osteoporosis lansia atau gerontik

Download Osteoporosis Lansia Atau Gerontik

Post on 05-Dec-2014

479 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

lansia

TRANSCRIPT

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA KELOMPOK DENGAN MASALAH UTAMA OSTEOPOROSIS

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS UNIVERSITAS SEMARANG 2006

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr.Wb. Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kita, sehingga kita mampu menyelesaikan laporan Asuhan Keperawatan Kelompok Usia Lanjut dengan Masalah osteoporosis di Wisma Surti Kanti Panti Wredha Wening Wardhoyo Ungaran. Dalam melaksanakan asuhan kelompok usia lanjut sampai dengan penulisan laporan, kelompok mengalami sejumlah kesulitan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang kelompok miliki. Namun, atas bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak, akhirnya asuhan keperawatan kelompok usia lanjut dengan masalah hipertensi dapat terselesaikan, mulai dari pengkajian, penyusunan diagnosa keperawatan dan prioritas masalah, rencana intervensi, implementasi, dan evaluasi, sampai dengan tahap pendokumentasian dari keseluruhan proses tersebut. oleh karena itu, dalam kesempatan ini, kelompok ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dra. Sri Rukmi Handayani selaku Kepala Panti Wredha Wening Wardhoyo Ungaran. 2. Bpk Ungaran. 3. Ns. Tri Nurhidayati, S.Kep selaku koordinator praktek keperawatan gerontik. 4. Ns. Siti Aisyah, S.Kep, Edy Soesanto, S.Kp, Ns. Dera Alfiyanti, S.Kp selaku pembimbing akademik Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang. 5. Rekan-rekan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Muhammadiyah Semarang atas kerjasamanya. 6. Semua pihak yang tidak dapat kelompok sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam pelaksanaan asuhan keperawatan dan penyusunan laporan ini. Universitas selaku pengasuh Wisma Arjuna Panti Wredha Wening Wardhoyo

Ibarat kata pepatah tidak ada gading yang tak retak, tentunya laporan ini masih terdapat kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik yang konstruktif dari pembaca guna menyempurnakan laporan ini. Harapan kami, laporan ini bermanfaat bagi dunia keperawatan khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya.

Ungaran,

September 2006

Kelompok III

BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Penyakit tulang dan patah tulang merupakan salah satu dari sindrom geriatric, dalam arti insidens dan akibatnya pada usia lanjut yang cukup significant. Dengan bertambahnya usia terdapat peningkatan hilang tulang secara linear. Hilang tulang ini lebih nyata pada wanita disbanding pria. Tingkat hilang tulang ini sekitar 0,5 1% per tahun dari berat tulang pada wanita pasca menopause dan pada pria > 80 tahun. Hilang tulang ini lebih mengenai bagian trabekula disbanding bagian korteks, dan pada pemeriksaan histologik wanita dengan osteoporosis spinal pasca menopause tinggal mempunyai tulang trabekula < 14% (nilai normal pada lansia 14 24% ) (Peck, 1989). Sepanjang hidup tulang mengalami perusakan (dilaksanakan oleh sel osteoklas) dan pembentukan (dilakukan oleh sel osteoblas) yang berjalan bersama-sama, sehingga tulang dapat membentuk modelnya seseuai dengan pertumbuhan badan (proses remodelling)> Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa proses remodelling ini akan sangat cepat pada usia remaja (growth spurt). Terdapat berbagai factor yang mempengaruhi pembentukan dan pengrusakan oleh kedua jenis sel tersebut. Apabila hasil akhir perusakan (resorbsi/destruksi) lebih besar dari pembentukan (formasi) maka akan timbul osteoporosis. Kondisi ini tentu saja sangat mencemaskan siapapun yang peduli, hal ini terjadi karena ketidaktahuan pasien terhadap osteoporosis dan akibatnya. Beberapa hambatan dalam penanggulangan dan pencegahan osteoporosis antara lain karena kurang pengetahuan, kurangnya fasilitas pengobatan, factor nutrisi yang disediakan, serta hambatan-hambatan keuangan. Sehingga diperluan kerja sama yang baik antara lembaga-lembaga kesehatan, dokter dan

pasien. Pengertian yang salah tentang perawatan osteoporosis sering terjadi karena kurangnya pengetahuan. Peran dari petugas kesehatan dalam hal ini adalah dokter dan perawat sangatlah mutlak untuk dilaksanakan. Karena dengan perannya akan membantu dalam mengatasi peningkatan angka prevalensi dari osteoporosis. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan berperan dalam upaya pendidikan dengan memberikan penyuluhan tentang pengertian osteoporosis, penyebab dan gejala osteoporosis serta pengelolaan osteoporosis. Berperan juga dalam meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan serta peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik pasien serta keluarganya dalam melaksanakan pengobatan osteoporosis. Peran yang terakhir adalah peningkatan kerja sama dan system rujukan antar berbagai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan, hal ini akan memberi nilai posistif dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. II. Tujuan Tujuan penyusunan makalah ini adalah : 1. Tujuan Umum : Untuk megetahui gambaran secara nyata dan lebih mendalam tentang pemberian asuhan keperawatan pada kelayan dengan osteoporosis di panti werha 2. Tujuan Khusus : a. Untuk mengaplikasi teori dan konsep asuhan keperawatan khususnya pada lansia denan osteoporosis b. Untuk mengetahui hambatan dan perMassalahan yang timbul dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada lansia dengan osteoporosis. c. Mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, kreatifitas penulis

berdasarkan teori dan praktik klinik keperawatan di panti werdha Weing Wardoyo Ungaran

III. Proses Pembuatan Makalah Penulisan makalah pada studi kasus menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarakan Massalah-Massalah yang terjadi dan didapat pada saat melaksanakan asuhan keperawatan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah : a. Wawancara Yaitu melakukan Tanya jawab langsung kepada klien dan keluarga, perawat, dokter serta tim kesehatan lainnya b. Observasi partisipatif aktif Yaitu mengadakan pengawasan langsung terhadap kelayan serta melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan perMassalahan yang dihadapi c. Studi Kepustakaan Yaitu mempelajari literature-literatur yang berhubungan dengan ekspresi menarik diri d. Studi Dokumentasi Yaitu pengumpulan data dengan mempelajari catatan medik dan hasil pemeriksaan yang ada

BAB II LANDASAN TEORI A. DEFINISI Adalah suatu keadaan pengurangan jaringan tulang per unit volume, sehingga tidak mampu melindungi atau mencegah terjadinya fraktur terhadap trauma minimal. Secara histopatologis osteoporosis ditandai oleh berkurangnya ketebalan korteks disertai dengan berkurangnya jumlah maupun ukuran trabekula tulang. Penurunan Massa tulang ini sebagai akibat dari berkurangnya pembentukan, meningkatnya perusakan (destruksi) atau kombinasi dari keduanya (Hadi-Martono, 1996). Menurut pembagiannya dapat dibedakan atas : (Peck, 1989 ; Chestnut, 1989) : *) Osteoporosis Primer yang terjadi bukan sebagai akibat penyakit yang lain, yang dibedakan lagi atas : Osteoporosis tipe I (pasca menopause), yang kehilangan tulang terutama dibagian trabekula Osteoporosis tipe II (senilis), terutama kehilangan Massa tulang daerah korteks Osteoporosis idiopatik yang terjadi pada usia muda denganpenyebab yang tidak diketahui *) Osteoporosis sekunder, yang terjadi pada /akibat penyakit lain, antara lain hiperparatiroid, gagal ginjal kronis, arthritis rematoid dan lain-lain. B. ETIOLOGI 1. Determinan Massa Tulang Massa tulang maksimal pada usia dewasa ditentukan oleh berbagai factor antara lain : Faktor genetic

Perbedaan genetic mempunyai pengaruh terhadap kepadatan tulang Faktor mekanik Beban mekanik berpengaruh terhadap massa tulang, bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya massa tulang. Ada hubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respon terhadap kerja mekanik. Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar Faktor makanan dan hormon Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetic yang bersangkutan 2. Determinan pengurangan Massa Tulang Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penurunan massa tulang pada usia lanjut yang dapat mengakibatkan fraktur osteoporosis pada dasarnya sama seperti pada factor-faktor yang mempengaruhi massa tulang. Faktor genetic Factor genetic berpengaruh terhadap resiko terjadinya fraktur. Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat resiko fraktur dari seseorang denfan tulang yang besar.

Factor mekanis Pada umumnya aktifitas fisik akan menurun dengan bertambahnya usia dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanik, massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia. Faktor lain

-

Kalsium Kalsium merupakan nutrisi yang penting, dengan masukan kalsium yang rendah dan absorbsinya tidak baik akan mengakibatkan keseimbangan kalsium yang negatif begitu sebaliknya.

-

Protein Parotein yang berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan keseimbangan kalsium yang negatif

-

Estrogen Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan

mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium, karena menurunnya efisiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium diginjal. Rokok dan kopi Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh rokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja. Alkohol Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium yang rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang pasti belum diketahui.

C. PATOFISIOLOGI Remodeling tulang normal pada orang dewasa akan meningkatkan massa tulang sampai sekitar usia 35 tahun. Genetik, nutrisi, gaya hidpu (merokok, minum kopi), dan aktifitas fi