama empat minggu dapat dilihat pada lampiran 10.

    5. Uji daya lekat salep

    Pengujian daya lekat salep dilakukan untuk mengetahui kemampuan salep

    pada saat menempel pada permukaan kulit. Semakin besar daya lekat salep maka

    absorpsi zat aktif obat akan semakin besar. Hal ini dikarenakan ikatan atau

    interaksi salep dengan kulit akan semakin lama, sehingga basis salep akan

    melepaskan zat aktif obat lebih optimal. Pengamatan uji daya lekat salep ekstrak

    daun jambu mete selama empat minggu dapat dilihat pada Gambar 5.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    32

    Gambar 5. Hasil uji daya lekat selama 4 minggu

    Keterangan :

    Formula I : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis hidrokarbon

    Formula II : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis serap

    Formula III : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis larut air

    Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat hasil daya lekat masing-masing formula

    mengalami perubahan setiap minggunya. Hal ini dapat disebabkan perbedaan

    suhu dan kondisi selama masa penyimpanan. Urutan hasil uji daya lekat formula

    dari yang paling besar adalah Formula III>Formula II>Formula I. Formula III

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    33

    memiliki daya lekat paling besar dibandingkan dengan Formula I dan Formula II.

    Penambahan PEG 4000 pada formula III meyebabkan semakin besar daya lekat

    salep, karena konsistensi PEG 4000 yang menyebabkan salep lebih padat. Hasil

    uji daya lekat salep selama empat minggu dapat dilihat pada lampiran 11.

    6. Uji daya sebar salep

    Uji daya sebar salep digunakan untuk mengetahui kemampuan

    menyebarnya salep pada permukaan kulit yang akan diobati. Sediaan salep

    diharapkan dapat menyebar dengan mudah ditempat pemberian tanpa

    menggunakan tekanan yang berarti. Hasil pengamatan daya sebar salep ekstrak

    daun jambu mete selama empat minggu dapat dilihat pada Gambar 6.

    Gambar 6. Hasil uji daya sebar salep selama 4 minggu

    Hasil pengamatan uji daya sebar menunjukkan diameter paling besar

    terdapat pada formula II, dan formula III memiliki diameter sebar paling kecil.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    34

    Hal ini berkaitan dengan hasil uji viskositas salep. Semakin rendah viskositas

    salep maka daya sebarnya akan semakin besar, sehingga kontak antara zat aktif

    dengan kulit juga akan semakin luas dan absorpsi obat kekulit akan semakin

    cepat.

    Dari hasil pengujian didapatkan perbedaan yang signifikan pada formula III

    dengan formula lainnya, hal ini disebabkan karena campuran basis PEG 400 dan

    PEG 4000 membentuk konsistensi salep yang agak keras, sehingga kemampuan

    menyebar salep lebih kecil dibandingkan formula lainnya. Hasil uji daya sebar

    salep selama empat minggu dapat dilihat pada lampiran 12.

    7. Uji iritasi

    Hasil pengamatan uji iritasi yang telah dilakukan pada 20 sukarelawan dapat

    dilihat pada Tabel V.

    Tabel V. Hasil pengamatan uji iritasi No. Formula Hasil uji

    1 Formula I -

    2 Formula II -

    3 Formula III -

    Keterangan :

    Formula I : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis hidrokarbon

    Formula II : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis serap

    Formula III : Salep ekstrak daun jambu mete dengan basis larut air

    Dari 20 sukarelawan yang dioleskan ketiga formula salep ekstrak daun jambu

    mete didapatkan hasil negatif atau tidak didapatkan adanya iritasi, warna merah

    pada kulit maupun pembengkakan pada tempat dioleskannya salep. Sehingga

    dapat disimpulkan ketiga formula salep ekstrak daun jambu mete aman untuk

    digunakan pada kulit untuk membantu mengobati infeksi ataupun sebagai

    antibakteri. Hasil uji iritasi terhadap 20 sukarelawan dapat dilihat pada lampiran

    13.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    35

    E. Hasil Uji Daya Antibakteri Salep

    Uji daya antibakteri salep dilakukan untuk mengetahui besarnya zona

    hambat dari masing-masing formula salep, sehingga dapat diketahui formula yang

    memiliki zona hambat terbesar pada bakteri S. aureus. Hasil pengamatan uji daya

    antibakteri salep ekstrak daun jambu mete dapat dilihat pada Gambar 3.

    Gambar 7. Hasil Uji Daya Antibakteri Salep

    Dari hasil pengujian daya antibakteri salep didapatkan zona hambat paling

    besar terdapat pada Formula III. Hal ini disebabkan karena basis yang digunakan

    pada formula III adalah basis larut air sehingga lebih mudah untuk

    mendistribusikan zat aktif pada media uji yaitu NA( Nutrient Agar). Sedangkan

    Formula II menghasilkan zona hambat paling kecil dikarenakan basis yang

    digunakan adalah basis yang mengandung bahan minyak dan lemak sehingga

    lebih sukar mendistribusikan zat aktif. Hasil uji daya antibakteri salep dapat

    dilihat pada lampiran 14.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    36

    F. Hasil Analisa Statistik Salep

    Hasil pengamatan analisa statistik setiap pengujian di uji dengan

    menggunakan uji Kolmogorov-smirnov untuk mengetahui apakah data

    terdistribusi secara normal. Hasil uji pada uji Kolmogorov-Smirnov didapatkan

    nilai signifikan setiap pengujian mempunyai nilai signifikan lebih besar dari 0,05

    sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal. Selanjutnya

    dilakukan pengujian Oneway ANOVA untuk mengetahui adanya pengaruh

    perbedaan tipe basis terhadap hasil pengujian sifat fisik dan kimia salep. Hasil

    perhitungan didapatkan nilai F hitung lebih besar dari F tabel, Hal tersebut

    menunjukkan adanya pengaruh perbedaan tipe basis terhadap nilai uji sifat fisik

    dan kimia salep. Untuk mengetahui lebih lanjut perbedaan antara masing-masing

    variabel dilakukan uji Post Hoc Test. Pada pengamatan terdapat tanda bintang(*)

    pada hasil, hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada masing-

    masing formula.

    1. Analisa Statistik Uji pH Salep

    Hasil analisa statistik uji pH menunjukkan data masing-masing

    formula terdistribusi normal. Berdasarkan uji Oneway ANOVA didapatkan

    nilai F hitung(5.699) lebih besar dari F tabel (4.26) sehingga dapat

    disimpulkan adanya pengaruh perbedaan tipe basis pada uji pH salep.

    Perbedaan yang bermakna terdapat pada Formula III. Hasil analisa statistik

    uji pH dapat dilihat pada lampiran 15.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    37

    2. Analisa Statistik Uji Viskositas Salep

    Hasil analisa statistik uji viskositas menunjukkan data masing-masing

    formula terdistribusi normal. Berdasarkan uji Oneway ANOVA didapatkan

    nilai F hitung(103.926) lebih besar dari F tabel (4.26) sehingga dapat

    disimpulkan adanya pengaruh perbedaan tipe basis pada uji viskositas

    salep. Perbedaan yang bermakna terdapat pada Formula III. Hasil analisa

    statistik uji viskositas dapat dilihat pada lampiran 16.

    3. Analisa Statistik Uji Daya Lekat Salep

    Hasil analisa statistik uji daya lekat menunjukkan data masing-masing

    formula terdistribusi normal. Berdasarkan uji Oneway ANOVA didapatkan

    nilai F hitung (224.371) lebih besar dari F tabel (4.26) sehingga dapat

    disimpulkan adanya pengaruh perbedaan tipe basis pada uji daya lekat

    salep. Perbedaan yang bermakna terdapat pada Formula III. Hasil analisa

    statistik uji viskositas dapat dilihat pada lampiran 17.

    4. Analisa Statistik Uji Daya Sebar Salep

    Hasil analisa statistik uji daya sebar menunjukkan data masing-masing

    formula terdistribusi normal. Berdasarkan uji Oneway ANOVA didapatkan

    nilai F hitung (8.905) lebih besar dari F tabel (4.26) sehingga dapat

    disimpulkan adanya pengaruh perbedaan tipe basis terhadap uji daya sebar

    salep. Perbedaan yang bermakna terdapat pada Formula III. Hasil analisa

    statistik uji viskositas dapat dilihat pada lampiran 18.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    38

    5. Analisa Statistik Uji Daya Antibakteri

    Hasil analisa statistik uji daya antibakteri menunjukkan data masing-

    masing formula terdistribusi normal. Berdasarkan uji Oneway ANOVA

    didapatkan nilai F hitung (11.196) lebih besar dari F tabel (6.14) sehingga

    dapat disimpulkan adanya pengaruh perbedaan tipe basis terhadap uji

    daya antibakteri salep. Perbedaan yang bermakna terdapat pada Formula

    III. Hasil analisa statistik uji daya antibakteri dapat dilihat pada lampiran

    19.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    39

    BAB V

    PENUTUP

    A. Kesimpulan

    1. Perbedaan tipe basis pada formulasi salep ekstrak daun jambu mete

    (Anacardium occidentale L.) memberikan perbedaan yang signifikan

    terutama pada Formula III ( Basis larut air) terhadap uji sifat fisik dan kimia

    salep.

    2. Formula dengan menggunakan basis larut air memiliki daya hambat yang

    paling besar terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Sedangkan formula

    dengan menggunakan basis serap memiliki daya hambat yang paling kecil

    terhadap bakteri Staphylococcus aureus.

    B. Saran

    Dari Kesimpulan diatas penulis menyarankan diperlukan adanya

    formulasi lebih lanjut untuk mengoptimalkan fungsi salep sebagai antibakteri

    dan juga penggunaannya yang disukai masyarakat.