tahapan periklanan berdasarkan tahapan daur hidup produk

6

Upload: teddy-k-wirakusumah

Post on 01-Jul-2015

270 views

Category:

Documents


6 download

TRANSCRIPT

Tahapan Periklanan berdasarkan Tahapan Daur Hidup Produk

Oleh Teddy K Wirakusumah

Produk-produk melalui sejumlah tahap yang dikenal dengan daur hidup produk (Product Life

Cycle). Sebuah produk apakah masih berada pada Tahap Perkenalan, ataukah sudah memasuki Tahap

Pertumbuhan, atau justru sudah berada pada Tahap Kedewasaan, atau tengah berada pada Tahap

Penurunan Kembali.

Setiap tahapan dalam daur hidup produk membutuhkan kegiatan periklanan tersendiri Masing-

masing tahapan dalam daur hidup produk menentukan tahapan periklanan yang memiliki karakteristik

yang khas pula. Perhatikan table berikut:

Tahapan Daur Hidup Produk Tahapan Periklanan

Tahap Perkenalan Tahap Perintisan

Tahap Pertumbuhan Tahap Kompetitif

Tahap Kedewasaan Tahap Retentif

Tahap Penurunan Kembali Berhenti atau masuk ke Tahap

Perintisan Baru

1. Tahap Perintisan

Tahap Perintisan adalah tahapan periklanan ketika sebuah produk baru diperkenalkan. Sebuah

produk baru, sekalipun sangat revolusioner tidak berarti bisa memaksa konsumen untuk menunjukkan

minat.. Sepanjang orang belum menghargai kenyataan bahwa mereka membutuhkan produk tersebut,

maka produk tersebut dalam daur hidup produk berada dalam tahap perkenalan

Iklan pada tahapan ini harus memperkenalkan gagasan yang membuat konsepsi-konsepsi

sebelumnya tampak kuno atau metoda lama yang hingga saat ini masih diterima sekarang telah

dikembangkan.

Iklan pada tahapan ini harus memberitahukan keuntungan-keuntungan baru untuk menciptakan

permintaan. Iklan harus lebih sekedar menyajikan sebuah produk, tapi sekaligus harus mampu

menanamkan kebiasaan baru, mengubah kebiasaan, mengembangkan pemakaian baru, atau bahkan

mengusahakan standar hidup baru. Iklan harus menjual aspek umum dari produk dan mengajari tentang

apa yang dilakukan produk. Selama sasaran belum memahami dengan jelas manfaat produk, periklanan

harus menekankan kegunaan bukan keuntungan-keuntungan dibanding pesaing. Suatu usaha sia-sia

mencoba memperoleh keuntungan kompetitif dari produk lain ketika minat belum terbentuk.Jika

dianalogikan dengan kelahiran bayi, upaya seperti ini tak ubahnya seperti melahirkan bayi premature.

Pada tahapan ini iklan biasanya mereferensi terhadap kemajuan waktu, seperti "Sekarang anda

dapat melakukan ini", Akhirnya anda dapat melakukan itu" sebagai langkah antisipasi terhadap

pertanyaan "Untuk apa produk ini?"

Tahap ini tidak selalu menguntungkan produsen, karena harus melakukan promosi besar-besaran,

harus memperluas distribusi, menciptakan percobaan konsumen, dan meningkatkan pasar

geografis..Banyak hal harus dilakukan dan banyak biaya yang harus dipertaruhkan. Sungguh!

Sebenarnya banyak sekali produk yang tidak bisa bertahan. Mereka akhirnya menyerah sebelum sempat

populer (Contoh: Taranasiku) Namun ketika memperoleh keberhasilan, satu atau lebih pesaing segera

melompat ke dalam pasar. Para pengekor lazim turut bermain, ikut ambil bagian, berupaya mencicipi

keuntungan. Beberapa diantara mereka bahkan tidak sungkan untuk latah berusaha menyerupai atribut

para perintis dari mulai nama merk, bentuk dan warna kemasan, logotype, dsb ( perhatikan AQUA

dengan AQUARIA, AQUADEST, atau OREO dengan RODEO, dll) . Keuntungan menjadi perintis pada

umumnya adalah terbukanya peluang menjadi pemimpin pasar (market leader). Dalam benak sasaran

nama perintis yang pertamakali muncul. Bahkan demikian populernya para perintis, kenyataan

menunjukkan, nama merk kerapkali menjadi pengganti nama produk. Contoh Aqua untuk produk air

mineral, Pampers untuk produk popok bayi, Softex untuk produk pembalut wanita, Sanyo untuk produk

pompa air, dll

2. Tahap Kompetitif

Tahap Kompetitif adalah tahap periklanan yang dicapai oleh sebuah produk ketika kegunaannya

yang umum dikenali tetapi superioritasnya di atas merek-merek yang sama harus dibentuk agar

memperoleh preferensi

Produk yang diterima oleh umum akan menimbulkan persaingan dengan masuknya produk-produk

pengekor. Konsumen sudah mulai tahu dan kenal apa produk dan bagaimana menggunakannya, tapi

merek mana yang akan mereka beli?

Perintis memiliki keuntungan kepemimpinan (advantage of leadership). Pada tahapan ini kegiatan

periklanan bertujuan untuk mengkomunikasikan perbedaan produk kepada konsumen. Periklanan harus

menampilkan keistimewaan produk yang membuatnya lebih baik dari yang lain. Pada tahapan ini

periklanan tidak perlu lagi menguraikan kegunaan produk. Upaya menjelaskan kegunaan produk pada

tahap kompetitif terkesan tidak percaya diri.

3. Tahap Retentif

Tahap Retentif adalah tahap periklanan ketika kegunaan produk yang umum dikenal di mana-

mana dan kualitasnya sepenuhnya dihargai. Tahap ini adalah tahapan dimana produk mencapai

kedewasaan dan memberikan keuntungan yang paling memuaskan. Tidak banyak produk yang bisa

mencapai tahap ini. Oleh sebab itu iklan lebih diarahkan untuk berupaya menahan perlindungan terhadap

kekuatan prestasi yang telah dicapai.

Adakalanya pengiklan yang telah memiliki produk dalam tahap ini seringkali keliru: "Setiap orang

telah mengenal produk kami, mereka sudah beli, lalu buat apa kami beriklan?" Namun, sejarah

menunjukkan merk yang sukses lalu tidak beriklan, dengan segera konsumen akan melupakan dan posisi

kepemimpinan pasar akan segera digantikan oleh pesaing (Bayangkan jika Coca Cola berhenti beriklan

apa yang terjadi dengan Pepsi Cola)

Pengiklan yang cerdik akan menahan pelanggan dengan memelihara agar merk selalu mereka

ingat. Iklan pada tahapan ini biasanya berupa Reminder Ad. yaitu iklan yang sekadar mengingatkan

konsumen akan keberadaan merk tersebut. Biasanya iklan hanya bersifat visual, hanya memuat

nama/brand dengan illustrasi yang dominan. Atau bermain dengan warna brand yang khas. Kalaupun

ada Copy umumnya memuat sedikit kata yang ditulis dengan huruf besar atau tanpa teks sama sekali

karena tidak perlu lagi banyak omong. Ketika konsumen telah menerima, menghargai, dan menggunakan

produk, gaya beriklan seperti pada tahap kompetitif tidak perlu dilakukan karena tidak ada gunanya.

Sasaran iklan pada tahap ini untuk mempertahankan pangsa pasar dan mencegah percobaan

konsumen terhadap produk pesaing. Produk dalam tahap kedewasaan berada pada tahap paling

menguntungkan. Tingkat pembelian berada pada puncaknya, biaya periklanan dapat ditekan karena

hanya pengingatan, saluran distribusi telah tercipta. Itu sebabnya perusahaan suka mempertahankan

selama mungkin.

4. Setelah Tahap Retentif

Kelangsungan produk tidak berhenti ketika mencapai tahap kedewasaan. Setelah produk berada

pada puncak popularitasnya dan berada dalam tahap paling menguntungkan, seperti hukum alam, segala

sesuatu yang baik selalu ada akhirnya. Produk dalam tahap kedewasaan pun akan tiba waktunya pada

tahap penurunan kembali

Dua pilihan strategi akhir Tahap Kedewasaan

1. Menganggap bahwa produk telah hidup lebih lama dari kehidupan pasar efektifnya dan telah

memberikan keuntungan melampaui harapan, sehingga sebaiknya dibiarkan mati. Produk tidak

perlu ditarik tapi dibiarkan berangsur-angsur habis di pasar, bahkan kalau perlu promosi

penjualan (discount, dsb) diterapkan agar produk cepat habis sebelum orang benar-benar tidak

berminat. Pilihan ini tetap memberikan keuntungan, karena biaya lainnya berkurang, (iklan

berhenti, biaya pengiriman ke jalur distribusi menghilang, dsb). Manajemen lebih diarahkan

untuk menciptakan produk inovatif lainnya. Strategi ini lazim bagi produk-produk seperti mode

busana, bahan pakaian, asesoris

2. Namun jika manajemen masih melihat peluang penjualan produk masih sangat terbuka, maka

mempertahankan produk juga merupakan langkah bijaksana.Strategi yang paling umum

diambil adalah melakukan beberapa perubahan inovatif: menambahkan sesuatu yang baru,

mengubah kemasan, mengganti tagline,dsb. (perhatikan: Toyota Corolla, Corolla DX hingga

Corolla Altis, atau Suzuki Carry, Carry Extra hingga Carry Futura atau Rinso, Rinso Warna,

Rinso Higienis, Rinso Anti Noda, dst) Intinya Produsen tidak menerima produk harus

mengalami kemerosotan, kemudian mengembangkan atau memperluas seolah-olah menjadi

produk yang baru kembali, sehingga dalam daur hidup produk masuk pada tahap perkenalan

kembali. Jika strategi ini yang dipilih maka iklan pun kembali masuk pada tahap perintisan

kembali. Untungnya, bagi produk-produk yang pernah sukses di masa lalu, tahapan rintisan

“wajah baru” biasanya tak serepot rintisan yang pertama kali. Sekalipun begitu, tidak ada

jaminan produk “wajah baru” mampu mengulang sukses yang pernah diraih sebelumnya.