pendapatan jambu mete

Upload: yhu-loup-andez-chaby

Post on 06-Jul-2018

245 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    1/116

    ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAMBU MENTE

    (Anacardium Occidentale L.) 

    (Kasus di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga,

    Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur )

    Oleh :

    Apollonaris Ratu Daton

    A. 14105513

    PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS

    FAKULTAS PERTANIAN

    INSTITUT PERTANIAN BOGOR

    2008

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    2/116

    RINGKASAN

    APOLLONARIS RATU DATON. Analisis Pendapatan Usahatani Jambu

    Mente ( Anacardium Occidentale L.) (Kasus di Desa Ratulodong, Kecamatan

    Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur. Di bawah Bimbingan NETT1TINAPRILLA. 

    Jambu mente ( Anacardium occidentale L.), merupakan salah satu

    komoditas yang mendapat prioritas dalam pembangunan perkebunan dewasa ini,

    terutama di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Beberapa daerah di KTI yangmerupakan penghasil utama jambu mente dengan sumbangan terhadap produksi

    mente nasional adalah Sulawesi Tenggara (47,5%), Sulawesi Selatan (20,4%),

     NTT (5,0%) dan Bali (3,5%). Jambu mente merupakan komoditas unggulan danmenjadi salah satu sumber pendapatan petani. Areal penanaman jambu mente

    terus meningkat dari tahun ke tahun. Produksi jambu mente di indonesia padaumumnya untuk diekspor dalam bentuk gelondongan. Volume ekspor jambumente semakin meningkat menunjukan bahwa gelondong mente mempunyai nilai

    ekonomis tinggi.

    Pengusahaan jambu mente di kabupaten Flores Timur belum dilaksanakan

    secara maksimal. Umumnya petani mente di Flores Timur adalah petani swadaya(perkebunan rakyat) dan sistem budidaya yang diterapkan masih sederhana

    dengan penggunaan input rendah (Low input). Prospek pengusahaan jambu

    mente cukup baik di masa mendatang. Upaya perbaikan teknik budidaya dan penggunaan input produksi yang bermutu merupakan faktor yang penting demi

     peningkatan produktivitas tanaman.

    Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, penelitian inidilakukan untuk menganalisis pendapatan petani. Penelitian ini menggambarkan

    kondisi usahatani jambu mente di Kabupaten Flores Timur saat ini, menganalisis

     biaya-biaya yang dikeluarkan untuk usahatani jambu mente, dan menganalisis

     pendapatan yang diterima petani dari usahatani jambu mente.Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai April 2008 di Kabupaten

    Flores Timur. Secara  purposive  ditentukan Desa Ratulodong, yang merupakan

    sentra produksi jambu mente di Kecamatan Tanjung Bunga. Dalam penentuanresponden, Penelitian ini menggunakan teknik  simple random sampling   dengan

    menggunakan sampel petani jambu mente swadaya (perkebunan rakyat)

    sebanyak 40 orang dari total keseluruhan populasi sebanyak 322 petaniData yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer

    diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan petani, observasi serta pengisian

    kuisioner oleh petani sampel. Sedangkan data sekunder diperoleh dari DinasPertanian dan Peternakan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Badan Pusat

    Statistik, serta instansi lain yang terkait.

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode derkriptif

    dengan pendekatan studi kasus. Dengan metode ini data diolah dan dianalisis

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    3/116

    secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui

    kondisi yang dialami petani saat ini dalam melakukan sistem budidaya jambu

    mente. Analisis kuantitatif yang dipilih adalah analisis pendapatan usahatani, dananalisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C Ratio). Untuk menghitung

     pendapatan petani jambu mente secara monokultur, dilakukan tabulasi sederhana

    dengan menghitung pendapatan usahatani jambu mente atas biaya tunai dan

     pendapatan usahatani jambu mente atas biaya total. Dari hasil analisis pendapatan yang diperoleh, kemudian dilakukan analisis imbangan penerimaan

    dan biaya (R/C Rasio) atas biaya tunai dan atas biaya total untuk melihat tingkat

    efisiensi usahatani.Berdasarkan hasil Penelitian, Sistem usahatani jambu mente di Desa

    Ratulodong dilakukan secara monokultur. Kondisi tanaman jambu mente yang

    menyebar di wilayah Desa Ratulodong sesungguhnya sudah berumur di atas 15tahun dengan jarak tanam yang rapat yaitu mulai dari 2 m x 2 m hingga 4 m x 4

    m, sebagai realisasi proyek rehabilitasi lahan kritis di Kabupaten Flores

    Timur. Pengembangan usaha jambu mente di lokasi penelitian sampai saat inidilakukan secara sederhana dan pegelolaannya dilakukan secara tradisional

    dengan penggunaan input produksi rendah (Low Input).Deskripsi usahatani jambu mente selama tahun 2007 meliputi proses budidaya, penggunaan input produksi serta output usahatani. Harga jual

    gelondong mente tergolong rendah karena penentuan harga dilakukan oleh

     pedagang ( price maker ). Sejauh ini masalah penentuan harga, petani memiliki

    daya tawar (bargaining power ) rendah sehingga terkesan petani selalu dalam posisi sebagai penerima harga ( price taker ).

    Rata-rata produksi per hektar adalah sebesar 521,68 kg dalam bentuk mente

    gelondong dengan harga jual rata-rata Rp. 5000,00 per kilogram, maka total penerimaan yang diperoleh petani pada musim panen 2007 adalah sebesar Rp.

    2.608.400,00 per hektar. Total biaya usahatani yang dikeluarkan petani di Desa

    Ratulodong untuk musim panen tahun 2007 adalah sebesar Rp1.948.066,67 perhektar yang terdiri dari biaya tunai sebesar Rp. 289.800,00 per hektar atau

    sebesar 14,87 persen dan biaya diperhitungkan sebesar Rp. 1.658.266,67 per

    hektar atau sebesar 85,13 persen. Pendapatan atas biaya tunai sebesar

    Rp.2.318.600,00 per hektar, pendapatan atas biaya total sebesar Rp.660.333,33. Nilai R/C rasio atas biaya tunai sebesar 9,00 dan nilai R/C rasio atas biaya total

    sebesar 1,34. Nilai R/C rasio yang lebih besar dari satu menunjukan bahwa

    usahatani jambu mente di Desa Ratulodong saat ini layak untuk diusahakan.Dari hasil analisis usahatani, terbukti bahwa usahatani jambu mente yang

    dijalankan untuk musim panen tahun 2007 masih menguntungkan untuk

    dilaksanakan. Usahatani jambu mente untuk musim panen tahun 2007 dapatdikatakan belum baik, hal ini terbukti bahwa sejauh ini petani belum

    memanfaatkan input produksi secara maksimal untuk peningkatan produksi.

    Penerapan usahatani jambu mente secara baik dan memperhatikan efisiensi penggunaan input produksi pada masa yang akan datang dapat meningkatkan

     produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    4/116

    ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAMBU MENTE

    (Anacardium Occidentale L.) 

    (Kasus di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga,

    Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur )

    SKRIPSI

    Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar

    Sarjana Pertanian

    Pada

    Fakultas Pertanian

    Institut Pertanian Bogor

    Oleh :Apollonaris Ratu Daton

    A14105513

    PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS

    FAKULTAS PERTANIAN

    INSTITUT PERTANIAN BOGOR

    2008 

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    5/116

     Nama : Apollonaris Ratu Daton

     NRP : A. 14105513

    Program Studi : Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis

    Judul : “Analisis Pendapatan Usahatani Jambu Mente (Anacardium

    Occidentale L.) (Kasus di Desa Ratulodong, Kecamatan

    Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa

    Tenggara Timur)” 

    Menyetujui,

    Dosen Pembimbing

    Ir. Netti Tinaprilla, MM

     NIP. 132 133 965

    Mengetahui,

    Dekan Fakultas Pertanian

    Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr

     NIP. 131 124 019

    Tanggal Kelulusan : 19 Mei 2008

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    6/116

    KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas

    segala berkat dan karunia-Nya sehingga pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi ini

    dapat diselesaikan. Penulisan skripsi ini sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana pada

    Program Sarjana Manajemen Agribisnis (Ekstensi) Institut Pertanian Bogor, dengan

     judul “Analisis Pendapatan Usahatani Jambu Mete ( Anacardium Occidentale L.)  (Kasus

    di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa

    Tenggara Timur)”.

    Topik mengenai pendapatan usahatani dipilih terkait dengan permasalahan yang

    dihadapi petani jambu mente di Desa Ratulodong saat ini. Diharapkan dengan adanya

     penelitian ini petani setempat dapat menjalankan usahatani jambu mente secara lebih baik

    sehingga mendapat keuntungan yang layak dengan memahami biaya-biaya usahatani.

    Penulis merasa bahwa isi dari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh

    karena itu, segala kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan dari

     pembaca sekalian. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberkati kita semua.

    Amin. Akhir kata penulis berharap skripsi ini memberikan informasi pengetahuan bagi

     pembacanya.

    Bogor, Mei 2008

    Penulis

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    7/116

    PERNYATAAN

    DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG

    BERJUDUL “ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAMBU MENTE

    (ANACARDIUM OCCIDENTALE L.) (KASUS DI DESA RATULODONG,

    KECAMATAN TANJUNG BUNGA KABUPATEN FLORES TIMUR, PROPINSI

     NUSA TENGGARA TIMUR)” BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA

    SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA

    ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. 

    Bogor, Mei 2008

    Apollonaris Ratu Daton

    A. 14105513

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    8/116

    RIWAYAT HIDUP

    Penulis Dilahirkan pada tanggal 01 Mei 1976 di Desa Wailolong, Kabupaten

    Flores Timur sebagai anak ke lima dari enam bersaudara dari pasangan Leo Laba

    Daton (Almahrum) dan Maria Bota Hurint. Pendidikan formal yang telah ditempuh

    adalah pendidikan dasar pada SDK Wailolong tahun 1988. Pada tahun 1991

    menamatkan pendidikan pada SMPN 2 Larantuka, dan pada tahun 1994

    menyelesaikan pendidikan menengah atas pada SMA PGRI Larantuka. Pada Tahun

    1995 penulis melanjutkan kuliah pada D-III Politani Kupang dan menamatkan

     pendidikan pada tahun 1998.

    Bekerja sebagai PNS tanggal 1 Mei 2003 pada Dinas Pertanian Tanaman

    Pangan dan Hortikultura Kabupaten Flores Timur. Sebagai Pemimpin Pertanian

    Kecamatan Kota Larantuka pada bulan Agustus 2003 hingga tahun 2005. April 2005

     penulis diberi ijin belajar oleh Pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk

    melanjutkan pendidikan pada Program Sarjana Manajemen Agribisnis (ekstensi)

    Institut Pertanian Bogor.

    Penulis menikah pada tanggal 10 November 2006 dengan Marselina Pai

    Hurint, yang lahir di Desa Wailolong tanggal 23 Maret 1984. Dari buah kasih sayang

    kami, penulis dikaruniai seorang putra bernama Debrito Christian Leo Laba Daton,

    lahir di Larantuka pada tanggal 12 Desember 2007.

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    9/116

      vii

    DAFTAR ISI

    Halaman 

    DAFTAR TABEL .............................................................................................. x

    DAFTAR GAMBAR........................................................................................... xiv

    DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xv

    I.  PENDAHULUAN 1 

    1.1.  Latar Belakang ................................................................................... 1

    1.2.  Perumusan Masalah ........................................................................... 6

    1.3.  Tujuan Penelitian ............................................................................... 9

    1.4. 

    Manfaat Penelitian ............................................................................. 9

    1.5. Ruang Lingkup................................................................................... 10

    II.  TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 11

    2.1. Usahatani Jambu Mente ...................................................................... 11

    2.1.1. Tinjauan Umum Jambu Mente................................................ 11

    2.1.2. Agribisnis Jambu Mente ......................................................... 12

    2.1.3. Syarat Lokasi .......................................................................... 13

    2.1.4. Sistem Budidaya Jambu mente ............................................... 16

    2.1.5. Pengendalian Hama Penyakit ................................................. 21

    2.2. Kajian Penelitian Terdahulu............................................................... 23

    III.  KERANGKA PEMIKIRAN ................................................................... 27

    3.1.  Kerangka Pemikiran Teoritis .......................................................... 27

    3.1.1. Pengertian Usahatani............................................................... 27

    3.1.2. Penerimaan Usahatani ............................................................ 29

    3.1.3. Konsep Biaya .......................................................................... 30

    3.1.4. Pendapatan Usahatani ............................................................. 31 

    3.1.5. Efisiensi Usahatani ................................................................. 32

    3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ....................................................... 33

    IV. METODE PENELITIAN......................................................................... 36

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    10/116

      viii

    4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian. ............................................................. 36

    4.2. Teknik Pengumpulan Data.................................................................. 36

    4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data .............................................. 37

    4.4. Analisis Usahatani............................................................................... 38

    4.4.1. Analisis Pendapatan Usahatani. .............................................. 38

    4.4.2. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya.............................. 40

    V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN.................................. 43

    5.1. Kondisi Geografis dan Wilayah Administratif ................................... 43

    5.2. Topografi............................................................................................. 44

    5.2.1. Ketinggian Tempat.................................................................. 45

    5.2.2. Tingkat Kemiringan ................................................................ 46

    5.3. Iklim dan Curah Hujan........................................................................ 47

    5.4. Demografi. .......................................................................................... 49

    5.5. Profil Sektor Pertanian ........................................................................ 50

    VI. HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................. 53

    6.1. Gambaran umum Desa Ratulodong .................................................... 53

    6.1.1. Wilayah dan Topografi ............................................................ 53

    6.1.2. Penduduk dan Mata Pencaharian ............................................. 54

    6.2. Karakteristik Responden ..................................................................... 56

    6.2.1. Umur Petani. ............................................................................ 56

    6.2.2. Tingkat Pendidikan .................................................................. 57

    6.2.3. Status Usahatani ....................................................................... 59

    6.2.4. Pengalamaan Berusahatani....................................................... 60

    6.2.5. Jumlah Tanggungan Keluarga.................................................. 61

    6.2.6. Luas Lahan Pengusahaan Jambu Mente .................................. 62

    6.2.7. Status Kepemilikan Lahan ...................................................... 63

    6.2.8. Kepemilikan Modal.................................................................. 64

    6.3. Deskripsi Kondisi Usahatani Jambu Mente ........................................ 65

    6.3.1. Penggunaan Input Produksi ..................................................... 66

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    11/116

      ix

      6.3.1.1. Pupuk ......................................................................... 67

    6.3.1.2. Pestisida ..................................................................... 68

    6.3.1.3. Tenaga Kerja .............................................................. 68

    6.3.2. Proses Budidaya ....................................................................... 72

    6.3.1.1. Pemeliharaan Tanaman .............................................. 72

    6.3.1.2. Pemangkasan.............................................................. 76

    6.3.1.3. Panen.......................................................................... 77

    6.3.3. Pemasaran Hasil ....................................................................... 79

    6.3.4. Output Usahatani...................................................................... 80

    6.3.5. Penyusutan Alat-Alat Pertanian ............................................... 81

    6.4. Analisis Usahatani Jambu Mente........................................................ 83

    6.4.1. Analisis Pendapatan Usahatani Jambu Mente Per Hektar di

    Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten

    Flores Timur............................................................................. 83

    6.4.2.  Analisis Pendapatan Usahatani Jambu Mente Per Luasan

    Lahan di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga

    Kabupaten Flores Timur .......................................................... 89

    6.4.3. Efisiensi Usahatani................................................................... 92

    VII. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 94

    7.1. Kesimpulan ......................................................................................... 94

    7.2. Saran.................................................................................................... 95

    DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 99

    LAMPIRAN.......................................................................................................... 99

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    12/116

      xiv

    DAFTAR GAMBAR

     Nomor Halaman

    1. Pohon Industri Jambu Mente ……………………………….......... 11

    2. Skema Alur Pemikiran Operasional................................................ 35

    3. Rantai Tataniaga Gelondong Mente di Desa Ratulodong…........... 80

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    13/116

      iv

    DAFTAR TABEL

     Nomor Halaman

    1.  Perkembangan Areal dan Produksi Jambu Mente di IndonesiaTahun 1996 – 2005 ………………………………………………… 2

    2. Perkembangan Ekspor, Impor Jambu Mente Indonesia Tahun

    1995 - 2004 ....................................................................................... 3

    3. Perkembangan Harga Bulanan Kacang Mente di Pasar Dalam

     Negeri Tahun 2000 – 2004 ................................................................ 4

    4. Perkembangan Areal dan Produksi Jambu Mente di Kabupaten

    Flores Timur Tahun 2002 - 2006 ....................................................... 6

    5. Jadwal dan Dosis Pemupukan Dalam Gram ...................................... 20

    6. Kebutuhan Data dan Sumbernya ....................................................... 37

    7. Metode Perhitungan Pendapatan Usahatani Jambu Mente ............... 42

    8. Pembagian wilayah Administratif Kabupaten Flores Timur.............. 44

    9. Perincian Luas Wilayah menurut Ketinggian Dari Permukaan

    Laut Serta Prosentasinya di Kabupaten Flores Timur........................ 45

    10.  Perincian Luas menurut Kemiringan Tanah / Lereng di

    Kabupaten Flores Timur..................................................................... 46

    11. Klasifikasi Iklim di Kabupaten Flores Timur..................................... 47

    12. Rata-rata Curah Hujan Bulanan dalam Lima Tahun Terakhir

    Di Kabupaten Flores Timur Tahun 2003 - 2007................................ 48

    13. Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten

    Flores Timur Tahun 2007................................................................... 49

    14. Luas Areal dan Produksi Beberapa Komoditi Perkebunan diKabupaten Flores Timur Tahun 2007................................................ 51

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    14/116

      v

    15.  Luas Areal Dan Produksi Jambu Mente dirinci Menurut Kecamatandi Kabupaten Flores Timur Tahun 2007............................................. 52

    16. Luas Wilayah Desa Ratulodong Menurut Penggunaannya

    tahun 2007.......................................................................................... 54

    17. Susunan Penduduk Desa Ratulodong Menurut Kelompok UmurTahun 2008......................................................................................... 55

    18. Susunan Penduduk Desa Ratulodong Menurut Tingkat Pendidikan

    Tahun 2008......................................................................................... 55

    19. Susunan Penduduk Desa Ratulodong Berdasarkan Mata Pencaharian

    Tahun 2008......................................................................................... 56

    20.  Karakteristik Responden Petani Jambu Mente Berdasarkan Umur

    di Desa Ratulodong Tahun 2008........................................................ 57

    21.  Karakteristik Responden Petani Jambu Mente Berdasarkan

    Tingkat Pendidikan di Desa Ratulodong Tahun 2008....................... 58

    22.  Karakteristik Responden Petani Jambu Mente Berdasarkan

    Status Usahatani di Desa Ratulodong Tahun 2008............................ 59

    23.  Karakteristik Responden Petani Jambu Mente Berdasarkan

    Pengalamaan Berusahatani di Desa Ratulodong Tahun 2008............ 60

    24. 

    Karakteristik Responden Petani Jambu Mente Berdasarkan JumlahTanggungan Dalam Keluarga di Desa Ratulodong Tahun 2008........ 62

    25.  Karakteristik Responden Petani Jambu Mente BerdasarkanLuas Lahan di Desa Ratulodong Tahun 2008..................................... 63

    26.  Karakteristik Responden Petani Jambu Mente Berdasarkan StatusKepemilikan Lahan di Desa Ratulodong Tahun 2008....................... 63

    27.  Karakteristik Responden Petani Jambu Mente Berdasarkan StatusKepemilikan di Desa Ratulodong Tahun 2008.................................. 65

    28.  Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja Per Hektar Usahatani Jambu

    Mente di Desa Ratulodong Pada Musim Panen Tahun 2007............ 69

    29.  Rata-rata Produksi Gelondong Per Hektar Usahatani jambu Mente

    di Desa Ratulodong Pada Musim Panen 2007.................................... 81

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    15/116

      vi

    30.  Rata-Rata Nilai Penggunaan Peralatan (Rp/Ha) UsahataniJambu Mente di Desa Ratulodong Pada Musim Panen Tahun 2007.. 82

    31.  Nilai Penyusutan Peralatan (Rp/Ha) Usahatani Jambu Mente

    di Desa Ratulodong Pada Musim Panen 2007.................................... 83

    32.  Rata-Rata Pendapatan Petani Responden Per Hektar UsahataniJambu Mente di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga

    Kabupaten Flores Timur Musim Panen Tahun 2007........................... 85

    33.  Rata-Rata Pendapatan Petani Responden Per Luasan LahanUsahatan Jambu Mente di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung

    Bunga Kabupaten Flores Timur Musim Panen 2007........................ 90

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    16/116

      xiv

    DAFTAR GAMBAR

     Nomor Halaman

    1. Pohon Industri Jambu Mente ……………………………….......... 11

    2. Skema Alur Pemikiran Operasional................................................ 35

    3. Rantai Tataniaga Gelondong Mente di Desa Ratulodong…........... 80

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    17/116  xiv

    DAFTAR LAMPIRAN

     Nomor Halaman

    1. Kuisioner Untuk Petani................................................................. 99

    2. Karakteristik Petani Responden di Desa Ratulodong…………… 102

    3. Produksi dan Penggunaan Input Produksi Usahatani Jambu Mentedi Desa ratulodong Musim Panen Tahun 2007….......................... 103

    4. Perolehan Keuntungan (π) Per Hektar Usahatani Jambu Mentedi Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores

    Timur, Musim Panen Tahun 2007………………………………. 104

    5. Perolehan Keuntungan (π) Per Hektar Usahatani Jambu Mentedi Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores

    Timur, Musim Panen Tahun 2007………………………………. 105

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    18/116

    BAB I. PENDAHULUAN

    1.1. 

    Latar belakang

    Sub sektor perkebunan memegang peranan yang sangat penting dalam

     pembangunan pertanian terutama sebagai penghasil devisa, penyerapan tenaga kerja

    dan sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto. Devisa yang dihasilkan dari sektor

     pertanian tahun 2004 sebesar 4.895 juta dolar Amerika, dan kontribusi dari sub sektor

     perkebunan sebesar 7.784 juta dolar Amerika (160,19%). Sedangkan data

     penyerapan tenaga kerja tahun 2004 menunjukan bahwa dari 41,3 juta angkatan kerja

     pertanian, sebanyak 18,6 juta (45%) bekerja pada sub sektor perkebunan. Produk

    Domestik Bruto (PDB) Sektor Pertanian atas dasar harga berlaku pada tahun 2004

    adalah 15,38 %, dan kontribusi sub sektor perkebunan terhadap Produk Domestik

    Bruto Nasional sebesar 2,49 % atau sebesar 16,19% terhadap sektor pertanian

    (Statistik Perkebunan Indonesia, 2006).

    Jambu mente ( Anacardium occidentale L.), merupakan salah satu komoditas

    yang mendapat prioritas dalam pembangunan perkebunan dewasa ini, terutama di

    Kawasan Timur Indonesia (KTI). Tujuan pokok usahatani jambu mente saat ini

    adalah mendapatkan produksi dan kualitas gelondong setinggi-tingginya agar mampu

    memberikan pendapatan pada petani seoptimal mungkin. Di KTI komoditas ini

    memberikan peluang yang besar bagi pengentasan kemiskinan, karena pada

    umumnya di kawasan ini sebagian besar berlahan kering (Abdullah, 1995) dalam

    (Hadad E.A dan Koerniati, 1996).

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    19/116

      2

    Beberapa daerah di KTI yang merupakan penghasil utama jambu mente dengan

    sumbangan terhadap produksi mente nasional adalah Sulawesi Tenggara (47,5%),

    Sulawesi Selatan (20,4%), NTT (5,0%) dan Bali (3,5%) (Nogoseno, 1990).

    Jambu mente merupakan komoditas unggulan dan menjadi salah satu sumber

     pendapatan petani (Zaubin, Daras. 2001). Areal penanaman jambu mente terus

    meningkat dari tahun ke tahun (Tabel 1). Pada tahun 1996 tercatat luas areal

    tanam 492.950 ha dengan total produksi 67.676 ton. Pada tahun 2005, mencapai

    581.271 ha dengan total produksi 130.052 ton. Pada umumnya lahan pengusahaan

     jambu mente adalah milik petani (perkebunan rakyat) dengan total areal sebesar

    574.891 ha (98,9%), sisanya milik perkebunan swasta dengan total areal sebesar

    6.380 ha (1,09%). Berikut disajikan data perkembangan areal dan produksi

    komoditas jambu mente di Indonesia.

    Tabel 1. Perkembangan Areal dan Produksi Jambu Mente di Indonesia Tahun

    1996-2005Luas Areal (ha) Produksi (ton)

    TahunPerkebunan

    RakyatPerkebunan

    Swasta TotalPerkebunan

    RakyatPerkebunan

    Swasta Total

    1996 484.357 8.593 492.950 67.079 597 67.676

    1997 490.074 9.205 499.279 73.158 574 73.732

    1998 521.695 9.295 530.990 86.924 772 87.696

    1999 547.724 9.858 557.582 89.530 774 90.304

    2000 551.442 9.868 561.310 69.488 439 69.927

    2001 558.784 10.128 569.912 91.220 366 91.586

    2002 568.796 10.128 578.924 109.945 287 110.232

    2003 565.446 7.835 573.281 106.698 234 106.932

    2004 * ) 546.374 7.815 554.189 117.961 268 118.229

    2005 **) 574.891 6.380 581.271 129.757 295 130.052Sumber : BPS. Statistik Perkebunan Indonesia, 2006Keterangan : *) Angka sementara

    **) Angka sangat sementara

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    20/116

      3

    Produksi jambu mente di Indonesia pada umumnya untuk diekspor dalam

     bentuk gelondong. Dalam 10 tahun terakhir tercatat bahwa volume dan nilai ekspor

     jambu mente terus meningkat. Pada tahun 1995, tercatat volume ekspor sebesar

    28.105 ton dengan total nilai ekspor sebesar 21.308 US.$. Pada tahun 2004 volume

    ekspor mencapai 59.372 ton dengan total nilai ekspor sebesar 58.187 US.$. Volume

    ekspor jambu mente semakin meningkat menunjukan bahwa gelondong mente

    mempunyai nilai ekonomis tinggi. Gelondong mente yang sudah diolah dalam

     bentuk kacang mente banyak dibutuhkan dalam industri pengolahan makanan. Data

    tentang volume dan nilai ekspor, impor komoditi jambu mente di Indonesia dapat

    dilihat pada Tabel 2 di bawah ini :

    Tabel 2. Perkembangan Ekspor dan Impor Jambu Mente Indonesia Tahun

    Tahun 1995 - 2004

    Ekspor Impor

    Volume Nilai Volume NilaiTahun

    (Ton) (000US.$) (Ton) (000US.$)

    1995 28.105 21.308 162 414

    1996 27.886 23.751 197 168

    1997 29.666 19.152 5 13

    1998 30.287 34.998 16 72

    1999 34.520 43.507 669 435

    2000 27.619 31.502 212 353

    2001 41.313 28.929 50 165

    2002 51.717 34.810 - -

    2003 60.429 43.534 8 25

    2004 59.372 58.187 202 594

    Sumber : BPS. Statistik Perkebunan Indonesia, 2006

    Dilihat dari perkembangan volume dan nilai ekspor menunjukan bahwa jambu

    mente memiliki prospek yang cukup baik saat ini dan di masa yang akan datang.

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    21/116

      4

    Kebutuhan akan gelondong dan hasil olahan kacang mente sebagai makanan sela

    terus meningkat baik di pasar domestik maupun ekspor. Sebagai komoditas yang

    memiliki nilai ekonomis tinggi, diupayakan agar tanaman jambu mente terus

    dikembangkan secara baik di tingkat petani dalam rangka meningkatkan produktivitas

    serta kualitas gelondong. Pengembangan komoditi jambu mente dengan prospek baik

    akan memberikan pendapatan yang layak bagi petani.

    Berdasarkan harga jual di pasaran, harga jual jambu mente gelondongan di

    tingkat petani berbeda-beda. Pada umumnya harga jual mente gelondongan

    dipengaruhi oleh harga pasar dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

    Perkembangan harga bulanan komoditi jambu mente hasil olahan berupa kacang

    mente dipasar dalam negeri untuk lima tahun terakhir, dapat dilihat pada Tabel 3

     berikut ini :

    Tabel 3. Perkembangan Harga Bulanan Kacang Mente di Pasar Dalam NegeriTahun 2000 – 2004 (000.Rp/kg) 

    Tahun

    Bulan 2000 2001 2002 2003 2004

    Januari 35.237 35.414 33.679 35.185 21.567

    Februari 36.570 33.787 36.306 34.122 21.567

    Maret 36.820 34.600 35.320 33.983 23.224

    April 38.070 35.364 35.522 32.450 24.152

    Mei 37.612 35.967 35.908 31.735 25.125

    Juni 37.445 34.200 35.074 31.857 25.524

    Juli 37.320 33.081 35.298 31.107 27.593

    Asgustus 35.612 32.560 36.709 31.214 28.024

    September 35.360 33.534 36.720 30.714 29.268Oktober 36.406 33.409 37.375 31.604 30.655

     Nopember 35.762 33.370 34.590 34.107 31.018

    Desember 33.737 36.329 35.630 32.771 26.560

    Rata-rata 36.329 34.178 35.630 32.771 32.771

    Sumber : BPS. Statistik Perkebunan Indonesia, 2006

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    22/116

      5

    Dari Tabel 3, terlihat bahwa harga kacang mente dalam negeri cenderung turun

    dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2000 tercatat harga jual kacang mente sebesar

    Rp 36.326,-/kg. Pada tahun 2004, turun menjadi Rp.26.560,-/kg. Rata-rata

     penurunan harga kacang mente dalam lima tahun terakhir sebesar 26,8 %.

    Di Nusa Tenggara Timur (NTT), pengusahaan tanaman jambu mente memiliki

    skala yang cukup besar. Hal ini selain didukung oleh sebagian besar penduduk

     bermata pencaharian sebagai petani, juga potensi lahan dan iklim yang cocok.

    Kabupaten Flores Timur sebagai salah satu kabupaten terluas ke sembilan yang

    menjadi obyek penelitian, adalah kabupaten yang memiliki luas areal penanaman

     jambu mente terbesar dan merupakan sentra produksi jambu mente di NTT.

    Pengusahaan jambu mente di kabupaten Flores Timur belum dilaksanakan

    secara maksimal. Umumnya petani mente di Flores Timur adalah petani swadaya

    dan sistem budidaya yang diterapkan masih sederhana dengan penggunaan input

    rendah (Low input). Prospek pengusahaan jambu mente cukup baik di masa

    mendatang. Upaya perbaikan teknik budidaya dan penggunaan input produksi yang

     bermutu merupakan faktor yang penting demi peningkatan produktivitas tanaman.

    Menurut Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) kabupaten Flores

    Timur (2007), luas areal tanam jambu mente di kabupaten Flores Timur tahun 2006

     bertambah menjadi 28.334,48 ha, dengan perincian tanaman yang belum

    menghasilkan sebesar 16.388,9 ha, tanaman yang sudah menghasilkan sebesar

    11.945,52 ha, sementara tingkat produksinya mencapai 8.190,46 ton. Untuk jelasnya

    dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini :

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    23/116

      6

    Tabel 4. Perkembangan Areal dan Produksi Jambu Mente di Kabupaten

    Flores Timur Tahun 2002-2006

    Luas Areal (ha) Produksi(ton)

    Tahun TBM TM Total

    2002 14.044,69 9.015,84 23.060,53 7.239,692003 15.449,16 9.917,42 25.366,58 7.963,62

    2004 16.329,76 11.543,90 27.873,66 7.988,38

    2005 16.329,77 11.541,49 27.781,26 7.975,94

    2006 16.388,96 11.945,52 28.334,48 8.190,46

    Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Flores Timur, 2007Keterangan : TBM = Tanaman Belum Menghasilkan

    TM = Tanaman Menghasilkan

    1.2.  Perumusan Masalah

    Jambu mente ( Anacardium Occidentale  L.) merupakan tanaman introduksi

    yang pada mulanya ditanam untuk tujuan penghijauan dan konservasi tanah pada

    daerah berlahan kritis. Penanamannya dilakukan secara sederhana dengan tidak

    menerapkan teknik budidaya yang baik dan tidak memperhatikan mutu input

     produksi (Zubin, Daras, 2001). Sebagai salah satu komoditas yang mempunyai nilai

    ekonomis tinggi terutama untuk Kawasan Timur Indonesia (KTI), pengembangan

    selanjutnya meluas dengan cepat namun tanpa didukung dengan teknik budidaya

    yang baik dan informasi yang cukup mengenai agribisnis jambu mente.

    Lebih lanjut, menurut Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Flores

    Timur, tanaman jambu mente sudah dikenal petani pada era tahun 1970-an. Pada

    waktu itu tanaman ini mulai ditanam di kecamatan Tanjung Bunga. Pada awalnya

    tujuan penanaman jambu mente adalah untuk konservasi tanah dan rehabilitasi lahan

    kritis. Dengan jarak tanam yang sangat rapat serta tidak memperhatikan mutu input

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    24/116

      7

     produksi mengakibatkan produktivitas tanaman menjadi rendah. Dari beberapa

    dekade terakhir tercatat produksi jambu mente meningkat dari tahun ke tahun. Hal

    ini sejalan dengan adanya upaya perbaikan sistem budidaya serta penambahan luas

    areal penanaman. Walaupun demikian, mutu panen mente gelondong masih

    tergolong rendah, sementara produksi tidak ikut naik secara signifikan. Rata-rata

     peningkatan produksi sebesar 0,29 ton/ha setiap tahun.

    Sebagai tanaman penghijauan dan konservasi tanah, sejak tahun 1980-an tujuan

    tersebut mulai bergeser kepada tujuan komersial, karena gelondong dan kacangnya

     banyak diminati dan harganya cukup menarik. Sebagian besar petani di kabupaten

    Flores Timur mengembangkan usaha ini sebagai komoditas utama dalam

    menunjang perekonomian keluarga disamping tanaman pangan dan hortikultura.

    Beberapa tahun terakhir ini, Pemerintah Daerah (PEMDA) setempat menjadikan

    tanaman jambu mente sebagai komoditas strategis unggulan daerah. Pengusahaan

     jambu mente di Kabupaten Flores Timur saat ini belum berjalan secara maksimal. Di

    masa lalu tanaman jambu mente dikembangkan melalui proyek Dinas Kehutanan

    (RLKT) kabupaten Flores Timur. Pendekatannya bukan pendekatan produksi

    dengan jarak tanam 7m x 7m, tetapi pendekatan konservasi dengan jarak tanam

    yang lebih rapat. Kondisi ini menyebabkan produksi dan produktivitas gelondong

    tidak mengalami peningkatan yang berarti, sementara luas areal tanam semakin

    meningkat.¹

     ______________________¹ www.satunama.org, Laporan Analisis Sosial Ekonomi Kabupaten Flores Timur. Yayasan kesatuan

     pelayanan kerja sama, Yogyakarta, Indonesia. 11 Oktober 2007

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    25/116

      8

    Meningkatnya luas areal tanam jambu mente belum tentu dapat meningkatkan

     pendapatan petani. Hal ini tergantung hasil produksi, produktivitas, mutu gelondong

    dan harga yang diterima petani.

    Pengembangan komoditas jambu mente terus meluas dengan cepat namun

    tidak didukung oleh teknik budidaya yang baik dan petani cenderung tidak

    memperhatikan mutu input produksi. Selain itu, harga jual mente gelondong di

    tingkat petani cenderung berfluktuatif setiap tahunnya. Faktor lain yang berkaitan

    dengan permasalahan ini adalah adanya krisis ekonomi dan inflasi tinggi yang

    menyebabkan harga-harga sarana produksi (saprodi) menjadi naik dengan tidak

    diikuti oleh kenaikan harga jual produk di tingkat petani.

    Dari fenomena yang ada terlihat bahwa petani saat ini memiliki kemampuan

    mengelola usahatani serta posisi tawar (bargainning position) yang rendah. Faktor

    kunci yang perlu diperhatikan terkait upaya pengembangan usahatani jambu mente

    di kabupaten Flores Timur adalah harus adanya kebijakan PEMDA yang lebih

     proaktif dan lebih berpihak kepada petani. Upaya perbaikan sistem kelembagaan

    di tingkat petani dan mengintensifkan kembali peran penyuluh adalah upaya yang

    harus terus dilaksanakan. Usahatani jambu mente di Kabupaten Flores Timur

    diharapkan lebih baik di masa mendatang. Penerapan teknik budidaya dengan benar

    dan penggunaan input produksi yang bermutu akan meningkatkan produktivitas serta

     pendapatan petani.

    Berkaitan dengan uraian di atas, maka yang menjadi permasalahan utama

    adalah apakah usahatani jambu mente yang dikembangkan dengan perluasan areal

    tanam dapat meningkatkan pendapatan petani ? Untuk itu perlu diketahui :

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    26/116

      9

    1. Bagaimana kondisi usahatani jambu mente di kabupaten Flores Timur saat ini ?

    2. Bagaimana pendapatan usahatani yang dihasilkan ?

    3. Apakah usahatani yang dijalankan tersebut efisien ?

    1.3.  Tujuan Penelitian

    Tujuan dilakukan penelitian ini adalah :

    1. Menggambarkan kondisi usahatani jambu mente saat ini.

    2. Menganalisis biaya-biaya yang dikeluarkan untuk usahatani jambu mente.

    3. Menganalisis pendapatan yang diterima petani dari usahatani jambu mente.

    4. Menganalisis efisiensi usahatani jambu mente.

    1.4.  Manfaat Penelitian

    Manfaat dari penelitian ini adalah :

    1. Bagi petani untuk mengetahui apakah usahatani jambu mente yang dijalankan

    dapat meningkatkan pendapatan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

    2. Bagi Pemda Flores Timur khususnya Dinas Kehutanan dan Perkebunan untuk

    menjadi masukan dan bahan pertimbangan dalam menyusun rencana program

     pengembangan jambu mente ke depan.

    3. Sebagai wahana latihan bagi penulis dalam menerapkan konsep-konsep manajerial

    di dunia kerja, serta bahan informasi bagi pembaca.

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    27/116

      10

    1.5.  Ruang lingkup

    Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah menggambarkan kondisi usahatani

     jambu mente saat ini, menganalisis biaya-biaya yang dikeluarkan untuk usahatani

     jambu mente, menganalisis pendapatan yang diterima petani dalam usahatani jambu

    mente serta menganalisis efisiensi usahatani jambu mente di kabupaten Flores Timur.

    Produk akhir ( final Product) dari penelitian ini adalah produksi mente gelondongan.

    Penelitian ini hanya difokuskan pada petani swadaya (perkebunan rakyat) di desa

    Ratulodong kecamatan Tanjung Bunga, yang merupakan sentra produksi jambu

    mente di Kabupaten Flores Timur.

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    28/116

    BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Usahatani Jambu Mente

    2.1.1. Tinjauan Umum Jambu Mente

    Tanaman jambu mente pada umumnya menghasilkan biji mente (cernel ) yang

    disebut gelondong dan buah semu yang sering disebut jambu. Gelondong mente

    dapat diolah menjadi kacang mente dan kulit mente. Kacang mente memiliki nilai

     jual yang tinggi. Sementara itu, kulit mente diolah untuk menghasilkan minyak laka

    atau sering disebut Chasew Nut Shell Liquid   (CNSL). Buah semu dapat diolah

    menjadi sirup, minuman sejenis anggur, alkohol, selai dan campuran abon. Pohon

    industri jambu mente dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini :

    Gambar 1. Pohon Indsustri Jambu MenteSumber : Alauddin, 1996

    JAMBU MENTE

    Buah SemuMente Gelondon an

    KacangMente

    Kulit Ari  KulitMente

    - Makanan- Ramuan obat

    Penyakit kulit

    - Bahan minyakrambut/catrambut

    - TaninPenyamakanKulit

    - Pakan ternak

    - Minuman ringan- Rujak/lutes, asinan- Manisan

    - Cuka makanan- Bahan baku obat- Selai/jeli- Bubur buah

    - Ensim penggemuk daging- Lauk-pauk- Protein sel tunggal- Spritus

    - Pakan ternak

    - Pupuk pertanian- Lemonade- Anggur

    - Minuman beralkohol

    - CampuranPembuatan kulit

    - Pelat rem

    - Hardboard- Karbon aktif- Bahan obat-

    obatan- Pupuk organic- CNSL (minyak

    Laka)

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    29/116

      12

    2.1.2. Agribisnis Jambu Mente

    Agribisnis adalah penjumlahan total dari seluruh kegiatan yang menyangkut

    manufaktur dan distribusi dari sarana produksi pertanian, kegiatan yang dilakukan

    usaha tani, serta penyimpanan, pengolahan, dan distribusi dari produk pertanian dan

     produk-produk lain yang dihasilkan dari produk-produk pertanian. (Krisnamurthi,

    2001). Pengembangan agribisnis jambu mente di Indonesia mempunyai prospek

    yang menjanjikan. (Sukmadinata, 1996). Kondisi ini didasarkan atas pertimbangan :

    (1) Jambu mente sebagai bahan baku industri makanan menempati posisi superioritas

    dibandingkan dengan komoditas lainnya yang sejenis; (2) Harga kacang mente baik

    di dalam negeri maupun di luar negeri relatif baik; (3) Permintaan ekspor jambu

    mente Indonesia menunjukan peningkatan; (4) Masih relatif luasnya lahan potensial

    yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan jambu mente; (5) Perhatian

     pemerintah dan pihak swasta dalam upaya pengembangan jambu mente ini relatif

     baik.

    Sejalan dengan penawaran dan permintaan, maka harga kacang mente di masa

    mendatang menunjukan prospek yang menjanjikan. Harga kacang mente di luar

    negeri terus mengalami peningkatan. Begitu juga dengan pasar dalam negeri, harga

    kacang mente mencapai tingkat yang lebih baik yaitu Rp. 10.000 pada tahun 1993,

    dan naik sampai Rp 40.000 – Rp.50.000 pada tahun 2007. Hal lain yang harus

    diperhatikan adalah agribisnis jambu mente akan berkembang jika para pelaku

    dalam agribisnis jambu mente dapat memperoleh pandapatan yang layak.

    Badan Agribisnis dalam Sukmadinata (1996) menyatakan bahwa perkiraan

    nilai investasi/ha usaha jambu mente sekitar Rp. 1.425.000,- dengan IRR 13,8 %

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    30/116

      13

    untuk masa analisa 25 tahun. Keadaan di atas menjadi petunjuk bahwa upaya-upaya

    untuk meningkatkan efisiensi jambu mente ini perlu terus dilakukan agar agribisnis

     berbasiskan jambu mente dapat terus berkembang. Agribisnis merupakan konsep

    dari suatu sistem yang integratif yang mempunyai keterkaitan antara sub-sistem satu

    dengan sub-sistem lainnya. Berkaitan dengan itu maka penanganan pembangunan

     pertanian tidak dapat lagi hanya dilakukan terhadap aspek-aspek yang berada dalam

    sub-sistem on-farm  saja tetapi juga harus melalui penanganan aspek-aspek off-farm 

    secara integratif. (Krisnamurthi, 2001).

    2.1.3. Syarat Lokasi 

    Tanaman jambu mente dapat tumbuh dan berkembang serta berproduksi

    sesuai potensinya apabila persyaratan lingkungan tumbuhnya dipenuhi. Pada lahan

    yang kurang sesuai tanaman jambu mente dapat hanya sekedar tumbuh dan tidak

     berproduksi secara optimal atau bahkan tidak bisa berproduksi (Hermanto dan

    Zaubin, 2001).

    Pengembangan jambu mente secara komersil, memerlukan keadaan iklim dan

    tanah yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya. Tujuannya adalah untuk

    mendapatkan hasil yang optimal. Persyaratan ini tentu lebih longgar jika tujuan

     penanamannya adalah untuk penghijauan atau merehabilitasi lahan kritis. (Saragih

    dan Haryadi, 1994).

    1. Iklim

    Menurut Nail et al (1979) dalam Rosman dan Lubis (1996) mengatakan

     bahwa 5 unsur iklim yang mempengaruhi tanaman jambu mente antara lain : (1)

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    31/116

      14

    Cuaca kering selama musim bunga dan buah, yang kelak menentukan hasil panen;

    (2) Pada musim bunga cuaca berawan, serangan nyamuk teh ( Helopeltis anacardii)

     pada bunga meningkat; (3) Apabila musim bunga turun hujan lebat, produksi akan

    sangat menurun; (4) Suhu yang terlalu tinggi, (antara 39 – 42ºC) mengakibatkan

    kerontokan buah; musim kemarau yang relatif pendek, keragaman tanaman akan

    lebih baik.

    Tanaman jambu mente sangat menyukai sinar matahari. Selain perlu

    mendapat sinar matahari sepanjang tahun, jumlah yang dipancarkan juga harus

    memadai. Apabila tanaman jambu mente kekurangan sinar matahari, maka

     produktivitasnya akan menurun atau bahkan tidak akan berbuah kalau dinaungi

    tanaman lain. Cahaya matahari ini terutama dibutuhkan pada saat tanaman jambu

    mente sedang berbunga. (Saragih dan Haryadi,1994).

    Jambu mente tergolong tanaman yang mudah beradaptasi dengan

    lingkungannya. Tanaman ini akan tumbuh baik dan produktif bila ditanam pada suhu

    harian rata-rata 27ºC dan kelembapan nisbih yang cocok antara 70-80%. Akan

    tetapi, tanaman jambu mente masih dapat bertoleransi pada tingkat kelembapan 60-

    70%. Daerah yang paling sesuai untuk budidaya jambu mente adalah di daerah yang

    memiliki jumlah curah hujan antara 1.000 - 2.000 mm per tahun dengan 4 - 6 bulan

    kering.

    2. Ketinggian tempat

    Menurut Saragih dan Haryadi (1994), tanaman jambu mente dapat tumbuh di

    dataran rendah dan dataran tinggi, yaitu pada ketinggian 1 - 1.200m di atas

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    32/116

      15

     permukaan laut (dpl). Hal ini mengisyaratkan bahwa jambu mente dapat beradaptasi

     pada kondisi tanah dan iklim yang beragam sifatnya. Jambu mente tidak menuntut

    tanah yang subur. Oleh karenanya bila ingin membudidayakan tanaman jambu mente

    secara komersial, perlu dipilih daerah-daerah yang sesuai dengan syarat tumbuhnya.

    Di Indonesia tanaman jambu mente dapat tumbuh pada ketinggian tempat 1 - 2000m

    dpl. Namun batas optimum ketinggian tempat hanya sampai 700m dpl, kecuali

    untuk merehabilitasi lahan kritis.

    3. 

    Tanah

    Menurut Hermanto dan Zaubin (2001) selain iklim tanah merupakan faktor

     penting dalam persyaratan tumbuh tanaman yang menentukan keberhasilan dalam

    usahatani jambu mente. Faktor tanah secara relatif dapat dikendalikan atau

    diperbaiki, terutama mengenai tingkat kesuburannya yang dapat ditingkatkan melalui

     penambahan hara lewat pemupukan. Faktor tanah yang paling dominan dalam

    menentukan tingkat kesesuaian lahan bagi tanaman jambu mente adalah tekstur dan

    kedalaman tanah.

    Jenis tanah yang paling cocok untuk pertanaman jambu mente adalah tanah

     berpasir, tanah lempung berpasir, dan tanah ringan berpasir dengan PH antara 6,3 -

    7,3 serta masih bisa toleril pada tanah dengan PH antara 5,5 - 6,3. Jenis tanah yang

     paling disukai tanaman jambu mente adalah tanah yang memungkinkan sistem

     perakaran berkembang secara sempurna dan mampu menahan air sehingga tanaman

    tetap cukup lembab di musim kemarau. (Saragih, Haryadi, 1994).

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    33/116

      16

    2.1.4. Sistem Budidaya Jambu Mente

    1. Persiapan Lahan

    Dalam melakukan kegiatan budidaya, persiapan lahan merupakan faktor yang

    sangat penting. Lahan penanaman bibit tentu tidak selamanya telah siap ditanami.

    Lahan berupa hamparan ilalang atau semak belukar ditebas, dibakar, dan akar-akar

    dicabut hingga tuntas. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau agar

    ilalang atau semak belukar tidak cepat tumbuh.

    Lahan yang telah dibersihkan segera dibajak atau dicangkul dengan

    kedalaman yang cukup. Tujuannya adalah agar tanah menjadi gembur dan terjadi

     pertukaran udara di dalam tanah. Apabila lahan penanaman mudah tergenang air,

    maka dibuat parit-parit pembuangan air.

    Pengolahan tanah kering dan miring harus menurut arah melintang lereng agar

    terbentuk teras penahan erosi. Apabila tingkat kemiringan tanah hingga 20%, maka

    teras dibuat dengan lebar sekitar 2 m. Lebar teras disesuaikan dengan kedalaman

    solum tanah. Semakin dalam solum tanah, maka semakin lebar ukuran teras.

    2. Aturan penanaman

    Sebelum dilakukan penanaman, aturan penanaman pun perlu dirancang sesuai

    kebutuhan lahan. Bentuk lahan dapat bujur sangkar atau segi tiga. Pada budidaya

    monokultur, jarak tanam jambu mente dianjurkan 12m x 12m. Dengan jarak

    tersebut, maka dalam setiap 1 ha lahan, jumlah total tanaman yang

    dibutuhkan sebanyak 69 batang. Namun, jarak tanam dapat dibuat dengan ukuran

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    34/116

      17

    6m x 6m sehingga jumlah total tanaman yang dibutuhkan adalah 276 batang/ha.

    Kerapatan tanaman kemudian dijarangkan pada umur 6 - 10 tahun. Untuk lebih

    menghasilkan penggunaan lahan, maka pada areal penanaman jambu mente dapat

    diterapkan budidaya polikultur. Beberapa jenis tanaman bernilai ekonomis dapat

    dimanfaatkan sebagai tanaman sela. Kedua sistem penanaman ini dapat diterapkan

     pada lahan yang datar. Di lahan miring harus disesuaikan dengan garis kontur.

    Pembuatan lubang tanam dilakukan setelah lahan selesai dibajak. Lubang

    tanam digali dengan ukuran 30cm x 30cm x 30cm. Bila jenis tanahnya sangat liat,

    ukuran lubang tanam dapat dibuat 50cm x 50cm x 50cm. Bila di lubang tanam

    terdapat lapisan cadas, lapisan ini harus ditembus. Tujuannya agar akar tanaman

    dapat tumbuh sempurna dan terhindar dari genangan air. Lubang tanam dibiarkan

    terbuka sekitar 4 minggu baru dilakukan penanaman. Tujuannya adalah untuk

    mengurangi keasaman tanah.

    3. Penanaman

    Waktu penanaman yang tepat adalah pada awal musim hujan dan dilakukan

     pada sore hari. Maksudnya untuk mengurangi penyiraman air yang banyak

    dibutuhkan tanaman pada masa awal pertumbuhan. Di samping itu, tanah dalam

    lubang tanam tidak lagi mengalami penurunan. Di sekeliling lubang tanam harus

    ditimbun kembali dengan tanah. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya

    genangan air bila disiram atau hujan turun.

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    35/116

      18

    4. Pemeliharaan

    Pemeliharaan tanaman merupakan pekerjaan yang rutin. Pekerjaan tersebut

    meliputi penyiraman, penyulaman, penyiangan, penggemburan, pemupukan,

     pemangkasan, serta pemberantasan hama dan penyakit.

    1. Penyiraman

    Bibit yang baru ditanam tentunya memerlukan banyak air. Oleh karena itu,

    tanaman perlu disiram pada pagi atau sore hari. Apabila hujan tidak turun

    selama dua hari berturut-turut, penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari dalam dua

    minggu pertama. Minggu berikutnya, penyiraman tanaman cukup dilakukan sehari

    sekali. Penyiraman dilakukan secukupnya saja dan air siraman jangan sampai

    menggenangi tanaman. Bila tanaman tergenang air, maka akarnya akan membusuk

    dan pertumbuhannya terhambat.

    2. Penyulaman

    Bibit yang ditanam tentu tidak semuanya hidup subur. Ada yang tumbuh

    kerdil, bahkan ada yang mati. Tanaman yang kerdil dapat disebabkan oleh serangan

    hama dan penyakit. Tanaman tersebut dapat menjadi parasit di kebun, 0leh karena itu

    harus dicabut dan disulam dengan tanaman yang sehat. Penyulaman dilakukan

    setelah tanaman berumur 1 bulan.

    3. Penyiangan dan penggemburan

    Bibit jambu mente mulai berdaun dan bertunas setelah 2-3 bulan ditanam.

    Pada masa pertumbuhannya, banyak gulma yang tumbuh di sekitar tanaman.

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    36/116

      19

    Selain menjadi pesaing dalam memperebutkan zat hara, gulma juga dapat menjadi

    sarang hama dan penyakit. Untuk itu gulma harus dibasmi agar tanaman dapat

    tumbuh subur dan terhindar dari serangan hama atau penyakit. Pembasmian gulma

    sebaiknya dilakukan dalam putaran waktu tertentu, yakni sekali dalam 45 hari.

    Tanah yang disiram setiap hari tentu semakin padat dan udara di dalamnya semakin

    sedikit. Akibatnya, akar tanaman tidak leluasa menyerap unsur hara. Untuk itu,

    tanah di sekitar tanaman perlu digemburkan dengan hati-hati agar akar tanaman tidak

     putus.

    4. Pemupukan

    Untuk menambah kesuburan pada masa pertumbuhan, maka tanaman jambu

    mente dapat dipupuk dengan menggunakan pupuk kandang, kompos atau pupuk

     buatan. Pemberian pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 kg dilakukan dengan

    cara menggali parit melingkar agak di luar tajuk. Pupuk tersebut kemudian

    dituangkan ke dalam parit dan ditutup dengan tanah. Pemupukan berikutnya

    dilakukan dengan pupuk buatan. Pemberian pupuk dilakukan dalam parit melingkar

    dan dibuat sedikit di luar parit sebelumnya. Dosis dan macam pupuk buatan yang

    digunakan tergantung pada kesuburan tanah. Jadwal dan dosis pemupukan jambu

    mente dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    37/116

      20

    Tabel 5. Jadwal dan Dosis Pemupukan Dalam Gram

    Awal

    Musim Hujan

    Akhir

    Musim HujanWaktuPemupukan  N

    (Urea)

    P2O5

    (TSP)

    K2O

    (KCL)

     N

    (Urea)

    P2O5

    (TSP)

    K2O

    (KCL)

    Tahun I

    Tahun II

    Tahun III

    Tahun IV

    50

    (111)

    100

    (222)

    200

    (444)

    250

    (556)

    40

    (87)

    40

    (87)

    60

    (130)

    65

    (141)

    -

    -

    30

    (58)

    60

    (115)

    65

    (125)

    50

    (111)

    100

    (222)

    200

    (444)

    250

    (556)

    40

    (87)

    40

    (87)

    60

    (130)

    65

    (141)

    -

    -

    30

    (58)

    60

    (115)

    65

    (125) 

    Sumber : Saragih dan Haryadi, 1994

    5. Pemangkasan

    Apabila tanaman jambu mente dibiarkan tumbuh liar, maka cabang-

    cabangnya cenderung tumbuh bergerombol di dekat permukaan tanah. Agar cabang-

    cabang tanaman dapat tumbuh bagus dan tajuknya berbentuk seperti kerucut, maka

    harus dilakukan pemangkasan sejak tanaman masih berupa bibit.

    6. Penjarangan

    Bunga dan buah jambu terdapat di bagian permukaan tajuk daun. Tanaman

    ini kemungkinan besar tidak berbuah sama sekali jika sinar matahari terhalang oleh

    tanaman lain. Untuk itu, agar seluruh permukaan tajuk pohon mendapat sinar

    matahari secara merata dalam jumlah yang cukup, jangan segan-segan melakukan

     penjarangan tanaman. Penjarangan dilakukan secara bertahap pada saat tajuk

    tanaman saling menutupi.

    Apabila jarak tanam 6m x 6m dan ditanam secara monokultur, maka tajuk

    tanaman diperkirakan sudah bersentuhan pada umur 6 - 10 tahun. Pada saat itu ,

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    38/116

      21

    kegiatan penjarangan mulai dilakukan. Penjarangan pertama dilakukan pada

    saat tanaman berumur 6 - 7 tahun. Penjarangan berikutnya pada umur 7 - 8 tahun.

    Penjarangan terakhir dilakukan saat tanaman berumur 9 - 10 tahun. Pada penjarangan

    ini sisa pohon tinggal 69 batang/ha dan jarak tanam tetap 12m x 12m. Sampai

     penjarangan terakhir, jumlah pohon seluruhnya berkurang 75%.

    5.  Panen

    Tanaman jambu mente dapat dipanen untuk pertama kali pada umur 3 – 4

    tahun. Buah mente biasanya sudah bisa dipetik pada umur 60 – 70 hari sejak

    munculnya bunga. Masa panen berlangsung selama 4 bulan, yaitu pada bulan

    Agustus hingga bulan Desember. Agar mutu gelondong atau kacang mente menjadi

    lebih baik, buah yang dipetik harus telah tua. Siklus hidup jambu mente dalam

     berproduksi bisa mencapai 40 – 50 tahun. Produksi jambu mente mulai meningkat

    saat berumur 8 – 10 tahun hingga mencapai 20 – 30 tahun. Produksi tanaman akan

     berkurang saat berumur diatas 30 tahun. Disaat mencapai umur 50 tahun, tanaman

     jambu mente tidak bisa berproduksi atau tidak bisa berbuah lagi.

    2.1.5.  Pengendalian Hama Penyakit

    Tanaman jambu mente merupakan tanaman yang cukup rentan terhadap

    gangguan hama atau penyakit. Gangguan hama atau penyakit pada tanaman jambu

    mente mulai pada fase pembibitan, tanaman muda, hingga pada tanaman yang sudah

     berbunga dan berbuah. Untuk menghindari terjadinya hal ini, maka perlu pencegahan

    sedini mungkin. Cara pencegahannya dapat berupa kebersihan dan sanitasi lahan,

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    39/116

      22

     pemberian zat hara yang seimbang, serta pemberian pestisida apabila tanaman

    disekitarnya terserang hama dan penyakit. Apabila kondisi tanaman telah terserang

    hama atau penyakit, maka perlu dicari penyebabnya agar secepat mungkin

    diberantas. Pada umumnya pemberantasan hama dan penyakit dapat dilakukan

    dengan 3 cara , yaitu pemberantasan secara biologis, mekanis dan kimiawi.

    Beberapa hama yang sering menyerang tanaman jambu mete diantaranya

    adalah ulat kipat (Cricula trifenestrata helf), Serangga pengisap jaringan tunas muda

    ( Helopeltis  sp.), Ulat penggerek batang ( Plocaederus ferrugineus  L.), dan

     penggerek buah dan biji ( Nephoteryx  sp.). Penanggulangan hama ini sebaiknya

    dilakukan secara terpadu. Beberapa jenis insektisida yang dipakai untuk

    memberantas hama diantaranya adalah Symbush 50 EC, Pumicidin, Agroline,

    Thiodan, larutan BMC.

    Tanaman jambu mente juga rentan terhadap serangan penyakit. Beberapa

     jenis penyakit yang terdapat pada jambu mente adalah penyakit layu, daun layu

    dan kering, serta bunga dan buah busuk. Penyebab penyakit ini adalah jamur dan

     bakteri. Jamur yang menyerang jambu mete adalah  Phytophthora palmifora,

     Fusarium  sp. dan  Phitium  sp. Sedangkan jenis bakteri yang menyerang tanaman

     jambu mente adalah  Phtophthora  solanacearum, Colletotrichum  sp.,  Botryodiplodia 

    sp., dan Pestalotiopsis sp.

    Penanggulangan penyakit juga sebaiknya dilakukan secara terpadu. Beberapa

     jenis fungisida yang dipakai untuk memberantas penyakit diantaranya adalah

    Dithane M-45, Delsene MX 200, Difolatan 4F, Cobox, dan Cuproxy Chloride. 

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    40/116

      23

    2.2.  Kajian Penelitian Terdahulu

    Hasil penelitian Rosmeilisa dan Abdullah (1990) tentang analisis usahatani

     jambu mente menunjukan bahwa tanaman ini cocok dikembangkan di Kawasan

    Indonesia Timur, terutama NTT dan NTB. Jambu mente memerlukan curah hujan

    1000 - 2000 mm/tahun, dengan 4 - 6 bulan kering, suhu rata-rata 27º C, kelembapan

    nisbih 70 - 80%, dan dapat tumbuh baik di tanah berpasir di pantai sampai

    ketinggian 700 dpl. Dengan menerapkan sistem penanaman secara

    monokultur dengan metode penjarangan, menurut hasil perhitungan analisis

    finansial layak diusahakan, yang ditunjukan oleh indikator (a) B/C ratio = 2,55; (b)

     NPV = Rp 954.432,41; dan IRR = 31,42 %. Pedapatan kotor dari usahatani jambu

    mente pada tahun pertama dan kedua belum ada. Pendapatan kotor dapat diperoleh

     pada tahun ke tiga dan ke empat saat tanaman diperkirakan mulai berproduksi.

    Suatu penelitian tentang rencana pengembangan agribisnis dan agroindustri

     jambu mente telah dilakukan oleh Sukartawi pada tahun 1995 dengan mengambil

    lokasi penelitian di Jawa Timur. Hasil analisis adalah agribisnis jambu mente

    ternyata mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan petani,

    menumbuhkan agroindustri baru dan meningkatkan perolehan devisa melalui

     peningkatan ekspor. Dari hasil analisis pendapatan menunjukan bahwa penerimaan

    yang diperoleh petani pada usahatani jambu mente per 100 pohon/ha adalah pada

    umur 20 tahun yaitu sebesar Rp. 1.087.500,-. Sedangkan biaya yang dikeluarkan

    adalah Rp. 33.896,- (karena tanaman sudah relatif tua). Sedangkan pada usahatani

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    41/116

      24

     jambu mente dengan populasi 200 pohon/ha pada umur 20 tahun diperoleh

     penerimaan sebesar Rp. 2.218.500,- dan biaya usahatani sebesar Rp. 154.830 untuk

    setiap hektar.

    Kajian tentang pola usahatani tanaman jambu mente telah dilakukan oleh

    Rosmeilisa (1990) di Daerah Istimewa Jogyakarta yang merupakan salah satu sentra

     produksi jambu mente di Indonesia. Selain untuk mengkaji, penelitian ini juga

     bertujuan untuk mengetahui peran produksi jambu mente terhadap pendapatan petani.

    Hasil penelitian menunjukan bahwa usahatani jambu mente di Daerah Istimewa

    Jogyakarta terbagi atas dua bentuk yaitu monokultur dengan rata-rata pendapatan

    kotor Rp 156.972,72/kk/tahun dan polikultur dengan rata-rata pendapatan Rp

    65.462,81/kk/tahun. Proporsi pendapatan usahatani jambu mete di kabupaten

    Gunung Kidul 37,69 % dari usahatani lainnya, sedangkan di kabupaten Bantul peran

    usahatani jambu mente lebih besar yaitu 87,70 %.

    Penelitian mengenai analisis usahatani jambu mente juga kembali dilakukan

    oleh Rosmeilisa dan Yuhono (2001). Penelitian ini dilakukan di daerah sentra

     produksi dengan mengambil lokasi di Jawa Timur. Populasi 100 tanaman/ha (10m x

    10m), usahatani jambu mente layak dilakukan karena Net present value (NPV) positif

    (Rp 1.473.100,057), net B/C rasio 11,0, dan IRR 45,34 % lebih tinggi dari bunga.

    Menurut hasil penelitian Hutzi (2007) tentang analisis pendapatan usahatani

    dan saluran pemasaran teh perkebunan rakyat, pada perkebunan teh rakyat di

    kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat, ternyata pendapatan

    yang diterima petani pada tahun 2003 sudah tidak layak untuk dilaksanakan.

    Pendapatan usahatani yang diterima atas dasar biaya tunai sebesar Rp. 23.162,- per

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    42/116

      25

    hektar per bulan. Sedangkan pendapatan usahatani atas dasar biaya total sebesar Rp.

    26.448,- per hektar per bulan. Demikian analisis R/C Rasio (2003) atas biaya tunai

    adalah 1,07 dan atas biaya total sebesar 0,3. Analisis marjin pemasaran menunjukan

     bahwa marjin pemasaran yang diterima petani memiliki porsi paling rendah. Marjin

    harga jual yang diperoleh sebesar 25,69 % dan marjin keuntungan sebesar 1,49 %.

     Farmer share  yang diterima petani tertinggi sebesar 41,68 % dan yang terendah

    sebesar 25,69 %.

    Wuriyanto (2002), meneliti tentang analisis finansial usahatani dan pemasaran

    komoditi lada di Desa Giri Mulya, Kecamatan Jabung, Lampung Timur. Hasil

     penelitiannya menyimpulkan bahwa usahatani lada pada desa tersebut dikelola secara

    non intensif dan pola tanam tumpang sari dengan tanaman lain, sehingga

     produktivitas tanaman menjadi rendah. Selain itu juga rata-rata pohon lada sudah

     berumur tua yang seharusnya sudah diremajakan. Berdasarkan analisis kelayakan

    finansial, usahatani lada layak untuk diusahakan pada tingkat diskonto 16 persen dan

    18 persen. Sedangkan analisis sensitivitas, menunjukan usahatani ini sudah tidak

    layak. Dalam analisis keragaan pasar, memperlihatkan pasar lada yang terbentuk

     berstruktur oligopsoni dengan tingkat keterpaduan pasar yang tinggi. Tingginya

    tingkat keterpaduan pasar ini disebabkan oleh adanya hubungan (kartel) antara

     pedagang dengan eksportir.

    Dari beberapa hasil penelitian terdahulu, penelitian yang telah dilakukan oleh

     penulis memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah semua penelitian

    yang dilakukan menyimpulkan bahwa komoditas yang bersangkutan  profitable baik

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    43/116

      26

    dari tingkat kelayakan usaha maupun tingkat pendapatan. Sedangkan perbedaan

     penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada obyek, tujuan dan hasil

    yang ingin diperoleh.

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    44/116

    BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN

    3.1. 

    Kerangka Pemikiran Teoritis

    3.1.1  Pengertian Usahatani

    Usahatani adalah Proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu alam,

    tenaga kerja, modal, dan pengelolaan yang diusahakan oleh perorangan atau

    sekumpulan orang-orang untuk menghasilkan output yang dapat memenuhi

    kebutuhan keluarga, atau pun orang lain disamping bermotif mencari keuntungan.

    (Soeharjo dan Patong, 1973).

    Menurut Mubyarto (1989), usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber

    alam yang terdapat di suatu tempat dan diperlukan untuk produksi pertanian seperti

    tanah, air, sinar matahari dan bangunan pertanian. Pembagian bidang pertanian

    terdiri atas dua bagian yaitu usahatani pertanian rakyat dan perusahaan pertanian.

    Ditinjau dari segi ekonomi, pertanian rakyat sebagai pertanian keluarga (pertanian

    subsisten atau setengah subsisten) yang umumnya memiliki luas lahan yang sempit,

    sedangkan perusahaan pertanian adalah usahatani yang sepenuhnya dijalankan secara

    komersial.

    Di indonesia, yang dinamakan petani kecil adalah petani yang memiliki ciri

    sebagai berikut : (1) Petani yang pendapatannya rendah, yaitu kurang dari setara 240

    kg beras per kapita per tahun; (2) Petani yang memiliki lahan sempit, yaitu lebih kecil

    dari 0,25 hektar lahan sawah di Jawa atau 0,5 hektar di luar Jawa. Bila petani

    tersebut mempunyai lahan tegal, maka luasnya 0,5 hektar di Jawa dan 1,0 hektar di

    luar Jawa; (3) Petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas;

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    45/116

      28

    (4) Petani yang memiliki perngetahuan terbatas dan kurang dinamik. (Soekartawi.

    dkk, 1986). Dari segi ekonomi, ciri yang sangat penting dari petani kecil adalah

    terbatasnya sumberdaya dasar tempat berusahatani. Pada umumnya mereka hanya

    menguasai sebidang lahan kecil, kadang-kadang disertai dengan ketidakpastian dalam

     pengelolaannya. Lahan yang dimiliki sering tidak subur dan terpencar-pencar. Petani

    memiliki tingkat pendidikan, pengetahuan, dan kesehatan sangat rendah, serta akses

    terhadap pasar rendah.

    Hernanto (1991), menyatakan bahwa usahatani adalah setiap organisasi alam,

    tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian.

    Ketatalaksanaan organisasi itu sendiri dapat dilaksanakan oleh seseorang atau

    sekumpulan orang. Dalam hal ini usahatani mencakup pengertian mulai dari bentuk

    sederhana yaitu hanya untuk kebutuhan keluarga sampai kepada bentuk yang paling

    modern yaitu mencari keuntungan.

    Menurut Wharton dalam Hutzi (2007), perbedaan antara usahatani subsisten

    dengan usahatani modern dilihat berdasarkan hasil dan tenaga kerja. Usahatani

    subsisten akan mengkonsumsi semua hasil produksi dan tenaga kerja yang dipakai

    dalam berusahatani adalah tenaga kerja yang berasal dari keluarga yang tidak diupah.

    Sedangkan usahatani modern akan menjual semua hasil produksinya dan

    mengerjakan kegiatan operasionalnya dengan meggunakan tenaga kerja bayaran.

    Berdasarkan pengertian di atas, maka usahatani merupakan salah satu sub sistem

    agribisnis dan menjadi sentral dalam agribisnis yang di dalamnya mencakup

    faktor harga output dan input, faktor efisiensi, faktor pengadaan input, faktor

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    46/116

      29

     pengadaan modal, faktor teknologi budidaya, serta faktor pola tanam dan

    tumpangsari.

    3.1.2. Penerimaan Usahatani

    Penerimaan tunai usahatani ( farm receipt ) didefenisikan sebagai nilai uang

    yang diterima dari penjualan produk usahatani. Pegeluaran tunai usaha tani ( farm 

     payment) adalah jumlah uang yang dikeluarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi

    usahatani. (Soekartawi. dkk, 1986).

    Penerimaan tunai usahatani adalah nilai uang yang diterima dari penjualan

     produk usahatani, sedangkan pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang

    dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. Penerimaan tunai

    usahatani tidak mencakup pinjaman uang untuk keperluan usahatani. Demikian juga,

     pengeluaran tunai usaha tani tidak mencakup bunga pinjaman dan jumlah pinjaman

     pokok.

    Penerimaan tunai dan pengeluaran tunai usahatani tidak mencakup yang

     berbentuk benda. Dengan demikian, nilai produk usahatani yang dikonsumsi tidak

    dihitung sebagai penerimaan tunai usahatani dan nilai kerja yang dibayar dengan

     benda tidak dihitung sebagai pengeluaran tunai usahatani. Penerimaan tunai

    usahatani yang tidak berasal dari penjualan produk usahatani, seperti pinjaman tunai,

    harus ditambahkan, dan pengeluaran tunai usahatani yang tidak ada kaitannya dengan

     pembelian barang dan jasa, seperti bunga pinjaman dan uang pokok, harus

    dikurangkan (Soekartawi. dkk.,1986).

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    47/116

      30

    3.1.3.  Konsep Biaya

    Biaya (Cost)  merupakan pengeluaran atau pengorbanan yang dapat

    menimbulkan pegurangan terhadap manfaat yang kita terima (Suyanto,dkk. 2001).

    Pembiayaan merupakan salah satu aspek paling menentukan dalam pengembangan

    usaha. Pembiayaan agribisnis dapat diperoleh dari modal sendiri atau meminjam dari

     beberapa sumber keuangan, seperti pemodal perorangan, lembaga keuangan dan bank

    (Krisnamurthi, 2001). Macam-macam biaya yang biasanya diperlukan dalam suatu

    usaha/proyek diantaranya adalah Biaya investasi (tanah, bangunan dan tanaman, );

    Biaya Operasional (Bahan baku dan tenaga kerja); dan biaya lainnya (pajak, bunga,

     biaya tak terduga, reinvestasi dan biaya pemeliharaan).

    Menurut kasmir dan Jakfar (2007), sumber pembiayaan untuk memenuhi

    kebutuhan investasi dapat digunakan dari modal sendiri atau modal pinjaman atau

    kombinasi dari keduanya. Sumber pembiayaan untuk usahatani jambu mente di

    Kabupaten Flores Timur umumnya berasal dari modal sendiri seperti tanah,

     bangunan, bahan baku, tenaga kerja dan biaya operasional lainnya. Sementara modal

    tanaman berasal dari sumbangan berupa proyek pemerintah yang bersifat hibah/tidak

    ada sistem pengembalian.

    (Soekartawi. 1986), mendefinisikan pengeluaran total usahatani sebagai nilai

    semua masukan yang dikeluarkan dan habis terpakai di dalam proses produksi,

    tetapi tidak termasuk tenaga kerja yang berasal dari keluarga petani. Pengeluaran

    total usaha tani terdiri dari pengeluaran tetap dan pengeluaran tidak tetap.

    Pengeluaran tidak tetap (Variable cost ), adalah pengeluaran yang digunakan untuk

    usahatani tertentu yang nilainya berubah-ubah dan sebanding dengan besarnya skala

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    48/116

      31

    usaha. Pengeluaran tetap ( fixed cost)  adalah pengeluaran usahatani yang tidak

     bergantung pada besarnya produksi. Pengeluaran usahatani mencakup pengeluaran

    tunai dan pengeluaran tidak tunai.

    Konsep biaya relevan sangat berkaitan dengan konsep produk. Menurut

    Lipsey et. all.  (1995), Biaya total (total cost=TC) adalah biaya total untuk

    menghasilkan tingkat output tertentu. Biaya total dibagi menjadi dua bagian, yaitu

     biaya tetap total (total fixed costs = TFC) dan biaya variabel total (total variable costs 

    = TVC). Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun output berubah;

     biaya ini akan sama besarnya kendati output adalah 1 unit atau I juta unit. Biaya

    seperti ini sering disebut biaya overhead   atau biaya yang tak dapat dihindari

    (unavoidable cost ). Biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah. Biaya ini

     berkaitan langsung dengan output, yang bertambah besar dengan meningkatnya

     produksi dan berkurang dengan menurunnya produksi. Biaya variabel juga disebut

     biaya yang dapat dihindari (avoidable cost)

    Biaya marjinal (marjinal cost   = MC), adalah kenaikan biaya total yang

    disebabkan oleh meningkatnya laju produksi sebesar satu unit. Karena biaya tetap

    tidak berubah dengan output, biaya marjinal akan selalu nol. Karena itu, biaya

    marjinal jelas merupakan biaya variabel marjinal dan berubahnya biaya tetap tidak

    akan mempengaruhi biaya marjinal.

    3.1.4. Pendapatan Usahatani

    Pendapatan usahatani adalah keuntungan yang diperoleh petani setelah

    mengurangkan biaya yang diperuntukan selama proses produksi dengan penerimaan

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    49/116

      32

    usahatani. Tujuan utama dari analisis pendapatan adalah menggambarkan keadaan

    sekarang suatu kegiatan usaha dan menggambarkan keadaan yang akan datang dari

     perencanaan atau tindakan. (Soeharjo dan Patong, 1973).

    Menurut Hernanto (1991), Pendapatan usahatani adalah balas jasa dari

    kerjasama faktor-faktor produksi lahan, tenaga kerja, modal, dan jasa pengolahan.

    Pendapatan usahatani tidak hanya berasal dari kegiatan produksi saja, tetapi dapat

     juga diperoleh dari menjual unsur-unsur produksi, menyewakan lahan dan lain

    sebagainya.

    Soekartawi, dkk. (1986) mengelompokan Pendapatan usahatani menjadi

     pendapatan tunai dan pendapatan total. Pendapatan tunai usahatani adalah selisih

    antara penerimaan tunai usahatani dengan biaya tunai usahatani. Penerimaan tunai

    usahatani adalah nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani, sedangkan

     pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian

     barang dan jasa bagi usahatani. Pendapatan total usahatani adalah selisih antara

     penerimaan total dengan total biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi,

    dimana semua input milik keluarga diperhitungkan sebagai biaya produksi.

    3.1.5.  Efisiensi Usahatani

    Pada umumnya efisiensi diartikan sebagai perbandingan antara hasil yang

    diperoleh (output ) terhadap nilai masukan (input ). Menurut Mubyarto (1989), istilah

    efisiensi produksi adalah banyaknya hasil produksi fisik yang dapat diperoleh dari

    satu kesatuan faktor produksi (input ).

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    50/116

      33

    Kegiatan usahatani yang dijalankan harus diukur berdasarkan tingkat

    efisiensinya. Salah satu ukuran efisiensi usahatani adalah rasio imbangan antara

     penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan (R/C rasio). R/C rasio

    menunjukan berapa besar penerimaan yang diperoleh petani untuk setiap biaya yang

    dikeluarkan dalam melakukan kegiatan usahatani.

    Dalam melakukan kegiatan usahatani diperlukan dua keterangan pokok,

    antara lain keadaan penerimaan dan keadaan pengeluaran selama satu periode

     produksi sesuai jangka waktu yang ditetapkan. Penerimaan merupakan total nilai

     produk yang dijalankan, yaitu hasil kali dari jumlah fisik  output  dengan harga yang

    terjadi (QxP). Sedangkan pengeluaran atau biaya adalah semua pengorbanan

    sumberdaya ekonomi yang diperlukan untuk menghasilkan sesuatu produk dalam

    satu periode produksi. Efisiensi usahatani dapat dilihat dari nilai R/C yang diperoleh.

    Suatu kegiatan usahatani dikatakan efisien dan menguntungkan, apabila nilai R/C

    yang diperoleh lebih dari satu.

    3.2.  Kerangka Pemikiran Operasional

    Jambu mente ( Anacardium Occidentale L.) merupakan komoditas unggulan

    kabupaten Flores Timur. Tanaman ini sudah dikenal masyarakat pada era tahun 70-

    an. Tanaman ini pertama ditanam di kecamatan Tanjung Bunga. Sejak beberapa

    tahun lalu hingga saat ini, sebagian besar petani masih mengandalkan usaha ini

    sebagai usaha pokok dalam menunjang perekonomian keluarga selain tanaman

     pangan dan hortikultura.

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    51/116

      34

    Seluruh areal penanaman jambu mente di Flores Timur adalah milik petani

    (perkebunan rakyat). Dalam melakukan kegiatan budidaya (on farm), biasanya petani

    menerapkan sistem budidaya yang sederhana / konvensional dengan input luar rendah

    (low input).  Di lain pihak harga input produksi di pasar cenderung meningkat,

    sementara harga produk cenderung rendah dan berfluktuatif. Hasil panen gelondong

    mente pada umumnya tidak berkualitas bahkan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Hal ini menyebabkan produksi dan produktivitas tanaman relatif rendah. Luas areal

     penanaman jambu mente berbeda-beda untuk setiap petani. Pada umumnya luas areal

     penanaman jambu mente berkisar antara 0,5 ha – 2,0 ha, dengan status kepemilikan

    lahan milik sendiri. Luas areal yang berbeda untuk setiap petani jambu mente

     berkonsekuensi pada penerimaan hasil produksi yang berbeda pula.

    Usahatani jambu mente di kabupaten Flores Timur layak untuk dilaksanakan

    dan diupayakan untuk terus dikembangkan dari kondsi saat ini. Upaya yang perlu

    dilakukan dalam rangka peningkatan pendapatan petani adalah penataan sistem

    usahatani pada setiap tingkatan usahatani, penguatan kelembagaan pada tingkat

     petani, serta membangun kerja sama yang sinergis antar stakeholder. Selain itu,

    faktor lain yang perlu diketahui dalam pengusahaan jambu mente adalah efisiensi

    dalam penggunaan input produksi agar petani bisa memperoleh keuntungan sesuai

    yang diharapkan. Skema pemikiran ini dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini :

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    52/116

      35

    Gambar 2. Skema Alur Pemikiran Operasional

    PETANI JAMBU MENTE

    FLORES TIMUR

    - Penerapan teknik budidaya secara sederhana / konvensioonal- Harga input tinggi

    - Harga jual produk rendah dan berfluktuatif- Produktivitas rendah

    - Kualitas / mutu rendah

    Analisis Penerimaan

    Kondisi Usahatani Saat Ini

    Analisis Bia a

    Analisis Usahatani

    Biaya Tunai Biaya Diperhitungkan

    Bia a Total

    Penerimaan Tunai Penerimaan Total

    Pendapatan Tunai Pendapatan Total

    Efisiensi Usahatani

    R/C Tunai R/C Total

    REKOMENDASI

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    53/116

    BAB IV. METODE PENELITIAN

    4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan pada petani jambu mente swadaya (perkebunan

    rakyat) di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur,

    Propinsi Nusa Tenggara Timur. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja

    ( purposive), dengan pertimbangan kecamatan tersebut adalah sentra produksi jambu

    mente di Kabupaten Flores Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini

    adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pelaksanaan penelitian

     berlangsung pada bulan Maret sampai April 2008.

    4.2. Teknik Pengumpulan Data

    Penelitian ini menggunakan teknik  simple random sampling yaitu dengan

    menggunakan sampel petani jambu mente swadaya di Desa Ratulodong, Kecamatan

    Tanjung Bunga sebanyak 40 orang dari total keseluruhan populasi sebanyak 322

     petani. Simple Random sampling   adalah pemilihan sampel yang dilakukan secara

    acak sederhana, dimana untuk mendapat 40 petani responden, keseluruhan populasi

    (322 petani) diundi secara acak. Metode  simple random  sampling   dipilih dengan

     pertimbangan bahwa kondisi usahatani jambu mente di desa Ratulodong seragam

    atau homogen dalam hal teknik budidayanya.

    Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer

    diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan petani, observasi serta pengisian

    kuisioner oleh petani sampel. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    54/116

      37

    Pertanian dan Peternakan, Dinas kehutanan dan Perkebunan, Badan Pusat Statistik,

    serta instansi lain yang terkait. Berbagai data dan sumbernya yang diambil dalam

     penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini :

    Tabel 6. Kebutuhan Data dan Sumbernya

    Jenis Data Sumber Data

    Data Kuantitatif

    •  Total Penerimaan (TR)

    •  Total Biaya (TC)

    •  Harga Input Produksi

    •  Hasil produksi mente gelondongan selama satu tahun

    • 

    Harga jual mente gelondong / kg

    •  Hasil penjualan selama satu tahun (kg)

    Data Kuantitatif

    •  Karakteristik petani jambu mente

    •  Tujuan petani dalam berusahatani

    •  Monografi desa Ratulodong

    Petani

    Petani

    Petani/PedagangPetani

    Petani/PedagangPetani

    PetaniPetani

    Instansi

    4.3. 

    Metode pengolahan dan Analisis Data

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode derkriptif dengan

     pendekatan kasus. Dengan metode ini data diolah dan dianalisis secara kualitatif dan

    kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui kondisi yang dialami

     petani saat ini dalam melakukan sistem budidaya jambu mente.

    Analisis kuantitatif yang dipilih adalah analisis pendapatan usahatani, dan

    analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C Ratio) dan analisis efisiensi usahatani.

    Untuk menghitung pendapatan petani jambu mente secara monokultur, dilakukan

    tabulasi sederhana dengan menghitung pendapatan usahatani jambu mente atas biaya

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    55/116

      38

    tunai dan pendapatan usahatani jambu mente atas biaya total. Dari hasil analisis

     pendapatan yang diperoleh, kemudian dilakukan analisis imbangan penerimaan dan

     biaya (R/C Rasio) atas biaya tunai dan atas biaya total untuk melihat tingkat efisiensi

    usahatani.

    4.4. Analisis Usahatani

    Analisis usahatani pada hakekatnya adalah alat yang digunakan untuk

    mengukur keberhasilan dari suatu usahatani. Tujuan dilakukan analisis usahatani

    adalah untuk melihat keragaan suatu kegiatan usahatani. Beberapa alat analisis yang

    dapat digunakan untuk melihat keragaan kegiatan usahatani adalah sebagai berikut :

    4.4.1. Analisis Pendapatan usahatani

    Gittinger (1986), mengatakan bahwa analisis pendapatan usaha pertanian pada

    umumnya digunakan untuk mengevaluasi kegiatan suatu usaha pertanian dalam

     periode satu tahun. Tujuannya adalah membantu perbaikan pengolahan usaha

     pertanian. Yang digunakan adalah harga berlaku, kemudian penyusutan

    diperhitungkan pada tahun tersebut untuk investasi modal yang umur penggunaannya

    cukup lama.

    Analisis pendapatan usahatani memerlukan dua keterangan pokok yaitu

    keadaan penerimaan dan pengeluaran selama usahatani dijalankan dalam waktu yang

    ditetapkan. Penerimaan merupakan total nilai produk yang dijalankan yang

    merupakan hasil perkalian antara jumlah fisik output   dengan harga atau nilai uang

    yang diterima dari penjualan produk usahatani (Q x P). Penerimaan usahatani ini

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    56/116

      39

    tidak mencakup pinjaman uang untuk keperluan usahatani. Sedangkan pengeluaran

    (biaya) adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi

    kegiatan usahatani. Pengeluaran ini tidak mencakup bunga pinjaman dan jumlah

     pokok pinjaman. Penerimaan dan pengeluaran usahatani tidak mencakup yang

     berbentuk benda. Jadi nilai produk usahatani yang dikonsumsi tidak dihitung sebagai

     penerimaan dan nilai kerja yang dibayar dengan benda tidak dihitung sebagai

     pengeluaran usahatani. (Soekartawi, 1985).

    Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya

    yang dikeluarkan. Untuk menghitung pendapatan usahatani, terlebih dahulu

    melakukan pencatatan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran usahatani dalam

    satu periode produksi. Data pengeluaran dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu

     biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Kemudian dilakukan perhitungan pendapatan

    usahatani atas biaya tunai dan perhitungan pendapatan usahatani atas biaya total.

    Secara matematis, analisis pendapatan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut :

    π = NP - BT – BD

    Dimana :

    π = Pendapatan (Rp)

     NP = Nilai Produksi (hasil kali produk dengan harga = QxP)

    BT = Biaya Tunai Usahatani (Rp)

    BD = Biaya yang Diperhitungkan (Rp)

     NP – BT = Pendapatan atas biaya tunai (Rp)

     NP – (BT + BD) = Pendapatan atas biaya total (Rp)

    Sumber : Soekartawi, 1985

  • 8/18/2019 Pendapatan Jambu Mete

    57/116

      40

    4.4.2. Analisis Imbangan penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) 

    Analisis biaya digunakan untuk menghitung besarnya nominal uang yang

    dikeluarkan petani dalam usaha budidaya jambu mente. Biaya diperlukan antara

    lain untuk upah tenaga kerja, bibit, pupuk, pestisida, pengadaan sarana produksi

     pertanian, dan lain-lain. Semakin besar luas lahan untuk penanaman jambu mente,

    semakin besar biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani.

    Rasio Penerimaan atas biaya produksi adalah alat yang digunakan untuk

    mengukur tingkat keuntungan relatif suatu usahatani. Rasio penerimaan atas biaya

    menunjukan seberapa besar penerimaan yang diperoleh dari setiap rupiah yang

    dikeluarkan dalam produksi usahatani. Dari angka rasio penerimaan atas biaya

    tersebut dapat diketah