stimulasi listrik

Download STIMULASI LISTRIK

Post on 25-Jul-2015

506 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

FRANSISKUS X.MEKU

TRANSCRIPT

MAKALAH ALAT TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION (TENS) DALAM MEMODULASI NYERI

OLEH FRANSISKUS XAVERIUS MEKU NIM 201001013

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KATOLIK ST. VINCENTIUS A PAULO SURABAYA 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul MENGENAL STIMULATION TRANSCUTANEUS (TENS) DALAM ELECTRICAL NERVE dapat

MEMODULASI

NYERI

terselesaikan tepat pada waktunya. . makalah ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh beasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius A Paulo Surabaya. Bersama ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Sr. Reinalda Sri Winarni SSpS, MN, selaku Ketua STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya yang telah memberikan kesempatan mendapatkan beasiswa ini kepada penulis. 2. Ibu marsel.......... selaku yang mengajukan saya untuk beasiswa ini 3. Teman-teman yang memberikan motivasi dan semangat kebersamaan dalam penyelesaian makalah ini ini. 4. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang dengan caranya masing-masing telah memberikan bantuan selama penyusunan proposal ini. Semoga Tuhan membalas budi semua pihak yang telah memberi kesempatan dan dukungan dalam penyelesaian proposal ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Surabaya, April Juli 2012 Penulis

1

PENDAHULUAN

Keluhan nyeri merupakan salah satu merupakan salah satu keluhan medis yang bisa dirasakan dari bayi sampai menjelang ajal. Keluhan nyeri dapat yang dirasakan dapat berasal dari berbagai bagian tubuh mengingat hampir seluruh tubuh mendapat persarafan penerimadan pembawa angsangan nyeri (rangsangan nonsiseptif). Sensasi nyeri dapat berfariasi dari ringgan sehingga tidak mengganggu aktivitas fungsional sampai yang berat sehingga tidak mampu melaksanakan berbagai aktifitas fungsionalnya. Nyeri yang menetap merupakan keluhan yang mendorong seseorang untuk mencari pertolongan pada berbagai pihak termaksud layanan kesehatan. Untuk mengukur skala atau intensitas nyeri banyak sekali skala atau instruman yang digunakan baik ditunjukan semata- mata terhadap keluhan nyeri seperti skala VAS, VDS, skala 5 tingkat, dll. Dalam dunia kesehatan juga cara memodulasi nyeri dapat dulakukan dengan berbagai cara antara lain terapi manipulasi, laser, stimulasi listrik maupun edukasi. Terapi listrik merupakan jenis terapi yang palig digemasi dewasa ini antara lain menggunakan TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation). Dalam makalah ini banyak dibahas tentang penggunaan tens dalam memodulasi nyeri tersebut.

2

PEMBAHASAN

TENS (Transcutaneus Elctrical Nerve Stimulation) merupakan suatu cara penggunaan listrik untuk merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit.

MEKAKANISME TENS (Johnson M, 2002) 1. Mekanisme Periferal Stimulasi listrik yang diaplikasinkan pada serabut saraf akan menghasilkan impuls saraf yang berjalan dengan dua arah disepanjang akson saraf yang bersangkutan, peristiwa ini dikenal sebagai aktivasi antidromik. Impuls saraf yang dihasilkan oleh tens yang berjalan menjauh dari arah sistem saraf pusat akan menabrak dan menghilangkan atau menurunkan impuls aferen yang datang dari jaringan rusak. Pada keadaan jaringan rusak atuvasi bisa terjadi pada serabut saraf berdiameter besar dan TENS tipe konvensional juga akan mengaktivasi serabut saraf yang berdiameter besar yang mengahasilkan impuls antidromik yang berdampak analgesia. Kontribusi blokade periferal untuk menghasilkan efek analgesia lebih besar dihasilkan oleh intense TENS. Perjalanan impuls pada serabut a delta

3

yang dihasilkan oleh InTens akan menabrak impuls nosiseptif yang berjalan di A delta yang sama. Penelitian Levin dan Hui Chan (1993) menunjukan bahwa subyek sehat manusia tidak terlalu toleran terhadap aktifasi langsung aferen A delta oleh TENS dan untuk itu mereka menganjurkan agar InTENS hanya diberikan dalam waktu yang singkat sewaktu digunakan pada praktek klinik. Adanya impuls antidromik juga mengakibatkan terlepasnya materi P dari neuron sensoris yang berujung terjadinya fasodilatasi arteriole dan ini merupakan dasar bagi proses triple responses. Adanya triple responses dan penekanan aktivasi simpatis akan meningkatkan aliran darah sehingga pengangkutan meteri yang berpengaruh terhadap nyeri seperti bradikinin, histamin ataau materi P juga akan meningkat (Gersh RM, 1992). 2. Mekanisme Segmental TENS konvensional menghasilkan efek analgesia terutama melalui mekanisme segmental yaitu dengan jalam mengaktivasi serabut A beta yang selanjutnya akan menginhibisi neuron nosiseptif di kornu dorsalis medula spinalis (gate . Ini mengacu pada teori gerbang kontrol (gate control theory) yang dikemukan oleh Melzack dan Wall (1965) yang menyatakan bahwa gerbang terdiri dari sel internunsial yang bersifat inhibisi yang dikenal sebagai substansia gelatinosa dan yang terletak di kornu posterior dan sel T yang merelai informasi dari pusat yang lebih tinggi. Tingkat aktifitas sel T ditentukan oleh keseimbangan asupan dari serabut berdiameter besar A beta dan A alfa serta serabut bediameter kecil A delta dan serabut C. Asupan dari serabut saraf berdiameter kecil akan mengaktivasi sel T yang kemudian dirasakan sebagai keluhan nyeri. Jika serabut berdiameter teraktifasi, hal ini

4

juga akan mengaktifkan sel T namun pada saat yang bersamaan impuls tersebut juga dapat memicu sel SG yang berdampak pada penurunan asupan pada sel T baik yang berasal dari serabut berdiameter besar maupun kecil dengan kata lain asupan impuls dari serabut berdiameter besar akan menutup gerbang dan akan membloking transmisi impuls dari serabut aferen nosiseptor sehingga nyeri berkurang atau menghilang. 3. Mekanisme Ekstrasegmental TENS yang menginduksi aktifitas aferen yang berdiameter kecil juga menghasilkan analgesia tingkat ekstrasegmental melalui aktivasi struktur yang membentuk jalanan inhibisi desenderen seperti Periaqueductal Grey Antinosiseptisi, nucleous raphe magnus dan nucleous raphe

gigantocelluraris. Antinosisepsi yang dihasilkan oleh stimulasi A delta pada hewan percobaaan mengalami penurunan saat dilakukan transeksi spinal, hal ini menunjukkan adanya peran struktur ekstrasegmental ( Chung dkk, 1984, Woolf, Mitchel dan Barrett, 1980). Kontraksi otot fasik yang dihasilkan oleh AL-TENS akan membangkitkan aktivitas aferen motorik kecil (ergoreseptor) yang berujung pada aktivasi jalanan inhibisi nyeri desenderen. Sjolund, Terenius dan Eriksson (1977) melaporkan bahwa ALTENS meningkatkan level endorfin pada cairan serebrospinal pada 9 pasien yang menderita nyeri kronik dan analgesia yang terjadi dapat diturunkan dengan pemberian nalokson (Sjolund dan Erikkson, 1979). Namun ternyata nalokson gagal mengubah kualitas analgesia pada pasien nyeri yang diberi TENS konvensional (Abram, Reyolds, dan Cusick 1981, Harisson dkk, 1986, Woolf dkk, 1978).

5

PRINSIP-PRINSIP STIMULASI ELEKTRIS PENGURANG NYERI Di rumah sakit banyak dijumpai peralatan maupun metode stimulasi elektris guna mengatasi nyeri. Secara umum prinsip dasarnya adalah sama dan yang berbeda hanyalah pada parameter dan metode aplikasi. 1. Indikasi stimulasi elektris (Rennie, 1991) 1) Trauma musculoskeletal baik akut maupun kronik. 2) Nyeri kepala 3) Nyeri pasca operasi 4) Nyeri pasca melahirkan 5) Nyeri miofasial 6) Nyeri visceral 7) Nyeri yang berhubungan dengan sindroma deprivasi sensorik, seperti neuralgia, kausalgia, nyeri phantom 8) Sindroma kompresi nerovaskuler Sedangkan Johnson Mark (2001) mengemukakan tentang penggunaan TENS dalam berbagai kondisi yaitu: 1) Pada kondisi akut Nyeri pasca operasi Nyeri sewaktu melahirkan Dismenorrhea Nyeri muskuloskeletal Nyeri akibat patah tulang

6

2) Nyeri yang berhubungan dengan penanganan kasus gigi. 3) Pada kondisi kronik Nyeri bawah punggung Artritis Nyeri puntung dan nyeri phantom Neuralgia pasca herpetik Neuralgia trigeminal 4) Injuri saraf tepi 5) Angina pektoris 6) Nyeri fascial 7) Nyeri tulang akibat proses metastase 2. Kontraindikasi stimulasi listrik ( Rennie S, 1988, Johnson M, 2001) Arus TENS, interferensi dan diadinamik tidak direkomendasikan pada kondisi sebagai berikut: 1) Penyakit vaskuler (arteri maupun vena) 2) Adanya kecenderungan perdarahan (pada area yang diterapi) 3) Keganasan (pada area yang diterapi) 4) Pasien menggunakan alat pacu jantung 5) Kehamilan (bila terapi diberikan pada area abdomen atau panggul) 6) Luka terbuka yang sangat lebar 7) Kondisi infeksi 8) Pasien yang mengalami hambatan komunikasi (terlalu tua, ganguan bicara, konfusi mental). 9) Kondisi dermatologi (pada area yang diterapi)

7

10)

Hilangnya sensasi sentuh dan tusuk (pada area yang diterapi)

Peralatan yang umum digunakan untuk memberi stimulasi elektris dalam hubungannya dengan pengurangan nyeri 1) TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation)

Secara umum karakteristik keluaran arus dari TENS standar adalah sebagai berikut: Spesifikasi (Johnson M, 2001) konvensional (a) (b) (c) (d) Target arus: mengaktivasi saraf diameter besar Serabut yang teraktivasi: A beta, mekanoreseptor Sensasi yang timbul: paraestesia yang kuat sedikit kontraksi Karakteristik fisika: frekuensi tinggi, intensitas rendah pola kontinyu Durasi = 100-200 mikrodetik Frekuensi = 10-200 pps (e) (f) Posisi elektrode: pada titik nyeri dermatom Profil analgetik: terasa < 30 menit setelah dinyalakan dan menghilang < 30 menit setelah alat dipadamkan (g) (h) 2) (a) Durasi terapi: secara terus-menerus saat nyeri terjadi Mekanisme analgetik: tingkat segmental AL-TENS (Acupunc