ruptl 2013-2022 sum

Download RUPTL 2013-2022 Sum

Post on 15-Oct-2015

154 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

rencana

TRANSCRIPT

  • 5/25/2018 RUPTL 2013-2022 Sum

    1/41

  • 5/25/2018 RUPTL 2013-2022 Sum

    2/41

    Rencana Usaha

    Penyediaan Tenaga ListrikPT PLN (Persero) 2013 - 2022

    Ringkasan Eksekutif

  • 5/25/2018 RUPTL 2013-2022 Sum

    3/41

  • 5/25/2018 RUPTL 2013-2022 Sum

    4/41

    iiiRingkasan Eksekutif RUPTL 2013 - 2022

    201

    3-202

    2

    DAFTAR ISI

    Tujuan dan Lingkup RUPTL 1

    Pertumbuhan Usaha dan Kondisi Kelistrikan Saat Ini 1

    Upaya Penanggulangan Jangka Pendek 2

    Ketersediaan Energi Primer 2

    Kebijakan dan Kriteria Perencanaan Sistem Kelistrikan 2

    Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik 3

    Rencana Tambahan Pembangkit 4

    Proyeksi Emisi CO2 6

    Proyek Pendanaan Karbon 7

    Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk 7

    Kebutuhan Investasi 9

    Rencana Pengembangan Sistem Jawa Bali 9

    Rencana Pengembangan Sistem Sumatera 15

    Rencana Pengembangan Sistem Kalimantan Barat 19

    Rencana Pengembangan Sistem Kalseltengtimra 22

    Rencana Pengembangan Sistem Sulawesi Bagian Utara 26

    Rencana Pengembangan Sistem Sulawesi Bagian Selatan 27

    Rencana Pengembangan EBT Tersebar 31

    Rencana Pengembangan Sistem Kelistrikan Isolated 32

    Analisis Risiko 32

    Kesimpulan 33

  • 5/25/2018 RUPTL 2013-2022 Sum

    5/41

  • 5/25/2018 RUPTL 2013-2022 Sum

    6/41

    1Ringkasan Eksekutif RUPTL 2013 - 2022

    201

    3-202

    2

    TUJUAN DAN LINGKUP RUPTL

    Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2013 2022 bertujuan untuk memenuhi

    amanat Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik dan

    untuk menjadi pedoman pengembangan sarana ketenagalistrikan dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik di

    wilayah usaha PLN secara efisien dan terencana guna menghindari ketidakefisienan perusahaan sejak tahapperencanaan. RUPTL memuat proyeksi kebutuhan tenaga listrik, rencana pengembangan kapasitas pembang-

    kit, rencana pengembangan transmisi dan gardu induk, serta pengembangan distribusi. Proyeksi kebutuhan

    tenaga listrik dibuat rinci per provinsi dan per sistem tenaga listrik, termasuk sistem kelistrikan yang isolated

    di pulau-pulau tersebar. Rencana pengembangan kapasitas pembangkit, transmisi dan gardu induk juga dibuat

    rinci hingga proyek-proyeknya.

    Proyeksi kebutuhan tenaga listrik (demand forecast) disusun untuk memperkirakan energi listrik yang diperlu-

    kan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan Pemerintah dan memperhatikan pertumbuhan

    penduduk.

    Pengembangan kapasitas pembangkit direncanakan untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik dan mar-

    gin cadangan (reserve margin) tertentu dan sedapat mungkin direncanakan secara optimal dengan prinsip

    biaya terendah (least cost). Pengembangan pembangkit juga mengutamakan pemanfaatan sumber energi se-

    tempat, terutama energi terbarukan seperti panas bumi dan tenaga air. Beberapa proyek pembangkit telah

    dinyatakan akan dikerjakan sebagai proyek PLN atau proyek listrik swasta (IPP), sedangkan beberapa proyek

    lagi masih belum ditetapkan sebagai proyek PLN atau IPP. Hal ini dimaksudkan agar PLN nanti, atas persetu-

    juan Pemerintah, akan memutuskan apakah suatu proyek diimplementasikan sebagai proyek PLN atau IPP.

    Pengembangan sistem transmisi direncanakan untuk memperoleh keseimbangan antara kapasitas pembangkit-

    an dan kebutuhan daya listrik secara efisien dengan memenuhi kriteria keandalan dan kualitas tertentu. Pada

    sistem kelistrikan yang sudah besar seperti Sumatera dan Jawa, direncanakan pula satu sistem transmisi yang

    menjadi tulang punggung sistem kelistrikan (backbone) berupa saluran transmisi tegangan ekstra tinggi.

    PERTUMBUHAN USAHA DAN KONDISI KELISTRIKAN SAAT INI

    Dalam lima tahun terakhir, yaitu antara tahun 2008 dan 2012, usaha PLN terus mengalami pertumbuhan. Pen-

    jualan listrik meningkat dari 128 TWh pada 2008 menjadi 172 TWh pada 2012, jumlah pelanggan meningkat

    dari 39 juta pada 2008 menjadi 50 juta pada 2012, dan rasio elektrifikasi meningkat dari 62,3% pada 2008

    menjadi 75,9% pada 2012.

    Kondisi kelistrikan hingga September tahun 2013 dapat digambarkan sebagai berikut. Hingga September 2013

    kapasitas terpasang pembangkit PLN dan IPP di Indonesia adalah 40.533 MW yang terdiri dari 31.815 MW

    di Jawa Bali dan 8.718 MW di Sumatera dan Indonesia Timur, tidak termasuk pembangkit sewa sebanyak

    2.933 MW. Kapasitas pembangkit di Sumatera dan Indonesia Timur tersebut pada dasarnya hanya pas-pasan

    dalam melayani kebutuhan masyarakat, sehingga dapat mengalami defisit manakala ada sebuah pembang-

    kit yang terganggu atau menjalani pemeliharaan rutin. Sebagai ilustrasi, sistem kelistrikan Sumatera Bagian

    Utara hampir sepanjang tahun tidak mempunyai cadangan operasi, sering mengalami defisit dan mengope-

    rasikan banyak pembangkit berbahan bakar BBM. Sistem Sumatera Bagian Selatan juga mengalami hal yang

    sama, yaitu hampir sepanjang tahun tidak mempunyai cadangan operasi yang cukup. Hal serupa terjadi di

    beberapa daerah lain, seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Minahasa-Gorontalo,

    Palu, Lombok, Ambon, Ternate dan Jayapura. Kondisi sistem kelistrikan yang lebih kecil juga banyak yang me-

    ngalami defisit. Sedangkan di wilayah Jawa Bali, kapasitas pembangkit pada dasarnya cukup untuk memenuhi

    kebutuhan daya. Hal yang menjadi masalah operasi selama tahun 2012 adalah tidak cukupnya pasokan gas

    ke pembangkit-pembangkit listrik PLN dan banyak trafo yang pembebanannya sudah sangat tinggi, serta se-

    makin besarnya transfer listrik dari Jawa Bagian Tengah/Timur ke Jawa Bagian Barat yang berdampak padapenurunan tegangan di sistem transmisi pada periode beban puncak.

    RINGKASAN EKSEKUTIF RUPTL 2013 2022

  • 5/25/2018 RUPTL 2013-2022 Sum

    7/41

    RUPTL

    2 Ringkasan Eksekutif RUPTL 2013 - 2022

    UPAYA PENANGGULANGAN JANGKA PENDEK

    Masalah penyediaan tenaga listrik yang mendesak adalah upaya memenuhi listrik pada daerah-daerah yang

    kekurangan pasokan listrik dan mengganti pembangkit berbahan bakar minyak dengan bahan bakar non-mi-

    nyak serta melistriki daerah yang belum mendapatkan pasokan listrik.

    Tindakan yang telah dilakukan di wilayah operasi Indonesia Barat dan Timur meliputi sewa pembangkit, pem-

    belian energi listrik dari IPP skala kecil, bermitra/kerjasama operasi pembangkit dengan Pemda setempat,

    pembelian excess power, percepatan pembangunan PLTU batubara PerPres 71/2006, membangun saluran

    transmisi, mengamankan kontinuitas pasokan energi primer dan memasang beberapa PLTS secara terbatas.

    Sedangkan tindakan jangka pendek di Jawa Bali berupa percepatan pengadaan trafo daya 150/20 kV dan

    trafo interbus 500/150 kV, menambah kapasitas pembangkit di Bali, mempercepat pembangunan kabel laut

    Jawa-Bali 150 kV sirkit 3 dan 4, dan memasang kapasitor shuntdi sistem Jakarta untuk perbaikan tegangan.

    KETERSEDIAAN ENERGI PRIMER

    Sumber daya batubara Indonesia sebesar 120 miliar ton dan cadangan 28 miliar ton menjadi basis bagi RUPTL

    dalam merencanakan PLTU batubara, baik PLTU pantai yang menggunakan batubara pada harga pasar, mau-

    pun PLTU mulut tambang yang menggunakan batubara berkalori sangat rendah pada harga cost plus margin.

    Untuk gas alam, walaupun Indonesia mempunyai cadangan yang cukup besar, yaitu 165 TSCF, pada kenyataan-

    nya tidak tersedia gas yang cukup untuk pembangkitan tenaga listrik. Bahkan pasokan gas ke pembangkit PLN

    yang eksisting-pun telah dan akan mengalami penurunan hingga diperkirakan akan defisit jika tidak mendapat

    pasokan baru. Pada tahun 2012 telah dimulai pasokan LNG ex-Bontang via FSRU Jakarta untuk mengope-

    rasikan pembangkit di Teluk Jakarta selama periode beban puncak. Harga gas dalam bentuk LNG relatif tinggi,

    sehingga secara ekonomi LNG hanya layak digunakan pada pembangkit beban puncak. Pada situasi pasokan

    gas seperti ini, RUPTL hanya dapat merencanakan 2 blok PLTGU klas 800 MW dengan harapan 1 blok akan

    mendapat pasokan gas dari lapangan Cepu, dan 1 blok lagi dengan pasokan gas yang belum diketahui sum-bernya. LNG untuk pembangkitan tenaga listrik juga akan dikembangkan di Arun yang akan memasok pem-

    bangkit beban puncak di Arun dan Pangkalan Brandan serta pembangkit eksisting di Belawan.

    Masih mengenai pemanfaatan gas, RUPTL merencanakan beberapa pembangkit beban puncak yang akan

    beroperasi dengan mini LNG atau CNG di kawasan Indonesia Timur. Dengan telah direncanakannya PLTU batu-

    bara, maka kebutuhan pembangkit beban dasar (base load) akan dipenuhi dari PLTU, sedangkan sumber gas

    sedapat mungkin digunakan untuk pembangkit beban puncak (peaker) untuk menghindari pemakaian minyak.

    Energi terbarukan terutama yang skala besar, yaitu panas bumi dan tenaga hidro, telah direncanakan dalam

    RUPTL dalam jumlah banyak.

    KEBIJAKAN DAN KRITERIA PERENCANAAN SISTEM KELISTRIKAN

    Sistem Interkoneksi

    Perencanaan sistem pembangkit dilakukan dengan optimisasi keekonomian, bertujuan untuk mendapatkan

    konfigurasi pengembangan pembangkit yang memberikan nilai NPV total biaya penyediaan listrik yang te-

    rendah (least cost), dengan tetap memenuhi kriteria keandalan tertentu. Konfigurasi yang termurah diperoleh

    melalui proses optimasi suatu objective functionyang mencakup biaya kapital, biaya bahan bakar, biaya ope-

    rasi dan pemeliharaan dan biaya energy not served. Simulasi dan optimisasi dilakukan dengan menggunakan

    model yang disebut WASP (Wien Automatic System Planning).

    Kriteria keanda