lapan| pusat pemanfaatan penginderaan jauh aplikasi

Download LAPAN| Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh APLIKASI

Post on 12-Jan-2017

218 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • LAPAN| Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh

    APLIKASI PENGINDERAAN JAUH UNTUK MENDUKUNG PROGRAM KEMARITIMAN

    Gathot Winarso, M. Rokhis Khomarudin, Syarif Budhiman, dan Maryani Hartuti

    Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh - LAPAN

    Pendahuluan

    Program kemaritiman yang dicanangkan oleh Presiden Indonesia terpilih Bapak Ir. H. Joko Widodo dapat

    dianggap sebagai cara pandang bangsa Indonesia dalam memanfaatkan wilayah perairan lautnya.

    Pengertian negara maritim yang dapat diartikan sebagai negara yang memanfaatkan potensi laut untuk

    kejayaan negaranya (Rosihan Arsyad, 2012 dalam http://www.shnews.co/kolom/periskop/detile-23-

    kelautan-atau-maritim.html) lebih memperjelas arah program tersebut, yaitu Indonesia harus menjadi

    negara maritim yang dapat memanfaatkan potensi-potensi yang ada di perairan laut Indonesia. Modal

    dasar bangsa Indonesia untuk menjalankan program kemaritiman adalah keberadaan wilayah perairan

    laut Indonesia yang luas serta posisi Indonesia yang strategis terletak pada jalur pelayaran dunia. Dalam

    sejarah berdirinya Indonesia, kerajaan-kerajaan pendahulu Indonesia seperti Sriwijaya dan Majapahit

    merupakan kerajaan yang kuat karena memiliki armada laut yang sangat kuat. Pemanfaatan laut oleh

    nenek moyang kita sebagai sarana dalam membangun komunikasi dan perdagangan dengan bangsa lain

    juga tercatat dalam sejarah bahkan sampai ke wilayah Madagaskar di Afrika.

    Potensi-potensi yang mengarah pada program kemaritiman lebih mengerucut kepada segala aktifitas

    yang berada di lautan. Pelayaran dan perdagangan dunia yang selama ini melewati wilayah perairan

    Indonesia merupakan dampak dari posisi strategis Indonesia pada poros maritim dunia. Dukungan yang

    kuat di bidang ekonomi, politik dan hankam mutlak diperlukan untuk menunjukan pengaruh bangsa

    Indonesia dalam memanfaatkan potensi maritim yang ada bagi kepentingannya sendiri serta melindungi

    pemanfaatan dari pihak lain yang merugikan.

    Kekayaan laut yang utama adalah ikan dan biota laut lainnya. Maraknya penangkapan kapal asing yang

    melakukan penangkapan ikan di wilayah laut Indonesia merupakan bukti bahwa kekayaan laut Indonesia

    sangatlah berlimpah. Indonesia memiliki kekayaan alam laut yang beragam karena memiliki

    keanekaragaman hayati yang tinggi. Kurang optimalnya pemanfaatan kekayaan laut di Indonesia karena

    kurangnya teknologi baik untuk penangkapan maupun pengolahan hasil laut. Indonesia masih kalah

    dengan Singapura dan juga Pilipina dalam tingkat kemaritiman dunia. Kekayaan pesisir dan laut lainnya

    adalah Terumbu Karang, Mangrove, dan Lingkungan Pantai. Kekayaan ini merupakan kekayaan

    keanekaragaman hayati dan juga untuk kegiatan pariwisata. Jika kekayaan laut baik ikan, terumbu

    karang, mangrove, dan lingkungan pantai dimanfaatkan sebesar-besarnya, maka ini akan dapat

    meningkatkan kesejahteraan rakyat.

  • LAPAN| Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh

    Lapan sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang teknologi penerbangan dan antariksa telah lama

    mengembangan pemanfaatan penginderaan jauh untuk sumberdaya pesisir dan laut. Kegiatan yang

    sudah dikembangkan dan terus dikembangkan adalah

    1. Inventarisasi Pulau-Pulau Kecil Terluar

    2. Pemantauan dan Inventarisasi Mangrove

    3. Deteksi/klasifikasi Terumbu Karang

    4. Zona Potensi Penangkapan Ikan

    5. Deteksi Paramater Geo-bio-fisik laut (suhu permukaan laut, klorofil, tinggi permukaan laut, dll)

    6. Kualitas perairan pesisir untuk budidaya laut

    7. Pengamanan laut dengan ZPPI

    8. Kualitas perairan pesisir untuk pariwisata bahari

    9. Penentuan batimetri perairan yang dapat dijadikan sebagai informasi dalam pembangunan

    pelabuhan (catatan: untuk perairan yang jernih)

    Penjelasan mengenai kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Inventarisasi Pulau-pulau Kecil Terluar

    Indonesia memiliki pulau-pulau kecil terluar yang menjadi strategis karena fungsinya sebagai titik

    pangkal penentuan batas wilayah. Kehilangan 1 pulau terluar bisa saja akan mengurangi wilayah

    Indonesia yang cukup luas. Perhatian terhadap pulau kecil terluar mulai hangat menjadi pembicaraan

    akhir-akhir ini dan akhirnya menjadi isu nasional yang menjadi prioritas pembangunan. Dari namanya

    sudah terbayang bahwa pulau-pulau tersebut memiliki akses yang sulit karena belum adanya

    infrastruktur transportasi yang memadai, sehingga survei terestrial dengan mendatangi akan menemuhi

    banyak kesulitan dan membutuhkan biaya yang tinggi. Belum lagi jumlah pulau kecil terluar yang relatif

    banyak. Inventarisasi dan pemantauan sumberdaya alam, ekosistem dan lingkungan pulau-pulau kecil

    terluar sangat perlu dilakukan untuk menjaga keberadaan dan kelestarian sumberdaya alamnya.

    Penginderaan jauh memberi solusi dalam hal inventarisasi dan pemantauan karena dapat menjangkau

    daerah terpencil tanpa kesulitan karena mengukur dan memotret dari ketinggian satelit beredar.

    Keberadaan pulau, bentuk, penggunaan lahan, sumberdaya alam seperti terumbu karang, mangrove

    dan padang lamun bisa diidentifikasi dengan data penginderaan jauh. Tentu akan sangat efektif

    menggunakan teknologi ini untuk negara yang luas seperti Indonesia.

    Pada tahun 2004, telah dilakukan pembuatan album pulau-pulau kecil terluar yang berisi peta citra

    satelit (PCS) dari berbagai data yang tersedia diantaranya Landsat 7, SPOT-4 dan IKONOS. Selain PCS juga

    dibuat informasi geospasial lainnya yang diturnkan dari data penginderan jauh yaitu

    penggunaan/penutup lahan, sebaran terumbu karang dan hutan mangrove juga berisi ketinggian tanah.

    Album tersebut memberikan gambaran umum kondisi pulau-pulau kecil terluar dan dengan

    menggunakan data dengan akuisisi yang lebih baru kondisi perubahan bisa diamati. Pada tahun 2014,

    akan dan sedang dilakukan updating informasi geospasial pulau-pulau kecil terluar 30 buah dengan data

    SPOT-5 dan SPOT-6.

  • LAPAN| Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh

    Gambar 1. Peta Citra Satelit (PCS) dan Peta Penggunaan Lahan Pulau Nipa (Salah satu Pulau Kecil Terluar)

    2. Inventarisasi dan Pemantauan Mangrove Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang memiliki nilai penting di kawasan pesisir. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, selain itu ekosistem ini juga memiliki fungsi yang tinggi baik secara ekologis maupun secara ekonomi. Salah satunya adalah sebagai tempat memijah, berkembangbiak dan tempat membesarkan diri dari berbagai organism laut. Secara tidak langsung, kualitas ekosistem mangrove akan mempengaruhi produktifitas perikanan secara umum di kawasan laut yang berdekatan. Fungsi fisik dari hutan mangrove diantaranya: sebagai pengendali naiknya batas antara permukaan air tanah dengan permukaan air laut ke arah daratan (intrusi), sebagai kawasan penyangga, memacu perluasan lahan dan melindungi garis pantai agar terhindar dari erosi atau abrasi. Terkait dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim, ekosistem mangrove memiliki peranan yang penting yaitu sebagai salah satu stok karbon yang sangat potensial. Hasil penelitian terkini menyebutkan bahwa hutan mangrove memiliki stok karbon tertinggi dibandingkan dengan ekosistem hutan tropis lainnya (Donato, et al. 2011). Ekosistem mangrove yang masih sehat akan menjadi penimbun karbon yang potensial dan jika terjadi konversi lahan, akan terjadi pelepasan karbon yang akan berakibat meningkatnya karbon di atmosfir yang bisa meningkatkan efek rumah kaca. Ekosistem mangrove menjadi bagian dari perdagangan karbon yang penting di masa yang akan datang. Akan tetapi ekosistem ini mulai terancam dan terdegradasi. Berbagai alih fungsi dan penurunan kualitas terus terjadi. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan dan pelestarian ekosistem ini. Penginderaan jauh memberikan kemudahan dalam inventarisasi dan pemantauan mangrove karena mangrove tumbuh baik hanya pada daerah pasang surut sehingga kombinasi vegetasi dan tanah basah / genangan memberikan kenampakan yang khas pada data penginderaan jauh. Luas dan sebaran hutan mangrove di seluruh Indonesia sudah dipetakan dan dipantau dari tahun ke tahun dengan selan tertentu. Penelitian dan pengembangan metode deteksi hutan mangrove telah lama dilakukan sejak adanya data Landsat 5 di berbagai daerah di Indonesia. Tetapi pemetaan hutan mangrove eksisting baru dilakukan sekitar tahun 1999 bekerja sama dengan Departemen Kehutanan dan IPB. Metode yang telah berkembang sehingga bannyak instansi menggunakan metode tersebut untuk melakukan pemetaan

  • LAPAN| Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh

    sendiri seperti Departemen Kehutanan, Bakosurtanal dan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk wilayah seluruh Indonesia.

    Gambar 2. Informasi Spasial Sebaran Hutan Mangrove (berwarna) di Segara Anakan Cilacap,

    perbedaan warna menunjukkan tingkat Indeks Mangrove (Winarso dan Purwanto, 2014) yang mengindikasikan kualitas dari mangrove sejati

    Pada tahun 2011 telah dilakukan penelitian dan pengembangan identifikasi hutan mangrove menggunakan data ALOS AVNIR yang merupakan data dengan resolusi yang lebih baik dari Landsat dan SPOT yang diharapkan akan memberikan hasil yang lebih baik. Litbang diteruskan pada Tahun 2013 dengan tujuan membedakan jenis mangrove melalui data penginderaan jauh dan menghitung simpanan karbon di hutan mangrove. Penelitian tentang jenis belum selesai dilakukan karena cukup sulit dan membutuhkan penelitian yang teliti dan konsentrasi penuh. Penghitungan simpanan karbon yang dilakukan baru pada karbon di atas permukaan tanah yang diturunkan dari informasi biomasa (above gr