jambu mete

of 31/31
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Era modern seperti sekarang ini camilan dan makanan ringan sudah sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Jenisnya sangat beraneka macam dan beraneka rupa mulai dari kacang-kacangan, kue kering dan lain lain. Salah satu diantaranya adalah kacang mete, makanan ringan ini banyak kita temui dalam kue, coklat ataupun dalam kemasan tersendiri. Jambu mete tersebar di seluruh Nusantara dengan nama berbeda-beda ini, di Jawa orang menyebut Jambu mete, Jambu mede (Sunda), Gaju (Lampung) adalah tumbuhan berbiji belah. Bagian buahnya yang membesar, berdaging lunak, berair,dan berwarna kuning kemerah-merahan. Buah jambu monyet yang sebenarnya yang biasa disebut kepala monyet terbalik yang berbentuk menyerupai batu ginjal biasa disebut mete dengan kulit keras dan bijinya yang berkeping dua tersebut oleh kulit yang mengandung getah. Batang pohonnya tidak rata dan berwarna. Kebanyakan hasil jadi produk mete yang kita kenal secara umum adalah kacang atau bijinya, namun sesungguhnya buah jambunya juga memiliki banyak manfaat, jambu dari mete dapat diolah menjadi berbagai macam

Post on 25-Jun-2015

1.980 views

Category:

Documents

17 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Era modern seperti sekarang ini camilan dan makanan ringan sudah sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Jenisnya sangat beraneka macam dan beraneka rupa mulai dari kacang-kacangan, kue kering dan lain lain. Salah satu diantaranya adalah kacang mete, makanan ringan ini banyak kita temui dalam kue, coklat ataupun dalam kemasan tersendiri. Jambu mete tersebar di seluruh Nusantara dengan nama berbeda-beda ini, di Jawa orang menyebut Jambu mete, Jambu mede (Sunda), Gaju (Lampung) adalah tumbuhan berbiji belah. Bagian buahnya yang membesar, berdaging lunak, berair,dan berwarna kuning kemerah-merahan. Buah jambu monyet yang sebenarnya yang biasa disebut kepala monyet terbalik yang berbentuk menyerupai batu ginjal biasa disebut mete dengan kulit keras dan bijinya yang berkeping dua tersebut oleh kulit yang mengandung getah. Batang pohonnya tidak rata dan berwarna. Kebanyakan hasil jadi produk mete yang kita kenal secara umum adalah kacang atau bijinya, namun sesungguhnya buah jambunya juga memiliki banyak manfaat, jambu dari mete dapat diolah menjadi berbagai macam jenis produk pangan. Disini akan kami paparkan karakteristik jambu mete, kandungan gizi dari biji dan jambu mete, dan gambaran proses pengolahan secara sederhana B. Sejarah Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Brasil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut Portugis ke India 425 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke daerah tropis dan subtropis lainnya seperti Bahana, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Srilangka, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Jambu mete merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan dan menjadi sumber pendapatan utama petani di kawasan timur Indonesia.

C. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah mengetahui sifat-sifat dan karakteristik dari jambu mete. Selain itu kita dapat mengetahui kandungan gizi yang terdapat dalam jambu mete serta pengolahan jambu mete menjadi suatu produk yang bernilai tinggi yang belum banyak diketahui oleh orang.

II. ISI Jambu Monyet (ANACARDIUM OCCIDENTALE) termasuk tumbuhan yang berkeping biji dua atau juga disebut tumbuhan berbiji belah. Nama yang tepat untuk mengklasifikasikan tumbuhan ini adalah tumbuhan yang berdaun lembaga dua atau disebut juga dikotil. Jambu monyet mempunyai batang pohon yang tidak rata dan berwarna coklat tua. Daunnya bertangkai pendek dan berbentuk lonjong (bulat telur) dengan tepian berlekuk-lekuk, dan guratan rangka daunnya terlihat jelas. Bunganya berwarna putih. Bagian buahnya yang membesar, berdaging lunak, berair,dan berwarna kuning kemerah-merahan adalah buah semu. Bagian itu bukan buah sebenarnya, tetapi merupakan tangkai buah yang membesar. Buah jambu monyet yang sebenarnya biasa disebut mete (mente), yaitu buah batu yang berbentuk ginjal dengan kulit keras dan bijinya yang berkeping dua tersebut oleh kulit yang mengandung getah. Dalam tatanama atau sistematika (taksonomi) tanaman, jambu mete di klasifikasikan sebagai berikut : Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Sapindales : Anacardiaceae

Genus Spesies 1. Temperatur

: Anacardium : Annacardium occodentale L

a. Keadaan Iklim optimal untuk tumbuh jambu mete

Tanaman jambu mete dapat hidup dan tumbuh di dataran rendah ataupun dataran tinggi. Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu mete adalah antara 17oC-37oC. 2. Curah hujan Iklim yang hangat dan kering sangat cocok untuk tanaman jambu mete pada saat pembungaan dan pembentukan buah. Iklim dengan jumlah bulan kering antara 4 6 bulan dengan curah hujan 1.500 2000 mm/tahun paling cocok untuk pertumbuhan dan pembentukan hasil (buah). 3. Kelembapan udara Tingkat kelembapan udara yang cocok untuk tanaman jambu mete adalah berkisar 70% - 80%. Namun, tanaman jambu mete masih cukup toleran pada tingkat kelembapan udara antara 60% - 70%. 4. Penyinaran matahari Penyinaran matahari yang cukup tinggi sepanjang tahun sangat diperlukan oleh tanaman jambu mete untuk pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan generatif. Selain itu, penyinaran matahari yang cukup sangat diperlukan untuk proses fotosintesis tanaman.

b. Keadaan Tanah 1. Jenis tanah Jenis-jenis tanah yang cocok untuk budi daya tanaman jambu mete adalah tanah latosal merah yang solumnya dalam, tanah alluvial, tanahlaterit, tanah pedsolik, dan tanah regosal.

2. Sifat kimia tanah Agar keadaan sifat kimia tanah cocok untuk penanaman jambu mete, maka derajat keasaman tanah pada lokasi yang akan ditanami harus ditelitri terlebih dahulu. Cara meneliti keasaman tanah dapat dilakukan dengan menggunakan pH meter. Keasaman (pH) tanah yang rendah (kurang dari 5,5) dapat diatasi dengan pemberian belerang. Sedangkan apabila pH tanahnya tinggi (lebih dari 6,3) dapat diturunkan dengan memberikan pengapuran. 3. Sifat fisik tanah Sifak fisik tanah yang penting adalah tekstur dan struktur tanah. Tekstur tanah yang cocok untuk tanaman jambu mete adalah tanah yang bertekstur lempung berpasir, liat berpasir, tanah berpasir, dan pasir liat. Sdangkan struktur tanah yang baik untuk tanaman jambu mete adalah tanah yang genbur dan mudah mengikat air (porous). 4. Sifat biologi tanah Tanaman jambu mete memerlukan sifat biologis tanah yang baik. Jika sifat biologis tanah baik, maka produktivitas jambu mete akan menjadi tinggi. Sifat biologis tanah yang baik dicirikan oleh banyaknya bahan organik/humus di dalam tanah dan banyaknyaorganisme dalam tanah. 5. Ketinggian tempat Di dataran rendah hingga dataran medium dengan ketinggian tempat 0-700m diatas permukaan laut, tanaman jambu mete dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi. Di dataran tinggi (di atas 1000 m dpl), produktivitas tanaman jambu mete makin berkurang. 6. Derajat kemiringan tanah Secara teknis, tanah yang miring ataupun bergelombang dapat digunakan untuk budi daya tanaman jambu mete, asalkan kemiringannya tidak lebih 30%. Tanah yang memiliki kemiringan 30% berarti pada jarak 100 m perbedaan

ketinggiannya adalah 30 m. Tanah miring ataupun tanah bergelombang jika akan digunakan untuk usaha penanaman jambu mete harus dibuat teras-teras atau tanggul- tanggul.

A. Karakteristik Bahan Jambu Mete Sifat kimia fisika Sifat-sifat Fisika-Kimia Minyak Jambu Mete adalah Komposisi Kulit jambu mete (shell) mengandung minyak sekitar 50% yang dikenal dengan Cashew Nut Shell Liquid ( CNSL ). Komponen minyak jambu mete terdiri dari asam anacardic sekitar 90% dan minyak cardol sebesar 10%. Biji jambu mete (kernel) mengandung minyak sekitar 47%. Komposisi Mineral dan Vitamin dalam Biji Jambu Mete Komponen Fosfor (P) Kalsium (Ca) Besi (Fe) Vitamin B1 Vitamin B2 Vitamin A Vitamin C Jumlah 0,48 % 0,048 % 5 mg/100 gr 270 380 u gr/100 gr 190 u gr/100 gr 100 S I -

Sumber : mkf-poenya.blog.friendster.com

Komposisi Daging Biji Jambu Mete Komponen Air Protein Lemak N free extrak Serat Abu Gula Pati Sumber : mkf-poenya.blog.friendster.com Jumlah ( % ) 4,10 19,60 47,20 26,40 1,00 2,70 6,80 10,70

Komposisi Asam Lemak dalam Minyak Jambu Mete Komposisi Asam lemak jenuh Asam palmitat Asam stearat Asam arachidat Asam lignoserat Asam lemak tak jenuh Asam oleat Asam linoleat Sumber : mkf-poenya.blog.friendster.com Jumlah (%) 10.10-18.80 4.10-17.30 1.50-11.20 0.00-0.20 0.00-0.50 68.20-80.40 0.00-21.70

B. Kandungan Gizi 1. Biji Mete Biji mete dapat diolah menjadi kacang Mete. Rasa kacang mete gurih dan lezat sehingga cocok untuk makanan ringan (cemilan). Selain dapat dikonsumsi sebagai cemilan, kacang mete juga banyak dimanfaatkan untuk berbagai macam produk olahan seperti, campuran aneka produk bakery, campuran produk coklat, es krim, dan sebagainya. Karena banyaknya penggunaan dan citarasanya yang baik, kacang mete mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Kandungan kadar lemak yang cukup tinggi juga sangat berperan penting dalam peningkatan kadar energi dan cita rasa. Hal ini menyebabkan biji mete sangat enak dan lezat rasanya. Mendengar makanan berlemak tinggi, sekilas membuat banyak orang khawatir. Khawatir akan kegemukan dan berbagai jenis penyakit yang dituding disebabkan oleh konsumsi lemak berlebihan. Namun, bila kita cermati komposisi lemak penyusun kacang mete, yang terdiri atas 18 persen asam lemak jenuh dan 82 persen asam lemak tidak jenuh, maka tidak perlu khawatir saat mengkonsumsinya, karena mayoritas lemaknya adalah lemak tidak jenuh. Kadar asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA = monounsaturated fatty acids) jauh lebih banyak dibandingkan dengan asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA = polyunsaturated fatty acids). Jenis MUFA yang paling dominan pada kacang mete adalah asam lemak omega 9, yaitu oleat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa MUFA memiliki peran penting dalam meningkatkan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) dan menurunkan kolesterol LDL (kolesterol jahat), sehingga sangat baik untuk menekan terjadinya penyakit jantung, stroke, dan penyakit kardiovaskular lainnya. Sedangkan jenis PUFA yang paling dominan adalah asam lemak omega 6, yaitu asam linoleat. Asam lemak omega 6 juga memiliki peran penting dalam menjaga profil kolesterol darah agar tetap normal.

2. Buah mete Selama ini buah mete masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena citarasa yang kurang disukai seperti rasa sepat dan sering membuat getir tenggorokan. Padahal jambu mete (ANACARDIUM

OCCIDENTALE) antara lain mengandung senyawa kimia seperti tanin, anacardic acid dan cardol, yang bermanfaat sebagai antibakteri dan antiseptik. Selain itu daun jambu mete yang masih muda juga mempunyai komposisi kandungan kimia seperti vitamin A sebesar 2689 SI per 100 gram, vitamin C sebesar 65 gram per 100 gram, kalori 73 gram per 100 gram, protein 4,6 gram per 100 gram, lemak 0,5 gram per 100 gram, hidrat arang 16,3 gram per 100 gram, kalsium 33 miligram per 100 gram, fosfor 64 miligram per 100 gram, besi 8,9 miligram dan air 78 gram per 100 gram. Pengolahan mete, di samping menghasilkan biji, juga limbah berupa buah semu dan kulit atau cangkang biji. Buah semu biasanya hanya dibuang sebagai limbah. Salah satu peluang pemanfaatan buah semu adalah sebagai pakan. Pakan kombinasi dari leguminosa dan buah semu mete sangat baik untuk ternak. Buah semu mengandung gizi yang rendah, yaitu air 82,5%, protein 0,7%, dan energi 720 kal/g. Komposisi fisik pada bagian padat buah semu 34-36%, dengan kandungan protein kasar 6,10% dan serat kasar 15,15%. Salah satu upaya meningkatkan nilai gizi buah semu adalah melalui proses fermentasi. Melalui proses tersebut, kadar protein dan kalori dapat meningkat serta kadar serat kasar menurun. Fermentasi juga dapat menekan kandungan tanin sehingga bahan dapat diberikan pada level yang lebih tinggi pada ransum ternak. Buah semu dapat pula dikeringkan lalu dibuat tepung sehingga lebih tahan lama (hingga 6 bulan). Dengan cara demikian, pakan dari buah semu dapat tersedia sepanjang tahun di luar musim panen. Di samping itu, penepungan akan memudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan pencampurannya pada saat diberikan kepada ternak.

C. Manfaat Jambu mete merupakan tanaman sejuta manfaat, artinya semua aspek dari tanaman ini sangat berguna bagi manusia. mulai dari akar, batang, daun, dan buahnya. Selain itu juga biji mete (kacang mete) dapat digoreng untuk makanan bergizi tinggi. Buah mete semua dapat diolah menjadi beberapa bentuk olahan seperti sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan, dan jem jambu mete. Tumbuhan ini termasuk dalam tanaman obat-obatan karena digunakan di 23 negara dan termasuk dalam daftar prioritas WHO mengenai tumbuhan obat-obatan yang paling banyak dipakai didunia. Diperkirakan bahwa jambu mete itu dapat mengontrol pusat otak yang terganggu (hilang ingatan, kelelahan kerja, gangguan seks, halusinasi, mundur ingatan dan lain sebagainya). Kulit buahnya berwarna abuabu dan berguna sebagai obat. Kulit buah yang telah ditumbuk halus dipersiapkan sebagai tinktur atau obat bubuk. Efek sampingannya mungkin berupa dermatitis.

1. Kulit Kayu Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna coklat. Apabila terkena udara, cairan tersebut berubah menjadi hitam. Cairan ini dapat digunakan untuk bahan tinta, bahan pencelup, atau bahan pewarna. Selain itu, kulit batang pohon jambu mete juga berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan. Batang pohon mete menghasilkan gum atau blendok untuk bahan perekat buku. Selain daya rekatnya baik, gum juga berfungsi sebagai anti gengat yang sering menggerogoti buku.

2. Akar Akarnya dipakai sebagai obat diare dan kulit akarnya sebagai obat kumur (terhadap seriawan) dan obat jerawat.Akar jambu mete berkhasiat sebagai pencuci perut.

3. Buah Semu Selama ini pemanfaatan buah mete masih belum banyak diketahui oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena citarasa yang kurang disukai oleh masyarakat umum seperti rasa sepat dan sering membuat getir tenggorokan. Padahal kandungan gizi buah jambu mete sangat bagus, yaitu mengandung riboflavin (vitamin B2), asam askorbat (vit. C), dan kalsium serta senyawa aktif yang diketahui dapat mencegah penyakit kanker, dan disinyalir dapat menyembuhkan tumor. Kandungan vitamin C pada buah mete cukup tinggi mencapai 180 mg/100 g. Kulit buahnya yang berbau lemah, rasanya kelat dan lama kelamaan menimbulkan rasa tebal dan kesat di lidah. Sifat ini memilki khasiat sebagai pencahar, astringen dan memacu aktivitas enzim pencernaan (alteratif) sehingga sangat bagus untuk pencernaan. Air perasan kulit buah yang berminyak bisa dipakai sebagai obat luar untuk mengobati borok dan kutil yang menahun pada kulit. 4. Daun Daunnya yang berbau aromatik, rasanya kelat, berkhasiat anti radang dan penurunan kadar glukosa darah (hipoglikemik). Selain itu daunnya yang sudah tua dapat dipakai sebagai obat luar untuk mengobati penyakit kulit (misalnya pemphigus neonatorum) dan luka bakar. Daun jambu mete yang masih muda dimanfaatkan sebagai lalap, terutama di daerah Jawa Barat. 5. Biji Biji berkhasiat sebagai pelembut kulit dan penghilang nyeri (analgesik). Tangkai daun berfungsi sebagai pengelat daan akar berkhasiat sebagai pencahar (laksatif).

D. Pengolahan Hasil dan Pemanfaatan Buah Semu Potensi lain yang perlu dikembangkan untuk petani jambu mete dan mulai dirasakan kebutuhan pemecahannya adalah pemanfaatan hasil samping (buah semu)

yang masih merupakan limbah padahal mempunyai nilai ekonomis dan nilai gizi yang cukup tinggi. Potensi ini dapat diolah menjadi produk-produk yang dapat dijual ke pasar sehingga dapat meningkatkan pendapatan dalam usahatani jambu mete. Diantara beberapa hasil olahan buah semu jambu mete, mungkin yang cukup mudah untuk dikembangkan oleh usaha kecil di pedesaan adalah abon buah dan dodol buah. Nilai ekonomi tertinggi dari jambu mete sampai saat ini masih terletak pada kacang mete, namun tingginya harga sangat ditentukan oleh mutu khususnya warna, rasa dan presentase kacang pecah serta ukuran per kg. Karena itu karakterisasi kacang mete memegang peranan penting. Disamping rendemen, bentuk, bobot, warna dan rasanya juga keutuhan kacang hasil pengkacipan menentukan kualitas kacang mete. Industri jambu mete lebih diarahkan pada keperluan produk-produk pangan, antara lain kacang mete, es krim, campuran kue-kue kering dan permen coklat. Kacang mete sebagai bahan baku industri makanan mempunyai posisi yang superior dibandingkan dengan komoditas lainnya yang sejenis, seperti kacang tanah, almond, hazelnut dan walnut. Kondisi yang demikian memberikan peluang yang cukup besar untuk meningkatkan pangsa pasar di dalam negeri maupun untuk ekspor (Sukmadinata, 1996). Sedangkan buah semu dapat digunakan dalam pembuatan sari buah, sirup, anggur, cuka makanan, jelly, selai (jam) dan lain-lain (Sumangat, et al, 1990). Selain hasil utama berupa gelondong mete juga terdapat hasil samping berupa limbah yaitu buah semu jambu mete. Total berat buah semu yang dihasilkan dari tanaman jambu mete mencapai 5-10 kali lebih tinggi daripada bijinya.(Sumangat., et al, 1996). Buah semu jambu mete sebagian besar belum dimanfaatkan optimal. Bahkan di beberapa daerah umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar dan produk olahan tradisional (Sumangat, et al., 1993). Dari buah semu jambu mete dapat dibuat berbagai produk olahan berupa manisan buah kering, abon dan dodol buah (Sumangat, et al., 1990).

1. Pengolahan Buah Semu Jambu Mete Dilihat dari segi komposisi kimia dan nilai gizinya menunjukkan bahwa buah semu jambu mete mempunyai arti yang penting. Dalam jambu mete cukup mengandung karbohidrat sebagian besar terdiri dari gula reduksi bervariasi 6,7 10,6%. Buahnya bersifat juicy banyak mengandung air. Sari buahnya mempunyai kadar asam 0,35% sebagai asam malat. Kadar vitamin C menunjukkan nilai yang cukup bervariasi antara 147-372 mg, mencapai 5 kali lebih besar dibanding buah jeruk. Kadar proteinnya sebanding dengan buah jeruk dan mangga, tapi lebih tinggi dari buah pepaya dan nanas yaitu antara 0,1-0,8 g dalam 100 g bahan (Muljohardjo, 1990). Pemanfaatan buah semu jambu mete menjadi produk abon menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan mengingat bahan mentah yang digunakan mudah diperoleh. Abon dipilih karena produk ini dianggap sebagai produk yang cukup dikenal masyarakat, mudah pembuatannya dan mempunyai peluang pasar yang cukup besar. Abon daging kambing atau abon ikan menjadi makanan yang digemari masyarakat, namun karena harganya yang cukup mahal membuat masyarakat sangat jarang dapat menikmati abon. Sehingga abon dari buah semu jambu mete dapat menjadi alternatif makanan yang mudah didapat terutama pada desa sentra produksi jambu mete.

2. Pengolahan Gelondong Mete Gelondong sebagai buah sejati pada tanaman jambu mete berbentuk ginjal, berwarna abu-abu hingga coklat tua. Panjang gelondong 1,9 5,3 cm dan lebar 1,4 3,2 cm dan tebal 0,8 2,30 dengan bobot berkisar antara 3 20 g/butir (Hadad dan Zaubin, 2002). Untuk mendapatkan biji mete yang utuh diperlukan penanganan lebih lanjut, yaitu memisahkan biji mete dari kulit luar yang melindunginya (gelondong mete) dengan alat kacip dan pengupasan kulit ari. Proses pengacipan merupakan

proses kritis yang sangat menentukan kualitas mete. Salah satu faktor yang menentukan kualitas mete yaitu bentuk biji mete yang utuh atau tidak terbelah. Sehingga pada proses pengacipan diperlukan keahlian agar biji dalam gelondong tidak terbelah. Proses pengupasan kulit ari didahului dengan pengukusan atau pemanasan biji mete agar kulit ari menjadi kering dan mudah dikupas hanya dengan menggunakan tangan. Pengupasan kulit ari merupakan proses yang mudah hanya saja memerlukan kehati-hatian agar saat pengupasan tidak menyebabkan belahnya biji mete. Kegiatan pengamatan pengolahan gelondong mete dilakukan di beberapa rumah tangga pengolah gelondong mete di Desa Liabalano Kecamatan Kontunaga. Proses pengacipan gelondong mete ini umumnya dilakukan oleh para wanita baik dewasa maupun anak-anak. Sedangkan pengupasan kulit ari biasanya dilakukan oleh anakanak baik laki-laki maupun perempuan. Dalam pengolahan gelondong mete diamati proses pengacipan yang meliputi waktu pengacipan 1 kg gelondong mete, jumlah biji utuh dan biji belah yang 15 dihasilkan. Rendemen biji mete didapatkan dari perbandingan berat biji mete yang dihasilkan dengan berat gelondong mete awal. Hasil pengamatan kegiatan pengolahan gelondong mete menunjukkan bahwa rata-rata pekerja pengacipan dapat membelah 1 kg gelondong mete dalam waktu 25 menit. Proses pengacipan itu rata-rata dapat menghasilkan 86,47% biji mete utuh dan 8,82% biji mete pecah dan sisanya merupakan gelondong mete yang hampa. Hasil ini masih dapat ditingkatkan lagi apabila pekerja dilatih lebih intensif. Rendemen dari proses pengolahan gelondong mete ini rata-rata sebesar 27,85%. Hal ini berarti pengolahan gelondong yang dilakukan sudah cukup baik, karena didapat biji mete bagian dari gelondong mete. Dengan rendemen seperti ini, pengolah gelondong mete mempunyai keuntungan yang cukup, dalam hal ini tidak mengalami kerugian.

3. Pengolahan Sirup Buah Jambu Mete

Buah semu jambu mete dapat diolah menjadi aneka produk minuman segar, misalnya sari buah, anggur jambu mete, minuman beralkohol, sirup buah, limunade (minuman ber CO2), cuka makanan, selai atau jelly, jam, manisan, acar, lauk pauk (abon, pepesan, sayur), sambal dan lain-lain. Sedangkan ampasnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak atau kompos.Sirup buah semu jambu bermanfaat sebagai sajian minuman segar yang cukup mangandung vitamin C. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sirup buah jambu mete diuraikan sebagai berikut: a) Buah. Sebagai bahan utama sirup buah jamu mete adalah bagian buah semu jambu mete. Keadaan buah yang digunakan sebagai bahan bakunya, sangat menentukan pembuatan sirup jambu mete. Buah yang digunakan dalam pembuatan sirup jambu mete harus berada dalam keadaan cukup matang dan segar. Buah semu jambu mete yang dapat digunakan sebagai bahan baku sirup jambu mete adalah : a) Buah semu jambu mete sudah tua (warna tua merah dan mengkilat) b) Sudah matang (lunak) c) Belum mulai membusuk d) Bau harum e) Tidak cacat fisik ( pecah atau diserang hama) b) Gula Gula dipergunakan sebagai pemanis, memiliki peran yang besar pada penampakan dan cita rasa sirup yang dihasilkan. Disamping itu, gula juga bertindak sebagai pengikat komponen flavor. Pemanis yang paling umum digunakan dalam pembuatan sirup yang dalam kehidupan sehari dikenal sebagai gula pasir. c) Asam Sitrat

Asam sitrat termasuk dalam golongan flavor enhancer atau bahan pemicu rasa. Bahan pemicu rasa merupakan bahan tambahan yang diberikan pada suatu produk pangan untuk memberikan nilai lebih pada rasa, sesuai dengan karateristik produk pangan yang dihasilkan. Biasanya, bahan pemicu rasa hanya ditambahkan dalam jumlah kecil. Asam sitrat sebagai bahan pemicu rasa, banyak digunakan dalam industri, terutama industri makanan karena memiliki tingkat kelarutan yang tinggi, memberikan rasa asam yang enak dan tidak bersifat racun. Di dalam pembuatan sirup , asam sitrat digunakan untuk mengatur pH, terutama yang menggunakan buah-buahan dengan tingkat keasaman yang rendah sehingga tidak cukup untuk menghasilkan pH seperti yang diinginkan. Penggunaan asam sitrat juga berfungsi untuk memberikan rasa dan aroma yang khas pada sirup, meningkat flavor ( mengimbangi rasa manis), serta memperpanjang umur simpan ( mengawetkan ) sirup tersebut. Umumnya penambahan asam sitrat dilakukan hingga pH sari buah yang dihasilkan mencapai 4,5 yaitu pH yang diinginkan untuk sari buah . Namum,

sari buah yang telah cukup asam, tidak perlu ditambah asam sitrat. d) Pewarna. Pewarna ditambahkan ke dalam minuman atau sirup buah karena beberapa alasan, diantranya adalah untuk memperbaiki warna aslinya, untuk memperoleh warna standar, dan untuk menarik konsumen. Pada umumnya, pewarna yang ditambahkan ke dalam sirup adalah berupa pewarna sintetik. Adapun pewarna yang digunakan antara lain adalah sunset yellow FCF, tartrazine dan karamel . e) Bahan Pengawet Fungsi utama dari penggunaan bahan pengawet adalah untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan sehingga masa simpan makanan atau minuman dapat diperpanjang. Penggunaan bahan pengawet kimia mempunyai beberap keuntungan, antara lain yaitu makanan atau

minuman dapat tetap awet meskipun disimpan pada suhu kamar. Namun apabila sirup buah yang dibuat hanya sedikit dan lansung dikonsumsi, tidak perlu ditambah dengan bahan pengawet. Bahan pengawet yang paling umum digunakan untuk sari buah adalah natrium benzoat. Natrium benzoat memiliki bentuk kristal putih, rasa manis dan kadang-kadang sepet. Garam natium benzoat ini lebih mudah larut dalam air dari pada asam benzoat. Dalam pembuatan sirup buah, natrium benzoat dingunakan dengan dosis antara 0,05 % 0,1 %. Penggunaan natrium benzoat pada kadar tersebut relatif tidak mempengaruhi rasa dan aroma sirup buah. f) Bahan Penstabil Merupakan suatu zat dapat berfungsi menstabilkan, mengentalkan atau merekatkan suatu makanan yang campur dengan air, sehingga dapat menbentuk cairan dengan kekentalan yang stabil dan homogen pada waktu yang relatif lama. Adapaun pencegah tersebut dapat dilakukan dengan pemanbahan bahan penstabil yaitu : Gum arab 5 10 g /liter, Gelatin 5 10 g /liter, Karagenan 5g/liter, Agar-agar 5 10 g /liter. 4. Minyak Kulit Biji Jambu Mete sebagai Perekat Kayu Selama ini ekspor jambu mete Indonesia lebih banyak dalam bentuk glondongan dibandingkan dalam bentuk kupasan. Padahal harga jual mete glondongan jauh lebih murah dibandingkan kupasan mete kupasan. Di sisi lain salah satu limbah industri pengolahan jambu mete adalah kulit biji jambu mete yang ternyata kandungan minyaknya cukup tinggi sekitar 20-30%. Minyak ini yang ditemukan, antara biji mantel (atau pericarp) dan kacang-kacangan, disebut Cashew Nut Shell Liquid (CNSL). Ini bukanlah trigliserida dan mengandung proporsi yang tinggi dari senyawa fenolik. Hal ini digunakan dalam industri sebagai bahan baku untuk senyawa kanvas, sebagai agen pemeriksaan air, bahan pengawet dan dalam pembuatan cat dan plastic (Akinhanmi, 2008)

Cairan ini sumber fenol alami yang potensial sebagai pengganti fenol dari bahan baku minyak bumi, . Fenol adalah bahan baku perekat fenol formaldehid yang merupakan perekat yang banyak dipergunakan pada industri pengolahan kayu. Jadi, dengan penelitian mengenai minyak kulit biji jambu mete (Cashew Nut Shell Liquid/CNSL) akan banyak memberikan banyak keuntungan, antara lain mendorong industri jambu mete di Indonesia untuk mengekspor biji mete kupasan dan bukan glondongan sehingga akan banyak memberikan financial. Selain itu juga akan mendorong tumbuhnya industri pengolahan kulit biji jambu mete untuk menghasilkan CNSL, dalam pengolahan Cashew Nut Shell Liquid (CNSL) untuk diperoleh perekat 100% terbarukan tanpa perlu dicampur dengan fenol formaldehid.

III. PENUTUP A. Kesimpulan Jambu Monyet (ANACARDIUM OCCIDENTALE) termasuk tumbuhan yang berkeping biji dua. Dalam budidaya tanaman jambu mete harus memperhatikan faktor iklim dan tanah. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya seperti temperature, curah hujan, kelembaban udara, dan sinar matahari. Komposisi kulit jambu mete (shell) mengandung minyak sekitar 50% yang dikenal dengan Cashew Nut Shell Liquid ( CNSL ). Komponen minyak jambu mete terdiri dari asam anacardic sekitar 90% dan minyak cardol sebesar 10%. Biji jambu mete (kernel) mengandung minyak sekitar 47%. Jambu mete merupakan tanaman multimanfaat, artinya semua aspek dari tanaman ini sangat berguna dari akar, batang, daun, dan buahnya. Kulit buahnya berwarna abu-abu dan berguna sebagai obat. Kulit buah yang telah ditumbuk halus dipersiapkan sebagai obat bubuk.

Cairan kulit kayu ini dapat digunakan untuk bahan tinta,bahan pencelup, atau bahan pewarna. Selain itu, kulit batang pohon jambu mete juga berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan. Kulit buahnya memilki khasiat sebagai pencahar, astringen dan memacu aktivitas enzim pencernaan (alteratif) sehingga sangat bagus untuk pencernaan. Akarnya dipakai sebagai obat mencret. Daun Jambu mete yang masih muda dimanfaatkan sebagai lalap sedangkan daun yang sudah tua dapat dipakai sebagai obat Iuar untuk mengobati penyakit kulit dan luka bakar. Biji berkhasiat sebagai pelembut kulit dan penghilang nyeri. Tangkai daun berfungsi sebagai pengelat daan akar berkhasiat sebagai pencahar. Buah mete dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam bahan olahan pangan seperti Pemanfaatan buah semu jambu mete menjadi produk abon, Pengolahan Gelondong Mete menjadi kacang mete, dan juga Pengolahan Sirup Buah Jambu Mete menjadi aneka produk minuman segar, misalnya sari buah, anggur jambu mete, minuman beralkohol, sirup buah, limunade (minuman ber CO2), cuka makanan, selai atau jelly, jam, manisan, acar, lauk pauk (abon, pepesan, sayur), sambal dan lain-lain.

LAMPIRAN

Jambu Mete

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Manfaat jambu mete. http://www.wonosari.com/medis-f6/faqmanfaat-jambu-monyet-t3594.htm. diakses pada hari Sabtu 6 november 2010. Anonim, 2010. Mendulang Rupiah Melalui Budidaya Jambu Mete (Anacardium occidentale L). http://www.bpdas-jeneberang.net. diakses pada hari Sabtu 6 november 2010. Anonim, 2010. Jambu mete. http://www.mail archive.com/agromania diakses pada hari Sabtu 6 november 2010. Anonim, 2010. Jambu mete . http://paeransmkn1kutim.blogspot.com/2008/10/jambumete.html. diakses pada hari Sabtu 6 november 2010. Anonim. 2010.Jambu Mete, Dicari dan Dibuang. http://rinrinjamrianti.multiply.com/journal/item/193 diakses pada hari Sabtu 6 november 2010. Akinhanmi, T. F.. 2008. Chemical Composition and Physicochemical Properties Of Cashew nut (Anacardiumoccidentale) Oil and Cashew nut Shell Liquid. Journal of agricultural, food and environmental, Vol 2, issue 1,2008. University of Agriculture, Abeokuta, Nigeria FRED R. RICKSON. 1998.THE CASHEW NUT, ANACARDIUM OCCIDENTALE (ANACARDIACEAE), AND ITS PERENNIAL ASSOCIATION WITH ANTS: EXTRAFLORAL NECTARY LOCATION AND THE POTENTIAL FOR ANT DEFENSE. American Journal of Botany 85(6): 835849. 1998. Department of Botany, Oregon State University, Kemala Farida, Mutia.2009..mkf-poenya.blog.friendster.com. diakses pada sabtu 6 November 2010.