inf pada lansia

Download Inf Pada Lansia

Post on 29-Nov-2015

55 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kemampuan respons imun pada setiap orang berbeda dan perbedaan ini diperbesar bila mereka menjadi tua. Perhatian akan peranan gangguan sistem imun pada penyakit usia lanjut meningkat, oleh karena proses penuaan menimbulkan abnormalitas sistem imun yang memberi kontribusi pada sebagian besar penyakit akut dan kronik pada usia lanjut. Tindakan perbaikan sistem imun dapat melengkapi pilihan tambahan pada pengobatan konvensional untuk mengendalikan penyakit pada usia lanjut.

TRANSCRIPT

INFEKSI PADA LANSIA

DISUSUN OLEH :HENNY (406090010)ELVANA(406081028)

KEMUNDURAN SISTEM IMUNOLOGIKPADA USIA LANJUT

1. PENDAHULUANKemampuan respons imun pada setiap orang berbeda dan perbedaan ini diperbesar bila mereka menjadi tua. Perhatian akan peranan gangguan sistem imun pada penyakit usia lanjut meningkat, oleh karena proses penuaan menimbulkan abnormalitas sistem imun yang memberi kontribusi pada sebagian besar penyakit akut dan kronik pada usia lanjut. Tindakan perbaikan sistem imun dapat melengkapi pilihan tambahan pada pengobatan konvensional untuk mengendalikan penyakit pada usia lanjut. Gen yang mengendalikan reaktivitas imun terletak pada daerah yang disebut Major Histocompatibility Complex dan diduga mempengaruhi lamanya rentang hidup maksimal seseorang. Dugaan ini mendukung hipotesis tentang adanya hubungan antara proses penuaan dengan respon imun. Salah satu faktor yang diketahui mempengaruhi dan mengganggu fungsi tersebut sangat kompleks. Oleh karena banyak faktor eksternal seperti: nutrisi, populasi, bahan kimia, sinar ultraviolet, genetik, penyakit dahulu, pengaruh neuroendokrin dan endokrin serta variasi anatomi akan mengganggu fungsi sistem imun. Para klinisi yang merawat penderita usia lanjut sering menjumpai dan berasumsi bahwa seseorang dengan defisiensi sistem imun dan mekanisme pertahanan tubuh yang tidak efektif akan memberi kesempatan berkembangnya penyakit infeksi dan meningkatkan kematian dan kesakitan akibat penyakit ini. Seperti prevalensi penyakit pneumonia pada usia lanjut meningkat 65% dibandingkan kelompok usia muda. Begitu pula prevalensi infeksi saluran kemih seperti bakteriuria asimptomatik meningkat secara bermakna antara 10-50% dengan bertambahnya usia pada laki-laki maupun wanita. Pada semua kasus, sepsis sebesar 40% terjadi pada penderita usia lanjut dan menyebabkan kematian sebesar 60%. Oleh karena menurunnya sistem imun, dan imunisasi yang tidak adekuat pada usia lanjut, 60% kasus tetanus di Amerika Serikat terjadi pada usia 60 tahun ke atas.

Adapun beberapa faktor yang berhubungan dengan bertambahnya usia dan memberi kontribusi terhadap kejadian infeksi meliputi :1. Keterbatasan fisiologik dan kemampuan cadangan memberi respons terhadap stees2. Gangguan mekanisme pertahanan tubuh pejamu3. Adanya penyakit kronik4. Meningkatnya paparan patogen nosokomial5. Keterlambatan dalam diagnosis dan terapi 6. Meningkatnya frekuensi komplikasi tindakan diagnosis dan terapi7. Lambat memberi respons terhadap kemoterapi 8. Meningkatnya kejadian efek samping obat antimikroba.Keadaan ini mulai meningkat saat kelenjar timus mengalami involusi. Mengingat timus memegang peran yang sangat penting dalam perkembangan sistem imun, terutama derajat aktivitas sel T. Perubahan pasti pada sistem imun berhubungan dengan usia, dapat dilihat dari kemampuan sel imun untuk memberi respons yang cepat dan efektif terhadap adanya antigen, melalui mekanisme proliferasi sel. Keadaan lain yang terjadi berupa ketidakmampuan secara akurat dan efisien untuk memperbaiki DNA seperti mutasi, menetralisasi radikal bebas dalam tubuh dan aktivitas beberapa enzim menurun bersama proses penuaan. Penting sekali untuk mengenal berkurang atau menurunnya fungsi salah satu komponen imun yang dapat mengganggu respons imun yang lain dan meningkatkan beratnya proses infeksi.

2. SISTEM IMUNSistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan untuk mempertahankan keutuhan tubuh, sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Konsep imunitas yang disarankan oleh Bellanti adalah suatu mekanisme yang bersifat faali, melengkapi manusia dengan suatu kemampuan untuk mengenal suatu zat sebagai sesuatu yang asing terhadap dirinya. Selanjutnya tubuh akan mengadakan tindakan netralisasi untuk melenyapkan atau memasukan ke dalam proses metabolisme, dengan akibat menguntungkan dirinya atau menimbulkan kerusakan jaringan tubuhnya sendiri. Semua vertebrata mampu memberi tanggapan dan menolak benda atau konfigurasi asing, oleh karena memiliki sel khusus yang bertugas mengenali dan membedakan apakah konfigurasi itu asing atau milik dirinya. Sel khusus tersebut adalah limfosit yang merupakan sel imunokompeten dalam sistem imun. Konfigurasi asing tadi disebut antigen atau imunogen, sedangkan prosesnya serta fenomena yang menyertainya disebut respons imun. Respon imun terdiri atas respons imun alamiah yang tidak spesifik dan adaptif yang bersifat spesifik.

Tabel l. Perbedaan sifat sistem imun tidak spesifik dan spesifik

Sistem ImunTidak Spesifik

Spesifik

ResistensiTidak berubah oleh infeksi

Membaik oleh infeksi berulang (memori)

Spesifitas

Umumnya efektif terhadap semua mikroorganisme

Spesifik untuk mikroorgamsme yang merangsang

Sel yang penting

Fagosit Sel Natural Killer Sel Killer LisozimLimfosit

Molekul yang penting

Komplemen SitokinAntibodi Sitokin

Dikutip dari : Bratawidjaja KG, 1993

2.1. Sistem Imun Non-Spesifik / Innate ImmunityMerupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi berbagai mikroorganisme, karena sistem imun spesifik memerlukan waktu sebelum dapat memberikan responnya. Sistem tersebut disebut non-spesifik, karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. Komponen-komponen sistem imun non-spesifik terdiri atas : 2.1.1. Pertahanan fisik dan mekanik Kulit, selaput lendir, silia saluran nafas, batuk dan bersin. 2.1.2. Pertahanan biokimia Bahan yang disekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebasea kulit, spermin dalam sperma, asam lambung, lisosim dalam keringat, ludah, air mata, laktoferin dan asam neuraminik dalam air susu ibu, dan lain-lain.2.1.3. Pertahanan humoral2.1.3.a. Komplemen: mengaktifkan fagosit dan membantu destruksi bakteri dan parasit dengan cara opsonisasi (gambar 3).

2.1.3.b. Interferon: suatu glikoprotein yang dihasilkan berbagai sel manusia yang mengandung nukleus dan dilepas sebagai respon terhadap infeksi virus. Interferon mempunyai sifat antivirus dengan jalan menginduksi sel-sel sekitar sel yang telah terserang infeksi virus menjadi resisten terhadap virus

2.1.3.c. C Reactve Protein (CRP) : dibentuk saat terjadi infeksi. Peranannya sebagai opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen (gambar 5).

2.1.4. Pertahanan selular 2.1.4.a. Fagosit : sel utama yang berperan adalah sel mononuklear (monosit dan makrofag) serta sel polimorfonuklear. Kerja fagositosis terjadi dalam berberapa tingkat, yaitu kemotaksis, menangkap, memakan (fagositosis), membunuh dan mencerna. 2.1.4.b. Natural Killer Cell (sel NK) : adalah sel limfoid tanpa ciri-ciri sel limfoid sistem imun spesifik. Disebut juga sel non B non T. Sel NK menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma.

2.2. Sistem Imun Spesifik / Aquired Immunity Berbeda dengan sistem imun non-spesifik. Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama timbul dalam badan akan segera dikenal oleh sistem imun spesifik, akan mensensitasi sel-sel sistem imun tersebut. Bila berpapasan kembali dengan benda asing yang sama, akan dikenal dan dihancurkan lebih cepat. Karenanya disebut spesifik.

2.2.1. Sistem imun spesifik humoral Yang berperan adalah limfosit B atau sel B. Bila sel B dirangsang benda asing, sel akan berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang dapat membentuk zat antibodi. Fungsi utama antibodi adalah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virus dan melakukan netralisasi toksin. 2.2.2. Sistem imun spesifik selular Yang berperan adalah limfosit T atau sel T.Sel tersebut juga berasal sel asal yang sama seperti sel B, tetapi proliferasi dan diferensiasinya didalam kelenjar timus. Sel T terdiri dari berbagai subset yang mempunyai fungsi berlainan. Secara umum fungsi sel T adalah membantu sel B dalam memproduksi antibody. mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus. mengaktifkan makrofag dalam fagositosis. mengontrol ambang dan kualitas sistem imun. Sel T terdiri atas beberapa sel subset sebagai berikut: 2.2.2.a. Sel Th (T helper) Sel Th dibagi menjadi Th1 dan Th2. Th2 menolong sel B dalam memproduksi antibodi. Untuk memproduksi antibodi, kebanyakan antigen (T dependent antigen) harus dikenal terlebih dahulu, baik oleh sel T maupun sel B. Sel Th (Th 1) berpengaruh atas sel Tc dalam mengenal sel yang terkena infeksi virus, jaringan cangkok alogenik dan sel kanker. Istilah sel T inducer dipakai untuk menunjukkan aktivitas sel Th yang mengaktifkan subset sel T lainnya. Sel Th juga melepas limfokin; limfokin asal Th 1 mengaktifkan makrofag, sedang limfokin asal sel Th2 mengaktifkan sel B/sel plasma yang membentuk antibodi. 2.2.2.b. Sel Ts (T supressor) Sel Ts menekan aktivitas sel T yang lain dan sel B. Menurut fungsinya, sel Ts dapat dibagi menjadi sel Ts spesifik untuk antigen tertentu dan sel Ts non-spesifik.

2.2.2.c. Sel Tdh atau Td (delayed hypersensitivity) Sel Tdh adalah sel yang berperan pada pengerahan makrofag dan sel inflamasi lainnya ke tempat terjadinya reaksi lambat. Dalam fungsinya, memerlukan rangsangan dari sel Th1. 2.2.2.d. Sel Tc (T cytotoxic) Sel Tc mempunyai kemampuan untuk menghancurkan sel alogenik, sel sasaran yang mengandung virus dan sel kanker. Sel Th dan Ts disebut juga sel T regulator sedang sel Tdh dan sel Tc disebut sel efektor. Dalam fungsinya, sel Tc memerlukan rangsangan dari sel Th 1. 2.2.2.e. Sel K Sel K atau ADCC (Antibody Depe