potensi penghematan energi lampu,ac dan analisa peluang hemat energi, yaitu dengan cara...

Download POTENSI PENGHEMATAN ENERGI LAMPU,AC DAN   analisa peluang hemat energi, yaitu dengan cara membandingkan potensi perolehan hemat energi dengan biaya yang harus

Post on 06-Feb-2018

224 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    POTENSI PENGHEMATAN ENERGI LAMPU,AC DAN INSTALASI LISTRIK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS

    Bayu Primastha Yogaswara (L2F008016) Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang

    E-mail : bayuyogaswara666@yahoo.com Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

    Abstrak : Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan hidup yang paling penting bagi kita. Tanpa adanya energi listrik, berbagai aktivitas manusia tidak dapat berjalan baik dan lancar. Namun konsumsi energi listrik secara berlebihan akan membawa dampak negatif. Oleh karena itu, pemanfaatan energi listrik harus dilakukan secara hemat dan efisien. Untuk mengetahui profil penggunaan energi listrik di suatu bangunan gedung dapat dilakukan audit energi listrik pada bangunan gedung tersebut.

    Audit energi terdiri dari beberapa tahap. Mulai dari pengumpulan data mengenai penggunaan energi listrik pada periode sebelumnya, pengukuran langsung penggunaan energi listrik, perhitungan intensitas kebutuhan energi listrik (IKE) serta analisa mengenai peluang hemat energi.

    Hasil dari pengambilan data dan analisa tersebut kemudian dilaporkan dengan disertai rekomendasi upaya penghematan energi pada bangunan gedung yang bersangkutan. Sehingga, pemakaian energi listrik pada bangunan gedung tersebut bisa lebih efektif dan efisien.

    Kata kunci : Energi listrik, Audit energy,Intensitas Kebutuhan Energi listrik (IKE), Penghematan energi. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

    Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia telah menghasilkan berbagai penemuan baru, antara lain peralatan-peralatan elektronik. Penggunaan alat-alat listrik dalam kehidupan sehari-hari sangat praktis dan efektif. Namun semakin banyak peralatan elektronik digunakan di masyarakat juga menyebabkan konsumsi energi listrik juga meningkat. Peningkatan konsumsi energi listrik ini tidak sebanding dengan jumlah pasokan listrik dari pusat pembangkit.

    Untuk menghindari terjadinya pemborosan energi listrik, Direktorat Pengembangan Energi, Departemen Pertambangan dan Energi, telah membuat petunjuk konservasi energi pada bangunan gedung yang mengkonsumsi energi cukup besar, seperti perkantoran, rumah sakit, swalayan, dan lain lain.

    Audit energi pada bangunan gedung dilakukan untuk mengetahui profil penggunaan energi dan peluang penghematan energi pada bangunan gedung untuk menungkatkan efiiensi penggunaan energi pada bangunan gedung yang bersangkutan. Sehingga penggunaan energi pada bangunan gedung tersebut bisa lebih efisien dan menghemat biaya.

    1.2 Tujuan

    Maksud dan tujuan penulis melakukan kerja praktek :

    1. Penulis ingin mempelajari proses audit dan konservasi energi pada bangunan gedung dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan energi listrik.

    2. Memadukan ilmu yang diperoleh dibangku kuliah dengan aplikasi di lapangan atau dunia kerja

    3. Kerja praktek dilakukan sebagai syarat menempuh jenjang pendidikan S-1 pada Jurusan Teknik Elektro Universitas Diponegoro Semarang.

    1.3 Pembatasan Masalah

    Dalam penulisan laporan kerja praktek ini, penulis hanya menjelaskan tentang proses audit energi listrik dan analisa pembahasan pada bangunan gedung Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas.

  • 2

    II. PEMBAHASAN 2.1 Petunjuk Teknis Audit Energi Bangunan Gedung

    Petunjuk teknis konservasi energi bidang audit energi pada bangunan gedung ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi semua pihak yang terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan gedung dalam rangka peningkatan efisiensi penggunaan energi sehingga dapat menekan pengeluaran biaya energi. Audit energi bertujuan mengetahui potret penggunaan energi dan mrncari usaha yang perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Lingkup bahasan petunjuk teknis ini meliputi :

    a. Kriteria audit energi b. Audit energi awal c. Audit energi rinci

    Petunjuk teknis ini menggunakan standar yang berlaku di Indonesia. Apabila ada besaran yang belum diatur di Indonesia, dapat digunakan standar lain yang dapat diterima oleh masyarakat profesi, antara lain standar ASHARE, JIS dan lain sebagainya selama standar tersebut tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku di Indonesia. 2.1.1 Kriteria Audit Energi 2.1.1.1 Kriteria Umum

    Audit energi dianjurkan untukdilaksanakan terutama pada gedungperkantoran, pusat belanja, hotel,apartemen, dan rumah sakit. Dengan melaksanakan audit energidiharapkan :

    a. Dapat diketahui besarnya intensitas konsumsi energi (IKE) pada bangunan tersebut.

    b. Dapat dicegah pemborosan energi tanpa harus mengurangi tingkat kenyamanan gedung yang berarti pula penghematan biaya energi.

    c. Dapat diketahui profil penggunaan energi

    d. Dapat dicari upaya yang perlu dilakukan dalam usaha meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

    2.1.1.2 Intensitas Konsumsi Energi (IKE) Listrik dan Standar

    Intensitas Konsumsi Energi (IKE) Listrik merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan besarnya pemakaian energi dalam bangunan gedung dan telah diterapkan di berbagai negara (ASEAN, APEC), dinyatakan dalam satuan kWH/m2 per tahun.

    Sebagai target, besarnya IKE listrik untuk indonesia, menggunakan hasil penelitian yang dilakukan oleh ASEAN-USAID pada tahun 1987 yang laporannya baru dikeluarkan pada tahun 1992 dengan rincian sebagai berikut :

    a. IKE untuk perkantoran (komersial) : 240 kWH/m2 per tahun.

    b. IKE untuk pusat belanja : 330 kWH/m2 per tahun.

    c. IKE untuk hotel / apartemen : 300 kWH/m2 per tahun.

    d. IKE untuk rumah sakit : 380 kWH/m2 per tahun.

    Tidak menutup kemungkinan nilai IKE tersebut berubah sesuai dengan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan energi, seperti mahalnya Singapura yang telah menetapkan IKE listrik untuk perkantoran sebesar 210 kWH/m2 per tahun. Dalam menghitung besarnya IKE listrik pada bangunan gedung, ada beberapa istilah yang digunakan, antara lain :

    a. IKE listrik per satuan luas kotor gedung. Luas kotor = luas total gedung yang dikondisikan (ber AC) + luas total gedung yang tidak dikondisikan (tanpa AC).

    b. IKE listrik persatuan luas total gedung yang dikondisikan (netto)

    c. IKE persatuan luas ruang dari gedung yang disewakan ( net product)

    Sebagai pedoman, telah ditetapkan nilai standar IKE untuk bangunan di Indonesia yang telah ditetapkan oleh Depatemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia tahun 2004.

  • 3

    Tabel 2.1 Standar IKE Departemen Penddikan Nasioal Republik Indonesia Kriteria Ruangan AC Ruangan Non

    (KWh/m2/bln) AC (KWh/m2/bln)

    Sangat Efisien 4,17 - 7,92 0,84 1,67 Efisien 7,92 12, 08 1,67 2,5 Cukup Efisien 12,08 14,58 - Agak Boros 14,58 19,17 - Boros 19,17 23,75 2,5 3,34 Sangat Boros 23,75 37,75 3,34 4,17

    Tidak menutup kemungkinan nilai

    IKE tersebut berubah sesuai dengan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan energi.

    2.1.2 Proses Audit Energi

    Proses audit energi terdiri dari dua bagian yaitu audit energi awal dan audit energi rinci. Audit energi awal pada dapat dilakukan pemilik/pengelola gedung yang bersangkutan berdasarkan data rekening pembayaran energi yang dikeluarkan dan luas gedung.

    Disarankan IKE dari hasil audit energi awal disampaikan kepada asosiasi profesi atau instansi yang bersangkutan untuk dijadikan bahan informasi dan masukan dalam menetapkan IKE yang baru.

    Audit energi terinci dilakukan

    apabila nilai IKE lebih besar dari nilai standar. Rekomendasi yang disampaikan oleh TIM hemat Energi (THE) yang dibentuk oleh pemilik/.pengelola gedung bangunan dilaksanakan sampai diperolehnya nilai IKE sama atau lebih kecil dari nilai standar, dan selalu diupayakan untuk dipertahankan atau diusahakan lebih rendah di masa mendatang.

    Proses audit energi yang disarankan seperti ditunjukkan dalam bagan di bawah ini.

    Mulai

    Pengumpulan dan Penyusunan Data Historis

    Tahun Lalu

    Data historis energi tahun sebelumnya

    Menghitung Besar IKE Tahun Sebelumnya

    Tidak

    IKE > Target ?

    Ya Lakukan penelitian dan pengukuran konsumsi energi

    Data konsumsi energi hasil

    pengukuran

    Tidak Periksa IKE > Target ?

    Ya Mengenali

    kemungkinan PHE

    Analisa PHE

    Rekomendasi PHE

    Implementasi

    Ya Periksa IKE > Target ?

    Tidak

    Selesai

    Gambar 2.1 Diagram alir proses audit energi.

  • 4

    2.1.2.1 Audit energi awal A. Pengumpulan Dan Penysunan Data Energi Bangunan

    Kegiatan audit energi awal meliputu pengumpulan data energi bangunan dengan data yang tersedia dan tidak memerlukan pengukuran. B. Data Yang Diperlukan Data yang diperlukan meliputi :

    a. Dokumentasi bangunan Dokumentasi bangunan yang diperlukan adalah gambar teknik bangunan sesuai pelaksanaan konstruksi , terdiri : 1) Denah tampak dan potongan

    bangunan seluruh lantai.

    2) Denah instalasi pencahayaan bangunan seluruh lantai.

    3) Diagram garis tunggal listrik, lengkap dengan penjelasan penggunaan daya listriknya dan besarnya penyambungan daya listrik PLN serta besarnya daya listrik cadangan dari Genset bila ada.

    b. Pembayaran rekening listrik bulanan bangunan selama satu tahun terakhir dan rekening pembelian bahan bakar minyak atau bahan bakar gas.

    c. Tingkat hunian bangunan (occupancy rate).

    Berdasarkan data bangunan seperti disebutkan di atas, dapat dihitung :

    a. Rincian luas bangunan dan luas total bangunan (m2).

    b. Tingkat pencahayaan ruang (Lux/m2)

    c. Daya listrik total yang dibutuhkan (kVA atau kW)

    d. Intensitas daya terpasang per m2 peralatan lampu (Watt/m2)

    e. Daya listrik terpasang per m2 luas lantai un