penerapan learning organization pada pt. xyz - ?· penerapan learning organization pada pt. xyz...

Download Penerapan Learning Organization pada PT. XYZ - ?· Penerapan Learning Organization pada PT. XYZ Lucky…

Post on 02-Mar-2019

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Korespondensi: Lucky Meinanda Prasiwi. luckymeinandap@gmail.com

Cholichul Hadi. Cholichul.hadi@psikologi.unair.ac.id Departemen Psikologi Industri dan Organisasi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga,

Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan, Surabaya 60286

Penerapan Learning Organization pada PT. XYZ

Lucky Meinanda P

Cholichul Hadi

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Abstract. This study aims to explain the application of learning organization in PT. XYZ. This study uses learning organizational theory which developed by Watkins and Marsick (2003). Learning organization measured through three levels of the organization are individuals, groups, and organizations. This study was conducted in a shoe manufacturing company in Indonesia. The method used in this research is a qualitative-case study. Data mining techniques used in this research is the interviews with 6 key informants (5 HR staff and 1 employee production). Data is also collected by the study of document on both written documents and visual documents, also observations written in narrative. Based on the research results, it can be concluded that all five subsystems learning organization has applied and complement to each other. The local culture influences the implementation of learning organizations. Culture influenced the development of the organizational system causing the uniqueness of each unit of XYZ. There are several obstacles in implementing of learning organization such as the lack of availability placement of development program graduate and also the characteristic of community who is not a learner impacted the learning process in organization. Keywords: learning organization, learning, organizational culture Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan learning organization pada PT. XYZ dengan menggunakan teori learning organization yang dikemukakan oleh Marsick dan Watkins. Learning organization terukur melalui tiga level yang sama yaitu individu, kelompok dan organisasi. Berdasarkan level-level ini Watkins dan Marsick mengusulkan tujuh model dimensi untuk mengetahui budaya learning organization yaitu learning, inquiry dan dialogue, team learning, system capture, collective vision, connecting organization and environment, strategic leadership. Penelitian ini dilakukan di salah satu perusahaan manufaktur sepatu di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif-studi kasus. Teknik penggalian data yang digunakan adalah wawancara kepada 3 informan kunci yang berasal dari staf HRD. Penggalian data juga dikumpulkan dengan teknik studi dokumen baik yang tertulis dan visual, serta observasi yang ditulis dalam bentuk naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan learning organization di PT. XYZ dipengaruhi oleh budaya lokal. Selain itu budaya yang mempengaruhi perkembangan sistem organisasi menimbulkan keunikan tersendiri pada masing-masing unit XYZ. Terdapat beberapa kendala dalam menerapkan learning organization seperti kurangnya ketersediaan posisi dalam penempatan lulusan program development dan karakter masyarakat sekitar juga menjadi salah satu kendala dalam melakukan kegiatan pembelajaran.Kata kunci: organisasi pembelajar, belajar, budaya organisasi

Pendahuluan

Persaingan bisnis di era globalisasi merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh

setiap organisasi. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya persaingan bisnis adalah

minat konsumen. Perubahan minat konsumen mendorong munculnya para kompetitor

baru yang berlomba untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan cepat, sehingga

organisasi dituntut untuk menyesuaikan diri agar mampu bersaing dengan para

kompetitor (Sari, 2012; Marquardt, 2002). Ketika organisasi mampu menghadapi perubahan

lingkungan maka kebutuhan inovasi untuk mempertahankan keunggulan organisasi akan

meningkat (Tsai & Wang, 2004 dalam Idowu 2013).

Perkembangan teknologi, ekonomi global, dan perubahan peran serta harapan

karyawan juga menjadi faktor mengapa pembelajaran menjadi penting dilakukan bagi

organisasi (Marquardt, 2002). Pembelajaran tidak hanya menjadi startegi pengembangan

bagi sumber daya manusia namun pembelajaran menjadi inti dari semua bagian operasi,

cara berperilaku dan sebuah sistem dalam organisasi. Kecerdasan indivu dalam organisasi

baik pada level individu, kelompok dan organisasi dikombinasikan dengan peningkatan

sistem organisasi, pemenuhan teknologi, manajemen pengetahuan serta pemberdayaan

manusia (marquardt, 2002). Sehingga organisasi dapat menciptakan pengetahuan baru

untuk mencapai tujuan perusahaan.

Organisasi pembelajar atau learning organization merupakan sebuah konsep

dimana suatu organisasi dianggap mampu untuk belajar sehingga organisasi memiliki

kecepatan berpikir dan bertindak dalam merespon berbagai perubahan yang muncul.

Watkins & Marsick (2003) menjelaskan konsep learning organization dapat meningkatkan

kapasitas organisasi untuk melakukan pembelajaran dan bertransformasi melalui 7 dimensi

yaitu menciptakan peluang belajar secara terus-menerus, mempromosikan penyelidikan

dan dialog, mendorong kolaborasi dan pembelajaran dalam kelompok, membangun sistem

untuk menangkap dan membagi pembelajaran, memberdayakan anggota organisasi

menuju visi bersama, menyediakan strategi kepemimpinan untuk belajar, dan

menghubungkan organisasi dengan lingkungannya.

PT. XYZ merupakan salah satu perusahaan yang terus-menerus melakukan

pengembangan dengan meintegrasikan kegiatan belajar secara sistematis dengan

kehidupan organisasi. PT. XYZ adalah perusahaan manufaktur dalam skala multinasional

yang bergerak di sektor kulit dan alas kaki. Pada dasarnya industri manufaktur memiliki

pertumbuhan yang cukup kuat di Indonesia yaitu sebesar 20% sumbangsih yang diberikan

bagi pertumbuhan Produk Domestik Bruto Negara (Kebijakan Perburuhan dan Tantangan

Pasar ASEAN, 2014).

Bagi PT. XYZ, konsep learning organization sebenarnya sudah mulai dilakukan.

Sistem PT. XYZ yang diterapkan mendukung kegiatan belajar untuk berjalan secara terus-

menerus. Kegiatan pengembangan skill dan kompetensi karyawan dihubungkan dengan

pengembangan organisasi secara keseluruhan. Budaya menjadi salah satu faktor penting

dalam menerapkan learning organization. Adanya perbedaan budaya antara budaya yang

dibawa oleh perusahaan dengan budaya lokal di masing-masing negara menjadi hal yang

berpengaruh pada penerapan learning organization.

Learning Organization (LO)

Dasar pemikiran dari learning organization merupakan konsep learning yang

dikembangkan oleh John Dewey dimana proses learning terjadi melalui pengalaman yang

mengartikan bahwa belajar melekat secara alami pada manusia (Wenger, 1996 dalam

Kontoghiorghes, dkk., 2005).

Marsick & Watkins menjelaskan bahwa individu dapat membentuk iklim atau

budaya untuk belajar ketika terjadi suatu ketidaksesuaian pada perilaku yang menjadi

pemicu dari suatu respon. Setiap individu dapat menentukan strategi dan tindakan sebagai

respon dari pemicu yang ada (Argyris, dkk, 1985, dalam Watkins&Marsick, 2003).

Marsick & Watkins mengembangkan teori mengenai learning organization

dengan menciptakan beberapa dimensi yang dapat membentuk budaya belajar. Konsep

learning organization meningkatkan kapasitas untuk melakukan pembelajaran dan

bertransformasi melalui dimensi yang disebutkan (Marsick, 2013). Terdapat 7 dimensi dari

konsep learning organization yang dijelaskan oleh Watkins dan Marsick, yaitu:

Tabel 1

Tabel Dimensi Learning Organization

No Dimensi Keterangan Kode

1 Learning Kegiatan belajar didesain ke dalam pekerjaan sehingga anggota

organisasi dapat belajar melalui pekerjaan yang ada. Kesempatan-

kesempatan disediakan untuk keberlangsungan pendidikan dan

pertumbuhan yang berlangsung di organisasi.

CL

2 Dialogue & Inquiry Anggota organisasi mendapatkan keterampilan penalaran produktif

untuk mengekspresikan pandangan mereka dan kemampuannya dalam

mendengarkan dan menyelidiki pandangan orang lain. Budaya berubah

dan mendukung dari munculnya pertanyaan, feedback, dan

eksperimen.

DI

3 Team learning Pekerjaan didesain untuk meggunakan kelompok dalam mengakses

berbagai cara berpikir dari anggota organisasi. Kelompok diharapkan

untuk belajar dan bekerja secara bersama-sama. Kolaborasi merupakan

nilai yang berasal dari budaya dan penghargaan.

TL

4 System capture Sistem teknologi digunakan untuk membagi pembelajaran dan

diintegrasikan dengan pekerjaan. Menyediakan akses dan mengelola

sistem teknologi yang ada.

ES

5 Collective vision Memberdayakan anggota organisasi, menumbuhkan rasa memiliki dan EP

mengimplementasikan tujuan organisasi secara bersama-sama.

Membagikan tanggungjawab dalam menentukan keputusan sehingga

memotivasi anggota orgaisasi untuk belajar sesuai dengan kemampuan

mereka.

6 Connecting

organization &

environment

Anggota organisasi dapat melihat keterkaitan dan efek dari

pekerjaannya terhadap perusahaan. Anggota organisasi dapat peduli

dengan lingkungan sekitarnya. Anggota organisasi menggunakan

informasi untuk menilai pekerjaan mereka. Organisasi terhubung

dengan komunitas dan masyarakat.

CO

7 Strate

Recommended

View more >