laporan pengenalan anion kation

Download Laporan pengenalan anion kation

Post on 30-Jan-2016

64 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

I. Tujuan1. Menentukan kation yang terdapat dalam analit2. Menentukan anion yang terdapat dalam analit

II. TeoriAnalisis kualitatif kation dan anion secara sistematis telah berkembang cukup lama. Berkat kajian yang dilakukan oleh Karl Remegius Fresenius sejak tahun 1840, yang kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 1897. Langkah-langkah analisis kation dan anion dapat dilakukan secara sistematis melalui diagram alir, yang sampai saat ini menjadi standar untuk kajian analisis kuantitatif bahan anorganik.Menentukan adanya kation dan anion dalam suatu analit, baik yang terdiri dari zat tunggal (satu kation dan satu anion) atau zat majemuk atau campuran (lebih dari kation dan anion) memerlukan sistematika tertentu. Apabila analit berupa larutan dapat langsung dianalisis, tetapi apabila berupa zat padat atau campuran padat atau cair maka perlu dicari pelarut yang sesuai.Berdasarkan metodenya, analisa kualitatif dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. Pertama, analis bahan berdasarkan karakterisasi fisis, yaitu penentuan sifat fisis dan kesamaan. Kedua, analisis bahan berdasarkan metode H2S, yaitu analisis kation dan analisis anion.Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum, adalah asam klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida, dan ammonium karbonat. Secara sistematik cara analisis kation-kation diklasifikasikan dalam 5 golongan, hal ini didasarkan pada sifat kation tersebut terhadap beberapa pereaksi tertentu membentuk endapan atau tidak, dengan kata lain klasifikasi kation yang paling umum didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida dan karbonat dari kation tersebut. Sedangkan metode yang digunakan dalam anion tidak sesistematik kation. Namun skema yang digunakan bukanlah skema yang kaku, karena anion termasuk dalam lebih dari satu golongan.Di dalam kation ada beberapa golongan yang memiliki ciri khas tertentu diantaranya :1. Golongan I : Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion golongan ini adalah Pb, Ag, Hg. Dalam suasana asam, klorida dan kation dari golongan lain larut. Penggunaan asam klorida berlebih untuk pengendapkan kation golongan I memiliki dua keuntungan yaitu memperoleh endapan klorida semaksimal mungkin dan menghindari terbenuknya endapan BIOCI dan SbOCI. Kelebihan asam klorida yang terlalu banyak dapat menyebabkan AgCl dan PbCl 2 larut kembali dalam bentuk kompleks sedangkan klorida raksa (I), Hg, Cl2 , tetap stabil.2. Golongan II : Kation golongan ini bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion golongan ini adalah Hg, Bi, Cu, cd, As, Sb, Sn. Kation golongan II dibagi dalam dua sub-golongan yaitu sub golongan tembaga dan sub golongan arsenik. Dasar dari pembagian ini adalah kelarutan endapan sulfida dalam ammonium polisulfida. Sementara sulfida dari sub golongan tembaga tidak larut dalam regensia ini, sulfida dari sub grup arsenik melarut dengan membentuk garam tio. Golongtan II sering disebut juga sebagai asam hidrogen sulfida atau glongan tembaga timah. Klorida, nitrat, dan sulfat sangat mudah larut dalam air. Sedangkan sulfida, hidroksida dan karbonatnya tak larut. Beberapa kation dari sub golongan tembaga (merkurium (II), tembaga (II), dan kadmium (II)) cenderung membentuk kompleks (ammonia, ion sianida, dan seterusnya).3. Golongan III : Kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer (buffer ammonium-amonium klorida). Namun kation ini membentuk endapan dengan ammonium sulfida dalam suasana netral / amoniakal. Kation golongan ini Co, Fe, Al, Cr, Co, Mn, Zn. Logam-logam diendapkan sebagai sulfida, kecuali aluminium dan kromium, yang diendapkan sebagai hidroksida, karena hidrolisis yang sempurna dari sulfida dalam larutan air.besi, almunium, dan mangan (sering disertai sedikit mangan) atau golongan IIIA juga diendapkan sebagai hidroksida oleh larutan amonia dengan adanya amonium klorida. Endapan hidroksida pada golongan ini bermacam-macam. Kation golongan IIIB diendapkan sebagai garam sul;fidnya dengan mengalirkan gas H2S dalam larutan analit yang suasananya basa (dengan larutan buffer NH4Cl dan NH4OH).4. Golongan IV : Kation golongan ini bereaksi dengan golongan I, II, III. Kation ini membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Ion golongan ini adalah Ba, Ca, Sr.5. Golongan V : Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan regensia-regensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir. Kation golongan ini meliputi : Mg, K, NH4+. Untuk menentukan adanya kation NH4+ harus diambil dari larutan analit mula-mula. Untuk kotion-kation Ca2+, Ba2+, Sr2+, Na+, dan K+. Identifikasi dapat dilakukan engan uji nyala. Cara pengenalan anion dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu berdasarkan Bunsen, Gilreath dan Vogel. Bunsen menggolongkan anion dari sifat kelarutan garam perak dan garam bariumnya, warna, kelarutan garam alkali dan kemudahan menguapnya. Gilreath menggolongkan anion berdasarkan pada kelarutan garam kalsium, barium, cadmium dan garam peraknya. Sedangkan Vogel menggolongkan anion berdasarkan pada proses yang digunakannya, yaitu pemeriksaan anion yang dapat menguap bila diolah dengan asam, dan pemeriksaan anion berdasarkan reaksinya dalam larutan.Analisis kuantitatif sebagian besar didasarkan pada kesetimbangan untuk memisahkan dan megidentifikasi ion yang sejenis. Kesetimbangan asam basa, kesetimbangan heterogen, kesetimbangan redoks dan kesetimbangan ion kompleks merupakan jenis-jenis kesetimbangan yang digunakan dalam analisis kualitatif anion.

III. SKEMA PERCOBAANKation 1. Pb2+

1 tetes HCl 3M + air panas 5 tetes lar. Pb2+1 tetes Na2S 0,5M + 1 tetes HNO3 pekat Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Pb2+1 tetes K2CrO4 0,25M + 1 tetes NaOH 3M Amati & Catat HasilnyaAmati & Catat Hasilnya1 tetes H2SO4 3M + panaskan 5 tetes lar. Pb2+Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Pb2+

Amati & Catat Hasilnya1 tetes Na2CO3 1,5M + 1 tetes HNO3 3M5 tetes lar. Pb2+

1. Hg22+

1 tetes K2CrO4 0,25M + panaskan 5 tetes lar. Hg22+Amati & Catat Hasilnya

Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Hg22+1 tetes Kl 0,5M + panaskan

1 tetes NH4OH 3MAmati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Hg22+

Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Hg22+Sekeping logam aluminium bersih

1. 1 tetes HCl 3M + cuci dg H2O + 1 tetes HCl pekat + H2OAg+

5 tetes lar. Ag+Amati & Catat HasilnyaAmati & Catat HasilnyaAmati & Catat HasilnyaAmati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Ag+5 tetes lar. Ag+5 tetes lar. Ag+

1 tetes KI 0,5M + 1 tetes NaCN 0,5M

1 tetes K2CrO4 0,25M + 1 tetes HNO3 3M

1 tetes Na2CO3 1,5M + panaskan + 1 tetes HNO3 3M1. 1 tetes HCl 3M + 1 tetes Na2S 0,5M + 1 tetes aqua regia Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Hg2+Hg2+

5 tetes lar. Hg2+Amati & Catat Hasilnya1 tetes NH4OH 3M

5 tetes lar. Hg2+1 tetes NaOH 3M + 1 tetes HNO3 3MAmati & Catat Hasilnya

Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Hg2+1 tetes Kl 0,5M + reagen berlebih

1. 1 tetes Na2S 0,5M + 1 tetes HCl pekat + panaskan Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Bi3+Bi3+

1 tetes NaOH 3M + panaskan hingga mendidihAmati & Catat Hasilnya

5 tetes lar. Bi3+

Amati & Catat Hasilnya1 tetes Kl 0,5M + reagen berlebih 5 tetes lar. Bi3+

1 tetes HNO3 3M + reagensia pirogalol 10% sedikit berlebih

5 tetes lar. Bi3+Amati & Catat Hasilnya

1. 1 tetes NaOH 3M + panaskan Amati & Catat HasilnyaCu2+

5 tetes lar. Cu2+5 tetes lar. Cu2+

Amati & Catat Hasilnya1 tetes KI 0,5M + 1 tetes Na2S2O3 0,5M

5 tetes lar. Cu2+1 tetes NaCN 0,5M + reagen sedikit berlebih

Amati & Catat Hasilnya

1 tetes K4Fe(CN)6 0,4M + 1 tetes NH4OH 3M

Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Cu2+

1. Cd2+

Amati & Catat Hasilnya1 tetes Na2S 0,5M + HCl pekat 5 tetes lar. Cd2+

5 tetes lar. Cd2+Amati & Catat Hasilnya1 tetes NH4OH 3M + reagen sedikit berlebih

Amati & Catat Hasilnya1 tetes NaOH 3M + 1 tetes HCl 3M 5 tetes lar. Cd2+

5 tetes lar. Cd2+Amati & Catat Hasilnya1 tetes NaCN 0,5M + reagen sedikit berlebih REAGEN BE

1. 6 tetes NaOH 6M + logam Aluminium, pd bagian mulut diletakkan kertas saring yg dibasahi HgCl2 0,25M As3+

5 tetes lar. As3+5 tetes lar. As3+Amati & Catat HasilnyaAmati & Catat Hasilnya5 tetes lar. As3+Amati & Catat Hasilnya

1 tetes NaOH 6M + 1 tetes AgNO3 0,1M + 1 tetes HNO3 3M

1 tetes CuSO4 0,5M + 1 tetes NaOH 6M

Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. As3+2 ml HCl pekat + 0,5 ml SnCl2 jenuh

1. 1 tetes Na2S 0,5M + 1 tetes HCl pekatSn2+

5 tetes lar. Sn2+5 tetes lar. Sn2+Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Sn2+Amati & Catat Hasilnya

1 tetes NaOH 3M + reagen sedikit berlebih

1 tetes HgCl2 0,25M Amati & Catat Hasilnya

1. 1 tetes NaOH 3M + 1 tetes H2O2 20%Fe2+

Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Fe2+Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Fe2+

1 tetes Na2S 0,5M + CH3COONa 3M

1 tetes K3Fe(CN)6 0,167MAmati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Fe2+

1 tetes NH3 + reagensia dimetilglioksin

5 tetes lar. Fe2+Amati & Catat Hasilnya

1. 1 tetes K4Fe(CN)6 0,5M + NaOH 3M Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Fe3+Fe3+

5 tetes lar. Fe3+1 tetes CH3COONa 3MAmati & Catat HasilnyaAmati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Fe3+Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Fe3+

1 tetes K3Fe(CN)6 0,167M + H2O2 20%

1 tetes KSCN 0,1M + 1 tetes NaF 0,1M

1. Al3+5 tetes lar. Al3+

Amati & Catat Hasilnya1 tetes Na2S 0,5M

Amati & Catat Hasilnya5 tetes lar. Al3+CH3COON