pengembangan pertanian organik di...

of 18 /18
91 PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA The Development of Organic Agriculture in Indonesia Henny Mayrowani Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 E-mail : [email protected] Naskah masuk : 28 Juni 2012 Naskah diterima : 31 Agustus 2012 ABSTRACT Awareness of the dangers posed by the use of synthetic chemicals in farming attracts attention at both the producers and consumers. Most consumers will choose safe food ingredients for better health and it drives increased demand for organic products. Healthy, environmentally friendly life-style becomes a new trend and has been institutionalized internationally which requires assurance that agricultural products should be safe for consumption (food safety attributes), high nutrient content (nutritional attributes) and environmentally friendly (eco-labeling attributes). Indonesia has a great potential to compete in the international market, but it should be implemented gradually. This is because of many comparative advantages, i.e. (i) there are large land areas available for organic farming; (ii) technology to support organic farming is available such as composting, no- tillage planting, biological pesticides, among others. Although the government has launched various policies on organic agriculture such as "Go Organic 2010”, but the development of organic farming in the country is relatively slow. This situation is due to various problems such as market constraints, consumers’ interest, relatively expensive organic products certification for small farmers, and lack of farmers’ partnership with private companies. However, interest for organic farming has grown and it is expected to have positive impacts on the development of organic agriculture in Indonesia. Key word: organic farming, development, Indonesia ABSTRAK Kesadaran tentang bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian menjadikan pertanian organik menarik perhatian baik di tingkat produsen maupun konsumen. Kebanyakan konsumen akan memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan, sehingga mendorong meningkatnya permintaan produk organik. Pola hidup sehat yang akrab lingkungan telah menjadi trend baru dan telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes), dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain: (i) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, (ii) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain. Walaupun pemerintah telah mencanangkan berbagai kebijakan dalam pengembangan pertanian organik seperti ‘Go Organic 2010’, namun perkembangan pertanian organik di Indonesia masih sangat lambat. Keadaan ini disebabkan oleh berbagai kendala antara lain kendala pasar, minat konsumen dan pemahaman terhadap produk organik, proses sertifikasi yang dianggap berat oleh petani kecil, organisasi petani serta kemitraan petani dengan pengusaha. Namun minat bertani terhadap pertanian organik sudah tumbuh. Hal ini diharapkan akan berdampak positif terhadap pengembangan petanian organik. Kata kunci : pertanian organik, pengembangan, Indonesia

Author: vuquynh

Post on 13-Jul-2019

243 views

Category:

Documents


8 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 91

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA

    The Development of Organic Agriculture in Indonesia

    Henny Mayrowani

    Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan PertanianJl. A. Yani No. 70 Bogor 16161E-mail : [email protected]

    Naskah masuk : 28 Juni 2012 Naskah diterima : 31 Agustus 2012

    ABSTRACT

    Awareness of the dangers posed by the use of synthetic chemicals in farming attracts attention at boththe producers and consumers. Most consumers will choose safe food ingredients for better health and it drivesincreased demand for organic products. Healthy, environmentally friendly life-style becomes a new trend and hasbeen institutionalized internationally which requires assurance that agricultural products should be safe forconsumption (food safety attributes), high nutrient content (nutritional attributes) and environmentally friendly(eco-labeling attributes). Indonesia has a great potential to compete in the international market, but it should beimplemented gradually. This is because of many comparative advantages, i.e. (i) there are large land areasavailable for organic farming; (ii) technology to support organic farming is available such as composting, no-tillage planting, biological pesticides, among others. Although the government has launched various policies onorganic agriculture such as "Go Organic 2010, but the development of organic farming in the country is relativelyslow. This situation is due to various problems such as market constraints, consumers interest, relativelyexpensive organic products certification for small farmers, and lack of farmers partnership with privatecompanies. However, interest for organic farming has grown and it is expected to have positive impacts on thedevelopment of organic agriculture in Indonesia.

    Key word: organic farming, development, Indonesia

    ABSTRAK

    Kesadaran tentang bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanianmenjadikan pertanian organik menarik perhatian baik di tingkat produsen maupun konsumen. Kebanyakankonsumen akan memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan, sehingga mendorongmeningkatnya permintaan produk organik. Pola hidup sehat yang akrab lingkungan telah menjadi trend baru dantelah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratributaman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes), dan ramah lingkungan(eco-labelling attributes). Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasionalwalaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain: (i) masih banyaksumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, (ii) teknologi untukmendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah,pestisida hayati dan lain-lain. Walaupun pemerintah telah mencanangkan berbagai kebijakan dalampengembangan pertanian organik seperti Go Organic 2010, namun perkembangan pertanian organik diIndonesia masih sangat lambat. Keadaan ini disebabkan oleh berbagai kendala antara lain kendala pasar, minatkonsumen dan pemahaman terhadap produk organik, proses sertifikasi yang dianggap berat oleh petani kecil,organisasi petani serta kemitraan petani dengan pengusaha. Namun minat bertani terhadap pertanian organiksudah tumbuh. Hal ini diharapkan akan berdampak positif terhadap pengembangan petanian organik.

    Kata kunci : pertanian organik, pengembangan, Indonesia

    mailto:[email protected]
  • 92

    FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 30 No. 2, Desember 2012 : 91 - 108

    PENDAHULUAN

    Pertanian organik merupakan jawabanatas revolusi hijau yang digalakkan pada tahun1960-an yang menyebabkan berkurangnyakesuburan tanah dan kerusakan lingkunganakibat pemakaian pupuk dan pestisida kimiayang tidak terkendali. Sistem pertanianberbasis high input energy seperti pupuk kimiadan pestisida dapat merusak tanah yangakhirnya dapat menurunkan produktifitastanah, sehingga berkembang pertanianorganik. Pertanian organik sebenarnya sudahsejak lama dikenal, sejak ilmu bercocok tanamdikenal manusia, semuanya dilakukan secaratradisional dan menggunakan bahan-bahanalamiah. Pertanian organik modern didefinisi-kan sebagai sistem budidaya pertanian yangmengandalkan bahan-bahan alami tanpamenggunakan bahan kimia sintetis. Penge-lolaan pertanian organik didasarkan padaprinsip kesehatan, ekologi, keadilan, danperlindungan. Prinsip kesehatan dalampertanian organik adalah kegiatan pertanianharus memperhatikan kelestarian dan pening-katan kesehatan tanah, tanaman, hewan,bumi, dan manusia sebagai satu kesatuankarena semua komponen tersebut salingberhubungan dan tidak terpisahkan.

    Pertanian organik adalah sistempertanian yang holistik yang mendukung danmempercepat biodiversiti, siklus biologi danaktivitas biologi tanah. Sertifikasi produkorganik yang dihasilkan, penyimpanan,pengolahan, pasca panen dan pemasaranharus sesuai standar yang ditetapkan olehbadan standardisasi (IFOAM, 2008).

    Menurut Badan StandardisasiNasional (2002), "Organik" adalah istilahpelabelan yang menyatakan bahwa suatuproduk telah diproduksi sesuai dengan standarproduksi organik dan disertifikasi oleh otoritasatau lembaga sertifikasi resmi. Pertanianorganik didasarkan pada penggunaan ma-sukan eksternal yang minimum, sertamenghindari penggunaan pupuk dan pestisidasintetis. Praktek pertanian organik tidak dapatmenjamin bahwa produknya bebas sepenuh-nya dari residu karena adanya polusilingkungan secara umum. Namun beberapacara digunakan untuk mengurangi polusi dariudara, tanah dan air. Pekerja, pengolah dan

    pedagang pangan organik harus patuh padastandar untuk menjaga integritas produkpertanian organik. Tujuan utama dari pertanianorganik adalah untuk mengoptimalkan kese-hatan dan produktivitas komunitas inter-dependen dari kehidupan di tanah, tumbuhan,hewan dan manusia. Sejauh ini pertanianorganik disambut oleh banyak kalanganmasyarakat, meskipun dengan pemahamanyang berbeda.

    Keberlanjutan pertanian organik, tidakdapat dipisahkan dengan dimensi ekonomi,selain dimensi lingkungan dan dimensi sosial.Pertanian organik tidak hanya sebatasmeniadakan penggunaan input sintetis, tetapijuga pemanfaatan sumber-sumber daya alamsecara berkelanjutan, produksi makanan sehatdan menghemat energi. Aspek ekonomi dapatberkelanjutan bila produksi pertaniannyamampu mencukupi kebutuhan dan memberi-kan pendapatan yang cukup bagi petani.Tetapi, sering motivasi ekonomi menjadikemudi yang menyetir arah pengembanganpertanian organik. Kesadaran akan bahayayang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimiasintetis dalam pertanian menjadikan pertanianorganik menarik perhatian baik di tingkatprodusen maupun konsumen. Kebanyakankonsumen akan memilih bahan pangan yangaman bagi kesehatan dan ramah lingkungan,sehingga mendorong meningkatnya permin-taan produk organik. Pola hidup sehat yangakrab lingkungan telah menjadi trend barumeninggalkan pola hidup lama yang meng-gunakan bahan kimia non alami, sepertipupuk, pestisida kimia sintetis dan hormontumbuh dalam produksi pertanian. Pola hidupsehat ini telah melembaga secara interna-sional yang mensyaratkan jaminan bahwaproduk pertanian harus beratribut amandikonsumsi (food safety attributes), kandungannutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramahlingkungan (eco-labelling attributes). Panganyang sehat dan bergizi tinggi ini dapatdiproduksi dengan metode pertanian organik(Yanti, 2005).

    Bagi negara-negara berkembang,khususnya Indonesia, pangan organik masihmerupakan hal yang baru dan mulai populersekitar 4-5 tahun lalu. Damardjati (2005)mengatakan bahwa permintaan panganorganik meningkat di seluruh dunia dan jikaIndonesia bisa memenuhi kebutuhan ini dan

  • 93

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani

    bisa meningkatkan eksport produk organik,akan meningkatkan dayasaing usahapertanian (agribisnis) di Indonesia dan dapatmeningkatkan devisa dan pendapatan rumahtangga tani. Produk pertanian organik utamayang dihasilkan Indonesia adalah padi,sayuran, buah-buahan, kopi, coklat, jambumete, herbal, minyak kelapa, rempah-rempahdan madu. Diantara komoditi-komodititersebut, padi dan sayuran yang banyakdiproduksi oleh petani skala kecil untuk pasarlokal. Tidak ada data statistik resmi mengenaiproduksi pertanian organik di Indonesia.Namun perkembangan ekonomi dan tingginyakesadaran akan kesehatan, merupakanpemicu berkembang cepatnya pertumbuhanpermintaan produk organik.

    Pertanian organik belum sepenuhnyamemasyarakat, baik oleh petani sendirimaupun oleh pemerintah yang telahmencanangkan program kembali ke organik(go organic) tahun 2010. Walaupun programkembali ke organik tidak berjalan seperti apayang diharapkan, namun Indonesia masihmempunyai peluang untuk mengembangkanpertanian organik dengan potensi yangdimilikinya. Dalam tulisan ini dipaparkanpengembangan pertanian organik di Indonesia

    dalam rangka meningkatkan produksi panganyang aman dikonsumsi (food safety attributes),kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes)dan ramah lingkungan (eco-labellingattributes), serta dapat meningkatkanpendapatan petani dan devisa.

    PERTANIAN ORGANIK DUNIA

    Pertanian organik adalah teknikbudidaya pertanian yang mengandalkanbahan-bahan alami tanpa menggunakanbahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utamapertanian organik adalah menyediakanproduk-produk pertanian, terutama bahanpangan yang aman bagi kesehatan produsendan konsumennya serta tidak merusaklingkungan. Gaya hidup sehat demikian telahmelembaga secara internasional yang men-syaratkan jaminan bahwa produk pertanianharus beratribut aman dikonsumsi, kandungannutrisi tinggi dan ramah lingkungan. Preferensikonsumen seperti ini dan perkembanganekonomi menyebabkan permintaan produkpertanian organik dunia meningkat pesat.

    Gambar 1. Perkembangan Luas Pertanian Organik Dunia 1999-2009

    Sumber : Willer, 2010

  • 94

    FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 30 No. 2, Desember 2012 : 91 - 108

    Selama kurun waktu 10 tahun (1999-2009) terjadi peningkatan yang cukup pesatbaik dari perluasan lahan pertanian organikmaupun pelaku pertanian organik. Gambar 1memperlihatkan peningkatan luas lahanpertanian organik di dunia. Pada tahun 1999,luas lahan pertanian organik hanya 11 juta ha,dan meningkat kira-kira tiga kali lipat selamakurun waktu 10 tahun menjadi 37,2 juta ha.Luas lahan pertanian organik ini menunjukkanperkembangan yang pesat di sebagian besarnegara, bahkan terdapat peningkatanpertumbuhan yang cukup tinggi untuk

    beberapa komoditi pertanian organik di dunia.Walaupun perkembangan pertanian organikdidunia berkembang cepat, namun persentaseluas lahan pertanian organik dunia terhadapdari total luas lahan pertanian masih rendahyaitu 0,9 % (Tabel 1). Sejalan dengan berkembangnya lahanpertanian organik didunia, pelaku pertanianorganik juga berkembang dengan pesat.Willer (2010) melaporkan bahwa pada tahun2009 jumlah pelaku pertanian organik duniaadalah 1,8 juta, meningkat 0,4 juta dari tahun2008 (Gambar 2), cukup pesat dibandingkan

    Tabel 1. Persentase Luas Lahan Pertanian Organik terhadap Total Lahan Organik di Dunia, 2009

    Wilayah Lahan pertanian (ha) Lahan pertanian organik (%)Afrika 1.026.632 0,1Asia 3.581.918 0,3Eropa 9.259.934 1,9Uni Eropa 8.346.372 4,7Amerika Latin 8.558.910 1,4Oceania 12.152.108 2,8Amerika Utara 2.652.624 0,7Jumlah 37.232.127 0,9Sumber : Willer, 2010

    Gambar 2. Perkembangan Jumlah Pelaku Pertanian Organik di dunia 1999-2009

    Sumber : Willer, 2010

  • 95

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani

    dengan tahun-tahun sebelumnya. Kebanyak-an dari pelaku pertanian organik ini berada dinegara berkembang dan merupakan pasaryang baru muncul.

    Di India jumlah pelaku pertanianorganik meningkat hampir dua kali lipat.Dilaporkan juga bahwa lebih dari tigaperempat pelaku pertanian organik berasalAsia, Afrika dan Amerika Latin.

    Diperkirakan perdagangan produkorganik dunia mencapai USD $ 46,1 milyar(36,2 milyar Euro) pada tahun 2007 (IFOAM,2009). Perdagangan produk pangan organikterbesar di Amerika Serikat, sebesar 15,65milyar Euro pada tahun 2008 (Gambar 3).Menurut Gunawan (2007) permintaan luarnegeri terhadap pangan organik Indonesiameningkat, namun hanya bisa terpenuhisebesar 5 persen dari permintaan pasarinternasional. Besarnya pasar pangan organikdunia dan kebijakan integrasi ekonomiregional membuka peluang bagi Indonesiauntuk mengekspor produk-produk panganorganik ke pasar internasional. Hal inidimungkinkan karena Indonesia sumber dayayang besar baik sumber daya alam dan

    manusia, ada kecenderungan bahwa pe-merintah lebih peduli pada pengembanganpertanian organik karena pemerintah inginmerevitalisasi sektor pertanian sebagai tulangpunggung pembangunan ekonomi di Indonesia(Lesmana dan Hidayat, 2008), dan biayaproduksi akan jauh lebih rendah dibandingkandengan negara-negara lain, terutama negaramaju.

    PERKEMBANGAN PERTANIAN ORGANIKDI INDONESIA

    Pertanian organik modern di Indonesiadiperkenalkan oleh Yayasan Bina Sarana Bakti(BSB), dengan mengembangkan usahatanisayuran organik di Bogor, Jawa Barat padatahun 1984 (Prawoto and Surono, 2005;Sutanto 2002). Pada tahun 2006, terdapat23.605 petani organik di Indonesia denganluas area 41.431 ha, 0,09 persen dari totallahan pertanian di Indonesia (IFOAM, 2008).Perkembangan luas areal pertanian organikdari tahun 2007-2011 diperlihatkan padaGambar 4. Pada tahun 2007 luas arealpertanian organik di Indonesia adalah 40.970

    Gambar 3. Sepuluh Negara dengan Pasar Pangan Organik Terbesar di Dunia 2008.

    Sumber : Willer, 2010

  • 96

    FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 30 No. 2, Desember 2012 : 91 - 108

    ha, pada tahun 2008 meningkat secara tajamsebesar 409 persen menjadi 208.535 ha.Pertumbuhan luas pertanian organik dari tahun2008 hingga 2009 tidak terlalu signifikan,hanya 3 persen. Luas area pertanian organikIndonesia tahun 2010 adalah 238,872.24 ha,meningkat 10 persen dari tahun sebelumnya(2009). Namun pada tahun 2011 menurun5,77 persen dari tahun sebelumnya menjadi225.062,65 ha. Penurunan terjadi karenamenurunnya luas areal pertanian organiktersertifikasi sebanyak 13 persen. Hal inidisebabkan karena jumlah pelaku (petanimadu hutan) tidak lagi melanjutkan sertifikasiproduknya tahun 2011. Semakin luasnyapertanian organik, diharapkan bisa memberi-kan manfaat yang lebih luas dalam peme-nuhan permintaan masyarakat akan panganyang sehat dan berkelanjutan. Pertanianorganik saat ini telah berkembang secara luas,baik dari sisi budidaya, sarana produksi, jenisproduk, pemasaran, pengetahuan konsumendan organisasi/ lembaga masyarakat yangmenaruh minat (concern) pada pertanianorganik.

    Pada tahun 2011 luas area pertanianorganik tersertifikat adalah 90.135,30 hektar.Area tanpa sertifikasi seluas 134.717,66

    hektar, area dalam proses sertifikasi seluas3,80 hektar. Area pertanian organik dengansertifikasi PAMOR seluas 5,89 hektar (Tabel2). PAMOR adalah Penjaminan Mutu OrganisIndonesia, sebuah penjaminan partisipatifyang dikembangkan oleh Aliansi OrganisIndonesia.

    Tabel 2. Luas Area Pertanian Organik Indonesia2011

    Tipe Area Organik Luas (ha)

    Area tersertifikasi 90.135,30

    Area dalam proses sertifikasi 3,80

    Area dengan sertifikasi PAMOR 5,89

    Area tanpa sertifikasi 134.717,66

    Jumlah 225.062,65

    Sumber : SPOI 2011

    Luas lahan yang tersedia untukpertanian organik di Indonesia sangat besar.Dari 188,2 juta ha lahan yang dapat digunakan

    untuk usaha pertanian, baru sekitar 70 juta hayang telah digunakan untuk berbagai sistempertanian (Mulyani dan Agus, 2006), sisanya

    Gambar 4. Perkembangan Luas Area Pertanian Organik Indonesia 2007-2011

    Sumber : SPOI 2011

  • 97

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani

    belum dimanfaatkan dan bisa dimanfaatkanuntuk pertanian organik. Disamping itu,menurut Nurdin (2012) terdapat 11,1 jutatanah yang diidentifikasikan sebagai tanahterlantar yang sebagian dapat digunakan untukpertanian organik. Pertanian organik menuntutagar lahan yang digunakan tidak atau belumtercemar oleh bahan kimia dan mempunyaiaksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasanmenjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan.Lahan yang belum tercemar adalah lahanyang belum diusahakan, tetapi secara umumlahan demikian kurang subur. Lahan yangsubur umumnya telah diusahakan secaraintensif dengan menggunakan bahan pupukdan pestisida kimia. Menggunakan lahanseperti ini memerlukan masa konversi cukuplama, yaitu sekitar 2 tahun.

    Menurut Inawati (2011), berkembang-nya produsen dan komoditas organik inikarena pengaruh gaya hidup masyarakatsebagai konsumen yang mulai memperhatikanpentingnya kesehatan dan lingkungan hidupdengan menggunakan produk organik yangtidak menggunakan bahan-bahan kimiasintetis buatan. Selain itu juga karena mulaiberkembangnya bisnis produk organik.Selain terus bertambahnya luas lahan yangdigunakan untuk pertanian organik, AliansiOrganis Indonesia juga mencatat semakinmeningkatnya jumlah produsen komoditasorganik, demikian juga ragam komoditasorganik yang dibudidaya, merk dagangorganik, dan pemasok ke pengecer sepertisuper market dan restoran besar.

    Hasil kajian Aliansi Organis Indonesiapada 2010 menunjukkan makin banyaknyaprodusen produk organik dengan komoditasyang beragam, seperti beras, telur, sayurandan bermacam hasil tanaman kebun sepertikopi, teh, madu hutan dan rempah-rempah.Dalam Statistik Pertanian Organik Indonesia(SPOI) 2010 nampak bahwa produsen organikbersertifikat mencapai 9.805. Jumlah ini lebihtinggi daripada yang belum bersertifikat yanghanya 3.817. Sementara itu produk kopi yangsebagian besar sudah mendapat sertifikasiorganik hampir mencapai 35 ribu hektar. Laludisusul madu hutan dengan luas lahanbersertifikat 15 ribu hektar, gula aren dan metebersertifikat 10 ribu hektar, rempah-rempahhampir 10 hektar, beras organik bersertifikatsekitar 3 ribu hektar, lalu disusul kakao dan

    teh. Pada tahun 2011 kopi organik masihmenjadi komoditas kunci di Indonesia. Hampirsemua produk kopi ini bertujuan ekspor.Komoditas kopi dengan luas areal terluas(41.651,73 ha) disusul oleh mete (11.394,7 ha)dan madu hutan seluas 9,007,2 ha (SPOI,2011).

    Akan tetapi di tengah perkembanganyang pesat itu, potensi bahaya peminggiranpetani organik berskala kecil harusdiperhatikan. Bahaya itu datang dari prosessertifikasi komoditas organik sesuai denganStandard Nasional Indonesia Sistem PanganOrganik yang disahkan oleh BadanStandardisasi Nasional. Penggunaan standarditu memang bertujuan melindungi konsumendan petani organik agar tidak dirugikan olehpara pemalsu produk organik (AOI, 2011).Tetapi biaya sertifikasi yang mahal danstandar serta proses sertifikasi yang tidaksesuai dengan budaya petani bisamenyingkirkan para petani kecil. Biayasertifikasi untuk wilayah Jawa misalnyaberkisar 5 sampai 15 juta rupiah perunit usahatani padahal rata-rata luas lahan petani dibawah satu hektar. Karena itu, beberapa halpenting perlu dilakukan seperti : membebas-kan petani berskala kecil dari keharusanmembuat sertifikat, membuat regulasi yangsesuai budaya petani, pengakuan sistempenjaminan berbasis komunitas, dukungandana sertifikasi, dan mengkampanyekanperdagangan yang adil.

    Luas areal pertanian organikIndonesia tahun 2011 dikelola oleh ribuanprodusen, termasuk didalamnya petani kecil,yang umumnya tergabung dalam kelompoktani dan disertifikasi dengan sistem ICS(Internal Control System). Dari beberapa tipelahan organik dalam SPOI 2011, total jumlahprodusen adalah 12.512 (termasuk petani kecildan perusahaan). Nilai ini menurun 10 persendari tahun 2010 (13.794). Selain produsen,pelaku organik lainnya adalah prosesor daneksportir sebanyak 71. Pelaku-pelaku organiklainnya di Indonesia yang tidak kalahpentingnya adalah lembaga pelatihan,lembaga sertifikasi baik nasional maupuninternasional dan pedagang yang sangatberperan dalam perkembangan pertanianorganik di Indonesia. Terdapat 8 lembagasertifikasi Internasional yang teridentifikasiberoperasi di Indonesia, yaitu : IMO (Institute

  • 98

    FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 30 No. 2, Desember 2012 : 91 - 108

    for Market Ecology), Control Union, NASAA(National Association of SustainableAgriculture of Australia), Naturland, Ecocert,GOCA (Guaranteed Organic CertificationAgency), ACO (Australian Certified Organic),dan CERES (Certification of EnvironmentalStandards). Lembaga sertifikasi nasional saatini yang telah terakreditasi KAN (KomiteAkreditasi Nasional) dan diakui OKPO(Otoritas Kompeten Pangan Organik) adalah:BIOcert (Bogor), INOFICE (Bogor), Sucofindo(Jakarta), LeSOS, Mutu Agung (Depok), PTPersada (Yogyakarta) dan LSO Sumbar(Padang).

    Selain lembaga sertifikasi, terdapatbeberapa organisasi yang bergerak dibidangpengembangan pertanian organik seperti : (1)IFOAM (International Federation of OrganicAgricultural Movements) yang merupakanlembaga payung untuk gerakan organik,menyatukan lebih dari 750 organisasi anggotadi 116 negara. IFOAM aktif berpartisipasidalam negosiasi pertanian dan lingkunganinternasional untuk memajukan kepentingangerakan pertanian organik di seluruh dunia; (2)Maporina (Masyarakat Pertanian OrganikIndonesia) adalah sebuah wadah OrganisasiProfesi untuk menghimpun potensi berbagaipihak yang terkait dengan Pertanian Organikyang meliputi Birokrat, Akademisi, Petani,Pengusaha dan Masyarakat luas pemerhatimasalah Pertanian di Indonesia yang diharap-kan dapat mensejahterakan Rakyat, melestari-kan lahan dan lingkungan melalui SistemPertanian; dan (3) AOI (Aliansi OrganikIndonesia) merupakan sebuah organisasimasyarakat sipil berbasis keanggotaan, saatini AOI beranggotakan 79 anggota yang terdiridari lembaga dan individu yang bergerak dipertanian organik. AOI mendorong terinteg-rasinya prinsip dan praktek pertanian organikdan fair trade di Indonesia.

    KEBIJAKAN PENGEMBANGANPERTANIAN ORGANIK

    Dalam pengembangan pertanianorganik pemerintah meluncurkan programpengembangan pertanian organik melaluikomitmen Go Organic 2010. Dalamkomitmen ini, dicanangkan bahwa pada tahun2010 Indonesia akan menjadi produsen produk

    pertanian organik terbesar di dunia. Dalammengembangkan pertanian organik, diperlu-kan perencanaan dan implementasi yang baiksecara bersamaan. Perencanaan danimplementasi juga dilakukan secara bersamaantara pemerintah dan pelaku usaha.Program Go Organic 2010, yang berisiberbagai kegiatan seperti pengembanganteknologi pertanian organik, membentukkelompok tani organik, pengembangan per-desaan melalui pertanian organik, danmembangun strategi pemasaran panganorganik. Tetapi kenyataannya, pertanianorganik belum berkembang dan masih sangatsedikit produk yang dihasilkan. Artinya, belumbanyak petani yang menerapkan usahapertanian secara organik. Pemerintah dalamhal ini termasuk masyarakat pertanianIndonesia diharapkan bertindak nyata dalamupaya mempopulerkan dan mengangkat citraproduk pertanian organik Indonesia untukmendukung terwujudnya ketahanan panganyang tangguh.

    Saat ini, pembangunan pertaniandihadapkan pada sejumlah masalah yangharus segera dipecahkan, yaitu antara lain:1)keterbatasan dan penurunan kapasitassumberdaya pertanian, 2) lemahnya sistemalih teknologi dan kurang tepatnya sasaran, 3)terbatasnya akses terhadap layanan usahaterutama permodalan, 4) panjangnya rantaitataniaga dan belum adilnya sistempemasaran, 5) rendahnya kualitas, mentalitas,dan keterampilan sumberdaya petani, 6)lemahnya kelembagaan dan posisi tawarpetani, 7) lemahnya koordinasi antar lembagaterkait dan birokrasi, dan 8) belum berpihaknyakebijakan ekonomi makro kepada petani(Kementerian Pertanian, 2010). Namun,terlepas dari masalah di atas, sektor pertaniantetap menjadi tumpuan harapan tidak hanyadalam upaya menjaga ketahanan pangan,tetapi juga dalam penyediaan kesempatankerja, sumber pendapatan, penyumbangdevisa dan pertumbuhan ekonomi nasional.

    Program pengembangan pertanianorganik Indonesia dari Kementerian Pertanianadalah mendorong terwujudnya pertanianyang tangguh, berdaya saing, berkelanjutandan berwawasan lingkungan, dan mendorongpeningkatan kontribusi sektor pertanianterhadap perekonomian nasional, melaluipeningkatan PDB, ekspor, penciptaan

  • 99

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani

    lapangan kerja, penanggulangan kemiskinan,dan peningkatan kesejahteraan masyarakat;serta memperjuangkan kepentingan danperlindungan terhadap petani dan pertanianIndonesia dalam sistem perdaganganInternasional. Misi yang ingin dicapai tersebutsesuai dengan misi pertanian organik sepertiyang ditekankan oleh International Federationof Organik Agriculture Movement (IFOAM)maupun Organisasi Pangan dan PertanianDunia (FAO).

    Produk pertanian harus mampubersaing dan memberikan nilai positif yangdapat dirasakan oleh konsumen baik nasionalmaupun global. Produk pertanian tidak akanmampu bersaing bila sistem pertanian tidakmampu menghasilkan produk pertanian yangberkualitas dan aman sesuai dengan tuntutankonsumen saat ini. Pada era pasar bebas,produk pertanian semakin dituntut untukmampu bersaing bukan hanya di pasarinternasional namun juga di pasar domestik.Pertanian organik merupakan salah satualternatif yang diharapkan akan terusmemberikan kontribusi terhadap PDB kita. Dinegara lain, khususnya di negara-negaraEropa, Australia, Amerika Latin, dan AmerikaSerikat pertanian organik merupakan sektorpangan yang paling cepat pertumbuhannya.Laju pertumbuhan penjualan pangan organikberkisar dari 20-30 persen pertahun selamadekade terakhir ini (Wahana Bumi Hijau,2011).

    Semakin meningkatnya produksi per-tanian organik dan kesadaran konsumen akanpentingnya produk organik ini, akanmenjadikan sangat rentan terhadap bahayadari pihak-pihak yang ingin mendapatkankeuntungan sendiri. Mulai dari permainanharga sehingga produk organik sangat mahaldi tingkat konsumen sementara harga ditingkat petani jauh lebih rendah, produkorganik palsu dan sebagainya. Keadaan initentunya harus diimbangi dengan regulasi ataupengaturan yang jelas dari pemerintah. Selainhal tersebut diatas, regulasi penting karenadimasyarakat pada periode tahun 2002 telahmuncul berbagai pendapat dan pemahamanyang berbeda mengenai pertanian organik.Departemen Pertanian pada tahun 2002,membuat aturan dasar bagi pelaksanaanpertanian organik di Indonesia yang disahkandalam bentuk SNI Sistem Pangan Organik

    (BSN, 2002). Terbitnya SNI tersebut, padasatu sisi disambut dengan gembira karenadapat dijadikan acuan bagi pelaku pertanianorganik dan pada sisi lainnya timbulpertanyaan apakah aturan tersebut dapatdilaksanakan. Pertanyaan ini adalah wajarkarena SNI mengatur sangat ketat aspekbudidaya hingga pemasaran. Pelaku pertanianorganik yang baru memulai kegiatannyamerasa belum mampu untuk mengikuti danmentaati keseluruhan aturan yang termuatdalam SNI tersebut.

    Standar Nasional Indonesia inidisusun dengan maksud untuk menyediakansebuah ketentuan tentang persyaratanproduksi, pelabelan dan pengakuan (claim)terhadap produk pangan organik yang dapatdisetujui bersama. Standar Nasional Indonesiaditerapkan pada produk-produk berikut yangmemiliki, atau diperuntukkan untuk memiliki,pelabelan yang merujuk pada cara-caraproduksi organik, yakni: (a) tanaman danproduk segar tanaman serta produk pangansegar dan produk pangan olahan, ternak danproduk peternakan yang prinsip-prinsipproduksinya dan aturan inspeksi spesifik; (b)produk olahan tanaman dan ternak untuktujuan konsumsi manusia yang dihasilkan daributir (a) di atas.

    Menurut Badan StandardisasiNasional (2002), dalam Standard NasionalIndonesia mengenai Sistem Pangan Organik,sertifikasi adalah prosedur dimana lembagasertifikasi pemerintah atau lembaga sertifikasiyang diakui pemerintah memberikan jaminantertulis atau yang setara, bahwa pangan atausistem pengendalian pangan sesuai denganpersyaratan. Sertifikasi pangan jugadidasarkan pada suatu rangkaian kegiataninspeksi berkesinambungan, audit sistemjaminan mutu dan pemeriksaan produk akhir.Lembaga sertifikasi dapat diartikan sebagailembaga yang bertanggung jawab untukmemverifikasi bahwa produk yang dijual ataudiberi label "organik" adalah diproduksi, diolah,disiapkan, ditangani dan diimpor menurutStandard Nasional Indonesia. Kekuatansertifikasi adalah terjaminnya suatu produkkarena telah memenuhi seluruh kaidah yangdisyaratkan. Keuntungan yang didapatkan adapada pihak produsen dan konsumen.Produsen memiliki posisi tawar yang lebih baikpada barang yang diproduksinya sedangkan

  • 100

    FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 30 No. 2, Desember 2012 : 91 - 108

    konsumen memiliki kepastian/jaminan terha-dap barang/produk yang dikonsumsi.

    Hingga saat ini, sertifikasi masihmenjadi masalah yang belum terselesaikan,sehingga pernyataan mengenai produkorganik harus disampaikan langsung olehprodusen pertanian organik padakonsumennya. Studi yang dilakukan olehSugino dan Mayrowani (2010) mengatakanbahwa bagi konsumen asing sertifikat panganorganik adalah penting, sedangkan bagikonsumen domestik sertifikasi itu penting jikatidak mempengaruhi harga produk dan jikaprodusen menjamin produknya ataukualitasnya dapat dipercaya, sertifikat tidakdiperlukan lagi. Sehingga untuk konsumendomestik, produsen pertanian organik harusterus-menerus menyampaikan/menginformasikan bahwa produk yangdihasilkan adalah produk organik padakegiatan promosi, pameran, negosiasi danpenjualan. Dalam hal ini produsen yang harusberbicara dan bukan produknya yangberbicara. Namun, bagaimanapun juga sistemsertifikasi harus tetap membuka akses bagipetani berskala kecil untuk bisa masuk.

    Kegiatan lainnya dalam pengem-bangan pertanian organik adalah promosipasar, industrialisasi dan perdagangan. Tigahal ini adalah pekerjaan berat lainnya yangbelum banyak disentuh dan dikembangkansehingga diperlukan kerja keras untukmenyelesaikan permasalahan yang melingkupiketiganya. Promosi pasar memerlukandukungan produsen dan media untukmenyebarluaskan tentang produk, kualitas,harga dan keistimewaan-keistimewaan yangdimiliki oleh produk organik. Industrialisasi danperdagangan memerlukan dukungan parapelaku budidaya, pengusaha, perbankan danpemerintah untuk membangun industri danperdagangan pangan organik.

    Hingga saat ini, pada umumnya,pengertian tentang pangan organik masihberbeda antar pelaku. Beberapa pelakumenganggap bahwa apabila suatu produkpertanian sudah tidak diproduksi denganbahan kimia sintetis, termasuk pupuk ataupestisida, maka produk dapat dijual denganlabel organik. Pengertian ini menyesatkan,karena apabila lahan pernah digunakan untukpertanian konvensional yang menggunakanbahan kimia, perlu masa konversi untuk

    mendegradasi bahan kimia yang tersisadidalam tanah. Pada masa konversi ini produkbiasanya dikatakan sebagai 'transisi organik'atau saat ini ada yang menyebut 'Go-Organic'.Setelah melalui masa konversi atau jangkawaktu tertentu yang ditetapkan, produk hasildari lahan tersebut dan diproduksi dengansistem pertanian organik, baru dapat dilabel"organik". Persyaratan inilah yang seringdilupakan oleh pelaku agribisnis. Persyaratanlain yang penting dalam produk panganorganik antara lain tidak menggunakan produkGMO (bibit/benih), dan diproduksi tanpairradiasi.

    Di Indonesia melalui konsensus yangdikoordinasikan oleh Pusat Standardisasi danAkreditasi - Deptan pada tanggal 8 Juli 2002,telah dihasilkan SNI No. 01-6729-2002 tentangSistem Pangan Organik. Di dalam SNI ini telahtertulis berbagai hal yang mengatur tentanglahan, saprodi, pengolahan, labelling sampaipemasaran produk pangan organik. SNI inimerupakan adopsi dengan modifikasi daristandar internasional Codex GL/32.1999, rev.I2001. Tujuan utama dari standar ini adalahuntuk memfasilitasi produsen produk panganorganik di Indonesia yang akhir-akhir inisemakin marak, agar mempunyai acuan didalam melabel produknya.

    Tidak mudah mendapatkan sertifikat/label SNI organik karena untuk mendapatkanlabel organik pada produk terlebih dahuluharus dilakukan serangkaian kegiatansertifikasi organik oleh lembaga sertifikasiproduk pangan organik yang kredibel, dansebagian konsumen tidak mewajibkan produkbersertifikat. Dalam penelitian Sugino danMayrowani (2010), diketahui bahwa sebagianbesar konsumen tidak tahu standar produkorganik yang ditetapkan pemerintah (SNI).Adapun perlunya sertifikasi sebagian besarresponden mengatakan bahwa sertifikasi tidakperlu asalkan kualitas makanan organikterjamin dengan cara lain. Ada juga yangmenyatakan bahwa sertifikasi penting, namuntidak mempengaruhi harga produk organik.Hal ini mencerminkan perbedaan pengetahuanmengenai sertifikasi dan kecemasan akankenaikan harga produk organik bersertifikasi.

    Untuk menuju pertanian organik,Departemen Pertanian (2002) telah menyusunsistem sertifikasi bertahap. Ada empat jenissertifikat, yaitu : (1) sertifikat label BIRU untuk

  • 101

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani

    produk non pestisida; (2) serifikat labelKUNING untuk transisi organik; (3) sertifikatlabel HIJAU untuk produk setara dengan SNIorganik; dan (4) produk pertanian yang tumbuhsecara organik dengan sendirinya (OrganicallyGrown). Dengan mekanisme seperti ini,diharapkan dapat mencegah para produsenmelabel organik tanpa verifikasi dari pihakberwenang; membedakan produk unggulandengan yang biasa; mendidik produsen untukmeningkatkan mutu produk; dan memantauresidu pestisida.

    PRINSIP-PRINSIP PERTANIAN ORGANIK

    Prinsip-prinsip pertanian organikmenjadi dasar dalam penumbuhan danpengembangan pertanian organik. MenurutIFOAM (2008) prinsip-prinsip pertanian organikadalah : (1) Prinsip kesehatan : pertanianorganik harus melestarikan dan meningkatkankesehatan tanah, tanaman, hewan, manusiadan bumi sebagai satu kesatuan dan takterpisahkan; (2) Prinsip ekologi : Pertanianorganik harus didasarkan pada sistem dansiklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru danberusaha memelihara sistem dan siklusekologi kehidupan. Prinsip ekologi meletakkanpertanian organik dalam sistem ekologikehidupan, yang bahwa produksi didasarkanpada proses dan daur ulang ekologis. Siklus-siklus ini bersifat universal tetapipengoperasiannya bersifat spesifik-lokal; (3)Prinsip keadilan : Pertanian organik harusmembangun hubungan yang mampumenjamin keadilan terkait dengan lingkungandan kesempatan hidup bersama; dan (4)Prinsip perlindungan : Pertanian organik harusdikelola secara hati-hati dan bertanggungjawab untuk melindungi kesehatan dankesejahteraan generasi sekarang danmendatang serta lingkungan hidup.

    Badan Standardisasi Nasional (2002)menjelaskan prinsip-prinsip pertanian organikini secara lebih rinci. Untuk produk tanaman,prinsip-prinsip produksi pangan organikditerapkan pada lahan yang sedang dalamperiode konversi paling sedikit 2 (dua) tahunsebelum penebaran benih, atau kalautanaman tahunan selain padang rumput,minimal 3 tahun sebelum panen hasil pertama-nya. Berapapun lamanya masa konversi,

    produksi pangan organik hanya dimulai padasaat produksi telah mendapat sistempengawasan dan pada saat unit produksi telahmulai menerapkan tatacara produksi yangtelah ditentukan. Untuk produk ternak, hewanternak yang dipelihara untuk produksi organikharus menjadi bagian integral dari unitusahatani organik dan harus dikelola sesuaidengan kaidah-kaidah organik secara standar.Pengelolaan peternakan organik harusdilakukan dengan menggunakan metodepembibitan (breeding) yang alami, meminimal-kan stress, mencegah penyakit, secara prog-resif menghindari penggunaan obat hewanjenis kemoterapetika (termasuk antibiotik)alopati kimia (chemical allopathic), mengurangipakan ternak yang berasal dari binatang(misalnya tepung daging) serta menjagakesehatan dan kesejahteraannya.

    Jika ada kasus yang membahayakanatau ancaman yang serius terhadap tanamandimana tindakan pencegahan dapat digunakanbahan alami seperti: pestisida yang diekstrakdari tanaman atau pemberian musuh alami.Benih harus berasal dari otoritas/ lembagasertifikasi resmi. Pengumpulan tanaman danbagian tanaman yang dapat dimakan, yangtumbuh secara alami di daerah alami,kawasan hutan dan pertanian, dapat dianggapmetode produksi organik apabila: (a)produknya berasal dari areal yang jelasbatasnya sehingga dapat dilakukan tindakansertifikasi/inspeksi; (b) areal tersebut tidakmendapatkan perlakuan dengan bahan-bahankimia selama 3 (tiga) tahun sebelumpemanenan; (c) pemanenannya tidak meng-ganggu stabilitas habitat alami ataupemeliharaan spesies didalam areal koleksi;dan (d) produknya berasal dari oparator yangmengelola pemanenan atau pengumpulanproduk, yang jelas identitasnya dan mengenalbenar areal koleksi tersebut.

    Prinsip produk pangan organik untukhewan ternak lebih rumit, karena bervariasiantar jenis hewan ternak. Hewan ternak yangdipelihara untuk produksi organik harusmenjadi bagian integral dari unit usahataniorganik dan harus dikelola sesuai dengankaidah-kaidah organik. Jumlah ternak dalamareal peternakan harus dijaga denganmempertimbangkan kapasitas produksi pakan,kesehatan ternak, keseimbangan nutrisi dandampak lingkungannya. Pengelolaan pe-

  • 102

    FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 30 No. 2, Desember 2012 : 91 - 108

    ternakan organik harus dilakukan denganmenggunakan metode pembibitan (breeding)yang alami, meminimalkan stress, mencegahpenyakit, secara progresif menghindaripenggunaan obat hewan jenis kemoterapetika(termasuk antibiotik) alopati kimia (chemicalallopathic), mengurangi pakan ternak yangberasal dari binatang (misalnya tepung daging)serta menjaga kesehatan dan kesejah-teraannya. Pemilihan bangsa, galur (strain)dan metode pembibitan harus konsistendengan prinsip-prinsip pertanian organik,terutama yang menyangkut: adaptasinyaterhadap kondisi lokal; vitalitas danketahanannya terhadap penyakit; dan bebasdari penyakit tertentu atau masalah kesehatan.Ternak tidak boleh ditransfer antara unitorganik dan non-organik.

    Jika lahannya mencapai status organikserta ternak dari sumber non-organikdimasukkan, dan jika produknya kemudiandijual sebagai organik, maka ternaktersebut harus diternakkan menurut standar iniuntuk paling sedikit selama periode berikut :(a) Sapi dan kuda : 12 bulan untuk produksidaging, 6 bulan untuk bakalan dan 90 hariuntuk produksi susu; (b) Domba dan kambing :6 bulan untuk produksi daging dan 90 hariuntuk produksi susu; (c) Babi : 6 bulan; (d)Unggas pedaging : seluruh umur hidup, danpetelur 6 minggu.

    Dalam hal nutrisi, prinsip yang harusditerapkan adalah : produk peternakan akantetap mempertahankan statusnya sebagaiorganik jika 85 persen (berdasar berat kering)pakan ternak rumunansianya berasal darisumber organik atau jika 80 persen pakanternak non-rumunansianya berasal darisumber organik. Cara pembibitan harusberpedoman pada prinsip-prinsip peternakanorganik dengan mempertimbangkan: (a)Bangsa dan galur dipelihara dalam kondisilokal dan dengan sistem organik; (b)Pembiakannya lebih baik dengan cara alamiwalaupun inseminasi buatan dapat digunakan;(c) Teknik transfer embrio dan penggunaanhormon reproduksi dan rekayasa genetikantidak boleh dilakukan. Dalam hal pengelolaankandang, umumnya dilakukan secara alamiahdengan memenuhi kenyamanan hewan.

    Selain ternak dan tanaman, madumerupakan produk organik yang mempunyaipermintaan pasar yang cukup tinggi.

    Perlakuan dan pengelolaan sarang lebahharus menghargai prinsip-prinsip pertanianorganik, sumber nektar alami dan polen harusberasal dari tanaman organik dan/atauvegetasi alami (liar). Sarang lebah harusterbuat dari bahan alami yang terhindar daririsiko kontaminasi lingkungan atau produklebah. Jika lebah ditempatkan pada arealalami, pertimbangan harus diberikan kepadapopulasi insek lokal. Sarang lebah untukpeternakan lebah harus ditempatkan di arealdimana vegetasi alami atau yang ditanampatuh pada ketentuan-ketentuan produksipertanian organik. Otoritas atau lembagasertifikasi harus memberikan persetujuan padaareal sehingga meyakinkan sumber bahanmadu, nektar dan polen berdasar informasiyang disediakan oleh operator dan/ataumelalui proses inspeksi. Dalam hal ini otoritasatau petugas sertifikasi dapat menetapkanradius tertentu dari sarang lebah dimana lebahmempunyai akses ke nutrisi yang cukup yangmemenuhi ketentuan pedoman ini. Denganadanya prinsip-prinsip pertanian organik inidiharapkan adanya sebuah ketentuan tentangpersyaratan produksi, pelabelan dan penga-kuan terhadap produk pangan organik yangdapat disetujui bersama.

    PELUANG DAN KENDALAPENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK

    Peluang PasarPotensi pasar produk pertanian

    organik di dalam negeri masih sangat kecil,penggunaan produk organik hingga saat inimasih terbatas pada kalangan menengah danatas. Hal tersebut disebabkan kurangnyainformasi tentang pentingnya produk organikbagi kesehatan, tidak ada jaminan mutu danstandard kualitas organik dan harga produkpangan organik masih tergolong mahal.Demikian juga dengan produsen pertanianorganik di Indonesia yang masih sangatterbatas, kendala yang dihadapi oleh produsenuntuk mengembangkan pertanian organikantara lain adalah : 1) belum ada insentifharga yang memadai untuk produsen produkpertanian organik, 2) perlu investasi mahalpada awal pengembangan karena harusmemilih lahan yang benar-benar steril daribahan agrokimia, 3) belum ada kepastian

  • 103

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani

    pasar, sehingga petani enggan memproduksikomoditas tersebut. Produk dari Indonesiabelum banyak yang dapat bersaing di pasarglobal. Baru beberapa produk yang dapatbersaing di pasar global diantaranya baruproduk kopi Arabika yang dibudidayakanberdasarkan prinsip pertanian organik olehKelompok Tani Kopi Arabika di daerah Gayo,Kabupaten Aceh Tengah. Produk kopi yangdiekspor telah memperoleh akreditasi dari Bio-coffee IFOAM dan memperoleh label ECO darinegeri Belanda. Untuk pasar domestik, baruPT Bina Sarana Bakti, Cisarua yangmembudidayakan sayuran secara organik,yang telah memiliki konsumen tetap dangreen shop di Jakarta (Sutanto, 2002).

    Secara bisnis pertanian organik diIndonesia masih memiliki peluang yang besar.Dengan jumlah penduduk yang demikianbesar menjadi potensi yang besar sebagaikonsumen produk organik. Walaupun tidaksemua kalangan masyarakat Indonesiamampu membeli hasil pertanian organik,karena harga hasil produk pertanian organikbiasanya tergolong cukup mahal. Peluangbisnis produk pertanian organik ini sudah mulaibanyak dimanfaatkan terbukti ada peningkatanjumlah lahan pertanian organik Indonesiaberdasarkan data Statistik Pertanian OrganikIndonesia (Ariesusanty, 2010). Trend bahanorganik juga mulai merambah ke rumahmakan, hotel, restoran, catering yangmenyediakan menu organik sehat. Darisejumlah pengguna hasil pertanian organik,ternyata tidak hanya pengguna langsungmelainkan pelaku bisnis lain pun mulai melirikhasil pertanian organik untuk mereka jadikanbahan baku makanan.

    Indonesia memiliki potensi yang cukupbesar untuk bersaing di pasar internasionalwalaupun secara bertahap. Hal ini karenaberbagai keunggulan komparatif antara lain :1) masih banyak sumberdaya lahan yangdapat dibuka untuk mengembangkan sistempertanian organik, 2) teknologi untukmendukung pertanian organik sudah cukuptersedia seperti pembuatan kompos, tanamtanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.Pengembangan pertanian organik di Indonesiabelum memerlukan struktur kelembagaanbaru, karena sistem ini hampir sama halnyadengan pertanian intensif seperti saat ini.Kelembagaan petani seperti kelompok tani,

    koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangatrelevan. Namun yang paling penting lembagatani tersebut harus dapat memperkuat posisitawar petani.

    Potensi dalam Meningkatkan PendapatanPetani

    Di Indonesia, perhatian terhadapproduk organik masih kurang, namun sepertitelah dikemukakan diatas, sebagianmasyarakat telah memahami akan pentingnyamengkonsumsi makanan yang aman dansehat. Karena itu produk organik memilikiprospek yang cukup baik untuk dikembangkandi masa depan, baik untuk pasar domestikmaupun luar negeri. Harga pupuk danpestisida semakin mahal, tidak terjangkaupetani sehingga petani akan mencari alternatifpengganti yang lebih murah dan selalutersedia dan melimpah di daerah yaitu bahan-bahan organik (alamiah).

    Walaupun perkembangannya kurangmemuaskan namun Gerakan Go Organic 2010yang telah dicanangkan KementerianPertanian memberikan hasil yang positifterhadap para petani. Mereka merasakanmanfaat pertanian organik karena mampumendongkrak pendapatan 20-30 persen(Mayrowani et al., 2010). Pada umumnyapetani berharap mendapat harga yang tinggiuntuk produk-produk organis mereka setelahlahan mereka organik. Tetapi, bila hargatertinggi tidak terpenuhi, sebenarnya petaniorganik sudah mendapatkan keuntungankarena biaya produksi organik lebih rendahdibandingkan non organik. Beberapakeuntungan membudidayakan padi secaraorganik adalah : (1) kesehatan konsumen; (2)penggunaan pupuk organik yang mengem-balikan kesuburan tanah dan kelestarianlingkungan; dan (3) meningkatkan pendapatanpetani, karena harga jualnya lebih tinggi dariberas konvensional. Sayangnya pangsa pasarproduk organik di Indonesia belum termonitor.Karena itu dengan tingkat harga yang menariktersebut, petani akan tergerak dan termotivasiuntuk mengembangkan pertanian organik.Hasil/ keuntungan tidak hanya bergantungpada produktifitas tetapi juga harga yangdiberikan oleh pasar. Menurut Saptana (2006),jaminan harga dan pemasaran dapat dilakukanmelalui kemitraan.

  • 104

    FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 30 No. 2, Desember 2012 : 91 - 108

    Beberapa hasil penelitian mengatakanbahwa pertanian organik memberikankeuntungan yang lebih besar dan berpengaruhnyata terhadap pendapatan petani (da Costa,2012; Rahmawati et al., 2012). Hasil penelitiandibeberapa daerah di Indonesia mengenaipadi organik menunjukkan hal yang sama,seperti hasil penelitian Trisanti (2002) diKabupaten Klaten, hasil penelitianMulyaningsih (2010) dan Rachman (2012) diKabupaten Cianjur, serta hasil penelitian Yanti(2005) dan Mayrowani et al. (2010) diKabupaten Sragen. Di Kabupaten Sragen R/Cuntuk usahatani padi organik adalah 2,83 danuntuk usahatani padi non-organik 1,81.(Mayrowani et al., 2010). Harga produksisayuran organik di Jawa Barat dua kali lipatdari harga produk konvensional, sedangkanbiaya bahan produksi organik adalah setengahdari produksi konvensional, namun biayatenaga kerja adalah 5,5 kali lebih tinggidibandingkan dengan usahatani konvensional.Secara total keuntungan bersih produk organikhanya 1,2 kali dari produk konvensional(Sugino, 2010). Namun, mengingat pertanianorganik terintegrasi antara produksi danpemasaran sehingga keuntungan lain didapatdari marjin pemasaran. Dapat disimpulkanbahwa keuntungan dari pertanian organik lebihbaik daripada pertanian konvensional,terutama jika antara produksi dan pemasaranterintegrasi.

    Dalam pertanian organik terdapat duapertanyaan kunci, yaitu (1) masalah lahansempit yang dapat ditingkatkan produksinya,dan (2) masalah nilai tukar produk pertanianorganik. Menghadapi permasalahan tersebut,pertanian organik tidak mampu menjawabsecara langsung, tetapi merupakan sebuahpeluang. Pertanian organik mempunyaipeluang yang kuat dalam memenuhikebutuhan rumah tangga petani. Pengalamanpertanian organik yang dilakukan PT BSB,menunjukkan bahwa pertanian organik mampumengatasi persoalan lahan untuk produksi.Pola pertanaman yang multikultur dengandiversifikasi jenis dan pola tumpangsari bisamengatasi hal tersebut. Khusus untuk sayuran,sangat memadai untuk dibudidayakan secaraorganik di lahan yang sempit, karena hargasayur relatif lebih baik sehingga penerimaanpetani masih cukup untuk menutup biayaproduksi. Bagi rumah tangga petani tambahanpendapatan adalah karena kenaikan harga

    produk pertanian organik yang disebabkanpergeseran selera konsumen, terutamakonsumen yang memiliki kesadaran akanmakanan yang sehat. Pergeseran inimenyebabkan kenaikan permintaan akanproduk organik. Saat ini, bagi petani yangbelum mempunyai pasar khusus produkpertanian organik masih menggunakan acuanharga pasar umum yang belum menggunakanacuan kualifikasi produk yang ditawarkan.Artinya bahwa pertanian organik masih beradapada tataran upaya mengurangi biaya untukproduksi, bukan dalam meningkatkan nilaitukar produk pertanian. Sedangkan mengenainilai tukar produknya sendiri sangat ditentukanoleh pasar.

    Beberapa hal yang perlu dipersiapkanadalah peran pemerintah dalam mengem-bangkan dan mempromosika produksipertanian organik. Dari sisi pendapatan petani,tingginya harga produk organik tersebut akanmenjadi peluang yang baik, namun bagimasyarakat yang bekerja di luar sektorpertanian dan tinggal di perkotaan akankesulitan membeli makanan yang sehat,karena makanan yang layak dan sehat barudimiliki oleh masyarakat yang mampu secaraekonomi.

    Pertanian Organik sebagai SistemPertanian Berkelanjutan

    Konservasi merupakan faktor yangpenting dalam pertanian berwawasanlingkungan. Konservasi sumberdayaterbarukan berarti sumberdaya tersebut harusdapat difungsikan secara berkelanjutan(continous). Kita sadar akan adanya potensiteknologi, kerapuhan lingkungan, dankemampuan budi daya manusia untukmerusak lingkungan, sedangkan ketersediaansumberdaya adalah terbatas. Pertanian ramahlingkungan yang salah satunya adalah denganmenerapkan pertanian organik, merupakanupaya untuk memfungsikan sumberdayasecara berkelanjutan. Beberapa perinsip dasaryang perlu diperhatikan dalam menjagakeberlanjutan produksi yang ramah lingkunganadalah: (1) pemanfaatan sumberdaya alamuntuk pengembangan agribisnis (terutamalahan dan air) secara lestari sesuai dengankemampuan dan daya dukung alam, (2)proses produksi atau kegiatan usahatani yangdilakukan secara akrab lingkungan, sehingga

  • 105

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani

    tidak menimbulkan dampak negatif daneksternalitas pada masyarakat, (3)penanganan dan pengolahan hasil, distribusidan pemasaran, serta pemanfaatan produktidak menimbulkan masalah pada lingkungan(limbah dan sampah), (4) produk yangdihasilkan harus menguntungkan secarabisnis, memenuhi preferensi konsumen danaman dikonsumsi (Sihotang, 2009)

    Pertanian organik, jika dilakukandengan tepat, akan mengurangi biaya inputterutama pupuk dan pestisida, secara dramatisakan meningkatkan kesehatan petani dankesuburan tanah mereka secara alami.Masalah dalam pengembangan pertanianorganik ini adalah insentif yang tepat untukpetani dalam mengkonversi usahataninyamenjadi usahatani organik yang bisaberkelanjutan, dimana pada awalnyausahatani ini belum dianggap efektif.Masyarakat menghendaki produk pangan yangbaik dan sehat, tetapi mereka tidak maumembayar tinggi. Petani ingin mendapatkanbayaran yang wajar atas usaha/kerjanyadalam memproduksi pangan organik danmensuport usahataninya untuk masa yangakan datang. Namun, sistem ini belum tersediasaat ini. Sertifikasi yang mahal, keahlianmereka hilang dan uang yang petani keluarkanuntuk memproduksi pangan yang baik hilang,dalam hal ini hilang ke pedagang (middlemen)(da Costa, 2012).

    Kendala Pengembangan Pertanian OrganikKendala-kendala dalam pengembang-

    an pertanian organik yang bersifat makroantara lain pasar dan kondisi iklim. Sejak duadasawarsa terakhir permintaan pasar duniaterhadap produk pertanian organik mulaitumbuh. Pertumbuhan pasar ini, khususnya diEropa, merupakan salah satu pertimbanganutama dalam pemberlakuan CouncilRegulation (EEC) No. 2092/91. Namunpertumbuhan pasar produk pertanian organikmasih lambat. Konsumen produk organikmasih terbatas pada orang-orang yangmemiliki keperdulian tinggi terhadapkelestarian lingkungan dan kesehatan.Kepedulian tersebut mendorong merekabersedia memberikan premium harga terhadapproduk-produk organik. Pasar produk domestikterhadap pertanian masih belum tumbuh.Kadang-kadang di Supermarket dijual produk

    pertanian tertentu dengan diberi tulisanorganik, bukan organik dari lembagaberwenang. Gejala ini memperlihatkanketerbatasan pasar domestik yang masih akanmenjadi kendala utama dalam jangka pendekdan jangka menengah.

    Kendala yang bersifat mikro adalahkendala yang dijumpai di tingkat usaha tani,khususnya petani kecil. Beberapa kendalamikro tersebut akan diuraikan sebagai berikut :(1) Petani belum banyak yang beminat untukbertani organik. Keenganan tersebut terutamamasih belum jelasnya pasar produk pertanianorganik, termasuk premium harga yangdiperoleh. Minat petani untuk mempraktekkanpertanian organik ini akan meningkat apabilapasar domestik dapat ditumbuhkan. Olehkarena itu, upaya mempromosikankeunggulan-keunggulan produk pertanianorganik kepada para konsumen perludigiatkan; (2) Kurangnya pemahaman parapetani terhadap sistem pertanian organik.Pertanian organik sering dipahami sebataspada praktek pertanian yang tidakmenggunakan pupuk anorganik dan pestisida.Seperti telah dikemukakan diatas, pengertiantentang sistem pertanian organik yang benarperlu disebarluaskan pada masyarakat.Sebagai acuan untuk penyebarluasanpengertian pertanian organik sebaiknyamenggunakan standar dasar yang dirumuskanoleh IFOAM dan SNI; (3) Organisasi di tingkatpetani merupakan kunci penting dalambudidaya pertanian organik. Hal ini terkaitdengan masalah penyuluhan dan sertifikasi.Agribisnis produk organik di tingkat petani kecilakan sulit diwujudkan tanpa dukunganorganisasi petani. Di beberapa daerahorganisasi petani sudah terbentuk denganbaik, tetapi masih banyak yang belumterbentuk dengan baik. Dorongan pemerintahagar para petani membentuk asosiasi sepertiyang terjadi pada akhir-akhir ini, khususnya disektor perkebunan, akan dapat berdampakpositif terhadap pengembangan agribisnisproduk organik; dan (4) Kemitraan petani danpengusaha, upaya membentuk hubungankemitraan antara petani dan pengusaha masihbelum memberikan hasil seperti yangdiharapkan petani. Kemitraan antara petanidan pengusaha merupakan salah satu kuncisukses dalam pengembangan produkpertanian organik, khususnya apabiladiarahkan untuk eksport. Pola kemitraan ini

  • 106

    FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 30 No. 2, Desember 2012 : 91 - 108

    sering disebut dengan pola bapak angkat.Dalam hal ini pengusaha sebagai bapakantara lain berkewajiban memasarkan produkyang dihasilkan kelompok tani, memfasilitasikegiatan penyuluhan, mengurus sertifikasi,dan menyalurkan saprodi (Mawardi, 2002).Apabila kondisi sudah memungkinkan, fungsipengusaha sebagai bapak angkat dapatdigantikan oleh koperasi yang dimiliki olehpara petani sendiri.

    PENUTUP

    Pertanian organik merupakanpertanian yang berwawasan lingkungankarena ikut melestarikan lingkungan danmemberikan keuntungan pada pembangunanpertanian. Dengan melihat kondisi permintaanproduk pertanian organik terus meningkatsehubungan dengan masyarakat mulaimenyadari akan bahaya makanan non organikmaka perlu bagi pemerintah dan semua pihaksegera mewujudkan go organic and back tonature untuk terus memanfaatkan potensiyang masih cukup besar untuk dikembangkan.Terbatasnya produk pertanian organik yangdiperdagangkan di pasar internasionalmerupakan peluang cukup besar untukpengembangan pertanian organik bagiIndonesia.

    Keberhasilan pengembangan pertani-an organik akan terwujud ketika ada dukungandari pemerintah baik dalam bentuk pelatihan,modal produksi serta regulasi masing-masingtingkat Pemerintah Daerah. Keberhasilanuntuk meningkatkan kesejahteraan petani jugaakan diiringi oleh kecintaan akan lingkunganhidup, karena akan terciptanya lingkunganyang sehat, asri, alami, yang akan mendorongpada kedalam pertanian hijau.Pengembangan selanjutnya pertanian organikdi Indonesia harus ditujukan untuk memenuhipermintaan pasar global. Oleh sebab itukomoditas-komoditas eksotik seperti sayurandan perkebunan seperti kopi dan teh yangmemiliki potensi ekspor cukup cerah perlusegera dikembangkan.

    Untuk meningkatkan kepercayaanpasar, program sertifikasi dan pembinaannyaperlu terus ditingkatkan baik oleh pemerintahmaupun lembaga/perusahaan peduli denganpengembangan pertanian organik ini, sehingga

    program sertifikasi organik Indonesia diakuidunia dan para petani kita tidak perlumembayar mahal biaya sertifikasi. PelatihanInternal Control System (ICS) perlu diperluassehingga lebih banyak lagi kelompok tani yangtersentuh oleh program ini. Beberapa halpenting perlu dilakukan antara lain adalahmembebaskan petani berskala kecil darikeharusan membuat sertifikat, membuatregulasi yang sesuai budaya petani,pengakuan sistem penjaminan berbasiskomunitas, dukungan dana sertifikasi, danmengkampanyekan perdagangan yang adil.

    Pengembangan selanjutnya pertanianorganik di Indonesia harus ditujukan untukmeningkatkan peluang pasar produk organik,baik domestik maupun global dengan jalanmenjalin kemitraan antara petani danpengusaha yang bergerak dalam bidangpertanian. Hal lain yang perlu diperhatikanselain permasalahan diatas adalah perluadanya kebijakan pemerintah, baik pusatmaupun daerah, untuk mewujudkankemandirian petani padi organik denganpengembangan sarana/prasarana danpengembangan lembaga sertifikasi produkorganik juga penguatan lembaga-lembagapendukung seperti kelompok tani, penyuluh,dan lembaga pemasaran.

    DAFTAR PUSTAKA

    Ariesusanty, L., S. Nuryanti, R. Wangsa. 2010.Statistik Pertanian Organik Indonesia.AOI. Bogor.

    AOI. 2011. Produsen dan Produk OrganikBersertifikat Meningkat. Bogor.http://www.organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=221 diunduh 29 Maret 2011.

    Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2002.Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-6729-2002. Sistem Pangan Organik. Jakarta.

    Da Costa, Anna. 2012. Can Organic FarmingEnhance Livelihoods for India's RuralPoor? guardian.co.uk http://www.guardian.co.uk/global-development/poverty-matters/2012/mar/15/organic-farming-india-rural-poor 15 March 2012 07.00 GMT.

    Damardjati, D.S. 2005. Kebijakan OperationalPemerintah dalam PengembanganPertanian Organik di Indonesia. Materiworkshop dan kongres nasional IIMAPORINA, 21 December 2005, Jakarta.

    http://www.organicindonesia.org/05infodatahttp://www.guardian
  • 107

    PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA Henny Mayrowani

    Departemen Pertanian. 2002. Sertifikat BertahapMenuju Pertanian Organik. Info Mutu.Buletin Standardisasi dan AkreditasiDepartemen Pertanian. Edisi September2002.

    Ditjen P2HP. 2006. Pertanian Organik IndonesiaSemakin Maju Seiring Sadarnya PolaHidup Sehat. Makalah pada MunasAsosiasi Produsen Organik Indonesia(APOI) tanggal 29 September 2006. diJakarta.

    Gunawan A. 2007. Organic Farm Products inDemand but not Available, The JakartaPost, 30 June 2007.

    IFOAM. 2008. The World of Organic Agriculture -Statistics & Emerging Trends 2008.http://www.soel.de/fachtheraaiidownloads/s_74_l O.pdf.

    Inawati, L. 2011. Manajer Mutu dan Akses PasarAliansi Organis Indonesia (AOI), semilokaMemajukan Pertanian Organis diIndonesia: Peluang dan Tantangankedepan. Yayasan Bina Sarana Bhakti diCisarua, Bogor, Jawa Barat (14/3/2011).

    Kementrian Pertanian. 2010. Rencana StrategisKementrian Pertanian Tahun 2010-2014.Jakarta.

    Lesmana, T. dan A.S. Hidayat. 2008. National Studyon Organic Agriculture. LIPI.

    Maporina, 2012. Gebyar Organik 2012.http://maporina.com/index.php?option=com_frontpage&Itemid=1. Di post 18February 2012.

    Mawardi, S. 2002. Warta Pusat Penelitian Kopi danKakao Indonesia Vol 18 No. 2, Juni 2002.

    Mayrowani, H., Supriyati, T. Sugino. 2010. AnalisaUsahatani Padi Organik di KabupatenSragen. Laporan Penelitian. JIRCAS.

    Mulyaningsih, A. 2010. Analisis PendapatanUsahatani Padi Organik Metode SRI(system of rice intensification); StudiKasus Desa Cipeuyeum, KecamatanHaurwangi, Kabupaten Cianjur, PropinsiJawa Barat. Skripsi. IPB.

    Mulyani, A. dan F. Agus. 2006. Potensi LahanMendukung Revitalisasi Pertanian.Prosiding Seminar Multifingsi danRevitalisasi Pertanian 27-28 Juni 2006.Balai Besar Penelitian dan PengembanganSumberdaya Lahan. Bogor

    Nurdin, I. 2010. Pemanfaatan Tanah Terlantar olehRakyat Dalam Rangka Reforma Agraria.Makalah dalam Seminar NasionalPemanfaatan dan Pendayagunaan LahanTerlantar Menuju Implementasi Reforma

    Agraria. Badan Litbang Pertanian. Bogor28 Nopember 2012.

    Prawoto A. and Surono I. 2005. Organic Agriculturein Indonesia: A Wannabe Big Player in theOrganic World, http://eng. biocert.or.id/artikel_isi.php?aid=73 (15 August 2007accessed).

    Rahmawati, D. Awalia, M. M. Mustadjab, Fahriyah.2012. Upaya Peningkatan PendapatanPetani melalui Penggunaan PupukOrganik. Studi Kasus pada Petani Jagungdi Desa Surabayan, Kecamatan Sukodadi,Kabupaten Lamongan. UniversitasBrawijaya. Malang.

    Saptana, H. Mayrowani, A. Agustian, Sunarsih.2006. Analisis Kelembagaan KemitraanRantai Pasok Komoditas Hortikultura.Laporan Penelitian. Pusat Penelitian SosialEkonomi Pertanian. Bogor.

    Sihotang, B. 2009. Pembangunan PertanianBerkelanjutan dengan Pertanian Organik.http://diperta.jabarprov.go.id/index.php/sub menu/informasi/berita/detailberita/100/1664. 14 Juli 2009.

    Sugino, T. and H. Mayrowani. 2010. Perspective ofOrganik Vegetable Production in Indonesiaunder the Regional EconomicIntegrationCase study in West Java,Sutheast Agriculture-Opportunities andChallenges under Economic Integration.JIRCAS Working Report.

    Sugino, T. 2010. Kebijakan Pertanian Daerah diIndonesia pada Era Otonomi Daerah.Laporan Penelitian. JIRCAS.

    Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian OrganikPemasyarakatan dan Pengembangan.Kanisius. Jakarta.

    Tadisau, P. dan Herniwati, 2011. Prinsip DasarPengembangan Pertanian Organik. BuletinNo. 5 Tahun 2011. BPTP SulawesiSelatan. Badan Litbang KementrianPertanian.

    Trisanti, E. 2002. Analisis Pendapatan PetaniOrganik di Kecamatan DelangguKabupaten Klaten. JDSE, Vol. 3 No. 1-Juni 2002

    Wahana Bumi Hijau. 2011. Prospek Pertanianorganik di Indonesia http://wbh.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=95%3Aprospek-pertanian-organik-di-indonesia&catid=43%3Apertanian&Itemid=54, 09 July 2011 18:31.

    Willer, H. 2010. Organic Agriculture Worldwide. KeyResults from the Global Survey onOrganic. Research Institute of Organic

    http://www.soel.de/fachtheraaiihttp://maporina.com/index.phphttp://enghttp://diperta.jabarprov.go.id/index.php/http://wbh.or.id/
  • 108

    FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 30 No. 2, Desember 2012 : 91 - 108

    Agriculture FiBL and IFOAM, Frick,Switzerland. March 2012.

    Yanti, R. 2005. Aplikasi Teknologi PertanianOrganik: Penerapan Pertanian Organik

    oleh Petani Padi Sawah Desa SukorejoKabupaten Sragen, Jawa Tengah. Tesis.Universitas Indonesia.