angioplasty koroner new

Download Angioplasty Koroner New

Post on 26-Dec-2015

54 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

This is ref. about angioplasty*cardiovascular

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANGPenyakit kardiovaskuler merupakan peyebab kematian tertinggi di dunia dan telah menjadi masalah global. Menurut data World Health Organisation (WHO) terdapat 7,2 juta kematian seluruh dunia pada tahun 2008 adalah disebabkan penyakit kardiovaskuler. Sedangkan di Amerika Serikat sekitar 400.000-500.000 tiap tahunnya meninggal dunia dan setengahnya meninggal diluar rumah sakit. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia, menurut Survey rumah tangga DepKes RI tahun 2008 angka kematian mencapai 25%. (Ade, 2011)Sejak prosedur Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA) pertama kali dilakukan pada tahun 1977, penggunaan prosedur Percutaneous Coronary Intervention (PCI) telah meningkat secara drastis, sekarang merupakan salah satu tindakan intervensi medis yang umum dilakukan. Awalnya dikembangkan di Swiss oleh Andreas Gruentzig, PCI telah mengubah tindakan revaskularisasi untuk penyakit arteri koroner atau Coronary Artery Disease (CAD)Angioplasty koroner pada awalnya digunakan dalam pengobatan pasien dengan angina stabil dan lesi yang terpisah dalam arteri koroner tunggal, saat ini memiliki beberapa indikasi, termasuk angina tidak stabil, infark miokard akut (IMA) dan penyakit arteri koroner multivessel. Dengan kombinasi peralatan canggih, operator berpengalaman, dan terapi obat modern, PCI telah berkembang menjadi modalitas non bedah yang efektif untuk mengobati pasien dengan CAD. Kemajuan teknis yang sedang berlangsung akan memungkinkan lebih banyak pasien dengan oklusi arteri yang kronis akan berhasil diobati dengan prosedur PCI.Perbaikan teknik kateter dan pengembangan perangkat baru dan obat-obatan telah diberbaharui pula dengan meningkatnya pemahaman tentang fisiologi kardiovaskular, pathogenesis arterosklerosis, dan respon terhadap cedera vaskuler. Stent intrakoroner dan perangkat atherectomy telah dikembangkan untuk meningkatkan keberhasilan dan mengurangi komplikasi, serta untuk memperluas indikasi untuk revaskularisasi. Tindakan intervensi yang aman dapat mengobati lesi koroner yang lebih kompleks. Pada saat yang sama, kemajuan dalam ultrasonografi intravascular (IVUS) dan fractional flow reserve (FFR) telah meningkatkan pemahaman morfologi lesi pada koroner, kerentanan lesi, dan fisiologi koroner.Selain itu, banyak dari teknologi ini dapat membantu mengidentifikasi pasien yang akan mendapatkan keuntungan besar dari PCI, Coronary artery bypass grafting (CABG), atau terapi medis. Terapi farmakologis adjuvant bertujuan untuk mencegah oklusi yang berulang, juga telah meningkatkan kemanan dan kemajuan angioplasty koroner. (George A, 2014)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 DEFINISI ANGIOPLASTY KORONER Angioplasty koroner merupakan suatu tindakan intervensi non bedah untuk membuka kembali pembuluh darah arteri koroner yang menyempit atau tersumbat dengan memasukkan balon atau stent melalui kateter yang dimaksukkan ke dalam lumen arteri melalui insisi kecil pada kulit. Angioplasty koroner dikenal juga sebagai PCI (Percutaneous Coronary Intervention) atau PTCA (Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty), lebih sederhana disebut sebagai angioplasty, merupakan suatu prosedur untuk menangani stenosis atau penyempitan dari arteri koroner. Penyempitan tersebut terjadi karena plak atheroskelosis. (Sigmund S et all, 2005)

Gambar 1. Angioplasty Koroner

II.2 REKOMENDASI (2011 ACCF/AHA/SCAI Guideline for Percutaneous Coronary Intervention) Class I: Conditions for which there is evidence for and/or general agreement that the procedure or treatment is useful and effective. Class II: Conditions for which there is conflicting evidence and/or a divergence of opinion about the usefulness/efficacy of a procedure or treatment. Class IIa: Weight of evidence/opinion is in favor of usefulness/efficacy. Class IIb: Usefulness/efficacy is less well established by evidence/opinion. Class III: Conditions for which there is evidence and/or general agreement that the procedure/treatment is not useful/effective, and in some cases may be harmful.

UA/NSTEMI: RecommendationsCLASS I1. An early invasive strategy (i.e., diagnostic angiography with intent to perform revascularization) is indicated in UA/NSTEMI patients who have refractory angina or hemodynamic or electrical instability (without serious comorbidities or contraindications to such procedures) (Level of Evidence: B)2. An early invasive strategy (i.e., diagnostic angiography with intent to perform revascularization) is indicated in initially stabilized UA/NSTEMI patients (without serious comorbidities or contraindications to such procedures) who have an elevated risk for clinical events (Level of Evidence: A)3. The selection of PCI or CABG as the means of revascularization in the patient with ACS should generally be based on the same considerations as those without ACS (Level of Evidence: B)CLASS III: NO BENEFIT1. An early invasive strategy (i.e., diagnostic angiography with intent to perform revascularization) is not recommended in patients with extensive comorbidities (e.g., liver or pulmonary failure, cancer) in whom (Level of Evidence: C)a. The risks of revascularization and comorbid conditions are likely to outweigh the benefits of revascularization,b. There is a low likelihood of ACS despite acute chest pain, orc. Consent to revascularization will not be granted regardless of the findings.

ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI)PRIMARY PCI OF THE INFARCT ARTERY: RECOMMENDATIONSCLASS I1. Primary PCI should be performed in patients within 12 hours of onset of STEMI (Level of Evidence: A)2. Primary PCI should be performed in patients with STEMI presenting to a hospital with PCI capability within 90 minutes of first medical contact as a systems goal (Level of Evidence: B)3. Primary PCI should be performed in patients with STEMI presenting to a hospital without PCI capability within 120 minutes of first medical contac as a systems goal (Level of Evidence: B)4. Primary PCI should be performed in patients with STEMI who develop severe heart failure or cardiogenic shock and are suitable candidates for revascularization as soon as possible, irrespective of time delay (Level of Evidence: B)5. Primary PCI should be performed as soon as possible in patients with STEMI and contraindications to fibrinolytic therapy with ischemic symptoms for less than 12 hours. (Level of Evidence: B)CLASS IIa1. Primary PCI is reasonable in patients with STEMI if there is clinical and/or electrocardiographic evidence of ongoing ischemia between 12 and 24 hours after symptom onset (Level of Evidence:B)CLASS IIb1. Primary PCI might be considered in asymptomatic patients with STEMI and higher risk presenting between 12 and 24 hours after symptom onset. (Level of Evidence: C)CLASS III: HARM1. PCI should not be performed in a noninfarct artery at the time of primary PCI in patients with STEMI without hemodynamic compromise (Level of Evidence: B)

DELAYED OR ELECTIVE PCI IN PATIENTS WITH STEMI: RECOMMENDATIONSCLASS IIa1. PCI is reasonable in patients with STEMI and clinical evidence for fibrinolytic failure or infarct artery reocclusion. (Level of Evidence: B)2. PCI is reasonable in patients with STEMI and a patent infarct artery 3 to 24 hours after fibrinolytic therapy (Level of Evidence:B)3. PCI is reasonable in patients with STEMI who demonstrate ischemia on noninvasive testing. (Level of Evidence: B)CLASS IIb1. PCI of a hemodynamically significant stenosis in a patent infarct artery greater than 24 hours after STEMI may be considered as part of an invasive strategy. (Level of Evidence: B)CLASS III: NO BENEFIT1. PCI of a totally occluded infarct artery greater than 24 hours after STEMI should not be performed in asymptomatic patients with 1- or 2-vessel disease if patients are hemodynamically and electrically stable and do not have evidence of severe ischemia. (Level of Evidence: B)

II.3 KOMPLIKASI Stent trombosis Ini adalah resiko sampai stent menjadi tertutup oleh endothelium Biasanya muncul sebagai MI akut, dengan angka kematian yang tinggi Hal ini paling sering terjadi selama bulan pertama, namun dapat terjadi beberapa bulan atau tahun setelah PCI Terjadi pada 1-2% pasien. Restenosis stent Hal ini disebabkan oleh penyembuhan yang berlebihan dari dinding pembuluh darah sehingga melewati batas dari stent Biasanya berkembang dalam waktu 3-6 bulan Muncul sebagai angina pectoris, jarang menyebabkan MI Terjadi pada 4-20% kasus Komplikasi utama lainnya jarang terjadi, tetapi meliputi kematian (0,2%), MI akut (1%) yang mungkin memerlukan CABG darurat, stroke (0,5%), tamponade jantung (0,5%) dan perdarahan sistemik (0,5%). Komplikasi lain yaitu alergi terhadap kontras, nefropati, dan komplikasi di lokasi akses, seperti pendarahan dan hematoma. (Grech, 2003)

II.4 PROSEDUR Akses dimulai dari arteri femoralis pada kaki (atau yang lebih jarang menggunakan arteri radialis atau arteri brachialis pada lengan) dengan menggunakan suatu alat yang disebut jarum pembuka. Sekali jarum sudah masuk, "sheath introducer" diletakkan pada jalan pembuka untuk mempertahankan arteri tetap terbuka dan menontrol perdarahan. Melalui sheath introducer ini, "guiding catheter" dimasukkan. Ujung guiding catheter ditempatkan pada ujung arteri koroner. Dengan "guiding catheter", penanda radiopak atau kontras diinjeksikan ke arteri koroner, hingga kondisi dan lokasi kelainan dapat diketahui. Selama visualisasi X ray, ahli jantung memperkirakan ukuran arteri koroner dan memilih ukuran balon kateter serta guide wire koroner yang sesuai. Guiding wire koroner adalah sebuah selang yang sangat tipis dengan ujung radio opak yang fleksibel yang kemudian dimasukkan melalui guiding cathether mencapai arteri koroner. Dengan visualisasi langsung, ahli jantung memandu kabel mencapai tempat terjadinya blokade . Ujung kabel kemudian dilewatkan menembus blokade. Setelah kabel berhasil melewati stenosis, balon kateter dil