stroke pada lansia

Download Stroke Pada Lansia

Post on 04-Jul-2015

2.221 views

Category:

Documents

19 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejalagejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu. Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dan kanker. Bahkan, menurut survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di tempat tidur. Stroke merupakan suatu kondisi yang mempengaruhi jutaan orang Amerika bahkan dunia dan dapat mengakibatkan keterbatasan fungsional kronis secara signifikan dan terjadi penurunan kualitas hidup. Perawat harus terus memantau tren dalam penelitian berkaitan dengan perawatan stroke dan dampak lain dari penyakit tersebut serta mendidik pasien dan keluarga tentang proses pemulihan.

B. Tujuan 1. Mengetahui Evidence Based Nursing pada penyakit stroke khususnya dalam manajemen BAK sehingga dapat diterapkan dalam menerapkan asuhan

keperawatan serta meningkatkan kualitas hidup pasien. 2. Mengetahui penyebab terjadinya penyakit stroke serta cara penanganannya.

C. Manfaat 1. Bagi Perawat a. Menambah pengetahuan tentang stroke khususnya penanganan BAK pasien stroke yang juga terdapat inkontinensia urin berdasarkan Evidence Based Nursing. 1

b. Dapat memberikan intervensi pada klien dengan penyakit stroke pada lansia. c. Dapat mengetahui prosedur dalam melakukan intervensi pada klien dengan stroke. 2. Bagi Masyarakat Dapat menambah pengetahuan tentang stroke pada lansia. 3. Bagi Klien dan Keluarga Dapat tanggap terhadap gejala-gejala atau faktor resiko dari penyakit stroke.

2

BAB II LITERATUR REVIEW

A. Lansia a. Definisi Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat. Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

b. Perubahan pada Lansia Banyak kondisi dan penyakit yang berkaitan dengan sistem kardiovaskular yang umum di kalangan lansia. Stroke merupakan salah satu penyakit kardiovaskular pada lansia selain infark miokard, hipertensi, angina pektoris, gagal jantung kongestif, penyakit jantung koroner, dan penyakit pada pembuluh darah perifer.

Adapun perubahan yang terjadi pada lansia adalah sebagai berikut: 1. Integumen Warna Kulit Pigmentasi berbintik/bernoda di area yang terpajan sinar matahari, pucat walaupun tidak ada anemia

3

Kelembaban Suhu Tekstur Distribusi lemak

Kering, kondisi bersisik Ekstremitas lebih dingin, penurunan perspirasi Penurunan elastisitas, kerutan, kondisi berlipat dan kendur Penurunan jumlah lemak pada ekstremitas, peningkatan jumlahnya pada abdomen

2. Rambut Penipisan dan beruban pada kulit kepala, penurunan jumlah rambut aksila dan pubis serta rambut pada ekstremitas, penurunan rambut wajah pada pria, kenungkinan rambut dagu dan di atas bibir pada wanita 3. Kuku Penurunan laju pertumbuhan 4. Kepala Tulang nasal dan wajah menajam dan angular, hilangnya rambut alis mata pada wanita, alis mata tebal pada pria 5. Mata Penurunan ketajaman penglihatan, penurunan akomodasi, penurunan adaptasi dalam gelap, sensitivitas terhadap cahaya yang menyilaukan 6. Telinga Penurunan membedakan nada, berkurangnya refleks ringan, berkurangnya ketajamna pendengaran 7. Hidung dan sinus Peningkatan rambut nasal, penurunan indra pengecapan, atropi papila ujung lateral lidah 8. Mulut dan faring Penggunaan jembatan atau gigi palsu, penurunan indra pengecap, atrofi papila tepi lateral lidah 9. Leher Kelenjar tiroid nodular, deviasi trakea ringan akibat atofi otot 10. Toraks dan paru-paru Peningkatan diameter antero-posterior, peningkatan rigiditas dada, peningkata frekuensi pernafasan dengan penurunan ekspansi paru, peningkatan resistansi jalan nafas 11. Sistem jantung dan vaskular Peningkatan signifikan pada tekanan sistolik dengan peningkatan ringan pada tekanan diastolik, biasanya terjadi perubahan yang tidak signifikan pada denyut jantung saat 4

istirahat, murmur diastolik umum, nadi perifer mudah dipalpasi, nadi kaki lebih lemah dan ekstremitas bawah lebih dingin, terutama pada malam hari 12. Payudara Berkurangnya jaringan payudara, kondisi menggantung dan kendur 13. Sistem gastrointestinal Penurunan sekresi saliva yang dapat menyebabkan kesulitan menelan, penurunan peristaltik, penurunan produksi enzim digestif, termasuk asam hipoklorit, pepsin dan enzim pankreatik, konstipasi, penurunan motilitas 14. Sistem reproduksi Wanita : penurunan estrogen, penurunan ukuran uterus, penurunan sekresi, atrofi linea, epitel vagina Pria : penurunan kadar testosteron, penurunan jumlah sperma, penurunan ukuran testis

15. Sistem perkemihan Penurunan filtrasi renal dan efisiensi renal, hilangnya protein terus-menerus dari ginjal, nokturia, penurunan kapasitas kandung kemih, peningkatan inkontinensia Wanita : inkontinensia urgensi dan stres akibat penurunan tonus otot perineal Pria : sering berkemih dan retensi urin akibat pembesaran prostat 16. Sistem muskuloskeletal Penurunan massa dan kekuatan otot, demineralisai tulang (lebih jelas pada wanita), pemendekan fosa akibat penyempitan rongga interavertebral, penurunan mobilitas sendi, penurunan rentang gerak sendi, tonjolan tulang lebih meninggi (terlihat) 17. Sistem neurologis Penurunan laju refleks atau otomatik volunter, penurunan kemampuan berespons terhadap stimulasi ganda, insomnia, periode tidur lebih singkat

B. Bladder Training Bladder training adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kemih yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik (UMN atau LMN), dapat dilakukan dengan pemeriksaan refleks-refleks:

5

1. Refleks otomatik Refleks melalui saraf parasimpatis S2-3 dan simpatis T12-L1,2, yang bergabung menjadi n.pelvikus. Tes untuk mengetahui refleks ini adalah tes air es (ice water test). Test positif menunjukkan tipe UMN sedangkan bila negatif (arefleksia) berarti tipe LMN. 2. Refleks somatic Refleks melalui n.pudendalis S2-4. Tesnya berupa tes sfingter ani eksternus dan tes refleks bulbokarvernosus. Jika tes-tes tersebut positif berarti tipe UMN, sedangkan bila negatif berarti LMN atau tipe UMN fase syok spinal. Langkah-langkah Bladder Training: 1. Tentukan dahulu tipe kandung kemih neurogeniknya apakah UMN atau LMN 2. Rangsangan setiap waktu miksi 3. Kateterisasi: a. Pemasangan indwelling cathether (IDC)=dauer cathether IDC dapat dipasang dengan sistem kontinu ataupun penutupan berkala (clamping). Dengan pemakaian kateter menetap ini, banyak terjadi infeksi atau sepsis. Karena itu kateterisasi untuk bladder training adalah kateterisasi berkala. Bila dipilh IDC, maka yang dipilih adalah penutupan berkala oleh karena IDC yang kontinu tidal fisiologis dimana kandung kencing yang selalu kosong akan mengakibatkan kehilangan potensi sensasi miksi serta terjadinya atrofi serta penurunan tonus otot. b. Kateterisasi berkala Keuntungan kateterisasi berkala antara lain:y

Mencegah terjadinya tekanan intravesikal yang tinggi/overdistensi yang mengakibatkan aliran darah ke mukosa kandung kencing dipertahankan seoptimal mungkin.

y

Kandung kencing dapat terisi dan dikosongkan secara berkala seakan-akan berfungsi normal.

y

Bila dilakukan secara dini pada penderita cedera medula spinalis, maka penderita dapat melewati masa syok spinal secara fisiologis sehingga fedback ke medula spinalis tetap terpelihara.

y

Teknik yang mudah dan penderita tidak terganggu kegiatan sehari-harinya 6

4. Penatalaksanaan gangguan fungsi miksi pada lesi medula a. Lesi kauda Ekuina Penatalaksanaan pada pasien dengan lesi kauda ekuina memerlukan perhatian khusus. Pada umumnya ditemukan kandung kencing yang arefleksi (nonkontraktil) dan miksi dilakukan dengan bantuan manipulasi Crede atau Valsava. Lesi umumnya inkomplit atau tipe campuran dan berpotensi untuk mengalami penyembuhan. Pemeriksaan urodinamik mungkin menunjukkan sfingter uretral eksternal yang utuh dan demikian dengan lesi suprakonus mungkin mengalami kesulitan dalam miksi kecuali bila terdapat tekanan intravesikal yang penuh yang dapat mengakibatkan refluksi vesikoureteral. Pada pasien ini didapatkan kerusakan pada persarafan parasimpatis dengan persarafan simpatis yang utuh atau mengalami reinervasi dimana leher kandung kencing mungkin tidak dapat membuka dengan baik pada waktu miksi. b. Sindroma Medula Spinalis Sentral Neurogenic bladder akibat lesi inkomplit seperti lesi medula spinalis sentral dapat diperbaiki pada leb