penilaian ekonomi perubahan penggunaan lahan: · pdf fileterlihat rasional secara ekonomis...

Download PENILAIAN EKONOMI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN: · PDF fileterlihat rasional secara ekonomis karena banyak nilai dan manfaat ... Perubahan penggunaan lahan ini masih terus terjadi dan

If you can't read please download the document

Post on 08-Mar-2019

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Prosiding Multifungsi Pertanian, 2005

PENILAIAN EKONOMI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN: STUDI KASUS DI SUB-

DAS BESAI - DAS TULANG BAWANG, LAMPUNG Economic valuation of land use changes:

A case study in Besai Sub-Watershed - Tulang Bawang Watershed, Lampung

Jamartin Sihite Staf Pengajar FALTL, Universitas Trisakti, Jakarta

ABSTRAK

Konflik penggunaan lahan banyak terjadi karena perbedaan kepentingan di antara para pemangku kepentingan. Perbedaaan ini menyebabkan terjadinya konflik tujuan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) antara masyarakat hulu dan hilir. Di daerah hulu, tekanan penduduk menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi hutan menjadi kebun kopi menyebabkan terjadinya peningkatan erosi tanah dan aliran permukaan serta fluktuasi debit yang semakin besar. Untuk meminimalkan dampak dari perubahan penggunaan lahan, usaha tani kopi harus dikembangkan dengan pola kebun campuran/ agroforest kopi dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air. Upaya ini bisa meningkatkan produktivitas lahan 49% dan menurunkan erosi sampai lebih 80% dan meningkatkan manfaat langsung maupun tidak langsung yang lebih baik dibandingkan pola penggunaan lahan saat ini (eksisting). Pola ini menyebabkan keuntungan bersih menjadi berkurang tetapi valuasi ekonomi menunjukkan bahwa penerapan upaya konservasi tanah masih layak. Upaya ini menyebabkan manfaat yang diterima masyarakat hilir lebih besar. Total manfaat langsung yang diterima masyarakat bertambah 25% dan tidak langsung 27% atau total manfaat bertambah 26%. Agar manfaat dan biaya ini berjalan adil, maka masyarakat hilir harus mendukung biaya penerapan konservasi tanah dan air. Pemerintah harus berperan dalam memberikan penghargaan kepada masyarakat hulu untuk melindungi dan memperbaiki jasa lingkungan yang dihasilkan untuk masyarakat hilir, seperti dalam bentuk kredit konservasi.

ABSTRACT

Many conflicts over the use of land resources involve competing interest group with various different reasons. These different interests create conflicts between upstream and downstream in the watershed. In upstream, population pressure on land causes land use changes. The study showed that conversion of

ISBN: 979-9474-42-6 17

Sihite

forest to coffee plantation increased soil erosion and run-off, and in turn increased fluctuation of stream discharge in Besai. To minimize the impact of land use changes, coffee plantation should be developed in mix plantation/agroforest systems implementing soil and water conservation techniques. This practice increased direct and indirect benefits such as increased productivity as much as 49% and reduced soil erosion by more than 80%. Even though this practice decreased net benefit to the farmer, the total economic valuation showed that applying soil and water conservation techniques were still feasible. Furthermore, the soil and water conservation practice gave positive impacts to the downstream community such as the availability of water to run hydropower plant and reduced the cost for flushing of sediment in the hydropower plant. Direct benefit was 25% higher and indirect benefit to down stream society was 27% or total benefit became 26% higher than that of existing condition. Therefore, to balance the benefit and cost for protection natural resources, the community in the downstream area receiving the benefits should share the cost for implementing soil and water conservation techniques. Government should promote rewards for farmers in upstream area to restore and improve environmental services to the downstream area, such as conservation credit scheme.

PENDAHULUAN

Latar belakang Pertumbuhan populasi manusia dan bentuk kegiatannya mengakibatkan

perubahan dalam penggunaan lahan. Perubahan ini berdampak pada penurunan kualitas lingkungan seperti bertambahnya lahan kritis, meningkatnya erosi tanah dan sedimentasi, dan terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Dampak lingkungan akibat perubahan penggunaan lahan sering tidak diperhitungkan karena adanya keterbatasan dalam nilai barang dan jasa lingkungan (Bonnieux & Goffe, 1997). Perubahan penggunaan lahan ini berdampak pada manfaat langsung yang diperoleh akibat peningkatan pendapatan. Aktivitas ini terlihat rasional secara ekonomis karena banyak nilai dan manfaat langsung yang diperoleh, namun pada sisi lain banyak manfaat dari perlindungan lingkungan yang hilang dan tidak diperhitungkan dalam merubah penggunaan lahan (Barbier, 1995; Crook & Clapp, 1998).

Penelitian ini dilakukan di sub-daerah aliran sungai (DAS) Besai - DAS Tulangbawang, Lampung, yang didasarkan pada beberapa pertimbangan, antara lain (i) bagian hulu sub-DAS Besai terdapat areal hutan lindung yang mulai digunakan penduduk sebagai areal kebun kopi dan merupakan daerah tangkapan air untuk DAS Besai dan (ii) di sub-DAS Besai dijumpai beberapa investasi nasional seperti pembangkit listrik, sehingga pengelolaan hulu menjadi prioritas penanganan.

18

Penilaian Ekonomi Perubahan Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di daerah sub-DAS Besai Hulu dari tahun 1970 - 1990

memperlihatkan perubahan yang relatif besar. Pada tahun 1970 dijumpai areal berhutan sebesar 57% dan pada tahun 1990 tinggal 13%. Areal perkebunan yang tidak terdeteksi pada tahun 1970 telah berkembang mencapai 60% pada tahun 1990. Pertambahan luas kebun kopi selain mengurangi areal tanaman pangan (dari 21% pada tahun 1970 menjadi 0,1% pada tahun 1990) juga mengurangi luas hutan lindung. Perubahan penggunaan lahan ini masih terus terjadi dan pada tahun 1994 luas hutan sudah berkurang menjadi 11,16% dan kebun kopi sudah mencapai 44,76%. Mulai tahun 1984 selain perubahan luasan juga terjadi perubahan pola pengelolaan kopi dari monokultur menjadi kebun campuran (Syam et al., 1997).

Perubahan penggunaan lahan di DAS Besai yang dulunya didominasi daerah berhutan menjadi kebun kopi menyebabkan terjadinya peningkatan erosi dan perubahan fluktuasi debit sungai. Rasio debit maksimum/minimum pada tahun 1975-1981 berkisar dari 7-16 dan semakin besar pada periode 1991-1995 yaitu 14-37. Pada sisi lain erosi tanah juga menunjukkan adanya perubahan dengan perubahan penggunaan lahan. Saat dilakukan penyusunan studi kelayakan (feasibility study) pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Besai pada tahun 1982, diketahui laju erosi di DAS Besai 7,9 t ha-1 tahun-1. Pemantauan sesaat yang dilakukan PLTA Besai tahun 1995 memperlihatkan adanya peningkatan erosi tanah sampai empat kali lebih besar. Dampak lingkungan ini tidak diperhitungkan oleh petani ketika mereka melakukan perubahan penggunaan lahan dalam rangka ekstensifikasi kebun kopi, sebab mereka tidak langsung terkena dampak ini.

Dampak lain yang terkait dengan fluktuasi debit akibat perubahan lahan ini adalah ketersediaan air pada musim kemarau. Pada saat pra-kelayakan PLTA Besai, debit minimum tidak ada yang lebih kecil atau sama dengan 8,5 m3 detik-1, yaitu debit minimum yang dibutuhkan PLTA Besai untuk bisa beroperasi. Tetapi dari uji coba PLTA diketahui pada musim kemarau di tahun 1995 sudah ada debit musim kemarau di bawah 8,5 m3 detik-1 sehingga terjadi kehilangan kesempatan berproduksi listrik di PLTA Besai.

Dampak lingkungan berupa erosi yang tinggi dapat diperbaiki melalui perbaikan pola penggunaan lahan dan penerapan usaha konservasi tanah-air. Upaya ini umumnya masih dilakukan secara parsial sehingga tidak terlalu efektif. Aktivitas konservasi tanah dan air masih dihitung sebagai biaya sosial dan bukan sebagai bagian aktivitas ekonomi yang terintegrasi dengan sistem produksi usaha tani (Hulfschmidt et al., 1996). Pengelolaan DAS yang efisien dan baik perlu memadukan faktor ekonomi dan dampak lingkungan secara terintegrasi (Onal et al., 1998).

19

Sihite

Tujuan 1. Mengetahui besar dampak perubahan penggunaan lahan terhadap erosi, aliran

permukaan dan pendapatan petani serta nilai ekonomi dari dampak akibat perubahan penggunaan lahan di DAS Besai

2. Memperoleh alternatif penggunaan lahan yang menghasilkan erosi rendah, layak finansial, meningkatkan pendapatan petani dan menyebabkan kerugian ekonomi rendah

METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian Penelitian dilakukan di wilayah sub-DAS Besai, DAS Tulangbawang -

Lampung. Luas sub-DAS Besai Hulu adalah 40.000 ha dan berada di Kecamatan Sumberjaya. Tipe iklim di DAS Besai Hulu menurut klasifikasi Oldeman adalah tipe C. Rata-rata curah hujan bulanan di Stasiun Air Hitam, Sumber Jaya dan Fajar Bulan berturut-turut adalah 222, 213, dan 205 mm atau rata-rata curah hujan bulanan wilayah DAS Besai adalah 214 mm. Di DAS Besai dijumpai lahan datar (kelas lereng A) sebesar 33,30% dan lereng curam sampai sangat curam dijumpai 22,70% atau 77,30% merupakan areal datar sampai agak curam. Di lokasi penelitian juga dijumpai pembangkit listrik yaitu Besai Hydro-electric Power Project. Selain itu, di sub-DAS Besai juga dijumpai hutan lindung register 44 B dan 45 Bukit Rigis.

Pengumpulan data Pengumpulan data dibedakan atas komponen biofisik (untuk kebutuhan

penghitungan erosi tanah dan aliran permukaan) dan data sosial ekonomi (untuk menghitung kelayakan usaha tani, valuasi manfaat dan biaya).

Pengambilan sampel erosi tanah dilakukan pada petak kecil ukuran 2 m x 5 m selama 3 bulan (musim hujan, November-Januari) dari lima pola kopi dominan. Data debit sungai menggunakan data sekunder yang dikumpulkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan PLTA, yaitu debit Sungai Besai periode 1975-1997.

Pengambilan sampel responden dilakukan dengan purposive sampling yaitu dari setiap desa sample ada tiga suku utama, yaitu Jawa, Sunda, dan Semandau. Pertimbangan yang dilakukan adalah pola penggunaan lahan kopi yang