laporan praktikum kimia anorganik reaksi kation logam dengan oksin

Download LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK REAKSI KATION LOGAM DENGAN OKSIN

Post on 26-Nov-2015

341 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

REAKSI KATION LOGAM DENGAN OKSIN

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUMKIMIA ANORGANIK

PERCOBAAN IIIREAKSI KATION LOGAM DENGAN OKSIN

NAMA: RESKY DWI CAHYATINIM: H311 12 015KELOMPOK/REGU: IV (EMPAT)/IV (EMPAT)HARI/TANGGAL PERC.: SELASA/11 MARET 2014ASISTEN: NURDIANTI NURDIN

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIKJURUSAN KIMIAFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAMUNIVERSITAS HASANUDDINMAKASSAR2014BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, logam ditemukan dalam bentuk paduan atau sudah tercampur dengan unsur-unsur lainnya sehingga lebih bermanfaat

dalam penggunaannya. Untuk mengetahui kadar logam yang terkandung dalam suatu logam campuran perlu diadakan metode analisis tertentu yang melibatkan sifat-sifat dari logam yang akan dianalisis. Bila senyawa yang sukar larut

diendapkan dari larutannya, maka kekuatan ion larutannya biasanya akan lebih tinggi daripada kekuatan ion air karena hadirnya berbagai elektrolit yang timbul dari pengerjaan awal dan akibat dari kelebihan zat pengendap yang ditambahkan.

Dalam analisis anorganik kualitatif melibatkan pembentukan endapan. Pengendapan termasuk metode yang sangat berharga untuk memisahkan suatu sampel menjadi komponen-komponennya. Pengendapan merupakan teknik pemisahan paling meluas digunakan para analis karena proses yang [ dilibatkan

adalah proses dalam zat yang akan dipisahkan itu digunakan untuk membentuk suatu fase baru endapan padat. Salah satu metode analisis logam adalah dengan pengendapan. Pereaksi yang biasa digunakan adalah 8-hidroksikuinolin

atau biasa disebut oksin karena sifatnya yang dapat mengendapkan logam. Untuk mengetahui dan membuktikan bahwa oksin dapat bereaksi dengan logam dan di dalam proses reaksinya terjadi endapan, maka percobaan reaksi kation logam dengan oksin ini dilakukan.1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan1.2.1 Maksud PercobaanMaksud percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari reaksi kation logam dengan menggunakan pereaksi oksin.

1.2.2 Tujuan PercobaanTujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan dan menghitung kadar logam Fe (besi) dengan menggunakan pereaksi oksin.

1.3 Prinsip PercobaanPrinsip dari percobaan ini adalah menentukan kadar logam Fe dengan mereaksikannya dengan senyawa oksin melalui proses pengendapan dan penyaringan, dimana endapan yang diperoleh dilarutkan kembali dengan HCl panas lalu dititrasi dengan KBrO3 dan Na2S2O3. Dari jumlah titran yang digunakan, konsentrasi logam Cu dapat dihitung.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Banyak sekali reaksi yang digunakan dalam analisis kualitatif anorganik

melibatkan pembentukan endapan. Endapan adalah zat yang memisahkan diri

sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan mungkin berupa kristal

(kristalin) atau koloid, dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan penyaringan atau pemulsingan (centrifuge). Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi, seperti [suhu, tekanan, konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan dan pada komposisi pelarutnya (Svehla, 1985). Banyak ion anorganik dapat diendapkan dengan reagensia organik tertentu yang disebut pengendap organik. Sejumlah reagensia ini berguna, tidak hanya untuk pemisahan lewat pengendapan, tetapi juga lewat ekstraksi pelarut. Kebanyakan pengendap organik, bersenyawa dengan kation untuk membentuk cincin kelat (chelete). Senyawa kelat logam netral tidak larut dalam air (Day dan Underwood, 2001).

Suatu senyawa kelat yang netral pada hakekatnya bersifat dasar organik. Ion logam menjadi salah satu anggota suatu bangunan cincin organik dan sifat-sifatnya dan reaksinya yang biasa tak lagi mudah diperagakan. Secara umum

bahwa senyawa sepit tak dapat larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut kurang polar seperti kloroform atau karbon tetraklorida. Keunggulan pengendap organik ini (Day dan Underwood, 2011):1. Banyak senyawa logam yang sangat tak dapat larut dalam air, sehingga ion-ion logam dapat diendapkan secara kuantitatif.

2. Bobot molekul pengendap organik itu seringkali mempunyai bobot molekul yang besar. Jadi sedikit logam dapat menghasilkan endapan yang tepat.

3. Beberapa reagensia organik cukup selektif, hanya mengendapkan sejumlah terbatas kation.

4. Endapan-endapan yang diperoleh dengan reagenisa organik seringkali kasar dan volumenya meruah dan karena itu mudah ditangani.

5. Dalam beberapa kasus, suatu logam dapat diendapkan dengan suatu reagenisa organik, endapannya ditampung dan dilarutkan dan molekul organiknya dititrasi, maka diperoleh metode titrimetrik tak langsung bagi logam itu.

8-Hidroksikuinolin adalah larutan berwarna kuning, kristal, mencair pada suhu 74-76 C. 8-Hidroksikuinolin ini hampir tidak larut dalam air. Larutan 3 % 8-Hidroksikuinolin dalam metil atau etil alkohol atau dalam aseton digunakan

sebagai reagen, lebih baik jika disiapkan dengan segar, meskipun stabil untuk 10 hari

jika dilindungi dari cahaya. Reagen larutan asam asetat juga dapat digunakan, ini

dipersiapkan dengan melarutkan 3 gram dari padatan dalam jumlah minimum kristal asam asetat, dilarutkan untuk 100 mL dengan air, penambahan setetes demi

setetes amonia sampai kekeruhan mulai bentuk, dan kemudian menjelaskan solusi dengan penambahan asam asetat encer. Seperti solusi stabil untuk jangka waktu yang lebih lama. Beberapa turunan logam 8-Hidroksikuinolin ditimbang setelah

pengeringan pada suhu yang cocok. Pengeringan pada suhu 105-110 C sering meninggalkan air kristalisasi tetapi akan sulit memperoleh berat konstan, terutama dalam jumlah besar (Willard and Diehl, 1943).8-Hidroksikuinolin (sering disebut 8-kuinolinol atau oxine) membentuksenyawa sebagai berikut (Day dan Underwood, 2001):

3+ Al3+ + 3H+

Aluminium menggantikan hidrogen yang bersifat asam dari gugus hidroksil. Pada saat yang sama, pasangan elektron yang tidak dipakai bersama pada nitrogen disumbangkan ke aluminium, karena itu membentuk suatu cincin beranggota lima. Dari teori kimia organik, diharapkan cincin jenis ini akan beranggota lima atau enam.

Karena gugus fungsi asam dan basa dalam molekul organik harus dikondisikan pada

posisisnya terhadap satu sama lain agar bisa membentuk cincin tertutup (Day dan Underwood, 2001).

8-Hidroksikuinolin-arilpropena telah disintesis dan strukturnya ditunjukkan oleh spektroskopi IR dan NMR. Molekul-molekul menunjukkan trans konfigurasi dan kuat ikatan hidrogen intramolekular, pada spektrum IR 5-formil-8-hidroksikuinolin, 5-asetil-8-hidroksikuinolin dan 3-(8-hidroksikuinolin) phenil di CHCl3, Selain terkenal intermolekular hidrogen (3180 m-1), diidentifikasi intramolekular hidrogen -N (3460 m-1), puncak ikatan hidrogen yang bergeser ke frekuensi rendah donor-proton seperti fenol dan asam asetat (terhadap 8-hidroksikuinolin) dan ikatan patah dalam solusi asam trifluoroasetik, karena OH protonasi, pelarut polar CCl4 dan elektrofilik substituen di posisi 5 cincin kuinolin, terbatas pembentukan ikatan hidrogen intermolekular. Karena bergeser 3460 m-1 hidrogen intramolekular frekuensi yang lebih rendah dan membuatnya lebih kuat dan lebih tajam. Brominasi 3-(8-hidroksikuinolin) phenil terjadi vpada

fragmen kuinolin diaktifkan, memproduksi derivatif monobromo dan tetrabromo, bukan brominasi pada alifatik ikatan ganda (Gonzales dkk., 2012).

Salah satu permasalahan titrasi pengendapan adalah menemukan indikator yang cocok. Dalam titrasi-titrasi yang melibatkan garam-garam perak ada tiga indikator yang telah sukses dikembangkan dalam metode ini. Metode Mohr

menggunakan ion kromat (CrO42-) untuk mengendapkan Ag2CrO4 cokelat. Metode

Volhard menggunakan ion Fe3+ untuk membentuk sebuah kompleks yang berwarna dengan ion tiosianat (SCN-). Metode Fajans (Day dan Underwood, 2001).

Metode Volhard didasari oleh pengendapan dari perak tiosianat dalam larutan asam nitrit dengan ion besi(III) dipergunakan untuk mendeteksi kelebihan ion tiosianat (Day dan Underwood, 2001):

Ag+ + SCN- AgSCN(s)

Fe3+ + SCN- FeSCN2+

Keberhasilan pemakaian oksin sebagai zat pembawa untuk mentranspor Co(II) antar fasa (air-kloroform-air) sangat tergantung kepada kemampuan pembentukan kompleks senyawa ini dengan pengompleks baru EDTA di fasa penerima. Difusi

Co(II) sebagai Co-suksinat ke dalam membran berlangsung baik pada pH 7. Kestabilan kompleks dalam membran untuk berlangsungnya transpor optimal terjadi

pada konsentrasi 0,02 M. Hasil penelitian menunjukkan dengan memakai oksin sebagai zat pembawa dalam proses transpor kecepatan air Co(II) dari fasa sumber ke fasa membran lebih tinggi dari pada fasa membran ke fasa penerima Co(II), yang ditranspor ke fasa penerima mencapai 95,2 % dalam waktu 4 jam (Kahar, 2002).BAB IIIMETODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu larutan Fe 100 ppm, larutan natrium asetat 0,1 M, larutan HCl 4 M, larutan HCl 2 M, larutan oksin 2 %, [serbuk KBr, larutan KBrO3 0,1005 N, larutan KI 10 %, larutan Na2S2O3 0,1005 [[ N,

indikator metil orange 0,1 %, larutan kanji, indikator