proposal tak persepsi sensori kep jiwa.rtf

Download Proposal TAK persepsi sensori kep jiwa.rtf

If you can't read please download the document

Post on 01-Jan-2016

103 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kep jiwa

TRANSCRIPT

Latar Belakang

Pada pasien gangguan jiwa dengan kasus Schizoprenia selalu diikuti dengan gangguan persepsi sensori; halusinasi. Terjadinya halusinasi dapat menyebabkan klien menjadi menarik diri terhadap lingkungan sosialnya, hanyut dengan kesendirian dan halusinasinya sehingga semakin jauh dari sosialisasi dengan lingkungan disekitarnyaTerapi Aktivitas Kelompolok (TAK)/Sosialisasi TAK adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial. Salah satu gangguan hubungan sosial pada pasien gangguan jiwa adalah gangguan persepsi sensori. Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan,perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. Dampak dari halusinasi yang diderita klien diantaranya dapat menyebabkan klien tidak mempunyai teman dan asyik dengan fikirannya sendiri. Salah satu penanganannya yaitu dengan melakukan Terapi Aktivitas Kelompok yang bertujuan untuk mengidentifikasi halusinasi dan mengontrol halusinasi yang dialaminya.Atas dasar tersebut, maka kami menganggap Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) klien dengan gangguan persepsi sensori dapat tertolong dalam hal sosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, tentu saja klien yang mengikuti therapy ini adalah klien yang sudah mampu mengontrol dirinya dari halusinasi sehingga pada saat TAK klien dapat bekerja sama dan tidak mengganggu anggota kelompok yang lain.

Landasan Teori

Defenisi Halusinasi

Halusinasi adalah satu persepsi yang salah oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal (Cook & Fontain, Essentials of Mental Health Nursing, 1987).

Klasifikasi Halusinasi

Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik tertentu, diantaranya :

Halusinasi pendengaran

Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.Halusinasi penglihatan

Karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan/atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan. Halusinasi penghidu

Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti: darah, urine atau feses. Kadangkadang terhirup bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia. Halusinasi peraba

Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh: merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain.Halusinasi pengecap

Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan.Halusinasi sinestetik

Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.

Tahapan Halusinasi, Karakteristik Dan Perilaku Yang Ditampilkan

TAHAPKARAKTERISTIKPERILAKU KLIENTahap IMemberi rasaNyaman,tingkatansietas sedangsecara umum,halusinasimerupakan suatukesenangan1. Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan ketakutan. 2. Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas3. Fikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontol kesadaran, nonpsikotik.1. Tersenyum, tertawa sendiri2. Menggerakkan bibir tanpa suara3. Pergerakkan mata yang cepat 4. Respon verbal yang lambat5. Diam dan berkonsentrasiTahap II1. Menyalahkan2. Tingkat kecemasan berat secara umum halusinasi menyebabkan perasaan antipati1. Pengalaman sensori menakutkan2. Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut3. Mulai merasa kehilangan kontrol 4. Menarik diri dari orang lain nonpsikotik.1. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah2. Perhatian dengan lingkungan berkurang3. Konsentrasi terhadap pengalaman sensori kerja4. Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realitas Tahap III 1. Mengontrol 2. Tingkat kecemasan berat3. Pengalaman halusinasi tidak dapat ditolak lagi1. Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori (halusinasi).2. Isi halusinasi menjadi atraktif.3. Kesepian bila pengalaman sensori berakhir psikotik.

1. Perintah halusinasi ditaati.2. Sulit berhubungan dengan orang lain.3. Perhatian terhadap lingkungan berkurang hanya beberapa detik.4. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringatTahap IV 1. Klien sudah dikuasai oleh Halusinasi.2. Klien panik.Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah halusinasi, bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik.1. Perilaku panik.2. Resiko tinggi mencederai.3. Agitasi atau kataton.4. Tidak mampu berespon terhadap lingkungan.

Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas yang menggunakan aktivitas mempersepsikan berbagai stimulasi yang terkait dengan pengalaman dengan kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.

Tujuan

Tujuan umum

Klien dapat mengenal haluinasi yang dialaminya, mengontrol halusinasinya, dan mengikuti program pengobatan secara optimal.Tujuan khusus

a. Klien dapat mengenal halusinasi.b. Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.c. Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.d. Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas terjadwal.e. Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara patuh minum obat.

Sesi yang digunakan

Dalam terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi dibagi dalam 5 sesi, yaitu:Sesi I: Klien mengenal halusinasiSesi II: Mengontrol halusinasi dengan cara menghardikSesi III: Mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan

orang lainSesi IV: Mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas

terjadwalSesi V: Mengontrol halusinasi dengan cara patuh minum obat

Klien

Kriteria klien:Klien gangguan orientasi realita yang mulai terkontrol.Klien yang mengalami perubahan persepsi.

Proses seleksi:Mengobservasi klien yang masuk kriteria.Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria.Mengumpulkan klien yang masuk kriteria.Membuat kontrak dengan klien yang setuju ikut TAK, meliputi: menjelaskan tujuan TAK pada klien, rencana kegiatan kelompok dan aturan main dalam kelompok

Kriteria Hasil

Evaluasi Struktur:Kondisi lingkungan tenang, dilakukan ditempat tertutup dan memungkinkan klien untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan Posisi tempat di lantai menggunakan tikarPeserta sepakat untuk mengikuti kegiatanAlat yang digunakan dalam kondisi baikLeader, Co-leader, Fasilitator, observer berperan sebagaimana mestinya.

Evaluasi Proses:Leader dapat mengkoordinasi seluruh kegiatan dari awal hingga akhir.Leader mampu memimpin acara.Co-leader membantu mengkoordinasi seluruh kegiatan.Fasilitator mampu memotivasi peserta dalam kegiatan.Fasilitator membantu leader melaksanakan kegiatan dan bertanggung jawab dalam antisipasi masalah.Observer sebagai pengamat melaporkan hasil pengamatan kepada kelompok yang berfungsi sebagai evaluator kelompokPeserta mengikuti kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akhir

Evaluasi Hasil:Diharapkan 85% dari kelompok mampu:Menjelaskan apa yang sudah digambarkan dan apa yang dilihatMenyampaikan halusinasi yang dirasakan dengan jelas

Antisipasi Masalah

Penanganan terhadap klien yang tidak aktif dalam aktivitas:Memanggil klienMemberi kesempatan pada klien untuk menjawab sapaan perawat atau klien lain

Bila klien meninggalkan kegiatan tanpa izin:Panggil nama klienTanyakan alasan klien meninggalkan kegiatan

Bila klien lain ingin ikut:Berikan penjelasan bahwa kegiatan ini ditujukan kepada klien yang telah dipilihKatakan pada klien bahwa ada kegiatan lain yang mungkin didikuti oleh klien tersebutJika klien memaksa beri kesempatan untuk masuk dengan tidak memberi pesan pada kegiatan ini

Pengorganisasian

Pelaksanaan:Hari/Tanggal: Senin, 23 September 2013Waktu: Pukul 10.00 WIBAlokasi waktu: Perkenalan dan pengarahan (10 menit)

Terapi kelompok (25 menit) Penutup (10 menit)Tempat: Ruang ........ RSJ Soeprapto BengkuluJumlah klien: 11 Orang

Tim Terapi:Leader Sesi I: Rio Eydrianto

Leader Sesi II: Silpa SantiLeader Sesi III: Khatamanisa SuyuthieLeader Sesi IV: Inna Akrama PutriLeader Sesi V: Dita ParamitaUraian tugas: Mengkoordinasi seluruh kegiatanMemimpin jalannya terapi kelompokMemimpin diskusi

Co-leader Sesi I: Rosmi Apriyanti

Co-leader Sesi II: Khatamanisa Co-leader Sesi III: Inna Akrama PutriCo-leader Sesi IV: Melda PeprianiCo-leader Sesi V: Prengki SaputraUraian tugas:Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatanMengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpangMembantu memimpin jalannya kegiatanMenggantikan leader jika terhalang tugas

Observer Sesi I: - Dita Paramita

Observer Sesi II: - Elza Purnama Observer Sesi III: - Silpa SantiObserver Sesi IV: - Novrizan SahendraObserver Sesi V: - Rio EydriantoUraian tugas:Mengamati semua proses kegiatanyang berkaitan dengan waktu, tempat dan jalannya acaraMelaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua angota kelompok dengan evaluasi kelompok

Fasilitator Sesi I: -Khatamanisa Suyuthie

-Inna Akrama Putri -Frengki saputra -Elza Purnama -Melda Pepriani -Murfi Puspitasari -Novrizan Sahendra -Silpa SantiFasilitator Sesi II: -Rio Eydrianto -Frengki Saputra -Inna Akrama Putri -Rosmi Spriyanti -Dita Paramita -Novrizan -Silpa Santi -Murfi PuspitasariFasilitator Sesi III: -Rio Eydrianto -Frengki Saputra