pengaruh obstructive sleep apnea (osa) terhadap fungsi ...arsip. penyakit jantung koroner (termasuk

Download Pengaruh Obstructive Sleep Apnea (OSA) Terhadap Fungsi ...arsip. penyakit jantung koroner (termasuk

Post on 16-Apr-2019

220 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

J Respir Indo Vol. 35 No. 4 Oktober 2015 247

Silmi Kaffah: Pengaruh Obstuctive Sleep Apnea (OSA) Terhadap Fungsi Kognitif

Korespondensi: Silmi KaffahEmail: shilmee_honney@yahoo.com; Hp: 08128701222

Pengaruh Obstructive Sleep Apnea (OSA) Terhadap Fungsi Kognitif

Silmi Kaffah, Agus Dwi Susanto

Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSUP Persahabatan, Jakarta

AbstrakObstructive sleep apnea syndrome (OSA) merupakan sleep related disorder yang dapat mengancam jiwa, ditandai episode berulang yang menimbulkan obstruksi aliran udara dan hipoksia intermiten. Prevalensi terlihat meningkat pada obesitas. Atensi, memori, kecepatan psikomotorik, waktu reaksi, kemampuan visuospasial, kemampuan konstruksional, executive function dan kemampuan bahasa adalah bentuk gangguan fungsi kognitif pada pasien OSA. Mekanisme penurunan fungsi kognitif pada OSA masih belum jelas. Beberapa penelitian sleep fragmentation, daytime sleepiness dan hipoksemia nokturnal dapat menyebabkan kelainan fungsi kognitif pada pasien OSA. (J Respir Indo. 2015; 35: 247-59)Kata kunci: Kognitif, daytime sleepiness, hipoksia, obstructive sleep apnea

Effect of Obstructive Sleep Apnea (OSA) to Cognitive Function

AbstractThe Obstructive sleep apnea (OSA) is a potentially life-threatening sleep related breathing disorder characterized by repetitive episodes of airflow cessation resulting in brief arousals and intermittent hypoxia. The prevalence appears to be increasing with trends towards higher rates of obesity. Attention, memory, psychomotor speed, reaction time, visuospatialabilities, constructional abilities, executive functions and language abilities are among the most impaired cognitive domains in OSA patients. The mechanism of cognitive deficits in OSA is still unclear. Several studies suggest that sleep fragmentation, daytime sleepiness and nocturnal hypoxemia may induce an impaired cognitive function in OSA patients. (J Respir Indo. 2015; 35: 247-59)Keywords: Cognition, daytime sleepiness, hypoxia,obstructive sleep apnea.

J Respir Indo Vol. 35 No. 4 Oktober 2015248

Silmi Kaffah: Pengaruh Obstuctive Sleep Apnea (OSA) Terhadap Fungsi Kognitif

PENDAHULUAN

Obstructive sleep apnea (OSA) merupakan masalah utama kesehatan masyarakat, dengan prevalensi yang tinggi akan meningkatkan morbiditas, mortalitas, biaya kesehatan serta risiko keselamatan.1

Obstructive sleep apnea mempengaruhi sekitar 5% di penduduk negara bagian barat, akan tetapi 80% kasus tidak terdiagnosis. Prevalensi OSA meningkat sejalan dengan usia dan puncaknya terjadi pada usia 60 tahun. Meskipun 1 dari 5 orang dewasa memiliki OSA derajat ringan, hanya 1 dari 15 orang dewasa yang memiliki OSA derajat sedang sampai berat. Obesitas merupakan faktor risiko signifikan dari OSA. Peningkatan berat badan 10% saja akan meningkatkan risiko OSA sebesar enam kali. Dilaporkan insidens OSA meningkat di Amerika yang diakibatkan oleh obesitas.2 Penelitian yang dilakukan Wiadnyana dkk pada pengemudi taksi X di Jakarta dengan indeks massa tubuh > 25, riwayat mendengkur dalam keluarga, lingkar leher >40 cm, usia >36 tahun serta jadwal kerja yang padat sebanyak 25% memiliki kecenderungan untuk mengalami OSA.3 Obstructive sleep apnea merupakan salah satu bentuk sleepdisordered breathing (SDB). Sekitar 40 juta orang di Amerika menderita OSA dengan prevalensi 3%-7% pada laki-laki dan 2%-5% pada perempuan.4

Penderita OSA yang tidak ditangani dapat terjadi berbagai kondisi antara lain hipertensi, penyakit jantung koroner (termasuk infark miokard), diabetes melitus, gagal jantung, stroke dan gangguan fungsi kognitif.2 Meskipun penurunan fungsi kognitif pada OSA belum dapat dipahami seutuhnya, akan tetapi beberapa penelitian menyebutkan terdapat penurunan fungsi kognitif pada penderita OSA. Fungsi kognitif antara lain meliputi fungsi intelektual, memori, perhatian, executive function.1,5 Sebuah penelitian prospektif observasional pada 49 pasien consecutive, didapatkan hasil 1 dari 4 pasien OSA mempunyai gangguan fungsi kognitif. Penderita OSA mempunyai dampak terhadap fungsi psikomotor serta kognitif seperti perhatian,memori dan executive function. Obstructive sleep apnea seringkali dikaitkan dengan gangguan kognitif ringan. Penatalaksaan

tepat terhadap risiko gangguan fungsi kognitif pada penderita OSA diharapkan dapat ditangani dengan lebih dini.6 Beberapa penelitian menyebutkan salah satu penyebab penurunan fungsi kognitif pada OSA diantaranya adalah efek sleep fragmentationdan atau hipoksia intermiten.7 Tinjauan pustaka ini akan membahas lebih lanjut tentang pengaruh OSA terhadap fungsi kognitif.

OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA

Obstructive sleep apnea menurut American Academy of Sleep Medicine (AASM) ditandai oleh episode berulang obstruksi saluran napas atas yang bersifat komplit (apnea) atau parsial (hipopnea) saluran napas atas selama tidur. Kondisi ini disertai dengan desaturasi oksigen dan terbangun dari tidur (arrousal). Prevalensi OSA diperkirakan 4% pada laki-laki dan 2% pada perempuan. Pada orang dewasa didapatkan perbandingan laki-laki dengan perempuan yakni 2:1.8,9 Apnea didefinisikan sebagai penghentian komplit saluran napas minimal 10 detik. Hipopnea didefinisikan sebagai pengurangan dalam aliran udara (30%-50%) yang diikuti oleh episode bangun dari tidur (arrousal)atau penurunan saturasi oksigen (3%-4%). Derajat keparahan sleep apnea dinilai dengan menggunakan apnoea-hypopnea index (AHI) yaitu jumlah apnea/hipopnea yang terjadi per jam selama tidur. Berdasarkan AASM, OSA didefinisikan apabila nilai AHI >5. Klasifikasi OSA dibagi atas OSA ringan apabila AHI 5-15, OSA sedang apabila nilai AHI 15-30 dan OSA berat apabila nilai AHI >30.8

PATOFISIOLOGI OSA

Patofisiologi OSA sangat kompleks dan bervariasi masing-masing individu. Saat tidur, refleks otot faringeal memegang peranan dalam mengurangi atau hilangnya kompensasi neuromoskular sehingga terjadi penyempitan faring dan kolapsnya faring secara komplit yang bersifat intermiten. Terjadinya kolaps faring pada penderita OSA umumnya pada posterior dari lidah, uvula dan palatum mole atau kombinasi dari struktur tersebut. Bagian dari

J Respir Indo Vol. 35 No. 4 Oktober 2015 249

Silmi Kaffah: Pengaruh Obstuctive Sleep Apnea (OSA) Terhadap Fungsi Kognitif

saluran napas faringeal (dari nasal septum posterior sampai epiglotis) bergantung pada aktivitas otot untuk mempertahankan patensinya karena hanya mengandung sedikit komponen tulang sehingga kurang kekakuannya. Kelainan primer pada pasien OSA yaitu anatomis saluran napas faringeal yang kecil karena obesitas, struktur jaringan lunak dan

tulang, tonsil dan adenoid pada anak-anak. Selama kondisi terjaga menyebabkan peningkatan resistensi aliran udara serta peningkatan tekanan negatif intra faringeal selama inspirasi. Gambar 1 menunjukan keadaan obstruksi parsial (hipopnea) dan komplit (apnea) pada saluran napas atas.10

Gambar 1. Obstruksi parsial (hipopnea) dan komplit (apnea) saluran napas atas

Dikutip dari (10)

Tabel 1. Gejala klinis OSA

Gejala klinis OSAKebiasaan mendengkur kerasWitnessed apneasTerbangun pada malam hariNapas tersengal atau tercekik selama tidurNokturiaUnrefreshing sleep, sakit kepala pagi hariExcessive daytime sleepinessKecelakaan lalu lintas atau kecelakaan akibat kerjaIritabilitas, hilang memori, perubahan kepribadianPenuruan libidoImpotensi

Dikutip dari (12)

GEJALA KLINIS OSA

Gejala yang dialami oleh penderita OSA ber-variasi berdasarkan tingkat keparahannya. Manifes tasi klinis dibedakan dalam dua kelompok yaitu kelompok dominan neuropsikiatri dan perilaku dan kelompok dominan kardiorespirasi. Manifestasi klinis tersering adalah neuropsikiatri dan perilaku dengan keluhan

tersering rasa mengantuk berat di siang hari.11 Penderita OSA mengeluhkan gejala antara lain terbangun pada malam hari karena terdapat episode apnea, saat tidur napas tersengal atau tercekik, disfungsi seksual seperti menurunnya libido serta impotensi, sakit kepala pada pagi hari, mendengkur, penurunan memori serta perubahan kepribadian. Obstructive sleep apnea menifestasi nyata pada penurunan fungsi kognitif. Menurunnya konsentrasi dan memori mempengaruhi kemampuan individu adaptasi di lingkungan kerjanya. Tabel 1 dibawah ini menunjukan gejala klinis yang timbul pada OSA.12

DIAGNOSIS OSA

Diagnosis OSA membutuhkan penggabungan penilaian relevan secara klinis dan pengamatan objektif dari gangguan pernapasan yang terjadi selama tidur. Obstructive sleep apnea merupakan faktor risiko independen terjadinya penyakit kardiovaskuler,

J Respir Indo Vol. 35 No. 4 Oktober 2015250

Silmi Kaffah: Pengaruh Obstuctive Sleep Apnea (OSA) Terhadap Fungsi Kognitif

hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung

kongestif dan stroke. Excessive daytime sleepiness

merupakan gangguan utama yang mempengaruhi

kualitas hidup, fungsi kognitif dan fungsi sosial.

Penilaianexcessive sleepiness menggunakan mul-

tiple sleep latency test (MSLT) dengan rata-rata di

bawah 10 menit atau dapat di bawah 5 menit (normal

10-20 menit).8 Berdasarkan AASM, kriteria diagnosis

OSA berikut ini:8

1. Penderita mempunyai keluhan rasa kantuk

berlebihan atau insomnia, terkadang penderita

tidak menyadarinya.

2. Episode sering akibat obstruksi pernapasan

selama tidur.

3. Beberapa kondisi :

- Mendengkur keras

- Sakit kepala pagi hari

- Mulut kering saat bangun

- Retraksi dada selama tidur pada anak-anak

4. Pemantauan polisomnografi didapatkan :

- Lebih dari 5 kali kondisi obstructive apneas,

durasi >10 detik, per jam siklus tidur da