ringkasan ppmp pariaman

Download RINGKASAN PPMP PARIAMAN

Post on 18-Jul-2015

146 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PEMETAAN DAN PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2011

PEMETAAN KOMPETENSI SISWA SMA DI KOTA PARIAMAN DAN KABUPATEN PADANG PARIAMAN PROPINSI SUMATERA BARAT

Ketua : Dra. Yurni Suasti, M.Si

Anggota : Prof. Dr. Ermanto, M.HumIke Sylvia, M.Si Dra. Arnelis, M.Si Dra. Andromeda, M.Si Drs. Masril, M.Si Drs. Ardi, M.Si Havid Ardi,S.Pd, M.Hum Dr. Hasdi Aimon, M.Si

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2011 1

PEMETAAN KOMPETENSI SISWA SMA DI KOTA PARIAMAN DAN KABUPATEN PADANG PARIAMAN PROPINSI SUMATERA BARAT

A. Latar Belakang Masalah Kompetensi merupakan perpaduan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Tujuan yang ingin dicapai dalam kompetensi bukan hanya sekedar pemahaman terhadap materi ajar, akan tetapi bagaimana pemahaman dan penguasaan materi tersebut dapat mempengaruhi cara bertindak dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kompetensi dapat digunakan sebagai control dalam memantau perkembangan peserta didik yang didefinisikan sebagai pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai siswa serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran (Depdiknas, 2004). Lebih jauh, dengan kompetensi dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas pembelajaran sekaligus kualitas suatu sekolah (Sanjaya, 2009). Daya serap sendiri diartikan sebagai kemampuan seseorang atau kemampuan peserta didik untuk menyerap atau menguasai materi yang dipelajarinya sesuai dengan bahan mata pelajaran yang diajarkan gurunya. Daya serap digunakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru dalam suatu pembelajaran. Sementara mutu dalam konteks "hasil pendidikan" mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya UNAS, Ebta). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu. Untuk melihat sejauh mana mutu pendidikan bisa dicapai di suatu sekolah, dan bagaimana posisinya jika dibandingkan dengan sekolah lain yang ada di sekitarnya,

2

maupun secara nasional dapat dilihat dari hasil belajar yang dicapai siswa. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, bab X tentang standar penilaian dalam pasal 65 ditegaskan bahwa, hasil belajar dapat digunakan untuk melihat pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran.. Selanjutnya dalam lampiran Permendiknas nomor 20 tahun 2006 tentang standar penilaian dinyatakan bahwa, untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional (UNAS). Sesuai dengan pasal 68 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), hasil UNAS antara lain dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Melalui hasil UNAS, gambaran peta mutu pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, sekolah dan mata pelajaran dapat diketahui. Dalam buku Panduan Manajemen Sekolah (2000) dijabarkan berbagai komponen yang terkait dengan mutu pendidikan meliputi: (1) siswa dapat dilihat dari kesiapan dan motivasi belajarnya, (2) guru, diukur dari kemampuan profesional, moral kerjanya (kemampuan personal), dan kerjasamanya (kemampuan social), (3) kurikulum, dilihat dari relevansi konten dan operasionalisasi proses pembelajarannya, (4) sarana dan prasarana, yang dapat diukur dari kecukupan dan keefektifan dalam mendukung proses pembelajaran, dan (5) Masyarakat (orang tua, pengguna lulusan, dan perguruan tinggi): partisipasinya dalam pengembangan program-program pendidikan sekolah. Peningkatan kualitas pendidikan secara umum ditentukan oleh peningkatan proses belajar mengajar. Dengan adanya peningkatan proses belajar mengajar dapat pula meningkat kualitas lulusannya. Peningkatan kualitas proses pembelajaran ini akan sangat tergantung pada pengelolaan sekolah dan pengajaran/pendekatan yang diterapkan guru (Arends, 2008).

3

Artinya komponen mutu di level sekolah menjadi fokus perhatian kepala sekolah (Gerlah dan Ely (1980) dalam Yulaelawati, 2004), Majid (2005) dan Sanjaya (2008). Joseph. M. Juran yang pikiran-pikirannya begitu terkenal dan berpengaruh di Jepang, sehingga pada tahun 1981 dia dianugerahi Order of the Sacred Treasure oleh Kaisar Jepang, mengemukakan bahwa 85% dari masalah-masalah mutu terletak pada manajemen (pengelolaan). Oleh sebab itu sejak dini manajemen haruslah dilaksanakan seefektif dan seefisien mungkin (dalam Hanafiah dkk,1994). Dalam kerangka peningkatan mutu dan daya saing, lebih luas pemerintah melakukan pembenahan dalam system pendidikan, sebagaimanaa dituangkan dalam Pemerintah Pemerintah (PP) nomor 19 Tahun 2005 tentang delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP), meliputi: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidikan dan tenaga pendidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan (Mulyasa, ..). Pertama, standar isi merupakan ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam criteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kedua, standar proses merupakan standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Ketiga, standar kompetensi kelulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Keempat, standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah criteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Kelima, standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan criteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga,

4

tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan rekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Keenam, standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuana pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Ketujuh, standar pembiayaaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Kedelapan, standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrument penilaian hasil belajar peserta didik. Bersadarkan standar nasional pendidikan tersebut berikut: komponen yang terkait dengan peningkatan mutu pendidikan dapat digambarkan dalam diagram tulang ikan

Gambar 1 : Diagram Tulang Ikan Faktor yang Mempengaruhi Mutu Pendidikan Diagram Fishbone merupakan salah 5 satu tool untuk mengidentifikasi faktor

penyebab problem/masalah, karena fishbone diagram tergolong praktis, dan memandu setiap tim untuk terus berpikir menemukan penyebab utama suatu permasalahan. Dengan menerapkan diagram Fishbone ini dapat membantu menemukan akar penyebab terjadinya masalah khususnya di dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini adalah penguasaan kompetensi tertentu pada mata pelajaran yang di-UN-kan. http://en.wikipedia.org/wiki/ishikawa _diagram Tabel 1. Hasil UN Tahun 2008, 2009, 2010 Di Kota Pariaman Dan Kabupaten Padang Pariaman Kota Pariaman Program Mata Pelajaran Rata-rata Nilai 2007/2008 2008/2009 2009/2010 Bahasa Indonesia 7,90 6,40 7,82 Bahasa Inggris 7,11 7,85 7,79 IPA Matematika 7,77 8,63 8,59 Fisika 7,07 9,03 7,30 Kimia 8,32 8,62 8,42 Biologi 9,34 7,93 7,20 Bahasa Indonesia 6,44 5,85 7,07 Bahasa Inggris 6,69 7,37 7,21 IPS Matematika 9,93 8,97 8,06 Ekonomi 8,06 5,85 6,53 Sosiologi 8,39 7,54 6,62 Geografi 6,52 6,36 7,70 Kabupaten Padang Pariaman Program Mata Pelajaran Rata-rata Nilai 2007/2008 2008/2009 2009/2010 Bahasa Indonesia 7,24 6,41 7,49 Bahasa Inggris 6,77 7,80 7,19 IPA Matematika 6,89 7,41 8,83 Fisika 6,52 8,46 6,87 Kimia 7,62 8,31 7,20 Biologi 8,63 7,45 7,20 Bahasa Indonesia 6,44 5,88 7,16 Bahasa Inggris 6,19 7,38 6,95 IPS Matematika 6,88 8,08 7,83 Ekonomi 7,70 6,38 6,33 Sosiologi 8,12 7,29 6,49 Geografi 5,79 6,35 7,71

6

Meski sudah terdapat standarisasi sistem pendidikan di Indonesia sebagaimana disebutkan di atas, namun bahwa, kenyataan yang ditemukan di lapangan menunjukkan Khusus mutu pendidikan masih belum memberikan hasil yang diinginkan.

untuk daerah Sumatera Barat dilihat dari capaian UN tahun ajaran 2009/2010 berada pada urutan ke-28 dari 33 provinsi se-Indonesia. Capaian nilai UN untuk masingmasing kabupaten kota di Sumatera Barat juga memperlihatka n hasil yang berbeda. Diantara kabupaten kota tersebut adalah Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman. Rata-rata capaian untuk mata pelajaran yang di-UN-kan di kedua daerah tersebut cukup bervariasi dengan rentangan antara 5,79 sampai 9,34 pada tahun ajaran 2007/2008, 5,85 sampai 9,03 pada tahun ajaran 2008/2009, dan 6,49 sampai 8,83 pada tahun ajaran 2009/2010. Hal ini juga menunjukkan kebervariasian dalam penguasaan kompetensi dalam setiap mata pelajaran yang di-UN-kan. Ada kompetensi yang sudahj dikuasai siswa dan ada kompetensi yang belum dikuasai siswa. Untuk mengungkapkan peta komp