trichoderma harzianum dan pleurotus ostreatus sebagai

of 63 /63
i Trichoderma harzianum dan Pleurotus ostreatus SEBAGAI BIODEKOMPOSER LIMBAH KULIT BUAH KAKAO SERTA PENGARUHNYA DALAM MENEKAN Phytophthora palmivora Butl OLEH : A. NURHIDAYAH BAHRI G111 14 525 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2018

Author: others

Post on 22-Oct-2021

6 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENGARUHNYA DALAM MENEKAN Phytophthora palmivora Butl
OLEH :
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
PENGARUHNYA DALAM MENEKAN Phytophthora palmivora Butl
Oleh :
Hama Tumbuhan
Sarjana Pertanian
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
A.Nurhidayah Bahri (G111 14 525) “Potensi penggunaan Trichoderma harzianum dan Pleurotus ostreatus sebagai biodekomposer limbah kulit buah kakao pada tumpukan terbuka dan tertutup serta pengaruhnya dalam menekan perkembangan (Phytophthora palmivora)” (di bawah bimbingan TUTIK KUSWINANTI dan A.NASRUDDIN)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi perlakuan cendawan dan metode pengomposan yang terbaik dalam proses pengomposan limbah kulit kakao serta mengetahui perlakuan terbaik yang mampu menekan perkembangan Phytophthora palmivora pada kompos limbah kulit kakao. Pembuatan kompos dilaksanakan di Botong, desa Bontomanai, kecamatan Bungayya, kabupaten Gowa. Uji kualitas kompos dan pengamatan jumlah spora Phytophthora palmivora pada kompos kulit buah kakao dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin dari bulan Februari hingga April 2018. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap pelaksanaan, yaitu pembuatan kompos, uji kualitas dan kematangan kompos, serta pengamatan jumlah spora Phytophthora palmivora dari kompos kulit buah kakao. Aplikasi Bioakivaor pada limbah kulit kakao menggunakan 8 kombinasi perlakuan, yaitu P0 : Penguraian tanpa Bioaktifator (Kontrol terbuka ), P1 : Penguraian + Trichoderma harzianum + Tumpukan terbuka, P2 : Penguraian + Pleurotus ostreatus + Tumpukan terbuka, P3 : Penguraian + Trichoderma harzianum + Pleurotus ostreatus + Tumpukan terbuka, P4 : Penguraian tanpa Bioaktifator (Kontrol tertutup), P5 : Penguraian + Trichoderma harzianum + Tumpukan tertutup , P6 : Penguraian + Pleurotus ostreatus + Tumpukan tertutup , P7 : Penguraian + Trichoderma harzianum + Pleurotus ostreatus Tumpukan tertutup. . Berdasarkan uji kematangan kompos dan analisis kandungan nutrisi limbah kakao dapat dilihat bahwa perlakuan yang paling efektif dalam pengomposan kulit buah kakao yaitu perlakuan Trichoderma harzianum + Pleurotus ostreatus tumpukan terbuka dimana pada perlakuan ini memiliki tingkat kematangan yang paling baik dilihat berdasarkan warna, aroma dan tekstrurnya, sedangkan pada kandungan nutrisi memiliki tingkat C/N paling rendah, P2o5, dan K2o yang paling tinggi. Proses pengomposan juga terbukti dapat menekan keberadaan Phytophthora palmivora pada limbah kakao. Tidak diperoleh koloni Phytopthora palmivora pada semua perlakuan pengomposan.
v
ABSTRACT
A.NURHIDAYAH BAHRI (G111 14 525) “Trichoderma harzianum and Pleurotus ostreatus as biodecomposers of cocoa pod husles waste in open and closed piles and their effects in suppressing Phytophthora palmivora.
” (supervised by TUTIK KUSWINANTI dan A.NASRUDDIN).
This study aims to determine the combination of fungus treatment and composting method in the process of composting the cocoa skin waste and to know the best treatment that can suppress the development of Phytophthora palmivora on cocoa leaf waste compost. Composting was conducted in Botong, Bontomanai village, Bungayya sub-district, Gowa district. Compost quality test and observation of Phytophthora palmivora spores on cocoa compost was conducted at Plant Disease Laboratory, Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, Hasanuddin University from February to April 2018. This research consists of three stages implementation, including composting, quality test and compost maturity, as well as observation of the number of Phytophthora palmivora spores from cocoa compost. Application of Bioakivator on cocoa pod husles waste using 8 treatment combinations including P0: Decomposition without Bio-activator (Open Control), P1: Decomposition + Trichoderma harzianum + Open Pile, P2: Decomposition + Pleurotus ostreatus + Open pile, P3: Decomposition + Trichoderma harzianum + Pleurotus ostreatus + Open stack, P4: Decomposition without Bioactivator (Closed control), P5: Decomposition + Trichoderma harzianum + Closed pile, P6: Decomposition + Pleurotus ostreatus + Closed pile, P7: Decomposition + Trichoderma harzianum + Pleurotus ostreatus Closed pile. . Based on the compost maturity test and nutrient waste nutrient analysis, it can be seen that the most effective treatment in cocoa leaf composting is the Trichoderma harzianum + Pleurotus ostreatus stack treatment which has the best maturity level based on the color, aroma and texture, while on nutrient content has the lowest C / N, P2o5, and K2o levels highest. The composting process is also proven to suppress the presence of Phytophthora palmivora in cocoa waste. Phytopthora palmivora colony was not obtained on all composting treatments.
vi
KATA PENGANTAR
menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. Tak lupa pula penulis
kirimkan shalawat dan salam kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW
semoga senantiasa tercurah Amin.
Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan moril maupun
material serta kerjasama dari berbagai pihak, oleh karena itu dari lubuk hati yang
paling dalam penulis menyampaikan terima kasih yang tiada terhingga dan
penghargaan yang sebesar-besarnya kepada :
• Kedua Orang Tua tercinta, Ayahanda Bahri Andi Bohang S.Sos dan
Ibunda Sulaeha A.K dan juga Kakanda Muthmainnah bahri ,
Hikmawati Bahri, Nurainun Bahri serta adinda A.Muhammad Raihan
bahri dan Naura Najwa yang telah memberikan doa, pengorbanan, cinta,
dan kasih sayang yang sepenuhnya kepada penulis yang tak ternilai
harganya, sehingga penulis tetap semangat mewujudkan harapan yang
telah dititipkan. Semoga ketulusan hati dalam mendidik mendapat balasan
pahala dan limpahan rahmat Allah SWT.
• Ibunda Prof. Dr. Ir. Tutik Kuswinanti M.Sc selaku Pembimbing I dan
Bapak Dr. Ir. A.Nasruddin M.Sc selaku Pembimbing II terima kasih atas
segala keikhlasan, kesabaran dan ketulusannya mengarahkan, memberikan
bimbingan, bantuan, motivasi, dan saran kepada penulis mulai dari
penyusunan rencana penelitian hingga penyusunan skripsi ini.
vii
• Bapak Prof. Dr. Ir. Baharuddin, Dipl. Ing Agr ibunda Dr.Ir. Vien
Sartika Dewi, MS selaku penguji bersama Bapak Asman SP, MP., terima
kasih atas saran dan masukannya serta seluruh Bapak dan Ibu Dosen
Pengajar yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat kepada
penulis.
Kamaruddin, Bapak Ardan, yang telah banyak membantu penulis
sehingga bisa menyelesaikan penelitian ini.
• Kepada bapak Yusuf yang telah berkenan meminjamkan penulis lahan
agar dapat digunakan sebagai lahan percobaan.
• Sahabat sekaligus grup sepenelitian Sri Wahyuni, yang paling banyak
membantu selama penelitian dilapangan, dan dilaboratorium sampai
penulisan skripsi ini mengorbankan tenaga, memberikan dukangan yang
sangat luar biasa kepada penulis. Iwe Cahyati dan Nurul Istiqomah
terima kasih atas segala saran dan dukungan yang telah diberikan kepada
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
• Sahabatku Sri Wahyuni, Andi Nurmala Indah Sari, A.Syarifa
Nurfahmi, Nurafiyah Ruslan, Alya Widyawati Andi Sri Febrianti
RSA, Evi Alviana, Nurafni Latip, Ainul Hidayah yang selalu memberi
semangat motivasi, membantu penulis keluar dari masalah, paling
semangat menemani penulis saat pengurusan berkas sampai penulisan
skripsi ini, paling rajin temani penulis selama penelitian di Laboratorium
sampai pengurusan berkas dan penyelesaian skripsi ini. paling sabar selalu
menasehati penulis selama penulisan skripsi ini, selalu menghibur, selalu
menyemangati, dan memberikan motivasi kepada penulis, untuk itu
semoga mereka juga termotivasi cepat selesai. Nurhikmah Mutmainna
Sari, Upi Laila Hanum, Putri Sabrina Nursaid, Rahayu Putri Ahmad,
Rusmin Rombe, Nurmala S, Sarah Sawitri, Umi Mutmainnah dan
A.Nastain juga selalu memberikan semangat kepada penulis selama
viii
dan kekuatan untuk penulis.
Yasin, Nurangreni dan Yuni Wulandari yang selalu menampung
curhatan dan tidak pernah bosan mendengar keluhan penulis dalam segala
hal apapun, selalu membantu penulis keluar dari masalah-masalah yang
penulis hadapi, menasehati dan selalu membangkitkan semangat penulis
selama penyusunan skripsi ini, sangat membantu penulis saat pembuatan
tabel hasil sampai penyempurnaan skripsi ini. Makasih danesya.
• Temanku Ukhti Rosdiana S.si dan Mirdayanti, Wayan Yasman,
Amrah, Iqro, Mario dan Amsal merupakan teman seposko yang selalu
memberi semangat dukungan kepada penulis saat penelitian dilapangan.
Terima kasih kepada Amelia Asdar yang telah membantu penulis
memberikan masukan dan saran-saran yang sangat membantu saat penulis
melaksanakan ujian seminar proposal. Tidak lupa Andi Muhammad
Nazar Mahatir terima kasih atas doanya selama ini, menyemangati
penulis dalam meyelesaikan skripsi ini.
• Terimaksih Untuk Demisioner BPT FMA FAPERTA UH periode
2015/2016, Demisioner BPH HMPT UH periode 2017/2018 serta teman-
teman AGROTEKNOLOGI 2014 dan EKSOSKELETON 2014 yang
telah memberikan penulis banyak pengalaman, pelajaran selama menjadi
mahasiswa.
teman, kakak, adik yang tidak sempat penulis cantumkan satu persatu.
Terima kasih atas segala doa yang mengalir tanpa sepengetahuan penulis.
Banyak kendala yang dihadapi penulis dalam menyelesaikan tugas akhir
ini, tetapi semua merupakan suatu proses pembelajaran yang sangat berguna
sebagai modal di masa yang akan datang. Akhirnya dengan segala kerendahan
ix
hati penulis sekali lagi mengucapkan terima kasih semoga apa yang penulis
sajikan dapat memberikan manfaat bagi pembaca, Aamiin
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Makassar, Juli 2018
2.2 Limbah Kulit Kakao …………………... 6
2.3 Busuk Buah (Phytophthora palmivora) 7
xi
2.4.1 Trichoderma sp 12
2.5 Potensi Limbah Kulit Kakao sebagai bahan baku pupuk organik
17
3.2 Metode Penelitian .......................................................................... 21
3.2.2 Aplikasi bioaktivator pada limbah kulit kakao .................... 23
3.2.3Pengamatan keberadaan inokulum phytophthora
3.2.4 Analisis kandungan nutrisi pada limbah kakao hasil
dekomposisi ......................................................................... 25
harzianum, Pleurotus ostreatus dan Bakteri pada kompos 29
4.2 Pembahasan . 33
1. Warna, tekstur, dan bau Kompos sesuai standar SNI 26
2. Tingat Kematangan kompos pada kulit buah kakao 27
3. Rata-rata analisis kandungan nutrisi 28
4. Pengamatan jumlah koloni P.palmivora pada media PDA 29
5. Pengamatan jumlah koloni P.palmivora pada media V8 30
Lampiran
sampel,pencacahan kulit 32
xiv
palmivora..................................................... 10
pengomposan....................................................... 20
3. Proses sterilisasi dari bahan pembawa yang terdiri dari biji jagung dan
beras.................................................... 22
5. Proses menginokulasi bahan aktif............................................................ 22
7. Koloni bakteri dan cendawan pada media PDA.......................................31
8. Kenampakan cendawan pada media PDA................................................31
Koloni bakteri dan cendawan pada media V8...........................................32
Kenampakan cendawan pada media V8...................................................32
identifikasi..................................................................................................3
1
yang sedang digalakkan di Indonesia, kakao sangat berperan penting bagi
perekonomian nasional, khusunya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber
pendapatan dan devisa Negara.
Indonesia yaitu sekitar 20,70% dari total produksi nasional, menyusul Sulawesi
Tengah 17,70%, Sulawesi Tenggara 11,60%, Sulawesi Barat 11,20%, S umatera
Utara 6,40%, Kalimantan Timur 2,90%, Aceh 1,90%, Maluku 1,40%, dan daerah–
daerah lainnya sekitar 21,90%. Namun demikian produksi tanaman kakao di
Sulawesi Selatan hanya berkisar antara 0,6 ton sampai 0,7 ton/ha/thn, sedangkan
produksi optimalnya bisa mencapai 2,5 ton/ha/thn. Belum optimalnya
produktivitas kakao yang ada dipengaruhi oleh penerapan teknologi produksi di
tingkat petani masih sangat rendah serta produktivitas agribisnis kakao Indonesia
masih terkendala akibat serangan patogen P. palmivora yang menyebabkan
penyakit busuk buah kakao (PBBK). Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus
peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah
yang lebih besar dari agribisnis kakao (Anonim, 2009).
Perkembangan kakao di Indonesia juga diikuti oleh beberapa permasalahan,
yaitu meningkatnya limbah kakao (Sunanto, 1994). Menurut Haryati dan
Hardjosuwito (1984), Kakao mengandung 74% kulit buah, 2,0% plasenta, dan
24,2% biji. Mengingat besarnya kandungan kulit buah kakao, maka perlu
2
samping kakao yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kulit kakao umumnya
langsung dibuang sebagai limbah, padahal kulit kakao dapat diolah menjadi
produk yang lebih bermanfaat (Kuswinanti dkk.,2012). Limbah kakao yang tidak
dikelola dengan baik akan menjadi inang untuk berkembangnya hama dan
penyakit tanaman, terjadinya pencemaran (polusi) udara berupa gas Metan (CH4),
CO2 dan N2O.
Tanaman kakao akan menghasilkan biomassa dari daun dan ranting yang
mencapai 6,85 ton/ha/thn untuk tanaman kakao tanpa naungan dan mencapai
11,88 ton/ha/thn dengan naungan. Selain itu, dari panen 1 kg biji kakao akan
menyisakan 10 kg limbah kulit buah, pulp, dan plasenta (Fitrianti, 2016).
Kandungan hara minimal kulit buah kakao cukup tinggi, khususnya hara
Kalium dan Nitrogen. Dilaporkan bahwa 61 % dari total nutrient buah kakao
disimpan di dalam kulit buah. Penelitian yang dilakukan oleh Goenadi et.al (2000)
menentukan bahwa kandungan hara kompos yang dibuat dari kulit buah kakao
adalah 1,81% N, 26,61 C-Organik, 0,31 % P2O5, 6,08 % K2O, 1,22 % CaO3, 1,37
% MgO dan 44,85 cmol/kg KTK.
Salah satu teknik pengolahan limbah kakao adalah secara biologis dengan
memanfaatkan organisme yang mampu menghasilkan enzim pendegradasi dinding
sel seperti selulase, hemiselulase, dan enzim pemecah lignin. Beberapa kelompok
organisme yang dilaporkan mampu mendegradasi senyawa lignin, selulosa, dan
hemiselulosa adalah jamur. Jamur Tiram dan Trichoderma sp memiliki
kemampuan mendegradasi lignin yang tinggi dengan sedikit mengakibatkan
3
kehilangan selulosa (Jamilah, 2012). Biakan jamur Trichoderma dalam media
aplikatif seperti dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai
biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan ranting
tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai biofungisida
(Kuswinanti, 2006).
Ada beberapa metode yang dapat di gunakan dalam melakukan
pengomposan, (i) indore pit method adalah metode pengomposan dengan
memasukkan bahan yang dikomposkan ke dalam lubang galian. Metode ini biasa
digunakan jika pengomposan dilakukan didaerah yang memiliki curah hujan
tinggi dengan lokasi pembuatan kompos dilakukan di tempat yang agak tinggi
sehingga terbebas kemungkinan tergenang selama proses pengomposan
berlangsung, (ii) indore heap method adalah metode pengomposan dengan
menumpuk bahan yang dikomposkan di atas tanah biasanya untuk melindungi
timbunan kompos dari tiupan angin maka di sekitar timbunan diberi peneduh atau
pelindung, (iii) Metode jepang adalah metode pengomposan yang biasanya di
lakukan di wilayah permukiman padat sebagai pengganti lubang galian digunakan
bak penampung yang terbuat dari anyaman kawat atau bambu, serta ban mobil
bekas yang disusun bertingkat ( Tambunan, 2009).
Selama ini sebagian besar masyarakat yang ada di Dusun Botong, desa
Bontomanai, kecamatan Bungayya, kabupaten gowa masih memandang limbah
kakao tersebut sebagai limbah yang tidak berguna dan tidak dapat didaur ulang,
bukan sebagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan. Untuk menanggulangi
4
dihasilkan harus dikelola secara baik dengan menggunakan teknologi yang tepat.
Penerapan bioteknologi dengan memanfaatkan proses biologi menggunakan
cendawan mendegradasi lignin dalam proses dekomposisi limbah, merupakan
salah satu alternatif dan terobosan besar yang perlu dikaji. Beberapa spesies
pleurotioid adalah jamur pelapuk kayu yang dapat mendegradasi substrat yang
kaya lignin dan selulosa menjadi bahan – bahan organik sederhana melalui proses
hidrolisis enzimatis, sehingga dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme lain
termasuk tumbuh tumbuhan sebagai pupuk untuk memacu pertumbuhan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka penting dilakukan penelitian untuk
menguji isolat jamur yang berkemampuan tinggi dalam mendegradasi bahan
organik sehingga mampu mengoptimasi pemanfaatan limbah kakao sebagai pupuk
organik dan juga mempunyai kemampuan sebagai agen hayati dalam
perlindungan tanaman.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui kombinasi perla kuan cendawan dan metode pengomposan yang
terbaik dalam proses pengomposan limbah kulit kakao
2. Mengetahui perlakuan terbaik yang mampu menekan perkembangan
Phytophthora palmivora pada kompos limbah kulit kakao
1.3 Manfaat Penelitian
mengenai potensi penggunaan Trichoderma harzianum dan Pleurotus ostreatus
5
dalam pengomposan kulit kakao pada tumpukan terbuka dan tertutup serta
pengaruhnya dalam menekan perkembangan Phytophthora palmivora pada
kompos limbah kulit buah kakao.
1.4 Hipotesis Penelitian
1. Terdapat perlakuan yang terbaik dalam proses pengomposan limbah kulit
kakao
palmivora pada pengomposan limbah kulit kakao
6
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu jenis tanaman
perkebunan yang terus mendapat perhatian untuk dikembangkan. Upaya
pengembangan tanaman kakao disamping masih diarahkan pada peningkatan
populasi (luas lahan) juga telah banyak diarahkan pada peningkatan jumlah
produksi dan mutu hasil. Adapun aspek yang paling diperhatikan dalam usaha
peningkatan jumlah produksi dan mutu hasil adalah penggunaan jenis-jenis kakao
unggul dalam pembudidayaan tanaman kakao. Saat ini terdapat sejumlah jenis
kakao unggul yang sering digunakan dalam budidaya kakao, antara lain jenis
(klon) Sulawesi 1 dan Sulawesi 2 (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2009).
2.2 Limbah Kulit Kakao
Limbah pertanian merupakan bahan yang terbuang di sektor pertanian. Pada
pertanian konvensional atau modern pada umumnya tidak terdapat pengelolaan
limbah, sebab dalam pertanian konvensional semua inputnya seperti pupuk
menggunakan bahan kimia. Limbah dianggap suatu bahan yang tidak penting dan
tidak bernilai ekonomi. Padahal jika kaji dan didilola, limbah pertanian dapat
diolah menjadi beberapa produk baru yang bernilai ekonoomi tinggi.
Semakin meningkatnya produksi kakao baik karena pertambahan luas areal
pertanaman maupun yang disebabkan oleh peningkatan produksi persatuan luas,
akan meningkatkan jumlah limbah buah kakao. Komponen limbah buah kakao
yang terbesar berasal dari kulit buahny a atau biasa disebut pod kakao, yaitu
sebesar 75 % dari total buah (Ashadi, 1988). Jika dilihat dari data produksi buah
7
kakao yang mencapai 779,5 ribu ton, maka limbah pod kakao yang dihasilkan
sebesar 584,6 ribu ton/tahun. Apabila limbah pod kakao ini tidak ditangani secara
serius maka akan menimbulkan masalah lingkungan.
Pada industri pertanian kakao, untuk mengatasi masalah ini, maka salah satu
cara yang dapat dilaksanakan adalah melaksanakan pengolahan limbah pertanian
kakao. Limbah tersebut meliputi limpah pra-panen dan limbah pasca-panen.
Tujuan dari pengolahan limbah sendiri adalah untuk menjaga kstabilan ekologi
pertanian kakao. Tanaman kakao banyak menghasilkan limbah. Limbah tersebut
antara lain adalah pulp, kulit buah, dan daging buah. Selain itu, terdapat limbah
pra-panen merupakan daun dan seresah pohon (Kristanto, 2004).
Pengolahan limbah kakao sangat perlu dilakukan dikarenakan tanaman
kakao merupakan tanaman yang secara umum dimanfaatkan bagian bijinya saja.
Bagian buah lain tidak digunakan menjadi bahan utama. Pemanfaatan limbah
buah kakao maupun pemanfaatan limbah pra-panen pada tanaman kakao
(Kristanto, 2004).
Penyakit busuk buah kakao yang disebabkan oleh Phytophthora palmivora
Butl. merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kakao di Indonesia dan
beberapa negara penghasil kakao lainnya di dunia. Penyakit ini dapat
menyebabkan terjadinya penurunan produksi kakao secara drastis dengan
kerugian berkisar antara 32,6 sampai 99%. Serangan penyakit busuk buah kakao
ini telah menyebar luas di hampir semua sentra produksi kakao di Indonesia
(Anonim, 2004) dan dapat menyebabkan penurunan produksi secara langsung
8
(Clay, 2004). Kerugian yang disebabkan oleh penyakit busuk buah di Indonesia
dapat berkisar antara 25 % sampai 50 % per musim panen (Drenth dan Guest,
2004). Lebih lanjut dijelaskan oleh Guest (2006) bahwa adanya keragaman
patogenik dari Phytopthora sp, dapat menjadi ancaman terhadap penurunan
produksi kakao. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya untuk mengendalikan
serangan penyebab penyakit busuk buah ini di pertanaman kakao.
Gejala serangan awal berupa bercak coklat pada permukaan buah, umumnya
pada ujung atau pangkal buah yang lembab dan basah. Selanjutnya bercak
membesar hingga menutupi semua bagian kulit buah. Saat kondisi cuaca lembab,
pada permukaan bercak tersebut akan tampak miselium dan spora jamur berwarna
putih. Miselium dan spora inilah yang akan menjadi alat reproduksi P. palmivora
untuk melakukan penyebaran dan penularan penyakit busuk buah ke buah-buah
kakao yang masih sehat.
kakao di Indonesia. Bahkan penyebarannya diketahui telah merambah ke negara-
negara penghasil kakao lainnya seperti Ghana, Pantai Gading, Malaysia, dan
Srilanka. Penyebaran penyakit busuk buah kakao memang sangat cepat. Dengan
bantuan angin spora cendawan P. palmivora dapat terbang,hinggap, dan
menginfeksi buah-buah sehat yang berada jauh dari tanaman inangnya yang awal.
Selain dengan bantuan angin, penyebaran dan penularan penyakit busuk buah
kakao juga dapat terjadi karena bantuan semut hitam, tupai, bekicot, dan hewan-
hewan lain yang sering hidup di sekitar batang dan cabang kakao. Penularan pun
9
dapat terjadikarena adanya sentuhan langsung antara buah yang sehat dan buah
yang sakit.
Penyebaran dan penularan penyakit busuk buah kakao akan terjadi lebih cepat
bila kondisi kebun mendukung pertumbuhan cendawan P. palmivora. Kebun-
kebun yang kondisinya lembab karena jarang dipangkas atau karena curah hujan
sedang tinggi biasanya lebih sering terkena penyakit ini.
Salah satu upaya pengendalian terhadap serangan P. palmivora yang saat ini
mulai dikembangkan adalah memanfaatkan mikroorganisme yang bersifat
antagonis terhadap patogen penyebab penyakit dan menguntungkan bagi tanaman
serta aman terhadap lingkungan (Doss dan Welthy, 1995 dalam Semangun, 2000).
Introduksi kandidat mikroba antagonis yang terseleksi (Pseudomonas fluorescens)
menunjukkan rendahnya kejadian penyakit secara signifikan dibanding kontrol
(Drenth dan Guest, 2004). Beberapa mikroba antagonis dilaporkan dapat
menekan genus Phytophthora, misalnya Bacillus subtilis menunjukkan
kemampuan menekan serangan P. capsici pada cabe dan beberapa genus
Fusarium (Soesanto, 2006).
endofit menunjukkan adanya kelimpahan cendawan endofit yang sangat tinggi
pada tanaman berkayu (Arnold dkk., 2003). Lebih lanjut dijelaskan bahwa
cendawan endofit bersifat kompetisi langsung dengan patogen di dalam jaringan
tanaman dan dapat bersifat mikoparasitasi secara langsung terhadap patogen
tanaman seperti P. palmivora. Cendawan endofit juga memproduksi metabolit
yang dapat menghambat perkembangan patogen penyebab penyakit.
10
Penyakit busuk buah merupakan penyakit utama pada tanaman kakao di
seluruh dunia, dan di Indonesia merupakan penyakit paling penting karena
penyakit ini terdapat hampir di seluruh areal pertanaman kakao. P. palmivora
merupakan pathogen (penyebab penyakit) pada banyak jenis tumbuhan di daerah
beriklim tropis dan sedang. Pada tanaman kakao, patogen ini menyerang daun,
batang, pucuk, bantalan bunga, dan buah pada berbagai tingkatan umur (Chee
1974 dalam Sukamto & Pujiastuti 2004). Meskipun demikian buah-buah yang
belum matang adalah paling peka terhadap serangan pathogen (Deberdt dkk.
2008). Kerusakan paling besar dari infeksi selama 2 bulan sebelum buah matang.
Buah-buah yang terinfeksi pada fase ini dapat menyebabkan kerugian total karena
pathogen dapat dengan mudah masuk dari kulit buah ke lapisan bakal biji pada
buah hijau yang sedang berkembang.
Gambar 1. Penyakit busuk buah kakao yang disebabkan oleh Phytophthora palmivora bult.
P. palmivora dapat menyerang semua organ atau bagian tanaman, seperti
akar, daun, batang, ranting, bantalan bunga, dan buah pada semua tingkatan umur.
Tetapi serangan pada buah paling merugikan (Opeke and Gorenz, 1974), terutama
11
serangan buah yang belum matang. P. palmivora dapat menginfeksi seluruh
permukaan buah, namun bagian paling rentan adalah pangkal buah.
Penyebaran penyakit P. palmivora dapat melalui air, semut, tikus, tupai,
bekicot yang dijumpai di perkebunan kakao. Selama daur hidupnya, P. palmivora
menghasilkan beberapa inokulum yang berperan dalam perkembangan penyakit
pada kakao, yaitu miselium, sporangium, oospora, dan klamidospora. Sporangium
berkecambah secara langsung dengan membentuk pembuluh kecambah, dan tidak
langsung dengan membentuk zoospora (Semangun, 2000). Menurut Erwin dan
dan di dalam air dapat menghasilkan zoosporangia. Oospora seksual terbentuk
secara tunggal dalam oogonium setelah pembuahan oleh inti dari antheridium
tersebut. Morfologi P. palmivora yaitu sporangium ovoid dan ellipsoid
mempunyai papila yang jelas (Drenth dan Sendall, 2001).
Sebagian besar bakteri dan jamur dapat menghasilkan zat yang bersifat
racun sehingga dapat digunakan untuk mengontrol pertumbuhan dan
perkembangan organisme pengganggu. Selain sebagai dekomposer, kelompok
bakteri dan jamur tersebut juga dapat menurunkan resiko penyebaran penyakit
busuk buah yang disebabkan oleh patogen Phytopthora palmivora. Penyakit busuk
buah ini merupakan penyakit utama tanaman kakao dunia termasuk di Indonesia
dengan dampak kerugian terhadapap penurunan produksi kakao akibat serangan
P. palmivora berkisar 32,60%- 52,99%, dengan tingkat serangan berbeda-beda
pada setiap daerah (Umrah, 2009). P. Palmivora merupakan patogen primer yang
mampu menginfeksi tanaman melalui 4 macam tipe spora yaitu sporangia,
zoospore, klamidiospora dan oospora.
2.4.1 Trichoderma sp.
Trichoderma sp. adalah jamur saprofit tanah yang secara alami merupakan
parasit yang menyerang banyak jenis jamur penyebab penyakit tanaman
(spektrum pengendalian luas). Jamur Trichoderma sp. dapat menjadi hiperparasit
pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman, pertumbuhannya sangat
cepat dan tidak menjadi penyakit untuk tanaman tingkat tinggi. Mekanisme
antagonis yang dilakukan adalah berupa persaingan hidup, parasitisme, antibiosis
dan lisis (Harman et al., 2004).
Populasi Trichoderma sp. dapat tumbuh baik pada kisaran suhu rata-rata
170C-340C kemampuan pengendalian hayati dari cendawan ini akan semakin
berkurang seiring dengan naiknya suhu tanah (Eland,et.al., 1997 dalam efri,1994).
Cendawan Trichoderma sp. menghendaki kelembaban yang tinggi serta
tersedianya bahan makanan dasar yang sesuai dengan pertumbuhan
Trichoderma sp. (Chet dan Baker 1981 dalam Talanca 1998). Menurut Djatmiko
dan Rohadi ( 1997 ) cendawan Trichoderma sp. dapat tumbuh baik pada pH yang
rendah. Cendawan ini akan terhambat pertumbuhannya pada kondisi tanah pada
pH diatas sekitar diatas 5,4 ( Baker dan Cook,1997 ), lebih lanjut dikemukakan
bahwa cendawan ini lebih berhasil kemampuannya dalam menekan cendawan
patogen pada kondisi tanah yang masam dari pada tanah alkalis.
Pengendalian biologi (hayati) menunjukkan alternatif pengedalian yang dapat
dilakukan tanpa harus memberikan pengaruh negatif terhadap lingkungan dan
sekitarnya, salah satunya adalah dengan pemanfaatan agens hayati seperti virus,
13
jamur atau cendawan, bakteri atau aktiomisetes. Jamur Trichoderma sp. bersifat
antagonistik, terhadap jamur lain dalam mengendalikan penyakit tanaman yang
mampu menghambat perkembangan patogen melalui proses mikroparasitisme,
antibiosis, dan kompetisi (Chet, 1987).
Trichoderma sp. diklasifikasikan dalam Kingdom Plantae, Devisio
Amastigomycota, Class Deutromycetes, Ordo Moniliales, Famili Moniliaceae,
Genus Trichoderma, Spesies Trichoderma sp. Cendawan Trichoderma terdapat
lima jenis yang mempuyai kemampuan untuk mengendalikan beberapa patogen
yaitu Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii, Trichorderma viride,
Trichoderma hamatum dan Trichoderma polysporum. Jenis yang banyak
dikembangkan di Indonesia antara lain Trichorderma harzianum, Trichorderma
koningii, Trichoderma viride (Baharia. S., 2000).
Bentuk sempurna dari fungi ini secara umum dikenal sebagai Hipocreales
atau kadang-kadang Eurotiales, Clacipitales dan Spheriales. Spesies dalam satu
kelompok yang sama dari Trichoderma dapat menunjukkan spesies yang berbeda
pada Hypocrea sebagai anamorf. Hal ini dimungkinkan karena terdapat banyak
perbedaan bentuk seksual dari Trichoderma (Chet, 1987).
Trichoderma sp. memiliki konidiofor bercabang cabang teratur, tidak
membentuk berkas, konidium jorong, bersel satu, dalam kelompok-kelompok
kecil terminal, kelompok konidium berwarna hijau biru. Trichoderma sp. juga
berbentuk oval, dan memiliki sterigma atau phialid tunggal dan berkelompok
(Nurhaedah,2002).
14
Koloni jamur Trichoderma sp. pada media biakan PDA tumbuh dengan
cepat pada suhu 250C-300C. Jamur ini awalnya terlihat berwarna putih selanjutnya
miselium akan berubah menjadi kehijau-hijauan lalu terlihat sebagian besar
berwarna hijau ada ditengah koloni dikelilingi miselium yang masih berwarna
putih dan pada akhirnya seluruh medium akan berwarna hijau sedangkan bagian
bawahnya tidak berwarna (Nurhayati, 2001).
Mekanisme Antagonis Trichoderma sp. yang telah banyak diuji coba untuk
mengendalikan penyakit tanaman Sifat antagonis Cendawan Trichoderma sp.
telah diteliti sejak lama. Inokulasi Trichoderma sp. ke dalam tanah dapat menekan
serangan penyakit layu yang menyerang di persemaian, hal ini disebabkan oleh
adanya pengaruh toksin yang dihasilkan cendawan ini. Selain itu Trichoderma sp.
mempunyai kemampuan berkompetisi dengan patogen tanah terutama dalam
mendapatkan Nitrogen dan Karbon (Lilik,et.al., 2010).
Pengendalian patogen tanaman yang bersifat tular tanah dengan
menggunakan cendawan Trichoderma sp. dapat terjadi melalui mikoparasit
(memarasit miselium cendawan lain dengan menembus dinding sel dan masuk
kedalam sel untuk mengambil zat makanan dari dalam sel sehingga cendawan
akan mati). Trichoderma sp. menghasilkan antibiotik seperti alametichin,
paracelsin, trichotoxin yang dapat menghancurkan sel cendawan melalui
pengrusakan terhadap permeabilitas membran sel, dan enzim chitinase,
laminarinase yang dapat menyebabkan lisis dinding sel. Mempunyai kemampuan
berkompetisi memperebutkan tempat hidup dan sumber makanan. Mempunyai
kemampuan melakukan interfensi hifa. Hifa Trichoderma sp. akan mengakibatkan
15
perubahan permeabilitas dinding sel. Trichoderma sp. adalah jenis cendawan yang
tersebar luas di tanah, dan mempunyai sifat mikoparasitik (Gultom, 2008).
Mikoparasitik adalah kemampuan untuk menjadi parasit cendawan lain.
Sifat inilah yang dimanfaatkan sebagai biokontrol terhadap jenis-jenis cendawan
fitopatogen. Beberapa cendawan fitopatogen penting yang dapat dikendalikan
oleh Trichoderma sp. antara lain: Rhizoctonia solani, Fusarium spp, Lentinus
lepidus, Phytium spp, Botrytiscinerea, Gloeosporium gloeosporoides, Rigidoporus
lignosus dan Sclerotiumroflsii yang menyerang tanaman jagung, kedelai, kentang,
tomat, dan kacang buncis, kubis, cucumber, kapas, kacang tanah, pohon buah-
buahan, semak dan tanaman hias (Tandion, 2008).
2.4.2 Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus)
Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur kayu.Jamur tiram biasa
disebut jamur kayu karena banyak tumbuh pada media kayu yang sudah lapuk.
Jamur kayu ada bermacam-macam jenis antara lain jamur kuping, jamur tiram,
dan jamur shitake. Pleurotus spp. disebut jamur tiram karena bentuk tudungnya
agak membulat, lonjong, dan melengkung seperti cangkang tiram.Batang atau
tangkai tanaman ini tidak tepat berada pada tengah tudung, tetapi agak ke pinggir.
Jamur tiram adalah salah satu jamur yang sangat enak dimakan serta
mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi dibanding dengan jamur lain. Jenis
jamur tiram yang sudah banyak dibudidayakan antara lain : (1) jamur tiram putih,
yang dikenal pula dengan nama shimeji white (P. ostreatus var. florida); (2) jamur
tiram abu-abu, yang dikenal pula dengan nama shimeji grey (P. sajor caju); (3)
jamur tiram coklat, yang dikenal pula dengan nama jamur abalon (P. abalonus)
16
dan (4) jamur tiram merah, yang dikenal pula dengan nama jamur shakura (P.
flabellatus) (Yuniasmara et al., 2004).
Jamur yang menyebabkan kerusakan atau pelapukan kayu dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu : soft rot fungi, brown rot fungi, dan
white rot fungi. Soft rot fungi atau jamur pelapuk lunak termasuk golongan
Ascomycetes atau Deuteromycetes, yang mampu melapukkan kayu hanya terbatas
pada selulosa dan pentosan. Brown rot fungi atau jamur pelapuk coklat dari
golongan Basidiomycetes yang memiliki kemampuan enzimatis melapukkan kayu
dengan cara menyerang holoselulosa (selulosa dan hemiselulosa). White rot fungi
atau jamur pelapuk putih juga termasuk golongan Basidiomycetes tetapi
berkemampuan mendegradasi lignin dan polisakarida (selulosa dan hemiselulosa)
(Eaton dan Hale, 1993). Kemampuan jamur dalam mendegradasi lignin
disebabkan adanya enzim ekstrseluler yang disekresikan oleh hifa jamur (Fengel
dan Wegener, 1995). Eaton dan Hale (1993) menyebutkan berbagai enzim yang
berperan dalam proses degradasi lignin yang disekresikan oleh jamur pelapuk
putih meliputi lignin peroksidase (LiP), mangan peroksidase (MnP), lakase,
demetoksilase, H2O2 generating enzyme, dan enzim pendegradasi monomer
seperti selobiosa dehidrogenase, asam vanilat hidrolase, dan trihidroksi
benzendioksigenase. Namun enzim ligninolitik utama yang dihasilkan jamur
adalah lignin peroksidase (LiP), mangan peroksidase (MnP), dan Lakase.
Beberapa kelompok jamur white rot dilaporkan mampu mendegradasi
senyawa lignin, secara umum jamur white rot dibagi menjadi tiga kelompok
(Zandrazil, 1984 dalam Murni, 2008) yaitu : 1) kelompok yang menguraikan
17
selulosa dan hemiselulosa lebih dahulu kemudian lignin, 2) kelompok lebih
banyak memetabolisme lignin lebih dahulu kemudian selulosa dan hemiselulosa
dan 3) kelompok yang mampu mendegradasi semua polimer dinding sel secara
simultan. Berdasarkan pertimbangan bahwa jamur white rot merupakan
pendegradasi lignin yang paling aktif, maka penting dilakukan isolasi sebagai
upaya untuk memperoleh isolat jamur yang berkemampuan tinggi dalam
mendegradasi lignin dan rendah tingkat degradasinya terhadap selulosa dan
hemiselulosa sehingga mampu mengoptimasi pemanfaatan limbah pertanian.
2.5 Potensi Limbah Kulit Kakao Sebagai Bahan Baku Pupuk Organik
Pada dasarnya, kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai sumber unsur
hara tanaman dalam bentuk kompos. Sebagai bahan organik, kulit buah kakao
mempunyai komposisi hara dan senyawa yang sangat potensial sebagai medium
tumbuh tanaman. Kadar air dan bahan organik pada kakao lindak sekitar 86%,
pH 5,4, N total 1,30%, C organik 33,71%, P2O5 0,186%, K2O 5,5%, CaO 0,23%,
dan MgO 0,59% (Soedarsono, dkk. (1997); Didiek dan Yufnal (2004)). Namun
demikian, kulit buah kakao sampai saat ini belum banyak mendapat perhatian
masyarakat atau perusahaan untuk dijadikan pupuk organik. Umumnya, pupuk
organik yang digunakan berasal dari kotoran hewan, seperti sapi dan domba. Jenis
pupuk organik lain yang dewasa ini memiliki perhatian dalam bidang penelitian
dan manfaatnya cukup tinggi adalah kotoran cacing tanah (bekas cacing =
kascing). Ghabbour (1966) dikutip dalam Anas (1990) mengemukakan bahwa
kascing mengandung lebih banyak mikroorganisme, bahan organik, dan juga
bahan anorganik dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman dibandingkan dengan
18
tanah itu sendiri. Selain itu, kascing mengandung enzim protease, amilase, lipase,
selulase, dan chitinase, yang secara terus menerus mempengaruhi perombakan
bahan organik sekalipun telah dikeluarkan dari tubuh cacing Kascing juga
mengandung hormon perangsang tumbuhan seperti giberelin 2,75%, sitokinin
1,05% dan auksin 3,80% (Mulat, 2003).
Pemanfaatan limbah kulit kakao sebagai sumber unsur hara tanaman dalam
bentuk kompos. Sebagai bahan organik, kulit buah kakao mempunyai komposisi
hara dan senyawa yang sangat potensial sebagai medium tumbuh tanaman.
Pemanfaatan kulit buah kakao sebagai kompos akan meningkatkan ketersediaan
pupuk organik yang akan sangat membantu kebutuhan pupuk petani sehingga
ketergantungan terhadap pupuk kimia dapat dikurangi karena sulit diperoleh
(Tequaia dkk., 2004). Beberapa penelitian tentang pemanfaatkan kulit buah kakao
antara lain sebagai pakan ternak (Supadiyo, 1980), pembuatan tepung
(Supriyanto, 1989 dalam Muttaqin, 1996), dan pembuatan ekstrak pektin (Endah,
1990). Selain itu, kulit buah kakao yang kaya akan nutrisi dan dapat digunakan
sebagai media tumbuh tanaman sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kompos.
Sebagai bahan organik, kulit buah kakao mempunyai komposisi hara dan senyawa
yang sangat potensial sebagai medium tumbuh tanaman.
2.6 Kompos
Proses pengomposan merupakan proses fermentasi. Suatu proses fermentasi
yang terkendali, suhu akan meningkat secara bertahap mulai dari suhu mesofilik
atau suhu awal yaitu < 40oC kemudian meningkat sampai suhu thermofilik (40-
70oC) dan kemudian turun kembali menjadi <40oC. Peningkatan suhu tersebut
19
dan Kurnani, 1994).
Kompos kulit buah kakao mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh
tanaman kakao karena selama pertumbuhannya menyerap unsur hara dari dalam
tanah, tetapi kandungan unsur haranya masih sedikit dan memiliki pH yang
rendah, sedangkan kascing selain mengandung unsur hara makro dan mikro, dapat
meningkatkan pH, juga menghasilkan zat pengatur tumbuh untuk merangsang
pertumbuhan bibit kakao. Limbah kulit kakao yang banyak dibiarkan begitu saja
berserakan di sekitar pertanaman oleh petani sangat berpotensi sebagai penyebar
penyakit busuk buah. Oleh karena itu, kulit kakao tersebut sangat bagus
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik sehingga hasilnya
selain dapat membersihkan pertanaman kakao juga dapat digunakan sebagai
pupuk bagi tanaman kakao itu sendiri.
2.7 Metode pengomposan
diantaranya adalah (i) indore pit method adalah metode pengomposan dengan
memasukkan bahan yang dikomposkan ke dalam lubang galian. Metode ini biasa
digunakan jika pengomposan dilakukan didaerah yang memiliki curah hujan
tinggi dengan lokasi pembuatan kompos dilakukan di tempat yang agak tinggi
sehingga terbebas kemungkinan tergenang selama proses pengomposan
berlangsung, (ii) indore heap method adalah metode pengomposan dengan
menumpuk bahan yang dikomposkan di atas tanah biasanya untuk melindungi
timbunan kompos dari tiupan angin maka di sekitar timbunan diberi peneduh atau
20
pelindung, (iii) Metode jepang adalah metode pengomposan yang biasanya di
lakukan di wilayah permukiman padat sebagai pengganti lubang galian digunakan
bak penampung yang terbuat dari anyaman kawat atau bambu, serta ban mobil
bekas yang disusun bertingkat.
Wind Row sistem adalah proses pembuatan kompos yang palimg
sederhana dan paling murah. Bahan baku kompos ditumpuk memanjang, tinggi
tumpukan 0.6 sampai 1 meter. Sementara itu panjangnya dapat mencapai 40-50
meter. Umtuk mengatur temperatur kelembaban dan oksigen, pada wimdrow
sistem ini, maka dilakukan proses pembalikan secara periodik inilah secara prinsip
yang membedakannya dari sistem pembuatan kompos yang lain.
21
Penelitian ini terdiri dari tiga tahap pelaksanaan, yaitu: 1) pembuatan
kompos, 2) uji kualitas dan kematangan kompos, dan 3) Pengamatan jumlah spora
Phytophthora palmivora dari kompos kulit buah kakao. Pembuatan kompos
dilaksanakan di Botong, desa Bontomanai, kecamatan Bungayya, kabupaten
Gowa. Sementara itu, uji kualitas kompos dan pengamatan jumlah spora
Phytophthora palmivora pada kompos kulit buah kakao dilaksanakan di
Laboratorium Penyakit Tanaman, Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman,
3.2 Metode Penelitian
Laboratorium Penyakit Tanaman. Secara umum, proses formulasi bioaktivator ini
terdiri atas 4 tahap yaitu :
1. Sterilisasi bahan pembawa yang terdiri dari biji jagung dan beras.
2. Perbanyakan bahan aktif bioaktifator berupa Trichoderma harzianum dan
Pleurotus ostreatus didalam medium spesifik.
3. Menginokulasi bahan aktif (Trichoderma harzianum dan Pleurotus ostreatus)
didalam medium (jagung dan beras).
4. Pembuatan formulasi bubuk dan pengemasan pada kantong almunium foil.
22
Gambar 3. Proses Sterilisasi dari bahan pembawa yang terdiri dari biji jagung dan beras.
Gambar 4. Proses Perbanyakan bahan aktif bioaktifator berupa Trichoderma harzianum dan Pleurotus ostreatus di dalam medium spesifik.
Gambar 5. Proses Menginokulasi bahan aktif (Trichoderma harzianum dan Pleurotus ostreatus) di dalam medium ( jagung dan beras ).
23
Gambar 6. Proses pembuatan formulasi bubuk dan pengemasan pada kantong almunium foil.
Tahap persiapan meliputi pencarian bahan baku (buah kakao). Kulit buah
kakao yang dibutuhkan untuk keperluan pengomposan sekitar 120 kg. Kulit buah
kakao diperoleh dari lahan-lahan kakao yang baru saja dipanen dan dikelupas,
sehingga kulit limbah kakao yang tidak terpakai bisa digunakan kembali menjadi
sebuah kompos.
Dalam pembuatan kompos, lahan kosong di desa Bontomanai, kecamatan
Bungayya, kabupaten Gowa digunakan sebagai tempat pengomposan dengan cara
di tumpuk, ada 9 perlakuan dengan 2 ulangan. Setiap ulangan masing-masing
digunakan 40 gram/2lt fomula Trichoderma harzianum dan Pleurotus ostreatus.
24
Masing-masing perlakuan diisi dengan 10 kg kulit buah kakao dan 3,5 Kg sekam
padi. kemudian ditutupi dengan terpal diatas campuran bahan tersebut. Parameter
yang digunakan untuk memperkirakan kematangan kompos meliputi warna, suhu
dan bau (aroma). Pengamatan ini dilaksanakan setiap minggunya. Analisis unsur
hara N, P, K, C-Organik dan ratio C/N nya serta spora Phytophthora palmivora
akan dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah dan Laboratorium Ilmu hama dan
Penyakit tanaman, Fakultas Pertanian. Penelitian ini menggunakan metode
Rancangan Acak Kelompok dengan 8 perlakuan dan 2 ulangan.
P0 : Penguraian tanpa Bioaktifator ( Kontrol Terbuka )
P1 : Penguraian + Trichoderma harzianum + Tumpukan Terbuka
P2 : Penguraian + Pleurotus ostreatus + Tumpukan Terbuka
P3 : Penguraian + Trichoderma harzianum + Pleurotus ostreatus Tumpukan
Terbuka
P7 : Penguraian + Trichoderma harzianum + Pleurotus ostreatus Tumpukan
Tertutup
Reisolasi untuk mengetahui ada tidaknya koloni Phytopthora palmivora
akan dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman . Teknik
yang dilakukan adalah pengenceran dan akan ditumbuhkan di media PDA. Media
25
PDA terbuat dari campuran kentang 100 gram, Agar-agar 8,5 gram, Gula 10 gram
dan Cloromfenicol 1 kapsul serta 1000 ml Aquades. Pengenceran juga dilakukan
pada media V-8 Juice. Pembuatan media terdiri dari difco bacto agar 15 gram, 50
ml clarified V8 concentrate, chlorampenicol 250 mg, dan 950 ml akuades untuk
pembuatan 1 liter media. Clarified V8 concentrate mereupakan V8 yang sudah di
jernihkan (diganti dengan V8 jus modifikasi) yaitu 50 ml V8 jus yang
ditambahkan CaCO3 0,5 gram kemudian disentrifugasi pada kecepatan 4000 rpm
selama 20 menit dan disaring (Jeffer, 2000), cairan hasil penyaringan digunaakan
sebagai bahan pembuatan media. Selanjutnya media diautoclave dan dituang pada
cawan petri untuk keperluan Isolasi.
Proses kerja isolasi kulit buah kakao yang sudah dikomposkan yaitu
dengan mengambil kulit buah kakao yang sudah dikomposkan sebanyak 1 gram
dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer/wadah kecil. Memasukkan aquades
sebanyak 9 ml dan dihomogenkan selama 3 menit. Mengambil 1 ml larutan
tersebut menggunakan pipet effendorf dan dimasukkan kedalam tabung reaksi
yang berisi 9 ml aquades steril, kemudian dihomogenkan dan lakukan hal yang
sama hingga 10-3. Mengambil larutan pada tabung reaksi 10-3 sebanyak 0,1 ml dan
dimasukkan ke dalam media V8 juice yang sudah di tuang sebelumnya di cawan
petridish, kemudian diratakan menggunakan spatula. Setelah dilakukan isolasi,
ditunggu hingga 7-14 hari kemudian dihitung jumlah koloni yang tumbuh.
3.2.4 Analisis Kandungan Nutrisi pada Limbah Kakao Hasil Dekomposisi.
Kandungan nutrisi dari limbah kakao yang ingin dianalisis adalah N, P, K,
C-Organik dan Ratio C/N. Untuk pengamatan kandungan nutrisi pada limbah
26
kakao hasil dekomposisi akan dilakukan di laboratorium Ilmu Tanah Fakultas
Pertanian.
organoleptik dengan perent test. Asngad dan Suparti (2005) merumuskan kriteria
organoleptik kompos meliputi warna (coklat hingga kehitaman), aroma (harum
atau tidak) dan tekstur hasil kompos.
Tabel 1 Warna, Tekstur, dan Bau Kompos sesuai Standar SNI 19-7030-2004
Parameter
Katerangan
Warna Kehitaman Kehitaman
Tekstur Halus Halus
27
Pengamatan Tingkat Kematangan kompos dilakukan dengan pengujian secara
organoleptik. Asngad dan Suparti (2005) merumuskan kriteria organoleptik
kompos meliputi warna (coklat hingga kehitaman), aroma (berbau atau tidak) dan
tekstur kompos.
Perlakuan
tanah XX
tanah XX
Terbuka Kehitaman Berbau seperti
tanah XX
tanah XX
Tertutup Kehitaman Berbau seperti
tanah XXXX
Keterangan: X = Keras XX = Tekstur Lunak 1%-35% XXX = Tekstur Lunak 36%-70% XXXX = Tekstur Lunak 71%-100% Sumber Fitri, 2013
28
Pengamatan Analisis Kandungan Nutrisi Kompos yang dilakukan di
Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin dilakukan
untuk mengetahui ratio N, kandungan C-Organik, C/N, P2O5 dan K2O. Hasil
analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata sehingga
dilakukan Uji BNT. Rerata kandungan N kompos berkisar antara 0,80% - 2,01%,
dengan nilai BNT = 0,21, kandungan C-Organik kompos berkisar antara 19,06% -
34,76% dengan nilai BNT = 3,59, kandungan C/N kompos berkisar antara 13,50%
- 24.50% dengan nilai BNT = 3,89, kandungan P2O5 kompos berkisar antara
1,42% - 2,37% dengan nilai BNT = 0,64 dan K2O kompos berkisar antara 0,50% -
2,00% dengan nilai BNT = 0,68 Rerata Analisis Kandungan Nutrisi dapat dilihat
pada Tabel 3.
29
Pengamatan koloni mikroba yang muncul dari isolasi hasil kompos pada
media PDA dan V-8 dikelompokkan berdasarkan kesamaan bentuk koloninya.
Dari keseluruhan perlakuan, secara makroskopis yang diamati terdapat 2 jenis
mikroorganisme yaitu cendawan dan bakteri sedagkan koloni P.palmivora tidak
ditemukan, untuk mengetahui jenis dari cendawan tersebut maka dilakukan
identifikasi secara lanjut sedangkan bakteri tidak dilakukan uji secara lanjut.
Jumlah koloni pada setiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Pengamatan Jumlah Koloni P. palmivora pada media PDA
Kode Rata-Rata Jumlah Koloni pada Pengamatan ke-
30 Hari Setelah Aplikasi
T. harzianum Tumpukan Terbuka 0.92e 22.13e 19.00ab 1.42b 0.70b
P. ostreatus Tumpukan Terbuka 1.35d 28.83d 21.50cb 2.13a 0.70b
T. harzianum + 1.98ab 26.69cd 13.50a 2.37a 2.00a P. ostreatus Tumpukan
Terbuka
T. harzianum Tumpukan Tertutup 2.01a 30.42bc 15.50a 2.18a 0.50b
P. ostreatus Tumpukan Tertutup 1.79b 33.91ab 19.00ab 2.11a 0.58b
T. harzianum + P. ostreatus Tumpukan Tertutup 2.00a 34.76a 17.50ab 2.24a 0.50b
NPp BNT0.05 0.21 3.59 3.89 0.64 0.68
30
Bakteri
Cendawan
Kontrol Terbuka 0 23000
(T. harzianum) 0
(Aspergillus sp, P. ostreatus) 0
T. harzianum + P. ostreatus Tumpukan Terbuka 0
8500 (T. harzianum, P. ostreatus)
0
(T. harzianum) 0
(P. ostreatus) 0
6500 (T. harzianum, P. ostreatus)
0
Tabel 5. Pengamatan Jumlah Koloni P. palmivora pada media V8
Kode
Rata-Rata Jumlah Koloni pada Pengamatan ke- 30 Hari Setelah Aplikasi
Bakteri
Cendawan
Kontrol Terbuka 6000 2500
(T. harzianum) 0
(P. ostreatus) 0
29500 (T. harzianum, P. ostreatus)
0
31
(T. harzianum) 0
(Aspergillus sp, P. ostreatus) 0
T. harzianum + P. ostreatus Tumpukan Tertutup 0
18500 (T. harzianum, P. ostreatus)
0
Jumlah koloni pada media PDA yang sudah di Isolasi dapat dilihat pada
gambar 7. Pada gambar terlihat bahwa jenis cendawan yang ditemukan adalah
cendawan dari Aspergillus sp., Pleurotus ostreatus dan Trichoderma harzianum
sedangkan untuk kelompok bakteri tidak dilakukan identifikasi lebih lanjut.
Gambar 7. Koloni bakteri dan cendawan pada media PDA Juice selama 2 minggu penanaman : (a) cendawan (b) bakteri
a
32
Gambar 8. Kenampakan cendawan setelah di identifikasi (a) Aspergillus sp. (b)
Trichoderma harzianum dan (c) Pleurotus ostreatus
Jumlah koloni pada media V8 juice yang sudah di Isolasi dapat dilihat
pada gambar 8. Pada gambar terlihat bahwa jenis cendawan yang ditemukan
adalah cendawan dari Aspergillus sp., Pleurotus ostreatus dan Trichoderma
harzianum sedangkan untuk kelompok bakteri tidak dilakukan identifikasi lebih
lanjut.
Gambar 9 . Koloni bakteri dan cendawan pada media V-8 Juice selama 2 minggu penanaman : (a) cendawan (b) bakteri
a b c
33
Gambar 10. Kenampakan cendawan setelah di identifikasi (a) Aspergillus sp. (b) Trichoderma harzianum dan (c) Pleurotus ostreatus
Jumlah koloni pada Perlakuan Kontrol (diambil dari bahan baku limbah
kakao yang tidak dikomposkan) dilakukan Isolasi dapat dilihat pada gambar 11.
Pada gambar terlihat bahwa jenis cendawan yang ditemukan adalah cendawan
Phytophthora palmivora.
(a) (b)
Sporagiophore Oospore
34
Gambar 11. (a) Koloni cendawan Phytophthora palmivora pada perlakuan Kontrol ( tidak dikomposkan ) pada media V-8 Juice selama 5 hari, (b) kenampakan cendawan setelah di identifikasi.
4.2 Pembahasan
Pada Tabel 2, dari dua formulasi mikroba yang diuji, masing-masing
memperlihatkan kematangan kompos yang berbeda pada setiap perlakuan.
Parameter kematangan kompos pada kulit limbah kakao dimulai dari pengamatan
warna, aroma hingga tekstur, diamati 30 hari setelah aplikasi. Menurut Fitri
(2013) bahwa aroma harum pada kompos kulit buah kakao yang dihasilkan
menunjukkan keberhasilan dari proses pengomposan. Warna kehitaman juga
menunjukkan tingkat keberhasilan dari proses pengomposan karena warna hitam
menunjukkan seberapa banyak bahan organik yang terkandung di dalam kompos.
Sedangkan dari tekstur dilihat seberapa lunak kompos dari limbah kulit kakao.
Menurut Yuniasmara (2004) kelompok jamur dapat tumbuh optimal pada
media yang banyak mengandung selulosa yang tinggi, ada pula yang tumbuh
optimal pada media yang mengandung komponen lignin. Kulit limbah kakao
mengandung lignin yang tinggi sehingga sulit untuk terurai dan membututuhkan
waktu yang sangat lama agar terdekomposisi. Oleh karena itu formulasi
P.ostreatus dan T. harzianum digunakan dalam penelitian ini, karena berdasarkan
hasil skrining dari beberapa koleksi isolat jamur pelapuk yang ada di laboratorium
Bioteknologi Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Universitas Hasanuddin isolat
jamur tiram (P.ostreatus), Trichoderma merupakan isolat jamur pelapuk yang
memiliki kemampuan menguraikan kadungan lignoselulotik. Faktor yang paling
penting untuk memilih jenis jamur yang akan digunakan untuk mendegradasi
35
lignin adalah kemampuannya menghasilkan enzim pendegradasi lignin (Lignin
Peroksidase, Manganese Peroksidase dan Lakase) yang merupakan hasil
metabolisme sekunder dari jamur pelapuk putih pada kondisi tertentu (Van der
Merwe, 2002).
Kematangan kompos limbah kulit kakao tumbuh terbaik pada perlakuan
empat dan delapan yaitu T. harzianum + P.ostreatus tumpukan tebuka dan T.
harzianum + P.ostreatus tumpukan tertutup yang menunjukkan warna yang
hitam, aroma seperti tanah dan tekstur lunak yang berkisar antara 71%-100%
dilihat dari mudahnya kulit kakao dihancurkan bahkan menggunakan jari.
Tabel 3. menunjukkan bahwa kandungan C-Organik terbesar berasal dari
perlakuan delapan yaitu T. harzianum + P.ostreatus tumpukan tertutup.
Sedangkan kandungan N terbesar pada perlakuan enam yaitu T. harzianum
tumpukan tertutup. Perbedaan kandungan C-Organik dan Nitrogen pada bahan
akan menyebabkan perbedaan rasio C/N. Menurut Djaja, dkk (2006), setiap bahan
organik memiliki rasio C/N yang berbeda. Menurut Rynk (1992), rasio C/N sesuai
dengan persyaratan karakteristik bahan baku yang layak untuk proses
pengomposan yaitu rasio C/N berkisar antara 20% - 40%. Menurut Farius dkk
(2011) bahwa proses pengomposan dilakukan bertujuan menurunkan C-Organik
yang terdapat dibahan baku kompos dengan cara mendekomposisinya menjadi
CH4 dan CO2 sehingga dapat terlepas pada lingkungan. Penurunan C-Organik
akan menyebabkan peningkatan kandungan nitrogen sehingga menyebabkan rasio
C/N menurun yaitu <20%.
digunakan untuk mengetahui kematangan kompos. Setelah matang ke 30 hari,
kemudian dilakukan uji laboratorium akhir untuk mengetahui karakteristik
kompos matang. Hasil analisis terhadap kandungan C/N kompos kulit kakao dapat
dilihat pada tabel 3. Kandungan C/N terendah terdapat pada perlakuan T.
harzianum + P.ostreatus tumpukan tebuka . Apabila kandungan C/N lebih tinggi
maka kompos belum cukup matang dan perlu waktu dekomposisi lebih lama lagi
(Tambunan, 2009). Kompos matang bila rasio C/N < 20 (Mathur dan Owen,
1993). Salah satu indikator yang menandakan berjalannya proses dekomposisi
dalam pengomposan adalah penguraian C/N substrat oleh mikroorganisme
maupun agen dekomposer lainnya. Perubahan rasio C/N terjadi selama
pengomposan diakibatkan adanya penggunaan karbon sebagai sumber energi dan
hilang dalam bentuk CO2 sehingga kandungan karbon semakin lama berkurang
(Graves dkk., 2000).
Pada tabel 4, berdasarkan pengamatan koloni mikroba yang muncul dari
isolasi hasil kompos pada media PDA dan V-8 dikelompokkan berdasarkan
kesamaan bentuk koloninya. Dari keseluruhan perlakuan yang diamati terdapat 4
bentuk koloni mikroba yang berbeda, setelah dilakukan identifikasi secara
mikroskopis terdapat cendawan Aspergillus sp., Trichoderma harzianum,
Pleurotus ostreatus dan bakteri. Namun tidak ada yang menyerupai ciri-ciri
Phytopthora palmivora pada berbagai jenis perlakuan untuk dekomposer limbah
kulit kakao. Phytopthora palmivora merupakan cendawan heterotalik, tidak
menghasilkan stadium seksual dalam medium buatan. Miselium tidak bersepta
37
dan mengandung banyak inti diploid. Hifa tidak berwarna, mempunyai cabang
yang banyak, agak keras, sinosis, kadang-kadang bersepta, berdiameter antara 5 –
8 µ. Pada jaringan tanaman, pertumbuhan hifa biasanya intraseluler dan
membentuk haustrorium di dalam sel inang (Alexopoulos dan Mims, 1979),
mikroba yang berkembang dalam bahan kompos diduga mikroba yang terbawa
dari limbah kulit kakao. Hasil pengelompokkan jamur berdasarkan ciri-ciri
mikroba yang berkembang pada media PDA dan V8 tidak menunjukkan adanya
ciri-ciri yang menyerupai Phytopthora palmivora yang terdapat di dalam kompos
pada kulit kakao, ini menunjukkan bahwa menggunakan formulasi Pleurotus
ostreatus dan Trichoderma harzianum dapat mengendaikan perkembangan dari
penyebab penyakit busuk buah kakao.
38
berikut :
limbah kakao dapat dilihat bahwa perlakuan yang paling efektif dalam
pengomposan kulit buah kakao yaitu perlakuan Trichoderma harzianum +
Pleurotus ostreatus tumpukan terbuka dimana pada perlakuan ini memiliki
tingkat kematangan yang paling baik dilihat berdasarkan Warna, aroma
dan tekstrurnya. Sedangkan pada kandungan nutrisi memiliki tingkat C/N
paling rendah, P2o5, dan K2o yang paling tinggi.
2. Tidak diperoleh koloni Phytopthora palmivora pada semua perlakuan
pengomposan.
Pleurotus ostreatus sebagai biodekomposer limbah kulit buah kakao pada tumpukan
terbuka dan tertutup serta pengaruhnya dalam menekan perkembangan (Phytophthora
palmivora Butl) disarankan sebaiknya dilakukan pengukuran suhu pada kompos.
39
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2004. Panduan lengkap budidaya kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Agromedia Pustaka, Jakarta, hal. 222-245
Anonim. 2009. Silase Kulit Buah Kakao Sebagai Pakan Kambing. Pada situs : http://www. [email protected] Tanggal 9 Desember 2017.
E.R. Tambunan, 2009. Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cocoa L) pada Media Tumbuh sub soil dengan Aplikasi Kompos Limbah Pertanian dan Pupuk Anorganik. Tesis. Program Studi Agronomi. Universitas Sumatra Utara. Medan.
Epstein, Eliot. 1997. The Science of Composting. Technomic Publishing CoInc. USA. Fitrianti Dzulfikar, 2016. Efektifitas Isolat Jamur Pelapuk dan Mikroorganisme
Lokal dalam Mengurai limbah kulit kakao.
Goenadi, D.H.,T.Y. Suswant, M.Romli. 2000. Kajian aspek tekno-ekonomi produksi kompos bioaktif tandan kosong kelapa sawit di PKS Kertajaya- PT Perkebunan Nusantara VIII. Warta Penelitian Bioteknologi Perkebunan. (1) : 29-31.
Haryati,T dan Hardjosuwito. 1984. Pemanfaatan Limbah Hasil Perkebunan Coklat sebagai Dasar Pembuatan Pektin. Balai Penelitian Perkebunan, Bogor.
Kuswinanti Tutik, 2006. Efektivitas Trichoderma harzianum dan Gliocladium virens Dalam Menekan Pertumbuhan Sclerotium rolfsii , Penyebab Penyakit Busuk Pangkal Batang Pada Tanaman Kacang Tanah.
Kuswinanti, Langga, I. F., M. Restu. 2012. Optimalisasi Suhu dan Lama Inkubasi dalam Ekstraksi DNA Tanaman Bitti (Vitex cofassus Reinw) serta Analisis Keragaman Genetik dengan Teknik RAPD-PCR. J. Sains & Teknologi. Vol.12 (3) : 265 – 276.
Semangun, H. 1991. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan Penting di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 529-535.
Sunanto H., 1994. Cokelat Pengelolaan Hasil dan Aspek Ekonominya. Kanisius. Yogyakarta.
Soesanto, F. X. 2006. Tanaman Kakao Budidaya dan Pengolahan Hasil. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
40
Swandana, M 1999. “ Pendidikan dan Pelatihan budidaya jamur Edibel”, Dalam Soenanto Hardi, Jamur tiram budi daya dan peluang usaha, Semarang : Aneka Ilmu.
Tambunan, E.R. 2009. Respon Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cocoa L.) pada Media Tumbuh Sub Soil dengan Aplikasi Kompos Limbah Pertanian dan Pupuk Anorganik. Tesis. Program Studi Agronomi. Universitas Sumatera Utara. Medan. http://repository.usu.ac.id (diakses 9 Oktober 2017)
Tillman,A.D, Hari H., Soedomo P., dan Sukato, L., 1989. Ilmu Makanan ternak dasar. UGM-Press, Yogjakarta.
Elna Karmawati, dkk. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
Firdausil AB, Nasriati, A. Yani. 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan TeknologiPertanian.
Hatta Sunanto. 1994. Cokelat, Pengolahan Hasil dan Aspek Ekonominya. Kanisius.
Rijadi Subiantoro. 2009. Penyakit Penting pada Tanaman Kakao. Politeknik Negeri Lampung.
42
43
44
45
Lampiran
Kode H202 C N
(%) P1U1 7.01 19.36 0.75 26 1.63 1.82
P1U2 7.04 18.75 0.85 22 2.51 0.98 P2U1 6.85 22.41 0.86 26 1.85 0.56 P2U2 6.97 21.85 0.97 23 0.98 0.84 P3U1 6.97 28.97 1.45 20 2.14 0.74 P3U2 6.98 28.68 1.24 23 2.11 0.66 P4U1 6.52 26.53 2.13 12 2.41 1.48 P4U2 6.54 26.85 1.83 15 2.32 2.51 P5U1 6.75 29.67 1.59 19 1.98 0.74 P5U2 6.58 30.06 1.57 19 1.89 0.68 P6U1 6.72 31.15 1.99 16 2.21 0.51 P6U2 6.62 29.68 2.02 15 2.14 0.48 P7U1 6.93 30.47 1.83 17 1.96 0.52 P7U2 7 37.35 1.75 21 2.25 0.63 P8U1 7.01 35.37 1.93 18 2.14 0.47 P8U2 6.99 34.15 2.06 17 2.33 0.52
Tabel Lampiran 2a. Kandungan H2O2
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata 1 2
g1 7.01 7.04 14.05 7.0 g2 6.85 6.97 13.82 6.9 g3 6.97 6.98 13.95 7.0 g4 6.52 6.54 13.06 6.5 g5 6.75 6.58 13.33 6.7 g6 6.72 6.62 13.34 6.7 g7 6.93 7 13.93 7.0 g8 7.01 6.99 14 7.0
Total 54.76 54.72 109.48 6.8425
46
sk dB JK KT F hit F tabel 0.05 0.01
Genotipe 7 0.5083 0.072614 24.20476 2.614299 5.200121 galat 10 0.03 0.003
Total 17 0.5383 kk 1% Tabel lampiran 3a. kandungan N
Perlakuan ulangan Total Rata-rata 1 2
g1 0.75 0.85 1.6 0.8 g2 0.86 0.97 1.83 0.9 g3 1.45 1.24 2.69 1.3 g4 2.13 1.83 3.96 2.0 g5 1.59 1.57 3.16 1.6 g6 1.99 2.02 4.01 2.0 g7 1.83 1.75 3.58 1.8 g8 1.93 2.06 3.99 2.0
Total 12.53 12.29 24.82 1.55125
Tabel Lampiran 3b. Sidik ragam kandungan N
sk dB JK KT F hit F tabel 0.05 0.01
Genotipe 7 3.312375 0.473196 52.34474 2.614299 5.200121 galat 10 0.0904 0.00904
Total 17 3.402775 kk 6%
47
Perlakuan ulangan Total Rata-rata 1 2
g1 19.36 18.75 38.11 19.1 g2 22.41 21.85 44.26 22.1 g3 28.97 28.68 57.65 28.8 g4 26.53 26.85 53.38 26.7 g5 29.67 30.06 59.73 29.9 g6 31.15 29.68 60.83 30.4 g7 30.47 37.35 67.82 33.9 g8 35.37 34.15 69.52 34.8
Total 223.93 227.37 451.3 28.20625
Tabel Lampiran 4b. Sidik ragam kandungan C
sk dB JK KT F hit F tabel 0.05 0.01
Genotipe 7 412.924975 58.98928 22.6847 2.614299 5.200121 galat 10 26.004 2.6004
Total 17 438.928975 kk 6%
Tabel Lampiran 5a. Kandungan C/N
Perlakuan ulangan Total Rata-rata 1 2
g1 26 22 48 24.0 g2 26 23 49 24.5 g3 20 23 43 21.5 g4 12 15 27 13.5 g5 19 19 38 19.0 g6 16 15 31 15.5 g7 17 21 38 19.0
48
g8 18 17 35 17.5 Total 154 155 309 19.3125
Tabel Lampiran 5b. Sidik ragam kandungan C/N
sk dB JK KT F hit F tabel 0.05 0.01
Genotipe 7 210.9375 30.13393 9.879977 2.614299 5.200121 galat 10 30.5 3.05
Total 17 241.4375 kk 9%
Tabel lampiran 6a. Kandungan P2O5
Perlakuan ulangan Total Rata-rata 1 2
g1 1.63 2.51 4.14 2.1 g2 1.85 0.98 2.83 1.4 g3 2.14 2.11 4.25 2.1 g4 2.41 2.32 4.73 2.4 g5 1.98 1.89 3.87 1.9 g6 2.21 2.14 4.35 2.2 g7 1.96 2.25 4.21 2.1 g8 2.14 2.33 4.47 2.2
Total 16.32 16.53 32.85 2.053125
Tabel Lampiran 6b. Sidik Ragam kandungan P2O5
sk dB JK KT F hit F tabel 0.05 0.01
Genotipe 7 1.14899375 0.164142 1.961661 2.614299 5.200121 galat 10 0.83675 0.083675
Total 17 1.98574375 kk 14%
49
Perlakuan ulangan Total Rata-rata 1 2
g1 1.42 1.38 2.8 1.4 g2 0.56 0.84 1.4 0.7 g3 0.74 0.66 1.4 0.7 g4 1.48 2.51 3.99 2.0 g5 0.74 0.68 1.42 0.7 g6 0.51 0.48 0.99 0.5 g7 0.52 0.63 1.15 0.6 g8 0.47 0.52 0.99 0.5
Total 6.44 7.7 14.14 0.88375
Tabel Lampiran 7b. Sidik ragam kandungan K2O
sk dB JK KT F hit F tabel 0.05 0.01
Genotipe 7 3.993375 0.570482 9.78193 2.614299 5.200121 galat 10 0.5832 0.05832
Total 17 4.576575 kk 27%
2018