simulasi pajak ekspor kelapa, kakao, jambu mete dan tarif...

of 15 /15
Simulasi Pajak Ekspor Kelapa, Kakao, Jambu Mete dan Tarif Impor Terigu 1. Kelapa Luas areal, produksi dan produktivitas kelapa Indonesia dalam dua tahun terakhir cenderung stabil. Jumlah kelapa yang terserap pasar ekspor mencapai sekitar 30 persen dari produksi pada tahun 2009. Meskipun demikian Indonesia juga mengimpor kelapa. Tabel 1. Produksi, luas areal dan produktivitas kelapa (2009-2010) Keterangan 2009 2010 Luas areal (000 ha) 3.807,65 3.810,65 Produksi (000 ton) 3.247,38 3.263,46 Produktivitas (kg/ha) 853 865 Volume ekspor (000 ton) 957,52 - Volume impor (000 ton) 3,87 - % Ekspor terhadap produksi 29,49 Sentra Produksi (berdasarkan urutan tingkat produksi), 2009 Riau, Sulawesi Utara, Sulawesi tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi Pada tahun 2009 ekspor kelapa mencapai satu juta ton dengan nilai sebesar US$ 490 juta. Berdasarkan data volume ekspor 2009, diketahui bahwa ekspor kelapa didominasi oleh minyak kelapa mentah dengan persentase mencapai 42 persen dari total ekspor kelapa. Produk kelapa berikutnya yang mendominasi ekspor adalah bungkil kelapa, mencapai 21 persen. Di posisi ketiga adalah minyak kelapa yang dimurnikan dengan persentase 13 persen. Pada posisi keempat dengan persentase sebesar 10 persen dari total volume ekspor kelapa adalah kelapa segar utuh. Produk kelapa yang lain pangsa ekspornya di bawah 5 persen dari total volume, antara lain adalah kelapa parut, serat kelapa dan batok kelapa. Tabel 2. Ekspor Kelapa, 2009 Uraian produk Kode HS Volume (Kg) Persentase (%) Nilai (US$) Persentase (%) Kelapa 957.516.864 100% 489.885.004 100% Minyak Kelapa Mentah 1513110000 400.934.430 41,9% 270.828.013 55,3% Bungkil dari kelapa atau kopra 2306500000 197.365.763 20,6% 23.239.630 4,7% Minyak Kelapa yang dimurnikan 1513192000 131.902.410 13,8% 101.026.867 20,6% Kelapa segar, utuh 0801190000 99.798.344 10,4% 32.122.186 6,6%

Author: hoangdien

Post on 01-Jul-2019

218 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Simulasi Pajak Ekspor Kelapa, Kakao, Jambu Mete dan Tarif Impor Terigu

    1. Kelapa

    Luas areal, produksi dan produktivitas kelapa Indonesia dalam dua tahun terakhir cenderungstabil. Jumlah kelapa yang terserap pasar ekspor mencapai sekitar 30 persen dari produksi padatahun 2009. Meskipun demikian Indonesia juga mengimpor kelapa.

    Tabel 1. Produksi, luas areal dan produktivitas kelapa (2009-2010)

    Keterangan 2009 2010Luas areal (000 ha) 3.807,65 3.810,65Produksi (000 ton) 3.247,38 3.263,46Produktivitas (kg/ha) 853 865Volume ekspor (000 ton) 957,52 -Volume impor (000 ton) 3,87 -% Ekspor terhadap produksi 29,49Sentra Produksi (berdasarkan urutantingkat produksi), 2009

    Riau, Sulawesi Utara, Sulawesi tengah, JawaTimur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi

    Pada tahun 2009 ekspor kelapa mencapai satu juta ton dengan nilai sebesar US$ 490 juta.Berdasarkan data volume ekspor 2009, diketahui bahwa ekspor kelapa didominasi oleh minyakkelapa mentah dengan persentase mencapai 42 persen dari total ekspor kelapa. Produk kelapaberikutnya yang mendominasi ekspor adalah bungkil kelapa, mencapai 21 persen. Di posisi ketigaadalah minyak kelapa yang dimurnikan dengan persentase 13 persen. Pada posisi keempat denganpersentase sebesar 10 persen dari total volume ekspor kelapa adalah kelapa segar utuh.

    Produk kelapa yang lain pangsa ekspornya di bawah 5 persen dari total volume, antara lainadalah kelapa parut, serat kelapa dan batok kelapa.

    Tabel 2. Ekspor Kelapa, 2009

    Uraian produk Kode HS Volume (Kg) Persentase(%) Nilai (US$)Persentase

    (%)Kelapa 957.516.864 100% 489.885.004 100%Minyak KelapaMentah 1513110000 400.934.430 41,9% 270.828.013 55,3%Bungkil dari kelapaatau kopra 2306500000 197.365.763 20,6% 23.239.630 4,7%Minyak Kelapa yangdimurnikan 1513192000 131.902.410 13,8% 101.026.867 20,6%Kelapa segar, utuh 0801190000 99.798.344 10,4% 32.122.186 6,6%

  • 2

    Kelapa diparut dandikeringkan 0801110000 46.145.206 4,8% 37.106.922 7,6%Kopra 1203000000 38.400.671 4,0% 7.685.948 1,6%Serat kelapa, lain-lain 5305000019 14.130.565 1,5% 3.016.378 0,6%Serat kelapa, mentah 5305000011 12.613.251 1,3% 2.512.344 0,5%Minyak kelapa, lain-lain: 1513199000 11.267.148 1,2% 8.612.005 1,8%Fraksi dari minyakkelapa tidakdimurnikan 1513191000 4.412.214 0,5% 3.336.360 0,7%Batok kelapa 1404200000 546.862 0,1% 398.351 0,1%

    Indonesia juga mengimpor kelapa beserta produknya. Meskipun volume dan nilainya relatifkecil atau sebesar 0,5 persen dari total ekspor kelapa itu sendiri. Produk yang banyak diimpor adalahkelapa segar utuh, dengan persentase 85 persen dari total volume impor. Namun jumlah kelapasegar utuh yang diimpor hanya berkisar 3 5 persen dari volume ekspor. Produk kelapa impor yanglain adalah yang lain kelapa parut, kopra dan minyak kelapa.

    Tabel 3. Impor Kelapa, 2009

    Uraian produk Kode HS Volume(Kg)Persentase

    (%) Nilai (US$)Persentase

    (%)Kelapa 3.866.806 100% 2.296.454 100%Kelapa segar, utuh 0801190000 3.303.513 85,4% 1.767.658 77,0%Kelapa diparut dandikeringkan 0801110000 244.242 6,3% 357.562 15,6%Minyak kelapa, lain-lain: 1513199000 177.586 4,6% 112.307 4,9%Kopra 1203000000 54.740 1,4% 11.012 0,5%Minyak Kelapa Mentah 1513110000 53.229 1,4% 29.392 1,3%Bungkil dari kelapa ataukopra 2306500000 18.000 0,5% 564 0,0%Serat kelapa, mentah 5305000011 14.199 0,4% 9.551 0,4%Fraksi dari minyakkelapa tidak dimurnikan 1513191000 760 0,0% 2.984 0,1%Minyak kelapa yangdimurnikan 1513192000 390 0,0% 2.664 0,1%Batok, kelapa 1404200000 147 0,0% 2.760 0,1%Serat kelapa, lain-lain 5305000019 0 0,0% 0 0,0%

    Harga kopra di pasar domestik di tingkat petani sebelum 2008 berkisar Rp 1.500 Rp. 2.300per kilogram. Pada tahun 2008 terjadi lonjakan harga kopra di dalam negeri dan mencapai 200persen, menjadi sebesar Rp 5.125 per kilogram. Harga kopra domestik di tingkat perdagangan besar

  • 3

    cenderung fluktuatif selama periode 2004 2009, tetapi tidak setajam fluktuasi harga di tingkatpetani. Kecenderungan harga kopra di tingkat petani dalam pasar domestik sejalan denganperkembangan harga di pasar internasional dalam periode yang sama. Hal ini berkebalikan denganperkembangan harga minyak kelapa di pasar dunia yang justru menurun tajam pada tahun 2008bahkan hanya tinggal US$ 14,5 per metric ton dari semula di atas US$ 500 per metric ton (2006).

    Tabel 4. Perkembangan Harga Kelapa, 2001-2009

    Komoditi Unit 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009Domestik- Kopra, di tingkat

    petaniRp/Kg 1.575 1.663 1.810 1.959 2.289 1.963 1.994 5.125 -

    - Kopra, di tingkatpedagang besar

    Rp/Kg - - - 3.163 2.800 2.733 4.033 5.780 3.712

    Dunia- Minyak kelapa US$/mt - - - 661 617 585 - 14,5 15,2- Kopra US$/mt 201 266 300 450 414 389 - 1.243 1.558

    Hasil simulasi penerapan pajak ekspor optimum sebesar 6.12%, dimana petani kelapa diperkirakanmendapat keuntungan sekitar 25% (sebagai nilai yang layak) adalah sebagai berikut :1. Harga Perdagangan Besar akan turun sebesar 12,19% (Rp. 704.88) dari semula Rp. 5780

    menjadi Rp. 5072.12.2. Hal yang sama juga terjadi untuk harga produsen dimana harga produsen mengalami penurunan

    dari semula Rp. 5125 menjadi Rp. 45003. Penerapan pajak ekspor sebesar (6.12%) selanjutnya berdampak pada permintaan kelapa yang

    cenderung meningkat akibat diberlakukannya pajak ekspor. Tingkat peningkatan permintaanmencapai sebesar 15,9% atau dari 503.6 ribu ton menjadi 583.78 ribu ton

    4. Hal sebaliknya terjadi pada sisi penawaran dimana jumlah penawaran atau ketersediaan dalamnegeri akan turun sedikit yaitu 0,42% atau dari 1461.2 ribu ton menjadi 1454.98 ribu ton.

    5. Penerapan pajak ekspor cenderung akan membuat para ekporter menurunkan volumenya yangselanjutnya akan mengakibatkan volume ekspor turun sebesar 86.32 ribu ton dari 957.5 ribu tonmenjadi 871,2 ribu ton.

    6. Efek selanjutnya adalah peningkatan surplus konsumen dalam arti konsumen mendapatkandampak positif dari penerapan pajak ekspor kelapa sebesar 6,12% tersebut. Surplus konsumennaik sebesar Rp 383.25 milyar

  • 4

    7. Sebaliknya, produsen kelapa akan mengalami dampak negatif dari penerapan pajak eksporkelapa tersebut dimana produsen menghadapi penurunan surplus sebesar Rp. 1.03 trilliun.

    8. Penerimaan pemerintah akibat adanya pajak ekspor adalah sebesar Rp. 614.09 milyar.9. Secara keseluruhan dampak penerapan pajak ekspor kelapa terhadap perekonomian atau

    menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat sebesar Rp. 34.76 milyar.

    Asumsi yang digunakan pada simulasi pajak ekspor kelapa dapat dilihat pada Tabel 5. Hasilanalisis dampak penerapan pajak ekspor optimum) terhadap keseimbangan di pasar domestik danperubahan tingkat kesejahteraan konsumen, produsen dan penerimaan pemerintah dapat dilihatpada Tabel 6.

    Tabel 5. Asumsi Yang digunakan dalam simulasi pajak Ekspor kelapa

    Uraian % NilaiHarga dunia (FOB) ($/ton) PW 1243.0Harga border (fob,Indonesia) (US$/ton) CIF 1265.0Nilai tukar (Rp/US$) ER 9100.0Harga Border (fob,Indonesia) (Rp/kg) PCIF 11511.5Harga ekspor pd t0(Rp/kg) PR 14331.8Harga retail aktual pada t0(Rp/kg)2006 PRA 5780.0Harga produsen pada t0 (Rp/kg) PP0 5125.0Produksi (000ton) Qs0 1461.2ekspor (000ton) Qm0 957.5Permintaan (000ton) Qdo 503.6Elastisitas permintaan Ed -1.3050Elastisitas penawaran Es 0.0346Elastisitas Transmisi harga dari retail ke petani Ep 1.0000

  • 5

    Tabel 6. Dampak Penerapan Pajak Ekspor Kelapa

    Uraian Label NilaiPajak Ekspor (%) dT 6.12Perubahan harga retail (Rp/kg) dPR 704.87harga retail pada t1 (Rp/kg) PR1 5075.12% perubahan harga retail (%) %dPR -12.19%Perubahan harga produsen (%) %dPF -12.19Perubahan harga produsen (Rp/kg) dPF -625Harga produsen pada t1(Rp/kg) PF1 4500Efek terhadap permintaan (%) %dQd 15.91463Perubahan jumlah permintaan (000ton) dQd 80.15087Permintaan pada t1(000ton) Qd1 583.7809Efek terhadap penawaran (%) %dQs -0.42195Perubahan jumlah penawaran (000ton) dQSp -6.16534Penawaran pada t1(000ton) QSp1 1454.98Jumlah ekspor pada t1(000ton) Qm1 871.2038Efek terhadap jumlah ekspor (000ton) dQm -86.3162Efek terhadap surplus konsumen (juta Rp) dCS 383246Efek terhadap surplus produsen (juta Rp) dPS -1032105Efek terhadap penerimaan pemerintah(juta Rp) dGR 614092Efek terhadap surplus bersih (juta Rp) dNS -34767

  • 6

    2. Jambu Mete

    Luas areal, produksi dan produktivitas jambu mete dalam lima tahun terakhir mengalamipeningkatan dalam jumlah kecil. Produksi pada tahun 2009 sebesar 155 ribu ton dan 49 persennyadiekspor. Produktivitas jambu mete pada tahun 2009 menurun dibandingkan dengan tahun 2008.

    Tabel 7. Produksi, luas areal dan produktivitas jambu mete, 2005-2009

    Keterangan 2005 2006 2007 2008 2009Luas areal (000 ha) 572,9 569,9 570,2 572,7 593,7Produksi (000 ton) 134,8 149,0 146,0 156,4 155,3Produktivitas (kg/ha) 23.53 26.14 25.61 27.31 26.16Volume ekspor (000 ton) - - - - 76,42Volume impor (000 ton) - - - - 2,72% Ekspor terhadapproduksi -

    - - -49,21

    Sentra Produksi(berdasarkan urutantingkat produksi)

    Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur,Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur

    Pada tahun 2009, ekspor dan impor jambu mete Indonesia didominasi kacang mete berkulitdengan ekspor sebesar 76,42 ribu ton dan impor sebesar 2,72 ribu ton atau sebesar 3,6 persen darivolume ekspor. Dari sisi nilai, ekspor masih didominasi kacang mete berkulit (77,3 persen),sedangkan dari sisi impor kacang mete dikuliti lebih dominan, yaitu sebesar 53,1 persen dari totalnilai impor jambu mete.

    Tabel 8. Ekspor Jambu Mete, 2009

    Uraian produk Kode HS Volume (Kg) Persentase(%) Nilai (US$)Persentase

    (%)Jambu Mete 76.415.693 100% 89.207.548 100%Kacang meteberkulit 0801310000 68.006.454 89,0% 68.941.678 77,3%Kacang metedikuliti 0801320000 8.409.239 11,0% 20.265.870 22,7%

  • 7

    Tabel 9. Impor Jambu Mete, 2009

    Uraian produk Kode HS Volume (Kg) Persentase(%) Nilai (US$)Persentase

    (%)

    Jambu Mete 2.723.758 100% 3.997.415 100%Kacang meteberkulit 0801310000 2.247.478 82,5% 1.876.315 46,9%Kacang metedikuliti 0801320000 476.280 17,5% 2.121.100 53,1%

    Hasil simulasi penerapan pajak ekspor optimum sebesar 30.8%, dimana petani jambu metediperkirakan mendapat keuntungan sekitar 25% (sebagai nilai yang layak) adalah sebagai berikut :

    1. Harga Konsumen akan turun sebesar 32,57% atau Rp. 15797 dari semula Rp. 48500 menjadiRp. 32702.9.

    2. Hal yang sama juga terjadi untuk harga produsen dimana harga produsen mengalami penurunandari semula Rp. 35000 menjadi Rp. 23600

    3. Penerapan pajak ekspor sebesar 30.8% selanjutnya berdampak pada permintaan jambu meteyang cenderung meningkat akibat diberlakukannya pajak ekspor. Tingkat peningkatanpermintaan mencapai sebesar 23,6% atau dari 78.9 ribu ton menjadi 97.5 ribu ton

    4. Hal sebaliknya terjadi pada sisi penawaran dimana jumlah penawaran atau ketersediaan dalamnegeri akan turun sedikit yaitu 0,9% atau dari 155.3 ribu ton menjadi 153.9 ribu ton.

    5. Penerapan pajak ekspor akan membuat para ekporter menurunkan volumenya yang selanjutnyaakan mengakibatkan volume ekspor turun sebesar 20.2 ribu ton dari 76.4 ribu ton menjadi 56,2ribu ton.

    6. Efek selanjutnya adalah peningkatan surplus konsumen dalam arti konsumen mendapatkandampak positif dari penerapan pajak ekspor jambu mete sebesar 30,8% tersebut. Surpluskonsumen naik sebesar Rp 1.39 triliun.

    7. Sebaliknya, produsen jambu mete akan mengalami dampak negatif dari penerapan pajakekspor jambu mete tersebut dimana produsen menghadapi penurunan surplus sebesar Rp. 2.46trilliun.

    8. Penerimaan pemerintah akibat adanya pajak ekspor adalah sebesar Rp. 891 milyar.9. Secara keseluruhan dampak penerapan pajak ekspor jambu mete akan menurunkan tingkat

    kesejahteraan masyarakat sebesar Rp. 179.34 milyar.

  • 8

    Asumsi yang digunakan pada simulasi pajak ekspor jambu mete dapat dilihat pada Tabel 10.Hasil analisis dampak penerapan pajak ekspor optimum) terhadap keseimbangan di pasar domestikdan perubahan tingkat kesejahteraan konsumen, produsen dan penerimaan pemerintah dapat dilihatpada Tabel 11.

    Tabel 10. Asumsi Yang digunakan dalam simulasi pajak Ekspor Jambu Mete

    Uraian Label NilaiHarga dunia (FOB) (US$/ton) PW 5600.0Harga border (fob,Indonesia) (US$/ton) CIF 5622.0Nilai tukar (Rp/US$) ER 9100.0Harga Border (fob,Indonesia) (Rp/kg) PCIF 51160.2Harga ekspor pd t0(Rp/kg) PR 63694.4Harga retail aktual pada t0(Rp/kg)2006 PRA 48500.0Harga produsen pada t0 (Rp/kg) PP0 35000.0Produksi (000ton) Qs0 155.3ekspor (000ton) Qm0 76.4Permintaan (000ton) Qdo 78.9Elastisitas permintaan Ed -0.7260Elastisitas penawaran Es 0.0267Elastisitas Transmisi harga dari retail ke petani Ep 1.0000

  • 9

    Tabel 11. Dampak Penerapan Pajak Ekspor Jambu Mete

    Uraian Label NilaiPajak Ekspor (%) dT 30.9Perubahan harga retail (Rp/kg) dPR -15797harga retail pada t1 (Rp/kg) PR1 32703% perubahan harga retail (%) %dPR -32.57%Perubahan harga produsen (%) %dPF -32.57Perubahan harga produsen (Rp/kg) dPF -11400Harga produsen pada t1(Rp/kg) PF1 23600Efek terhadap permintaan (%) %dQd 23.65Perubahan jumlah permintaan (000ton) dQd 18.65Permintaan pada t1(000ton) Qd1 97.54Efek terhadap penawaran (%) %dQs -0.87Perubahan jumlah penawaran (000ton) dQSp -1.35Penawaran pada t1(000ton) QSp1 153.95Jumlah ekspor pada t1(000ton) Qm1 56.41Efek terhadap jumlah ekspor (000ton) dQm -20.00Efek terhadap surplus konsumen (juta Rp) dCS 1393496Efek terhadap surplus produsen (juta Rp) dPS -2463964Efek terhadap penerimaan pemerintah(juta Rp) dGR 891126Efek terhadap surplus bersih (juta Rp) dNS -179341

  • 10

    3. Kakao

    Tujuan dari pengenaan BK kakao adalah mendorong industri hilir produk pertanian.Pembedaan antara produk hulu dan hilir ini diharapkan dapat memberi insentif bagi pengembanganindustri dalam negeri menganggu stabilitas harga di tingkat petani.

    Tabel 12. BK progresif biji kakao mengikuti harga referensi CIF New York

    Harga Biji Kakao(AS$/Ton)

    Bea Keluar(%)

    3.500 15

    Berdasarkan perkembangan gambar di atas, diketahui bahwa volume ekspor kakao danproduk kakao setelah 1 April sangat berfluktuasi. Sejak diberlakukan BK bahkan semua volumeekspor mengalami peningkatan tajam.

    Selama tahun 2008 volume ekspor coklat (HS 18.06) telah mendominasi volume eskporproduk kakao disusul bubuk kakao (HS 18.05), lemak kakao (HS 18.04), pasta kakao (HS 18.03),kulit kakao (HS 18.02) dan biji kakao (HS 18.01). Memasuki tahun 2009 perbedaan volume eksporantar produk kakao dalam semester pertama relatif kecil, namun dalam semester dua 2009perbedaan volume ekspor antar produk kakao relatif signifikan sebagaimana yang terjadi dalamtahun 2008.

    Di daerah sentra produksi, Kabupaten Luwu Utara, pada awal pemberlakuan BK biji kakaoharga biji kakao asalan di tingkat produsen dan pedagang pengumpul justru meningkat namunsecara umum pergerakan harga mengikuti kecenderungan yang terjadi selama tahun 2010, dimanaharga biji kakao asalan di daerah sentra produksi cenderung menurun baik di tingkat produsenmaupun pedagangan pengumpul. Secara kualitatif kecenderungan harga ini dapat mengindikasikantelah terjadi integrasi harga antara harga domestik (sentra produksi) dengan pasar dunia.

  • 11

    Perkembangan volume dan ekspor kakao, Januari 2008 Oktober 2010.

    Hasil simulasi penerapan pajak ekspor optimum sebesar 3.74%, dimana petani kakaodiperkirakan mendapat keuntungan sekitar 25% (sebagai nilai yang layak) adalah sebagai berikut :

    1. Harga Konsumen akan turun sebesar 11,66% atau Rp. 1650 dari semula Rp. 15136 menjadi Rp.13371.

    2. Hal yang sama juga terjadi untuk harga produsen dimana harga produsen mengalami penurunandari semula Rp. 14150 menjadi Rp. 12500

    3. Penerapan pajak ekspor sebesar 3.74% selanjutnya berdampak pada permintaan kakao yangcenderung meningkat akibat diberlakukannya pajak ekspor. Persentase peningkatan permintaanmencapai sebesar 10,91% atau dari 242.9 ribu ton menjadi 269.4 ribu ton

    4. Hal sebaliknya terjadi pada sisi penawaran dimana jumlah penawaran atau ketersediaan dalamnegeri akan turun sedikit yaitu 0,4% atau dari 758.4 ribu ton menjadi 755.35 ribu ton.

    5. Penerapan pajak ekspor akan membuat para ekporter menurunkan volumenya yang selanjutnyaakan mengakibatkan volume ekspor turun sebesar 29.56 ribu ton dari 515.5 ribu ton menjadi485,94 ribu ton.

    6. Efek selanjutnya adalah peningkatan surplus konsumen dalam arti konsumen mendapatkandampak positif dari penerapan pajak ekspor kakao sebesar 3,74% tersebut. Surplus konsumennaik sebesar Rp 452.11 miliun.

  • 12

    7. Sebaliknya, produsen kakao akan mengalami dampak negatif dari penerapan pajak eksporkakao tersebut dimana produsen menghadapi penurunan surplus sebesar Rp. 1.34 trilliun.

    8. Penerimaan pemerintah akibat adanya pajak ekspor adalah sebesar Rp. 857.67 milyar.9. Secara keseluruhan dampak penerapan pajak ekspor kakao akan menurunkan tingkat

    kesejahteraan masyarakat sebesar Rp. 31.48 milyar.

    Asumsi yang digunakan pada simulasi pajak ekspor kakao dapat dilihat pada Tabel 13. Hasilanalisis dampak penerapan pajak ekspor optimum) terhadap keseimbangan di pasar domestik danperubahan tingkat kesejahteraan konsumen, produsen dan penerimaan pemerintah dapat dilihatpada Tabel 14.

    Tabel 13. Asumsi Yang digunakan dalam simulasi pajak Ekspor KAkao

    Uraian Label NilaiHarga dunia (FOB) (US$/ton) PW 5161.4Harga border (fob,Indonesia) (US$/ton) CIF 5183.4Nilai tukar (Rp/US$) ER 9100.0Harga Border (fob,Indonesia) (Rp/kg) PCIF 47168.9Harga ekspor pd t0(Rp/kg) PR 58725.3Harga retail aktual pada t0(Rp/kg)2006 PRA 15136.0Harga produsen pada t0 (Rp/kg) PP0 14150.0Produksi (000ton) Qs0 758.4ekspor (000ton) Qm0 515.5Permintaan (000ton) Qdo 242.9Elastisitas permintaan Ed -0.9357Elastisitas penawaran Es 0.0346Elastisitas Transmisi harga dari retail ke petani Ep 1.0000

  • 13

    Tabel 14. Dampak Penerapan Pajak Ekspor Kakao

    Uraian Label NilaiPajak Ekspor (%) dT 3.74Perubahan harga retail (Rp/kg) dPR -1764.98harga retail pada t1 (Rp/kg) PR1 13371.02% perubahan harga retail (%) %dPR -11.66%Perubahan harga produsen (%) %dPF -11.66Perubahan harga produsen (Rp/kg) dPF -1650.00Harga produsen pada t1(Rp/kg) PF1 12500.00Efek terhadap permintaan (%) %dQd 10.91Perubahan jumlah permintaan (000ton) dQd 26.50Permintaan pada t1(000ton) Qd1 269.41Efek terhadap penawaran (%) %dQs -0.40Perubahan jumlah penawaran (000ton) dQSp -3.06Penawaran pada t1(000ton) QSp1 755.35Jumlah ekspor pada t1(000ton) Qm1 485.94Efek terhadap jumlah ekspor (000ton) dQm -29.56Efek terhadap surplus konsumen (juta Rp) dCS 452119Efek terhadap surplus produsen (juta Rp) dPS -1341274Efek terhadap penerimaan pemerintah(juta Rp) dGR 857667Efek terhadap surplus bersih (juta Rp) dNS -31488

  • 14

    4. Tepung Terigu

    Untuk mendorong permintaan produk tepung di pasar dometik (substitusi tepung terigu)maka gandum impor selayaknya dikenai tariff sekitar 18% atau sekitar Rp 1500 per kilogram. Tingkattariff ini akan memungkinkan pengolahan tepung non terigu mendapatkan keuntungan sekitar 25%.

    Hasil simulasi penerapan tariff impor optimum tepung terigu (18.8%) agar memacupeningkatan penggunaan tepung Cassava (substitusi tepung terigu). Penerapan tarif ini diharapkanprodusen tepung cassava mendapat keuntungan sekitar 25%. Hal ini diduga akan mengakibatkanhal berikut:1. Harga Konsumen akan naik sebesar 25% (Rp. 1500) dari semula Rp. 6.000 menjadi Rp. 7500.2. Hal yang sama juga terjadi untuk harga produsen tepung cassava mengalami peningkatan dari

    semula Rp. 4.000 menjadi Rp. 5.000.3. Perubahan tarif selanjutnya berdampak pada permintaan tepung terigu yang cenderung

    menurun akibat penerapan tarif. Tingkat penurunan permintaan adalah sebesar 22% yaitu dari58,6 ribu ton menjadi 45.8 ribu ton

    4. Hal sebaliknya terjadi pada sisi penawaran dimana jumlah penawaran atau ketersediaan dalamnegeri akan naik sebesar 6,2% dari 9 ribu ton menjadi 9.6 ribu ton.

    5. Penerapan tariff impor akan membuat para importer menurunkan volume impornya yangselanjutnya akan mengakibatkan jumlah impor turun dari sebesar 49,6 ribu ton menjadi 36,2 ributon.

    6. Efek selanjutnya dari ketiga poin diatas adalah adanya penurunan surplus konsumen dalam artikonsumen (dalam hal ini konsumen tepung terigu) mendapatkan dampak negatif dari naiknyatarif impor tepung terigu sebesar Rp 78.29 milyar

    7. Sebaliknya, produsen tepung cassava diharapkan dapat menikmati kenaikan tariff impor tepungterigu tersebut dimana produsen mendapatkan kenaikan surplus sebesar Rp. 9.2 milyar.

    8. Penerimaan pemerintah akibat penerapan tarif adalah sebesar Rp. 52.29 milyar.9. Secara keseluruhan dampak penerapan tarif impor tepung terigu adalah menurunnya tingkat

    kesejahteraan masyarakat sebesar Rp.14.72 milyar.

    Asumsi yang digunakan untuk simulasi disajikan pada Tabel 15. Hasil analisis dampakpeningkatan tarif impor (penerapan tarif optimum) terhadap keseimbangan di pasar domestik danperubahan tingkat kesejahteraan konsumen, produsen dan penerimaan pemerintah dapat dilihatpada Tabel 16.

  • 15

    Tabel 15. Asumsi Yang digunakan dalam simulasi pajak impor tepung terigu

    Uraian Label NilaiHarga dunia FOB(US$/ton)2009 PW 844.7Nilai tukar (Rp/US$) ER 9000.0Harga Border (US$/ton) CIF 884.7Harga paritas impor Border (Rp/kg) PCIF 7962.0Harga paritas konsumen impor pada t0(Rp/kg) Pw0 9912.7Harga konsumen aktual (Rp/kg)2009 Pwa0 6000.0Harga produsen pada t0 (Rp/kg)2009 PP0 4000.0Produksi (000ton) 2008 Qs0 9.0Impor (000ton)2008 Qmo 49.6Permintaan (000ton) Qd0 58.6Elastisitas permintaan Ed -0.879Elastisitas penawaran Es 0.248Elastisitas Transmisi harga konsumen ke produsen Ep 1.000

    Tabel 16. Dampak Penerapan Impor Tarif Tepung Terigu

    Perubahan tarif (%) dT 18.8Perubahan harga konsumen (Rp/kg) dPw 1500.0harga konsumen pada t1 (Rp/kg) Pw1 7500.0% perubahan harga konsumen (%) %dPw 25.0%Perubahan harga produsen (%) %dPP 25.0Perubahan harga produsen (Rp/kg) dPP 1000.0Harga produsen pada t1(Rp/kg) PP1 5000.0Efek terhadap permintaan (%) %dQd -22.0Perubahan jumlah permintaan (000ton) dQd -12.9Permintaan pada t1(000ton) Qd1 45.8Efek terhadap penawaran (%) %dQs 6.2Perubahan jumlah penawaran (000ton) dQs 0.6Penawaran pada t1(000ton) QS1 9.6Jumlah impor pada t1(000ton) Qm1 36.2Efek terhadap jumlah impor (000ton) dQm -13.4Efek terhadap surplus konsumen (juta Rp) dCS -78290.2Efek terhadap surplus produsen (juta Rp) dPS 9279.2Efek terhadap penerimaan pemerintah(juta Rp) dGR 54294.7Efek terhadap surplus bersih (juta Rp) dNS -14716.2