laporan alk

84
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semakin menjamurnya bisnis waralaba di Indonesia dewasa ini, menunjukkan bahwa banyak masyarakat Indonesia tidak hanya inin menjadi karyawan kantoran biasa dengan upah standar, namun juga mulai gencar melirik bisnis yang dibangun sendiri mulai dari modal kecil hingga modal besar. Mulai bisnis rumahan hingga bisnis skala besar ataupun bisnis online yang sedang marak saat ini, serta tidak ketinggalan untuk beramai- ramai mendirikan usaha yang dapat dibuat waralabanya atau sebaliknya membeli dari usaha yang sudah ternama menjadi terwaralaba. Salah satu usaha waralaba berbentuk swalayan yang sudah ternama adalah Alfamart. Alfamart merupakan milik PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk yang merupakan perusahaan waralaba swalayan yang menjual barang keperluan sehari-hari, yang cukup lengkap dengan harga terjangkau serta tempat yang nyaman dan jaringan alfamart yang luas hampir diseluruh Indonesia. 1

Upload: ridwansopiansyah

Post on 24-Nov-2015

238 views

Category:

Documents


6 download

DESCRIPTION

Laporan ALK

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang MasalahSemakin menjamurnya bisnis waralaba di Indonesia dewasa ini, menunjukkan bahwa banyak masyarakat Indonesia tidak hanya inin menjadi karyawan kantoran biasa dengan upah standar, namun juga mulai gencar melirik bisnis yang dibangun sendiri mulai dari modal kecil hingga modal besar. Mulai bisnis rumahan hingga bisnis skala besar ataupun bisnis online yang sedang marak saat ini, serta tidak ketinggalan untuk beramai-ramai mendirikan usaha yang dapat dibuat waralabanya atau sebaliknya membeli dari usaha yang sudah ternama menjadi terwaralaba.Salah satu usaha waralaba berbentuk swalayan yang sudah ternama adalah Alfamart. Alfamart merupakan milik PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk yang merupakan perusahaan waralaba swalayan yang menjual barang keperluan sehari-hari, yang cukup lengkap dengan harga terjangkau serta tempat yang nyaman dan jaringan alfamart yang luas hampir diseluruh Indonesia.Dari sudut pandang industri usaha dalam bidang minimarket mampu bertahan di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi, seperti resesi. Konsumen berupaya menjaga konsumsi dalam memenuhi kebutuhan pokok walaupun di tingkat yang lebih rendah. Dengan demikian tingkat penjualan di gerai-gerai ritel konsumen seperti Alfamart tidak terpengaruh secara drastis.Dalam sebuah perusahaan aspek keuangan merupakan hal terpenting baik perusahaan profit maupun non-profit karena hal tersebut dapat membantu perusahaan dalam mengambil keputusan dalam berinvestasi atau mencari keuntungan. Aspek keuangan dapat diketahui melalui penilaian kinerja keuangan, yang membantu perusahaan dalam menetapkan dan mengambil keputusan dalam menentukan sikap dan kelangsungan aktifitas perusahaan.Pada hubungannya dengan penilaian kinerja keuangan tidak hanya diperlukan oleh pihak dalam (intern) perusahaan seperti pemilik dan manajer perusahaan. Bagi pihak luar perusahaan (extern) seperti investor maupun kreditor, penilaian kinerja keuangan mampu menunjukkan perkembangan keuangan perusahaan. Sehingga perusahaan dapat menarik investor untuk menaruh modal mereka dalam perusahaan yang dapat membantu aktifitas bisnis perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan.Alfamart atau bisa di sebut PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk telah menjadi salah satu perusahaan ritel terkenal di Indonesia dan juga salah satu perusahaan yang berkontribusi dalam membuka lapangan pekerjaan di Indonesia. Maka dari itu penulis tertarik mengetahui kinerja keuangn PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk.1.2 Pembatasan MasalahMasalah yang dibahas dalam makalah ini hanya analisis pada laporan keuangan PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk Periode tahun berakhir 31 Desember 2010 dan 31 Desember 2011 dengan analisa SWOT dan analisa Industri pada PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk dan PT. Indomarco Prismatama. Serta rasio keuangan beserta analisis perbandingan berdasarkan laporan keuangan sebelumnya untuk PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk.1.3 Rumusan MasalahAdapun rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut :1. Apa yang dimaksud dengan Kinerja Keuangan?2. Apa yang dimaksud dengan Analisa Laporan Keuangan?3. Apa yang dimaksud dengan Analisa SWOT?4. Bagaimana Kinerja Keuangan Perusahaan PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk tahun 2010-2011 apabila di tinjau melalui Analisa Perbandingan, Analisa Trend, Analisa Common Size dan Analisa Ratio?5. Bagaimana kondisi laporan keuangan perusahaan apabila di tinjau melalui Analisa Laporan Arus Kas?

1.4 Tujuan MakalahAdapun tujuan yang ingin di capai dari penelitian ini adalah mengetahui kinerja perusahaan sebagai berikut :1. Mengetahui pengertian kinerja keuangan, analisa laporan keuangan dan analisa SWOT.2. Mengetahui kinerja keuangan perusahaan PT, Sumber Alfaria Trijaya, Tbk yang ditinjau melalui Analisa Perbandingan, Analisa Trend, Analisa Common Size dan Analisa Ratio.3. Mengetahui kondisi laporan keuangan perusahaan yang ditinjau melalui Analisa Laporan Arus Kas.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kinerja Keuangan Kinerja keuangan dapat dikatakan sebagai hasil dari aktifitas bisnis perusahaan dalam mengolah aset perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian semakin efisien dan efektif perusahaan dalam mengelola aset perusahaan, dapat dikatakan semakin baik kinerja perusahaan. Kinerja keuangan dapat menjadi perbandingan perusahaan dengan perusahaan lain yang menjalankan bisnis sejenis. Kinerja keuangan perusahaan umumnya dapat diketahui melalui laporan keuangan yang telah diterbitkan perusahaan.Menurut Mulyadi (1997:419) Penelitian Kinerja adalah penentuan secara periodik efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang di tetapkan sebelumnya. Dalam melakukan penelitian kinerja keuangan dapat digunakan beberapa informasi keuangan seperti menghitung Return On Investment, menghitung Residual Income (RI), menghitung EVA (Economic Value Added) dan Rasio-rasio keuangan.2.2 Analisa Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan ringkasan dari peristiwa dan kejadian yang bersifat keuangan dalam suatu periode tertentu. Pada umumya laporan keuangan terdiri dari neraca, laba rugi, serta laporan perubahan modal, dimana neraca menunjukkan jumlah aktiva, hutang dan modal dalam perusahaan. Laba-Rugi memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan dan biaya yang terjadi selama periode tertentu. Laporan perubahan modal menunjukkan alasan-alasan yang menyebabkan perubahan modal perusahaan. Sementara, yang dimaksud dengan analisa laporan keuangan adalah suatu alat yang digunakan untuk menganalisa prestasi perusahaan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Dari analisa tersebut dapat diketahui tingkat keberhasilan yang dicapai perusahaan dalam bidang keuangan. Analisa keuangan juga mampu membantu perusahaan dalam mengidentifikasi maslah keuangan yang dialami perusahaan. Analisa laporan keuangan dapat melengkapi informasi keuangan yang telah tersedia pada laporan keuangan.Menurut Munawir (2002:36) Terdapat dua metode yang dalam menganalisa laporan keuangan metode horizontal dan metode vertikal. Metode horizontal membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode, sehingga akan dapat diketahui perkembangannya. Metode analisa vertikal, memperbandingkan anata pos yang satu dengan pos yang lainnya dalam laporan keuangan tersebut selama satu periode, sehingga hanya akan diketahui keadaan keuangan atau hasil operasi pada saat itu juga.2.3 Analisa Rasio KeuanganAnalisa rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan rugi laba secara individual/ kombinasi dari kedua laporan tersebut. Analisis rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Rasio ini akan lebih bermanfaat terutama apabila rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio yanng digunakan sebagai standar.Dengan menggunakan laporan yang diperbandingkan, termasuk data tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam jumlah rupiah, prosentase serta trendnya, penganalisa menyadari bahwa beberapa rasio secara individu akan membantu dalam menganalisa dan menginterpretasikan posisi keuangan suatu perusahaan secara keseluruhan.

Analisa rasio ini memiliki keunggulan dibidang teknik analisa lainnya. Menurut Harapan (2004:298) keunggulan tersebut adalah :a. Rasio merupakan angka-angka yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan,b. Pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan,c. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain,d. Bahan dalam mengisi model pengambilan kepputusan dan model prediksi (Z-score),e. Menstandarisir size perusahaan,f. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau time seriesg. Lebih mudah melakukan prediksi di masa yang akan datang.Namun analisa rasio juga memiliki kekurangan karena pengukuran kinerja keuangan dengan rasio mendorong manajer untuk lebih fokus pada biaya jangka pendek ketimbang biaya jangka panjang. Terdapat berbagai macam analisa rasio yang digunakan untuk menganalisa laporan keunagan :1. Rasio likuiditas (liquidity), rasio ini digunakan untuk menilai tingkat likuiditas perusahaan dalam kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek.2. Rasio solvabilitas, rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun janngka panjang apabila perusahaan dibubarkan (dilikuidasi).3. Rasio rentabilitas, rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dengan semua modal yang bekerja di dalamnya. Rentabilitas merupakan pencerminan efisiensi suatu perusahaan di dalam menggunakan modal kerjanya, maka cara meggunakan tingkat rentabilitas untuk ukuran efisiensi suatu perusahaan merupakann cara yang baik.

2.4 Konsep Analisa Laporan Keuangan dengan Rasio KeuanganMenurut Martono (2002: 55-60) pada dasrnya alat rasio keuangan diklasifikasikan menjadi empat (4) kelompok antara lain:2.4.1 Rasio LikuiditasRasio likuiditas adalah alat ukur untuk melihat apakah unit usaha tersebut cukup likuit dalam menjalankan usahanya selama periode mendatang. Rasio ini terdiri atas:1. Current Ratio.Rasio ini menunjukkan sampai dimana hutang-hutang jangka pendek dapat dibayar dari aktiva-aktiva yang dapat dijadikan uang pada waktu yang sama misal, jangka waktu pembayaran hutang-hutang jangka pendek. Secara umum rasio ini bisa dikatakan baik, jika nilainya mencapai 2 atau 200%.

2. Quick Ratio.Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan suatu unit usaha dalam utang-utang jangka pendeknya, tanpa mengutamakan persediaan. Suatu unit usaha dikatakan mampu membayar utang jangka pendeknya, jika nilainya lebih besar dari satu (1) atau lebih dari 100%.

3. Cash Ratio.Rasio ini menunjukkan kemampuan suatu unit usaha dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan uang kas dan surat berharga yang mudah diuangkan.

2.4.2 Rasio AktivitasRasio aktivitas menunjukkan seberapa efektif aset-aset usaha dalam menghasilkan pendapatan. Adapun rasio aktivitas yang sering digunakan yaitu:1. Total Asset Turn Over (TATO)Rasio ini mengukur perputaran dana yang tertanam dalam aktiva selama periode tertentu yang diinvestasikan untuk menghasilkan pendapatan. Selain itu juga dapat mengukur perputaran aset yang dimilki suatu unit usaha.

2. Working Capital Turn Over (WCTO)Rasio ini menunjukkan keefektikan modal kerja, menunjukkan hubungan modal kerja dengan penjualan, serta banyaknya penjualan yang diperoleh suatu unit usaha untuk setiap rupiah modal kerja.

3. Receivable Turn OverRasio ini menunjukkan tingkat perputaran piutang dalam suatu periode tertentu. Semakin tinggi perputarannya berarti semakin cepat pula pengembalian modal yang tertanam dalam piutang yang berbentuk kas.

4. Average Collection PeriodRasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan suatu unit usaha dalam mengumpulkan jumlah piutang setiap jangka waktu tertentu.

2.4.3 Rasio LeverageKreditor jangka panjang maupun jangka pendek akan memperhatikan benar seberapa banyak kegiatan koperasi atau badan usaha lain yang dibiayai utang. Jika koperasi atau badan usaha lain mempunyai utang jangka panjang yang sangat tinggi dalam struktur permodalan koperasi atau badan usaha lain, maka para kreditor akan berfikir bahwa koperasi atu badan usaha lain akan mudah gulung tikar dan tidak akan bisa melunasi utangnya. Demikian dengan pemilik koperasi atau badan usaha lain akan mempertmbangkan beberapa kembalian yang bisa didapat dari komposisi banyak sedikitnya utang dalam struktur permodalan. Rasio ini meliputi :1. Debt to Total asset.Rasio menunjukkan berapa persen aset suatu unit usaha yang diberikan kreditur.

2. Debt to EquityRasio ini mengukur seberapa jauh suatu unit usaha dibiayai oleh pinjaman. Semakin tinggi nilainya berarti semakin besar dana yang dipinjam dari pihak luar.

2.4.4 Rasio ProfitabilitasRasio ini menunjukkan efektivitas menciptakan laba. Laba pada dasarnya menunjukkan seberapa baik koperasi/badan usaha lain dalam membuat keputusan investasi dan pembiayaan. Koprasi/badan usaha harus mampu menyiapkan uang dari laba koperasi/badan usaha lain dalam membayar utang dan membayar deviden dengan mengoptimalkan pemanfatan seluruh asetnya. Adapun rasio ini yang sering digunakan antara lain :1. Net Profit Margin (NPM)Rasio ini mengukur kemampuan suatu unit usaha dalam menghasilkan laba bersih dari setiap penjualan.

2. Return On Investment (ROI)Rasio ini mengukur berapa besar tingkat pengembalian atas investasi.

3. Gross Profit Margin (GPM)Rasio ini mengukur laba kotor yang dapat dicapai dalam setiap penjualan.2.5Analisa SWOTAnalisa SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities)yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru.

Teknik ini dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset pada Universitas Stanford pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan.

BAB IIIPEMBAHASAN

3.1 Profil Perusahaan PT. Sumber Alfaria Trijaya, TbkPT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk didirikan pada tahun 1989 oleh Djoko Susanto dan keluarga PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk (Alfamart/Perseroan), mengawali usahanya di bidang perdagangan dan distribusi, kemudian pada tahun 1999 mulai memasuki sektor minimarket. Ekspansi secara ekponensial dimuai Perseroan pada tahun 2002 dengan mengakusisi 141 gerai AlfaMinimart dan membawa nama baru yaitu Alfamart.Saat ini alfamart merupakan salah satu yang terdepan dalam usaha ritel dengan melayani lebih dari 2,1 juta pelanggan setiap hari di hampir 6000 gerai yang tersebar hampir di seluruh Indonesia. Alfamart menyediakan barang-barang kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau, tempat belanja yang nyaman serta lokasi yang stategis dekat dengan konsumen. Didukung lebih dari 60.000 karyawan menjadikan Alfamart salah satu pembuka lapangan kerja terbesari di Indonesia.Alfamart adaah gerai komunitas karenanya Alfamart selalu berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang terbagi menjadi Alfamart Care yang membantu masyarakat melalui kegiatan-kegiatan sosial. Alfamart Smart mendukung bidang pendidikan, Alfamart Sport mensposori kegiatan olahraga, Alfamart Clean anda Green mewujudkan lingkungan yang sehat, Alfamart SMEs membantu pengusaha-pengusaha kecil dan menengah yang ada di sekitar gerai-gerai Alfamart serta Alfamart Vaganza yang secara aktif ikut terlibat dalam mengembangkan seni dan dan budaya.

Atas segala prestasi dan perannya dalam masyarakat, Alfamart menerima berbagai penghargaan dari intitusi-intitusi dengan reputasi terpecaya, diantaranya :1. Top Brand Award 2008-20102. Superbrands Indonesia Award 2008/20093. Indonesias Digital Marketing Award 20104. The Net Promoter Loyalty Award 20105. Service Quality Award 20106. Rekor Bisnis Award 20107. Best Brand Award 2008-20118. Indonesias Most Admire Company 2009-20119. The Word of Mounth Marketing Award 2009-201110. The Womens No 1 Choice 201111. The Indonesia Original Brand 201112. CSR Award 2011Alfamart juga berhasil mencapai Store Equity Index tertinggi berdasarkan Nielsen Research selama 5 tahun.Visi Alfamart adalah menjadi jaringan distribusi retell terkemuka yang dimiliki oleh masyarakat luas, berorientasi kepada pemberdayaan pengusaha kecil, pemenuhan kebutuhan dan harapan konsumen, serta mampun bersaing secara global.Misi Alfamart adalah : Memberikan kepuasan kepada pelanggan atau konsumen dengan berfokus pada produk dan pelayana yang berkualitas unggul. Selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal yang dilakukan dan selalu menegakkan tingkah laku/etika bisnis yang tinggi. Ikut berpartisipasi dalam membangun Negara dengan menumbuh kembangkan jiwa wiraswasta dan kemitraan usaha. Membangun organisasi global yang terpercaya, sehat dan terus bertumbuh dan bermanfaat bagi pelanggan, pemasok, karyawan, pemegang saham dan masyarakat pada umumnya.Alfamart juga mempunyai Nilai-Nilai Perusahaan yang disebut Nilai-Nilai 2I 3K yaitu : Integritas yang tinggi Jujur, disiplin dan konsisten dalam bekerja. Berlandaskan etika serta bertanggungjawab terhadap pekerjaan. Inovasi untuk Kemajuan yang lebih baik Kreatif dalam bekerja, berkomitmen untuk melakukan perbaikan cara kerja secara terus menerus. Kualitas dan Produktivitas yang tinggi Mampu menjalankan tugas serta focus pada pencapaian hasil kerja yang lebih baik. Kerjasama Tim Terlibat aktif serta mendorong terciptanya semangat dan kekompakan dalam tim. Kepuasan Pelanggan Melalui pelayanan yang terbaik berinisiatif tinggi memenuhi kebutuhan dan memastikan terciptanya kepuasan pelanggan.

3.2 Profil Perusahaan PT. Indomarco Prismatama

Berawal dari pemikiran mempermudah penyediaan kebutuhan pokok sehari-hari karyawan, maka pada tahun 1988 didirikan sebuah gerai yang diberi nama indomaret. Sejalan pengembangan operasional toko, perusahaan tertarik untuk lebih mendalami dan memahami berbagai kebutuhan dan perilaku konsumen dalam berbelanja. Guna mengakomodasi tujuan tersebut, beberapa orang karyawan ditugaskan untuk mengamati dan meneliti perilaku belanja masyarakat. Kesimpulan yang didapat adalah bahwa masyarakat cenderung memilih belanja di gerai modern berdasarkan alasan kelengkapan pilihan produk yang berkualitas, harga yang pasti dan bersaing, serta suasana yang nyaman.

Berbekal pengetahuan mengenai kebutuhan konsumen, keterampilan pengoperasian toko dan pergeseran perilaku belanja masyarakat ke gerai modern, maka terbit keinginan luhur untuk mengabdi lebih jauh bagi nusa dan bangsa. Niat ini diwujudkan dengan mendirikan indomaret, dengan badan hukum PT. Indomarco Prismatama yang memilliki visi menjadi jaringan ritel yang unggul serta motto mudah dan hemat.

Pada mulanya indomaret membentuk konsep penyelengaran gerai yang berlokasi di dekat hunian konsumen, menyediakan berbagai kebutuhan pokok maupun kebutuhan sehari-hari, melayani masyarakat umum yang bersifat majemuk, serta memiliki luas sekitar 200 m2.

Seiring dengan perjalanan waktu dan kebutuhan pasar, indomaret terus menambah gerai di berbagai kawasan perumahan, perkantoran, niaga, wisata dan apartemen. Dalam hal ini terjadilah proses pembelajaran untuk pengoperasian suatu jaringan retail yang berskala besar, lengkap dengan berbagai pengalaman yang kompleks dan bervarisi.

Setelah menguasai pengetahuan dan keterampilan mengoperasikan jaringan ritel dalam skala besar, manajemen berkomitmen untuk menjadikan indomaret sebagai sebuah asset nasional. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa seluruh pemikiran dan pengoperasian Perusahaan ditangani sepenuhnya oleh putra putri Indonesia. Sebagai asset nasional, indomaret ingin berbagi kepada masyarakat Indonesia melalui bisnis waralaba dan juga mampu bersaing dalam persaingan global. Oleh karena itu, visi perusahaan kemudian berkembang menjadi asset nasional dalam bentuk jaringan ritel waralaba yang unggul dalam persaingan global.

Konsep bisnis waralaba indomaret adalah yang pertama dan merupakan pelopor di bidang minimarket Indonesia. Sambutan masyarakat ternyata sangat positif, terbukti dengan peningkatan jumah Terwaralaba indomaret dari waktu ke waktu. Konsep bisnis waralaba Perusahaan juga diakui oleh pemerintah melalui penghargaan yang diberikan kepada indomaret selaku Perusahaan Waralaba Unggul 2003. Penghargaan semacam ini adalah yang pertama kali diberikan kepada perusahaan minimarket di Indonesia dan sampai saat ini indomaret yang menerimanya.

Saat ini indomaret berkembang sangat pesat dengan jumlah gerai mencapai lebih dari 8.814 di wilayah Jawa, Madura, Bali, Sumatera dan Sulawesi, terdiri dari 40% gerai milik terwaralaba dan 60% gerai milik Perusahaan. Sebagian besar pasokan barang dagangan untuk seluruh gerai berasal dari 17 pusat distribusi indomaret yang menyediakan lebih dari 4.800 jenis produk.

3.3 Analisa SWOT PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk dan PT. Indomarco Prismatama

Analisa SWOTPT. Sumber Alfaria Trijaya, TbkPT. Indomarco Prismatama

Kekuatan (Strengths)Alfamart mengembangkan franchise yang mempunyai tujuan menjadi asset nasional dalam bentuk jaringan waralaba yang unggul dalam persaingan nasionalPertumbuhan franchise yang terbukti tinggi di setiap tahunnya

Investasi franchise Alfamart yang ditawarkan sangat kompetitifFranchise yang bergerak di bidang rital yang siap go Internasional

Penempatan lokasi pabrik dan head office di beberapa wilayah yang sudah cukup strategisMampu menjual barang eceran dengan harga lebih murah

Alfamart merupakan pelopor waralaba bidang ritail di IndonesiaMemperoleh Pasokan barang dari salah satu distributor terbesar produk kebutuhan sehari-hari yaitu Indomarco

Kelemahan (Weaknesses)Penyetokan barang terkesan lambat sehingga harga atau barang yang baru belum ter-update.Franchise fee yang di tawarkan relative tinggi

Promosi yang dilakukan kurang efektif sehingga minat pelanggan kurang.Di beberapa daerah kurang mengenal Indomaret karena kurang promosi

Break Event Points yang di tawarkan 4 tahun

Peluang (Opportunities)Masih terdapat beberapa daerah yang potensial yang belum dimasuki oleh AlfamartPerlunya promosi yang lebih gencar agar lebih dikenal dan laku di pasaran

Dengan adanya perdagangan bebas, maka peluang mengembangkan franchise akan semakin besarMempunyai kesempatan untuk memperluas jaringan secara lebih cepat dengan menggunakan modal seminimal mungkin

Ancaman (Threats)Jarak antara competitor terlalu dekatJarak antara competitor terlalu dekat

Ancaman perda tentang kemajuan UKM tradisionalAncaman perda tentang kemajuan UKM tradisional

3.4 Analisa Industri PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk

Kinerja keuangan Perseroan selama tahun 2011 mencapai prestasi yang baik. Di tengah persaingan yang ketat, Perseroan berhasil mencapai penjualan bersih sebesar Rp 18,2 triliun, dan membukukan laba bersih sebesar Rp 360,7 miliar meningkat 41,0% daritahun sebelumnya.

Pertumbuhan yang kuat di Cina dan India, serta membaiknya proyeksi ekonomi Amerika Serikat membantu dalam meletakkan dasar ekonomi makro bagi pencapaian Perseroan di tahun 2011. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh sebesar 6,5% di 2011, didukung oleh berlanjutnya permintaan konsumen yang kuat serta aliran masuk investasi bersih asing, seiring dengan perbaikan peringkat hutang Indonesia oleh Moodysdan Fitchs Rating menjadi Investment Grade.

Permintaan pasar konsumen domestik selama tahun 2011 didukung oleh peningkatan daya beli konsumen seiring dengan perbaikan tingkat pendapatan masyarakat. Tingkat suku bunga domestik yang stabil dan cukup rendah juga telah membantu mendorong pertumbuhan yang kuat dalam pengeluaran konsumen. Ekonomi domestik yang kuat telah menarik aliran modal asing, yang membantu berkontribusi terhadap likuiditas domestic dan tekanan inflasi. Intervensi Bank Indonesia untuk menjaga tingkat Rupiah yang stabil telah mengakibatkan peningkatan yang tajam padacadangan devisa hingga mencapai AS$ 110,1 miliar pada akhir tahun 2011(sumber: Bank Indonesia).

Berlanjutnyakinerjasektorperbankan Indonesia yang sehat dan kuat juga telah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan penyaluran dana untuk investasi usaha di sektor riil. Perusahaan-perusahan juga terus memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif pendanaan untuk ekspansi bisnis, seperti terlihatpadakinerjaBursa Efek Indonesia yang menggembirakan sebesar 3,2% dari tahun 2010 dengan IndexHarga Saham Gabungan berada di level 3.821,9.

Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan pasar keuangan domestik yang kuat membuat Indonesia relative tahan terhadap krisis keuangan global. Hal ini tentunya menjadi landasan kuat bagi perekonomian yang stabil dan pertumbuhan yang berkelanjutan di tahun mendatang.Prospek Industri.

Industri riteldi Indonesia terus berkembang dengan baik dan mempunyai banyak pemain pasar baik perusahaan lokal maupun asing. Meningkatnya daya beli masyarakat menjadi pendorong utama pertumbuhan industri ritel di tanah air. Nilai pasar industri ritel pada 2011 diperkirakan mencapai Rp 156 triliun (sumber: Nielsen Retail Audit), tumbuh 11,6% dari tahun sebelumnya. Menurut prediksi Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (APRINDO), industry ritel masih dapat tumbuh 10%-15% pada tahun 2012, dengan sector makanan dan minuman serta fashion masih menjadi pendorong utama pertumbuhan industri.

Seiring perkembangan industri ritel tersebut, pengembangan jaringan Perseroan diharapkan bertumbuh makin baik di tahun-tahun mendatang. Dengan perluasan jaringan tentunya akan semakin mempermudah Perseroan dalam terus mengembangkan bisnis Value Added Service yang berbasis jaringan. Perseroan juga berharap untuk terus dapat mengembangkan penjualan produk-produk berkualitas dalam bentuk private label.

Kuatnya industri ritel yang ditopang oleh kebijakan perbankan yang makin memudahkan akses investasi menjadi peluang tersendiri bagi bisnis waralaba yang dikembangkan Perseroan. Dengan iklim investasi yang kondusif dan prospek besar industri ritel untuk tumbuh dengan stabil, diharapkan bisnis waralaba dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan Perseroan di tahun 2012.

3.5 Tabel Perbandingan, Trend dan Common Size

3.6 Perhitungan RatioNoRatioPeriode

20102011

I. Ratio Likwiditas

1Current ratio78%83,3%

2Acid test ratio24,5%31,6%

3Cash ratio15,7%18,9%

4Perputaran piutang57,1 x41,1 x

5Periode rata-rata pengumpulan piutang6,3 hari8,8 hari

6Perputaran persediaan9 x10,9 x

7Periode rata-rata persediaan tersimpan digudang40 hari33 hari

8Perputaran modal kerja23 x35,2 x

II. Ratio Solvabilitas

1Ratio modal dengan aktiva25,5%29,1%

2Ratio modal dengan aktiva tetap51,7%60%

3Ratio aktiva tetap dengan hutang jangka panjang521,5%535%

4Nilai buku saham prioritas

5Nilai buku saham biasa

6Ratio hutang jangka panjang dengan modal sendiri37,1%31,1%

7Rasio hutang dengan modal sendiri292,9%243,4%

8Rasio hutang dengan aktiva74,5%70,9%

III. Ratio Rentabilitas

1Rasio laba usaha dengan aktiva usaha8,2%9,9%

2Perputaran aktiva usaha3,3 x3,6 x

3Gross margin ratio15,3%15,5%

4Operating margin ratio2,5%2,7%

5Net margin ratio2,6%2,1%

6Operating Ratio98,3%98%

7Rate of ROI6,8%8,2%

8Net rate of ROI6,6%7,2%

9Rentabilitas modal sendiri23,6%24,7%

10Laba per lembar saham biasa

3.7 Analisa Perbandingan

3.7.1 Analisa Neraca PerbandinganBerdasarkan neraca yang diperbandingkan diatas dapat diketahui perubahan perubahan sebagai berikut :1. Aktiva lancar mengalami peningkatan sebesar Rp 416.975.000.000 atau sebesar 19% dari tahun 2010 sebesar Rp 2.165.078.000.000 menjadi Rp 2.582.053.000.000 pada tahun 2011. Hal ini disebabkan karena peningkatan yang signifikan terlihat pada akun Kas dan setara kas yaitu sebesar 35%. Peningkatan tersebut terjadi karena adanya peningkatan penjualan, peningkatan yang signifikan terliat pula pada akun piutang usaha pihak ketiga sebesar 61%, piutang usaha lain-lain sebesar 96%, namun piutang usaha pihak berelasi turun sebesar 46%, Persediaan naik sebesar 6%, bagian lancar biaya sewa dibayar dimuka naik sebesar 33%, Asset lancar lainnya naik sebesar 16%, dan pajak pertambahan nilai dibayar dimuka turun sebesar 42%.2. Total aktiva tetap mengalami peningkatan sebesar Rp 335.028.000.000 atau sekitar 16% dari tahun 20010 sebesar Rp 2.097.851.000.000 menjadi Rp 2.432.879.000.000 pada tahun 2011. Hal ini disebabkan karena sebagian besar aktiva tetap mengalami penambahan pada akun investasi jangka panjang sebesar 10%, asset tetap setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar 14%, biaya sewa dibayar dimuka sebesar 21%, taksiran tagihan pajak penghasilan sebesar 141%, dan asset tidak lancar lainnya sebesar 81%, sedangkan biaya ditangguhkan turun sebesar 4%.3. Total hutang jangka pendek mengalami peningkatan sebesar Rp 324.185.000.000 atau sekitar 12% dari tahun 2010 sebesar Rp 2.775.514.000.000 menjadi Rp 3.099.699.000.000 pada tahun 2011. Hal ini disebabkan adanya peningkatan pada hutang bank jangka pendek sekitar 22%, hutang usaha pihak-pihak berelasi sebesar 20%, hutang usaha pihak ketiga sebesar 14%, hutang usaha lain-lain pihak ketiga sebesar 15%, hutang pajak sebesar 55%, biaya yang masih harus dibayar sebesar 19%, lalu hutang sewa pembiayaan sebesar 402%, hutang bank 38%, penghasilan ditangguhkan 34%, sedangkan hutang deviden turun sebesar 100%. 4. Total hutang jangka panjang mengalami peningkatan sebesar Rp 52.444.000.000 atau sekitar 13% dari tahun 2010 sebesar Rp 402.309.000.000 menjadi Rp 454.753.000.000 pada tahun 2011. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan pada liabilities pajak tangguhan sebesar 99%, hutang sewa pembiayaan 441%, penghasilan ditangguhkan sebesar 36%, liabilities imbalan kerja karyawan sebesar 31% walaupun hutang bank turun sebesar 1%. 5. Total modal mengalami peningkatan sebesar Rp 375.374.000.000 atau sekitar 35% dari tahun 2010 sebesar Rp 1.085.106.000.000 menjadi Rp 1.460.480.000.000 pada tahun 2011. Hal ini disebabkan karena adanya penambahan saldo laba telah ditentukan penggunaannya sebesar 50%, saldo laba belum ditentukan penggunaannya 67% dan pendapatan komprehensif lainnya sebesar 14%.

3.7.2 Analisa Laporan Laba Rugi Perbandingan

Dengan menganalisa laporan Laba Rugi yang diperbandingkan antara tahun 2010 & 2011 diperoleh berbagai kesimpulan yang dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan, disamping itu diketahui tingkat perkembangan dan efisiensi yang telah dicapai perusahaan diantaranya :1. Total penjualan mengalami peningkatan sebesar Rp 4.163.487.000.000 atau sekitar 30% dari tahun 2010 sebesar Rp 14.063.557.000.000 menjadi Rp 18.227.044.000.000 pada tahun 2011. 2. Harga pokok pendapatan mengalami peningkatan sebesar Rp 3.488.067.000.000 atau sekitar 29% dari tahun 2010 sebesar Rp 11.918.051.000.000 menjadi Rp 15.406.118.000.000 pada tahun 2011. Hal ini disebabkan karena harga pokok pendapatan meningkat seiring dengan meningkatnya penjualan.3. Laba kotor meningkat sebesar Rp 675.420.000.000 atau sekitar 31% dari tahun 2010 sebesar Rp 2.145.506.000.000 menjadi Rp 2.820.926.000.000 pada tahun 2011. Hal ini disebabkan karena penjualan yang meningkat.4. Laba usaha meningkat sebesar Rp 147.537.000.000 atau sekitar 42% dari tahun 2010 sebesar Rp 349.523.000.000 menjadi Rp 497.060.000.000 pada tahun 2011. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan pendapatan dan biaya operasi yaitu beban penjualan dan distribusi sebesar 32%, beban umum dan administrasi sebesar 22%, pendapatan operasi lainnya sebesar 27% namun beban operasi lainnya turun sebesar 76%5. Total biaya dan pendapatan non operasional menurun yaitu pendapatan keuangan sebesar 1% sedangkan biaya keuangan meningkat sebesar 45%. 6. Laba sebelum pajak penghasilan badan meningkat sebesar Rp 119.741.000.000 atau sekitar 41% dari tahun 2010 sebesar Rp 290.239.000.000 menjadi Rp 409.980.000.000 pada tahun 2011. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan seluruh pendapatan yang lebih besar dibanding peningkatan seluruh biaya yang dikeluarkan.

3.8 Analisis TrendDari hasil perhitungan analisis trend laporan keuangan Neraca perbandingan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Tahun 2010 dan 2011 diketahui bahwa :1. Kas dan Setara kas yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 135% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.2. Pihutang usaha pihak berelasi yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 54% lebih kecil dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010. Artinya bagian penagihan piutang bekerja lebih efektif.3. Pihutag Usaha pihak ke tiga dan Pihutang Usaha lain-lain yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah masing-masing sebesar 161% dan 196% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.4. Persediaan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 106% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.5. Pajak Pertambahan Nilai dibayar Dimuka yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 58% lebih kecil dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.6. Sewa dibayar dimuka yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 133% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.7. Asset lancar lainnya yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 116% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.8. Total asset lancar yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 119% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.9. Investasi jangka panjang yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 110% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.10. Asset tetap yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 114% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.11. Biaya sewa dibayar dimuka yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 121% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.12. Biaya ditangguhkan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 96% lebih kecil dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.13. Taksiran tagihan pajak penghasilan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 241% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.14. Asset tidak lancar lainnya yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 181% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.15. Total asset tidak lancar yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 116% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.16. Total asset yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 118% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.17. Hutang bank jangka panjang yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 122% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.18. Hutang usaha pihak berelasi, pihak ketiga, dan lain-lain yang tersedia pada 31 Desember 2011 masing-masing adalah sebesar 120%, 114%, dan 115% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.19. Hutang pajak yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 155% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.20. Biaya yang masih harus dibayar yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 119% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.21. Penghasilan ditangguhkan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 134% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.22. Total liabilitis jangka pendek yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 112% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.23. Liabilities pajak tangguhan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 199% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.24. Hutang bank jangka panjang yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 99% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.25. Liabilities imbalan kerja karyawan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 131% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.26. Total liabilities jangka panjang yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 113% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.27. Total liabilities yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 112% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.28. Saldo laba telah ditentukan penggunaannya yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 150% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.29. Saldo laba belum ditentukan penggunaannya yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 165% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.30. Pendapatan komrehensif lainnya yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 114% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.31. Total equitas yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 135% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.32. Total liabilities dan equitas yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 118% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.

Dari hasil perhitungan analisis trend pada laporan laba rugi perbandingan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Tahun 2010 dan 2011 diketahui bahwa :1. Penjualan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 130% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.2. Beban pokok penjualan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 129% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.3. Laba bruto yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 131% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.4. Beban penjualan dan distribusi yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 132% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.5. Beban umum dan administrasi yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 122% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.6. Beban Operasi lainnya yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 24% lebih kecil dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.7. Laba usaha yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 142% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.8. Laba sebelum pajak peghasilan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 141% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.9. Beban pajak penghasilan badan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 143% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.10. Laba tahun berjalan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 141% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.11. Pendapatan komrehensif lain yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 14% lebih kecil dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.12. Total laba komrehensif tahun berjalan yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 104% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.13. Laba per saham dasar yang tersedia pada 31 Desember 2011 adalah 141% lebih besar dari pada yang tersedia dalam akhir tahun 2010.

3.9 Analisis Common SizeDari data Neraca perbandingan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Pada tahun 2010 dan 2011 dapat diketahui prosentase perkomponennya dalam prosentase dari total perhitungan, prosentase-prosentase tersebut adalah sebagai berikut :1. Kas dan setara kas dibagi total aktivaMenghasilkan prosentase sebesar 10% pada 2010 dan 12% pada 2011, ini berarti bahwa saldo kas dan setara kas pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 10% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 aktiva di investasikan dalam bentuk kas dan setara kas sebesar Rp 0,10. Sedangkan saldo kas dan setara kas pada tanggal 31 Desember 2011 lebih besar yaitu 12% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 aktiva di investasikan dalam bentuk kas dan setara kas sebesar Rp 0,12.

2. Piutang usaha pihak ketiga dibagi total aktiva. Menghasilkan prosentase sebesar 5% pada tahun 2010, ini berarti bahwa saldo piutang usaha pihak ketiga pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 5% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 aktiva diinvestasikan dalam bentuk piutang usaha pihak ketiga sebesar Rp.0,05. Sedangkan saldo piutang usaha pihak ke tiga pada tanggal 31 Desember 2011 lebih besar yaitu 7% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 aktiva di investasikan dalam bentuk piutang usaha pihak ke tiga sebesar Rp 0,12.

3. Piutang usaha lain-lain dibagi total aktiva. Menghasilkan prosentase yang sama yaitu sebesar 1% pada tahun 2010 dan 2011, ini berarti bahwa saldo piutang usaha lain-lain pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2011 sebesar 1% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 aktiva diinvestasikan dalam bentuk piutang usaha lain-lain sebesar Rp.0,01.

4. Persediaan dibagi total aktiva.Menghasilkan prosentase sebesar 31% pada tahun 2010, ini berarti bahwa saldo persediaan pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 31% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 aktiva diinvestasikan dalam bentuk persediaan sebesar Rp.0,31. Sedangkan saldo persediaan pada tanggal 31 Desember 2011 lebih kecil yaitu 28% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 aktiva di investasikan dalam bentuk persediaan sebesar Rp 0,28.

5. Bagian lancar biaya sewa dibayar dimuka dibagi total aktiva. Menghasilkan prosentase yang sama yaitu sebesar 3% pada tahun 2010 dan 2011, ini berarti bahwa saldo biaya sewa dibayar dimuka pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2011 sebesar 3% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 aktiva diinvestasikan dalam bentuk biaya sewa dibayar dimuka sebesar Rp.0,03.

6. Investasi jangka panjang dibagi total aktiva. Menghasilkan prosentase yang sama yaitu sebesar 3% pada tahun 2010 dan 2011, ini berarti bahwa saldo investasi jangka panjang pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2011 sebesar 3% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 aktiva diinvestasikan dalam bentuk investasi jangka panjang sebesar Rp.0,03.

7. Asset tetap dikurangi akumulasi penyusutan dibagi total aktiva. Menghasilkan prosentase sebesar 34% pada tahun 2010, ini berarti bahwa saldo asset tetap pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 34% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 aktiva diinvestasikan dalam bentuk asset tetap sebesar Rp.0,34. Sedangkan saldo asset tetap pada tanggal 31 Desember 2011 lebih kecil yaitu 33% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 aktiva di investasikan dalam bentuk asset tetap sebesar Rp 0,33.

8. Biaya sewa dibayar dimuka dibagi total aktiva. Menghasilkan prosentase sebesar 10% pada tahun 2010, ini berarti bahwa saldo biaya sewa dibayar dimuka pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 10% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 aktiva diinvestasikan dalam bentuk biaya sewa dibayar dimuka sebesar Rp.0,10. Sedangkan saldo biaya sewa dibayar dimuka pada tanggal 31 Desember 2011 lebih besar yaitu 11% dari jumlah aktiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 aktiva di investasikan dalam bentuk biaya sewa dibayar dimuka sebesar Rp 0,11.

9. Hutang bank jangka pendek dibagi total pasiva. Menghasilkan prosentase yang sama yaitu sebesar 11% pada tahun 2010 dan 2011, ini berarti bahwa saldo hutang bank jangka pendek pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2011 sebesar 11% dari jumlah pasiva akhir (hutang dan ekuitas) tahun tersebut atau setiap Rp. 1 pasiva diinvestasikan dalam bentuk hutang bank jangka pendek sebesar Rp.0,11.

10. Hutang usaha pihak ketiga dibagi total pasiva tahun. Menghasilkan prosentase sebesar 45%, ini berarti bahwa saldo hutang usaha pihak ketiga pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 45% dari jumlah pasiva akhir (hutang dan modal) tahun tersebut atau setiap Rp. 1 pasiva diinvestasikan dalam bentuk hutang usaha pihak ketiga sebesar Rp.0,45. Sedangkan saldo hutang usaha pihak ketiga pada tanggal 31 Desember 2011 lebih kecil yaitu 44% dari jumlah pasiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 pasiva di investasikan dalam bentuk hutang usaha pihak ke tiga sebesar Rp 0,44.

11. Hutang bank dibagi total pasiva. Menghasilkan prosentase yang sama yaitu sebesar 3% pada tahun 2010 dan 2011, ini berarti bahwa saldo hutang bank pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2011 sebesar 3% dari jumlah pasiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 pasiva diinvestasikan dalam bentuk hutang bank sebesar Rp.0,03.12. Hutang deviden dibagi total pasiva. Menghasilkan prosentase sebesar 3% pada tahun 2010, ini berarti bahwa saldo hutang deviden pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 3% dari jumlah pasiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 pasiva diinvestasikan dalam bentuk hutang deviden sebesar Rp.0,03. Sedangkan pada tahun 2011 hanya sebesar 0%.

13. Hutang bank jangka panjang dibagi total pasiva. Menghasilkan prosentasse sebesar 7% pada tahun 2010, ini berarti bahwa saldo hutang bank jangka panjang pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 7% dari jumlah pasiva (hutang dan modal) akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 pasiva diinvestasikan dalam bentuk hutang bank jangka panjang sebesar Rp 0,07. Sedangkan saldo hutang bank jangka panjang pada tanggal 31 Desember 2011 lebih kecil yaitu 6% dari jumlah pasiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 pasiva di investasikan dalam bentuk hutang bank jangka panjang sebesar Rp 0,06.

14. Liabilities imbalan kerja karyawan dibagi total pasiva. Menghasilkan prosentase yang sama yaitu sebesar 2% pada tahun 2010 dan 2011, ini berarti bahwa saldo hutang liabilities imbalan kerja karyawan pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2011 tidak bertambah yaitu sebesar 2% dari jumlah pasiva (hutang dan modal) akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 pasiva diinvestasikan dalam bentuk liabilities imbalan kerja karyawan sebesar Rp.0,02.

15. Modal saham dibagi total pasiva. Menghasilkan prosentase sebesar 8% pada tahun 2010, ini berarti bahwa saldo modal saham pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 8% dari jumlah pasiva (hutang dan modal) akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 pasiva diinvestasikan dalam bentuk modal saham sebesar Rp.0,08. Sedangkan saldo modal saham pada tanggal 31 Desember 2011 lebih kecil yaitu 7% dari jumlah pasiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 pasiva di investasikan dalam bentuk modal saham sebesar Rp 0,07.

16. Saldo laba belum ditentukan penggunaannya dibagi total pasiva. Menghasilkan prosentase sebesar 13% pada tahun 2010, ini berarti bahwa saldo laba belum ditentukan penggunaannya pada tanggal 31 Desember 2010 sebesar 13% dari jumlah pasiva (hutang dan modal) akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 pasiva diinvestasikan dalam bentuk saldo laba belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp.0,13. Sedangkan saldo laba belum di tentukan penggunaannya pada tanggal 31 Desember 2011 lebih besar yaitu 18% dari jumlah pasiva akhir tahun tersebut atau setiap Rp 1 pasiva di investasikan dalam bentuk saldo laba belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp 0,18.

17. Pendapatan komprehensif lainnya dibagi total pasiva. Menghasilkan prosentase sama yaitu sebesar 2% pada tahun 2010 dan 2011, ini berarti bahwa saldo pendapatan komprehensif lainnya pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2011 sebesar 2% dari jumlah pasiva (hutang dan modal) akhir tahun tersebut atau setiap Rp. 1 pasiva diinvestasikan dalam bentuk pendapatan komprehensif sebesar Rp.0,02.

Dari data Laporan Rugi Laba perbandingan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Pada tahun 2010 dan 2011 dapat diketahui prosentase perkomponennya dalam prosentase dari total penjualan neto, prosentase-prosentase tersebut adalah sebagai berikut : 1. Beban pokok penjualan dibagi penjulan neto.Menghasilkan prosetase sebesar 84,7% pada tahun 2010, ini berarti bahwa beban pokok penjualan pada tahun 2010 adalah sebesar 84,7% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,847 akan terserap dalam beban pokok penjualan. Sedangkan pada tahun 2011 beban pokok penjulan lebih kecil yaitu 84,5% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,845 akan terserap dalam beban pokok penjualan.

2. Laba bruto dibagi penjulan neto.Menghasilkan prosetase sebesar 15,3% pada tahun 2010, ini berarti bahwa laba bruto pada tahun 2010 adalah sebesar 15,3% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,153 akan terserap dalam laba bruto. Sedangkan pada tahun 2011 laba bruto lebih besar yaitu 15,5% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,155 akan terserap dalam laba bruto.

3. Beban penjualan dan distribusi dibagi penjulan neto.Menghasilkan prosetase sebesar 11,2% pada tahun 2010, ini berarti bahwa beban penjualan dan distribusi pada tahun 2010 adalah sebesar 11,2% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,112 akan terserap dalam beban penjualan dan distribusi. Sedangkan pada tahun 2011 beban penjualan dan distribusi lebih besar yaitu 11,4% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,114 akan terserap dalam beban penjualan dan distribusi.

4. Beban umum dan administrasi dibagi penjulan neto.Menghasilkan prosetase sebesar 1,8% pada tahun 2010, ini berarti bahwa beban umum dan administrasi pada tahun 2010 adalah sebesar 1,8% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,18 akan terserap dalam beban umum dan administrasi. Sedangkan pada tahun 2011 beban umum dan administrasi lebih kecil yaitu 1,7% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,17 akan terserap dalam beban umum dan administrasi.

5. Laba usaha dibagi penjulan neto.Menghasilkan prosetase sebesar 2% pada tahun 2010, ini berarti bahwa laba usaha pada tahun 2010 adalah sebesar 2% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,02 akan terserap dalam laba usaha. Sedangkan pada tahun 2011 laba usaha lebih besar yaitu 3% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,03 akan terserap dalam laba usaha.

6. Laba sebelum pajak penghasilan badan dibagi penjulan neto.Menghasilkan prosetase sebesar 2,1% pada tahun 2010, ini berarti bahwa laba sebelum pajak penghasilan badan pada tahun 2010 adalah sebesar 2,1% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,21 akan terserap dalam laba sebelum pajak penghasilan badan. Sedangkan pada tahun 2011 laba sebelum pajak penghasilan badan lebih besar yaitu 2,2% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,22 akan terserap dalam laba sebelum pajak penghasilan badan.

7. Laba tahun berjalan dibagi penjulan neto.Menghasilkan prosetase sebesar 1,8% pada tahun 2010, ini berarti bahwa laba tahun berjalan pada tahun 2010 adalah sebesar 1,8% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,018 akan terserap dalam laba tahun berjalan. Sedangkan pada tahun 2011 laba tahun berjalan lebih besar yaitu 2% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,02 akan terserap dalam laba tahun berjalan.

8. Total laba komrehensif tahun berjalan dibagi penjulan neto.Menghasilkan prosetase sebesar 3% pada tahun 2010, ini berarti bahwa total laba komrehensif tahun berjalan pada tahun 2010 adalah sebesar 3% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,03 akan terserap dalam total laba komrehensif tahun brjalan. Sedangkan pada tahun 2011 total laba komrehensif tahun berjalan lebih kecil yaitu 2% dari penjualan neto tahun tersebut, atau setiap Rp 1 penjualan maka sebesar Rp 0,02 akan terserap dalam total laba komrehensif tahun berjalan.

3.10 Analisis RatioBerikut ini perhitungan analisis ratio yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisa dan mengintrepretasikan data dari Neraca dan Laporan Rugi Laba PT. Sumber Alfaria Trijaya, Tbk. Tahun 2010 dan 2011 :3.10.1 Ratio Likwiditasa. Current RatioCurrent ratio merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar dikalikan 100%. Rasio ini merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.

Hasil Perhitungan Current Ratio(dalam jutaan rupiah)PeriodeAktiva Lancar(dalam rupiah)Hutang Lancar(dalam rupiah)Hasil

20102.165.078

2.775.514

78%

20112.582.053

3.099.699

83,3%

Dari tabel diatas, nilai current ratio sebesar 78% untuk tahun 2010 dan sebesar 83,3% untuk tahun 2011. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010 setiap Rp 1 hutang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 0,78 sedangkan pada tahun 2011 setiap Rp 1 hutang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 0,833.b. Acid Test RatioRatio ini sering juga disebut sebagai Quick ratio yaitu perbandingan antara kas ditambah piutang dengan hutang lancar. Ratio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan.Hasil Perhitungan Acid Test Ratio(dalam jutaan rupiah)PeriodeKas+piutang(dalam rupiah)Hutang Lancar(dalam rupiah)Hasil

2010681.305

2.775.514

24,5%

2011978.435

3.099.699

31,6%

Dari tabel diatas, nilai acid test ratio (kemampuan perusahaan dengan kas ditambah piutang untuk memenuhi kewajiban jangka pendek) sebesar 24,5% untuk tahun 2010 dan sebesar 31,6% untuk tahun 2011. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010 setiap Rp 1 hutang lancar dijamin oleh kas+piutang sebesar Rp 0,245 sedangkan pada tahun 2011 setiap Rp 1 hutang lancar dijamin oleh kas+piutang sebesar Rp 0,316.

c. Cash RatioCash Ratio merupakan perbandingan antara kas dengan hutang lancar dikalikan 100%. Rasio ini merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.Hasil Perhitungan Cash Ratio(dalam jutaan rupiah)PeriodeKas+piutang(dalam rupiah)Hutang Lancar(dalam rupiah)Hasil

2010434.817

2.775.514

15,7%

2011585.028

3.099.699

18,9%

Dari tabel diatas, nilai Kas Ratio (kemampuan perusahaan dengan kas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek) sebesar 15,7% untuk tahun 2010 dan sebesar 18,9% untuk tahun 2011. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010 setiap Rp 1 hutang lancar dijamin oleh kas sebesar Rp 0,157 sedangkan pada tahun 2011 setiap Rp 1 hutang lancar dijamin oleh kas sebesar Rp 0,189.

d. Periode Penerimaan PiutangPeriode penerimaan piutang digunakan untuk menghitung waktu atau hari rata-rata dana tertanam dalam piutang.Hasil Perhitungan Perputaran Piutang (dalam jutaan rupiah)PeriodePenjualan(dalam rupiah)Rata-rata piutang(dalam rupiah)Hasil

201014.063.557

246.488

57,1 x

201118.227.044443.19241,1 x

Hasil Perhitungan Periode Rata-rata Pengumpulan Piutang(dalam jutaan rupiah)Periode

Julah hari dalam setahunPerputaran piutang (%)Hasil

201036057,1

6,3 hari

201136041,18,8 hari

Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa periode penerimaan piutang tahun 2010 lebih baik daripada tahun 2011. Dimana periode penerimaan piutang tahun 2010 adalah 6,3 hari sedangkan pada tahun 2011 adalah 8,8 hari. Dari uraian diatas mempunyai arti bahwa pada tahun 2010 perusahaan akan menerima penerimaan piutang dalam waktu 6,3 hari dengan trun over antara penjualan dengan piutang rata-rata adalah kira-kira 57,1 x dan pada tahun 2011 perusahaan akan menerima penerimaan piutang dalam waktu 8,8 hari dengan trun over antara penjualan dengan piutang rata-rata adalah kira-kira 41,1 x.

e. Perputaran PersediaanPerputaran persediaan merupakan perbandingan antara harga pokok barang yang dijual dengan rata-rata persediaan yang dimiliki oleh perusahaan. Perputaran persediaan menunjukkan berapa kali jumlah persediaan dagangan diganti dalam satu tahun. Untuk mengetahui rata-rata persediaan tersimpan dalam gudang dapat ditentukan dengan membagi jumlah hari-hari dalam 1 tahun dengan trun over dari persediaan tersebut.

Hasil Perhitungan Perputaran Persediaan (dalam jutaan rupiah)PeriodeHarga Pokok(dalam rupiah)Rata-rata persediaan(dalam rupiah)Hasil

201011.918.0511.328.986

9 x

201115.406.1181.413.88510,9 x

Hasil Perhitungan Periode Rata-rata Persediaan Tersimpan Digudang(dalam jutaan rupiah)PeriodeJumlah hari dalam setahunPerputaran PersediaanHasil

20103609 x

40 hari

201136010,9 x33 hari

Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa perputaran persediaan tahun 2011 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010. Hal ini dapat dilihat bahwa pada tahun 2010 persediaan berada digudang rata-rata selama 40 hari dengan perputaran persediaan kitra-kira 9 x, sedangkan pada tahun 2011 persediaan berada digudang rata-rata selama 33 hari dengan perputaran persediaan kira-kira 10,9 x.

f. Perputaran Modal KerjaRatio ini menunjukan hubungan antara penjualan dengan modal kerja dan menunjukan banyaknya penjulan yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja.

Hasil Perhitungan Perputaran Modal Kerja (dalam jutaan rupiah)PeriodePenjulan(dalam rupiah)Modal Kerja(dalam rupiah)Hasil

201014.063.557(610.436)

23 x

201118.227.044(517.646)35,2 x

Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa perputaran persediaan tahun 2011 mengalami lebih baik dibandingkan tahun 2010. Hal ini dapat dilihat bahwa pada tahun 2010 perputaran modal kerja sebesar 23 x hal ini menunjukan banyaknya penjualan yang dapat diperoleh perusahaan sebesar Rp 23 untuk tiap Rp 1 modal kerja, sedangkan pada tahun 2011 perputaran modal kerja sebesar 35,2 x hal ini menunjukan banyaknya penjualan yang dapat diperoleh perusahaan sebesar Rp 35,2 untuk tiap Rp 1 modal kerja.

3.10.2 Ratio Solvabilitasa. Ratio Modal Kerja dengan AktivaRatio ini merupakan perbandingan antara modal sendiri dengan total aktiva, yang menunjukan pentingnya dari sumber modal pinjaman dan tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditor.Hasil Perhitungan Ratio Modal Kerja dengan Aktiva(dalam jutaan rupiah)PeriodeModal Sendiri(dalam rupiah)Total Aktiva(dalam rupiah)Hasil

20101.085.1064.262.929

25,5%

20111.460.4805.014.93229,1%

Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa Ratio modal kerja dengan aktiva pada tahun 2010 lebih baik dibandingkan tahun 2011, Hal ini dapat dilihat bahwa pada tahun 2010 sebesar 25,5% menunjukan jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar 74,5%. Sedangkan pada tahun 2011 sebesar 29,1% menunjukan jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan hanya sebesar 70,9%.

b. Ratio Modal dengan Aktiva TetapRatio antara hak pemilik atau modal sendiri dengan aktiva tetap ini ditentukan atau dihitung dengan cara membagi total hak pemilik-pemilik perusahaan dengan nilai buku dari aktiva tetap yang dimiliki perusahaan.Hasil Perhitungan Ratio Modal dengan Aktiva Tetap (dalam jutaan rupiah)PeriodeModal Sendiri(dalam rupiah)Aktiva Tetap(dalam rupiah)Hasil

20101.085.1062.097.851

51,7%

20111.460.4802.432.87960%

Hasil perhitungan diatas menujukan bahwa ratio modal dengan aktiva tetap tahun 2010 sebesar 51,7% lebih baik dibandingkan pada tahun 2011 sebesar 60%. Ini berarti bahwa sebagian aktiva tetapnya dibiayai dengan modal pinjaman jangka pendek atau jangka panjang sebesar 51,7% sedang aktiva lancar seluruhnya dibiayai dengan modal pinjaman. Sedangkan pada tahun 2011 sebagian aktiva tetapnya dibiayai dengan modal pinjaman jangka pendek atau jangka panjang sebesar 60% sedang aktiva lancar seluruhnya dibiayai dengan modal pinjaman.

c. Ratio Aktiva tetap dengan hutang jangka panjangRatio ini diperoleh dengan membagi total aktiva tetap dengan total hutang jangka panjang, ratio ini merupakan suatu ratio yang merupakan ukuran tentang tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditor jangka panjang. Disamping itu juga menentukan kemampuan perusahaan untuk memperoleh pinjaman baru dengan jaminan aktiva tetap.Hasil Perhitungan Ratio Aktiva Tetap dengan Hutang Jangka Panjang (dalam jutaan rupiah)PeriodeAktiva Tetap(dalam rupiah)Hutang jangka Panjang(dalam rupiah)Hasil

20102.097.851

402.309

521,5%

20112.432.879454.753535%

Hasil perhitungan diatas menujukan bahwa ratio aktiva tetap dengan hutang jangka panjang menunjukan bahwa pada tahun 2011 lebih baik dari pada tahun 2010, hal ini dapat dilihat bahwa pada tahun 2010 hanya sebesar 521,5% lebih kecil dibandingkan pada tahun 2011 sebesar 535% ini berarti bahwa pada tahun 2011 semakin besar jaminan dan kreditor jangka panjang semakin aman atau terjamin dan semakin besar kemampuan perusahaan untuk mencari pinjaman.d. Ratio Hutang Jangka Panjang Dengan Modal SendiriRatio ini diperoleh dengan membagi total hutang jangka panjang dengan modal sendiri, ratio ini merupakan suatu ratio yang merupakan ukuran tentang tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditor jangka panjang.Hasil Perhitungan Ratio Hutang Jangka Panjang dengan Modal Sendiri (dalam jutaan rupiah)PeriodeHutang Jangka Panjang(dalam rupiah)Modal Sendiri(dalam rupiah)Hasil

2010402.309

1.085.106

37,1%

2011454.7531.460.48031,1%

Hasil perhitungan diatas menujukan bahwa ratio hutang jangka panjang dengan modal sendiri pada tahun 2010 adalah sebesar 37,1% sedangkan pada tahun 2011 sebesar 31,1%. Ini berarti bahwa setiap Rp 1 hutang jangka panjang dijamin oleh modal sendiri sebesar Rp 0,371 pada tahun 2010, sedangkan pada tahun 2011 hanya sebesar Rp 0,311.

e. Ratio Antar Hutang Dengan AktivaRatio ini diperoleh dengan membagi total hutang dengan total aktiva, ratio ini merupakan suatu ratio yang merupakan ukuran tentang tingkat keamanan yang dimiliki oleh kreditor jangka panjang.Hasil Perhitungan Ratio Antar Hutang Dengan Aktiva (dalam jutaan rupiah)PeriodeTotal Hutang(dalam rupiah)Total Aktiva(dalam rupiah)Hasil

20103.177.823

4.262.929

74,5%

20113.554.4525.014.93270,9%

Hasil perhitungan diatas menujukan bahwa ratio antar hutang dengan aktiva pada tahun 2010 adalah sebesar 74,5% sedangkan pada tahun 2011 sebesar 70,9%. Ini berarti bahwa setiap Rp 1 total hutang dijamin oleh total aktiva sebesar Rp 0,745 pada tahun 2010, sedangkan pada tahun 2011 hanya sebesar Rp 0,709.

3.10.3 Ratio Rentabilitasa. Ratio Laba Usaha Dengan Aktiva UsahaRatio ini diperoleh dengan membagi laba usaha dengan total aktiva usaha. Ratio ini sangat berguna untuk membandingkan antara dua perusahaan atau lebih yang memiliki struktur permodalan yang berbeda atau untuk membandingkan perusahaan yang sama untuk dua periode yang berbeda. Hasil Perhitungan Ratio Laba Usaha Dengan Aktiva Usaha (dalam jutaan rupiah)PeriodeLaba Usaha(dalam rupiah)Aktiva Usaha(dalam rupiah)Hasil

2010349.523

4.262.929

8,2%

2011497.0605.014.9329,9%

Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa ratio laba usaha dengan aktiva usaha pada tahun 2010 sebesar 8,2% lebih kecil dibandingkan pada tahun 2011 sebesar 9,9%. Ini berarti bahwa pada tahun 2011 lebih baik dari tahun 2010.

b. Perputaran Aktiva UsahaMerupakan ratio antar jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi terhadap jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tersebut. Ratio ini merupakan ukuran tentang sampai berapa jauh aktiva ini telah dipergunakan di dalam kegiatan perusahaan menunjukan berapa kali operating asset berputar dalam suatu periode tertentu.Hasil Perhitungan Perputaran Aktiva Usaha (dalam jutaan rupiah)PeriodePenjualan (dalam rupiah)Aktiva Usaha(dalam rupiah)Hasil

201014.063.557

4.262.929

3,3x

201118.227.0445.014.9323,6x

Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa perputaran aktiva usaha pada tahun 2010 sebesar 3,3x lebih kecil dibandingkan pada tahun 2011 sebesar 3,6%. Ini berarti bahwa pada tahun 2011 lebih efisien dalam menggunakan aktiva dibandingkan tahun 2010.

c. Gross Margin RatioMerupakan ratio antar laba kotor yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Ratio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai setiap rupiah penjualan.Hasil Perhitungan Gross Margin Ratio (dalam jutaan rupiah)PeriodeLaba Kotor (dalam rupiah)Penjualan(dalam rupiah)Hasil

20102.145.506

14.063.557

15,3%

20112.820.92618.227.04415,5%

Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa gross margin ratio pada tahun 2010 sebesar 15,3% lebih kecil dibandingkan pada tahun 2011 yaitu sebesar 15,5%. Ini berarti bahwa pada tahun 2011 lebih baik dibandingkan tahun 2010.

d. Operating Margin RatioMerupakan ratio antar laba usaha yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Ratio ini menggambarkan laba usaha yang dapat dicapai setiap rupiah penjualan.Hasil Perhitungan Operating Margin Ratio (dalam jutaan rupiah)PeriodeLaba Usaha(dalam rupiah)PenjualanHasil

2010349.523

14.063.557

2,5%

2011497.06018.227.0442,7%

Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa operating margin ratio pada tahun 2010 sebesar 2,5% lebih kecil dibandingkan pada tahun 2011 yaitu sebesar 2,7%. Ini berarti bahwa setiap Rp 1 penjualan akan menghasilkan laba usaha sebsar Rp 0,25 pada tahun 2010 sedangkan pada tahun 2011 lebih besar yaitu sebesar Rp 0,27.

e. Net Margin RatioMerupakan ratio antar laba bersih sesudah pajak yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Ratio ini menggambarkan laba bersih sesudah pajak yang dapat dicapai setiap rupiah penjualan.

Hasil Perhitungan Net Margin Ratio (dalam jutaan rupiah)PeriodeLaba bersih sesudah pajak(dalam rupiah)PenjualanHasil

2010360.454

14.063.557

2,6%

2011375.37418.227.0442,1%

Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa net margin ratio pada tahun 2010 sebesar 2,6% lebih besar dibandingkan pada tahun 2011 yaitu sebesar 2,1%. Ini berarti bahwa setiap Rp 1 penjualan akan menghasilkan laba bersih sesudah pajak sebsar Rp 0,26 pada tahun 2010 sedangkan pada tahun 2011 lebih kecil yaitu sebesar Rp 0,21.

f. Operating RatioMerupakan ratio antar harga pokok ditambah biaya operasi yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Ratio ini menggambarkan bahwa setiap rupiah penjualan yang terserap dalam harga pokok ditambah biaya operasi.Hasil Perhitungan Operating Ratio (dalam jutaan rupiah)PeriodeHPP+biaya Operasi(dalam rupiah)PenjualanHasil

201013.824.266

14.063.557

98%

201117.870.13218.227.04498%

Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa Operating ratio pada 2010 dan 2011 sebesar 98%. Ini berarti bahwa setiap Rp1 penjualan terserap dalam harga pokok dan biaya operasi sebesar Rp 0,98 pada tahun 2010 dan 2011.

g. Rate Of ROISalah satu bentuk dari ratio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasinya perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Dengan demikian ratio ini menghubungkan laba bersih sebelum pajak dengan jumlah investasi atau aktiva.Hasil Perhitungan Rate Of ROI (dalam jutaan rupiah)PeriodeLaba Bersih Sebelum Pajak(dalam rupiah)Jumlah Aktiva UsahaHasil

2010290.239

4.262.929

6,8%

2011409.9805.014.9328,2%

Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa Rate Of ROI pada tahun 2011 meningkat yaitu sebesar 8,2% dari tahun 2010 yang hanya sebesar 6,8%. Ini berarti bahwa kemampuan perusahaan meningkat dari tahun 2010 dan 2011 dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.

h. Net Rate Of ROIratio ini adalah perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi perusahaan.Hasil Perhitungan Net Rate Of ROI (dalam jutaan rupiah)PeriodeLaba Bersih Sesudah Pajak(dalam rupiah)Jumlah Aktiva UsahaHasil

2010255.823

4.262.929

6%

2011360.6745.014.9327,2%

Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa Net Rate Of ROI pada tahun 2011 meningkat yaitu sebesar 7,2% dari tahun 2010 yang hanya sebesar 6%. Ini berarti bahwa kemampuan perusahaan meningkat dari tahun 2010 sebesar 6% menjadi 7,2% pada tahun 2011.

i. Rentabilitas Modal SendiriRatio ini merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan perusahaan.Hasil Perhitungan Rentabilitas Modal Sendiri (dalam jutaan rupiah)PeriodeLaba Bersih Sesudah Pajak(dalam rupiah)Modal SendiriHasil

2010255.823

1.085.106

23,6%

2011360.6741.460.48024,7%

Hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa rentabilitas modal sendiri pada tahun 2010 sebesar 23,6% sedangkan pada tahun 2011 sebesar 24,7%. Ini berarti bahwa kemampuan perusahaan meningkat dari tahun 2010 23,6% menjadi 24,7% pada 2011 dengan modal sendiri yang digunakan untuk operasi perusahaan untuk menghasilkan laba bersih sesudah pajak.BAB IVPENUTUP4.1 KesimpulanBerdasarkan hasil analisis diatas, penulis dapat mengambil kesimpulan:1. Kondisi laporan keuangan setelah ditinjau dengan analisis perbandingan menunjukkan bahwa total aktiva perusahaan mengalami peningkatan sebesar Rp 752.003.000.000 atau sekitar 18% dari tahun 2010 sebesar Rp 4.262.929.000.000 menjadi Rp5.014.932.000.000 pada tahun 2011. Total kewajiban perusahaan mengalami peningkatan sebesar Rp 376.629.000.000 atau sekitar 12% dari tahun 2010 sebesar Rp3.177.823.000.000 menjadi Rp 3.554.452.000.000 pada tahun 2011. Total modal perusahaan mengalami peningkatan sebesar Rp 375.374.000.000 atau sekitar 35% dari tahun 2010 sebesar Rp 1.085.106.000.000 menjadi Rp 1.460.480.000.000 pada tahun 2011. 2. Posisi keuangan jangka pendek menunjukan perkembangan yang menguntungkan walaupun hutang jangka pendek naik sebesar 112%, namun kenaikan itu telah diimbangi dengan kenaikan aktiva lancar sebesar 119% dengan tingkatan yan lebih besar. Kenaikan penjualan sebesar 130% diimbangi dengan kenaikan piutang usaha pihak ketiga dan lain-lain masing-masing sebesar 161% dan 196%, sedangkan piutang usaha pihak berelasi turun sebesar 54%. Hal ini menunjukan bahwa bagian penagihan bekerja kurang efektif. Kenaikan persediaan sebesar 106% menunjukan perkembangan yang menguntungkan, karena kenaikan persediaan tersebut telah diimbangi dengan kenaikan penjualan sebesar 130%.3. Kondisi laporan keuangan setelah ditinjau dengan analisis common size menunjukkan bahwa perbandingan semua pos-pos dalam neraca dan laba rugi dengan total perusahaan mengalami peningkatan yaitu kas dan setara kas sebesar 12% pada tahun 2011 dibandingkan pada tahun 2010 sebesar 10% akan terserap dalam total asset, persediaan mengalami penurunan sebesar 28% pada tahun 2011 dibandingkan pada tahun 2010 sebesar 31% akan terserap dalam total asset. Total asset lancar pada tahun 2010 dan 2011 stabil yaitu 51%, total asset tidak lancar tidak mengalami perubahan yaitu sebesar 49% akan terserap dalam total assets. Total liabilities pada tahun 2010 sebesar 75% dan 2011 sebesar 71% , total ekuitas 25% pada tahun 2010 dan 29% pada tahun 2011 akan terserap dalam total liabilities dan ekuitas.4. Kondisi laporan keuangan setelah ditinjau dengan analisis rasio menunjukkan bahwa dari segi faktor likuiditas tahun 2011 lebih baik daripada likuiditas tahun 2010 karena rasio lancar tahun 2011 sebesar 83,3% yang berarti bahwa setiap Rp 1 hutang lancar dijamin dengan Rp 0,833 aktiva lancar sedangkan pada tahun 2010 sebesar 78% atau setiap Rp 1 hutang lancar dijamin dengan Rp 0,78 aktiva lancar, artinya perusahaan layak untuk diberi ktredit jangka pendek. Ditinjau dari faktor profitabilitas maka tahun 2011 lebih baik dibanding dengan tahun 2010. Hal ini disebabkan ratio laba usaha dengan aktiva tahun 2011 sebesar 9,9% sedangkan pada tahun 2010 hanya sebesar 8,2% dan perhitungan ROI menunjukan pada tahun 2011 lebih baik yaitu 8,2% lebih besar dari tahun 2010 yang hanya 6,8%, artinya perusahaan layak untuk mendapat investasi dari para investor. Ditinjau dari faktor solvabilitas maka pada tahun 2010 lebih solvabel dari pada tahun 2011 karena solvabilitas tahun 2010 dari ratio modal dengan aktiva adalah sebesar 25,5% sedangkan pada tahun 2011 sebesar 29,1%. Sedangkan pada perhitungan ratio antar hutang dengan aktiva menunjukan pada tahun 2011 lebih baik dari tahun 2010, karena tahun 2011 sebesar 70,9% sedangkan tahun 2010 sebesar 74,5% artinya perusahaan layak untuk diberi kredit jangka panjang.

4.2 SaranBerdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. tahun 2010 & 2011, penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:1. Perusahaan disarankan untuk memerhatikan fluktuasi pada setiap pos laporan keuangan karena meskipun dalam analisis perbandingan terjadi fluktuasi yang positif dari masing-masing pos, hal ini tidak menjadi jaminan bahwa tingkat likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas menjadi lebih baik dari sebelumnya.2. Perusahaan disarankan untuk mengurangi pinjaman baik secara jangka pendek maupun jangka panjang untuk meningkatkan tingkat likuiditas dan solvabilitas.3. Perusahaan disarankan untuk melakukan efisiensi biaya terutama beban pokok penjualan agar perusahaan memperoleh laba yang maksimal.4. Perusahaan disarankan untuk menambah modal dengan menarik investor sehingga pembiayaan penambahan aktiva dapat dibiayai oleh modal perusahaan.

DAFTAR PUSTAKAwww.idx.co.id Munawir. S Drs. Akuntan, 2002, Analisa Laporan Keuangan Edisi Keempat, Yogyakarta; Libertyhttp://ymoentarib.wordpress.com/2013/01/02/lingkungan-pemasaran-segmentasi-dan-merek-pt-sumber-alfaria-trijaya-tbk-alfamart/http://valentinaolivia.blogspot.com/2013/04/analisis-minimarket-alfamart-dengan.html https://www.google.com/#q=analisa+SWOT+PT+SUMBER+ALFARIA+TRIJAYA+TBK http://indomaret.co.id/profil-perusahaan/ http://aryo-bony-anggoro.mhs.narotama.ac.id/2012/03/23/manajemen-strategic/

20