laporan ache

Download laporan AchE

Post on 26-Jun-2015

917 views

Category:

Documents

27 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KEDOKTERAN BLOK CHEM 2 PEMERIKSAAN ENZIM ASETILKOLINESTERASE Metode DGKC New

Oleh :

Nama NIM

: Yuni Hanifah : G1A009097

KelompokAsisten

: III: Nia Tri Mulyani

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2010

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KEDOKTERAN BLOK CHEM 2 PEMERIKSAAN ENZIM ASETILKOLINESTERASE Metode DGKC New

Oleh: Yuni Hanifah G1A009097 Kelompok III

Disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian praktikum Biokimia kedokteran BLOK CHEM II pada Jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Diterima dan disahkan Purwokerto, 24 Mei 2010

Asisten

Nia Tri Mulyani (GIA007003)

BAB I PENDAHULUAN

A. Judul Praktikum Pemeriksaan Enzim Asetilkolinesterase Metode DGKC New

B. Tanggal Praktikum 17 Mei 2010

C. Tujuan Praktikum 1. Mengukur kadar enzim asetilkolinesterase dengan metode DGKC new. 2. Menyimpulkan hasil pemeriksaan enzim asetilkolinesterase pada saaat praktikum setelah membandingkannya dengan nilai normal. 3. Melakukan diagnosis dini penyakit apa saja yang ditandai oleh hasil aktivita enzim asetilkolinesterase abnormal / patologis melalui bantuan hasil praktikum yang dilakukan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dasar Teori Bila Nervus Vagus dirangsang maka di ujung saraf tersebut akan dilepaskan suatu zat aktif yaitu asetilkolin (Ach). Dalam ujung saraf kolinergik, Ach disimpan dalam gelembung sinaps dan dilepaskan oleh NAP (Nerve Action Potensial). Asetilkolin sebagai transmitter harus diinaktifkan dalam waktu yang cepat. Pada sambungan saraf otot, Ach dirusak secara cepat dalam waktu kurang dari 1 milidetik. Kolinesterase yang tersebar luas di berbagai jaringan dan cairan tubuh, menghidrolisis Ach menjadi kolin dan asam asetat. Ada 2 macam kolinesterase, yaitu asetilkolinesterase (AchE) dan butirilkolinesterase (BuchE). Asetilkolinesterase terutama terdapat di tempat transmisi kolinergik pada membrane pra maupun post sinaps dan merupakan kolinesterase sejati yang terutama memecah Ach. BuchE berfungsi dalam eliminasi suksinilkolin suatu obat relaksan otot rangka dan fungsi fisiologis lainnya belum diketahui, sedangkan metakolin dihidrolisis oleh AchE (Asscalbiass, 2010). Transmisi kolinergik praktis dihentikan oleh enzim AchE, sehingga penghambatan terhadap enzim ini, misalnya oleh senyawa organofosfat (sejenis insektisida) menyebabkan aktivitas kolinergik yang berlebihan dan perangsangan reseptor kolinergik secara terus menerus yang diakibatkan oleh penumpukan Ach yang tidak dihidrolisis. Kelompok zat yang menghambat AchE dikenal sebagai antikolinesterase (anti AchE). Dalam urutan kekuatan yang meningkat dikenal senyawa-senyawa anti AchE sebagai berikut: fisostigmin, prostigmin,

diisopropilfluorofosfat (DFP) dan senyawa insektisida organofosfat seperti malation, dan parathion (Asscalbiass, 2010). Otot rangka dirangsang untuk berkontraksi melalui pengeluaran asetilkolin (Ach) di taut neuromuskulus antara ujng-ujung akhir neuron motorik dan sel otot. Sebuah sel otot rangka, yang dieknal sebagai serat otot, berukuran relatif besar, memanjang, dan berbentuk seperti silinder dengan garis tengah berukuran dari 10 sampai 100 mikrometer (1 mikrometer = sepersejuta meter) dan panjang sampai 750.000 mikrometer, atau 2.5 kaki. Sebuah otot rangka terdiri dari sejumlah serat otot yang terletak sejajar satu sama lain dan disatukan oleh jaringan ikat. Serat serat tersebut menjulur di seluruh panjang otot. Ciri struktural yang paling menonjol pada serat-serat otot rangka adalah adanya banyak m iofibril. Unsurunsur kontraktil khusus ini, yang membentuk 80% dari volume serat otot, adalah struktur intrasel berbentuk silindris dengan garis tengah 1 mikrometer yang terlentang di seluruh panjang serat otot. Setiap miofibril terdiri dari susunan teratur unsur-unsur sitoskleton yang sangat terorganisasifilamen tabal dan tipis. Filament tebal yang berdiameter12 sampai 18 nm dan panjang 1.6 mikrometer, adalah susunan khusus dari protein miosin, sedangkan filament tipis, yang bergaris tengah 5 sampai 8 nm dan panjang 1 mikrometer, keduanya terutama dibentuk oleh protein aktin. Tingkat-tingkat organisasi pada sebuah otot rangka dapat diringkas sebagai berikut:

Otot utuh

Serat otot

miofibril

Filament tebal dan tipis

Miosin dan aktin

(Sherwood, 2001).

Dalam sistem saraf, pesan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dalam bentuk potensial aksi sepanjang akson. Agar menjadi efektif, sebuah pesan harus tidak hanya berjalan di sepanjang akson saja tetapi juga ditransfer ke sel saraf lainnya. Di sinapsis antara dua neuron, impuls berpindah dari neuron presinaps ke neuron postsinaps (Martini, 2009). Sinapsis yang melepas Ach disebut sinapsis kolinergik. Neuromuscular junction adalah salah satu contoh sinapsis kolinergik. Ach, neurotransmitter yang paling banyak menyebar, dilepas, di semua neuromuscular junction yang melibatkan juga serat otot; di banyak sinaps di CNS; di semua sinapsis antarneuron di PNS; dan di semua neuromuscular dan neuroglandular junction di sistem saraf autonomi di bagian parasimpatis (Martini, 2009). Di sinapsis kolinergik antara dua neuron, membrane presinapsis dan postsinapsis dipisahkan oleh celah sinapsis dengan lebar sekitar 20 nm. Sebagian besar Ach di knop sinapsis dibungkus di dalam vesikel, yang setiap vesikel mengandung ribuan molekul neurotransmitter. Satu knop sinapsis bisa mengandung sekitar satu juta vesikel (Martini, 2009). Stimulus merangsang pelepasan neurotransmitter di knop sinapsis dan gate di sinapsis terbuka, ion natrium dan kalium keluar-masuk menjadi potensial aksi. Selanjutnya, potensial aksi merangsang pembukaan gate ion kalsium yang dilepaskan oleh retikulum endoplasma (Martini, 2009). Ion kalsium yang dilepas akan berikatan dengan troponin dan mengubah bentuknya, sehingga kompleks troponin-tropomiosin secara fisik bergeser ke samping, membuka tempat pengikatan jembatan silang aktin. Bagian aktin yang

telah terpajan tersebut berikatan dengan jembatan silang miosin, yang sebelumnya telah mendapat energi dari penguraian ATP menjadi ADP + Pi + energy oleh ATPase miosin di jembatan silang. Pengikatan aktin dan miosin di jembatan silang menyebabkan jembatan silang menekuk, menghasilkan suatu gerakan mengayun kuat yang menarik filament tipis ke arah dalam. Pergeseran ke arah dalam dari semua filament tipis yang mengelilingi filament tebal memperpendek sarkomer sehingga terjadi kontraksi otot (Sherwood, 2001). Ach dilepas melalui difusi eksositosis melewati celah sinapsis menuju reseptor Ach di membrane postsinaps. Semakin banyak jumlah Ach yang dilepas dari membran presinapsis, maka gate ion kalsium di membran postsinaps akan lebih banyak terbuka. Dan depolarisasi akan semakin lama (Martini, 2009). Efek di membran postsinaps bersiat sementara, karena di celah sinapsis dan membran postsinaps mengandung enzim asetilkolinesterase (AchE, atau kolinesterase). Sekitar setengah dari Ach yang dilepas dari membran presinaps dihancurkan sebelum mencapai reseptornya di membran postsinaps. Molekul Ach yang sukses berikatan di reseptornya biasanya dihancurkan dalam waktu 20 milidetik setelah menempati reseptor. Hidrolisis oleh enzim AchE memecah Ach menjadi asam asetat dan kolin. Kolin diserap aktif oleh knop sinapsis dan digunakan untuk mensintesis lebih banyak Ach. Asam asetat didifusikan dari sinapsis dan bisa diabsorpsi atau dimetabolisme oleh membran postsinaps atau oleh sel dan jaringan lain (Martini, 2009). Petani terkena pajanan pestisida baik dari karena pekerjaannya maupun karena para petani tinggal dekat dengan sawah. Sudah dilaporkan dari hasil penelitian bahwa jarak rata-rata rumah petani dengan persawahan adalah 15 m di

komunitas Hood River. Hubungan yang ditemukan antara kontaminasi lingkungan dan tingkat metabolit ekskresi yang disebabkan oleh transmisi pestisida pada para petani yang tinggal tidak jauh dari persawahan, secara keseluruhan hubungannya member kesan bahwa kadar pestisida saat itu (saat dilakukan penelitian) di debu udara di rumah adalah marker yang selalu ada pada riwayat pajanan juga berhubungan dengan hygiene yang dilakukan oleh para penduduk di Hood River (Mc Cauley et al, 2001 dalam Rohlman 2006). Pestisida digunakan untuk membasmi bermacam-macam hama (tumbuhan maupun binatang) yang dijumpai dalam kehidupan manusia. Pestisida digunakan di negaranegara dunia ini untuk melindungi tanaman dari kerusakan. Walaupun dalam jumlah dan ukuran kecil tetapi pestisida jelas menimbulkan keracunan pada manusia. Data kematian akibat pajanan dengan pestisida tersebut jarang dijumpai, diduga setiap kematian yang terjadi tidak lebih akibat dari 100 kasus keracunan yang tidak fatal. Survei statistik mengenai morbiditas dan mortalitas menunjukkan penurunan jumlah kematian karena kecelakaan dalam penggunaan pestisida. Hal ini dimungkinkan adanya peningkatan pengetahuan toksisitas pestisida melalui program pencegahan keracunan (Lubis, 2002). Di antara pestisida, golongan organofosfat yang paling umum ditemukan. Insektisida paling banyak digunakan pada negara yang berkembang, sedangkan herbisida lebih banyak digunakan pada negara yang maju. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO 1986) mendefinisikan adalah setiap zat atau campuran yang diharapkan sebagai pencegahan, menghancurkan atau pengawasan setiap hama termasuk vector terhadap manusia atau penyakit pada binatang, dan tanaman yang tidak disukai atau binatang yang menyebabkan keruskan selama atau dalam proses

pencampuran dengan produksi, penyimpanan atau pemasaran makanan, komiditi pertanian, kayu dan produksi kayu, atau bahan makanan binatang, atau yang dapat dilakukan pada binatang sebagai kontrol terhadap serangga, arachnoid, atau hama lain di dalam atau pada tubuh binatang