penyakit lansia

Download Penyakit Lansia

Post on 13-Aug-2015

74 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1. PENDAHULUAN1.1 Latar belakang Proses menua dianggap sebagai suatu proses normal dan tidak selalu menyebabkan gangguan fungsi organ dan genetik. Berbagai faktor seperti faktor genetik, gaya hidup, dan lingkungan, mungkin lebih besar mengakibatkan gangguan fungsi, daripada penambahan usia itu sendiri. Di sisi lain, hubungan antara usia dan penyakit amatlah erat. Laju kematian untuk banyak penyakit meningkat seiring dengan menuanya seseorang, terutama disebabkan oleh menurunnya kemampuan orang usia lanjut berespons terhadap stres baik fisik mahupun psikologik. 1.2 Tujuan a) Memperdalam ilmu dalam melakukan proses anamnesis dengan betul dalam mendapatkan maklumat yang tepat dan benar sehingga dapat memperoleh diagnosis yang tepat. b) Mempelajari gambaran klinis penyakit lansia serta komplikasinya. c) Mempelajari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang terlibat dalam membantu WD (working diagnosis). d) Mempelajari etiologi penyebab penyakit demam lansia dan patofisiologi mekanisme abnormal yang terjadi dalam tubuh sehingga timbulnya penyakit yang diduga. e) Mempelajari penatalaksanaan yang perlu dilakukan terhadap pasien yang menderita penyakit lansia, dilakukan. f) Mengetahui langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan. serta mengetahui prognosis terhadap penatalaksanaan yang

1

2. ISIPROBLEM Vertigo Demensia DM tipe II terkontrol Parkinson Hipoperfusi orthostatik Lansia

2

2.1 VertigoVertigo merupakan suatu sensasi berputar, pasien merasa bahwa dia ataupun lingkungannya berputar. Seringkala vertigo terjadi dengan seketika, kadang-kadang, dan ketika berat umumnya disertai dengan mual, muntah, dan jalan terhuyung-huyung. Vertigo merupakan tipe dizziness yang paling banyak ditemukan pada perawatan primer sebanyak 54%. 1 Di perawatan primer jenis vertigonya 93% benign paroxymal positional vertigo (BPPV), neuronitis vestibular akut, atau penyakit Meniere. Penyebab lain adalah obat-obatan (alkohol, aminoglikosida, antikejang), antidepresan, antihipertensi, barbiturat, kokain, diuretik, nitrogliserin, kuinin, salisilat, penyakit serebrovaskular, migrain, libirinitis akut, multipel sklerosis, dan neoplasma intrakranial. Penyebab vertigo bisa perifer, atau sentral.1 ANAMNESIS Dari kasus didapatkan anamnesa bahwa pasien waktu berjalan pandangan berputar-putar dan rasa mual-mual.

PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan awal mencakup pemeriksaan ortostatik, kardiovaskular, neurootologik, tajam penglihatan, hiperventilasi selama 2 menit, tes Romberg, tes langkah tandem, pemijatan sinus karotis, manuver Hallpike, status kognitif, simptom depresi, dan ansietas. Hipotensi ortostatik adalah penurunan tekanan darak sistolik 20 mmHg (atau 20%) dengan atau tanpa gejala segera setelah berdiri atau setelah 2 menit berdiri (setelah 5 menit dalam posisi terlentang) Pemeriksaan kardiovaskular dilakukan untuk mencari kemungkinan aritmia, kelainan katup jantung, dan bruit karotis.

3

Pemeriksaan neurotologik mencakup pemeriksaan telinga termasuk saraf kranial, evaluasi telinga luar, dan tengan dan tes fistula. Tes fistula dilakukan dengan memberikan tekanan ke telinga, dan dievaluasi terjadinya vertigo & nistigmus. Hasil positif menunjukkan adanya fistula dari libirin bisa karena kolesteatoma, atau infeksi. Tes Romberg, dan tes karotis dilakukan di bawah pengawasan yang ketat, diperlukan monitoring elektrokardiografi (EKG). Kontra indikasi pemijatan sinus karotis bila terdapat karotid bruit, atau terdapat tanda stenosis aorta. Untuk mengevaluasi status kognitif dapat digunakan Mini-Mental Examination (MMSE), skor total dari MMSE adalah 30 umumnya angka dibawah 24 suggestiv demensia atau delirium. Untuk memastikan simptom dari depresi dapat digunakan the Centre for Epidemiologic Studies-Depression test (CES-D) yang terdiri dari 20 pernyataan. Sedangkan untuk evaluasi dari ansietas dapat digunakan the Hamilton Anxiety Scale (HAS) yang terdiri dari 14 items, nilai dari rentang skala dari nol sampai empat: nol tidak ada ansietas, satu ansietas ringan, dua ansietas sedang, tiga ansietas berat, empat ansietas sangat berat. Tujuh psychic anxiety item untuk mendapatkan nilai psychic anxiety dengan rentang 0 sampai 28, tujuh items sisanya untuk menampilkan nilai somatic anxiety jugak mempunyai rentang 0 sampai 28. Nilai total mulai dari rentang 0 sampai 56.1 Pemeriksaan Penunjuang Pemeriksaan rutin termasuk EKG, gula darah, dan darah rutin. Pemeriksaan lain jugak diperlukan untuk menegakkan diagnosis, tetapi pemeriksaan tersebut harus berdasarkan pendekatan sistematis bukan hanya pendekatan shotgun. Audiogram harus lengkap dilakukan pada pasien dengan gangguan pendengaran disertai vertigo dan terdapat kelainan pada pemeriksaan neurootologik. Elektro-nistagmografi (ENG) adalah pemeriksaan yang dapat membantu membedakan disfungsi vestibuler sentral dan perifer. ENG dilakukan pada pasien dengan keluhan vertigo atau terdapat temuan dalam pemeriksaan neurootologik seperti nistigmus. Auditory brainstem-evoked responses dilakukan pada pasien dengan asymmetric sensorineural hearing loss untuk menyingkirkan neuroma akustik. Pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) dari tulang temporal sering dikerjakan pada pasien yang dicurigai dengan neuroma akustik atau cerebellopontine angle masses.

4

Computed tomography (CT) dari tulang temporal juga dapat dikerjakan bila dicurigai terdapat kolesteatoma atau lesi pada telinga tengah. Brainstem evoked response auditory (BERA) atau brainstem auditory evoked potential (BAEP) suatu pemeriksaan neurologis dari fungsi batang otak auditori terhadap respon dari stimulus auditori dilakukan pada pasien dengan kondisi seperti:1. Asymmetric sensorineural hearing loss untuk menyingkirkan neuroma akustik.

2. Evaluasi dari hilangnya pendengaran dengan gangguan keseimbangan, tidak stabil saat melangkah, atau simptom lain yang berhubungan dengan lesi pada sistem auditori. 3. Evaluasi dari simptom yang mengarah ke penyakit Meniere. 4. Evaluasi dari dizziness setelah penyebab-penyebab lain sudah disingkirkan 5. Evaluasi dari dizziness yang terus berlanjut walaupun penyebabnya sudah mendapat terapi 6. Evaluasi dari true vertigo Pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) dari tulang temporal sering dikerjakan pada pasien yang dicurigai dengan neuroma akustik atau cerebellopontine angle masses. Computed tomography (CT) dari tulang temporal juga dapat dikerjakan bila dicurigai terdapat kolesteatoma atau lesi pada telinga tengah. Rontgen cervical dilakukan pada pasien dengan kecurigaan cervical dizziness. Pemeriksaan ekokardiogram, dopler karotis, dan arteri vertebral, tilt-table testing, dan 24 jam Holter monitoring dikerjakan bila didiagnosis presinkop.1

WORKING DIAGNOSIS Vertigo

ETIOLOGI

5

Penyebab vertigo perifer A. Benign Paroxymal Positional Vertigo/ Benign Positional Vertigo (BPPV) Benign paroxymal positional vertigo umumnya penyebab tunggal dizziness pada lansia. BPV merupakan kondisi episodik, sembuh sendiri, dicetuskan oleh gerakan kepala mendadak atau perubahan pada posisi tubuh seperti berguling di tempat tidur. BPV disebabkan oleh akumulasi debris dalam kanal semisirkular. Pergerakan dari debris menstimulasi mekanisme vestibular menghasilkan simptom pada pasien. BPV kadang-kadang berkaitan temporer dengan penyakit viral, dan menghasilkan inflamasi. Diagnosis BPV dapat ditegakkan dengan tes Dix-Hallpike. Terapi dari BPV saat ini adalah manuver Epley ataupun senam vertigo, yang bertujuan untuk merelokasi debris yang melayang bebas di kanal semisirkular posterior kedalam vestibula dari vestibular labirin agar tidak vertigo lagi saat menggerakkan kepala, atau untuk desentasi.1 B. Labirintitis Labirintitis merupakan penyebab lain dizziness karena vestibuler perifer, kelainan ini sembuh dengan sendirinya. Umumnya kelainan ini akan berakhir pada hitungan dari atau beberapa minggu. Labirintitis diperkirakan terjadi karena adanya inflamasi pada saraf vestibular. C. Penyakit Meniere Sindrom ini biasanya terjadi pada usia muda dan bukan penyebab umum dizziness pada lanjut usia. Episode penyakit ini biasanya sembuh sendiri, tetapi seringkali berulang. Pada akhirnya tercapai suatu fase kronik burned out yang ditandai oleh hilangnya pendengaran makin jelas, tetapi episode dizziness berkurang. Penyebab Vertigo Sentral Dizziness karena penyebab sentral biasanya jarang, prevalensi pada lanjut usia kurang dari 10 persen. Iskemik serebrovaskular merupakan penyebab dizziness yang makin sering seiring peningkatan usia. Pasien dengan penyebab sentral jarang mengeluh dizziness sebagai gejala tunggal. Dizziness yang awitannya baru terjadi disertai dengan simptom lain (sakit kepala, gangguan visus, atau simptom neurologis) harus dipikirkan kemungkinan gangguan sistem

6

saraf pusat yang serius. Evaluasi lebih lanjut termasuk pencitraan sistem saraf pusat biasanya diperlukan. Investigasi Penyebab Dizziness RIWAYAT PENYAKIT Yang perlu diperhatikan pada riwayat penyakit adalah : (1) Awitan, dan perjalanan dari simptom. (2) Simptom dari dizziness dijelaskan oleh pasien sendiri. Simptom yang dijelaskan oleh pasien sendiri. Simptom yang dijelaskan menurut perkataan pasien sendiri penting karena penelitian yang dilakukan oleh Kwong dan Pimlott menunjukkan diagnosis umumnya dapat ditegakkan bila pasien menjelaskan dizziness-nya berdasarkan perkataannya sendiri. (3) Subetipe dari dizziness. (4) Terapi/obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien.1

PENATALAKSANAAN Terapi rehabilitasi vestibular (vestibular rehabilitation therapy/TPR) merupakan terapi fisik untuk menyembuhkan vertigo. Tujuan terapi ini adalah untuk mengurangi pusing, meningkatkan keseimbangan, dan mencegah jatuh dengan mengembalikan fungsi sistem vestibular. Pada VTR, pasien melakukan latihan agar otak dapat menyesuaikan dan menggantikan penyebab vertigo. Keberhasilan terapi ini bergantung pada beberapa faktor pasien yang meliputi usia, fu