JASPIS TASIKMALAYA-JABAR

Download JASPIS TASIKMALAYA-JABAR

Post on 05-Jul-2015

906 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>POTENSI DAN PROSPEK JASPERDI DAERAH KECAMATAN PANCATENGAH DAN SEKITARNYA</p> <p>KABUPATEN TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARATOLEH: GANJAR LABAIK KELOMPOK PROGRAM PENELITIAN MINERAL</p> <p>SARIJasper berasal dari istilah bahasa Greek yaitu iaspis, yang berarti batuan yang berbintik-bintik (spotted stone). Jasper merupakan sejenis ornamental rock (batu hias) yang termasuk jenis kalsedon (chalcedony), microcrystalline quartz (SiO2), dengan campuran berbagai mineral dengan pariasi warna dan corak yang menarik, mempunyai kekerasan 6.5 -7,0 pada skala Mohs, Berat Jenis 2,58-2,91, dan Index Bias 1,54, dengan sisitim kristal trigonal. Berdasarkan pengamatan di lapangan, batuan ini berwarna merah, merah kecoklatan, hijau kecoklatan, ditemukan berupa bongkah-bongkah yang berdiameter antara 20 cm - 5 meter, dengan jumlah 200 buah berserakan disekitar pesawahan dan di Sungai Cimedang juga di sekitar Kampung Pasirgintung, Ds. Cibuniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya. Batuan ini dijumpai juga berupa lava bantal berlapis dengan tufa volkanik yang berada pada Formasi Jampang (Formasi old andesite) berumur Oligo-Miosen atau sekitar 25 juta tahun yang lalu. Di lihat dari sejarah terbentuknya jasper, terjadi sekitar 25 - 30 juta tahun lalu, Pasir Gintung dan sekitarnya diperkirakan sebagai kompleks gunung api bawah laut yang aktif. Karena aktifitas tersebut terjadilah proses Geologiyang menghasilkan jasper. Struktur lapisan batuan menunjukkan, adanya aliran lava vulkanik yang kemudian membentuk jasper. Sementara kandungan warna merah disebabkan oleh besi yang dihasilkan hematit, sama halnya dengan jasper berwarna kuning hingga coklat. Pada saat ini keberadaan Jaspis sudah diambil alih kepemilikannya oleh Pemerintah Daerah setempat dan tidak boleh ditambang lagi dan akan dikembangkan sebagai Taman Wisata Alam dan Potensi Jasper sendiri tidak diperbolehkan dieksploitasi sehingga bisa terjaga dan lestari sebagai kekayaan ilmiah Kabupaten Tasikmalaya.</p> <p>1.1.1.</p> <p>PENDAHULUAN Latar Belakang</p> <p>Jasper merupakan sejenis ornamental rock (batu hiasan) yang termasuk varietas kalsedon (chalcedony) microcrystalline quartz kuarsa (SiO2), translusen, dengan struktur kristal yang mikro, terdiri dari beberapa campuran berbagai mineral lainnya dalam pemberi warna dan corak yang menarik. Jasper</p> <p>1</p> <p>mempunyai kekerasan 6,5 -7,0 pada skala Mohs, Berat Jenis 2,58-2,91, dan Index Bias 1,54, dengan sistim kristal trigonal. Jasper berasal dari perkataan Greek yaitu iaspis yang artinya batuan yang berbintik-bintik (spotted stone). Nama ini diterjemahkan kedalam bahasa AngloFrench yaitu jaspre yang kemudiannya disebut jaspe dalam bahasa lama Perancis (Old French). Jasper merupakan batuan yang sangat popular pada zaman dahulu dan sangat dipercaya khasiatnya bagi para pemakainya, namanya juga telah diabadikan dalam berbagai bahasa termasuk dalam bahasa Hebrew (dinamakan yashepheh), Akkadia (yashupu), Parsi (yashp) dan akhirnya Greek (iaspis). Jasper dengan coraknya landscape merupakan jasper yang paling popular. Terdapat juga ribbon jasper, picture jasper, dan orbicular jasper. Selain menjadi batu permata untuk dipakai karena keunikannya, digunakan juga untuk membuat cendramata dan menjadi bahan hiasan relief pada bangunan seperti pada ornament di Gereja Saint Wenceslas di Prague. Jasper berbentuk opaque dan merupakan kelompok kalsedon yang terbaik. Batuan ini mempunyai pareasi warna yang beraneka ragam seperti merah, putih, hitam, biru, kuning, hijau, pink, ungu dan kelabu. Keberadaan Jasper telah dipercayai oleh kebanyakan orang, batuan ini mempunyai khasiat yang istimewa untuk berbagai keperluan. Batu ini telah dipercaya dapat menyembuhkan orang sakit dari gangguan mahluk halus yang ada dalam tubuh manusia, dan dipercaya juga khasiatnya dapat menyehatkan tubuh yang sakit panas. Jenis Poppy Jasper diyakini apabila dipakai sesorang dapat membawa kegembiraan dan keberkahan dalam hidupnya, sementara jenis Opalite Jasper dipercayai akan memberikan kenyamanan dalam tidur. Dahulu jasper sering digunakan dalam upacara-upacara memanggil hujan dimusim kemarau. Jasper juga dipercayai dapat menyembuhkan gigitan ular berbisa dan sengatan labah-labah. Jasper boleh menjadi alternatif birth-stone bagi kelahiran ( zodiak) sesorang berbintang Aries.2</p> <p>Terlepas dari keyakinan dan kepercayaan berbagai khasiatnya, Jaspis merupakan sejenis batumulia yang termasuk dalam keluarga mineral kuarsa (SiO2). Kekerasannya sekitar 6,5 - 7 pada skala Mohs, warnanya sagat menarik dan istimewa juga penampilannya akan mengkilat setelah diproses bagaikan cermin, sehingga memenuhi syarat untuk diolah menjadi aksesoris atau produk cenderamata lainnya yang bernilai ekonomis. Para penggemar dan pedagang batu mulia menyebutnya sebagai biduri ati ayam, karena warnanya yang mirip dengan warna hati ayam. 1.2. Maksud dan Tujuan</p> <p>Jasper merupakan sejenis batumulia yang merupakan sumber daya alam yang cukup melimpah di Indonesia terutama di Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Akan tetapi keberadaanya belum optimal untuk dimanfaatkan dan ini memerlukan sentuhan tangan-tangan trampil yang ahli untuk pengelolaannya agar bermanfaat. Oleh sebab itu keberadaan jaspis terebut perlu diketahui baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya yang pada gilirannya jika dikelola secara baik akan meningkatkan tarap hidup masyarakat disekelilingnya. Berpijak dari keadaan tersebut diatas, maksud penyelidikan ini yaitu untuk mengetahui keberadaan jasper, baik lokasi keterdapatannya, penyebarannya maupun keterjadiannya. Adapun tujuan dari penyelidikan ini, diharapkan dengan diketahui hasilnya dapat dijadikan rujukan untuk dikelola dan dikembangkan lebih lanjut oleh pihak yang berkompeten agar kekayaan alam ini dapat bermanfaat untuk semua pihak, terutama masyarakat sekitarnya.</p> <p>1.3.</p> <p>Lokasi Daerah Penyelidikan</p> <p>Lokasi daerah penyelidikan secara administratif berada di kawasan Desa Cibuniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa</p> <p>3</p> <p>Barat. Secara geografis daerah penyelidkian ini terletak diantara titik koordinat: 108,13600o BT 108,367545o BT dan 7,59330o LS 7,8215990o LS, dengan luas 500 km2 (Gambar 1).</p> <p>LOKASI DAERAH PENYELIDIKAN</p> <p>Gambar 1. Peta Lokasi Daerah Penyelidikan di Kec. Pancatengah, Kab. Tasikmalaya</p> <p>Prasarana Jalan untuk menuju ke lokasi penyelidikan dari kota Tasikmalaya sudah cukup baik, namun jalan menuju lokasi Desa Cibuniasih agak mengalami hambatan, karena jalan sepanjang 4.2 KM masih kurang baik. Sarana transportasi juga sudah cukup memadai, penumpang yang akan bepergian telah dilayani oleh trayek bis mikro dengan interval keberangkatan hampir setiap setengah jam sekali dari pangkalan Desa Cibuniasih, menuju kekota kecamatan. 1.4. Metoda Penyelidikan</p> <p>Penyelidikan ini berupa tinjauan singkat dengan cara mengamati dan mencatat singkapan ataupun bongkah-bongkah batuan jasper, Selain itu juga dilakukan</p> <p>4</p> <p>studi pustaka dan wawancara dengan penduduk setempat disekitar Desa Cibuniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya dan aparat pemerintahan setempat untuk mengetahui lebih lajut usaha-usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengamankan kekayaan alam yang berlimpah ini. 2. 2.1. TATANAN GEOLOGI FISIOGRAFI</p> <p>Van Bemmelen (1949), membagi daerah Jawa Barat dan Banten ke dalam empat zona fisiografi, masing-masing urutannya dari utara ke selatan adalah Zona Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung dan Zona Pegunungan Selatan. Zona Dataran Pantai Jakarta menempati bagian utara Jawa membentang dengan arah barat-timur mulai dari Serang, Jakarta, Subang, Indramayu hingga Cirebon. Darah ini bermorfologi pedataran dengan batuan penyusun terdiri atas aluvium sungai/pantai dan endapan gunungapi muda. Zona Bogor menempati bagian selatan Zona Dataran Pantai Jakarta, membentang mulai dari Tangerang, Bogor, Purwakarta, Sumedang, Majalengka dan Kuningan. Zona Bogor umumnya bermorfologi perbukitan yang memanjang barat-timur dengan lebar maksimum sekitar 40 km. Batuan penyusun terdiri atas batuan sedimen Tersier dan batuan beku baik intrusif maupun ekstrusif. Morfologi perbukitan terjal disusun oleh batuan beku intrusif, seperti yang ditemukan di komplek Pegunungan Sanggabuana, Purwakarta. Van Bemmelen (1949), menamakan morfologi perbukitannya sebagai antiklinorium kuat yang disertai oleh pensesaran. Zona Bandung yang letaknya di bagian selatan Zona Bogor, memiliki lebar antara 20 - 40 km, membentang mulai dari Pelabuhanratu, menerus ke timur melalui Cianjur, Bandung hingga Kuningan. Sebagian besar Zona Bandung bermorfologi perbukitan curam yang dipisahkan oleh beberapa lembah yang</p> <p>5</p> <p>cukup luas. Van Bemmelen (1949) menamakan lembah tersebut sebagai daerah depresi diantara gunung yang prosesnya diakibatkan oleh tektonik (intermontane depression). Batuan penyusun di dalam zona ini terdiri atas batuan sedimen berumur Neogen yang ditindih secara tidak selaras oleh batuan vulkanik berumur Kuarter. Akibat tektonik yang kuat, batuan tersebut membentuk struktur lipatan besar yang disertai oleh pensesaran. Zona Bandung merupakan puncak dari Geantiklin Jawa Barat yang kemudian runtuh setelah proses pengangkatan berakhir (Van Bemmelen, 1949). Zona Pegunungan Selatan terletak di bagian selatan Zona Bandung. (Pannekoek, 1946), menyatakan bahwa batas antara kedua zona fisiografi tersebut dapat diamati di Lembah Cimandiri, Sukabumi. Perbukitan bergelombang di Lembah Cimandiri yang merupakan bagian dari Zona Bandung berbatasan langsung dengan dataran tinggi (pletau) Zona Pegunungan Selatan. Morfologi dataran tinggi atau plateau ini, oleh Pannekoek (1946) dinamakan sebagai Plateau Jampang. Sujatmiko (2000), memberi modifikasi tentang pembagian zona fisiografi dari Van Bemmelen (1949), yang berkaitan dengan zona pengayaan batumulia di Jawa Barat dan Banten. Zona ini merupakan jalur sebaran batumulia yang terletak pada Zona Pegunungan Selatan (Gambar 2).</p> <p>6</p> <p>Gambar 2. Sketsa sebaran batumulia di Jawa Barat (Sujatmiko, 2000) Daerah penyelidikan kalau ditinjau dari pembagian seperti pada sket tersebut, termasuk pada pegunungan Selatan. Unit tersebut membujur mulai dari teluk Pelabuhan Ratu sampai pulau Nusa Kambangan. Merupakan geantiklin Jawa bagian selatan dan merupakan blok-blok patahan yang bergeser ke arah selatan. Masing-masing blok tersebut dibedakan menjadi tiga bagian : Di bagian barat (Jampang), merupakan permukaan erosional yang muncul secara gradual dari lautan India sampai ketinggian 1000 m berupa breksi andesit yang terbentuk pada Meosen Atas, sekarang berupa volcanic neck. Plato, dan puncak tertinggi pada plato tersebut adalah Gunung Malang (1300 m) yang merupakan sisa dari intrusi andesit zaman miosen berupa volcanic neck yang resisten. Plato tersebut selanjutnya patah ke bawah dan terbentuk patahan atau flexure sampai ke zone Bandung. Blok bagian Tengah/Seksi Pangalengan merupakan daerah yang tinggi yang dimahkotai oleh beberapa vulkan (Gunung Kencana 2.182 m) dan selanjutnya patah ke bawah dengan membentuk patahan atau flexure ke zone Bandung. Zone Transisi antara bagian tengah ini dengan zone Bandung (ada fault) ditandai oleh seri vulkan kuarter yang berhubungan dengan</p> <p>7</p> <p>zone Bandung. Bagian Timur (Seksi Karangnunggal) merupakan plato yang mempunyai ketinggian rendah (350-400 m) di atas permukaan laut. Di sebelah selatan terdapat daerah yang lebih tinggi yang merupakan sisa erosi permukaan. Plato Karangnunggal terdiri dari batuan kapur berumur miosin yang mengalami sedikit pelipatan. Terdapat topografi karst dengan banyak kubah dan banyak sungai dengan lembah yang sempit. Zone plato ini miring ke arah selatan dan bertambah sempit dan berakhir pada taji (spur) dekat lembah yang tenggelam yang memisahkannya dari Nusa Kambangan. Secara geomorfologis Jawa Barat terbagi menjadi : Zone Selatan : Plato Jampang, Plato Bongga dan Plato Karangnunggal. Zone Tengah (berupa depresi) : Dataran Tasikmalaya, Dataran Garut, Komplek pegunungan di barat Garut, Lipatan Rajamandala, Dataran Bandung, Dataran Cianjur-Sukabumi, Komplek Gunung Gede-Pangrango dan Sekton Banten. Zone Utara Daerah Lipatan, Endapan Kipas, Jalur Peneplain, gunung Ceremai dan se-kitarnya, Komplek Tangkuban Perahu, Komplek pegunungan di Banten. 2.2. GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN</p> <p>Mengacu pada Peta Geologi Lembar Karangnunggal (1308-1) oleh Supriatna dkk. (1992), daerah penyelidikan tersusun oleh beberapa Formasi Batuan yang tersusun dari tua ke muda adalah sebagai berikut (Gambar 3): Formasi Jampang (Tomj) atau sering juga disebut Old Andesit Formation (Formasi Andesit Tua) yang terdiri atas breksi aneka bahan dan tuf bersisipan lava yang berumur Oligo-Miosen, batuan ini telah mengalami ubahan secara kuat umumnya terkersikkkan, terpropilitkan, termineralkan dan mengandung uraturat kuarsa dengan mineral bijih sulfida. Anggota Genteng Formasi Jampang (Tmjg), terdiri atas tuf berselingan dengan breksi dasitan, besisipan batugamping yag berumur Oligo-Miosen. Anggota Batugamping Formasi Pamutuan (Tmpl), berumur Miosen Tengah terdiri atas batugamping, batugamping pasiran, kalsilutit, dan napal yang diendapkan pada</p> <p>8</p> <p>lingkungan laut dangkal yang terbuka. Formasi Kalipucang (Tmkl) terdiri dari batugamping foraminifera dan batugamping pasiran yang berumur Miosen Tengah. Formasi Bentang (Tmpb), tersusun oleh batupasir tufaan, batupasir, batupasir gampingan, breksi volkanik, tufa, batulempung tufaan, breksi gampingan, batugamping, batugamping sisipan lignit, konglomerat, berumur Miosen Atas. Batugamping Kalipucang (Tmkl), Batugamping oral, pejal dan berongga, dibeberapa tempat terdapat perlapisan, berumur Miosen Tengah. Intrusi Granodiorit (Tgd) yang menerobos Formasi Jampang, Batuan ini berumur Miosen Tengah, batuan yang paling muda adalah Endapan Alluvial yang berumur holosen, satuan ini tersebar cukup luas mulai dari baratlaut hingga tenggara terutama berupa pesawahan dipinggir-pinggir sepanjang sungai dan pantai.</p> <p>Lokasi Sebaran Jasper</p> <p>Gambar 3.</p> <p>Peta Geologi Daerah Lokasi di Ds. Cibuniasih, Kec. Pancatengah dan sekitarnya, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat</p> <p>9</p> <p>Di bagian barat hingga baratdaya, alluvial ini berbatasan dengan batuan yang lebih tua berupa Formasi Jampang (Tomj) yang tersusun atas breksi aneka bahan dan Anggota Genteng Formasi Jampang (Tmjg) yang tersusun atas tuf berselingan dengan breksi dasitan. Di bagian utara, satuan ini tertutupi oleh batuan yang lebih muda, yaitu Formasi Bentang (Tmb) yang tersusun atas batupasir gampingan dan batupasir tufan yang bersisipan dengan serpih dan lensa batugamping. Struktur utama yang terdapat di daerah penelitian adalah sesar dan kekar atau rekahan. Sesar yang dijumpai berupa sesar normal dengan arah umum relatif utara selatan dan barat timur, terutama di daerah penelitian bagian barat yang merupakan kontak antara batugamping Formasi Pamutuan (Tmpl) dengan breksi aneka bahan dari Formasi Jampang (Tomj). Pada Anggota Batugamping Formasi Pamutuan (Tmpl), struktur kekar yang berkembang sebagian besar te...</p>