proposal penelitian indigofera zollingeriana...

29
PROPOSAL PENELITIAN INDIGOFERA ZOLLINGERIANA SEBAGAI PAKAN KAMBING Dr. Ir. SIMON P. GINTING, M.Sc LOKA PENELITIAN KAMBING POTONG SEI PUTIH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2016

Upload: nguyennhan

Post on 11-Mar-2019

256 views

Category:

Documents


2 download

TRANSCRIPT

PROPOSAL PENELITIAN

INDIGOFERA ZOLLINGERIANA SEBAGAI PAKAN KAMBING

Dr. Ir. SIMON P. GINTING, M.Sc

LOKA PENELITIAN KAMBING POTONG SEI PUTIH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN

2016

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong i

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul RPTP : Indigofera zollingeriana sebagai pakan kambing

2. Unit Kerja : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan

3. Alamat Unit kerja : Jl. Raya Pajajaran, Kav E 59 Bogor

4. Sumber Dana : APBN/DIPA 2016

5. Status Penelitian : Baru

6. Penanggung Jawab

a. Nama

b. Pangkat/Gol.

c. Jabatan

: Dr. Ir. Simon P Ginting, MSc.

: Pembina/ Gol. IV d

: Peneliti Utama

7. Lokasi : Sumatera Utara

8. Agroekosistem : Dataran rendah basah

9. Tahun Mulai : 2016

10. Tahun Selesai : 2019

11. Output Tahunan : Teknologi prosesing dan karia tulis ilmiah.

12. Output Akhir : Paket teknologi prosesing untuk meningkatkan

kualitas bahan baku pakan lokal

13. Biaya : Rp.250.000.000,-

Koordinator Program,

Antonius, S.Pt., M.Si.

NIP. 19830923 200801 1 005

Penanggung Jawab,

Dr. Ir. Simon P. Ginting, M.Si.

NIP.19550704 198403 1 001

Mengetahui: Kepala Pusat Penelitian dan

Pengembangan Peternakan,

Dr. Bess Tiesnamurti, MSc.

NIP. 19570524 198303 2 001

Kepala Loka Penelitian Kambing

Potong

Dr. Ir. Simon Elieser, M.Si.

NIP.19610907 198810 1 001

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

ii Loka Penelitian Kambing Potong

RINGKASAN

Program penelitian Indigofera zollingeriana sebagai pakan ternak telah menghasilkan

berbagai data dan informasi yang menunjukan potensinya sebagai sumber pakan

berkualitas tinggi. Data yang telah dihasilkan antara lain produktivitas, komposisi nutrisi,

konsumsi dan kecernaan. Pemanfaatannya dapat sebagai suplemen pakan maupun

sebagai pakan tunggal. Aspek agronomik terkait adaptasi terhadap salinitas dan

kemasaman perlu dianalisi lebih lanjut untuk mengetahui potensi pengembangan di lahan

marjinal. Untuk pengembangan tanaman diperlukan penelitian terkait dengan upaya

peningkatan produksi dan kualitas biji tanaman I. zollingeriana maupun teknologi

preservasi agar dapat disimpan lebih lama dengan kialitas yang terjaga. Tanaman I.

zollingeriana diketahui mengandung protein tinggi, oleh karena itu berpotensi diproses

dan diekstraksi untuk menghasilkan konsentrat protein yang dapat digunakan untuk

memacu produktivitas ternak. Penelitian dilakukan untuk menganalisis produksi dan

kualitas nutrisi dan nilai substitusi konsentrat protein dari tanaman I. zollingeriana

sebagai suplemen pakan. Proses pengolahan secara fisik daun I. zollengeriana dan

kombinasi pemanfaatannya dengan tanaman legum lain dalam bentuk suplemen pelet

diteliti unrtuk menganalisis pengaruhnya terhadap performans kambing dan sebagai

uapaya untuk mempermudah penanganannya sebagai suplemen pakan.

Research program has been developed to investigate the potential of Indigofera

zollingeriana as feed for ruminant animals, in particular goats. Research studies has

showed the nutritional and agronomic potential of this forage in term of productivity,

tolerance on drought, chemical compositions, digestibility and consumption by goat

animals. More agronomic and nutritional characteristics are needed to obtain a complete

figures of this forages. The purposes of these studies are:1) to sudy the effect phosphate

fertilization onthe production, viability and vigor of seed of Indigofera zollingeriana , 2) to

investigate and analyse the potential of production and utilization of leaf protein

concentrate from Indigofera zollingeriana as high quality feed suplement to young

animal, and 3) to evaluate the effect of pelleting processing of leaves as feed supplement

when fed alone or combined with other legume forages on the performances of goats.

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong iii

SUMMARY

Forages are still the main feed used for ruminant animal production in Indonesia.

Leguminous trees are well known for their high nutritional qualities and their availability

as feed supplement around the year. Research program has been developed to

investigate the potential of Indigofera zollingeriana a leguminous tree as feed for

ruminant animals, in particular goats. Research studies has showed the nutritional and

agronomic potential of this forage in term of productivity, tolerance on drought, chemical

compositions, digestibility and consumption by goat animals. More agronomic and

nutritional characteristics are needed to obtain a complete figures of this forages. The

purposes of these studies are:1) to sudy the effect phosphate fertilization onthe

production, viability and vigor of seed of Indigofera zollingeriana , 2) to investigate and

analyse the potential use of concentrated leaf protein of as high quality feed suplement

to young animal, and 3) to evaluate the effect of pelleting processing of leaves as feed

supplement when fed alone or combined with other legume forages on the performances

of goats.

Key-words: local forage, survey, feed, goat

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ternak kambing merupakan salah satu komoditas penghasil daging untuk

konsumsi masyarakat di Indonesia. Walaupun kontribusi daging kambing dan

domba relatif kecil yaitu sekitar 6-7% dari total konsumsi daging, namun

komoditas ini berperan pening dalam ekonomi keluarga petani. Disamping itu,

ternak kambing yang dapat beradaptasi pada agroekosistem yang beragam

dapat menjadi pendukung potensial dalam upaya mempercepat tercapainya

swasembada daging sapi yang menjadi program pemerintah. Ternak

kambing yang semakin berkembang dapat menawarkan pilihan lain sebagai

daging konsumsi, sehingga mengurangi tekanan terhadap permintaan akan

daging sapi.

Salah satu input produksi yang sangat vita dalam usaha pemeliharaan

kambing adalah pakan. Pada usaha pemeliharaan yang dilakukan secara

relatif intensif, kontribusi pakan terhadap total biaya produksi dapat mencapai

50-60% dan kontribusi pakan akan semakin tinggi pada pola usaha yang

sangat intensif yaitu 70-80%. Diantara berbagai unsur nutrien yang

dibutuhkan oleh kambing untuk berproduksi secara optimal, maka secara

ekonomis unsur protein biasanya merupakan nutrien yang paling mahal,

terutama bila menggunakan bahan pakan konvensional seperti tepung ikan,

bungkil kacang kedele ataupun hasil samping industri lainnya. Oleh karena

itu, dari berbagai jenis pakan yang ada, maka jenis tanaman pakan masih

merupakan pilihan utama di kebanyakan agroekosistem untuk mendukung

produksi dan perkembangan populasi ternak kambing.

Kondisi umum pakan ternak ruminansia di Indonesia sampai saat ini masih

belum beranjak dari beberapa ciri klasik yang menunjukan masih besarnya

tantangan baik logistik dan terutama teknis yang harus diatasi dan

dikendalikan. Karakteristik pakan tersebut antara lain: 1) fluktuasi

ketersediaan yang tinggi yang disebabkan oleh musim (kering dan basah), 2)

logistik yang komplek akibat sentra produksi pakan yang menyebar luas dan

dalam skala kecil-menengah, 3) fluktuasi kualitas nutrisi yang tinggi akibat

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

2 Loka Penelitian Kambing Potong

minimnya proses pengolahan dan penyimpanan dengan prosedur yang baik,

4) Biaya yang relatif tinggi akibat belum berkembangnya kelembagaan dan

sistem produksi dan pemasaran secara masal. Pada tingkat yang berbeda

karakter pakan tersebut diatas berlaku bagi berbagai kelompok jenis pakan

yang umumnya paling tersedia, seperti kelompok hijauan pakan, kelompok

limbah dan hasil tanaman, kelompok limbah dan hasil industri pertanian dan

kelompok bahan pakan inkonvensional (DEVENDRA et al., 2001).

Penelitian dan introduksi berbagai jenis tanaman pakan ternak baik

jenis rumput maupun leguminosa sudah banyak dilakukan sebagai upaya

untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas. Dibandingkan dengan jenis

rumput (graminae), tanaman jenis leguminosa pohon dan tanaman perdu lain

umumnya lebih mampu bertahan selama musim kering dan menghasilkan

produksi biomasa yang lebih stabil sepanjang tahun. Hijauan yang berasal

dari tanaman pohon ini terbukti memiliki kualitas nutrisi yang tinggi dan dapat

memaksimalkan fungsi rumen untuk meningkatkan asupan nutrien, terutama

protein, mineral dan energi untuk ternak ruminansia (ANSBARASU et al.,

2004; KABI dan BAREEBA, 2008).

Hijauan pakan ternak merepresentasikan keragaman bahan pakan

yang luas yang memberikan kontribusi sangat penting dalam menghasilkan

produk ternak ruminansia seperti daging, susu, kulit dan bulu. Keragaman ini

memberikan baik peluang maupun tantangan dalam upaya memanfaatkannya

sebagai pakan ternak. Walaupun jenis rumput-rumputan merupakan hijauan

utama dalam sistem pakan ruminansia, namun peran jenis leguminosa,

termasuk leguminosa pohon sangat strategis pada agroekosistem tertentu,

terutama didaerah tropis dan sub-tropis (TOPPS, 1992). Tanaman ini telah

menjadi komponen pakan yang penting terutama di Asia dan Afrika.

1.2. Dasar Pertimbangan

Produksi ternak ruminansia didaerah tropis sangat tergantung kepada

ketersediaan lahan pengembalaan atau lahan sumber hijauan dengan sistem

potong-angkut. Jumlah dan kualitas hijauan yang tersedia sebagai pakan

yang sebagian terbesar jenis rumput (graminae) umumnya rendah dan

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 3

fluktuatif. Kondisi ini tidak terlepas dari status iklim yang disebagian wilayah

memiliki musim kemarau yang panjang yang diselingi dengan musim hujan

yang pendek. Didaerah tropis dengan temperatur udara yang relatif tinggi,

hijauan pakan tumbuh dengan cepat selama musim hujan, dan walaupun

kualitas nutrisinya mungkin tinggi pada awal musim hujan, tanaman yang

cepat tumbuh dewasa akan mengakibatkan penurunan kualitas nutrisi yang

cepat pula. Pada kondisi nutrisi yang rendah ini produksi ternak ruminansia,

seperti pertumbuhan ternak muda dan produksi susu tidak jarang hanya

dapat mencapai 10% dari potensi genetiknya, sedangkan angka kematian

anak pada sapi dapat mencapai 30-40% dan pada anak domba atau kambing

mencapai 50% dan fertilitas yang rendah pada induk dewasa (PAMO et al.,

2006).

Tanaman leguminosa pohon memiliki nilai lebih sebagai pakan ternak,

karena selain memiliki kualitas nutrisi yang lebih tinggi juga mampu menyediakan

bahan pakan yang stabil dalam jangka yang lebih panjang dibandingkan dengan

jenis hijauan rumput. Tanaman ini dikenal mengandung protein, vitamin dan

elemen mineral dalam konsentrasi jauh lebih tinggi dibandingkan jenis rumputan,

dan karenanya memiliki potensi sebagai sumber protein yang murah dan dapat

diproduksi secara lokal. Salah satu legumonisa pohon yang dapat dikembangkan

sebagai pakan kambing adalah Indigofera zollingeriana. Tanaman ini

mengandung protein antara 24-26% dengan kecernaan bahan kering antara 65-

75%. Tanaman ini belum banyak dikembangkan dan digunakan sepagai sumber

pakan bagi ternak kambing di Indonesia.

1.3 Tujuan Kegiatan

1.3.1 Tujuan Jangka Pendek

A. Menghasilkan teknologi peningkatan produksi, viabilitas dan vigor biji Indigofera

zollingeriana .

B. Menghasilkan ekstrak protein (protein konsentrat) daun Indigofera zollingeriana

sebagai suplemen protein untuk kambing.

C. Menghasilkan suplemen pelet berbasis campuran Indigofera zollingeriana

dengan beberapa legum untuk pakan kambing.

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

4 Loka Penelitian Kambing Potong

1.3.2 Tujuan Jangka Panjang

Dalam jangka panjang penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknologi dan

informasi yang lengkap dan mendasar tentang aspek agronomi dan nutrisi serta

paket teknologi yang efisien dalam pemanfaatan dan pengembangan tanaman

Indigofera zollingeriana untuk mendukung peningkatan produktivitas ternak

ruminansia, khususnya kambing.

1.4.Keluaran yang Diharapkan

1.4.1.Keluaran (per tahun)

1. Teknologi peningkatan produktivitas, viabilitas, vigor serta teknologi

penyimpanan biji I. zollingeriana.

2. Produk ekstrak protein (protein konsentrat) daun I. zollingeriana sebagai

suplemen protein mendukung produktivitas kambing.

3. Teknologi proses pengolahan dan informasi fisik, kimiawi dan biologis pakan

suplemen pelet berbasis campuran Indigofera zollingeriana dengan beberapa

jenis legum lain pada kambing.

1.4.2. Keluaran Akhir

Informasi dan paket teknologi agronomik, pengolahan dan pemanfaatan tanaman

Indigofera zollingeriana sebagai pakan kambing serta penyebarannya melalui

karya tulis ilmiah.

1.5. Perkiraan Manfaat dan Dampak

1. Munculnya sumber alternatif pakan ternak kambing bernutrisi tinggi yang

tersedia sepanjang musim dalam bentuk segar maupun pelet.

2. Munculnya kemampuan petani atau kelompok petani pemeliharas kambing untuk

memproduksi dan memanfaatakan pakan alternatif bernutrisi tinggi dan tersedia

sepanjang musim sehingga mendorong munculnya industri pakan yang

berkualitas

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 5

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teoritik

Indigofera zollingeriana potensial dalam memenuhi kebutuhan hijauan

pakan ruminansia. Indigofera zollingeriana memiliki produksi yang tinggi

mencapai 33-51 ton BK/ha/tahun dengan interval defoliasi 60 hari (TARIGAN, et

al., 2010; ABDULLAH dan SUHERLINA, 2010). Kandungan protein kasarnya

setara dengan alfalfa berkisar 28-31%, NDF 49,73-53,20%, ADF 47,63-48,90, Ca

0,97-4,52%, P 0,19-0,33% (SUHERLINA dan ABDULLAH, 2012); koefisien cerna

in vitro bahan organik berkisar 65,33-70,64% (SUHARLINA, 2010). Indigofera

zollingeriana responsif terhadap perlakuan nutrisi. Pemberiaan pupuk cair organik

yang dibuat sendiri dapat memperbaiki pertumbuhan (ABDULLAH et al., 2011).

Salinitas atau kadar garam dalam tanah secara umum berpengaruh terhadap

pertumbuhan tanaman. Respon tanaman Indigofera zollingeriana terhadap

salinitas belum banyak diteliti. Demikian juga halnya dengan pH tanah, sampai

sejauh mana berpengaruh terhadap pertumbuhan maupun produksi Indigofera

zollingeriana perlu dipelajari dan diteliti.

Disamping aspek peningkatan produksi, perlu juga diperhatiakan kualitas

benih yang dihasilkan, agar pengembangan dan penyebaran tanaman ini dapat

berhasil denga baik. Benih yang baik adalah benih yang memiliki mutu fisik,

genetis, dan mutu fisiologis yang tinggi (KOMALASARI dan KOES, 2009).

Ketersediaan benih yang bermutu tinggi merupakan kunci keberhasilan usaha di

bidang tanaman pakan mengingat benih merupakan awal dari proses produksi.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi serta kualitas benih Indigofera

adalah dengan melakukan pemupukan menggunakan fosfat (P). Lingkungan

pertanaman termasuk kesuburan tanah diusahakan pada kondisi optimal, agar

tanaman dapat menghasilkan benih dengan vigor yang tinggi. Benih Indigofera

yang diproduksi dari struktur tanaman induk yang bervigor tinggi akan lebih

tahan disimpan dibanding dengan benih yang diperoleh dari struktur tanaman

yang kurang vigor.Tanaman yang mengalami defisiensi satu atau lebih unsur

hara akan menghambat tercapainya mutu fisiologis yang optimal (LUKIWATI,

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

6 Loka Penelitian Kambing Potong

2002), di samping itu akan mempengaruhi komposisi kimia benih yang dapat

menurunkan mutu benih yang dihasilkan.

Tanaman yang defisien P akan menghasilkan benih yang tidak dapat

berkecambah dengan baik dan tidak tahan simpan. Vigor benih juga dipengaruhi

oleh pemberian pupuk P. Pemupukan P meningkatkan bobot benih, sehingga

daya berkecambah dan kekuatan tumbuh benih meningkat. Unsur P dapat

meningkatkan kandungan protein dan bobot biji yang selanjutnya meningkatkan

vigor dan ketahanan simpan benih, sehingga diperoleh benih bermutu prima.

Kemudahan memperoleh benih unggul bermutu merupakan insentif yang

diperlukan petani untuk meningkatkan tanaman produksi Indigofera.Dalam

penanganan pascapanen benih Indigofera, penyimpanan termasuk kegiatan yang

tidak kalah penting artinya karena turut menentukan mutu benih dan mutu

produksi tanaman bila dikelolah dengan baik. Daya simpan benih dipengaruhi

oleh kadar air biji sebelum penyimpanan, alat pengemas yang digunakan, dan

kondisi ruang penyimpanan (KOES dan ARIF, 2008).

Sintesis protein merupakan salah satu aktivitas utama pada fraksi daun

tanaman. Tanaman leguminosa seperti I. zollengiriana menghasilkan protein

daun dalam jumlah relatif besar karena kandungan protein yang tinggi yaitu

antara 26-29% dari bahan kering (HASSEN et al., 2007; GINTING et al., 2010).

Konsentrat protein daun merupakan ekstrak dari proses separasi protein dari

unsur lain dalam tanaman. Oleh karena itu, ekstraksi protein daun I.

zollengiriana untuk menghasilkan konsentrat protein daun merupakan

pendekatan yang dapat dilakukan dalam rangka memproduksi suplemen protein

yang berkualitas tinggi dan tersedia secara lokal. Ektrak protein ini sangat

diperlukan untuk produksi ternak, terutama dalam memacu pertumbuhan dan

menekan angka kematian pada ternak muda serta memaksimalkan produksi susu

induk dalam fase laktasi.

Untuk memaksimalkan pemanfaatan kelimpahan produksi biomasa selama

musim hujan perlu dilakukan upaya peningkatan cadangan bahan pakan untuk

dapat digunakan selama musim kering. Pengembangan cadangan pakan ini

sangat strategis terutama untuk wilayah dengan musim hujan pendek dan

kemarau yang panjang. Akibat kekurangan pakan selama musim kemarau yang

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 7

panjang produktivitas ternak ruminansia menurun nyata, antara lain reproduksi

yang rendah dan angka kematian yang tinggi. Salah satu solusi yang dapat

digunakan adalah melalui pengolahan bentuk dan penyimpanan dengan tujuan

agar hijauan makanan ternak memiliki kualitas yang baik, dapat diproduksi dalam

jumlah besar, lebih efisien dalam transportasi, dan tersedia sepanjang tahun.

Pakan dalam bentuk pellet merupakan salah satu bentuk pengawetan bahan

pakan dalam bentuk yang lebih terjamin tingkat pengadaan dan kontinuitas

penyediaannya untuk mempertahankan kualitas pakan.

2.2 Hasil-Hasil Penelitian Terkait

Indigofera zollingeriana adalah salah satu jenis leguminosa pohon dengan

produtivitas biomasa (helai daun, tangkai daun dan cabang) yang tinggi (21 t BK

ha-1 tahun-1) (HASSEN et al., 2007). Tanaman ini juga dilaporkan beradaptasi

baik pada tanah yang kurang subur, tanah bergaram dan genangan (HASSEN

et al., 2007). Penelitian sebelumnya telah menghasilkan informasi menyangkut

aspek agronomik (jarak tanam, intensitas defoliasi, pemupukan, musim) dan

pengaruhnya terhadap produksi biomasa dan rasio daun /batang Indigofera

zollingeriana (TARIGAN et al., 2011). Penelitian pemanfaatan I. zollingeriana

baik sebagai hijauan tunggal dalam ransum (GINTING et al., 2010) maupun

sebagai suplemen pakan (TARIGAN dan GINTING, 2011) menunjukan

potensinya sebagai bahan pakan yang berkualitas tinggi. Selain memiliki

kandungan protein dan produksi yang tinggi, I. zollingeriana memiliki kelebihan

yang tidak dimiliki oleh konsentrat komersial yaitu kandungan asam lemak tak

jenuh terutama omega 6 dan omega 3 dan kandungan β-karoten yang dapat

diandalkan sebagai salah satu sumber prekusor vitamin A dalam sistem

pencernaan. β-karotein merupakan salah satu senyawa antioksidan alami yang

berfungsi sebagai penangkal radikal bebas, sehingga diharapkan dengan

pemberiaan suplemen pakan dari hijauan legum akan akan menghasilkan daging

kambing yang tinggi akan Vitamin A dan menghasilkan kualitas daging baik serta

sehat.

Daya simpan benih beragam antar varietas dan bergantung pada vigor

awal pada saat mulai disimpan (DEWI dan SUMARJAN, 2013). Benih yang vigor

awalnya tinggi dapat disimpan lebih lama bila dibandingkan benih yang vigor

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

8 Loka Penelitian Kambing Potong

awalnya rendah. Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk

mempertahankan viabilitas benih dalam periode simpan yang selama mungkin

dan yang dipertahankan adalah viabilitas maksimum benih yang tercapai pada

saat benih masak fisiologis (MILOSEVIC et al., 2010).Bila dilihat dari viabilitasnya

secara umum benih dapat dibedakan antara lama penyimpanan. Berapa lama

benih dapat disimpan sangat tergantung pada kondisi benih dan lingkungannya

sendiri. Beberapa tipe benih tidak mempunyai ketahanan untuk disimpan dalam

jangka waktu yang lama atau sering disebut benih rekalsitran. Sebaliknya benih

ortodoks mempunyai daya simpan yang lama dan dalam kondisi penyimpanan

yang sesuai dapat membentuk cadangan benih yang besar di tanah (SCHMIDT

2000).

Konsentrat protein dapat dihasilkan dari berbegai tanaman, terutama

tanaman leguminosa. ADEPARUSI et al. (2006) dapat mengektraksi protein dari

tanaman Gliricidia dan menghasilkan konsentrat protein daun dengan kandungan

protein kasar 46%. Konsentrat protein daun leguminosa mengandung asam

amino dalam komposisi yang relatif seimbang dengan kebutuhan ternak (SINGH

et al., 2014). Nilai nutrisi konsentrat protein daun dilaporkan dalam posisi antara

nilai protein bungkil kacang kedelei dan protein susu (BELITZ et al., 2009).

Ransum bentuk pellet merupakan ransum yang terdiri dari bahan-bahan

baku yang diolah melalui proses mekanik, yaitu dipadatkan dan ditekan oleh

roller dan die, sehingga membentuk silinder atau batangan kecil. DOZIER (2001)

menyatakan bahwa ransum dalam bentuk pellet dapat meningkatkan

ketersediaan nutrisi dalam pakan, mempermudah penanganan sehingga

menurunkan biaya produksi dan mengurangi penyusutan. Pengolahan hijauan

menjadi pellet dapat meningkatkan konsumsi pakan karena pellet merupakan

pakan yang telah mengalami proses pemotongan dan penggilingan sehingga

ukuran partikel berkurang. Pakan dalam bentuk pellet menyediakan komposisi

nutrien yang lebih lengkap bagi ternak karena diformulasi dari campuran

beberapa bahan pakan. Proses pemanasan memicu timbulnya gelatinisasi pati

yang membantu pengikatan partikel dalam pembentukan pellet, hal ini dapat

meningkatkan kecernaan pati (CHEEKE, 2005).

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 9

III. METODOLOGI

3.1. Pendekatan

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan ekperimental. Pengamatan

mencakup karakteristik agronomik, pengamatan fisik, kimiawi maupun biologis.

Pengamatan karakteristik agronomik dilakukan melalui penelitian lapang dan

menggunakan fasilitas rumah kaca dan dikemas dalam suatu rancangan

percobaan untuk melihat berbagai pengaruh perlakuan. Pengamatan terhadap

kualitas fisik, kimiawi dan nutrisi I. zollingeriana dan respon ternak dilakukan

dengan pendekatan analisis laboratorium dan uji biologis (in vivo) dengan

pendekatan uji konsumsi pakan dan uji metabolisme.

3.2. Ruang Lingkup Kegiatan

Kegiatan mencakup penelitian di lapang dan penelitian di laboratorium

yang terdiri dari tiga kegiatan yaitu: 1) penelitian untuk menganalisis respon I.

zollingeriana terhadap pemupukan fosfat terkait dengan produksi, viabilitas dan

vigor biji,l 2) penelitian proses produksi dan evaluasi kualitas niutrisi protein

konsentrat dari daun Indigofera zollingeriana, dan 3) analisis prosesing daun

untuk menghasilkan pakan pelet.

3.2.1. Persiapan

Persiapan penelitian mencakup perencanaan dan penyiapan sarana dan

prasarana penelitian serta koordinasi antara penanggung jawap penelitian

dengan anggota tim peneliti. Sarana penelitian yang dipersiapakan adalah lahan

percobaan, kandang percobaan dan ternak percobaan yang semuanya berlokasi

di Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih. Inventarisasi dan kesiapan sarana

penelitian dikoordinasikan dengan penanggung jawab Pelyanan Teknis di Loka

penelitian Kambing Potong. Koordinasi dengan anggota tim peneliti dilakukan

untuk menyamakan pemahaman kegiatan serta pendelegasian tugas didalam

pelaksanaan penelitian. Proses adminstrasi pembiayaan dalam rangka persiapan

pengadaan sarana dan prasarana yang diperlukan dipersiapkan sesuai dengan

prosedur standar.

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

10 Loka Penelitian Kambing Potong

3.2.2. Pelaksanaan Teknis

Penelitian dilakukan di Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih,

Sumatera Utara dan diawali dengan pengolahan lahan percobaan sesuai

prosedur penelitian, penataan kandang percobaan dan seleksi ternak sesuai

dengan kriteria yang diperlukan menurut rancangan penelitian yang telah

ditetapkan. Penelitian dilakukan setelah semua sarana dan prasarana tersedia

dan selanjutnya dilakukan pengamatan, pengumpulan dan pencatatan data

secara teratur. Selama masa pengamatan dan pengumpulan data, dilakukan

perawatan tanaman maupun ternak yang dilakukan setiap saat baik oleh

peneliti maupun oleh petugas teknis dalam pengawasan peneliti. Data

kemudian ditabulasi dan dianalisis untuk mendapatkan hasil sementara dan

selanjutnya dilaporkan secara periodik.

3.2.3. Pelaporan Hasil Penelitian

Hasil penelitian dilaporkan secara berkala sesuai dengan tahapan

kemajuan pelaksanaan penelitian yaitu laporan bulanan, triwulan, tengah

tahun dan laporan akhir. Laporan kemajuan menyangkut hal keuangan dan

fisik.

3.3. Bahan dan Metoda Pelaksanaan Kegiatan

3.3.1. Pengaruh lama dan suhu penyimpanan terhadap viabilitas

dan vigor benih Indigofera.

Persiapan tanaman legum

Luas lahan yang digunakan 2500 m2. Kegiatan diawali dengan

persiapan lahan, pengolahan tanah dengan teraktor. Selanjutnya dilakukan

penanaman dengan jarak tanam 5 x 5 m. Perawatan hijauan legum berupa

penyiangan untuk menghilangkan gulma penyaing tanaman dalam menyerap

unsur hara, air, sinar matahari dan ruang tumbuh. Cara penyiangan dilakukan

dengan tangan dan alat penyiang, serta penyiraman pada saat musim

kemarau. Pemupukan dilakukan pada umur tanaman 1 bulan setelah tanam.

Selanjutnya setiap 3 bulan sekali. Dosis fosfat yang digunakan secara

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 11

konvensional, yaitu sebanyak 250 kg/ha. Sedangkan pupuk kandang 20

ton/ha.

Variabel pengamatan pada benih Indigofera antara lain :

Poduksi benih

Untuk memperoleh data produksi benih Indigofera, benih di panen pada saat

polong menunjukkan warna hitam (90%), selanjutnya dipanen setiap interval

1 bulan. Dilakukan dengan memanjat dan menggunakan tangga. Hasil panen

dikumpul, kemudian di jemur sampai kering selama 3 hari. Selanjutnya di pipil

dengan cara di tumbuk menggunakan alu dan disaring sampai benih kelihatan

bersih, kemudian benih ditimbang untuk memperoleh produksi benih.

Viabilitas benih

Materi yang digunakan untuk pengujian viabilitas adalah benih baru.

Pengujian dilakukan setiap interval 1 Bulan selama 6 bulan. (AOSA, 1983),

sebanyak 50 butir benih dari setiap ulangan ditanam pada media petridis.

Pengamatan viabilitas dilakukan pada hari ke lima setelah semai. Pengujian

yang dilakukan adalah :

a. Daya cambah benih

Dcb

= Σ kecambah x 100%

Σ Total benih yang ditanam

b. Jumlah kecambah normal

Jkn

= Σ kecambah normal x 100%

Σ Total kecambah

c. Panjang akar primer

Kecambah yang dipanen diukur panjang akar primer dengan menggunakan

mistar.

Vigor Benih

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

12 Loka Penelitian Kambing Potong

Pengujian vigor benih dilakukan setiap interval 1 Bulan selama 6 bulan.

Seluruh kecambah yang diperoleh dari pengujian viabilitas dilanjutkan

penanamannya ke lapangan dengan menggunakan polybag. Pengamatan

vigor yang lakukan adalah :

a. Daya tumbuh kecambah

Dtc

= Σ Daya tumbuh kecambah x 100%

Σ Total kecambah yang ditanam

b. Jumlah benih normal

= Σ benih normal x 100%

Σ Total benih yang ditanam

c. Tinggi tanaman

Benih yang hidup diukur tingginya dari tanah sampai ujung tanaman.

Kandungan kimiawi benih Indigofera

Benih Indigofera sebanyak 100g dikeringkan didalam oven pada

temperatur 600C selama 48 jam untuk mendapatkan berat kering, selanjutnya

sampel tersebut digunakan sebagian bahan untuk analisis komposisi kimiawi.

Sampel digiling menggunakan alat penggiling (hummer mill) dengan saringan

berdiameter 1,0 mm, Sampel yang sudah digiling dilakukan analisa

Kandungan P (fosfor) dengan metode ekstraksi HCL 25%., N (Kjeldahl)

menurut AOAC (2005). Lemak dianalisis menurut metoda VAN SOEST et al.

(1991).

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 13

3.3.2. Ekstraksi dan analisis kualitas nutrisi protein daun Indigofrea zollingeriana .

Daun Indigofera zollingeriana, Gliricidia sepium, Morus multicaulis dan

Morus chatyana dipanen dari kebun percobaan di Loka Penelitian kambing

Potong, Sei Putih. Koleksi dilakukan pada pagi hari dan langsung diproses untuk

menghasilkan konsentrat protein daun menurut metoda ADEPARUSI et al.

(2006). Metoda ekstraksi dilakukan menggunak air atau larutan basa pada suhu

60 atau 800C. Daun segar dibersihkan dengan air untuk menghilangkan

kontaminan. Sebanyak 100 g daun yang telah dibersihkan digiling menggunakan

mixer yang telah diberi air destilasi sebanyak 900 ml. Hasil gilingan lalu diperas

menggunakan alat pemeras yang dilakukan 4-5 kali untuk memaksimalkan

ekstraksi. Bahan ekstraksi (ekstrak) kemudian dikoagulasi dengan cara

dipanaskan selama kurang lebih 10 menit pada suhu 80-900C., lalu didinginkan

pada suhu kamar dan disentrifugasi pada 1000 rpm selama 10 menit. Filtrat

kemudian dipisahkan dari cairan dengan penyaringan menggunakan kain saring

halus lalu dicuci dengan air asam dan aseton dan dikeringkan dalam oven pada

suhu 600C selama 30 menit, lalu disimpan sebagai konsentrat protein daun

didalam refrigerator sebelum digunakan sebagai pakan suplemen. Parameter

yang diamati terhadap daun dan konsentrat protein daun adalah: 1) komposisi

kimiawi sebelum diproses ( BK,BO, PK, NDF, ADF) maupun setelah diproses

menjadi konsentrat protein daun (BK, P, NDF, BO) dan 2) nilai rendemen protein

konsentrat, 3) komparatif kualitas nutrisi protein (komposisi asam amino, tingkat

kelarutan) dan 4) titik isoelektrik protein.

3.3.3. Konsentrat Hijau Berbasis Indigofera zollingeriana Sebagai

Pakan Kambing

Penelitian ini menggunakan tanaman Indigofera zollingeriana sebagai sumber

protein dan Calliandra calotirsius sebagai sumber tanin pada pakan. Daun

tanaman tersebut diperoleh dari kebun percobaan Loka Penelitian Kambing

potong sei putih, tanaman tersebut merupakan hasil budidaya yang dilakukan di

Kebun Percobaan Loka Penelitian Kambing Potong seluas 1.500 m2, setelah umur

6 bulan dilakukan pemanenan, penjemuran dan pengilingan bahan penelitian.

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

14 Loka Penelitian Kambing Potong

Peubah yang diamati adalah :a. Analisa BK, PK ( prosedur Kjeldal) dan LK (AOAC

2005),b. Analisa NDF dan ADF (Van Soest et al.1991), c. Analisa NDICP dan

ADICP di mulai dengan mengukur NDF dan ADF ( van Soest 1991). Penentuan

nitrogen pada kertas dan residu prosedur Kjeldal. NDICp dan ADICP di hitung

berdasarkan total nitrogen dari destilat yang telah dititrasi dikalikan 6,25 (Licitra

et al. 1995).

Pada kegiatan berikutnya diproduksi ransum R0, R1, R2, R3, R4 yang

mengandung 90%, 85%, 80%, 75%, 70 % Indigofera zollingeriana, dicetak

pada mesin pelet dengan diameter pellet 5 mm. Konsentrat hijau sebagai

suplemen pakan berbasis Indigofera zollingeriana dengan kandungan tannin

yang berbeda. Peubah yang diamati adalah bahan kering (BK), protein kasar

(PK), lemak kasar (LK), Energi kasar , neutral detergent fiber (NDF), acid

detergent fiber (ADF), neteral detergent insoluble crude protein (NDICP), acid

detergent insoluble crude protein (ADICP), rumen degradable protein (RDP),

rumen undegradable protein (RUP), kecernaan BK, kecernaan BO, kecernaan PK,

NH3, total VFA, pH, tanin.

Tahapan penelitian berikutnya adalah pene;litian komparatif konsentrat

hijau dengan konsentrat konvensional. Penelitian ini akan mengunakan produk

ransum pakan yang merupakan hasil penelitian terbaik dari penelitian

sebelumnya yakni R1 adalah produk yang terbaik dari suplemen konsentrat

berbasis hijauan leguminosa dan R0 sebagai kontrol adalah produk pakan

konsentrat, susunan ransum pakan suplemen konsentrat berbasis hijauan legum

dan konsentrat komersil disusun berdasarkan NRC ISO Protein 20 % dan ISO

Energi 2.800 Kkal. Peubah yang diamati yaitu : Konsumsi, Kecernaan,

Pertambahaan Bobot Badan Harian, Efisiensi Penggunaan Ransum, Neraca

Nitrogen, karakteristik fermentasi rumen, Total nitrogen darah, glukosa dan

kolesterol darah.

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 15

3.4. Analisis Data

3.4.1. Pengaruh lama dan suhu penyimpanan terhadap viabilitas

dan vigor benih Indigofera

Rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor perlakuan.

Faktor pertama adalah suhu penyimpanan terdiri dari tiga level antara lain :

Suhu freezer (-10 sd -150C), suhu refregerator (4 – 100C), dan suhu kamar

(21 sd 340C). Faktor kedua adalah lama penyimpanan yang terdiri dari 6 level,

antara lain : 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan dan 6 bulan. setiap

pelakuan terdiri atas 4 ulangan.

Model analisis statistika yang digunakan adalah sebagai berikut :

Yijk = Л + Ti + Sj +Jj + (Ts) ij +E (ij) k

i = 1,2,.... t

j = 1,2,3 ...r

Yij = Nilai yang diamati

Л = Nilai tengah perlakuan (suhu/lama penyimpanan)

Ti = Pengaruh perlakuan dari perlakuan i

Sj = Pengaruh perlakuan dari blok j

Jj = efek random dari randomisasi

(Ts)ij = Interaksi antara perlakuan dengan blok

E (i)j = Random error percobaan

Analisis data dengan ANOVA, bila terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05)

dilanjutkan dengan uji jarak berganda DUNCAN.

i. Ekstraksi dan analisis kualitas nutrisi konsentrat protein daun

Indigofrea zollingeriana.

Penelitian dilakukan dengan membandingkan kualitas konsentrat protein

daun Indigofera zollingeriana dengan beberapa tanaman pakan ternak yaitu

Gliricidia sepium, Morus multicaulis dan Morus chatyana. Dalam penelitian ini

digunakan metoda ektraksi yang berbeda dalam hal larutan pengekstrak (air

dan larutan basa dan suhu ektraksi (60 dan 800C). Untuk evaluasi isolat

protein pada Indigofera zollingeriana produksi dan kualitas isolat protein

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

16 Loka Penelitian Kambing Potong

dilakukan pada umur panen berbeda (4,6 dan bulan). Rancangan percobaan

yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan (jenis

pakan protein) dan 5 ulangan. Model matematik yang digunakan adalah: Yij

= µ + τi +еij, dimana Yij adalah respon variabel yang diukur pada perlakuan

ke i (i=1-3), µ adalah nilai rataan umum dan еij adalah error random.

Parameter yang diuji adalah kandungan protein, komposisi asam amino,

tingkat kelarutan protein, tingkat kecernaan protein. Data dianalisis dengan

metoda analisis sidik ragam mengunakan perangkat SAS (1989). Data

dianalisis dengan analisa sidik ragam menggunakan General Linear Model

(SAS, 1989). Apabila terdapat pengaruh perlakuan yang nyata (P<0,05),

maka akan dilanjutkan dengan Uji Duncan.

ii. Konsentrat Hijau Berbasis Indigofera zollingeriana Sebagai

Pakan Kambing

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap

dengan lima perlakuan dan 6 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari satu ekor

kambing. Model matematik yang digunakan adalah: Yij = µ + τi +еij,

dimana Yij adalah respon variabel yang diukur pada perlakuan ke i (i=1-5), µ

adalah nilai rataan umum dan еij adalah error random. Parameter yang

diamati adalah: konsumsi pakan, pertambahan bobot hidup harian, efisiensi

penggunaan ransum (EPR), karakteristik fermentasi rumen dan metabolit

darah dan kualitas karkas.Data dianalisis dengan metoda analisis sidik

ragam mengunakan perangkat SAS (1989). Data dianalisis dengan analisa

sidik ragam menggunakan General Linear Model (SAS, 1989). Apabila

terdapat pengaruh perlakuan yang nyata (P<0,05), maka akan dilanjutkan

dengan Uji Duncan.

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 17

IV. ANALISIS RESIKO

4.1. Daftar Resiko

No Resiko Penyebab Dampak

1. Pertumbuhan tanaman

lambat, produksi benih

rendah

Kemarau

panjang

Ketersediaan benih

terbatas

2. Tanaman dan benih tanaman

rusak

Serangan hama Kualitas tanaman dan

benih rendah

3. Daun untuk sumber

konsentrat protein daun tidak

mencukupi

Kemarau atau

hama penyakit

Penelitian tertunda dan

target tidak terpenuhi

4. Pemotongan anggaran Kebijakan Volume kegiatan tidak

terpenuhi

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

18 Loka Penelitian Kambing Potong

4.2. Daftar Penanganan Resiko

DAFTAR PENANGANAN RESIKO

No Resiko Penyebab Penanganan Resiko

1. Pertumbuhan tanaman

terganggu, produksi

benih rendah

Kemarau panjang Melakukan penyiraman

2. Benih rusak Serangan hama Melakukan penyemprotan

insektisida

3. Daun tanaman sebagai

sumber konsentrat

protein daun tidak

mencukupi

Produksi rendah

atau jumlah

tanaman terbatas

Melakukan pemupukan,

penyiraman, penyemprotan

insektisida dan memperbanyak

tanaman

4. Pemotongan anggaran Kebijakan

nasional

Melakukan kegiatan tepat

waktu dan menyesuaikan

volume kegiatan dengan

anggaran tersedia

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 19

V. TENAGA DAN ORGANISASI PELAKSANAAN

5.1. Tenaga yang Terlibat Dalam Kegiatan

No

.

Nama Pendidikan/

Fungsional

Disiplin Ilmu Tugas Waktu

(jam/mg

1. Simon P Ginting S3/Pen.Utama Nutrisi dan pakan

Ternak

P.jawab 6 OB

2. Juniar Sirait S2/Pen.Madya Tanaman pakan ternak Anggota 5 OB

3. Rijanto Hutasoit S2/Pen. Muda Tanaman pakan ternak Anggota 5 OB

Antonius S2/Pene.

Muda

Nutrisi dan Pakan

Ternak

Anggota 5 OB

4. Misroaliandi SMA/Teknisi Tanaman pakan ternak Teknisi 3 OB

5. Sari D3 Analis Kimia Teknisi 3 OB

6. Imaniyanto SMA/Teknisi Analis kimia Teknisi 3 OB

7. P.M. - - - -

5.2. Jangka Waktu Kegiatan

Kegiatan

Bulan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Persiapan

Pelaksanaan

Pengolahan data

Pelaporan

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

20 Loka Penelitian Kambing Potong

5.3. Pembiayaan

No Mata anggaran pengeluaran Jumlah (Rp.)

1. Belanja Bahan 30.000.000

2. Honor yang terkait dengan output kegiatan 40.000.000

3. Belanja Barang Untuk Persediaan barang

Konsumsi

130.000.000

4. Belanja Perjalanan lainnya 50.00.000

5. Belanja Modal -

Jumlah anggaran 250.000.000

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 21

VI. DAFTAR PUSTAKA

ABDULLAH, L. (2011). Herbage production and quality of shrub Indigofera

treated by different concentration of foliar fertilizer. Media Peternakan-

Journal of Animal Science and Technology, 33 (3).

ABDULLAH. L., and SUHARLINA, 2010. Herbage yield and quality of two

vegetative parts of Indigofera at different times of first regrowth

defoliation. Med. Pet, 33(1), 44-49.

ADEPARUSI, E. OLUWAYEMISI and F.C. AKINNUOYE. 2006. Utilization of

Gliricidia leaf protein concentrate in the diet of Clarias gariepinus

Fingerlings. J. Food Technol. 4:1-3.

ANSBARASU, C., N.DUTTA, K. SHARMA AND M. RAWAT. 2004. Response of

goats to partial replacement of dietary protein by a leaf mixturecontaining

Leucaena leucocephala, Morus alba and Tectona grandis. Small Rumin.

Res. 51:47-56.

AOAC. 2005. Official Methods of Analysis. 17 th Ed . Washington: AOAC

International.

BELITZ, H.D., W. GROSCH and P. SCHIEBERLE. 2009. Food Chemistry, 4th Ed.

Springer Book, Heidelberg, Germany.

CHEEKE, P. R. 2005. Applied Animal Nutrition: Feed and Feeding 3rd Ed. Pearson

and Prentice Hall, New Jersey.Dozier, W. A. 2001. Pellet Quality for more

economical poultry meat. J. Feed International 52 (2) : 40-42.

DEVENDRA, C., C. SEVILLA and D. PEZO. 2001. Food-feed systems in Asia.

Review. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 5: 733-745.

GINTING, S. P., KRISNAN, R., & SIRAIT, J. (2010). The Utilization of Indigofera

sp. as the sole foliage in goat diets supplemented with high carbohydrate

or high protein concentrates. Indonesian Journal of Animal and Veterinary

Sciences, 15 (4).

HASSEN, A., N.F.G.RETHMAN V. NIEKERK, T.J. TJELELE . 2007. Influence of

Season/year and Species on Chemical Composition and In Vitro Digestibility

of Five Indigofera accessions. J Anim Feed Sci Technol 136:312–322.

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

22 Loka Penelitian Kambing Potong

KABI, F. AND F.B. BAREEBA. 2008. Herbage biomass production and

nutritive value of mulberry (Morus alba) and Calliandra calothyrsus

harvested at different cutting frequencies. Anim. Feed Sci. Technol.140: 178-

190.

KOES, F dan R. ARIEF. 2011. Pengaruh perlakuan Matriconditioning terhadap

viabilitas dan vigor benih jagung. Prosiding Seminar Nasional Serealia.

pp.548 – 555.

KOMALASARI, O dan F. KOES. 2009. Pengaruh kualitas biji pada berbagai taraf

pemupukan Nitrogen terhadap vigor benih jagung. Prosiding Seminar

Nasional Serealia. pp. 290 – 296.

LUKIWATI, D.R. 2002. Effect of batuan fosfat and superphosphate fertelizer on

productivity of maize var. Bisma. In: Food Security in nutrien-streeed

environments, J.J Adu-Gyamfi (ed.). Kluwer Academic Publisher. Printed in

the Netherlands. pp.183-187.

MILOSEVIC, M., M. VUJAKOVIC, and D. KARAGIC. 2010. Vigor test as indicators

of seed viability. Genetica. Vol. 42 No. 1 : 103-118

NORTON, B.W. 1994. The nutritive value of tree legumes. In: R.C.Guttridge and

H.M. q Shelton (Eds.) Forage Tree Legumes in Tropical Agriculture. CAB

International. p. 177-191.

PAMO, E.T., F.A. FONTEH, F. TENDONKENG, J.R. KANA, B. BOUKILA, P.J. Q

DJAGA AND G.FOMEWANG II. 2006. Influence of supplementary feeding

with multipurpose leguminous tree leaves on kid growth and milk production in

the West African dwarf goat. Small Rumin. Res. 63: 142-149.

REHMAN, A.U, A. MALIK, N. RIAZ, H. AHMAD, S. A. NAWAZ and M.I. CHOUDAHRY.

2005. Lipoxy-genase inhibiting constituents from Indigofera hetrantha. Chem.

Pharm. Bull. 53(3): 263 – 266.

SCHMIDT, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Hutan Tropis dan Sub Tropis.

Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Departemen

Kehutanan. Jakarta.

PROPOSAL PENELITIAN TAHUN 2016

Loka Penelitian Kambing Potong 23

SINGH,S., V.K. VARSHNEY, N. WAHI and L.H. KHAN. 2014. Isolation and

biochemical analysis of leaf protein concentrates from leaves of Shorea

robusta. Pakistan J. Nutr. 13: 546-553.

STATISTICS ANALYTICAL SYSTEM. 1987. SAS User’s Guide: Statistic. 6th ed.,SAS

Institute Inc.,Cary,NC,USA.

STEEL, R.G.D., and J.H. TORRIE. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika: Suatu

Pendekatan Biometrik. Penerjemah: B. SUMANTRI. Gramedia Pustaka

Utama, Jakarta. Terjemahan dari: Principles and Procedures of Statistics.

TARIGAN, A., L. ABDULLAH, S.P. GINTING dan I.G. PERMANA. 2010. Produksi

dan komposisi nutrisi serta kecernaan in vitro Indigofera sp pada interval dan q

tinggi pemotongan berbeda. JITV 15: 188-195

TARIGAN, A., dan S.P. GINTING. 2011. Pengaruh taraf pemberian Indigofera sp

terhadap pertambahan bobot badan kambing yang diberi rumput B.

Ruziziensis. JITV

TOPPS, J.H. 1992. Potential composition and use of legume shrubs and trees as

foddersfor livestock in the tropics. J. Agric. Sci., Cambtridge 118:1-8.

WILSON, P.G. and R. ROWE. 2008. A revision of the Indigofereae (Fabaceae) in

Australia. 2. Indigofera species with trifoliolate and alternately pinnate leaves.

Telopea 12(2): 293 – 307.