Ppt Agama Euthanasia

Download Ppt Agama Euthanasia

Post on 10-Oct-2015

61 views

Category:

Documents

13 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ppt agama euthanasia

TRANSCRIPT

<p>PowerPoint Presentation</p> <p>BAB 11EUTHANASIADISUSUN OLEH :Alifa umami1102012016Amanda ismoetia1102012019pendahuluanDalam kondisi sudah tidak ada harapan hidup, atau tidak ada kemampuan berobat karena alasan tertentu, atau berobat hanya akan memperpanjang penderitaan pasien, juga keluarganya, saat rasa sakit sangat pedih tak tertahankan, mungkin mati lebih baik baginya. Penghentian pengobatan apakah tidak berarti mempercepat kematian, padahal kematian merupakan hak prerogative Allah swt, manusia diharamkan melakukan tindakan penghilangan nyawa kecuali yang hak.Di lain sisi, banyak pasien yang sangat memerlukan alat bantu medis untuk proses penyembuhannya. Jika demikian, apakah melepas alat-alat bantu medis yang konsekwensinya jantung berhenti berdetak yang berarti mati dianggap sebagai tindakan pembunuhan yang berarti bertentangan dengan etik dan norma hukum yang berlaku?Pengertian euthanasiaEuthanasia berasal dari Bahasa Yunani, eu = indah, bagus, terhormat dan thanatos = mati. Secara etimologis, euthanasia berarti mati dengan baik. Dalam bahasa Arab, euthanasia disebut qatl al-Rahmah atau taisir al-Maut.Menurut Philo (50-20 SM), euthanasia berarti mati dengan tenang. Sedangkan Suetonis, penulis Romawi, mengatakab bahwa euthanasia berarti mati cepat tanpa derita.Klasifikasi euthanasia</p> <p>dari segi cara dilaksanakannyaHidup dan mati dalam terminology islamPembahasan tentang euthanasia berkaitan erat dengan definisi dan batasan hidup, mati serta tentang hukum berobat dalam Islam, yaitu :Dalam Al-quran Surat al-Anbiya (21) : 91lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari KamiDalam Al-quran Surat al-Tahrim (66) : 12maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) KamiBerdasarkan dua ayat di atas, kehidupan ada karena adanya tiupan ruh, hal ini menunjukkan dan disimpulkan bahwa mati terjadi dengan adanya perpisahan antara ruh dan jasad.Kedudukan nyawa manusia dalam islamBanyak ayat Alquran dan hadits Nabi yang mengharuskan untuk menghormati dan memelihara nyawa manusia. Oleh karena itu, seseorang tidak diperkenankan melenyapkannya tanpa ada alasan syari yang kuat. Tindakan menghilangkan nyawa hanya diberikan kepada lembaga pengadilan sesuai dengan aturan Pidana Islam dalam rangka untuk memelihara dan melindungi manusia secara keseluruhan. Allah menegaskan dalam Alquran surat al-Baqarah (2):179 </p> <p>..dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwaOrang yang menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan syari yang dibenarkan, sama halnya dengan merusak tatanan kehidupan masyarakat seluruhnya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat Alquran surat al-Maidah (5):32</p> <p>...bahwa siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya..</p> <p>Tanda kematian manusiaBerdasarkan kesimpulan ketetapan organisasi dokter di Perancis pada tahun 1959, kalangan ahli medis telah menetapkan bahwa matinya seseorang ditandai dengan matinya batang otak.Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan, seseorang dianggap telah mati dan diberlakukan semua hukum syarak yang berkenaan dengan kematian apabila telah nyata adanya salah satu dari dua indikasi berikut ini :Jika denyut jantung dan pernapasannya sudah berhenti secara total, dan para dokter telah menetapkan bahwa keberhentian tersebut tidak akan pulih kembali.Jika seluruh aktivitas otaknya sudah berhenti sama sekali, dan para dokter ahli sudah menetapkan tidak akan pulih kembali, otaknya sudah tidak berfungsi.Larangan euthanasiaUlama sepakat mengharamkan euthanasia, baik pasif maupun aktif, karena termasuk tindakan mempercepat kematian, termasuk bentuk pembunuhan. Banyak nash agama mengharamkan tindakan pembunuhan, di antaranya :Bahwa urusan hidup dan mati hanya ada di tangan Allah Swt., seperti disebutkan dalam ayat Al-quran surat al-Mulk (67) : 2 dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnyaIslam melarang bunuh diri dan membunuh orang lain kecuali yang hak, firman Allah surat al-Anam (6) : 151Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benarNabi saw memerintahkan berobat dan melarang putus asa. Sabda Rasulullah saw :Nabi bersabda : Hai hamba-hamba Allah! Berobatlah! Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan penyakit, kecuali diciptakannya pula obat penyembuhnya, kecuali satu, apakah itu ya Rasulullah, Nabi menjawab : pikun/tua (HR. al-Turmudzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah) Euthanasia pasifUntuk menentukan hukum euthanasia pasif dari perspektif hukum Islam, terlebih dahulu perlu dilihat keterkaitannya dengan hukum berobat. Hukum berobat menurut para ulama sunnah dan mubah. Sedangkan berdasarkan situasi dan kondisi, hukumnya dapat sunah, wajib, mubah, makruh, atau haram. Tetapi dalam kondisi tertentu seperti jika dilakukan pengobatan tetapi penyakitnya tetap saja tidak berubah walaupun sudah sesuai dengan teori kedokteran modern dan pengobatan yang relatif lama maka melanjutkan pengobatan seperti itu tidak wajib dan tidak sunnah, bahkan mungkin sebaliknya.Namun demikian, dari pihak pasien dan keluarga harus tetap berusaha dengan cara beralih ke pengobatan alternatif yang tidak berbenturan dengan akidah Islam, berdoa, sabar, dan tawakkal.Melepas alat bantu pengobatanTindakan ini tidak termasuk kategori euthanasia, sejauh tidak diniati agar cepat mati. Di sini tidak ada tindakan membunuhnya, yang dilakukan hanya menghentikan pengobatan melalui peralatan buatan dan harus diniati dan dialihkan menggunakan metode pengobatan yang lain, termasuk melalui doa, sabar, tawakkal dan lain-lain. Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam pada Muktamar Omman disebutkan : Seseorang dinyatakan telah meninggal dunia menurut hukum Islam dan berlaku segala hukum yang berlaku bagi kematian di kala itu, bilamana telah nyata adanya dua tanda, yaitu :Apabila jantungnya telah berhenti dan tidak bernafas lagi secara sempurna dan para dokter ahli telah memastikan bahwa berhentinya pernafasan itu tidak dapat kembali lagi (irreversible).Apabila seluruh organ otak telah tidak berfungsi lagi secara total (mati batang otak) dan para dokter ahli telah memastikan tidak dapat kembali lagi, sementara otaknya mulai mengurai.Pandangan ulama Indonesia tentang euthanasiaFatwa tentang euthanasia pernah dikeluarkan oleh MUI Propinsi DKI Jakarta pada tahun 2001, yang menetapkan bahwa menurut hukum Islam, hukum euthanasia adalah haram, karena hak untuk menghidupkan dan mematikan manusia hanya berada di tangan Allah SWT. Ditegaskan pula, bahwa euthanasia merupakan suatu tindakan bunuh diri yang diharamkan.Jika diniati agar cepat mati, maka termasuk haram, sama dengan pembunuhan dengan sengaja, tetapi jika hanya menghentikan pengobatan medis dan beralih pengobatan alternatif, seperti doa, sabar, atau tawakkal maka tidak haram meskipun berdampak matinya pasien.kesimpulanDalam syariat Islam, dari perspektif akidah Islam bahwa pihak yang berhak mengakhiri hidup seseorang hanyalah Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang mengakhiri hidupnya sendiri atau orang lain dengan cara dan alasan yang bertentangan dengan ketentuan syariat Islam, diharamkan dan pelakunya diancam dengan siksa yang berat, baik di dunia maupun di akhirat.Euthanasia aktif, dilihat dari segi kode etik kedokteran, KUHP, apalagi hukum Islam, merupakan perbuatan terlarang, merupakan bentuk tindakan bunuh diri atau membunuh orang.Euthanasia pasif atau auto-euthanasia jika diniati supaya mati, termasuk perbuatan yang diharamkan meskipun tidak ada tujuan agar mati atau cepat mati, dapat dianggap sebagai tindakan pembunuhan dan ekspresi putus asa dari rahmat Allah Swt.Dalam syariat Islam, kehidupan harus dijaga, termasuk bagian merealisasikan menjaga nyawa, hukumnya wajib.Jika kondisinya sudah sangat tidak memungkinkan melakukan pengobatan secara medis, tetap diharuskan tidak putus asa atas rahmat Allah, dapat beralih kepada pengobatan alternative, seperti melakukan pengobatan alternative non-medis yang Islami, atau dengan usaha lain dengen berdoa, bersabar, tawakkal, dan sebagainya.Jika euthanasia terjadi, pihak keluarga yang meminta, dokter yang melaksanakannya, dan semua yang terkait, dipandang sebagai pihak-pihak pelaku pembunuhan dengan sengaja, dapat kenai sanksi hukuman qishash atau diyat, atau kaffarat jika unsur-unsurnya terpenuhi.</p>