pengaruh terapi aktivitas kelompok

Download Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok

Post on 08-Nov-2015

7 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

TAK

TRANSCRIPT

Pengaruh Terapi Aktivitas; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Meda BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangGangguan kesehatan jiwa bukan hanya gejala kejiwaan saja tetapi sangat luas dari mulai yang ringan seperti kecemasan dan depresi, malas bekerja, sering tidak bisa kerja sama dengan teman sekerja, sering marah-marah,ketagihan napza sampai yang berat seperti skizoprenia(Administrator, 2008). Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat.Pada study terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-negara berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa parah tidak dapat pengobatan apapun pada tahun utama(Hardian, 2008). Masalah kesehatan jiwa merupakan masalah kesehatan masyarakat yang demikian tinggi dibandingkan dengan masalah kesehatan lain yang ada dimasyarakat (Azrul,2001). Krisis ekonomi dunia yang semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia khususnya kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa (Nurdwiyanti, 2008). Umumnya klien dengan perilaku kekerasan dibawa dengan paksa kerumah sakit jiwa. Sering tampak klien didikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan pengawalan oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku kekerasan seperti memukul anggota keluarga/orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga(Tim jiwa UI, 1999).Factor yang menimbulkan perilaku destruktif-diri adalah kejadian kehidupan yang memalukan,masalah interpersonal (perkembangan ego yang terlambat, hubungan orangtua yang tidak memuaskan, ras takut penolakan, ketidak mampuan mengungkapkan perasaan), dipermalukan didepan umum, kehilangan pekerjaan, ancaman pengangguran(Stuart, 2008). Bila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku agresif dan menentang, biasanya dilakukan individu karena ia merasa kuat. Cara demikian dapat menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku yang destruktif,sehingga terjadi perilaku kekerasan yang ditujukan pada orang lain, lingkungan dan diri sendiri(Jiwa kelompok9.2008).Perilaku destruktif-diri yaitu setiap aktivitas yang tidak dicegah, dapat mengarah kepada kematian, dan perilaku destruktif-diri ini langsung mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri(Stuart, 2005).

WHO menunjukkan bahwa diperkirakan sebanyak 873.000 orang melakukan bunuh diri tiap tahun di dunia. Oleh karna itu perlu diketahui apa saja yang yang dibutuhkan dalam rangka,membangun kesadaran dan mengurangi risiko kejadian bunuh diri(Hardian, 2008).Begitu juga kasus bunuh diri di Amerika mencapai 30.000 orang pertahun. Angka ini menunjukkan jumlah orang yang mencoba bunuh diri jauh lebih besar lagi, diperkirakan 8-10 kali lebih besar dari jumlah tersebut(Mustikasari, 2008).Tragisnya, lebih dari 80% penderita skizoprenia di Indonesia tidak diobati. Mereka dibiarkan berkeliaran di jalanan, atau bahkan dipasung. Padahal, jika diobati 1/3 dari mereka bisa sembuh total. Tetapi bila tidak diobati, akan terus kambuh ,dan 25-30% dari mereka resisten(Febriani, 2008). Dilema yang dialami oleh Indonesia mengacu pada data WHO, prevalensi (angka kesakitan) penderita skizoprenia sekitar 0,2-2%, sedangkan insidensi atau kasus baru yang muncul tiap tahun sekitar 0,01%(Febriani, 2009). Pemerintah tidak boleh lagi menutup mata, jika tidak ingin tingkat depresi yang akan membuat orang mengambil jalan pintas seperti bunuh diri dan menjadi penderita skizoprenia di masyarakat semakin besar. Terhadap para penderita gangguan jiwa itu, hanya 30-40% gangguan jiwa bisa sembuh total, 30% harus tetap berobat jalan, dan 30% lainnya harus menjalani perawatan instruksional, atau dirawat inapkan dipanti-panti rehabilitasi(Nurdwiyanti, 2008). Menurut Keliat, bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan dan merupakan keadaan darurat psikiatri karena individu berada dalam keadaan stress yang tinggi dan menggunakan koping yang maladptif(Wangmubo, 2009). Penyebab bunuh diri pada individu gangguan jiwa karena stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme koping yang digunakandalam mengatasi masalah (Mustikasari, 2008). Situasi mental yang tidak stabil merupakan salah satu penyebab mudahnya seseorang terkena psikosomatis, yaitu rentannya kondisi tubuh terhadap berbagai penyakit karena factor psikis (kejiwaan). Untuk itu perlu coping stress yang sederhana dan mudah dilakukan dengan solution focus group therapy (terapi aktivitas kelompok)(Jiwakelompok9, 2008). Linda Metcalf juga berkata, bahwa Solution Focused Group Therapy dapat menjdi satu alternatif yang luar biasa bagi seseorang untuk sembuh dan keluar dari masalahnya serta menemukan satu solusi yang baik(Fefendi, 2008). Terapi Aktivitas Kelompok adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat pada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.Didalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantug,saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memprbaiki perilaku yang lama yang maladaptif(Keliat, 2005). Sebaiknya mengekspresikan kemarahan dengan prilaku kontruksi dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti hati orang lain, memberi perasaan lega, keteganganpun menurun dan perasaan marah dapat teratasi. Bila perasaan marah diekspresikan denga prilaku menantang, biasanya dilakukan individu karena merasa kuat(Fefendi, 2008). Terapi Aktivitas Kelompok Stimilasi Persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulasi dan terkait dengan pengalaman dan/atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau altrnatif(Keliat, 2005). Terapi aktivitas kelompok ini secara signifikan memberi perubahan terhadap ekspresi kemarahan kearah yang lebih baik pada klien dengan riwayat kekerasan. Pernyataan ini dapat dibuktikan dengan adanya penurunan ekspresi kemarahan setelah dilakukan terapi aktivitas kelompok sebesar 60,4%(Fefendi, 2008). Pada terapi aktivitas stimulasi persepsi ini klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif(Keliat, 2005). Terapi aktivitas kelompok ini memberi hasil : kelompok menunjukkan loyalitas dan tanggung jawab bersama, menunjukkan partisipasi aktif semua anggotanya, mencapai tujuan kelompok, menunjukkan teerjadinya komunikasi antaranggota dan bukan hanya antara ketuadan anggota(Ann, 2005). Oleh karena itu, WHO meminta perhatian para praktisi kesehatan dan pihak terkait lainnya untuk memandang bunuh diri sebagai penyebab utama kematian dini yang dapat dicegah. Seseuai denga tema kesehatan jiwa se-dunia : Membangun Kesadaran Mengurangi Risiko: Gangguan Jiwa dan Bunuh Diri(Depkes, 2006). Bedasarkan pengalaman penelitian di lapangan khususnya RS Jiwa Provinsi Lampung untuk pelaksaan terapi aktivitas kelompok jarang atau tidak rutin dilakukanoleh perawat ruangan rawat inap walaupun ada tetapi tidak didokumentasikan(Jiwakelompok9, 2008).Dari data Rumah Sakit Jiwa Mahoni tahun 2008 (januari-desember), jumlah pasien sebanyak 252 orang : Bunuh diri 7 orang, perilaku kekerasan 26 orang. Pada tahun 2009 (januari-maret) jumlah pasien sebanyak 82 0rang : yang menarik diri 6 orang dan perilaku kekerasan 12 orang dan yang penyalahgunaan napza 20 orang. Di rumah sakit inilah peneliti ingin meneliti di rumah sakit jiwa mahoni karena selain angka kejadian perilaku kekerasan yang tinggi juga tidak pernah dilakkan terapi aktivitas kelompok kepada klien maka peneliti melakukan penelitian dengan judul: Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan. B. Rumusan MasalahBagaimana Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di rumah sakit jiwa mahoni medan tahun 2009?. C. Tujuan Penelitian1. Tujuan UmumMengetahui adanya Pengaruh Terapi Aktivitas; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009. 2. Tujuan Khusus1. Mengidentifikasi Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009. 2. Mengidentifikasi Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009. 3. Menganalisis Pengaruh Terapi Aktivitas; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Profesi KeperawatanDiharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi profesi dalam mengembangkan perencanaan keperawatan profesi yang akan dilakukan tentang Terapi Aktifitas Kelompok terhadap pasien gangguan jiwa. 2. Bagi Iptek Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan khususnya bagi para perawat jiwa. 3. Bagi Rumah Sakit Jiwa MahoniDiharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan kepada Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan dan sebagai dokumentasi praktek Terapi Aktivitas Kelompok Rumah Sakit serta sebagai penuntun bagi perawat jiwa dalam melanjutkan praktek asuhan keperawatan jiwa. 4. Bagi Keluarga Dan Pasien Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan khususnya bagi para perawat jiwa agar dapat menjalankan askep pada keluarga dan pasien gangguan jiwa.

BAB IITINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP KELOMPOK/GROUP1. Defenisi Kelompok Kelompo