moving class rev2

Download Moving Class Rev2

Post on 21-Jul-2015

460 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

A. Latar Belakang Masalah Belajar merupakan perubahan perilaku yang disebabkan oleh

pengalaman. Pengalaman secara otomatis menjadi unsur penting dalam aktivitas pembelajaran. Sebagian pengalaman tersebut merupakan umpan balik dari lingkungan sekitar. Pentingnya lingkungan, baik yang

dimanfaatkan maupun yang dirancang besar kecilnya banyak dipercayai dan dibuktikan sebagai salah satu usaha untuk mempermudah peserta didik dalam belajar. Sekolah merupakan satu lingkungan yang secara sengaja dirancang untuk mempermudah siswa dalam belajar. Sekolah sebagai lembaga dengan standar sistem yang terus ditingkatkan dari waktu ke waktu memiliki ruang yang cukup besar dalam mengembangkan aktivitas belajar. Aktivitas belajar ini tentunya perlu didukung banyak aspek diantaranya adalah perangkat sekolah. Perangkat sekolah sebagai unsur dari bergeraknya sistem tersebut tentu memiliki karakteristik dan fungsi tersendiri dalam menentukan ketercapaian tujuan pendidikan pada setiap jenjangnya. Perangkat sekolah meliputi banyak bentuk salah satunya adalah sarana dan prasarana. Pada sekolah formal sarana dan prasarana pokok untuk mendukung pembelajaran tentunya adalah ruang kelas. Kebanyakan sekolah mengkategorikan kelas sebagai ruangan yang ditempati kelompok-kelompok siswa secara permanen dalam periode satu tahun ajar. Mekanisme belajar yang terjadi kemudian adalah guru yang mendatangi siswa di kelas. Proses pembelajaran tentunya tidak jarang membutuhkan sumber-sumber belajar

1

yang dibuat ataupun dimanfaatkan untuk mendukung efektifitas pembelajaran yang tentunya akan berbeda antara satu pelajaran dengan pembelajaran yang lain. Alat atau bahan sumber belajar ini otomatis harus dibawa guru setiap kali mengajar ke ruang kelas. Suasana yang terbangun di lingkungan kelaspun akan cenderung monoton dan tidak menunjukkan karakteristik mata pelajaran tertentu. Lingkungan kelas dengan karakteristik siswa menetap ini juga tidak memberikan banyak kesempatan siswa untuk dapat bergerak. Biasanya siswa akan duduk atau diam di kelas sambil menunggu jam pelajaran berikutnya. Guru mata pelajaranpun tidak jarang melupakan aspek keaktifan siswa secara fisik dalam proses pembelajaran. Padahal aktifasi siswa secara fisik sangat perlu ditingkatkan dalam masa-masa perkembangan, selain untuk

meningkatkan kebugaran juga bermanfaat untuk mengembalikan konsentrasi belajar. Mekanisme belajar seperti ini tentu mempengaruhi pengalaman dan persepsi siswa mengenai aktivitas belajar di sekolah, tidak menutup kemungkinan juga memiliki hubungan dengan aspek-aspek penilaian hasil belajar. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006 pada bab III mengenai beban belajar menyebutkan pilihan mengenai sistem paket dan sistem satuan kredit semester (SKS). Beban belajar ini mencakup satuan waktu dari program pembelajaran yang harus diikuti peserta didik pada setiap jenjangnya. Sistem yang ditawarkan dalam Permendiknas di atas pada dasarnya adalah untuk mengkategorikan sekolah yang belum memenuhi

2

standar nasional dengan sekolah yang sudah atau hampir memenuhi standar nasional. Sekolah dengan kategori mandiri atau yang sudah dan hampir memenuhi standar nasional pendidikan diinstruksikan untuk mulai

menggunakan sistem kredit semester yang selanjutnya disebut SKS. SKS mengindikasikan perlunya sistem pembelajaran yang baru karena fleksibilitas penentuan beban belajar yang diambil diserahkan pada siswa. Salah satu implikasi dari diterapkannya SKS di jenjang sekolah menengah adalah munculnya sistem pembelajaran moving class. Kehadiran dan pelaksanaan sistem pembelajaran moving class selain disebabkan oleh penegasan Permendiknas No 22 Tahun 2006 diatas juga dilatarbelakangi oleh alasan-alasan mengenai peningkatan kualitas

pendidikan. Misalnya dalam salah satu artikel dalam portal web wikimu Robertus Maluk Nugroho mengungkapkan: Kemampuan belajar setiap anak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Anak-anak akan tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar yang didukung lingkungan yang dirancang secara cermat dengan menggunakan konsep yang jelas. Untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bereksplorasi, mencipta, berpikir kreatif, dan mengembangkan kemampuan lain yang dimiliki siswa, sekolah perlu menerapkan berbagai model pembelajaran yang dikelola dengan sistem Moving class. Artikel yang dibuat oleh Robertus diatas mengungkapkan bahwa dalam proses belajar lingkungan yang dirancang secara cermat dengan konsep yang jelas akan mendukung kemampuan siswa dalam mengembangkan potensi diri siswa. Salah satu alternatif pengelolaan pembelajaran yang dapat digunakan

3

untuk mencapai tujuan tersebut adalah sistem moving class. Sistem moving class adalah sistem belajar dan pengelolaan kelas yang mengindikasikan bergeraknya peserta didik ke kelas sesuai dengan mata pelajaran yang akan dipelajarinya. Kelas-kelas yang ada dalam sistem moving class adalah kelas mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran, sehingga setting kelas maupun peralatan dan media yang dibutuhkan untuk mempelajari pelajaran tertentu dapat diletakkan dalam kelas, layaknya konsep laboratorium. Konsep moving class telah lama dikenal dalam dunia pendidikan terutama pendidikan tinggi. Saat ini sistem belajar moving class mulai coba diterapkan di sekolah-sekolah menengah. Beberapa alasan melatarbelakangi penerapan konsep ini, misalnya faktor kesiapan siswa. Berpindahnya siswa dari satu ruangan ke ruangan lain membuat siswa bergerak dan diharapkan mengembalikan konsentrasi dan menghindari kejenuhan belajar dalam kelas yang sama sepanjang hari. Selain itu, beberapa kelebihan yang dimiliki sistem moving class seperti yang diungkapkan dalam Juknis Sistem Moving Class SMA yang diluncurkan oleh Direktorat Pembinaan SMA adalah peserta didik memiliki waktu untuk bergerak, sehingga selalu segar untuk

menerima pelajaran. Bagi peserta didik, mereka lebih fokus pada materi pelajaran, suasana kelas menyenangkan, dan interaksi peserta didik dengan guru lebih intensif. Bagi guru, mempermudah mengelola

pembelajaran, lebih kreatif dan inovatif dalam mendesain kelas, guru lebih maksimal dalam menggunakan berbagai media, pemanfaatan waktu belajar lebih efisien, dan lebih mudah mengelola suasana kelas.

4

Kontribusi penerapan moving class ini juga pernah

dibahas dalam

skripsi karya Liana Ekasari yang menggali masalah pelaksanaan moving class terhadap motivasi siswa. Penelitian dengan judul Kontribusi Sistem Pembelajaran Moving Class Terhadap Motivasi Belajar Siswa: Studi Kasus Siswa Kelas XI Jurusan Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Sumedang ini menghasilkan temuan sebagai berikut: (1) menurut persepsi siswa, penerapan sistem pembelajaran moving class di SMK Negeri 1 Sumedang sudah berjalan dengan baik, (2) motivasi belajar siswa kelas XI jurusan teknik gambar bangunan SMK Negeri 1 Sumedang termasuk ke dalam kategori tinggi, (3) terdapat hubungan yang kuat antara penerapan sistem pembelajaran moving class di SMK Negeri 1 Sumedang dengan motivasi belajar siswa, (4) kontribusi penerapan sistem pembelajaran moving class di SMK Negeri 1 Sumedang terhadap motivasi belajar siswa adalah sebesar 56,7%. Dalam hasil penelitian di atas peserta didik memiliki motivasi yang tinggi dengan menerapkan moving class. Kontribusi positif terhadap motivasi ini bisa jadi berhubungan dengan prestasi belajar. Penelitian mengenai pemanfaatan moving class saat ini lebih banyak difokuskan pada pelaksanaan maupun pengaruh intrinsik peserta didik seperti motivasi. Hubungan penerapan sistem moving class dengan prestasi belajar tentunya merupakan studi yang penting, mengingat pengalaman belajar yang telah dirancang sedemikian rupa salah satu tujuannya adalah mendorong potensi dan prestasi peserta didik. Salah satu penelitian yang menunjukan pengaruh moving class dengan prestasi belajar siswa adalah skripsi karya Ayus Bahrul Qolbi. Penelitian yang berjudul Pengaruh Implementasi Moving Class Terhadap Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Di SMA Negeri 2 Situbondo ini mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:

5

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh langsung implementasi moving class terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Seni Budaya sebesar 38,6%, (2) terdapat pengaruh langsung implementasi moving class terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Seni Budaya sebesar 22,6%, (3) terdapat pengaruh langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Seni Budaya sebesar 23,0%, (4) terdapat pengaruh tidak langsung implementasi moving class terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Seni Budaya sebesar 8,8%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Ayus diatas tentunya dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh yang cukup berarti dari implementasi moving class dengan motivasi dan prestasi belajar siswa. Hal ini membuktikan bahwa prestasi siswa juga dipengaruhi langsung oleh proses dan pengelolaan lingkungan pembelajaran yang baik. Sistem belajar kelas menetap dan moving class pada dasarnya merupakan sistem penataan lingkungan dan sirkulasi pembelajaran yang diciptakan sekolah demi mencapai tujuan pendidikan. Kedua sistem tentunya ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam pelaksanaan dan pertimbangan kontribusi yang dihasilkan. Salah satu kontribusi yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem belajar ini adalah prestasi belajar. Perbedaan dan pengaruh pada beberapa aspek sistem belajar kelas menetap dengan sistem belajar moving class telah dijabarkan peneliti sebelumnya, namun perlu diadakan penelitian yang lebih komperhensif untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pada prestasi siswa yang signifikan antara siswa yang menggunakan sistem kelas menetap dengan sistem moving class. Merujuk pada permasalahan diatas maka penulis membuat judul