modul 1 inkontinensia urin

59
Skenario 1 Seorang laki-laki umur 77 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan selalu buang air kecil sedikit-sedikit. Setiap selesai buang air kecil ia merasa tidak puas meski buang air kecilnya berlangsung lama. Keadaan ini sudah dialaminya sejak 5 hari yang lalu. Selama ini penderita berjalan tidak stabil, karena keluhan pada lututnya yang sering sakit dan bengkak. Menurut keluarganya, setahun terakhir ini, pembawaan bapak ini selalu marah dan sering lupa setelah mengerjakan sesuatu yang baru saja dilakukannya. Sejak 7 tahun terakhir ini penderita mengkonsumsi obat-obat kencing manis, tekanan darah tinggi, jantung, dan rematik. Tiga tahun yang lalu penderita mendapat serangan stroke. Kalimat Kunci Laki-laki 77 tahun ke puskesmas dengan keluhan buang air kecil sedikit-sedikit. Dia merasa tidak puas meski buang air kecil berlangsung lama. Keadan ini sudah sejak 5 hari yang lalu Selama ini penderita berjalan tidak stabil karena lututnya sering sakit dan bengkak. Setahun terakhir, sering marah dan lupa terhadap sesuatu yang baru saja dikerjakan. Di tahun terakhir, pasien mengkonsumsi obat DM, hipertensi, jantung dan rematik. 3 tahun yang lalu penderita terkena stroke. Pertanyaan-pertanyaan 1. Jelaskan mengenai teori penuaan! 2. Jelaskan perubahan anatomi dan fisiologi dari organ terkait sesuai skenario! 3. Jelaskan proses pengisian dan pengeluaran urin normal!

Upload: andi-yaumil-aliyah-triningditya

Post on 03-Jan-2016

482 views

Category:

Documents


1 download

TRANSCRIPT

Page 1: Modul 1 Inkontinensia Urin

Skenario 1

Seorang laki-laki umur 77 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan selalu buang air kecil sedikit-sedikit. Setiap selesai buang air kecil ia merasa tidak puas meski buang air kecilnya berlangsung lama. Keadaan ini sudah dialaminya sejak 5 hari yang lalu. Selama ini penderita berjalan tidak stabil, karena keluhan pada lututnya yang sering sakit dan bengkak.

Menurut keluarganya, setahun terakhir ini, pembawaan bapak ini selalu marah dan sering lupa setelah mengerjakan sesuatu yang baru saja dilakukannya. Sejak 7 tahun terakhir ini penderita mengkonsumsi obat-obat kencing manis, tekanan darah tinggi, jantung, dan rematik. Tiga tahun yang lalu penderita mendapat serangan stroke.

Kalimat Kunci

Laki-laki 77 tahun ke puskesmas dengan keluhan buang air kecil sedikit-sedikit.

Dia merasa tidak puas meski buang air kecil berlangsung lama. Keadan ini sudah sejak 5 hari yang lalu Selama ini penderita berjalan tidak stabil karena lututnya sering sakit dan

bengkak. Setahun terakhir, sering marah dan lupa terhadap sesuatu yang baru saja

dikerjakan. Di tahun terakhir, pasien mengkonsumsi obat DM, hipertensi, jantung

dan rematik. 3 tahun yang lalu penderita terkena stroke.

Pertanyaan-pertanyaan

1. Jelaskan mengenai teori penuaan!2. Jelaskan perubahan anatomi dan fisiologi dari organ terkait sesuai

skenario!3. Jelaskan proses pengisian dan pengeluaran urin normal!4. Sebutkan faktor predisposisi inkontinensia urin!5. Apa saja pendekatan diagnosis untuk inkontinensia urin?6. Jelaskan tipe inkontinensia urin!7. Bagaimana hubungan perubahan kepribadian dengan inkontinensia

pasien?8. Jelaskan hubungan pengobatan yang dilakukan dengan inkontinensia

pasien!9. Jelaskan hubungan riwayat stroke dengan keluhan sekarang!10. Apa sajakah penatalaksanaan inkontinensia urin?11. Sebutkan prespektif islam menurut skenario!

Jawaban

Page 2: Modul 1 Inkontinensia Urin

1. Teori Penuaan1,2,3,4,5

Proses penuaan merupakan proses yang berhubungan dengan umur seseorang. Manusia mengalami perubahan sesuai dengan bertambahnya umur seseorang tersebut. Semakin bertambah umur semakin berkurang fungsi-fungsi organ tubuh. Hal ini dapat kita lihat dari perbandingan struktur dan fungsi organ antara manusia yang berumur 70 tahun dengan mereka yang berumur 30 tahun yaitu :

- berat otak 56%- Aliran darah ke otak 80%- CardiacOutput 70 %- Jumlah glomerulus 56%- Glomerular filtration rate 69%- Vital capacity 56%- Asupan O2 selama olahraga 40%- Jumlah dari axon pada saraf spinal 63%- Kecepatan pengantar inpuls saraf 90%- Berat badan 88%

Banyak faktor yang mempengaruhi proses penuaan tersebut sehingga muncullah teori-teori yang menjelaskan mengenai faktor penyebab proses penuaan ini. Diantara teori yang terkenal adalah teori Telomere dan teori radikal bebas.

Adapun faktor yang mempengaruhi proses penuaan tersebut dapat dibagi atas dua bagian yaitu :

1. Faktor genetik, yang melibatkan :

- “ jam gen “- Perbaikan DNA- Respon terhadap stress- Pertahanan terhadap antioksidan

2. Faktor lingkungan, yang melibatkan:

- pemasukan kalori- penyakit-penyakit- Stress dari luar (misalnya : radiasi, bahan-bahan kimia)

Kedua faktor tersebut akan mempengaruhi aktifitas metabolisme sel yang akan menyebabkan terjadinya stress oksidasi sehinga terjadi kerusakan pada sel yang menyebabkan terjadinya proses penuaan.

Page 3: Modul 1 Inkontinensia Urin

TEORI GENETIKA

Proses penuaan kelihatannya mempunyai komponen genetik. Hal ini dapat dilihat dari pengamatan bahwa anggota keluarga yang sama cenderung hidup pada umur yang sama dan umurnya mempunyai umur yang rata-rata sama, tanpa mengikut sertakan meninggal akibat kecelakaan dan penyakit. Mekanisme penuaan yang jelas secara genetik belumlah jelas, tetapi penting jadi catatan bahwa lamanya hidup kelihatannya diturunkan melalui garis wanita dan seluruh mitokondria mamalia berasal dari telur dan tidak ada satupun dipindahkan melalui spermatozoa. Pengalaman kultur sel sugestif bahwa beberapa gen yang mempengaruhi penuaan terdapat pada kromosom 1, tetapi bagaimana cara mereka mempengaruhi penuaan masih belum jelas. Disamping itu terdapat juga “eksperimen alami” yang baik dimana beberapa manusia dengan kondisi genetik yang jarang (progerias) seperti sindroma Werner menunjukkan penuaan yang premature dan meninggal akibat penyakit usia lanjut seperti ateroma derajat berat pada usianya yang masih belasan tahun atau permulaan remaja.Serupa dengan itu, penderita sindroma Down pada umumnya proses penuaannya lebih cepat dibandingkan dengan populasi lain. Disamping itu fibroblasnya mampu membelah dalam jumlah lebih sedikit di dalam kultur dibandingkan dengan control yang umurnya sama. Tetapi ini masih sangat jauh dari bukti akhir bahwa penuaan merupakan kondisi genetik; hal ini hanya menunjukkan kepada kita bahwa beberapa bentuk penuaan dipengaruhi oleh mekanisme genetik.

TEORI TELOMERE

Pada ujung setiap kromosom, terdapat sekuen pendek DNA nontranskripsi yang dapat diulang berkali-kali (TTAGGG), yang dikenal sebagai telomere. Sekuen telomere ini tidak seluruhnya terkopi sepanjang sintesis DNA menuju ke mitosis. Sebagai hasilnya, ekor untaian tunggal DNA ditinggal di ujung setiap kromosom; ini akan dibuang dan, pada setiap pembelahan sel, telomere menjadi pendeksel. Pada saat sel somatik bereplikasi, satu potongan kecil tiap susunan telomere tidak berduplikasi, dan telomere memendek secara progresif. Akhirnya, setelah pembelahan sel yang multiple, telomere yang terpotong parah diperkirakan mensinyal proses penuaan sel. Namun demikian, pada sel germ dan sel stem panjang telomere diperbaiki setelah pembelahan tiap sel oleh enzim khusus yang disebut telomerase.

Pemendekan telomere dapat menjelaskan batas replikasi (“Hayflick”) sel. Hal ini didukung oleh penemuaan bahwa panjang telomer berkurang sesuai umur individu darimana kromosom didapat. Dari pengamatan jangka panjang bahwa fibroblast manusia dewasa normal pada kultur sel, memiliki rentang masa hidup tertentu; fibroblast berhenti membelah dan menjadi menua setelah kira-kira 50 kali penggandaan. Fibroblast neonatus mengalami sekitar 65 kali

Page 4: Modul 1 Inkontinensia Urin

penggandaan sebelum berhenti membelah, sementara itu fibroblast pada pasien dengan progeria, yang berusia premature, hanya memperlihatkan 35 kali penggandaan atau lebih. Menuanya fibroblas manusia dalam biakan dapat dihindari secara parsial dengan melumpuhkan gen RB dan TP 53. Namun sel ini akhirnya juga mengalami suatu krisis, yang ditandai dengan kematiaan sel masif.

TEORI “ WEAR AND TEAR”

Teori “Wear and Tear” disebut juga teori “Pakai dan Lepas”. Teori ini memberi kesan bahwa hilangnya sel secara normal akibat dari perubahan dalam kehidupan sehari-hari dan penumpukan rangsang subletal dalam sel yang berakhir dengan kegagalan sistem yang cukup besar sehingga keseluruhan organisme akan mati. Teori ini memberikan penjelasan yang baik mengapa kegagalan jantung dan system saraf sentral merupakan penyebab yang sering pada kematian; sel-sel yang mempunyai fungsi penting pada jaringan ini tidak mempunyai kemampuaan regenerasi. Teori ini sama sekali tergantung pada pandangan statistik penuaan. Pada teori ini kita mempunyai harapan hidup yang sama bagi setiap individu, namun perubahan panjang umur setiap individu diakibatkan oleh perubahan pola hidup dari individu itu sendiri.

Berbagai mekanisme seluler dan subseluler yang diperkirakan sebagai penyebab kesalahan penumpukan yang menyebabkan terjadinya penuaan sel adalah :

- ikatan silang protein- ikatan silang DNA- mutasi dalam DNA yang membuat gen yang penting tidak tersedia atau

berubah fungsinya- kerusakan mitokondria- cacat lain dalam penggunaan oksigen dan nutrisi

TEORI RADIKAL BEBAS

Berdasarkan penelitian Gomberg dan ilmuwan lainnya, istilah radikal bebas diartikan sebagai molekul yang relatif tidak stabil, mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan diorbit luarnya. Molekul tersebut bersifat reaktif dalam mencari pasangan elektronnya. Jika sudah terbentuk dalam tubuh maka akan terjadi reaksi berantai dan menghasilkan radikal bebas baru yang akhirnya jumlahnya terus bertambah.

Oksigen yang kita hirup akan diubah oleh sel tubuh secara konstan menjadi senyawa yang sangat reaktif, dikenal sebagai senyawa reaktif oksigen yang diterjemahkan dari reactive oxygen species (ROS), satu bentuk radikal bebas. Peristiwa ini berlangsung saat proses sintesa energi oleh mitokondria atau

Page 5: Modul 1 Inkontinensia Urin

proses detoksifikasi yang melibatkan enzim sitokrom P-450 di hati. Produksi ROS secara fisiologis ini merupakan konsekuensi logis dalam kehidupan aerobik.

Sebagian ROS berasal dari proses fisiologis tersebut (ROS endogen) dan lainnya adalah ROS eksogen, seperti berbagai polutan lingkungan (emisi kendaraan bermotor dan industri, asbes, asap rokok dan lain-lain), radiasi ionisasi, infeksi bakteri, jamur dan virus, serta paparan zat kimia ( termasuk obat) yang bersifat mengoksidasi. Ada berbagai jenis ROS, contohnya adalah superoksida anion, hidroksil, peroksil, hydrogen peroksida, singlet oksigen, dan lain sebagainya.

Didalam tubuh manusia sendiri juga dilengkapi oleh system defensive terhadap radikal bebas tersebut berupa perangkat antioksidan enzimatis (gluthatione, ubiquinol, catalase, superoxide dismutase, hydroperoksidase dan lain sebagainya). Antioksidan enzimatis endogen ini pertama kali dikemukakan oleh J.M. Mc Cord dan I. Fridovich yang menemukan enzim antioksidan alami dalam tubuh manusia dengan namasuperoksida dismutase (SOD). Hanya dalam waktu singkat setelah teori tersebut disampaikan, selanjutkan ditemukan enzim-enzim antioksidan endogen lainnya seperti glutation peroksidase dan katalase yang mengubah hydrogen peroksidase menjadi air dan oksigen.

Sebenarnya radikal bebas, termasuk ROS, penting artinya bagi kesehatan dan fungsi tubuh yang normal dalam memerangi peradangan, membunuh bakteri, dan mengendalikan tonus otot polos pembuluh darah dan organ-organ dalam tubuh kita. Namun bila dihasilkan melebihi batas kemampuan proteksi antioksidan seluler, maka dia akan menyerang sel itu sendiri. Struktur sel yang berubah turut merubah fungsinya, yang akan mengarah pada proses munculnya penyakit.

Stress oksidatif (oksidative stress) adalah ketidak seimbangan antara radikal bebas (prooksidan) dan antioksidan yang dipicu oleh dua kondisi umum :

- kurangnya antioksidan- Kelebihan produksi radikal bebas

Keadaan stress oksidatif membawa pada kerusakan oksidatif mulai dari tingkat sel, jaringan hingga ke organ tubuh, menyebabkan terjadinya percepatan proses penuaan dan munculnya penyakit. Teori penuaan dan radikal bebas pertama kali digulirkan oleh Denham Harman dari University of Nebraska Medical Center di Omaha, AS pada 1956 yang menyatakan bahwa tubuh mengalami penuaan karena serangan oksidasi dari zat-zat perusak.

TEORI PEROSES PENUAAN YANG LAIN

Page 6: Modul 1 Inkontinensia Urin

Ada beberapa teori proses penuaan yang lain yaitu :

1. Teori mutasi somatik

Teori ini mengemukakan bahwa proses penuaan diakibatkan oleh kerusakan pada integritas genetik sel-sel tubuh itu.

2. Teori akumulasi kesalahan

Teori ini mengemukakan bahwa proses penuaan diakibatkan adanya kesalahan pada kode genetic yang berangsur-angsur rusak yang kemudian menumpuk dan menyebabkan rusaknya kode genetic tersebut.

3. Teori akumulasi sampah

Menurut teori ini proses penuaan disebabkan karena menumpuknya sisa-sisa pembuangan (sampah metabolisme) yang akhirnya menyebabkan kerusakan pada sistem metabolisme.

4. Teori Autoimune

Penuaan yang terjadi disebabkan karena terbentuknya autoantibodi yang menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Hal ini dapat terlihat pada radang lambung atropi, Hashimoto tiroiditis.

5. Teori “Aging Clock”

Teori ini mengemukakan bahwa proses penuaan disebabkan karena suatu urutan yang telah terprogram, seperti halnya jam, dimana telah diatur oleh saraf atau sistem endokrin kita. Sel-sel membelah dan terjadi pemendekan dari telomer ini seperti jam yang telah diatur waktunya.

6. Teori “cross-linkage”

Penuaan terjadi karena akumulasi dari cross-linkage yang mana akan menghalangi fungsi sel normal

7. Mitohormesis

Sejak tahun 1930 diketahui bahwa membatasi asupan kalori mencegah timbulnya proses penuaan. Baru-baru ini, Michael Ristow menunjukkan bahwa penundaan proses penuaan dapat dilakukan dengan meningkatkan antioksidan yang menghambat pembentukan radikal bebas dalam mitokondria.

Page 7: Modul 1 Inkontinensia Urin
Page 8: Modul 1 Inkontinensia Urin

2. Perubahan anatomi dan fisiologi organ terkait6

Beberapa perubahan anatomi dan fisiologis yang terjadi ketika memasuki usia lanjut adalah :

o TulangKepadatan tulang akan menurun, dengan bertambahnya usia. Kehilangan massa tulang terjadi secara perlahan pada pria dan wanita dimulai pada usia 35 tahun yaitu usia dimana massa tulang puncak tercapai. Dampaknya tulang akan mudah rapuh (keropos) dan patah, mengalami cedera, trauma yang kecil saja dapat menyebabkan fraktur.

o OtotPenurunan berat badan sebagai akibat hilangnya jaringan otot dan jaringan lemak tubuh. Presentasi lemak tubuh bertambah pada usia 40 tahun dan berkurang setelah usia 70 tahun. Penurunan Lean Body Mass ( otot, organ tubuh, tulang) dan metabolisme dalam sel-sel otot berkurang sesuai dengan usia. Penurunan kekuatan otot mengakibatkan orang sering merasa letih dan merasa lemah, daya tahan tubuh menurun karena terjadi atrofi. Berkurangnya protein tubuh akan menambah lemak tubuh. Perubahan metabolisme lemak ditandai dengan naiknya kadar kolesterol total dan trigliserida.

o Urogenitalia

1. Ginjal : Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun, proteinuria (biasanya + 1) ; BUN (Blood Urea Nitrogen) meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.

2. Vesika urinaria : Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml yang menyebabkan frekwensi buang air kecil meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.

3. Pada Vesica Urinaria (kandung kencing) tampak aktivitas kendali spincter dan detrusor hilang, sehingga sering kencing tanpa sadar

4. Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahuno Jantung dan Pembuluh darah

Perubahan yang terkait dengan ketuaan sulit dibedakan dengan perubahan yang diakibatkan oleh penyakit. Pada lansia jumlah jaringan ikat pada jantung (baik katup maupun ventrikel) meningkat sehingga efisien fungsi pompa jantung berkurang. Pembuluh darah besar terutama aorta menebal dan menjadi fibrosis. Pengerasan ini, selain mengurangi aliran darah dan meningkatkan kerja ventrikel kiri,juga mengakibatkan ketidak efisienan baroreseptor (tertanam pada dinding aorta, arteri

Page 9: Modul 1 Inkontinensia Urin

pulmonalis, sinus karotikus). Kemampuan tubuh untuk mengatur tekanan darah berkurang.

o Fungsi imunologikPenurunan fungsi imunologik sesuai dengan umur yang berakibat tingginya kemungkinan terjadinya infeksi dan keganasan. Ada kemungkinan jika terjadi peningkatan pemasukan vitamin dan mineral termasuk zinc, dapat meniadakan reaksi ini.

Page 10: Modul 1 Inkontinensia Urin

System/ organ Perubahan morfologik Perubahan fungsional Perubahan patologikardiovaskuler Arteri (termasuk

aorta)memanjang dan berkelok Penebalan intima arterimeningkat, tunika media kaku dan fibrotik Degenerasi katup jantung,klasifikasi / sklerosis yang kadang sampai septuminterventrikulis Perubahan miokardial:ddeposit lipofuchsin,fibrosis dan amiloidosismiokardial.Atrofi dan fibrosis tunikamedia, hiperplasia tunikaintima a. Koronaria“Brown athropy” hanya dalam hubungannya dengan keadaan patolgis yangsangat berat: malnutrisi,karsinoma, anemia pernisiosa dll (berat jantung berhubungan dengan berat badan) Ateroma, kekerapannya meningkat pada penuaan,mungkin akibat HT / merokok

” Venous return” di leher kiri sering terblok (periksaJVP dileherkanan)Sukar tentukan letak apeks,kalau ada kaku/ distrosikarena kiposkiliosis.Fungsi baroreseptor menurun Katup kaku timbulkan bising:1) Sistolik di A, regurgitasi di M, tak harus signifikan2)Tak ada perubahan /degenerative jantung yang spesifik akibat menua (tak ada”penyakit jantung senelis”)3)Secara umum:4)Curah jantung menurun akibat isisekuncup menurunakibatnya kecepatan kerja fisik menurun5)Latihan fisik yangsama naikkanTD/denyut jantung orang tua> dari orang muda6)Konfusio mental dan kelelahan menyebabkan harus kan meningkatkan akan penyakit jantung padalansia (gejala ini lebih sering disbanding nyeri anginal / sesak napas)

IHD/IHSS/Dekom.Kordis/MVP? Aritmia kordis meningkatHT sistolik /diastolik meningkat Pseudo HT meningkat Hipotensi postural meningkat Penyakit jantung katup (A,M) meningkat IHD merupakan penyebab utama gagal jantung pada usia lanjut

SistemLokomotorik : Otot

Terjadi atrofi pada otot, baik dalm jumlah atau ukurannya disebabkan oleh gangguan metabolik dan denervasi fungsional

Massa otot menghilangHilangnya berkas ototHernia: ekstra dan intraabdominal Penurunan kekeuatan fisik:”kelemahan fisiologik”Disabilitis, keterbatasan jangkauan dan kecepatangerak, sbg akibat dari gabungan dari kelemahan otot, kaku sendi danmekanisme sentral penampilan sensori – motorik:1.Berkurangnya ketepatandalam gerakan halusdan gerak yang berubah cepat2.Ketepatan waktu dalamgerakan jadi tak teratur, kelembutanaliran gerakan darigerakan satu kegerakan lainmenghilang3.Gerakanyang satu melambat dulu sebelum mulai pergerakan

Pengecilan otot, terutama ekstermitas distal Kelemahan ”patologik”:1.Metabolisme:defisiensi Ca, K, dan Vitamin D2.Endokrin:tirotoksikasis, sindromacushing, miopatikortison3.Penyakit kardiorespirasi, anemiaanoksia.Karsinomatosis

tulang Osteoporosis: penipisan trabekulae dan melebarkannya r o n g g a

A s i m t o m a t i k a t a u n y e r i punggung ringan, kifosis, bungkuk dan tinggi

Osteoporosis meningkat Nyeri punggung berat,kifosos dan fraktur

Page 11: Modul 1 Inkontinensia Urin
Page 12: Modul 1 Inkontinensia Urin

3. Proses pengisian dan pengeluaran urin normal7,8

Miksi adalah proses pengeluaran urine melalui uretra yang prosesnya terdiri dari dua bagian penting:1. Kandung kemih akan terisi secara progresif yang akan meningkatkan

tegangan pada dinding pada vesika dan akan terus meningkat sampai di atas nilai ambang batas yang selanjutnya akan mencetuskan proses kedua terjadi.

2. Timbul refleks berkemih yang disebut dengan refleks miksi yang akan berusaha untuk mengosongkan vesika atau jika gagal setidaknya akan menimbulkan keinginan untuk berkemih atau mengeluarkan urine dari vesika yang telah terisi penuh melalui uretra.

A. PengisianDinding ureter terdiri dari otot polos spiral, memanjang dan melingkar

namun tidak ada sekat atau batas tertentu untuk dapat membedakan ketiga otot polos ini dalam lapisandinding dari ureter tersebut. Gerakan peristaltik yang terjadi akan secara perlahan membantu mendorong urine dari pelvis renalis menuju kandung kemih atau vesika urinaria. Urine akan masuk ke dalam kandung kemih secara perlahan sesuai dengan irama dari gelombang peristaltik tadi.

Ureter menembus vesika urinaria secara miring, sehingga meskipun tidak ada sfingter khusus untuk ureter, keadaan kemiriangan tadi cenderung akan menjempit ureter sehingga ureter tertutup kecuali ketika ada gelombang peristaltik tadi, dan refluks dari vesika dapat dicegah

B. PengosonganOtot pada kandung kemih sama dengan yang ada pada ureter yaitu otot

polos yang spiral, memanjang dan melingkar. Kontraksi dari otot melingkat yang disebut sebagai otot detrusor yang berperan sangat penting pada pengosongan vesika selama miksi atau berkemih.

Berkas dari otot ini berada di sebelah kiri dan kanan dari uretra sehingga terkadang disebut sebagai sfingter uretra interna meskipun pada kenyataan otot polos ini tidak sepenuhnya melingkari uretra. Pada bagian distal dari uretra akan ditemukan sfingter uretra eksterna.

Berkemih pada dasarnya merupakan reflex spinal yang di fasilitasi dan dihambat oleh persarafan yang lebih tinggi. Akan tetapi sama halnya dengan proses defekasi, berkemih atau miksi pun dapat dikendalikan secara volunteer baik pada proses pengeluarannya maupun proses penghambatannya. Pada saat vesica mulai terisi urin, perasaan untuk berkemih belum terasa sampai akhirnya vesika akan penuh dan pterjadi peregangan dari vesika tersebut barulah seseorang akan merasakan keinginan untuk miksi. Otot pada vesika sama dengan otot lainnya memiliki sifat plastis, yaitu keadaaan dima ketika otot tersebut dirangsang untuk tegang maka secara otomatis otot tersebut tidak akan melakukan pertahanan tegangan.

Page 13: Modul 1 Inkontinensia Urin

Pada penelitian dimana diperhatikan hubungan antara tekanan intravesika dengan volume vesika dimana dilakukan dengan pemasangan kateter dapat dilihat hubungan antara keduanya. Dari kurva yang terlihat pada pengisisan awal, peningkatan tekanan yang terjadi cukup kecil yang kemudian disusul dengan pengisian segmen yang panjang dan hampir rata pada pengisian selanjutnya timbul peningkatan yang tajam dan secara tiba-tiba akan tercetus reflex untuk miksi. Keinginan pertama untuk berkemih adalah ketika vesika terisi sekitar 150 ml urine dan rasa penuh timbul ketika vesika terisi sekitar 400 ml urine.

Hukum Laplace mengatakan bahwa tekanan dari vesika bulat sama dengan dua kali tengangan berbanding terbalik dengan jari-jari vesika. Pada vesika, tegangan akan meningkat ketika vesika mulai terisi namun dengan demikian secara otomatis jari-jari pada vesika juga akan meningkat. Oleh karena itu, peningkatan tegangan dari vesika tidak akan terlalu besar setiap kali pengisian terlebih pada pengisisan pertama kali dan akan benar-benar meningkat ketika vesika tersebut relative akan penuh.

Selama proses berkemih, otot perineum dan sfingter urethra eksterna akan melemas menyebabkan urin akan mengalir ke urethra. Kedua otot yang berada pada sisi urethra justru tidak bekerja atau tidak melakukan suatu reaksi tertentu pada sat berkemih. Kemungkinan kedua otot ini berperan sebagai sfingter untuk urethra agar tidak terjadi refluks dari semen pada saat terjadinya ejakulasi.

Meknisme dari terjadinya volunteer berkemih secara fisioogis belum diketahui jelas bagaimana prosesnya dan disebakan oleh apa. Dengan sementara menyebutkan hal tersebut bisa saja terjadi karena relaksasi dari otot panggul, dan hal ini mungkin menimbulkan penarikan kebawah yang cukup besar pada otot detrusor untuk merangsang kontraksi. Kontraksi dari otot perineum dan otot sfingter urethra eksterna dapat dikendalikansecara volunteer sehingga dapat mencegah mengalirnya urin melalui urethra atau menghentikan aliran urin saat sedang berkemih.

C. Proses Pengendalian BerkemihPada saatvesika mulai terisai terjadi adanya peningkata tekanan pada

vesika yang menyebabkan reseptor pada bagian posterior dari vesia akan meneruskan rangsangan peregangan tadi kepada reseptor regang sesorik yang berada pada didnding vesika. Selanjutnya sinyal sensorik tersebut akan dikirimkan menuju segmen sacral medulla spinalis melalui nervus pelvikus yang akan dekembalika lagi ke vesika melalui searbut-serabut saraf parasimpatis menuju ke saraf simpatis. Kemudian akan terjadi peningkatan reflex kontraksi pada vesika. Proses ini akan terus terjadi sampai dengan kontraksi pada vesika sangat kuat untuk melawan penghambatan dari sfinger urethra eksternus.

Sesekali reflex berkemih cukup kuat, hal ini akan menimbulkan reflex lain yang berjalan melalui nervus pudendal ke sfingter urethra eksternal untuk

Page 14: Modul 1 Inkontinensia Urin

menghambatnya. Apabila inhibisi ini lebih besar dari otak dibandingkan kontriktor volunter ke sfingter eksterna, maka berkemihpun terjadi. Apabila inhibisis berhasil terjadi atau jauh lebih kuat dari konstraksi yang timbul pada vesikel maka berkemih tidak akan terjadi sampai dengan vesika kembali terisi oleh urine dan adanyan reflex berkemih yang akan lebih besar untuk melawan inhibisi tersebut.

Page 15: Modul 1 Inkontinensia Urin

4. Faktor predisposisi inkontinenisa urin9

1. UsiaUsia bukan hanya berpengaruh pada eliminasi feses dan urine saja, tetapi

juga berpengaruh terhadap kontrol eliminasi itu sendiri. Anak-anak masih belum mampu untuk mengontrol buang air besar maupun buang air kecil karena sistem neuromuskulernya belum berkembang dengan baik. Manusia usia lanjut juga akan mengalami perubahan dalam eliminasi tersebut. Biasanya terjadi penurunan tonus otot, sehingga peristaltik menjadi lambat. Hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam pengontrolan eliminasi feses, sehingga pada manusia usia lanjut berisiko mengalami konstipasi. Begitu pula pada eliminasi urine, terjadi penurunan kontrol otot sfingter sehingga terjadi inkontinensia

2. DietPemilihan makanan yang kurang memerhatikan unsur manfaatnya,

misalnya jengkol, dapat menghambat proses miksi. Jengkol dapat menghambat miksi karena kandungan pada jengkol yaitu asam jengkolat, dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan terbentuknya kristal asam jengkolat yang akan menyumbat saluran kemih sehingga pengeluaran urine menjadi terganggu. Selain itu, urine juga dapat menjadi bau jengkol. Malnutrisi menjadi dasar terjadinya penurunan tonus otot, sehingga mengurangi kemampuan seseorang untuk mengeluarkan feses maupun urine. Selain itu malnutrisi menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi yang menyerang pada organ pencernaan maupun organ perkemihan.

3. CairanKurangnya intake cairan menyebabkan volume darah yang masuk ke

ginjal untuk difiltrasi menjadi berkurang sehingga urine menjadi berkurang dan lebih pekat.

4. Latihan fisikLatihan fisik membantu seseorang untuk mempertahankan tonus otot.

Tonus otot yang baik dati otot-otot abdominal, otol pelvis, dan diagfragma sangat penting bagi miksi.

5. Stres psikologiKetika seseorang mengalami kecemasan atau ketakutan, terkadang ia

akan mengalami diare ataupun beser.6. Temperatur

Seseorang yang demam akan mengalami peningkatan penguapan cairan tubuh karena meningkatnya aktivitas metabolik. Hal tersebut menyebabkan tubuh akan kekurangan cairan sehingga dampaknya berpotensi terjadi konstipasi dan pengeluaran urine menjadi sedikit. Selain itu, demam juga dapat memegaruhi nafsu makan yaitu terjadi anoreksia, kelemahan otot, dan penurunan intake cairan.

7. NyeriSeseorang yang berasa dalam keadaan nyeri sulit untuk makan, diet yang

seimbang, maupun nyaman. Oleh karena itu berpangaruh pada eliminasi urine.

Page 16: Modul 1 Inkontinensia Urin

8. SosiokulturalAdat istiadat tentang privasi berkemih berbeda-beda. Contoh saja di

masyarakat Amerika Utara mengharapkan agar fasilitas toilet merupaka sesuatu yang pribadi , sementara budaya Eropa menerima fasilitas toilet yang digunakan secara bersama-sama.

9. Status volumeApabila cairan dan konsentrasi eletrolit serta solut berada dalam

keseimbangan, peningkatakan asupan cairan dapat menyebabkan peningkatan produksi urine. Cairan yang diminum akan meningkatakan volume filtrat glomerulus dan eksresi urin.

10. PenyakitAdanya luka pada saraf perifer yang menuju kandung kemih

menyebabkan hilangnya tonus kandung kemih, berkurangnya sensasi penuh kandung kemih, dan individu mengalami kesulitan untuk mengontrol urinasi. Misalnya diabetes melitus dan sklerosis multiple menyebabkan kondusi neuropatik yang mengubah fungsikandung kemih. Artritis reumatoid, penyakit sendi degeneratif dan parkinson, penyakit ginjal kronis atau penyakit ginjal tahap akhir.

11. Prosedur bedahKlien bedah sering memiliki perubahan keseimbangan cairan sebelum

menjalani pembedahan yang diakibatkan oleh proses penyakit atau puasa praoperasi, yang memperburuk berkurangnya keluaran urine. Respons stres juga meningkatkan kadar aldosteron menyebabkan berkurangnya keluaran urine dalam upaya mempertahankan volume sirkulasi cairan.

12. Obat-obatanRetensi urine dapat disebabkan oleh penggunaan obat antikolinergik

(atropin), antihistamin (sudafed), antihipertensi (aldomet), dan obat penyekat beta adrenergik (inderal).

Page 17: Modul 1 Inkontinensia Urin

5. Pendekatan diagnosis pada inkontinensia urin10

Langkah – langkah untuk menegakkan diagnosis pada pasien a. Anamnesis

a. Identitas Pasienb. Keluhan Utama c. Sejak Kapan keluhan dirasakand. Adakah rasa nyeri saat berkemihe. Adakah urine keluar tanpa disadari misalnya saat batuk, mengedan atau

rasa ingin kencing yang terus-terus f. Sering ngompol waktu tidur atau tidakg. Gejala-gejala lain yang berkaitanh. Riwayat Penyakit-penyakit selama ini: DM, hipertensi, ISK, hematuri i. Operasi sebelumnya j. Obat-obat yang sering dikonsumsi k. Kebiasaan hidup, makan dan minum : kopi, teh manis, alkohol, dll l. Kehidupan seksual m. Bowel habit à sering konstipasi, mengedan

b. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum dan tanda vitalb. Inspeksi genitalia eksterna c. Palpasi Abdomen : ada tumor atau tidak, buli-buli teraba/tidak d. Rectal Toucher : meraba hipertrofi prostat, menentukan kekuatan tonus

sfingter dan otot dasar panggule. Pemeriksaan neurologis

a. Reflex ani b. Reflex bulbocavernosis

f. Pemeriksaan meatus urethra sementara batuk/ mengedan waktu buli-buli sementara penuh (Cough stress test) .

c. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium : Urinalisis untuk mengetahui adanya infeksi atau tidak,

hematuri, pyuria. b. Darah : Gula darah , Fungsi ginjal. c. Mengukur urin sisa post miksi : USG atau langsung dengan kateterd. Urodynamic evaluation / uroflow : menilai kekuatan otot detrusore. urethro cystoscopi à melihat keadaan buli-buli dan urethra.

Pendekatan diagnosis inkontinensia urinSecara sistematis dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisik dan

kemudian dengan pemeriksaan penunjang dicari faktor-faktor inkontinensia. Dalam anamnesis juga dievaluasi mengenai pola asupan cairan pasien, obat-obatan yang diminum (diuretik, psikotropik, antikolinergik), penyakit-penyakit tertentu (diabetes mellitus, strok, demensia, dsb) dangejala yang berkaitan dengan saluranurin (disuria, gangguan berkemih).

Semua waktu berkemih dan jumlah urin, serta kejadian inkontinensia urin perlu dicatat selama 2-7 hari. Catatan ini dapat memberikan kunci diagnostik

Page 18: Modul 1 Inkontinensia Urin

yang berharga. Sebagai contoh, inkontinensia yang terjadi hanya antara jam 8.00 sampai siang hari mungkin disebabkan oleh diuretik yang diminum pagi hari.

Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan abdomen, rectum, dan genital untuk mencari adanya pembesaran kandung kemih atau prostat atau gangguan saraf sacrum. Pada pasien usila yang sudah renta/rapuh perlu diperhatikan status mobilitas dan status mentalnya karena berkaitan dengan terjadinya inkontinensia urin. Terabanya kandung kemih pada pemeriksaan fisik mungkin menunjukkan adanya inkontinensia overflow akibat dari obstruksi kandung kemih atau tidak berkontraksinya kandung kemih. Sistokel yang besar menunjukkan adanya inkontinensia stress, hipestesia perianal menunjukkan inkontinensia overflow akibat denervasi sakral. Adanya parkinsonisme atau riwayat strok mengarahkan kemungkinan suatu inkontinensia urgensi akibat ketidakstabilan kandung kemih.

Pendekatan berikut mungkin relative tidak invasif, akurat, hemat biaya dan ditoleransi dengan baik. Tahap pertama adalah mengidentifikasi adanya inkontinensia urin tipe overflow (sisa air kemih lebih atau sama dengan 450 ml), bila sesuai secara klinis, pasien dapat dirujuk keahliurologi dan dapat dikateterisasi. Untuk 90-95% pasien sisanya tergantung jenis kelamin pasien. Karena obstruksi jarang terjadi pada pasien wanita, diagnosis banding umumnya antara inkontinensia stress atau over aktivitas detrusor. Kebocoran akibat stress atau tekanan harus dicari selama pemeriksaan dengan mengajukan pertanyaan kepada pasien, bila pasien usila wanita tersebut merasakan bahwa kandung kemihnya penuh, diminta untuk beristirahat dan batuk dengan kuat segera sehingga kebocoran dapat segera diamati. Tidak hanya kebocoran yang teratur pada saat dilakukan stress maneuvers merupakan bukti yang kuat bahwa bukan suatu inkontinensia stress.

Pada pria, inkontinensia urin tipe stress jarang dijumpai. Masalah yang biasanya dijumpai adalah membedakan overaktivitas detrusor dengan obstruksi. Tahapan berikutnya adalah mencari kemungkinan adanya hidronefrosis pada pria dengan sisa urin melebihi 200 ml, dan merujuknya atau mengosongkan kandung kemih (dekompresi). Bila hidronefrosis tidak dijumpai namun terdapat obstruksi, pasien tetap dirujuk untuk menjalani kemungkinan tindakan pembedahan. Untuk yang lain, pada pasien-pasien dengan gejala inkontinensia urgensi diduga karena overaktivitas detrusor dapat diberi pengobatan. Obat-obat untuk merelaksasi kandung kemih seyogyanya dihindari pada pasien dengan sisa urin 150 ml atau lebih. Pendekatan yang sama juga disarankan pada pasien dengan gangguan kognitif yang dapat diamati secara dekat. Pasien usila pria tanpa inkontinensia urgensi yang gagal dengan terapi empiris, dan yang terganggu fungsi kognitifnya harus dirujuk.

Page 19: Modul 1 Inkontinensia Urin

6. Tipe inkontinensia urin11

Mengetahui penyebab inkontinensia sangat penting untuk pengelolaan yang tepat, pertama-tama harus diusahakan membedakan apakah penyebab inkontinensia berasal dari:

a. Kelainan urologik ; misalnya radang, batu, tumor, divertikel.b. Kelainan neurologik ; misalnya stroke, trauma pada medulla spinalis,

demensia dllc. Lain-lain ; misalnya hambatan mobilitas, situasi tempat berkemih yang

tidak memadai/jauh dan sebagainya.

Kemudian harus diteliti lagi apakah :

1. Inkontinensia terjadi secara akut, yang biasanya reversibel. Inkontinensia yang terjadi secara akut ini, terjadi secara mendadak, biasanya berkaitan dengan sakit yang sedang diderita atau masalah obat-obatan yang digunakan(iatrogenik). Inkontinensia akan membaik, bila penyakit akut yang diderita sembuh atau obat penyebab dihentikan.

2. Inkontinensia yang menetap/kronik/persisten, tidak berkaitan dengan penyakit-penyakit akut ataupun obat-obatan, dan inkontinensia ini berlangsung lama.

Dari skenario inkontinensia pada pasien ini bisa karena inkontinensia terjadi secara akut dan juga bisa karena inkontinensia yang menetap. hal tersebut bisa terjadi karena :

Inkontinensia terjadi secara akut berkaitan dengan :

Pharmaceuticals : obat-obatan merupakan salah satu penyebab utama dari inkontinensia yang sementara, misalnya diuritika, antikolinergik, psikotropik, analgesik opioid, alfa bloker pada wanita, alfa agonis pada pria, dan penghambat kalsium.

Psychologic factors : depresi berat dengan retardasi psikomotor dapat menurunkan atau motivasi untuk mencapai tempat berkemih

Excess urine output : pengeluaran urin berlebihan dapat melampaui kemampuan orang usia lanjut mencapai kamar kecil. Selain obat-obatan deuritika, penyebab lain yang sering misalnya pengobatan gagal jantung, gangguan metabolik seperti hiperglikemia ataupun terlalu banyak minum.

Page 20: Modul 1 Inkontinensia Urin

Restricted mobility : hambatan mobilisasi untuk mencapai tempat berkemih, bila mobilitas belum dapat ditingkatkan, penyediaan urinal atau komodo dapat memperbaiki inkontinensia.

Penyebab-penyebab ini sering menyebabkan inkontinensia sementara, biarpun bila tidak dikenali dan diobati dapat menjadi inkontinensia berkelanjutan atau persisten.

Untuk inkontinensia menetap berkaitan dengan:

Aktifitas detrusor yang menurun (inkontinensia tipe overflow/luapan) : inkontinensia ini paling jarang dijumpai.dapat idiopatik, atau akibat gangguan persyarafan sacrum (neurologik bladder). Bila mengakibatkan inkontinensi, ditandai dengan sedikit berkemih, malam hari lebih sering, dengan jumlah urin sedikit-sedikit/kecil. Sisa urin residu setelah berkemih (biasanya sekita 450 cc).

Dari skenario diketahui bahwa pasien ini mengeluhkan buang air kecil yang sedikit sedikit dan merasa tidak puas setelah berkemih. hal tersebut berkenaan dengan aktivitas detrusor yang melemah dan sisa residu urin setelah berkemih yang masih banyak terdapat dalam kandung kemih, hal tersebut yang kemungkinan dirasakan pasien tidak puas setelah berkemih.

Secara umum, dengan bertambahnya usia, kapasitas kandung kemih menurun. sisa urin dalam kandung kemih, setiap selesai berkemih cenderung meningkat dan kontraksi otot-otot kandung kemih yang tidak teratur makin sering terjadi. kontraksi-kontraksi involunter ini ditemukan pada 40-75% orang lanjut usia yang mengalami inkontinensia.

Tipe fungisional

Inkontinensia urin tipe fungsional ditandai dengan keluarnya urin secara dini, akibat ketidakmampuan mencapai tempat berkemih karena gangguan fisik atau kognitif maupun macam-macam hambatan situasi/lingkungan yang lain, sebelum siap untuk berkemih. faktor-faktor psikologi seperti marah, depresi juga dapat menyebabkan inkontinensia tipe fungsional ini.

Berkenaan dengan skenario, pasien ini juga mengeluhkan lututnya yang sering sakit dan bengkak sehingga menyulitkan dalam bobilitas menuju kamar kecil, dan juga setahun terakhir pasien ini pembawaannya selalu marah, yang kemungkinan dapat memperparah keadaan inkontinensia tipe fungsional pada pasien.

Macam–macam inkontinensia ini dapat terjadi pada satu penderita secara bersamaan, sehingga membawa dampak juga pada strategi pengelolaanya (kane dkk.;whitehead)

Page 21: Modul 1 Inkontinensia Urin

Dari semua tipe yang dijelaskan diatas kemungkinan besar inkontinensia terjadi karena aktifitas detrusor yang menurun (inkontinensia tipe overflow/luapan), hal tersebut karena pasien sangat mengeluhakan berkemih yang sedikit-sedikit dan merasa tidak puas setelah berkemih.

Page 22: Modul 1 Inkontinensia Urin

7. Hubungan perubahan kepribadian dengan inkontinensia urin12

Proses penuaan pada seseorang sudah berlangsung sejak pembuahan/konsepsi sampai pada saat kematian, yang akan dipengaruhi oleh:

Kultur dan Etnik Genetik Kondisi fisiologis pada waktu konsepsi dan kelahiran Pertumbuhan dan maturasi Lingkungan

Proses penuaan mengakibatkan terganggunya berbagai organ didalam tubuh seperti sistem Gastro Intestinal, Sistem Genito Urinari, Sistem Endokrin, Sistem Immunologis Sistem serebrovaskulair dan Sistem saraf pusat, cardiovaskulair dsb.

Perubahan yang terjadi pada otak mulai dari tingkat molekuler terjadi Chemical deterioration, enzim terjadi Enzyme synthesis/denaturation, chromatin/histones terjadi Differential expression of genes, sampai pada struktur dan fungsi organ otak akibat dari perubahan tersebut maka konsekwensinya kemungkinan terjadi penurunan cerebral metabolic rate for glocose pada daerah tertentu, penurunan cerebral blood flow pada daerah tertentu, modifikasi selektif dari metabolisme neurotransmitter, nampak adanya plaque dan neurofiblary tangles, intraneuronal lipofusion, secara selektif deteroriasi axon, dendrit dan sinaps, selektif dan regional neuronall loss, pembesaran ventrikel sampai akhirnya pada atropi dari pada otak. Berat otak mengalami kekurangan 7% dari berat sebelumnya.

Akibat diatas maka fenomena yang muncul adalah adanya perubahan Struktural dan fisiologis, kemampuan sensoris, insomnia, personaliti, gangguan seksual dan gangguan kognitif perubahan ini bisa primer atau sekunder. Sehingga bisa menimbulkan berbagai gangguan jiwa seperti depresi, kecemasan dan psikotik dan gangguan saraf dementia, delirium, parkinson dsb.

Page 23: Modul 1 Inkontinensia Urin

8. Hubungan pengobatan yang dilakukan dengan inkontinensia urin13,14

Sebagian besar penderita inkontinensia adalah wanita. Pria lebih jarang mengalami gangguan ini, kecuali pada mereka yang telah menjalani operasi prostat. Banyak faktor pemicu inkontinensia pada orang dewasa, di antaranya yang paling umum adalah akibat kehamilan dan melahirkan. Hal ini biasanya disebabkan adanya perubahan otot di dasar panggul. Selain itu, konsumsi obat-obatan tertentu setiap hari juga dapat memicu inkontinensia. Berikut adalah tujuh pengobatan yang mungkin dapat menyebabkan inkontinensia:

1. Obat hipertensiOrang yang memiliki tekanan darah tinggi dan mengonsumsi obat

hipertensi seperti jenis alpha-blocker seperti doxazosin mesylate, prazosin hidroklorida, terazosin hydrochloride, mungkin berisiko mengalami inkontinensia. Mengapa? Karena alpha-blocker bekerja untuk menurunkan tekanan darah dengan mengendurkan dinding pembuluh darah. Masalahnya, obat ini ternyata juga mengendurkan kandung kemih bersamaan dengan pembuluh darah. Hal ini membuat Anda rentan terhadap stres inkontinensia, yang memungkinkan urin keluar tanpa sengaja ketika Anda bersin, batuk, tertawa, berlari, atau melompat.

2. Antidepresan dan obat mental lainnyaSeperti obat dengan efek antikolinergik, yang berarti obat yang

menghambat neurotransmitter seperti nortriptylene, amitriptyline, desipramine, benztropine, haloperidol dan risperidone.Obat-obatan tersebut mempengaruhi elastisitas kandung kemih sehingga urin terus memasuki kandung kemih, yang menyebabkan inkontinensia.

3. DiuretikBerbagai macam obat diuretik dengan nama merek Bumex, Lasix,

Aldactone atau jenis generik seperti bumetanide, spironolactone, furosemid, teofilin, dan semua jenis "thalazides" (seperti hydrochlorothiazide), adalah obat lini pertama yang paling sering diresepkan untuk hipertensi. Namun obat ini diketahui juga dapat memicu inkontinensia.

Obat-obatan diuretik dapat merangsang ginjal untuk membuang kelebihan air dan garam dari dalam tubuh. Karena tubuh memproduksi lebih banyak urin, hal ini membuat adanya peningkatan tekanan pada kandung kemih.

4. Dekongestan dan antihistaminObat dengan kandungan zat aktif seperti pseudoefedrin,

diphenhydramine juga dapat merangsang anda untuk mengompol.Cara kerja: Dekongestan yang mengandung pseudoefedrin dapat memicu

kontraksi sfingter uretra, menyebabkan retensi urin, yang pada wanita sering disertai dengan inkontinensia overflow mendadak. Namun, pada pria yang memiliki kebocoran setelah operasi prostat, konsumsi obat Sudafed justru dapat menekan otot-otot kandung kemih, sehingga mencegah kebocoran. Beberapa

Page 24: Modul 1 Inkontinensia Urin

jenis antihistamin juga dapat membuat Anda mengantuk, yang dapat menyebabkan inkontinensia pada orang tua khususnya.

5. Obat penenang dan obat tidurBeberapa obat penenang atau tidur seperti Ativan, Valium, Dalmane,

Lunesta, Ambien, diazepam, flurazepam, lorazepam, eszopiclone dan zolpidem dapat menjadi pemicu terjadinya inkontinensia.

Cara kerja: Konsumsi obat sedatif dapat memperlambat refleks Anda, sehingga Anda tidak mengenali sinyal bahwa sudah waktunya untuk pergi ke kamar mandi. Kebiasaan mengompol mempengaruhi sekitar 10 persen orang dengan inkontinensia, dan para ahli memperkirakan bahwa konsumsi obat tidur turut berkontribusi dalam memicu hal tersebut.

6. Obat penghilang rasa sakitSetiap obat penghilang rasa sakit berbahan dasar opium dapat

mengganggu kemampuan kandung kemih untuk berkontraksi penuh. Hal ini dapat menyebabkan retensi urin dan inkontinensia overflow.

Proses berkemih berlangsung dibawah control dan koordinasi sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi di daerah sakrum. Sensasi pertama ingin berkemih timbul saat volume kandung kemih atau vesica urinaria (VU) mencapai antara 150-350 ml. Kapasitas VU normal bervariasi sekitar 300-600 ml. Bila proses berkemih terjadi, otot-otot detrusor VU berkontraksi, diikuti relaksasi dari sfingter dan uretra. Tekanan dari otot detrusor meningkat melebihi tahanan dari muara uretra dan urin akan memancar keluar. Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul berada di bawah control volunter dan disuplai oleh saraf pudendal, sedangkan otot detrusor kandung kemih dan sfingter uretra internal berada di bawah kontrol sistem saraf otonom, yang mungkin dimodulasi oleh korteks otak. Proses berkemih diatur oleh pusat refleks kemih di daerah sakrum. Jaras aferen lewat persarafan somatik dan otonom membawa informasi tentang isi VU ke medulla spinalis sesuai pengisian VU. Ketika VU mulai terisi urin, rangsang saraf diteruskan melalui saraf pelvis dan medulla spinalis ke pusat saraf kortikal dan subkortikal. Pusat subkortikal (pada ganglia basal dan cerebellum) menyebabkan VU relaksasi sehingga dapat mengisi tanpa menyebabkan seseorang mengalami desakan untuk berkemih. Ketika pengisian VU berlanjut, rasa penggembungan VU disadari, dan pusat kortikal (pada lobus frontalis) bekerja menghambat pengeluaran urin. Gangguan pada pusat kortikal dan subkortikal karena obat atau penyakit dapat mengurangi kemampuan menunda pengeluaran urin.

Ketika terjadi desakan berkemih, rangsang dari korteks disalurkan melalui medulla spinalis dan saraf pelvis ke otot detrusor. Aksi kolinergik dari saraf pelvis kemudian menyebabkan otot detrusor berkontraksi. Kontraksi otot detrusor tidak hanya tergantung pada inervasi kolinergik, namun juga mengandung reseptor prostaglandin. Karena itu, prostaglandin-inhibiting drugs dapat mengganggu kontraksi detrusor. Kontraksi VU juga calcium-channel dependent,

Page 25: Modul 1 Inkontinensia Urin

karena itu calcium-channel blockers dapat mengganggu kontraksi VU. Interferensi aktivitas kolinergik saraf pelvis menyebabkan pengurangan kontraktilitas.

Aktivitas adrenergik-alfa menyebabkan sfingter uretra berkontraksi. Karena itu, pengobatan dengan agonis adrenergik-alfa (pseudoefedrin) dapat memperkuat kontraksi sfingter, sedangkan zat alpha-blocking dapat mengganggu penutupan sfingter. Inervasi adrenergik-beta merelaksasi sfingter uretra. Karena itu zat beta-adrenergic blocking (propanolol) dapat mengganggu dengan menyebabkan relaksasi uretra dan melepaskan aktifitas kontraktil adrenergic-alpha.

Mekanisme sfingter berkemih memerlukan angulasi yang tepat antara uretra dan VU. Fungsi sfingter uretra normal juga tergantung pada posisi yang tepat dari uretra sehingga dapat meningkatkan tekanan intra-abdomen secara efektif ditransmisikan ke uretra. Bila uretra di posisi yang tepat, urin tidak akan pada saat terdapat tekanan atau batuk yang meningkatkan tekanan intra-abdomen.

Mekanisme dasar proses berkemih diatur oleh berbagai refleks pada pusat berkemih. Pada fase pengisian, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom simpatis yang mengakibatkan penutupan leher VU, relaksasi dinding VU, serta penghambatan aktivitas parasimpatis dan mempertahankan inervasi somatik pada otot dasar panggul. Pada fase pengosongan, aktivitas simpatis dan somatik menurun, sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor dan pembukaan leher VU. Proses refleks ini dipengaruhi oleh sistem saraf yang lebih tinggi yaitu batang otak, korteks serebri dan serebelum. Peranan korteks serebri adalah menghambat, sedangkan batak otak dan supra spinal memfalisitasi.

Obat-obat yang kemungkinan dikonsumsi oleh pasien antara lain diuretik dan calcium channel blocker untuk menangani penyakit jantung dan Analgesik Opioid untuk menangani nyeri pada rematik. Diuretik merupakan salah satu obat dalam menangani penyakit jantung, namun kerja obat tersebut meningkatkan absorbsi di tubulus ginjal sehingga kecepatan produksi urin pun meningkat. Pada pasien yang juga memiliki riwayat stroke, muskulus detrusor pada kandung kemih mengalami kelemahan akibat serangan stroke. Oleh karena itu lemahnya muskulus detrusor ditambah peningkatan produksi urin semakin mempermudah pasien untuk berkemih tanpa disadari. Sedangkan Calcium Channel Blocker yang juga merupakan salah satu terapi medikamentosa pada penyakit jantung memiliki efek samping relaksasi otot kandung kemih, sehingga pada saat kandung kemih penuh, tidak ada kontraksi yang menahan aliran urin keluar melalui urethra. Begitupula dengan Analgesik Opioid, obat ini berefek pada peningktan kontraksi kandung kemih dan ureter dan juga berefek pada berkemih tanpa disadari.

Page 26: Modul 1 Inkontinensia Urin

9. Hubungan riwayat stroke dengan keluhan pasien15,16

Stroke merupakan masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan kecacatan dan kematian. Inkontinensia setelah stroke kadang-kadang terjadi pada pasien afasia (gangguan fungsi bicara) karena pasien tidak dapat menyampaikan keinginannya atau akibat gangguan pergerakan berat yang menyebabkan penderita terlambat menuju kamar mandi, ketidakmampuan untuk mengendalikan kandung kemih karena kerusakan kontrol motorik dan postural atau karena lokasi kelainan di otak.

Peran susunan saraf autonom perifer dalam mengatur dan memelihara kehidupan vegetatif jelas sekali. Pelaksanaan tugasnya berjalan secara reflektorik. Lagi pula, mekanisme proses reflektorik tersebut beroperasi terutama secara segmental dan sebagian terpengaruh oleh busur refleks suprasegmental dan supraspinal.

Pada kandung kemih dan uretra, kedua-duanya menerima persarafan sipmpatik dan parasimpatik. Ganglion-ganglion kedua komponen susunan autonom itu terletak di dekat bangunan yang dipersarafinya. Serabut-serabut postganglionar kedua komponen saraf autonom itu tiba pada “arget organ” melalui dinding pembuluh darah. Peran simpatetik bersifat inhibisi terhadap pengaruh eksitasi dari komponen parasimpatetik. Yang aktif dalam kontraksi otot detrusor kandung seni ialah komponen parasimpatik. Pusat parasimpatik pada S3 dan S4 adalah yang paling penting dalam penggalakan otot detrusor kandung kemih.

Miksi (kencing) merupakan suatu refleks yang mempunyai busur refleks supraspinal dan segmental-intraspinal. Penuhnya kandung kemih terasa karena lintasan asendens menyalurkan impuls yang dicetuskan oleh serabut efferent perifer akibat teregangnya otot detrusor. Tibanya impuls tersebut di korteks serebri memerlukan kesadaran akan penuhnya kandung kemih. Terputusnya lintasan impuls tersebut akan menghilangkan perasaan ingin kencing, yang sewajarnya timbul jika kandung kemih penug. Kelanjutan dari keadaan demikian ialah inkontinensia melimpah keluar (“overflow incontinence”).

Pada para penderita dengan lesi di medulla spinalis di atas conus medularis yang sudah menahun, kandung kemih dapat dikosongkan dengan jalan perangsangan pada daerah os pubis dan lipatan inguinal. Ada kalanya miksi timbul sewaktu kedua tungkai bergerak secara involuntary. Oleh karena itu kandung kemih semacam itu dinamakan “kandung kemih automatic”. Pengosongan secara reflektorik itu dapat dilaksanakan kerana busur refleks spinal yang terletak di conus medullaris masih utuh. Lain halnya dengan lesi di conus medullaris. Refleks miksi spinal sudah tidak mungkin sehingga pengosongan kandung kemih harus dilaksanakan dengan penekanan suprapubik, secara terus-menerus sampai air seni yang terkandung dikeluarkan semuanya. Karena busur refleks terputus oleh lesi di conus medularis atau saraf S3 dan S4,

Page 27: Modul 1 Inkontinensia Urin

maka tonus kandung kemih hilang dan kandung kemih semacam itu dinamakan “kandung kemih atonik”. Akibat keadaan tersebut ialah residu air seni setelah pengosongan dengan jalan penekanan supra pubik, masih cukup besar. Lama-kelamaan sfingter menjadi longgar dan timbullah inkontinensia.

Baik inkontinensia “kandung kemih atonik” maupun “kandung kemih automatic”, merupakan kelanjutan dari keadaan pada mana kandung kemih tidak dapat dikosongkan, yang dikenal dalam klinik sebagai “retensi urine”. Itu yang harus dibuka pada waktu otot detrusor berkontraksi untuk mengeluarkan air seni adalah otot sfingter internus dan eksternus. Aktivitas parasimpatik menggiatkan otot detrusor, tetapi sekaligus melemaskan otot sfingter internus. Pintu terdepan dari kandung kemih ialah otot sfinter eksternus yang bisa menutup dan membuka atas kemauan. Saraf yang mempersarafi otot sfingter eksternus adalah saraf motorik somatic (nervus pudendus S1, S2). Lesi pada saraf somatomotorik tersebut menimbulkan inkontinensia. Keadaan ini sering terjadi setelah partus pada mana otot sfingter eksternus atau saraf pudendus mengalami jejas.

Page 28: Modul 1 Inkontinensia Urin

10. Penatalaksanaan inkontinensia urin17,18

Penanganan awal yang diberikan pada pasien sesuai dengan kasus yakni dengan pemasangan kateter. Ada 3 cara pemasangan kateter pada inkontinensia urin:

1. Kateterisasi luarpada laki-laki dengan memakai sistem keteter-kondom. efek samping

yang ditimbulkan adalah iritasi kulit, dan sering lepas. ini digunakan terutama pada penderita retensi urin dan mobilitasnya masih baik.

2. Kateterisasi intermittendi gunakan terutama pada wanita usia lanjut. frekuensi pemasangannya

2-4 x sehari, dengan sangat memperhatikan sterilitas dan teknik prosedurnya.3. Kateterisasi secara menetap:

diindikasikan pada dekubitus yang terganggu penyembuhannya karena adanya inkontinensia urin. komplikasi: batu saluran kemih, abses ginjal, bahkan keganasan.

Pengelolahan inkontinensia akan cukup baikm hasilnya jika factor yang berpengaruh diperhatikan, dan tipe inkontinensia dapat diketahui dan di ketahui factor pencetusnya.

metode pengobatan inkontinensia urin ada tiga:

1. teknik latihan perilaku (Behavioral Training) yang mempelajari cara untuk megontrol kandung kemih dan otot-otot sfringter dengan latihan kandung kemih (bladder training) cara latihan otot dasar panggul (pelvic floor exercise). dengan menggunkan metode ini banyak penderita inkontinensia tertolong dan tanpa adanya resiko pengobatan.

2. obat-obatan3. Pembedahan: 76%-92% penderita yang membutuhkan operasi dapat

sembuh, (Finerty, 2003).

TEKNIK LATIHAN PERILAKUA. Latihan kandung kemih

Latihan kandung kemih mengikuti suatu jadwal yang ketat untuk ke kamar kecil/berkemih. jadwal dimulai dengan ke kamar kecil tiap dua jam, dan waktunya makin ditingkatkan. Makin lama waktu yang dicapai untuk berkemih, makin memberikan peningkatan control terhadap kandung kemih. latihan kandung kemih terbukti efektif untuk inkontinensia tipe strees dan urgensi.

B. Latihan menahan dorongan untuk berkemihCara yang dilkukan adalah:

- Berdiri tenang atau duduk diam, lebih baik jika kaki disilangkan. tindakan ini memcegah dorongan berlebih dari kandung kemih.

- tarik nafas teratur dan rileks

Page 29: Modul 1 Inkontinensia Urin

- kontraksikan otot-otot dasar panggul beberapa kali. ini akan menutup uretra dan menenangkan kandung kemih

- alihkan perhatian ke yang lain, untuk melupakan dorongan untuk berkemih

- bila rangsangan berkemih sudah menurun, jangan ke toilet jika belum waktu untuk berkemih.

C. Latihan otot dasar panggulMenurut penelitian, latihan otot dasar panggul untuk wanita terbukti dengan macam-macam tipe inkontinensia. Otot pelvis, seperti otot-otot yang lain dapat menjadi lemah. latihan ini bertujuan untuk melatih otot yang lemah di sekitar kandung kemih. untuk identifikasi otot yang harus dilatih, bayangkan saja kita untuk tidak flatus. otot yang kita pakai untuk menahan flatus adalah otot yang ingin kita latih.

OBAT-OBATAN

Jenis Obat Mekanisme Tipe inkontinensia

Efek samping

Nama obat dan dosis

Antikolinergik dan antispasmodic

- meningkatkan kapasits VU.

- mengurangi involunter VU

Urgensi/stress dgn instabilitas detrusor atau hiperfleksia

Mulut kering, konstipasi, delirium, penglihatn kabur,

- Oksibutinin 2,5-5 mg tid

- Tolterodin 2 mg bid- Propanthelin 15-30

mg tid- dicyclomine 10-20 mg- Imipramin 10-50 mg

tidα – Adrenergik agonis

Meningkatken kontraksi oto polos uretra

Tipe stress dgn kelemahan sfringter

Sakit kepala, takikardi, TD meningkat

- Pseudoefedrin 15-30 mg tid

- Phenylpropanolamine 75 mg bid

- Imipramin 10-50 mg tid

Kolinergik agonis

Menstimulasi kontraksi Vu

Tipe overflow dgn VU atonik

Bradikarsi, hipotensi, bronkokontriksi, sekresi asam lambung

Bethanechol 10-30 mg tid

α – Adrenergik antagonis

Merelaksasi otot polos uretra dan kapsul prostat

Tipe overflow, urgensi yang berhubungan dgn pembesaran prostat

Hipotensi postural

Terasozine 1-10 mg/hari

Page 30: Modul 1 Inkontinensia Urin

OPERATIF/ PEMBEDAHAN

Tindakan pembedahan yang dilakukan yakni Spinchterectomi, operasi prostat, dan operasi prolaps rahim.

Page 31: Modul 1 Inkontinensia Urin

11. Perspektif islam dari skenario19,20,21

Kebutuhan para lanjut usia (Lansia) tidak hanya terbatas pada perawatan medis dan kesehatan. Namun kebutuhan sosial dan ekonomi mereka seperti jaminan dan hak-hak-hak pensiunan, serta kebutuhan mental seperti perhatian dan menjaga martabat mereka sangat lebih diperlukan. Sehingga para lanjut usia selalu berada dalam kesehatan fisik dan mentalnya dengan baik

Dan (ingatlah wahai Muhammad), ketika Kami mengikat perjanjian setia dengan Bani Israil (dengan berfirman): "Janganlah kamu menyembah melainkan Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapa, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, serta orang-orang miskin dan katakanlah kepada sesama manusia perkataan-perkataan yang baik dan dirikanlah sembahyang serta berilah zakat". Kemudian kamu berpaling membelakangkan (perjanjian setia kamu itu) kecuali sebahagian kecil dari kamu dan sememangnya kamu orang-orang yang tidak menghiraukan perjanjian setianya.

Page 32: Modul 1 Inkontinensia Urin

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)

Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra : 23

Artinya :

Dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah berbuat baik ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaan, maka jangan sekali-sekali engkau mengatakan kepada ke duanya perkataan “Ah” dan janganlah engkau membentak mereka dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Surat Al-Isra : 24

Artinya:

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “ wahai tuhanku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil”.

Jika dilihat dari Sisi Sahnya Ibadah Sholat (Terkait dengan Thoharah)

Di antara syarat sahnya shalat didalam islam adalah suci pakaian dan suci badan dari hadats kecil maupun besar, sebagaimana firman Allah swt didalam surat al Maidah :

Page 33: Modul 1 Inkontinensia Urin

�ا �ه�ا ي ي� ذ�ين� أ ال �وا �ذ�ا آم�ن �م إ �ل�ى ق�م ت الصالة� إ �وا ل �م فاغ س� �م و�ج�وه�ك �ك د�ي ي

� و�أ �ل�ى اف�ق� إ م�ر� ال ح�وا �م و�ام س� ك ؤ�وس� �ر� �م ب �ك ل ج� ر

� �ل�ى و�أ �ين� إ �ع ب ك �ن ال �م و�إ �نت ك 2ا �ب ن ج� وا �ن ف�اطهر� �م و�إ �نت و مر ض�ى ك

� ف�ر6 ع�ل�ى أ و س�� د9 ج�اء أ �ح� م;ن� منك�م أ

�ط� غ�ائ و ال� �م� أ ت �م�س اء ال ;س� �م الن ف�ل �ج�د�وا م�اء ت �مم�وا �ي 2ا ص�ع�يد2ا ف�ت ;ب ط�ي ح�وا �م ف�ام س� �و�ج�وه�ك د�يك�م ب �ي ه� و�أ �ر�يد� م�ا م;ن Dه� ي �ج ع�ل� الل �ي ك�م ل �ي ج6 م;ن ع�ل ح�ر�

�ك�ن �ر�يد� و�ل �م ي ك �ط�هر� �ي �م ل �ت �ي �ه� و�ل �ع م�ت �م ن ك �ي �م ع�ل ك �ع�ل ون� ل �ر� ك �ش ت

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Maidah : 6)

Didalam surat al Mudatsir disebutkan :

�ك� �اب �ي ف�ط�ه;ر و�ث

Artinya : “dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al Mudatsir : 4)

Sunnah yang mulia telah menjelaskan tentang urgensi suci dari kencing serta suci pakaian dan badan sebagaimana dianjurkan Rasulullah saw didalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas,”Sucikan (dirimu) dari air kencing.”

Juga yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata,”Rasulullah saw pernah melewati dua kuburan dan beliau saw bersada,’Sesungguhnya kedua orang ini sedang diadzab dan tidaklah mereka berdua didzab karena suatu dosa besar. Adapun salah seorang dari mereka berdua diadzab karena suka mengadu domba sedangkan yang lainnya (diadzab) karena tidak bersembunyi saat kencing.” Didalam riwayat lain disebutkan,”Sedangkan yang lainnya karena tidak bersuci dari air kencing.”

Dari sini para ulama telah bersepakat bahwa wudhu batal disebabkan keluarnya sesuatu dari lubang bagian depan maupun belakang (qubul dan dubur) secara mutlak—didalam keadaan sehatnya. Dan apabila sesuatu itu keluar dalam keadaan sakit seperti sering keluar air kencing (enuresis) sementara dirinya tidak mampu menahannya maka orang ini mendapat pemaafan menurut pendapat para fuqaha namun para fuqaha mewajibkan orang terseut setelah kencing dan

Page 34: Modul 1 Inkontinensia Urin

istinja’ atau membersihkan bagian tempat keluarnya air kencing agar menyumpal dan membalutnya untuk menahan dari keluarnya air kencing sesuai dengan kemampuannya. (Buhuts wa Fatawa Islamiyah juz I hal 122)

Athiyah Saqar menyebutkan pendapat para ulama didalam permasalahan ini :

1. Para ulama Syafi’i mengatakan bahwa apa yang keluar dikarenakan enuresis maka diharuskan bagi orang itu untuk berusaha menjaganya dengan menyumpal dan membalut tempat keluarnya itu. Dan apabila setelah dia meyumpal dan membalutnya serta berwudhu kemudian masih keluar sesuatu darinya maka hal ini tidaklah mengahalanginya untuk diperbolehkannya melakukan shalat atau yang lainnya dengan wudhu tersebut. Hal itu dengan syarat orang itu mendahulukan bersuci (istinja’) daripada berwudhu dan mengurutkan antara istinja, berwudhu dan shalat. Dan perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan setelah masuknya waktu shalat dan dibolehkan baginya melakukan shalat dengan wudhu itu baik shalat fardhu ataupun nafilah jika dia menghendakinya…

2. Para ulama Maliki mengatakan bahwa wudhu tidaklah batal dikarenakan apa yang keluar saat ia sakit seperti enuresis dengan syarat hal itu terjadi disebagian besar atau sebagian waktu shalat, tidak teratur dan tidak memiliki kesanggupan untuk menghilangkannya dengan berobat atau yang lainnya, inilah pendapat yang masyhur didalam madzhab Malik. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa enuresis tidaklah membatalkan wudhu akan tetapi dianjurkan bagi orang itu untuk berwudhu apabila hal itu (keluarnya air kencing) tidak terjadi setiap waktu. Dan siapa saja penderita enuresis yang memenuhi persyaratan seperti itu dianjurkan baginya untuk berwudhu dan dibolehkan baginya melakukan shalat dengan wudhunya itu sekehendaknya hingga wudhunya batal karena sesuatu lain yang membatalkannya.

3. Para ulama Hanafi mengatakan bahwa siapa yang selalu mengeluarkan air kencing, angin atau istihadhah maka orang itu termasuk yang dimaafkan apabila hal itu terjadi sepanjang waktu shalat fardhu. Hendaklah orang itu berwudhu di waktu setiap shalat dan melakukan shalat fardhu dan nafilah sekehendaknya. Wudhunya batal dengan berakhirnya waktu shalat dan terhadap orang yang mendapatkan pemaafan itu agar berusaha semampunya mencegah keluarnya air kencing, angin atau istihadhah tersebut.

4. Para ulama Hambali mengatakan bahwa wudhu seorang penderita enuresis tidaklah batal dengan syarat orang itu mencuci tempat keluarnya itu, membalutnya dengan baik, hadats itu berlangsung terus dan wudhu itu dilakukan setelah masuk waktu shalat maka diperbolehkan baginya untuk melakukan shalat dengan wudhunya itu baik shalat fardhu maupun nafilah sekehendaknya. (Fatawa Al Azhar juz VIII hal 410)

Page 35: Modul 1 Inkontinensia Urin

Dengan demikian seringnya keluar air kencing yang sulit ditahan atau dikendalikan menjadikan anda berada dalam kondisi darurat dan darurat membolehkan sesuatu yang dilarang sesuai dengan takarannya dan tidak berlebihan.

Untuk itu yang anda lakukan setiap masuk waktu shalat adalah :

1. Menyumpal dan membalut tempat keluarnya air kencing dengan kain suci setelah anda buang air kecil dan membersihkannya.

2. Berwudhu setelah masuk waktu shalat dan wudhu ini berakhir dengan masuknya waktu shalat berikutnya, artinya berwudhu setiap kali datang waktu shalat.

3. Melakukan shalat fardhu dan nafilah sekehendak anda dengan wudhu tersebut selama ia belum batal atau berakhir dengan masuknya waktu shalat berikutnya

HAK-HAK ORANG YANG SUDAH TUASesungguhnya orang yang sudah lanjut usia mempunyai hak-hak yang

harus diperhatikan. Islam sebagai agama yang sempurna berada di barisan paling depan dalam memberi perhatian dan menjaga hak-hak mereka. NabiShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan orang yang sudah beruban lagi muslim, memuliakan ahli Qur’an dengan tidak berlebihan dan tidak menyepelekannya, dan memuliakan para pemimpin yang berbuat adil.”[1]

Perhatikanlah hadits diatas. Betapa besarnya hak orang yang sudah lanjut usia. Betapa tinggi kedudukan mereka. Bahkan, Nabi juga berwasiat : “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak kecil dan tidak menghormati orang-orang tua dari kami.”[2]

Sabda Nabi “bukan termasuk golongan kami” menunjukkan bahwa orang yang tidak menghormati orang yang sudah tua maka dia tidak mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berada diatas jalan dan sunnahnya.

Islam sebagai agama yang hanif – dengan kelembutan dan perhatiannya – sangat memperhatikan orang-orang yang sudah berusia lanjut. Diantara bukti tersebut ialah apa yang dikisahkan dalam riwayat berikut ini :Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Makkah dan duduk di masjid, Abu Bakar datang bersama bapaknya menemui Rasulullah. Ketika Rasulullah melihatnya maka beliau berkata kepada Abu Bakarradhiyallahu ‘anhu : “Tidakkah engkau biarkan bapak ini tetap di rumahnya hingga aku mendatanginya?”

Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, dia lebih berhak datang kepadamu daripada engkau yang datang kepadanya.” Rawi berkata, “Maka Abu Bakar mendudukkan bapaknya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa

Page 36: Modul 1 Inkontinensia Urin

sallam, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap dadanya dan berkata, ‘Masuk Islamlah!’ Bapak tersebut akhirnya masuk Islam.”[3]

Lihatlah bagaimana kalimat yang diucapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu mengena dalam jiwanya. Apa yang terjadi? Apa pengaruhnya dalam hati bapak tersebut? Demi Allah, hatinya sangat terbuka, bahagia untuk menyambut seruan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, dia segera menerima ajakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk Islam tanpa keraguan!

Bahkan, andaikan orang tua seseorang bukanlah muslim maka syari’at kita tetap menyerukan untuk menjaga haknya sekalipun dia mengajak anaknya kepada kekafiran. Allah Ta’ala berfirman : Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia yang baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman [31] : 15).

Dalil-dalil dalam syari’at yang mulia – dari al-Qur’an dan Sunnah – yang menunjukkan perhatian terhadap hak-hak orang yang sudah lanjut usia sangatlah banyak.

FAKTOR PENDUKUNG DALAM PELAKSANAANNYAKetika kita mendengar hak-hak ini dan mengetahui bahwa syari’at Islam

menjaga hak orang yang sudah lanjut usia, perlu kita perhatikan beberapa perkara yang hendaknya kita ingat dan kita hadirkan dalam dada ketika ingin melaksanakan hak-hak tersebut, agar menjadi penolong dalam pelaksanaannya dan kita tetap istiqamah dalam pelaksanaan hak tersebut. Sebab, inti dari menerima peringatan adalah keadaan kita tetap baik dan istiqamah dalam melaksanakan peringatan yang kita ketahui. Allah berfirman : Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS. An-Nisa’ [4] : 66-68).Apa saja faktor pendukung dalam pelaksanaan hak-hak orang yang sudah lanjut usia?1. Perhatikan dalil-dalil yang memerintahkan untuk menaruh perhatian

terhadap hak-hak orang yang sudah lanjut usia. Sebab, hal itu akan membantu dalam pelaksanaannya. Demi Allah, tidaklah ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan orang yang sudah beruban lagi muslim” kecuali akan membangkitkan hati untuk semangat melaksanakan hak-hak tersebut.

Page 37: Modul 1 Inkontinensia Urin

2. Memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar kita mampu melaksanakan hak-hak ini karena tidak ada kemampuan kecuali dari Allah Ta’ala. Bila kita mendengar pintu-pintu kebaikan maka mohonlah kepada AllahTa’ala agar kita mampu meraih kebaikan tersebut.

3. Mengingat akan manisnya buah dari pelaksanaan hak-hak tersebut. Sungguh Allah Ta’ala telah menyiapkan kebaikan yang besar dan nikmat yang banyak di dunia dan akhirat bagi yang melaksanakan hak-hak ini. Perbuatan baik ini akan meluaskan rezeki, memanjangkan umur, menjadikan kehidupan lebih berkah, menghilangkan segala kesedihan dan penyakit, serta menghindarkan dari musibah dan ujian. RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Carikanlah untukku orang-orang yang lemah dari kalian, karena kalian akan diberi rezeki dan ditolong dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian.”[4]

4. Ingatlah sebuah kaidah dalam agama ini bahwa “sebagaimana engkau beramal maka demikian pula kamu akan dibalas”. Perbuatan baik balasannya adalah kebaikan dan perbuatan jelek balasannya pun adalah kejelekan. Apabila engkau menjaga hak-hak orang yang sudah lanjut usia dan memperhatikannya maka demikian pula nanti ketika engkau telah berusia lanjut hak-hakmu akan terjaga.

5. Melihat perjalanan kehidupan yang penuh berkah dari kalangan salaf, dari adab mereka bersama orang yg sudah tua, penghormatan mereka, perhatian dan pemuliaan mereka kepada orang yg sudh lanjut usia, hal ini akan menjadi kisah dan suri teladan yang baik.

HAK-HAK ORANG YANG SUDAH TUA DALAM ISLAMa. Menghormatinya

Sebagaimana Rasulullah mengatakan : “… dan menghormati orang-orang tua dari kami.”[5]

Ini adalah kalimat yang agung mengandung makna yang tinggi; bahwa orang yang tua dihormati, hingga hal ini akan mengambil hatinya dan menyenangkan jiwanya. Sebab, orang yang sudah tua pantas untuk dihormati. Yang dimaksud “menghormati orang yang tua” adalah dalam hatimu ada rasa penghormatan dan pengagungan terhadap mereka, engkau mengetahui kedudukannya; dan inilah salah satu hak dari hak-hak mereka.

b. MemuliakannyaSebagaimana hadits yang sudah kami sebutkan : “Sesungguhnya

termasuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan orang sudah beruban lagi muslim.”[6]

Memuliakannya dengan cara membaguskan panggilan kepada mereka, membaguskan cara bergaul dengan mereka, dan menampakkan kecintaan kepada mereka.

c. Engkau memulai salam kepadanya

Page 38: Modul 1 Inkontinensia Urin

Sebagaimana hadits yang berbunyi : “Hendaknya org yg kecil memberi salam kepada yg lebih besar, orang yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yg banyak.”[7]

Apabila engkau berjumpa dengan orang tua maka jangan menunda untuk memulai salam kepadanya. Akan tetapi, segeralah memberi salam dengan penuh adab dan penghormatan. Dan perhatikan juga kondisi usia tuanya, jika pendengarannya masih sehat maka ucapkanlah salam dengan suara yang dia dengar dan tidak menyakitinya, dan jika pendengarannya sudah berkurang maka perhatikan pula kondisinya.

d. Jika engkau berbicara maka lembutkanlah suaramuJika engkau berbicara kepada orang yang sudah tua, maka bicaralah

dengan suara yang lembut. Panggilah dengan panggilan yang penuh penghormatan dan pemuliaan, seperti “wahai pamanku” dan selainnya. Abu Umamah bin Sahl berkata, “Kami pernah shalat Zhuhur bersama Umar bin Abdul Aziz, kemudian kami keluar hingga menemui Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sedang dia shalat Ashar. Aku berkata,’Wahai pamanku, shalat apa yang baru saja engkau kerjakan?’ Anas menjawab, ‘Ini shalat Ashar, dan inilah shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dahulu kami pernah shalat bersamanya.’”[8]

e. Mendahulukannya dalam berbicaraJuga mendahulukannya dalam perkumpulan, mendahulukan dalam hal

makan, dalam hal masuk; dan hal ini termasuk hak mereka. Rasulullah sendiri pernah bersabda dalam kisah yang panjang : “Dahulukanlah orang yang tua, dahulukannya orang yang tua.”[9]

f. Perhatikan kesehatannyaYaitu dengan memberi perhatian pada badan dan kesehatannya yang

semakin lemah karena dimakan usia. Dan hal ini adalah ketentuan yang tak dapat ditolak. Allah berfirman : Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. ar-Rum [30] : 54).

Dengan demikian, termasuk hak yang seharusnya engkau tunaikan adalah memperhatikan kesehatannya. Sebab, usia yang bertambah tua akan membuat lemah, lemah kemampuan panca indera, bahkan ada sebagian orang yang sudah tua, perbuatannya seperti kembali pada perbuatan anak-anak, maka engkau harus perhatian juga. Dan termasuk perkara yang menyedihkan, ada sebagian anak sudah berbuat baik kepada orang tuanya yang sudah lanjut usia, tetapi kemudian dia merasa bosan hingga pada akhirnya dia tidak lagi berbuat baik kepada orang tuanya, bahkan sampai ada yang membawa orang tuanya yang sudah jompo ke tempat penitipan, tempat orang-orang tua dan jompo! Na’udzubillahi min dzalika.

g. Mendo’akan kebaikan

Page 39: Modul 1 Inkontinensia Urin

Hendaknya engkau selalu mendo’akan kebaikan kepada mereka agar tetap di dalam ketaatan, tetap mendapat taufik, tetap mendapat penjagaan Allah. Hendaknya engkau pun mendo’akan mereka agar tetap sehat walafiat, hidup dengan tenang, dan agar mereka termasuk orang-orang yang disabdakan oleh Nabi: “Orang yang panjang umurnya dan bagus amalannya.”[10]

h. Kebaikan orang tua tidak ada bandingannyaKetahuilah, betapa pun besarnya kebaikan yang engkau berikan kepada orang tuamu belum sebanding dengan kebaikan mereka dan belum bisa membalas jasa-jasa mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Anak tidak akan bisa membalas jasa orang tuanya, kecuali jika orang tuanya itu adalah seorang budak yang kemudian dia beli dan dia bebaskan.”Inilah sebagian hak-hak yang selayaknya dijaga seorang muslim. Dan inilah sebagian peringatan tentang pembahasan ini.[]Disarikan secara bebas oleh Ustadz Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman dari kitab Huquq Kibaar as-Sinn fil Islam,karya: Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafidhaumullah dengan peringkasan oleh penulis.

Page 40: Modul 1 Inkontinensia Urin

Daftar Pustaka

1Aging (life cycle). Available at : http://en.wikipedia.org/wiki/aging process.

2Aging Process. Available at : http: //www.the rubins.com/aging/precess htm

3Curriculum Module on the Aging Process. Available at : http://en.wikipedia.org./wiki/aging process

4Kumar V, Cotran R.S, Robbin S.L, Basic Pathology, 84. Kumar V, Cotran R.S,

5Robbin S.L, Basic Pathology, 8th ed, Saunders, Philadelphia, 2007 ; 28-30

6Darmojo boedhi. Buku Ajar Geriatri edisi ke-4. Jakarta : FK-UI. 2011

7WF Ganong. Buku Ajar Fisisologi kedokteran. 2005. Edisi 22. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC 8Guyton and Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.1996. Jakarta : Penerbit Buku Pedokteran EGC9http://gustomoridho.wordpress.com/2012/05/25/askep-inkintinensia-urin/10Palmer RM. Ambulatory Management of Urinary Incontinence in The Elderly. Geriatrics 1990; 45: 61-6.11Darmojo boedhi. Buku Ajar Geriatri edisi ke-4. Jakarta : FK-UI. 201112Darmojo boedhi. Buku Ajar Geriatri edisi ke-4. Jakarta : FK-UI. 201113http://sampahtutorial.blogspot.com/2011/03/geriatri-inkontinensia.html

14http://ashraf-sahih-haza.scriptintermedia.com/index.php/artikel/410-7-jenis-obat-yang-bisa-bikin-anda-mengompol

15Mardjono, Mahar. 2004. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat

16http://becomehealth.blogspot.com/favicon.ico

17Darmojo boedhi. Buku Ajar Geriatri edisi ke-4. Jakarta : FK-UI. 2011

18.Gunawan, sulistia Gan. Farmakologi dan Terapi ed 5. Jakarta : FK UI 2009

19Al-Qur’an

20Artikel: http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/21Sumber: Majalah AL-FURQON edisi 10 thn. 11 jumadil ‘Ula 1433H