terapi bermain vista

Download Terapi Bermain Vista

Post on 30-Oct-2015

75 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANGHospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi tiap orang. Penyakit yang diderita akan menyebabkan perubahan perilaku normal sehingga klien perlu menjalani perawatan (hospitalisasi). Secara umum, hospitalisasi menimbulkan dampak pada lima aspek, yaitu privasi, gaya hidup, otonomi diri, peran, dan ekonomi (Asmadi, 2005). Dengan adanya perubahan-perubahan selama hospitalisasi itu sendiri dapat mengakibatkan perasaan tidak nyaman pada pasien, perasaan kesepian, dan biasanya pada pasien anak-anak akan rewel dan akan menimbukan perasaan traumatis akibat tindakan medis, seperti pemasangan infuse dan injeksi.Bermain merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh anak-anak. Bermain sendiri merupakan kegiatan sebagai sarana latihan dan mengelaborasi keterampilan yang diperlukan saat dewasa nanti. Contoh bahwa bermain berfungsi sebagai sarana melatih keterampilan untuk bertahan hidup dapat kita amati pada anak-anak kucing yang lari mengejar dan menangkap bola sebagai latihan menangkap mangsa. Bayi menggerak-gerakan jari, tangan, kaki, tiada lain sebagai latihan untuk mengkontrol tubuh (Tedjasaputra, 2005).Bermain sendiri juga dapat digunakan oleh orang dewasa untuk membina hubungan dengan anak karena selama bermain suasananya bebas maka anak merasa tidak takut-takut untuk bermain bersama. Selain itu, bermain sendiri dapat digunakan sebagai media psiko terapi atau pengobatan terhadap anak yang disebut terapi bermain. Bermain dapat digunakan sebagai media terapi karena selama bermain perilaku anak akan tampil lebih bebas dan bermain adalah sesuatu yang secara alamiah sudah terberi pada seseorang anak (Tedjasaputra, 2005)Bermain dapat digunakan untuk melatih kemampuan-kemampuan tertentu dan sering digunakan untuk melatih konsentrasi atau pemusatan perhatian pada tugas tertentu, melatih konsep-konsep dasar seperti warna, ukuran,bentuk, besaran, arah, keruangan, melatih keterampilan motorik kasar,halus dan sebagainya. Untuk kegiatan seperti ini dalam pelaksanaannya harus menarik dan menyenangkan sehingga anak akan merasa senang dan tidak terpaksa. Sehingga tujuan dari terapi bermain ini dapat tercapai dengan maksimal (Tedjasaputra, 2005).Dengan demikian terapi bermain dapat diterapkan untuk memberikan terapi pada pasien anak-anak sebagai suatu intervensi yang dapat diambil. Dengan terapi bermain berkembangan anak selama di Rumah Sakit tidak akan terhambat dan dengan terapi bermain dapat melatih anak-anak untuk mengembangkan keterampilan motorik halus, motorik kasar, kognitif, kreatiitas, perkembangan social, moral, dan penerimaan diri.

B. TUJUANTujuan Umum:Untuk memeuhi kebutuhan bermain pada anak selama menjalani perawatan di Rumah SakitTujuan Khusus:1. Untuk mengurangi tingkat kecemasan anak selama hospitalisasi2. Untuk melatih berinteraksi dengan sesama pasien dan dengan perawat.3. Dapat mengembangkan sosial , motorik halus, komunikasi, motorik kasar dan kognitif.4. Kooperatif terhadap perawatan dan pengobatan

C. SASARANSasaran terapi bermain adalah pasien anak-anak yang dirawat di ruang perawatan anak Ruang Anggrek RSUD Salatiga yang termasuk dalam usia pra sekolah, yaitu antara usia 3-6 tahun, sudah menjalani perawatan di Rumah Sakit lebih atau selama 3 hari, keadaan anak tidak diharuskan untuk bed rest total, tidak mengalami demam, tidak kejang, dan bersedia untuk mengikuti terapi bermain.

BAB IIDESKRIPSI KASUS

A. KARAKTERISTIK SASARANAdapun karakteristik sasaran untuk terapi bermain ini adalaha. Anak usia pra sekolah (3-6 tahun)b. Anak tidak dengan penyakit yang berat (tidak mengharuskan bed rest total, tidak kejang, tidak demam)c. Anak kooperatif, bersedia mengikuti terapi bermain

B. ANALISA KASUSAn. F (6 thn) masuk RS dengan keluhan demam, batuk dan pilek. An. F termasuk anak yang aktif, tidak rewel, terbuka (mengungkapkan apa yang dirasakan). An. F biasanya bermain dengan teman-temannya, selama di Rumah Sakit An. F tidak dapat bermain dan hanya ditemani oleh ibunya. An. F sudah 3 hari menjalani perawatan di Rumah Sakit, sehingga An. F mulai jenuh di Rumah Sakit.

C. PRINSIP BERMAIN MENURUT TEORI1. Definisi HospitalisasiHospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, menharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya ke rumah (Supartini, 2004).Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi tiap orang. Penyakit yang diderita akan menyebabkan perubahan perilaku normal sehingga klien perlu menjalani perawatan (hospitalisasi). Secara umum, hospitalisasi menimbulkan dampak pada lima aspek, yaitu privasi, gaya hidup, otonomi diri, peran, dan ekonomi (Asmadi, 2005).Perawatan anak di rumah sakit tidak hanya menimbulkan masalah bag anak, tetapi juga bagi orang tua. Reaksi orang tua terhadap anak di rumah sakit dan yang menyebabkannya dapat diuraikan sebagai berikut :1. Perasaan cemas dan takutOrang tua akan merasa begitu cemas dan takut terhadap kondisi anaknya. Perasaan tersebut muncul pada saat orang tua melihat anak mendapat prosedur menyakitkan, seperti pengambilan darah, injeksi infus dan prosedur invasif lainnya. Sering kali pada saat anak harus dilakukan prosedur tersebut, orang tua bahkan menangis karena tidak tega melihat anaknya, dan pada kondisi ini perawat atau petugas kesehatan harus bijaksana bersikap pada anak dan orangtuanya.2. Perasaan sedihPerasaan ini muncul terutama pada saat anak dalam kondisi terminal dan orang tua mengetahui bahwa tidak ada lagi harapan anaknya untuk sembuh. Bahkan, pada saat menghadapi anaknya yang menjelang ajal, rasa sedih dan berduka akan dialami orang tua. Di satu sisi orang tua dituntut untuk berada di samping anaknya dan memberi bimbingan spiritual pada anaknya, dan di sisi lain mereka menghadapi keberdayaannya karena perasaan terpukul dan sedih yang amat sangat. Pada kondisi, orang tua menunjukkan perilaku isolasi atau tidak mau didekati orang lain, bahkan bisa tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan.3. Perasaan frustasiPada kondisi anak yang telah dirawat cukup lama dan dirasakan tidak mengalami perubahan serta tidak adekuatnya dukungan psikologis (Supartini, 2004).Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seorang anak secara sungguh-sungguh sesuai dengan keinginannya sendiri/tanpa paksaan dari orang tua maupun lingkungan dimana dimaksudkan semata hanya untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan (Sujono & Sukarmin, 2009).Melalui bermain anak dapat mengekpresikan pikiran, perasaan, fantasi serta daya kreasi dengan tetap mengembangkan kreatifitasnya dan beradaptasi lebih efektif terhadap berbagai sumber stress. Dengan bermain anak dapat belajar mengungkapkan isi hati melalui kata-kata, anak belajar dan mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, objek bermain, waktu, ruang dan orang (Sujono & Sukarmin, 2009).2. Fungsi Bermain Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anaka. Perkembangan sensoris-motorikDalam hal ini, permainan akan membantu perkembangan gerak halus dan pergerakan kasar anak dengan cara memainkan suatu obyek yang sekiranya anak merasa senang. Misalnya orang tua memainkan pensil didepan anak, pada tahap awal anak melirik benda yang ada didepannya, kalau dia tertarik maka dia akan berespon dan berusaha untuk meraih/mengambil pensil dari genggaman orang tuanya(Sujono & Sukarmin, 2009).b. Perkembangan kognitifMembantu anak untuk mengenal benda-benda yang ada disekitarnya. Misalnya, mengenalkan anak dengan warna (merah, biru, hijau,kuning,putih, hitam dan sebagainya), bentuk (bulat, lonjong, gepeng, kubus dan sebagainya). Dengan cara seperti ini orang tua juga secara tidak sadar sudah bisa memacu perkembangan bahasa anak(Sujono & Sukarmin, 2009).c. KreatifitasMengembangkan kreatifitas anak dalam bermain sendiri atau secara bersama. Berikan anak balok yang banyak dan dibiarkan dia menyusun balok-balok itu untuk dibuat bentuk apa saja sesuai dengan keinginan anak, kemudian tanyakan pada anak benda apa yang telah ia buat itu (Sujono & Sukarmin, 2009).d. Perkembangan sosialBelajar berinteraksi dengan orang lain, mempelajari peran dalam kelompok. Kumpulkan anak 3-5 anak yang usianya sebaya, kemudian biarkan anak untuk membentuk kelompok sendiri dan menjalani perannya sendiri-sendiri (Sujono & Sukarmin, 2009).e. Kesadaran diri (self awareness)Dengan bermain anak sadar akan kemampuannya sendiri, kelemahannya dan tingkah laku terhadap orang lain. Jika anak tadi berperan sebagai seorang pemimpin dan dia merasa tidak mampu untuk memimpin, maka dengan senang hati dia akan memberikan peran pemimpin tadi pada teman yang lainnya (Sujono & Sukarmin, 2009).f. Perkembangan moralDapat diperoleh dari orang tua, orang lain yang ada disekitar anak. Untuk itu tugas orang tua untuk mengajari anak agar mempunyai moral yang baik (Sujono & Sukarmin, 2009).g. Komunikasi Bermain merupakan alat komunikasi terutama pada anak yang masih belum dapat menyatakan perasaanya secara verbal. Misalnya: anak menggambar dua anak kecil perempuan (mungkin dia ingin punya adik perempuan), anak melempar sendo/garpu saat makan (mungkin dia tidak suka sama lauk-pauknya) dan sebagainya (Sujono & Sukarmin, 2009).3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola bermain pada anak Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola bermain pada anak menurut Sujono & Sukarmin, 2009 adalah:a. Tahap perkembangan, setiap perkembangan mempunyai potensi/keterbatasan dalam permaianan. Anak umur 3 tahun alat permainannya berbeda dengan anak yang umur 5 tahunb. Status kesehatan, pada anak yang sedang sakit kemampuan psikomotor/kognitif terganggu. Sehingga ada saat-saat anak sangat ambisius pada permainannya dan ada saat anak sama sekali tidak tertarik pada permainannya.c. Jenis kelamin, pada usia sekolah biasanya anak laki-laki enggan bermain dengan anak perempuan, mereka sudah bisa membentuk komunitas sendiri, dimana anak wanita bermain sesame wanita dan anak laki-laki bermain sesame laki-laki