proposal tak halusinasi

Download Proposal Tak Halusinasi

Post on 08-Apr-2016

67 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

123456

TRANSCRIPT

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOKSTIMULASI GANGGUAN PERSEPSI SENSORI HALUSINASIDI RUANG PARKIT RSJ DR. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG - MALANG

Oleh kelompok V :1. Tony Septian N1305040632. Agustiningsih

1305040023. Lucy Yuniasari1305040504. Fathul Liulfa A1305040445. Liya Fidianita130504015PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATANPEMKAB JOMBANG2014

LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI GANGGUAN PERSEPSI SENSORI HALUSINASI DI RUANG PARKIT RSJ DR. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANGTelah Disahkan Pada :

Hari

:

Tanggal

:

Pembimbing Akademik

Ahmad Nur Khoiri, S.Kep., Ns, M. Kes.

NIK.021978140320070728Pembimbing Ruangan

Agus Yulianto, S.Kep.Ns

NIP. 196807261989031002

Mengetahui,

Kepala Ruangan Parkit

Teguh Armudji, S.kep.

NIP. 96601051988031002BAB 1PENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGPada pasien gangguan jiwa dengan kasus Schizoprenia selalu diikuti dengan gangguan persepsi sensori; halusinasi. Terjadinya halusinasi dapat menyebabkan klien menjadi menarik diri terhadap lingkungan sosialnya, hanyut dengan kesendirian dan halusinasinya sehingga semakin jauhdarisosialisasi dengan lingkungan disekitarnya.Terapi Aktivitas Kelompol (TAK): TAK adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial. Salah satu gangguan hubungan sosial pada pasien gangguan jiwa adalah gangguan persepsi sensori. Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan,perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulusyangsebetulnya tidak ada. Dampak dari halusinasi yang diderita klien diantaranya dapat menyebabkan klien tidak mempunyai teman dan asyik dengan fikirannya sendiri. Salah satu penanganannya yaitu dengan melakukan Terapi Aktivitas Kelompok yang bertujuan untuk mengidentifikasi halusinasi dan mengontrol halusinasi yang dialaminya.Atas dasar tersebut, maka kami menganggap dengan Therapy Aktivitas Kelompok (TAK) klien dengan gangguan persepsi sensori dapat tertolong dalam hal sosialisasinya dengan lingkungan sekitarnya, tentu saja klien yang mengikuti therapy ini adalah klien yang sudah mampu mengontrol dirinya dari halusinasi sehingga pada saat TAK klien dapat bekerja sama dan tidak mengganggu anggota kelompok yang lain.1.2 TUJUAN Tujuan umum:Klien dapat mengenal haluinasi yang dialaminya, mengontrol halusinasinya, dan mengikuti program pengobatan secara optimal.Tujuankhusus:a. Klien dapat mengenal halusinasi.b. Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.c. Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.d. Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas terjadwal.e. Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara patuh minum obat.

BAB IITINJAUN TEORI2.1. Definisi HalusinasiHalusinasi adalah satu persepsi yang salah oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal (Cook & Fontain, Essentials of Mental Health Nursing, 1987).2.2. Klasifikasi HalusinasiPada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik tertentu, diantaranya:a. Halusinasi pendengaran

Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.

b. Halusinasi penglihatan

Karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik,gambarkartun dan atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.

c. Halusinasi penghidu

Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti: darah, urine atau feses. Kadangkadang terhirup bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang, dan dimensia

d. Halusinasi perabaKarakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh: merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain.e. Halusinasi pengecapKarakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan.f. Halusinasi sinestetikKarakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.2.3. Tanda dan Gejala1) Bicara, senyum, tertawa sendiri.2) Mengatakan mendengarkan suara, melihat, mengecap, menghirup (mencium) dan merasa suatu yang tidak nyata.3) Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.4) Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata.5) Tidak dapat memusatkan perhatian atau konsentrasi.6) Sikap curiga dan saling bermusuhan.7) Pembicaraan kacau kadang tak masuk akal.8) Menarik diri menghindar dari orang lain.9) Sulit membuat keputusan.10) Ketakutan.11) Tidak mau melaksanakan asuhan mandiri: mandi, sikat gigi, ganti pakaian, berhias yang rapi.12) Mudah tersinggung, jengkel, marah.

13) Menyalahkan diri atau orang lain.

14) Muka marah kadang pucat.

15) Ekspresi wajah tegang.

16) Tekanan darah meningkat.

17) Nafas terengah-engah.

18) Nadi cepat.

19) Banyak keringat. 2.4. Tahapan Halusinasi, Karakteristik, dan Perilaku Yang Ditampilkan

Tahap I

Memberi rasa nyaman tingkat ansietas sedang secara umum, halusinasi merupakan suatu:1. Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah, ketakutan,(kesenangan.

2. Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansieta.

3. Fikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontol kesadaran, nonpsikotik.4. Tersenyum, tertawa sendiri

5. Menggerakkan bibir tanpa suara

6. Pergerakkan mata yang cepat

7. Respon verbal yang lambat8. Diam dan berkonsentrasiTahap II

1. Menyalahkan

2. Tingkat kecemasan berat secara umum halusinasi menyebabkan perasaan antipasti.

3. Pengalaman sensori menakutkan

4. Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut

5. Mulai merasa kehilangan kontrol

6. Menarik diri dari orang lain nonpsikotik.7. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah8. Perhatian dengan lingkungan berkuran

9. Konsentrasi terhadap penga-laman sensori kerja

10. Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realitasTahapIII1. Mengontrol

2. Tingkat kecemasan berat

3. Pengalaman halusinasi tidak dapat ditolak lagi4. Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori (halusinasi).

5. Isi halusinasi menjadi atraktif.

6. Kesepian bila pengalaman sensori berakhir psikotik.

7. Perintah halusinasi ditaati.

8. Sulit berhubungan dengan orang lain.

9. Perhatian terhadap lingkungan berkurang hanya beberapa detik.

10. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat

Tahap IV

1. Klien sudah dikuasai oleh Halusinasi.

2. Klien panik. Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah halusinasi, bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik3. Perilaku panik.

4. Resiko tinggi mencederai.

5. Agitasi atau kataton.

6. Tidak mampu berespon terhadap lingkungan.Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas yang menggunakan aktivitas mempersepsikan berbagai stimulasi yang terkait dengan pengalaman dengan kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.Dalam terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi dibagi dalam 5 sesi, yaitu:

1. Sesi I

: Klien mengenal halusinasi

2. Sesi II

: Mengontrol halusinasi dengancaramenghardik3. Sesi III: Mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakapdengan orang lain

4. Sesi IV: Mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas terjadwal5. Sesi V: Mengontrol halusinasi dengan cara patuh minum obatBAB III

PENGORGANISIAN3.1. Persiapan

3.1.1. Persiapan Klien1. Kriteria kliena. Klien gangguan orientasi realita yang mulai terkontrol.

b. Klien yang mengalami perubahan persepsi.

c. Klien halusinasi yang sudah kooperatif.d. Klien dalam kondisi fisik yang baik dan sehat.e. Klien mau mengikuti aktifitas.2. Proses seleksia) Mengobservasi klien yang masuk kriteria.

b) Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria.

c) Mengumpulkan klien yang masuk kriteria.

d) Membuat kontrak dengan klien yang setuju ikut TAK, meliputi: menjelaskan tujuan TAK pada klien, rencana kegiatan kelompok dan Paturan main dalam kelompok3. Proses Seleksia. Gejala yang samab. Jenis kelamin yang sama

4. Jumlah Peserta6 orang

5. Nama Peserta 1. Sdr Munir2. Sdr. Wasis3. Sdr. Agus Kris4. Sdr. Soim5. Sdr. Nur Fauzi6. Sdr. Kayum3.1.2. Persiapan Terapis1) Melakukan rapat kecil sebelum pelaksanaan.2) Menentukan siapa-siapa yang akan menjadi leader, co-leader, fasilitator, observer.3) Satu jam sebelum pelaksanaan melakukan role play dengan teman-teman disertai pembimbing ruangan.3.1.3. Persiapan Lingkungan1. Suasana tidak bising.2. Pengaturan posisi tempat duduk.3. Setting instruktur kegiatan.

4. Ventilasi yang cukup.3.2. Pelaksanaan 3.2.1. Rencana TindakanNoKegiatanWaktu

1. Pembukaan 5 menit

2. Perkenalan dan penjelasan prosedur pelaksaan5 menit

3. Inti15 menit

4. Penutup5 menit

Total waktu 30 menit

3.2.2. Setting Tempat

Peserta dan terapis duduk bersama dalam satu lingkungan

Keterangan:

: Observer

: Leader

: Co-leader

: Klien

: Fasilitator3.3. PengorganisianPela