inkontinensia urin pada geriatri.docx

31
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembahasan tentang proses menua semakin sering muncul dengan beratambahnya populasi usia lanjut di berbagai belahan dunia. Telah banyak dikemukaan bahwa proses menua amat dipengaruhi oleh interaksi faktor genetik dan lingkunganseharusnya dianggap sebagai suatu proses normal dan tidak selalu menyebabkan gangguan fungsi atau penyaki. Proses penuaan secara umum terdapat kecenderungan menurunnya kapasitas fungsional baik pada tingkat selular maupun pada tingkat oragan sejalan dengan proses menua. Akibat penurunan kapasitas fungsional tersebut, orang lanjut usia biasanya tidak berespon pada berbagai rangsangan, baik internal maupun eksternal, sesensitif yang dapat dilakukan orang yang lebih muda. Menurunnya respon tersebut cenderung membuat oarng usia lanjut sulit untuk memelihara kestabilan homeostatis tubuh. Salah satunya adalah inkontinensia urin dimana terjadi ketidakmampuan seseorang dalam menahan air kencingnya. Inkontinensia urin merupakan salah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia, batasan inkontinensia adalah pengluaran urin tanpa disadari, 1

Upload: fuji-yanto

Post on 27-Oct-2015

1.076 views

Category:

Documents


25 download

DESCRIPTION

inkontinensia

TRANSCRIPT

Page 1: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembahasan tentang proses menua semakin sering muncul dengan

beratambahnya populasi usia lanjut di berbagai belahan dunia. Telah banyak

dikemukaan bahwa proses menua amat dipengaruhi oleh interaksi faktor genetik dan

lingkunganseharusnya dianggap sebagai suatu proses normal dan tidak selalu

menyebabkan gangguan fungsi atau penyaki. Proses penuaan secara umum terdapat

kecenderungan menurunnya kapasitas fungsional baik pada tingkat selular maupun

pada tingkat oragan sejalan dengan proses menua. Akibat penurunan kapasitas

fungsional tersebut, orang lanjut usia biasanya tidak berespon pada berbagai

rangsangan, baik internal maupun eksternal, sesensitif yang dapat dilakukan orang

yang lebih muda. Menurunnya respon tersebut cenderung membuat oarng usia lanjut

sulit untuk memelihara kestabilan homeostatis tubuh.

Salah satunya adalah inkontinensia urin dimana terjadi ketidakmampuan

seseorang dalam menahan air kencingnya. Inkontinensia urin merupakan salah satu

keluhan utama pada penderita lanjut usia, batasan inkontinensia adalah pengluaran

urin tanpa disadari, dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan

masalah gangguan kesehatan atau sosial.

1.2 Rumusan Masalah

1.1. Apa definisi dari inkontinensia urin?

1.2. Bagaimana epidemiologi inkontinensia urin pada lansia?

1.3. Apa etiologi yang menyebabkan inkontinensia urin pada lansia?

1.4. Bagaimana fisiologi berkemih dan patofisiologi inkontinensia urin pada lansia?

1.5. Bagaimana cara diagnosis inkontinensia urin pada lansia?

1.6. Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi pada inkontinensia urin lansia?

1.7. Bagaimana tatalaksana inkontinensia urin pada lansia?

1.8. Bagaimana prognosis inkontinensia urin pada lansia?

1

Page 2: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

1.3 Tujuan

1.1. mengetahui definisi dari inkontinensia urin

1.2. mengetahui epidemiologi inkontinensia urin pada lansia

1.3. mengetahui etiologi yang menyebabkan inkontinensia urin pada lansia

1.4. mengetahui fisiologi berkemih dan patofisiologi inkontinensia urin pada lansia?

1.5. mengetahui cara diagnosis inkontinensia urin pada lansia

1.6. mengetahui komplikasi yang mungkin terjadi pada inkontinensia urin lansia?

1.7. mengetahui tatalaksana inkontinensia urin pada lansia

1.8. mengetahui prognosis inkontinensia urin pada lansia

1.4 Manfaat

1.4.1 Penulis

Penulis dapat mengenali, mencegah, dan mengedukasi mengenai dampak yang

terjadi pada inkontinensia urin lansia.

1.4.2 Pembaca

Pembaca diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai

inkontinensia urin pada lansia.

1.4.3 Akademik

Dalam bidang akademik, penulis berharap supaya referat ini dapat digunakan

sebagai salah satu bahan pembelajaran bagi mahasiswa atau orang yang tertarik

pada inkontinensia urin pada lansia.

2

Page 3: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Menurut International Continence Society, inkontinensia urin didefinisikan

sebagai keluhan berkemih secara involunter (di luar kesadaran).

2.2 Epidemiologi

Perempuan lebih sering mengalami inkontinensia urin daripada laki-laki

dengan perbandingan 1,5:1 . Survei yang dilakukan oleh Divisi Geriatri Bagian Ilmu

Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo di Poliklinik Geriatri RSUPN

Dr. Cipto Mangunkusumo (2003) terhadap 179 pasien geriatri mendapatkan angka

kejadian inkontinensia urin tipe stres pada laki-laki sebesar 20,5% dan perempuan

sebesar 32,5%. Sedangkan hasil penelitian di India terhadap 3000 wanita berbagai

umur menunjukkan bahwa prevalensi inkontinensia urin sebesar 21,8% dan 42,8%

nya memiliki usia 61-70 tahun 1,2

2.3 Etiologi

Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi beberapa perubahan pada anatomi

dan fungsi organ untuk berkemih, antara lain melemahnya otot dasar panggul akibat

multigravida, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan

seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi abnormal dari

dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah

menimbulkan rasa ingin berkemih.

Penyebab inkontinensia urin antara lain terkait dengan gangguan di saluran

kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya

gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah

bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih, maka tatalaksananya adalah

terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan

terapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani

prostatektomi. Inkontinensia urin juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih

3

Page 4: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang

harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa

diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein.

Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin

meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke

toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk

mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan

substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus

disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien

lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya

yang menjadi faktor pencetus inkontinensia urin. Jika kondisi ini yang terjadi, maka

penghentian atau penggantian obat jika memungkinkan, penurunan dosis atau

modifikasi jadwal pemberian obat.

Golongan obat yang berkontribusi pada inkontinensia urin, antara lain,

diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergic alfa, agonic

adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik. Golongan psikotropika seperti

antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam

inkontinensia urin. Kafein dan alkohol juga berperan dalam terjadinya inkontinensia

urin. Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia urin juga terjadi akibat

kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan

(obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan

berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar

panggul karena tertekan selama masa mengandung.

Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat

regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat

meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urin. Dengan menurunnya kadar

hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi

penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga

menyebabkan terjadinya inkontinensia urin. Faktor risiko yang lain adalah obesitas

atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko

mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan

mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan

otot dasar panggul.

4

Page 5: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

2.4 Fisiologi dan Patofisiologi

2.3.1 Fisiologi berkemih

Pusat pengaturan refleks berkembih diatur di medula spinalis segmen sakral.

Proses berkemih dibagi menjadi 2 fase yaitu fase pengisian dan fase pengosongan.

Pada fase pengisian kandung kemih, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom

simpatis yang menyebabkan penutupan katup leher kandung kemih, relaksasi dinding

kandung kemih, serta penghambatan saraf parasimpatis. Pada fase pengosongan,

aktifitas simpatis dan somatik menutun, sedangkan parasimpatis meningkat sehingga

terjadi kontraksi otot detrusor dan pembukaan leher kandung kemih.

Proses berkemih normal merupakan proses dinamis yang memerlukan

rangkaian koordinasi proses fisiologik berurutan yang pada dasarnya dibagi menjadi

2 fase yaitu, fase pengisisan, dengan kandung kemih berfungsi sebagai reservoar

urine yang masuk secara berangsur-angsur dari ureter, dan fase miksi dengan

kandung kemih befungsi sebagai pompa serta menuangkan urin melalui uretra dalam

waktu relatif singkat. Pada keadaan normal selama fase pengisian tidak terjadi

5

Page 6: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

kebocoran urin, walaupun kandung kemih penuh atau tekanan intraabdomen

meningkat seperti sewaktu batuk, meloncat-loncat atau kencing. Peningkatan isi

kandung kemih memperbesar keinginan ini dan pada keadaan normal tidak terjadi

kebocoran di luar kesadaran. Pada fase pengosongan, isi seluruh kandung kemih

dikosongkan sama sekali. Orang dewasa dapat mempercepat atau memperlambat

miksi menurut kehendaknya secara sadar, tanpa dipengaruhi kuatnya rasa ingin

kencing. Cara kerja kandung kemih yaitu sewaktu fase pengisian otot kandung kemih

tetap relaksasi sehingga meskipun volume kandung kemih meningkat, tekanan di

dalam kandung kemih tetap rendah. Sebaliknya otot-otot yang merupakan

mekanisme penutupan selalu dalam keadaan kontraksi untuk menutup aliran ke

uretra. Sewaktu miksi, tekanan di dalam kandung kemih meningkat karena kontraksi

aktif otot-ototnya, sementara terjadi relaksasi mekanisme penutup di dalam uretra.

Uretra membuka dan urin memancar keluar. Ada semacam kerjasama antara otot-otot

kandung kemih dan uretra, baik semasa fase pengisian maupun sewaktu fase

pengeluaran. Pada kedua fase itu urin tidak boleh mengalir balik ke dalam ureter

(refluks).

Proses berkemih normal melibatkan mekanisme volunter dan involunter.

Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul berada dibawah kontrol volunter dan

disuplai oleh saraf pudenda, sedangkan m. detrusor kandung kemih dan sfingter

uretra internal berada di bawah kontrol sistem safar otonom, yang mungkin

dimodulasi oleh korteks otak. Kandung kemih terdiri atas 4 lapisan, yakni lapisan

serosa, lapisan otot detrusor, lapisan submukosa dan lapisan mukosa.

6

Page 7: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

Ketika otot detrusor berelaksasi, pengisian kandung kemih terjadi dan bila otot

kandung kemih berkontraksi pengosongan kandung kemih atau proses berkemih

berlangsung. otot detrusor adalah otot kontraktil yang terdiri atas beberapa lapisan

kandung kemih. Mekanisme detrusor meliputi otot detrusor, saraf pelvis, medula

spinalis dan pusat saraf yang mengontrol berkemih. Ketika kandung kemih seseorang

mulai terisi oleh urin, rangsangan saraf diteruskan melalui saraf pelvis dan medula

spinalis ke pusar saraf kortikal dan subkortikal. Pusat subkortikal (pada ganglia basal

dan serebelum) menyebabkan kandung kemih berelaksasi sehingga dapat mengisi

tanpa menyebabkan seseorang mengalami desakan untuk berkemih. Ketika pengisian

kandung kemih berlanjut, rasa penggebungan kandung kemih disadari, dan pusat

kortikal (pada lobus frontal), bekerja menghambat pengeluaran urin. Gangguan pada

pusat kortikal dan subkortikal karena obat atau penyakit dapat mengurangi

kemampuan menunda pengeluaran urin. Komponen penting dalam mekanisme

sfingter adalah hubungan urethra dengan kandung kemih dan rongga perut.

Mekanisme sfingter berkemih memerlukan agulasi yang tepat antara urethra dan

kandung kemih. Fungsi sfingter urethra normal juga tergantung pada posisi yang

tepat dari urethra sehiingga dapat meningkatkan tekanna intraabdomen secara efektif

7

Page 8: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

ditrasmisikan ke ureter. Bila uretra pada posisi yang tepat, urin tidak akan keluar

pada saat tekanan atau batuk yang meningkatkan tekanan intraabdomen. Mekanisme

dasar proses berkemih diatur oleh refleks-refleks yang berpusat di medula spinalis

segmen sakral yang dikenal sebagai pusat berkemih. Pada fase pengisian kandung

kemih, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom simpatis yang mengakibatkan

penutupan leher kandung kemih, relaksasi dinding kandung kemih serta

penghambatan aktivitas parasimpatis dan mempertahankan inversi somatik pada otot

dasar panggul. Pada fase pengosongan, aktivitas simpatis dan somatik menurun,

sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor dan

pembukaan leher kandung kemih. Proses reflek ini dipengaruhi oleh sistem saraf

yang lebih tinggi yaitu batang otak, korteks serebri dan serebelum.

2.3.2 Proses Menua dan Inkontinensia Urin

Inkontinensia pada usia lanjut bukan merupakan kondisi normal , namun

merupakan faktor predisposisi terjadinya inkontinensia urin. Berbagai perubahan

anatomis dan fisiologis terjadi pada orang tua. Perubahan-perubahan tersebut

berkaitan dengan penurunan kadar estrogen pada perempuan dan hormon androgen

pada lak-laki.

Pada dinding kandung kemih terjadi peningkatan fibrosis dan kandungan kolagen,

sehingga mneyebabkan fungsi kontraktil tidak efektif lagi, dan mudah terbentuk

trabekulasi sampai divertikel. Selain itu juga terjadi atrofi mukosa, perubahan

vaskularisasi submukosa, dan menipisnya lapisan otot uretra, sehingga terjadi

penurunan tekanan penutupan uretra .

Dasar panggul mempunyai peran penting dalam mempertahankan miksi.

Melemahnya fungsi dasar panggul disebabkan berbagai faktor fisiologis dan

patologis (trauma, operasi). Perbahan fisiologis dasar panggul tercantum pada tabel

di bawah ini

Perubahan-perubahan fisiologik terkait Proses Menua pada Saluran Kemih Bawah

Kandung kemih Perubahan Morfologis

• Trabekulasi↑

• Fibrosis ↑

8

Page 9: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

• Saraf otonom ↓

• Pembentukan divertikula

Perubahan Fisiologis

• Kapasitas ↓

• Kemampuan menahan kemcing ↓

• Kontraksi involunter ↑

• Volume residu setelah berkemih ↑

Uretra Perubahan Morfologis

• Komponen seluler ↓

• Deposit kolagen ↑

Perubahan Fisiologis

• Tekanan penutupan ↓

Prostat Hiperplasia dan membesar

Vagina Komponen seluler ↓

Mukosa atrofi

Dasar Panggul Deposit kolagen ↑

Rasio jaringan ikat-otot ↑

Otot melemah

Secara keseluruhan perubahan akibat proses menua pada sistem urogenital

menyebabkan posisi kandung kemih prolaps sehingga melemahkan tekanan akhiran

kemih keluar.1

9

Page 10: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

Pada usia lanjut biasanya ada beberapa jenis inkontinensia urin yaitu ada

inkontinensia urin tipe stress, inkontinensia tipe urgensi, tipe fungsional dan tipe

overflow. Patofisiologi yang akan dibahas adalah inkontinensia urin tipe stress

dimana inkontinensia urin tipe stres merupakan inkontinensia urin yang paling

banyak dijumai pada perempuan. Ada sebuah penelitian yang melaporkan bahwa

inkontinensia urin stres ternyata tidak hanya disebabkan oleh kegagalan penyokong

ureter tetapi juga karena penutupan leher vesika yang tidak adekuat dan gangguan

pada sestem kendali kontinensia urin (neuromuskular). Pemahaman itu memicu

kesimpulan bahwa tatalaksana yang diberikan pada perempuan dengan inkontinensia

urin harus disesuaikan dengan jenis inkontinensia urin dan penyebab kerusakan;

sebaiknya tatalaksana ini tidak disamaratakan untuk semua kasus inkontinensia urin.

Untuk lebih memahami patofisiologinya, inkontinensia urin akan dibahas dengan

pendekatan anatomi dan fisiologi.

Gambar 1. Tampak lateral mekanisme kontinensia yang memperlihatkan pendesakan

fasia endopelvis menuju fascia arkus tendinosus pelvis dan otot levator ani.

Irisan lateral organ panggul pada gambar 1 menunjukkan anatomi yang

berkaitan dengan sistem kendali kontinensia. Beberapa komponen penting yang

berperan ialah otot levator ani yang berjalan dari tulang pubis menuju ke sfingter ani

dibalik rectum untuk menyokong organ pelvis. Otot itu berjalan disebelah lateral

fascia arkus tendinosus pelvis yang merupakan fasia endopelvis yang

menghubungkan tulang pubis dengan spina isiadika. Fasia tersebut cenderung

berperan pasif dalam mekanisme kontinensia tetapi hubungan fascia itu dengan otot

levator ani merupakan elemen penting dalam sistem kendali in. Hubungan tersebut

memungkinkan kontraksi aktif otot pelvis untuk memicu elevasi leher vesika.

10

Page 11: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

Aktivitas konstn normal otot levator ani menyokong leher vesika dalam proses miksi

normal.

Salah satu pertanyaan penting ialah bagaimana aparatus itu dapat menjaga

uretra tertutup rapat walaupun tekanan dalam vesika meningkat pada waktu batuk

keras tanpa dapat mendesak urin keluar melalui uretra. Pada model konseptul

dijelaskan bahwa stabilitas lapisan penyokong cenderung lebih mempengaruhi

terjadinya kontinensia dibandingkan dengan tinggi uretra. Individu dengan lapisan

penyokong yang kuat, uretra akan ditekan antara tekanan abdominal dan fasia pelvis

pada arah yang sama. Kondisi tersebut diibaratkan saaat seseorang dapat

menghentikan aliran air yang melalui selang taman dengan menginjak selang dan

menekan ke arah lantai keras yang mendasari. Jika lapisan dibawah uretra tidak stabil

dan tidak memberikan tahanan yang kokoh terhadap tekanan abdominal yang

menekan uretra, maka tekanan yang berlawanan akan menyebabkan hilangnya

penutupan dan kerja oklusi akan berkurang. Kondisi yang terjadi selanjutnya dapat

diibaratkan seperti saat seseorang mencoba menghentikan aliran air melalui selang

taman dengan menginjak selang yang berada di atas tanah liat.

Analog tersebut juga dapat menjelaskan mengapa pada inkontinensia urin dapat

terbentuk sistoureterokel yang besar dan pada pasien dengan uretra yang terletak jauh

dibawah posisi normal sering kali tidak dapat menjalankan fungsi kontinensia dengan

baik. Jika lapisan suburetral dapat mempertahankan stabilitasnya maka mekanisme

itu dipertahankan efektif (gambar 2).

11

Page 12: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

Gambar 2. A. tekanan abdominal medesak uretra terhadap penyokong uretra. B. Pada

gambar ini, jaringan penyokong tidak stabil sehingga tidak membentuk jaringan yang

kokoh saat uretra ditekan. C. Sistouretrokel terbentuk saat uretra terletak lebih rendah

dari normal tetapi memiliki lapisan penyokong kuat yang memungkinkan kompresi

uretra.

2.5 Diagnosis

2.5.1. Anamnesis

Pada inkontinensia urin, pasien datang dengan keluhan sering tidak dapat

menahan kencing sehingga sering kencing dicelana sebelum sampai ke kamar

mandi. Passien juga mengatakan kadang saat tertawa terbahak, tanpa sadar

terkencing-kencing. Sedangkan penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis

sebelumnya tidak ada.

2.5.2. Pemeriksaan Fisik3-6

Tujuan pemeriksaan fisik adalah mengenali pemicu inkontinensia urin dan

membantu menetapkan patofisiologinya. Selain pemeriksaan fisik umum yang

selalu harus dilakukan, pemeriksaan terhadap abdomen, genitalia, rectum,

fungsi neurologis, dan pelvis (pada wanita) sangat diperlukan.

Pemeriksaan abdomen harus mengenali adanya kandung kemih yang penuh,

rasa nyeri, massa, atau riwayat pembedahan.

Kondisi kulit dan abnormalitas anatomis harus diidentifikasi ketika

memeriksa genitalia.

Pemeriksaan rectum terutama dilakukan untuk medapatkan adanya obstipasi

atau skibala, dan evaluasi tonus sfingter, sensasi perineal, dan refleks

bulbokavernosus. Nodul prostat dapat dikenali pada saat pemeriksaan rectum.

Pemeriksaan pelvis mengevaluasi adanya atrofi mukosa, vaginitis atrofi,

massa, tonus otot, prolaps pelvis, dan adanya sistokel atau rektokel.

Evaluasi neurologis sebagian diperoleh saat pemeriksaan rectum ketika

pemeriksan sensasi perineum, tonus anus, dan refles bulbokavernosus.

Pemeriksaan neurologis juga perlu mengevaluasi penyakit-penyakit yang

dapat diobati seperti kompresi medula spinalis dan penyakit parkinson.

12

Page 13: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

Pemeriksaan fisik seyogyanya juga meliputi pengkajian tehadap status

fungsional dan kognitif, memperhatikan apakah pasien menyadari keinginan

untuk berkemih dan mengunakan toilet.

2.5.3. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Ouslander, tes diagnostik pada inkontinensia perlu dilakukan untuk

mengidentifikasi faktor yang potensial mengakibatkan inkontinensia,

mengidentifikasi kebutuhan klien dan menentukan tipe inkontinensia.

Mengukur sisa urin setelah berkemih, dilakukan dengan cara setelah buang air

kecil, pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter diukur atau

menggunakan pemeriksaan ultrasonik pelvis, bila sisa urin > 100 cc berarti

pengosongan kandung kemih tidak adekuat.

2.5.3.1. Urinalisis

Dilakukan terhadap spesimen urin yang bersih untuk mendeteksi

adanya faktor yang berperan terhadap terjadinya inkontinensia urin

seperti hematuri, piouri, bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria. Tes

diagnostik lanjutan perlu dilanjutkan bila evaluasi awal didiagnosis

belum jelas. Tes lanjutan tersebut adalah:

2.5.3.2. Laboratorium tambahan

Kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin, kalsium glukosa sitologi.

2.5.3.3. Tes urodinamik

Untuk mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih bagian bawah.

2.5.3.4. Tes tekanan urethra

Mengukur tekanan di dalam urethra saat istirahat dan saat dianmis.

2.5.3.5. Radiologi

Imaging --> tes terhadap saluran perkemihan bagian atas dan bawah.

2.6 Klasifikasi Inkontinensia Urin

Inkontinensia Transien

Inkontinensia transien memiliki onset yang mendadak, biasanya dihubungkan dengan

penggunaan obat-obatan atau penyakit akut.

Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak dapat pergi ke toilet

sehingga berkemih tidak pada tempatnya. Bila delirium teratasi maka inkontinensia urin

13

Page 14: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

umumnya juga akan teratasi. Setiap kondisi yang menghambat mobilisasi pasien dapat

memicu timbulnya inkontinensia urin fungsional atau memburuknya inkontinensia

persisten, seperti fraktur tulang pinggul, stroke, arthritis dan sebagainya.

Resistensi urin karena obat-obatan, atau obstruksi anatomis dapat pula

menyebabkan inkontinensia urin. Keadaan inflamasi pada vagina dan urethra (vaginitis

dan urethritis) mungkin akan memicu inkontinensia urin. Konstipasi juga sering

menyebabkan inkontinensia akut.

Berbagai kondisi yang menyebabkan poliuria dapat memicu terjadinya

inkontinensia urin, seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal jantung dan insufisiensi vena

dapat menyebabkan edema dan nokturia yang kemudian mencetuskan terjadinya

inkontinensia urin nokturnal. Berbagai macam obat juga dapat mencetuskan terjadinya

inkontinensia urin seperti Calcium Channel Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesic

narcotic, psikotropik, antikolinergik dan diuretic.

Untuk mempermudah mengingat penyebab inkontinensia urin akut reversible

dapat menggunakan akronim (Resnick 1984) di bawah ini :

D : Delirium

I : Infection of urinary tract or other infection

A : Atrophic urethritis and vaginitis

P : Pharmaceutical (diuretics, anticholinergic, antihistamine, Ca channel

blocker)

P : Psychological Problems, especially depression

E : Excess urine output (eg. congestive heart failure, hyperglycaemia)

R : Restricted mobility

S : Stool impaction

Inkontinensia Urin Persisten

Inkontinensia urin persisten dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, meliputi

anatomi, patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan praktek klinis, klasifikasi klinis lebih

bermanfaat karena dapat membantu evaluasi dan intervensi klinis.

14

Page 15: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

Kategori klinis meliputi :

a. Inkontinensia urin stress (stres inkontinence)

Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya tekanan intraabdominal, seperti

pada saat batuk, bersin atau berolah raga. Umumnya disebabkan oleh melemahnya otot

dasar panggul, merupakan penyebab tersering inkontinensia urin pada lansia di bawah 75

tahun. Lebih sering terjadi pada wanita tetapi mungkin terjadi pada laki-laki akibat

kerusakan pada sfingter urethra setelah pembedahan transurethral dan radiasi. Pasien

mengeluh mengeluarkan urin pada saat tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah urin yang

keluar dapat sedikit atau banyak.

b. Inkontinensia urin urgensi (urgency inkontinence)

Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi keinginan

berkemih. Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan dengan kontraksi detrusor tak

terkendali (detrusor overactivity). Masalah-masalah neurologis sering dikaitkan dengan

inkontinensia urin urgensi ini, meliputi stroke, penyakit Parkinson, demensia dan cedera

medula spinalis. Pasien mengeluh tak cukup waktu untuk sampai di toilet setelah timbul

keinginan untuk berkemih sehingga timbul peristiwa inkontinensia urin. Inkontinensia

tipe urgensi ini merupakan penyebab tersering inkontinensia pada lansia di atas 75 tahun.

Satu variasi inkontinensia urgensi adalah hiperaktifitas detrusor dengan kontraktilitas

yang terganggu. Pasien mengalami kontraksi involunter tetapi tidak dapat mengosongkan

kandung kemih sama sekali. Mereka memiliki gejala seperti inkontinensia urin stress,

overflow dan obstruksi. Oleh karena itu perlu untuk mengenali kondisi tersebut karena

dapat menyerupai ikontinensia urin tipe lain sehingga penanganannya tidak tepat.

c. Inkontinensia urin luapan / overflow (overflow incontinence)

Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan distensi kandung kemih

yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh obstruksi anatomis, seperti pembesaran prostat,

faktor neurogenik pada diabetes melitus atau sclerosis multiple, yang menyebabkan

berkurang atau tidak berkontraksinya kandung kemih, dan faktor-faktor obat-obatan.

15

Page 16: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

Pasien umumnya mengeluh keluarnya sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa kandung

kemih sudah penuh.

d. Inkontinensia urin fungsional

Memerlukan identifikasi semua komponen tidak terkendalinya pengeluaran urin

akibat faktor-faktor di luar saluran kemih. Penyebab tersering adalah demensia berat,

masalah muskuloskeletal berat, faktor lingkungan yang menyebabkan kesulitan untuk

pergi ke kamar mandi, dan faktor psikologis.

2.7 Komplikasi

Inkontinensia urin dapat menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih, lecet

pada area bokong sampai dengan ulkus dekubitus karena selalu lembab, serta jatuh dan

fraktur akibat terpeleset oleh urin yang tercecer.

2.8 Penatalaksanaan

Pada umumnya terapi inkontinensia urine adalah dengan cara operasi. Akan tetapi

pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan terapi konservatif. Latihan otot

dasar panggul adalah terapi non operatif yang paling populer, selain itu juga dipakai obat-

obatan, stimulasi dan pemakaian alat mekanis.

Penatalaksanaan inkontinensia urin menurut Muller adalah mengurangi faktor

resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin, modifikasi

lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis dan pembedahan.

Terapi non farmakologi

Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya inkontinensia

urin, seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran kemih, diuretik, gula darah tinggi, dan

lain-lain. Adapun terapi yang dapat dilakukan adalah:

Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval waktu berkemih)

dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi berkemih 6-7 x/hari.

Lansia diharapkan dapat menahan keinginan untuk berkemih bila belum

waktunya. Lansia dianjurkan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-

16

Page 17: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

mula setiap jam, selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin

berkemih setiap 2-3 jam.

Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai dengan

kebiasaan lansia.

Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia mengenal kondisi

berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas atau pengasuhnya bila

ingin berkemih. Teknik ini dilakukan pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif

(berpikir).

Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksikan otot dasar

panggul secara berulang-ulang. Adapun cara-cara mengkontraksikan otot dasar

panggul tersebut adalah dengan cara :

Berdiri di lantai dengan kedua kaki diletakkan dalam keadaan terbuka, kemudian

pinggul digoyangkan ke kanan dan ke kiri ± 10 kali, ke depan ke belakang ± 10

kali, dan berputar searah dan berlawanan dengan jarum jam ± 10 kali.

Gerakan seolah-olah memotong feses pada saat kita buang air besar dilakukan ±

10 kali.

Hal ini dilakukan agar otot dasar panggul menjadi lebih kuat dan urethra dapat tertutup

dengan baik.

Terapi farmakologi

Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah antikolinergik

seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate, Imipramine.

Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine

untuk meningkatkan retensi urethra.

Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau

alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi

diberikan secara singkat.

Terapi pembedahan

Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila

terapi non farmakologis dan farmakologis tidak berhasil. Inkontinensia tipe overflow

17

Page 18: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

umumnya memerlukan tindakan pembedahan untuk menghilangkan retensi urin. Terapi

ini dilakukan terhadap tumor, batu, divertikulum, hiperplasia prostat, dan prolaps pelvic

(pada wanita).

Modalitas lain

Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang menyebabkan

inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagi lansia yang mengalami

inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter, dan alat bantu toilet seperti

urinal, komod dan bedpan.

Pampers

Dapat digunakan pada kondisi akut maupun pada kondisi dimana pengobatan

sudah tidak berhasil mengatasi inkontinensia urin. Namun pemasangan pampers juga

dapat menimbulkan masalah seperti luka lecet bila jumlah air seni melebihi daya tampung

pampers sehingga air seni keluar dan akibatnya kulit menjadi lembab, selain itu dapat

menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan alergi.

Kateter

Kateter menetap tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin karena dapat

menyebabkan infeksi saluran kemih, dan juga terjadi pembentukan batu. Selain

kateter menetap, terdapat kateter sementara yang merupakan alat yang secara rutin

digunakan untuk mengosongkan kandung kemih. Teknik ini digunakan pada

pasien yang tidak dapat mengosongkan kandung kemih. Namun teknik ini juga

beresiko menimbulkan infeksi pada saluran kemih.

Alat bantu toilet

Seperti urinal, komod dan bedpan yang digunakan oleh orang usia lanjut yang

tidak mampu bergerak dan menjalani tirah baring. Alat bantu tersebut akan

menolong lansia terhindar dari jatuh serta membantu memberikan kemandirian

pada lansia dalam menggunakan toilet.

2.9 Prognosis

18

Page 19: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

Inkontinensia urin tipe sterss biasanya dapat diatasi dengan latihan otot dasar

panggul, prognesia cukup baik.

Inkontinensia urin tipe urgensi atau overactive blader umumnya dapat diperbaiki

dengan obat – obat golongan antimuskarinik, prognosis cukup baik.

Inkontinensia urin tipe overflow, tergantung pada penyebabnya (misalnya dengan

mengatasi sumbatan / retensi urin).

BAB III

19

Page 20: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

KESIMPULAN

Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan menahan kencing. Anamnesis dan

pemeriksaan fisik yang baik, dengan beberapa prosedur diagnostik yang diperlukan

mempunyai hasil yang baik untuk menegakkan diagnosis gangguan ini. Jenis

inkontinensia urine yang utama yaitu inkontinensia stres, urgensi, luapan dan fungsional.

Inkontinensia pada usia lanjut bukan merupakan kondisi normal , namun

merupakan faktor predisposisi terjadinya inkontinensia urin. Berbagai perubahan

anatomis dan fisiologis terjadi pada orang tua. Perubahan-perubahan tersebut berkaitan

dengan penurunan kadar estrogen pada perempuan dan hormon androgen pada lak-laki.

Pada dinding kandung kemih terjadi peningkatan fibrosis dan kandungan kolagen,

sehingga mneyebabkan fungsi kontraktil tidak efektif lagi, dan mudah terbentuk

trabekulasi sampai divertikel. Selain itu juga terjadi atrofi mukosa, perubahan

vaskularisasi submukosa, dan menipisnya lapisan otot uretra, sehingga terjadi penurunan

tekanan penutupan uretra .

Penatalaksanaan konservatif dilakukan pada kasus inkompeten sfingter uretra

sebelum terapi bedah. Bila dasar inkontinensia neurogen atau mental maka pengobatan

disesuaikan dengan faktor penyebab.

DAFTAR PUSTAKA

20

Page 21: Inkontinensia Urin pada Geriatri.docx

1. Setiati S dan Pramantara IDP. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam .Sudoyo AW et al.

editor. Jakarta : Interna Pulishing ;2009 : 865-875

2. Urol IJ. Prevalence and risk factors of urinary incontinence in Indian women: A

hospital-based survey. Indian Journal of Urology. 2013; 29(1): 31–36

3. Santoso BI. Inkontinensia urin pada perempuan. MKI. 2008 Juli; vol 58(no.7):

258-64

4. Setiati S, Pramantara IDP. Buka ajar ilmu penyakit dalam. Inkontinensia urin dan

kandung kemih hiperaktif. Jilid I. Edisi ke-5. Jakarta: InternaPublishing; 2009: hal

865—75.

5. O’callaghan CA. The renal system at a glance. 2nd ed. Jakarta: erlangga; 2006.

6. Baradero M, Dayrit MW, Siswadi Y. Klien gangguan ginjal: seri asuhan

keperawatan. Jakarta: EGC; 2005.

7. Kong TK. Clinical Guidelines on Geriatric Urinary Incontinence. Desember 2003.

8. Abrams P, et al. Guidelines on Urinary Incontinence. European Association of

Urology. 2006.

9. Abrams P, Cardozo L, Fall M, et al: The standardization of terminology of lower

urinary tract infection: Report from the Standardization Sub-committee of the

International Continence Society. Neurourol Urodyn 2002; 21:167-178.

21